333 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Identification of Gram Negative Bacteria for Extended Spectrum Beta Lactamase Strains in NICU Room of RSUD Prof. DR. Johannes Kupang Identifikasi Bakteri Gram Negatif Galur Extended Spectrum Beta Lactamase Pada Ruang NICU RSUD Prof. DR. Johannes Kupang Norma Tiku Kambuno. Dicky Fanggidae Analis Kesehatan. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: norma. kambuno@gmail. Email: dfanggidae@yahoo. ARTICLE INFO: Keywords: Klebsiella sp Ceftazidime Ceftriazone ESBL ABSTARCT/ABSTRAK Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) is an enzyme that is capable of hydrolyzing antibiotics from penicillin groups, generation I. II, i cephalosporins and monobactam. ESBL is most commonly isolated from Enterobacteriaceae, especially Escherichia coli and Klebsiella pneumoniae. The spread of ESBL-producing Enterobacteriaceae can also occur due to mutations. Cases of ESBL detection in hospitals have been widely reported throughout the world including Indonesia. The purpose of this study was to identify Enterobacteriaceae which included ESBL strains isolated from the NICU room of RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang in 2015. This study was a descriptive study with a cross sectional approach. The samples used were 18 swab specimens from room facilities collected by accidental sampling method. Swab specimens are grown in Blood Agar Plate and Mac Conkey Agar. Bacterial identification methods are equipped with microscopic tests, and biochemical tests. Klebsiella sp was identified and then followed by antimicrobial sensitivity test (Kirby Baue. against ceftazidime and ESBL confirmation test uses the Double Disc Sinergy Test (DDST) method. The results of the antibiotic sensitivity test showed Klebsialla sp. resistant to the antibiotics ceftazidime and ceftriazone. DDST test shows ESBL production from Klebsiella sp. It was concluded that ESBL-producing Enterobacteriaceae found were Klebsiella sp which had shown resistance to third generation cephalosporins (Ceftazidime and Ceftriazon. Kata Kunci: Klebsiella sp Ceftazidime Ceftriazone ESBL Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) adalah enzim yang mampu menghidrolisis antibiotik dari golongan penicillin, cephalosporin generasi I. II, i dan monobactam. ESBL paling banyak diisolasi dari Enterobacteriaceae khususnya Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. Penyebaran Enterobacteriaceae penghasil ESBL juga dapat terjadi karena adanya mutasi. Kasus deteksi ESBL pada rumah sakit telah banyak dilaporkan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Enterobacteriaceae yang termasuk galur ESBL yang diisolasi dari ruangan NICU RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang tahun 2015. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah 18 spesimen swab dari fasilitas ruangan dikumpulkan dengan metode accidental Spesimen swab ditanam pada Blood Agar Plate dan Mac Conkey Agar. Metode identifikasi bakteri dilengkapi dengan uji mikroskopis, dan uji biokimia. Klebsiella sp berhasil diidentifikasi kemudian dilanjutkan dengan uji kepekaan antimikroba (Kirby Baue. terhadap ceftazidime dan ceftriazone. Uji konfirmasi ESBL menggunakan metode Double Disc Sinergy Test (DDST). Hasil uji kepekaan antibiotik menunjukan Klebsialla sp. resisten terhadap antibiotik ceftazidime dan ceftriazone. Uji DDST menunjukkan produksi ESBL dari Klebsiella sp. Disimpulkan bahwa ditemukan Enterobacteriaceae penghasil ESBL yakni Klebsiella sp yang sudah menunjukkan resistensi pada cephalosporin generasi ketiga (Ceftazidime dan Ceftriazon. CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Norma Tiku Kambuno. Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Kupang - 85111 Email: norma. kambuno@gmail. Enzim -laktamase pertama kali PENDAHULUAN Resistensi suatu bakteri dapat terjadi karena pemberian antibiotik yang tidak tepat dosis, tidak tepat diagnosis dan tidak tepat bakteri penyebab. Bakteri ini memiliki daya pertahanan untuk menghindar dari antibiotik yaitu dengan melakukan mutasi pada sisi aktif maupun sisi pengikatan, membentuk protein trans membran yang dikenal sebagai protein efluks dan plasmid yang mengkode gen resiten terhadap antibiotik (Fuda et al. ,2. diidentifikasi pada bakteri Escherichia coli yang diberi nama TEM. Pada ekplorasi selanjutnya terbukti bahwa TEM disandi oleh gen resisten antibiotik yang berlokasi di Selain pada Escherichia coli, saat ini TEM Pseudomonas Haemophilus influenzae dan Neisseria gonorrhoeae. Enzim beta laktamase lainnya yaitu SHV disandi oleh gen resisten antibiotik yang berlokasi di Enzim ini pertama kali diisolasi dari Hidrolisis antibiotik beta laktam oleh Klebsiella pneumoniaee. Diperkirakan galur enzim beta laktamase adalah mekanisme . resisten produsen -laktamase ini yang paling sering mendasari terjadinya resistensi terhadap antibiotik golongan beta antibiotik yang tidak tepat (Peterson dan laktam pada bakteri Gram negatif yang penting Bonomo. ,2. secara klinis (Bush dan Jacoby, 2. Terapi infeksi bakteri produsen -laktamase Staphylococcus ,2. Terapi (Kurniawan semakin sulit jika bakteri tersebut termasuk termasuk kelompok antibiotik betalaktam. galur ESBL. Pemilihan antibiotik menjadi Kenyataannya obat ini pun tidak dapat sangat terbatas dan muncul kekhawatiran mematikan bakteri produsen beta laktamase akan adanya varian resisten yang baru. Beberapa penelitian di Amerika dan Eropa bakteri tersebut mengembangkan terhadap penisilin, sefalosforin dan aztreonam produsen ESBL mencapai 60% dari isolat klinis yang ada (Melzer and Perersen, 2. Spectrum Beta (Winarto,2. Extended Lactamase (ESBL) Kemampuan galur ESBL menghidrolisis antibiotik -laktam secara luas disebabkan adanya sejumlah mutasi pada gen TEM maupun SHV. Mutasi tersebut umumnya mengenai daerah active site dari enzim sehingga aktivitas enzim tersebut meningkat (Peterson dan Bonomo,2. Berbagai Secara penyebaran ESBL di berbagai negara di dunia berbeda-beda. Di Amerika latin 42,7 %. Amerika Utara 5,8 %. Eropa 2% - 31%, di negara-negara Asia prevalensi ESBL yang diproduksi oleh Escherichia coli dan Klebsialla pneumoniae bervariasi antara 4,8% - 12%. Indonesia prevalensi infeksi oleh bakteri Gram terutama famili Enterobacteriaceae termasuk penghasil ESBL mencapai 65% (Sharma et ,2. bakteri utama penyebab infeksi nosokomial Bakteri yang memproduksi ESBL atau yang kini dikenal dengan sebutan Healthcare-Associated Infection (HAI. Penyebab HAIs sering terjadi terutama pada bayi yang mendapat perawatan di NICU (Alatas et al. ,2. Data WHO menunjukkan, terdapat 10 juta kematian bayi dari 130 juta bayi yang lahir setiap tahunnya (Sianturi et ,2. Di Indonesia yaitu di 10 RSU pendidikan, angka kejadian HAIs cukup tinggi yaitu 6 - 16% dengan rata-rata 9,8% pada tahun 2010 (Jeyamohan dan Dharsini, 2. dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan dapat meningkatkan biaya pengobatan antibiotik yang tidak tepat. Hal ini yang penelitian dengan judul AuIdentifikasi Bakteri Gram Negatif Galur ESBL (Extended Spectrum Beta Lactamas. Pada Ruang NICU RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang Tahun 2015Ay dengan tujuan untuk mengetahui adanya kontaminasi bakteri Gram Berdasarkan penelitian pada ruang negatif galur ESBL yang diisolasi dari swab RSMH pada Incubator, infan warmer, timbangan, menunjukkan bahwa terdapat 22 pasien yang PAP, microburet, bengkok, box bayi, tabung O2, suction, washtaffel, pintu, kursi dan meja terbanyak berturut-turut adalah Acinetobacter dari ruangan NICU RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang. NICU Palembang HAIs Klebsiella diisolasi pada ruang NICU RSUD Prof. Dr. METODE PENELITIAN Penelitian Johannes Kupang. Sampel penelitian deskriptif dengan desain cross Enterobacteriaceae yang didapat dari swab Pengambilan sampel dilakukan di pada Incubator, infan warmer, timbangan, ruang NICU RSUD Prof Dr. Johannes PAP, microburet, bengkok, box