https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS BELAJAR PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Mira Erlinawati1*. Arini Dyah Rupa Murti2 1 Universitas Duta Bangsa Surakarta 2 Sekolah Tinggi Agama Islam Grobogan *E-mail: mira_erlinawati@udb. id & arinidyah88@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa jauh penerapan model pembelajaran kooperatif terhadap peningkatan kualitas belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Peneliti berkolaborasi guru Bahasa Indonesia pada jenjang SMP di wilayah Kabupaten Brebes sebagai sampel penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam pada subjek penelitian. Adapun data sekunder diperoleh dari hasil analisis sumber literatur. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa model pembelajaran kooperatif secara bertahap memberi dampak baik terhadap aktivitas belajar, daya serap siswa terhadap materi dan ketuntasan belajar. Peningkatan aktivitas belajar, daya serap siswa dan ketuntasan belajar dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan dan hasil positif pada kualitas belajar siswa, sehingga penulis berkesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif dikatakan dapat memberi pengaruh baik pada kualitas belajar siswa. Aktivitas belajar berada di angka 73,2%. Sedangkan pada siklus II angkanya melonjak menjadi 89%. Kelonjakan aktivitas belajar siswa menjadi sebuah hal yang wajar mengingat pada perkembangannya siswa memiliki pandangan yang terbatas terhadap suatu yang baru, namun pandangan tersebut akan berbeda bila sesuatu tersebut sudah dikenal dan didalami. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif, kualitas belajar Abstract This study aims to see how far the implementation of the cooperative learning model has improved the quality of learning in the Indonesian language subject. The researcher collaborated with Indonesian language teachers at the junior high school level in Brebes Regency as a research The research method used is qualitative with a literature study Primary data was obtained from in-depth interviews with research subjects. Secondary data was obtained from the results of the analysis of literature sources. The results of this study state that the cooperative learning model gradually has a good impact on learning activities, students' absorption of materials and learning completeness. Increased learning activities, student absorption and learning completeness can be said to be progress and positive results on the quality of student learning, so the author concludes that the cooperative learning model can be said to have a good influence on the quality of student learning. Learning activities are at 73. While in cycle II the figure jumped to 89%. The spike in student learning activities is a natural thing considering that in its development students have a limited view of something new, but this view will be different if something is already known and explored. Keywords: cooperative learning model, learning quality https://journal. id/widyadidaktika PENDAHULUAN Dalam bukunya Chaer dan Agustina . menerangkan bahwa bahasa adalah bagian dari proses Keduanya juga menilai bahasa adalah alat komunikasi yang tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi itu sendiri. Melalui bahasa komunikasi dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan tepat sasaran. Bahasa sebagai instrumen komunikasi tidak hanya disampaikan oleh Chaer dan Agustina, melainkan juga oleh Soeparno . Menurutnya bahasa adalah instrumen komunikasi sosial memungkinkan komunikator menyampaikan pesan dengan baik dan efektif pada komunikan. Di samping bahasa diartikan sebagai suatu instrumen atau alat komunikasi, bahasa juga digunakan sebagai sebuah identitas kelompok, suku, atau bangsa. Masing-masing kelompok, suku, dan bangsa umumnya memiliki bahasa tersendiriAimeskipun ada pula bahasa yang digunakan oleh banyak bangsa. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa nasional. Ketetapan tersebut terwujud atas kesepakatan pendiri bangsa pada forum sumpah pemuda. Melalui ketetapan tersebut Bahasa Indonesia digunakan oleh setiap warga Indonesia persatuan di negara yang majemuk ini. Pada perkembangannya Bahasa Indonesia tidak hanya diamalkan dalam komunikasi sehari-hari. Lebih dari itu. Bahasa Indonesia juga diajarkan sebagai suatu mata pelajaran dan/atau mata kuliah. Bahasa Indonesia sendiri JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 masuk dalam pembelajaran wajib pada setiap forum pendidikan, baik itu pendidikan dasar, menengah hingga Masing-masing siswa dan Bahasa Indonesia sebagai suatu keharusan. Pada tingkat pendidikan dasar. Bahasa Indonesia Pada pendidikan menengah Bahasa Indonesia dipelajari selama 12 semester pula yang terbagi pada pendidikan menengah pertama dan Sementara itu, pada pendidikan tinggi. Bahasa Indonesia juga dipelajari selama 1 semester. Kondisi memunculkan permasalahan yang Beberapa mengalami perasaan bosan dalam mempelajari Bahasa Indonesia. Kondisi tersebut juga terjadi pada jenjang pendidikan tinggi di mana ada beberapa mahasiswa yang juga merasa bosan dan lelah dengan pembahasan yang cenderung sama. Hal yang kerap dikeluhkan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah kemonotonan penyampaian Siswa kerap merasa bosan bila cenderung monoton. Para cenderung tidak bersemangat bila pembelajaran hanya berorientasi pada penyampaian materi, bukan pada pengikutsertaan peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh karena alasan tersebut, pendidikan seyogyanya melibatkan peserta didik. Penerapan model pembelajaran adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk merubah kondisi Melalui model pembelajaran pendidik dapat menyampaikan materi https://journal. id/widyadidaktika dengan lebih menarik. Lebih dari itu, memungkinkan peserta didik untuk ikut andil dalam proses pembelajaran. Salamun . alam Sudrajat, 2008: . pembelajaran adalah cara yang berbeda untuk menciptakan hasil pembelajaran yang berbeda dengan kondisi dan situasi yang berbeda. Dalam karyanya Sudjana . 5: . berpendapat bahwa metode adalah suatu cara yang digunakan untuk merancang dan/atau menyampaikan materi pembelajaran melalui pendekatan tertentu. Tahap akhir dari model pembelajaran adalah pembelajaran, motivasi peserta didik hingga hasil pembelajaran peserta Pembelajaran kooperatif adalah satu dari sekian pembelajaran yang efektivitas belajar. Pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk pembelajaran (Isjoni, 2009: . Di sisi lain, model pembelajaran ini juga mewujudkan pembelajaran yang lebih menyenangkan, tidak kaku, dan tidak berorientasi pada hanya penyampaian Isjoni juga menerangkan bahwa model pembelajaran ini lebih pada mendorong siswa agar bekerja sama pada kelompok kecil. JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 menurut Syaodih Nana . 7: . peneliti kualitatif dikatakan sebagai penelitian yang dilakukan untuk dan/atau menganalisis fenomena dalam bentuk peristiwa, aktivitas sosial, persepsi, hingga pemikiran individu maupun Dari gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa metode yang peneliti gunakan ini adalah metode yang dilakukan dengan memberi gambaran atas hasil yang peneliti temui. Metode kualitatif yang digunakan peneliti diimbangi dengan pendekatan studi literatur. Studi literatur sendiri kepustakaan suatu kajian bahan bacaan yang dilakukan secara lebih komprehensif dan mendalam atas topik dan kandungan bacaan. Sumber literatur yang peneliti gunakan tidak lain adalah buku, jurnal, paper, atau penelitian yang membahas topik pembelajaran kooperatif. Sumber data penelitian dibagi atas beberapa jenis. Data primer diperoleh dari wawancara mendalam beberapa guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Brebes. Adapun diperoleh dari hasil kajian literatur beberapa buku, jurnal dan penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Definisi Pendalaman Model Pembelajaran Kooperatif METODE PENELITIAN Metode penelitian ini mengarah pada penelitian kualitatif. Metode kualitatif sendiri dikatakan sebagai penelitian dengan hasil deskripsi (L. Maleong, 2011: . Sementara itu. Model pembelajaran kooperatif adalah satu dari sekian model yang dikembangkan di era pendidikan modern. Secara garis besar, model pembelajaran kooperatif tersusun atas AumodelAy. AupembelajaranAy, dan AukooperatifAy. Dikatakan https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Suprijono . 0: . dalam karyanya bawah model adalah sebuah hasil atau interpretasi dari proses penelitian, kajian dan observasi yang didapat dari sebuah siswa. Sementara itu AupembelajaranAy dikatakan sebagai kegiatan guru yang dilaksanakan secara terprogram, terstruktur dan tersistem guna tercapainya optimalisasi pemberdayaan potensi peserta didik (Dimyati dan Mudjiono dalam Syaiful Sagala, 2011: . Dengan kata lain, secara tersirat, pembelajaran dikatakan sebagai interaksi yang dilakukan guru dan peserta didik. Kooperatif diartikan sebagai sifat saling membantu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah cara yang digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar dengan pendekatan Isjoni . 9: . menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bekerja sama dan bantu membantu guna menyukseskan pembelajaran. Adapun Sunal dan Hans dalam Isjoni . 9: . juga menerangkan bahwa model pembelajaran strategi yang dirancang dan/atau diterapkan pada proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas belajar mengajar. Lebih lengkap Sugiyono . 0: . menerangkan bahwa model pembelajaran ini berorientasi pada kegiatan kelompok-kelompok kecil pada lingkup belajar mengajar. Akan tetapi, menurut Anita Lie . 7: . model pembelajaran ini tidak sama dengan metode belajar kelompok. Metode belajar ini lebih pada pelaksanaan yang terstruktur dan berorientasi pada capaian hasil. Jika model pembelajaran ini diterapkan dengan baik dan benar, kualitas pendidikan akan sangat mungkin dilakukan. Slavin menjelaskan bahwa tujuan utama dari proses pembelajaran kooperatif adalah untuk memudahkan peserta didik dalam menyerap dan menerima materi belajar. Di samping itu. Ia juga menerangkan bahwa model pembelajaran ini juga menekankan pada siswa untuk mau dan mau berkontribusi lebih, baik itu dalam lingkup pendidikan, sosialAikerabat. Sementara dari pendapat lain Wisenbaken . alam Slavin: 2. menerangkan bahwa tujuan dari penerapan model belajar ini adalah untuk menciptakan normal-norma pro kehidupan siswa. Unsur Pembelajaran Kooperatif Secara umum terdapat beberapa unsur yang ada dalam proses pembelajaran Roger dan David Johnson . alam Anita Lie, 2005: . menjelaskan bahwa untuk mencapai hasil terbaik pembelajaran kooperatif seyogyanya harus diimbangi dengan semangat gotong royong sebagai Ketergantungan yang Positif Kelompok yang optimal adalah kelompok yang mau berkembang dan besar dengan paham gotong royong. Sebab kegagalan dan keberhasilan kelompok bukan dihasilkan oleh satu atau dua orang anggota, melainkan seluruh anggota yang merupakan elemen kelompok. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa semangat dan paham gotong royong harus senantiasa dipegang teguh oleh Dengan kata lain, masing-masing kelompok harus berusaha memunculkan ketergantungan anggota yang positif. Ada beberapa cara yang dapat diwujudkan untuk membangun kebersamaan dan semangat gotong royong. Agus Suprijono . 9: . menjelaskan bahwa cara cara terbaik untuk mewujudkan kebersamaan adalah dengan memberikan tugas estafet. Tugas estafet adalah tugas yang memungkinkan para anggota untuk saling berhubungan dan berkomunikasi, menjalin kebersamaan, bertukar pikiran hingga memberi solusi dan bantuan saat anggota lain kesulitan atas tugas yang Ia emban. Tanggung Jawab Antar individu Tujuan akhir pembelajaran kooperatif adalah untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang mampu berkontribusi lebih pada masyarakat (Agus https://journal. id/widyadidaktika Surpijono, 2009: . Melalui tujuan kebersamaan dan kerja sama, model pembelajaran ini juga membentuk tanggung jawab antar individu. Tanggung jawab individu adalah kunci untuk mewujudkan kelompok-kelompok yang berkualitas, yang mampu memberi pengaruh lebih terhadap proses pembelajaran. Tatap Muka Tatap muka memungkinkan tiap anggota untuk saling berinteraksi satu dengan lain. samping itu, tatap muka juga memudahkan kelompok untuk membuat rancangan dan menyelesaikan setiap tugas yang telah Interaksi yang dilakukan dengan tatap muka juga memperpendek jurang komunikasi antar anggota. Komunikasi Antar anggota Keterampilan komunikasi antar anggota memiliki peran penting dalam pembelajaran Melalui komunikasi yang baik menyelesaikan setiap tugas dan didapatnya. Namun kebalikan daripada itu. Saat kelompok tidak memiliki anggota yang cakap berkomunikasi, penyelesaian tugas akan cenderung terhambat dan tidak terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Evaluasi Proses Kelompok Evaluasi adalah tahap akhir dari pelaksanaan proses yang telah berlangsung. Saat evaluasi masing-masing kelompok akan melaksanakan proses, hambatan-hambatan yang ditemui, hingga jalan alternatif saat hambatan itu muncul. Pada akhirnya, evaluasi memungkinkan kelompok meninjau kembali jalan yang telah mereka lalui, kemudian dianalisis dan diperbaiki untuk kesempatan di masa yang akan datang. Jenis-Jenis Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran pembelajaran yang telah dikembangkan pada era pendidikan modern. Pembelajaran kooperatif dibagi ke dalam beberapa jenis tergantung pada pendekatan, pola dan cara JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 yang dilakukan. Di antara jenis pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah berikut: Bertukar Pasangan Bertukar pasangan adalah satu dari sekian jenis pembelajaran kooperatif yang kerap digunakan oleh banyak pendidik. Model pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk saling bercengkerama, bertukar pendapat hingga menciptakan Jenis pembelajaran kooperatif ini diawali dengan pemilihan pasangan yang dilakukan oleh Peserta didik yang telah memiliki pasangan menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Selesai menyelesaikan tugas, satu dari kedua anggota ditukar dengan anggota lain untuk menjalin kerja sama dengan pihak yang berbeda (Sugiantoro, 2010: . Mencari Pasangan Tidak berbeda dengan bertukar pasangan, mencari pasangan adalah jenis mengedepankan interaksi peserta didik. Jenis pembelajaran ini dimulai dengan penyerahan kartu soal dan jawaban pada peserta didik yang berbeda. Setelah kartu-kartu tersebut menjodohkan kartu pertanyaan dengan kartu Peserta didik dianggap berhasil tatkala berhasil mencocokkan kedua kartu Dua Tinggal Dua Tamu Sebagaimana pembelajaran ini melibatkan empat peserta Keempatnya diperkenankan untuk menyelesaikan soal dan/atau contoh kasus yang telah diberikan oleh pendidik. Setelah contoh kasus tersebut selesai dianalisis, dua di antara keempat anggota berkunjung ke kelompok lain untuk menyimak hasil diskusi kelompok tersebut, sedangkan dua siswa sisa menjelaskan hasil analisisnya pada dua anggota kelompok lain yang berkunjung pada kelompok mereka. Keliling Kelompok Keliling kelompok memungkinkan proses interaksi yang lebih banyak dari https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 masing-masing Jenis mendiskusikan permasalahan yang telah Hasil diskusi kemudian disimpan sebagai dokumen presentasi. Sementara dokumen tersebut disimpan, kelompok akan menyimak dan mendengarkan hasil diskusi Masing-masing kelompok tamu mencatat dan merangkum apa yang dianalisis oleh kelompok yang Saat giliran diskusi tiba, masingmasing kelompok akan mengeluarkan dokumen presentasi dan menyampaikannya di depan kelompok tamu. Aplikasi Model Pembelajaran Kooperatif Terdapat beberapa guru Bahasa Indonesia yang peneliti wawancarai. Guruguru tersebut menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif sedikit banyaknya memberi dampak yang baik terhadap pengembangan pembelajaran di kelas yang mereka ampu. Responden A pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif berjalan dengan lebih menarik. menambahkan bahwa pada setiap sesi belajar siswa terkesan menikmati dan antusias menerima topik pembelajaran. Secara umum model pembelajaran yang kooperatif memang mendorong antusias peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Model pembelajaran ini juga memungkinkan peserta didik untuk belajar, bekerja dan Pada setiap jenis pembelajaran kooperatif terdapat beberapa pola, yang dimana, pola-pola cenderung berbentuk seperti permainan dan tantangan untuk setiap Hal serupa juga telah disampaikan oleh Wedari dan Mulyani . Menurut keduanya model pembelajaran kooperatif membuat siswa lebih bersemangat sehingga meningkatkan aktivitas belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil yang serupa juga diperoleh oleh Wedari dan Mulyani juga dialami oleh Reni . Dalam penelitiannya Reni menjelaskan penelitian, pada siklus I aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia berada di angka 73,20% dan meningkat menjadi 89%. Reni menjelaskan bahwa peningkatan yang terjadi diakibatkan oleh antusiasme siswa yang meningkat. Sampel, sambung Reni, mengalami kelonjakan semangat dan antusiasme karena menilai model pembelajaran kooperatif lebih menarik daripada model pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan. samping Reni. Wedari dan Mulyani, penerapan pembelajaran kooperatif juga terjadi pada penelitian Ilhami dan kawankawan . Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa pada siklus I aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya berada di angka 64,2%. Sementara pada siklus II aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 78,5%. Aktivitas belajar sendiri adalah kegiatan belajar yang dilakukan siswa di kelas. Aktivitas belajar sangat erat kaitannya dengan antusiasme siswa. Siswa dengan antusiasme yang baik akan memiliki aktivitas belajar yang juga baik. Adapun siswa dengan aktivitas belajar yang baik akan cenderung memperoleh hasil belajar yang juga baik. Apa yang telah dijelaskan di atas telah mencirikan bahwa model pembelajaran kooperatif telah terbukti mampu memberi peningkatan pada antusiasme dan aktivitas belajar siswa. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuat aktivitas siswa tidak secara signifikan meningkat. Responden BAi seorang guru Sekolah DasarAimenjelaskan bahwa peningkatan aktivitas belajar tidak benar-benar terjadi pada siklus pertama. menjelaskan bahwa model pembelajaran meningkatkan aktivitas belajar yang Responden B menambahkan bahwa siswa cenderung bingung dan kaget dengan pola belajar yang baru mereka temui. Sehingga, untuk mengantisipasi hal tersebut, https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Responden B harus menerangkan ulang tentang bagaimana dan seperti pelaksanaan pembelajaran yang harusnya dilaksanakan. Di samping Responden B. Responden C dan D juga mendapati hasil yang tidak sesuai dengan harapan pada awal penerapan. Siswasiswa yang mereka ampu nyatanya bingung dan tidak benar-benar paham dengan pola pembelajaran yang harus mereka lakukan. Aktivitas belajar siswa keduanya tidak sampai 50% di awal siklus. Kondisi tersebut memaksa Responden C dan D untuk Keduanya kemudian melakukan evaluasi pembelajaran total. Hasil yang diperoleh Responden B. C dan D hampir serupa dengan penelitian Yusman, dkk . anpa tahu. Yusman dan kawan-kawan mendapati peningkatan yang tidak begitu signifikan di siklus I. Para peneliti tersebut menjelaskan bahwa, hasil belajar yang diperoleh sampel tidak seperti yang diharapkan. Ketuntasan belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diperoleh siswa di siklus I hanya 42,80%, jauh dari 70% yang merupakan prosentase minimal kelulusan. Daya serap klasikal yang dimiliki sampel juga cenderung kecil, yakni 67,17%. Kondisi tersebut kemudian mewajibkan peneliti untuk melakukan Walhasil, pada siklus II peneliti mendapati hasil yang agaknya lebih baik dibanding siklus I. Ketuntasan klasikal siklus I meningkat menjadi 85,70% di siklus II. Tingkat penyerapan siswa juga cenderung naik, dari siklus I yang hanya 67,17% menjadi 82,40%. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif yang baru digunakan adalah model pembelajaran asing untuk siswa. Berhasil atau tidaknya model pembelajaran sangat bergantung pada seberapa baik guru menjelaskan dan menerangkan tata aturan pembelajaran pada siswa. Aktivitas belajar siswa akan membaik saat siswa benar-benar memahami pola pembelajaran yang harus Kondisi tersebut terbukti pada responden C dan D. Keduanya menerangkan bahwa telah melakukan evaluasi tersebut proses belajar di siklus I. Keduanya meninggalkan pola-pola yang menyulitkan dan lebih berorientasi pada kemauan dan kemampuan peserta didik. Upaya tersebut menunjukkan hasil yang cukup baik. Aktivitas peserta didik keduanya meningkat. Pada siklus I aktivitas peserta didik Responden C hanya ada pada angka 43%. Setelah dijelaskan dan diberikan pemahaman peserta didik Responden C memberikan feedback yang cukup baik. Peserta didik terlihat begitu antusias dan responsif. Kondisi tersebut membuahkan peningkatan aktivitas belajar di siklus II. Jika pada siklus I aktivitas siswa Responden C hanya ada di angka 43%, pada siklus II aktivitas belajar mereka meningkat menjadi 78%. Perbaikan serupa juga dilakukan oleh Responden D dan membuahkan hasil yang tidak jauh berbeda. Pada siklus I siswa Responden D memiliki aktivitas belajar senilai 50%, di siklus II angka tersebut meningkat menjadi 82%. Dampak penerapan model pembelajaran kooperatif sendiri tidak hanya berimplikasi pada aktivitas belajar, melainkan juga hasil Responden C menerangkan bahwa setelah memperbaiki ketidaktepatan tahapan pembelajaran. Ia mendapati peningkatan hasil belajar yang signifikan pada peserta Jika pada siklus I ketuntasan belajar siswa berada di angka 54%, pada siklus II ketuntasan belajar tersebut meningkat menjadi 81%, atau lebih baik dari indikator kinerja yang telah ditetapkan. Kondisi serupa juga terjadi pada penelitian Yusman dan kawan-kawan . anpa Pada penelitian tersebut ketuntasan belajar siswa meningkat seiring tahapan Pada siklus I ketuntasan belajar berada di angka 42,8%, pada siklus II ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 85,7%. Hal demikian juga terjadi pada Reny . dalam penelitiannya menjelaskan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif ini ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia mengalami peningkatan. https://journal. id/widyadidaktika Jika pada siklus I ketuntasan siswa hanya berada di 71%, di siklus II ketuntasan belajar siswa tersebut meningkat menjadi 91%. Sementara itu Wedari dan Mulyani . menegaskan bahwa pada siklus I sampel penelitiannya memiliki ketuntasan belajar sebesar 60% dan meningkat menjadi 80% pada siklus II. Peningkatan-peningkatan yang terjadi di atas mencirikan bahwa di samping memberi dampak baik terhadap aktivitas belajar, penerapan model pembelajaran kooperatif juga memberi dampak yang cukup signifikan terhadap hasil belajar. Hasil belajar siswa yang telah menerapkan model pembelajaran kooperatif akan meningkat seiring dengan aktivitas belajar dan penyerapan materi yang Kondisi mengerucutkan persepsi bahwa secara umum penerapan pembelajaran kooperatif amat berpengaruh baik terhadap peningkatan kualitas belajar siswa. Pembahasan Model pembelajaran kooperatif adalah satu dari sekian model pembelajaran yang dikembangkan di era pendidikan modern. Model pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk ikut andil dalam proses Andil yang dimaksud di sini bukanlah andil dalam untuk sekedar menyimak dan mendengarkan penyampaian pendidik, melainkan ikut berperan serta dalam menyukseskan jalannya pembelajaran. Pada proses penerapannya terdapat beberapa kendala yang ditemui. Salah satu kendala terbesar adalah kebingungan peserta didik dalam mencerna dan menerima proses pembelajaran di awal siklus. Beberapa peserta didik mengaku bingung menerapkan model pembelajaran yang baru. Kondisi menyebabkan tidak maksimalkan aktivitas belajar peserta didik. Aktivitas peserta didik di awal siklus cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan siklus lanjutan. Hasil penelitian Reny misalnya. Aktivitas belajar sampel penelitian Reny berada di angka 73,2%. Sedangkan pada siklus II angkanya melonjak menjadi 89%. Kelonjakan aktivitas JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Juni 2025. PP 20 -28 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 belajar siswa menjadi sebuah hal yang wajar mengingat pada perkembangannya siswa memiliki pandangan yang terbatas terhadap suatu yang baru, namun pandangan tersebut akan berbeda bila sesuatu tersebut sudah dikenal dan didalami. Di samping memberi dampak pada pembelajaran kooperatif juga memberi dampak signifikan terhadap ketuntasan Wedari dan Mulyani . menjelaskan bahwa pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya ada di angka 60. Namun, setelah dilakukan evaluasi dan perbaikan di setiap sektor, ketuntasan belajar siswa kemudian meningkat menjadi 80%. Dari kondisi di atas dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif secara signifikan memberi dampak baik pada peningkatan ketuntasan belajar. Dari setiap penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran memberi dampak positif pada peningkatan kualitas belajar. Peningkatan kualitas belajar yang ada di setiap penelitian yang dijelaskan di atas dapat terlihat dari peningkatan aktivitas dan ketuntasan belajar. SIMPULAN Dari hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan di atas penulis memiliki beberapa kesimpulan sebagai berikut: Penerapan model pembelajaran kooperatif memberikan dampak positif terhadap aktivitas belajar peserta didik. Penerapan model pembelajaran kooperatif memberi dampak positif terhadap ketuntasan belajar peserta didik. Penerapan model pembelajaran kooperatif memberi dampak positif terhadap peningkatan kualitas belajar peserta didik DAFTAR PUSTAKA