JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1831 - 1836 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Laila Apipia1A. Rakhelian Frisky2. Selvi Eliana Putri3. Rita Kurnia4 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. FKIP. Universitas Riau1,2,3,4 E-mail: laila. apipia4971@student. ac1, rakhelian. frisky3538@student. eliana5803@student. id3, rita. kurnia@lecturer. Abstrak Kurikulum Merdeka adalah model pendidikan yang memberikan kebebasan kepada sekolah untuk mengembangkan program pembelajaran berdasarkan kondisi lokal dan karakteristik siswa mereka. Model ini dirancang untuk meningkatkan kesesuaian, efisiensi, dan kualitas hasil pembelajaran. Kurikulum ini didefinisikan sebagai struktur komprehensif yang mencakup tujuan, konten, metode pengajaran, penilaian, serta penanaman etika dan keterampilan praktis, dengan merujuk pada gagasan Tyler. Taba. Dewey. Schwab, dan Posner. Keuntungan Kurikulum Merdeka meliputi penekanan pada materi inti, pengembangan keterampilan, dan proses pembelajaran berkelanjutan. Namun, implementasinya masih menghadapi hambatan, seperti kurangnya pemahaman mendalam, fasilitas yang terbatas, persiapan guru, dan kebutuhan siswa yang Studi ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur melalui analisis bahan bacaan domestik dan Temuan studi menunjukkan pentingnya langkah-langkah pendukung, pelatihan rutin, dan regulasi adaptif untuk memfasilitasi implementasi. Akibatnya, peningkatan kompetensi profesional guru, otonomi sekolah, dan penyediaan peralatan belajar yang memadai merupakan faktor kunci keberhasilan. Oleh karena itu. Kurikulum Merdeka diharapkan dapat meningkatkan standar pendidikan dan membekali siswa untuk menghadapi tantangan era modern. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. Pendidikan. Kebijakan Pendidikan Abstract The Merdeka Curriculum is an educational model that gives schools the freedom to develop learning programs based on local conditions and student characteristics. This model is designed to improve the suitability, efficiency, and quality of learning outcomes. This curriculum is defined as a comprehensive structure that includes objectives, content, teaching methods, assessment, and the instilling of ethics and practical skills, with reference to the ideas of Tyler. Taba. Dewey. Schwab, and Posner. The advantages of the Merdeka Curriculum include an emphasis on core material, skills development, and a continuous learning However, its implementation still faces obstacles, such as a lack of in-depth understanding, limited facilities, teacher preparation, and varying student needs. This study uses a literature review approach through the analysis of domestic and foreign reading materials. The study findings indicate the importance of supporting measures, regular training, and adaptive regulations to facilitate implementation. As a result, improving teachers' professional competence, school autonomy, and the provision of adequate learning equipment are key factors for success. Therefore, the Merdeka Curriculum is expected to improve education standards and equip students to face the challenges of the modern era. Keywords: Independent Curriculum. Education. Education Policy Copyright . 2025 Laila Apipia. Rakhelian Frisky. Selvi Eliana Putri. Rita Kurnia ACorresponding author : Email : laila. apipia4971@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Ae Laila Apipia. Rakhelian Frisky. Selvi Eliana Putri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka adalah model pendidikan dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, yang memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi lokal, karakteristik siswa, dan kebutuhan zaman. Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan relevansi dan efektivitas pendidikan guna menghadapi perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang semakin kompleks (Novak, 2. Secara konseptual, kurikulum dapat didefinisikan sebagai struktur pembelajaran yang mencakup tujuan, konten, metode pengajaran, dan penilaian yang dirancang untuk mendukung peserta didik dalam mencapai kompetensi yang diinginkan. Selain itu, kurikulum juga mencakup unsur-unsur nonakademik, seperti pengembangan karakter, nilai-nilai etika, dan keterampilan praktis yang penting untuk kehidupan sosial ((Mawardini & Sajjad, 2. (Ramamonjisoa, 2. Beberapa ahli telah mengemukakan pandangan yang mendukung pemahaman ini: Tyler menekankan kurikulum sebagai desain pembelajaran. Taba menyoroti pengalaman belajar. Dewey memandangnya sebagai pengalaman komprehensif. Schwab melibatkan semua aktivitas pembelajaran. sementara Posner mendefinisikannya sebagai baik desain maupun panduan implementasi (Klenowski, 2. Kurikulum Merdeka menekankan penyederhanaan materi pembelajaran ke konsep inti dan penguatan kemampuan siswa melalui proses pembelajaran yang mendalam, menarik, dan berkelanjutan. Pendekatan ini diimplementasikan melalui pemetaan hasil belajar, kegiatan berbasis proyek, dan penilaian berbasis kompetensi, yang pada akhirnya memberikan kesempatan kepada guru untuk berinovasi dalam menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan siswa (Kementerian Pendidikan, 2. (Sumarsih et al. , 2. Meskipun demikian, penerapan Kurikulum Merdeka masih dihadapkan pada berbagai rintangan. Tantangan ini meliputi ketidakpahaman terhadap konsep dasar, kesulitan dalam menyelaraskan dengan situasi setempat serta beragam sifat peserta didik, keterbatasan sarana penunjang, dan kesukaran bagi guru dalam melaksanakan penilaian otentik serta pembelajaran yang disesuaikan (Made et al. , n. (T. Hasballah & Zulfatmi, 2. (Maulida et , n. )). Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan antara rancangan kurikulum dan kenyataan implementasinya di lapangan. Gap penelitian muncul karena sebagian besar studi sebelumnya hanya membahas keunggulan konsep Kurikulum Merdeka, namun sedikit yang melakukan analisis mendalam terhadap hambatan praktis yang dihadapi guru di sekolah dasar, terutama dalam konteks keragaman sumber daya antar wilayah. Selain itu, jika dibandingkan dengan penelitian internasional tentang kurikulum fleksibel seperti Kurikulum Nasional Finlandia atau Kerangka Kurikulum Australia, jelas bahwa implementasi yang sukses sangat bergantung pada kompetensi pedagogis guru dan dukungan sistemik (OECD, 2. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi asli dengan menjelaskan hambatan kontekstual dalam implementasi dan memberikan rekomendasi berdasarkan analisis literatur nasional dan global. Keunggulan kurikulum merdeka berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi siswa pada fasenya sehingga siswa dapat belajar lebih mendalam, bermakna, menyenangkan, tidak terburu Ae buru (Kementerian Pendidikan, 2. Pembelajaran kurikulum merdeka memiliki kerangka pengembangan pembelajaran berkesinambungan. Kurikulum merdeka mencakup pemetaan Standar Kompetensi. Merdeka Belajar dan Assesmen Kompetensi Minimal sehingga menjamin ruang yang lebih leluasa bagi pendidik untuk merumuskan rancangan pembelajaran dan assesmem sesuai dengan karakter dan kebutuhan siswa (Sumarsih et al. , 2. Dalam proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka, kekurangan pemahaman mengenai konsep inti, tujuan utama, serta manfaat yang ditawarkannya dapat menjadi faktor kunci yang menyulitkan pemberian dukungan yang esensial untuk mencapai implementasi yang efektif dan berkelanjutan. Misalnya, jika para pemangku kepentingan seperti guru, administrator sekolah, atau orang tua tidak memiliki wawasan yang mendalam tentang bagaimana kurikulum ini mempromosikan kebebasan belajar dan pengembangan kompetensi siswa. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Ae Laila Apipia. Rakhelian Frisky. Selvi Eliana Putri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. mereka mungkin kurang antusias dalam memberikan sumber daya atau kolaborasi yang diperlukan, yang pada akhirnya dapat memperlambat kemajuan keseluruhan program pendidikan. Hal ini tidak hanya memengaruhi tingkat keterlibatan, tetapi juga dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam koordinasi antar pihak, di mana dukungan yang dimaksud melibatkan aspek seperti pelatihan, alokasi dana, dan partisipasi komunitas untuk memastikan bahwa implementasi berjalan lancar di berbagai tingkatan. Lebih lanjut, terdapat kesulitan yang signifikan dalam mengadaptasi Kurikulum Merdeka dengan kondisi lokal yang beragam, mengingat setiap institusi pendidikan memiliki latar belakang, ciri khas, dan dinamika yang unik. Proses penyesuaian ini menjadi semakin kompleks karena harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kebutuhan