bayi, tabung Kupang. O2, suction, washtaffel, pintu, kursi dan meja Bakteriologi dari ruangan NICU RSUD Prof. Dr. Poltekkes Johannes Kupang. Cara pemilihan sampel digunakan accidental sampling. Pemeriksaan Jurusan Analis Kemenkes Laboratorium Kesehatan Kupang. Waktu dilakukan pada bulan Juni-Juli 2015 Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yakni mengukur sensitivitas bakteri Gram negatif yang diisolasi dari ruangan NICU RSUD Prof. Dr. Johannes Kupang terhadap antibiotik Amoxicillin Semua bakteri Gram negatif yang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil swab dari ruangan NICU diisolasi pada media BAP dan MCA. Kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Adapun hasil pertumbuhan koloni ditunjukkan pada tabel dibawah ini. No. Kode Instrumen Pertumbuhan Koloni (BAP) Box Bayi I Koloni sedang. Putih keabuabuanSmoothAnhaemolisis Box Bayi II Koloni kecil. Putih. SmoothCembung. Keping. Anhaemolisis Inkubator Koloni sedang. Putih keabu-abuan. Smooth. Anhaemolisis Infant warmer Koloni kecil. Putih. Smooth. Cembung. Anhaemolisis Pintu Koloni kecil putih. Smooth. Cembung. Keping. Beta haemolisis Microburet Koloni kecilPutihKeping, cembung. Smooth. Anhaemolisis PAP Koloni sedang. Putih. Keping. Smooth. Cembung. Anhaemolisis Bengkok Suction Koloni sedang. Putih. Smooth. Anhaemolisis. C10 Tabung O2 C11 Washtaffel C12 Inkubator II Koloni sedang. Putih. Smooth. Anhaemolisis Koloni kecilPutih. Smooth Cembung. Keping. Anhaemolisis C13 Washtaffel II Koloni sedang. Putih. Keabu-abuan. Smooth. Anhaemolisis C14 Timbangan Koloni sedang. Putih. Keping. Smooth. Cembung. Anhaemolisis C15 Meja I Koloni sedang. Putih. Smooth. Anhaemolisis C16 Kursi Koloni sedang. Putih keabu-abuan. Smooth. Anhaemolisis C17 Box Bayi i Koloni sedang. Putih keabua-abuan. Smooth. Anhaemolisis C18 Meja II Koloni kecil. Putih keabu-abuan. Smooth. Keping. Cembung. Anhaemolisis Penanaman pada media MCA hanya menunjukkan pertumbuhan pada sampel D13, dengan ciri koloni Koloni besar. Mucoid. Cembung dan berwarna merah muda. Selanjutnyakoloni yang tumbuh pada media BAP dan MCA dilakukan pemeriksaan mikroskopis menggunakan pewarnaan Gram. Hasil dari pemeriksaan mikroskopis ditemukan sebagian besar bakteri Gram positif pada media BAP dan basil Gram negatif dari sampel D13 pada media MCA. Hasil Uji Biokimia Uji Biokimia Hasil Kode sampel D13 (Washtaffel II) Indol Methyl Red Hasil uji negatif (-) ditunjukan dengan tidak terbentuk warna merah pada media Hasil uji negatif (-) ditunjukan dengan tidak terjadi perubahan warna media menjadi merah setelah penambahan larutan indikator methyl red Hasil uji positif ( ) ditunjukan dengan Interpretasi Akhir Voges Simmon Triple Sugar Iron Agar Gula-gula (Laktosa. maltosa dan Glukos. terjadi perubahan warna media menjadi merah setelah penambahan reagen alfa naptol dan KOH Hasil uji positif ( ) ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna media dari hijau menjadi biru Hasil uji ditandai dengan perubahan warna indikator media dari merah menjadi kuning pada lereng media. Hasil uji positif ( ) ditunjukan dengan terjadi perubahan warna pada media dari merah menjadi kuning dan pembentukan gas pada tabung durham Klebsiella Sampel dengan kode D13 yang telah diinterpretasikan terkontaminasi bakteri Klebsiella dilakukan uji saring (Screenin. ESBL dengan menggunakan disc antibiotik Ceftazidime dan Ceftriazone. Zona yang terbentuk di ukur dan dibandingkan dengan standar CLSI 2014 untuk mementukan kepekaan terhadap antibiotik Uji saring (Screenin. ESBL Kode sampel D13 (Washtaffel II) Zona Diameter Interpretasi Resisten Sensitif Ceftazidime: 4 mm Oo Ceftriazone: - Oo Uji konfirmasi golongan ESBL Dari hasil uji saring (Screenin. ESBL menunjukan bakteri resisten terhadap antibiotik Ceftazidime dan Ceftriazone sehingga dilanjutkan dengan Uji konfirmasi golongan ESBL menggunakan metode Double Disk Sinergy Test. Hasil Uji konfirmasi golongan ESBL Kode Metode D13 Double Disk Sinergy Test Hasil Foto Hasil uji positif ESBL terbentuknya zona hambat yang mengarah ke amoxicillin clavulanat Dari 18 sampel yang diinokulasi pada menyebabkan tidak semua bakteri dapat media BAP terlihat pertumbuhan koloni bakteri tumbuh dengan baik sehingga media ini dapat yang berwarna putih abu-abu pada 16 sampel dengan sebagian besar menunjukan hasil mengidentifikasi bakteri Gram negatif. Hasil anhaemolisis atau bakteri tidak melisiskan sel kultur dari media ini hanya ditemukan satu darah yang terkandung dalam media. Pada pertumbuhan koloni bakteri (Sampel D. sampel C5 ditemukan adanya -hemolisis, hal ini disebabkan karena bakteri menghasilkan Interpretasi akhir identifikasi bakteri eksotoksin yang mampu melisiskan sel darah Peneliti menyimpulkan bahwa bakteri uji pada sampel D13 adalah Klebsiella sp. , hal ini terbentuknya zona bening . di didasarkan hasil kultur, pewarnaan Gram, dan sekitar pertumbuhan koloni. Sedangkan pada sampel C8 dan C10 dinyatakan steril karena dibandingkan dengan ciri bakteri Klebsiella sp. tidak ditemukan pertumbuhan koloni bakteri. dalam literaturdan karakteristik reaksi biokimia Pada BAP Mac Conkey Agar mengandung garam empedu dan kristal violet yang mampu menghambat pertumbuhan dari bakteri Gram positif (Waluyo,2. Hal ini Hasil dari Enterobacteriaceae. Indol Methyl Red Citrat TSIA Fermentasi Glukosa Fermentasi Sukrosa Fermentasi Lactosa Fermentasi Maltosa Species Voges Proskauer Reaksi biokimia dari Enterobacteriaceae / Gas / Gas / Gas Escherichia coli Klebsiella sp. Salmonella sp. Shigella sp. / Gas Proteus mirabilis Sumber: Connie et al. Textbook of Diagnostic Microbiologi. fourth edition. Saunder company Klebsiella sp. adalah bakteri batang Farland. Antibiotik yang digunakan pada uji ini Gram negatif, panjang-pendek, berpasangan adalah antibiotik golongan -lactam spektrum atau berderet, tidak berspora, tidak bergerak yang diperluas . efalosporin generasi ketig. dan berkapsul. Jika tumbuh pada media untuk mengetahui adanya resistensi dari sederhana, dapat membentuk koloni yang bakteri terhadap antibiotik ceftazidime dan Pada Mac Conkey Agar akan tampak koloni besar, mucoid, cembung dan berwarna merah muda jika koloni ini diambil dengan ose (Soemarno,2. adanya enzim beta lactamase yang diproduksi oleh bakteri. Uji ini dilakukan dengan metode (Disc ESBL Klebsiella menghasilkan diameter zona hambat pada ditemukan adanya zona hambat pada disc enzimESBL adalah uji awal untuk mengetahui Uji saring (Screenin. ESBL Uji Berdasarkan hasil Uji saring atau menggunakan media MHA (Muller Hinton Aga. yang telah diinokulasi dengan suspensi bakteri dengan standard kekeruhan 0,5 Mc antibiotik ceftriazone. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan standar CLSI 2014 dimana antibiotik ceftriazone resisten jika terbentuk zona diameter O 25 mm dan ceftazidime O 22 mm. Dapat disimpulkan bahwa bakteri Klebsiella sp. resisten terhadap kedua antibiotik tersebut karena tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Uji Double Disk Sinergy Test Double Disck Sinergy Test mendeteksi adanya ESBL yang diproduksi oleh bakteri dengan menggunakan amoksisilin asam klavulanat sebagai beta lactam inhibitor. Metoda ini digunakan untuk Escherichia coli. Klebsiellapneumoniae dan Klebsiella oxytoca (Clinical Laboratory Standards Institute. ,2. Adanya peningkatan zona inhibisi kearah antibiotik yang mengandung -lactama inhibitor merupakan indikasi adanya suatu ESBL. Hal ini dikarenakan -lactama inhibitor berdifusi kedalam media dan akan mendeteksi antibiotik ceftriazone atau ceftazidime yang ditandai dengan terbentuknya zona. Uji DDST yang dilakukan pada bakteri uji Klebsiella sp. menunjukkan peningkatan amoksisilin klavulanat. Hal ini mengindikasikan adanya produksi ESBL oleh bakteri uji. KESIMPULAN Berdasarkan hasil identifikasi bakteri Gram negatif ESBL pada ruang NICU RSUD Prof Dr. Johannes Kupang, ditemukan hanya satu bakteri Gram Klebsiella sp. , dan bakteri ini memproduksi ESBL. REFERENCES