masyarakat setempat, nilai budaya yang dominan, serta kondisi lingkungan sekitar di mana lembaga pendidikan berada. Sebagai contoh, di daerah pedesaan, kurikulum mungkin perlu dimodifikasi untuk mengintegrasikan elemen tradisional dan sumber daya terbatas, sementara di wilayah perkotaan, penekanan bisa lebih pada keterampilan digital dan urbanisasi. tanpa pendekatan yang tepat, tantangan ini dapat menimbulkan hambatan seperti resistensi dari komunitas atau ketidakcocokan konten, yang pada gilirannya memengaruhi efektivitas implementasi secara keseluruhan (Mulyasa, 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur yang berfokus pada pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai bahan bacaan akademik yang berkaitan dengan topik penelitian. Sumber informasi yang digunakan meliputi 16 bahan primer dan sekunder, seperti artikel ilmiah, buku panduan, dan dokumen kebijakan pendidikan yang diterbitkan antara tahun 2010 dan 2024, baik pada skala nasional maupun global. Pemilihan bahan bacaan dilakukan dengan mengacu pada standar tertentu, yaitu: . bahan bacaan harus secara langsung membahas topik penelitian, . memiliki kredibilitas akademik yang teruji . ipublikasikan di jurnal terkemuka atau oleh penerbit resm. , dan . mengandung fakta atau hasil empiris yang relevan dengan isu yang diteliti. Informasi yang dikumpulkan kemudian diproses menggunakan metode analisis konten dengan langkahlangkah berikut: . menyederhanakan data untuk memilih detail penting sesuai dengan fokus penelitian, . mengelompokkan temuan berdasarkan tema yang muncul, dan . menafsirkan hasil untuk merumuskan kesimpulan teoretis mendalam tentang subjek yang diteliti. Dengan pendekatan ini, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan ringkasan yang terstruktur dan komprehensif dari bahan bacaan serta memberikan kontribusi konseptual terhadap pengembangan penelitian di bidang pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinjauan literatur menunjukkan bahwa hambatan utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka meliputi pemahaman konsep, persiapan sumber daya, kondisi lokal, evaluasi berbasis kompetensi, dan kelanjutan program pelatihan bagi guru. (Made et al. , n. ) mengidentifikasi bahwa banyak guru belum sepenuhnya memahami prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka, sehingga implementasinya di kelas tidak sesuai dengan tujuan kurikulum. Temuan ini sejalan dengan pandangan (Heryahya et al. , 2. , yang menekankan bahwa kesiapan dalam pengetahuan pedagogis merupakan unsur penting untuk mencapai Namun, penelitian (T. Hasballah & Zulfatmi, 2. menawarkan perspektif yang berbeda dengan mengungkapkan bahwa hambatan tidak hanya berasal dari guru, tetapi juga dari kerangka kebijakan, seperti ketidakhadiran pedoman teknis dan koordinasi antar tingkatan birokrasi. Analisis ini menunjukkan bahwa tantangan dalam implementasi bersifat komprehensif, tidak terbatas pada aspek individu. Oleh karena itu. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Ae Laila Apipia. Rakhelian Frisky. Selvi Eliana Putri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. upaya untuk meningkatkan kemampuan guru harus disertai dengan perbaikan sistem manajemen dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Selain itu, penelitian oleh (Maulida et al. , n. ) menunjukkan bahwa kurangnya fasilitas dan infrastruktur merupakan hambatan utama, terutama di sekolah-sekolah yang berlokasi di daerah dengan akses terbatas terhadap teknologi. Temuan ini bertentangan dengan hasil penelitian oleh (Heryahya et al. , 2. yang menunjukkan bahwa lembaga pendidikan di daerah perkotaan sebenarnya mengalami kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran diferensiasi di kelas dengan komposisi siswa yang beragam. Analisis perbandingan antara kedua studi ini memperkuat pandangan bahwa tantangan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka tidak seragam, tetapi bergantung pada faktor geografis dan sosio-ekonomi. Dalam hal menyesuaikan kurikulum dengan konteks lokal, (T. Hasballah & Zulfatmi, 2. menekankan pentingnya fleksibilitas kebijakan, sementara (Klenowski, 2. menegaskan bahwa penyesuaian kurikulum yang sukses memerlukan evaluasi berkelanjutan terhadap kebutuhan dan karakteristik komunitas Hal ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka tidak dapat diterapkan secara seragam. tersebut harus dirancang ulang secara lokal untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap relevan. Selaras dengan Kurikulum Merdeka menjadi aspek krusial yang sering diabaikan. Guru harus mampu merancang kerangka pembelajaran yang mencakup penentuan tujuan yang jelas, pemilihan metode pengajaran yang inovatif, serta strategi penilaian yang komprehensif. Proses ini dapat menjadi cukup rumit bagi sebagian pendidik, terutama ketika mereka perlu mengintegrasikan elemen-elemen kurikulum yang baru, seperti pembelajaran tematik atau berbasis masalah. Untuk mengatasinya, guru mungkin memerlukan waktu tambahan untuk bereksperimen dengan berbagai model rencana, sambil mempertimbangkan umpan balik dari siswa dan rekan sejawat. Secara keseluruhan, tantangan ini menyoroti pentingnya pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan dalam pengembangan berkelanjutan dalam pengembangan profesional guru, agar implementasi Kurikulum Merdeka dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak yang terlibat (Heryahya et al. , 2. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang tantangan-tantangan ini dapat membantu dalam merumuskan strategi intervensi yang lebih efektif, sehingga para pendidik dapat mengatasi hambatanhambatan tersebut dan memaksimalkan potensi Kurikulum Merdeka dalam membentuk pendidikan yang lebih adaptif dan berkualitas. Kendala Pemahaman konsep guru Keterbatasan sarana Adaptasi konteks lokal Penilaian kompetensi Dukungan kebijakan Masalah Minim pelatihan efektif Ketimpangan sumber daya antar daerah Variasi budaya dan demografi Pengetahuan teknis guru terbatas Koordinasi kebijakan belum stabil Implikasi Perlu coaching berkelanjutan Pemerataan anggaran sekolah Kurikulum harus fleksibel bersifat lokal Perlu contoh instrument dan mentoring Penguatan system tata kelola pendidikan KESIMPULAN Secara umum. Kurikulum Merdeka berfungsi sebagai alat strategis dalam membentuk generasi yang mampu beradaptasi di era digital. Efektivitasnya sangat bergantung pada penguatan pemahaman konseptual, penyediaan bahan ajar yang memadai, dan dukungan sistem yang komprehensif. Saran-saran yang diajukan meliputi peningkatan program pelatihan bagi pendidik, distribusi sumber daya yang lebih adil, serta penilaian rutin untuk memastikan kurikulum mendukung pertumbuhan intelektual, emosional, dan sosial siswa, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat. Melalui strategi-strategi tersebut, dunia pendidikan diharapkan menjadi lebih bermakna dan responsif terhadap perubahan global. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu memperkuat kebijakan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru melalui program pelatihan terorganisir dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan praktis di Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Kendala Guru Sekolah Dasar dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Ae Laila Apipia. Rakhelian Frisky. Selvi Eliana Putri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Selain itu, diperlukan langkah-langkah kebijakan untuk mendistribusikan dan menyediakan bahan pembelajaran secara lebih merata guna mengurangi ketimpangan antarwilayah. Di tingkat sekolah, implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan kepemimpinan kolaboratif, perencanaan pelajaran yang fleksibel, dan sistem evaluasi autentik yang berfokus pada proses dan pencapaian kompetensi. Bagi guru, temuan ini menekankan urgensi pengembangan keterampilan pedagogis, keterampilan refleksi diri, dan inovasi dalam mengelola proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini. Kurikulum Merdeka tidak hanya berfungsi sebagai dokumen kebijakan, tetapi juga sebagai praktik pendidikan yang harus diterapkan dengan konsistensi, fleksibilitas, dan dukungan penuh dari semua elemen dalam ekosistem pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Ayu Rizki Septiana & Moh. Hanafi. Pemantapan kesiapan guru dan pelatihan literasi digital pada implementasi Kurikulum Merdeka. Joong-Ki: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1. , 380Ae385. https://doi. org/10. 56799/joongki. Dewi. , & Astuti. Hambatan Kurikulum Merdeka di kelas IV SDN 3 Apuan. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka