ELIPS: JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Volume 3. Nomor 1. Maret 2022 ISSN: 2745-827X (Onlin. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DENGAN ICE BREAKING UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS Vi SMP NEGERI 5 TOBADAK Citro Leo Vernando1. Herna2. Amran Yahya3 1,2,3Pendidikan Matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sulawesi Barat vernandocitroleo@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar dan hasil belajar matematika dengan penggunaan model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking pada peserta didik kelas Vi SMP Negeri 5 Tobadak tahun pelajaran 2020/2021. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. Desain penelitian ini menggunakan modifikasi model Kemmis & McTaggart dalam 2 siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Vi SMP Negeri 5 Tobadak yang berjumlah 20 siswa. Objek penelitian adalah meningkatkan minat belajar dan hasil belajar melalui model pembelajaran model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, tes, dan Instrument penelitian menggunakan lembar observasi, soal tes hasil belajar dan angket. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata sebesar 53,95% dan persentase ketuntasan belajar sebesar 10% selanjutnya Pada siklus II nilai rata-rata siswa menjadi 75,15% dan Persentase ketuntasan belajar siswa menjadi 85 % kemudian untuk perkembangan minat dapat dilihat pada siklus I dimana hasil yang didapat masih berada pada kategori rendah dengan nilai rata-rata 67% selanjutnya pada siklus II hasil angket minat belajar meningkat, dimana nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 79% dengan kriteria cukup. Dengan ini dapat dinyatakan indikator keberhasilan telah tercapai pada siklus II. Kata Kunci: Model Pembelajaran snowball throwing, ice breaking. Hasil Belajar Matematika. Minat Belajar Siswa ABSTRACT This study aims to increase interest in learning and mathematics learning outcomes by using the snowball throwing learning model with ice breaking for class Vi students of SMP Negeri 5 Tobadak for the 2020/2021 school year. This research is a classroom action research. The design of this study used a modified Kemmis & McTaggart model in 2 cycles consisting of planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects of this study were 20 students of class Vi SMP Negeri 5 Tobadak. The object of research is to increase interest in learning and learning outcomes through the learning model of the snowball throwing http://journal. id/index. php/ELIPS Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking learning model with ice breaking. Data collection techniques using observation, documentation, tests, and questionnaires. The research instrument used observation sheets, learning outcome test questions and questionnaires. The data analysis technique was done using quantitative descriptive and qualitative The results showed that the students' learning outcomes in the first cycle had an average value of 53. 95% and the percentage of learning completeness was 10%, then in the second cycle the average value of students 15% and the percentage of student learning completeness became 85% then for The development of interest can be seen in the first cycle where the results obtained are still in the low category with an average value of 67%, then in the second cycle the results of the questionnaire on learning interest have increased, where the average value obtained is 79% with sufficient criteria. With this, it can be stated that the indicators of success have been achieved in cycle II Keywords: Learning Model snowball throwing, ice breaking. Mathematics Learning Outcomes. Student Interest in Learning PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan perannya dimasa depan sebagai manusia pembangunan yang berkhualitas (Tanamir, 2. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab, sehingga dengan pendidikan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan hidup manusia (Huriyanti dan Rosiyanti. Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan menuntut orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk bekerja sama secara maksimal, penuh rasa tanggung jawab dan loyalitas yang tinggi dalam meningkatkan mutu Melalui pendidikan inilah suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang tangguh, mandiri, berkarakter dan berdaya saing. Selain itu, pendidikan juga dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam mempersiapkan sekaligus membentuk generasi muda dimasa yang akan datang (Putri, 2. Dalam dunia pendidikan matematika merupakan hal yang umum karena kita telah diperhadapkan dengan matematika sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peran penting dalam memajukan daya pikir manusia. Kemudian, perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi dimasa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Lestari, 2. Berdasarkan pendapat tersebut kegiatan belajar mengajar khususnya dalam matematika perlu lebih diperhatikan lagi mengingat begitu pentingnya matematika bagi generasi muda. Kemampuan matematika di indonesia terbilang masih sangat rendah dan masih dibawah standar internasional, dapat dilihat dari hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) Tahun 2018 Negara Indonesia mengalami penurunan apabila dibandingkan Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 dengan Hasil studi PISA Tahun 2015. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak. Untuk kategori matematika Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah . dengan skor rata-rata 379. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. menanggapi hasil survei tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa penilaian yang dilakukan PISA merupakan masukan berharga untuk mengevaluasi dan membenahi sistem pendidikan di Indonesia (Tohir,2. Hal yang tidak jauh berbeda ditunjukkan dari hasil studi TIMSS 2015 indonesia berada di peringkat 44 dari 49 negara (Nizam, 2. Pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memaparkan hasil UNBK untuk jenjang SMP sederajat. Hasilnya, rata-rata SMP dan MTs di tingkat nasional masih memiliki nilai UNBK atau UNKP di bawah standar. Khusus SMP, rata-rata semua mata pelajaran UN masih berada di 52 poin. Sedangkan standar kompetensi yang ditetapkan adalah 55. Dari beberapa mata pelajaran yang diujiankan, matematika yang paling terendah rata-rata dengan poin 46(Kemendikbud, 2. Selain itu, data nilai rata-rata hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk mata pelajaran matematika provinsi sulawesi barat tahun 2019 mencapai 36,92. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,45 dibandingkan tahun 2018 dengan nilai rerata 37,7 (Kemendikbud, 2. Keberhasilan pendidikan disekolah dapat dipantau dari hasil belajar yang telah dicapai siswa. Menurut Abdurrahman . menyatakan bahwa yang menjadi faktor penyebab rendahnya atau kurangnya pemahaman peserta didik terhadap konsep matematika, salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh pengajar. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa adalah kurangnya minat siswa dalam mengikuti pelajaran matematika. Minat sebagai salah satu faktor internal, mempunyai peranan dalam menunjang hasil belajar Siswa yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan kurang bergairah mengikuti proses balajar-mengajar. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang diajarkan tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik Sebaliknya bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dihafalkan dan disampaikan, karena minat dapat menambah kegiatan belajar (Agung, 2. Pada tanggal 6-11 januari 2020 lewat pengamatan di dalam kelas pada saat proses belajar mengajar di Kelas Vi SMP NEG 5 TOBADAK, diketahui bahwa minat siswa terhadap mata pelajaran matematika tergolong masih rendah sehingga mempengaruhi hasil belajar. Hal ini ditandai dengan banyaknya siswa yang belum menunjukkan rasa senang, kurang konsentrasi, serta kurangnya keterlibatan siswa saat mata pelajaran matematika berlangsung kemudian dilihat dari nilai ulangan, tugas, kuis serta nilai Ujian Tengah Semester masih belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 66,00. Berdasarkan hasil lapangan, rendahnya hasil belajar disebabkan oleh kurangnya minat siswa dalam belajar matematika. Permasalahan di atas sejalan dengan pemahaman Nurhasanah dan Sobandi . 6, h. minat belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar. Dengan demikian, adanya peningkatan minat belajar maka akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar. Artinya semakin baik minat belajar siswa, maka berdampak positif kepada hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian (Satriaman et al. , 2. guru masih menggunakan pendekatan teacher centered yang berpotensi pada makin rendahnya kualitas pembelajaran di sekolah. pembelajaran berpusat pada guru . eacher centered learnin. yang menekankan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang relatif bersifat pasif. Demikian pula hasil observasi Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking pembelajaran matematika yang dilakukan di SMP Negeri 5 Tobadak menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan guru dimulai dari pengertian, definisi, guru memberikan contoh penerapan rumus, kemudian guru memberikan latihan. Pada saat latihan ini baru dilakukan diskusi terhadap latihan-latihan yang diberikan guru. Bercermin kondisi tersebut, pembelajaran matematika di sekolah perlu diciptakan lingkungan belajar yang Dilain pihak, perspektif belajar yang baru menyatakan bahwa belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memahami dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran. Untuk itu, peneliti mencoba untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing dengan bantuan ice breaking. Menurut Handayani dkk . model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing adalah penggabungan antara diskusi dan permainan sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk aktif serta menghilangkan rasa jenuh dan bosan dalam Pembelajaran tipe ini mengharuskan peserta didik untuk membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan di depan kelas. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Snowball throwing siswa dapat belajar sambil bemain sehingga dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi mengenai suatu materi dengan melakukan permainan yang dapat menciptakan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan lebih santai dalam menjalani proses belajar mangajar sehingga materi pelajaran dapat lebih mudah untuk diserap (Yuliati, 2. Kemudian penggunaan ice breaking ini diharapkan untuk memacu timbulnya minat siswa dalam belajar matematika. Ice breaking digunakan untuk menciptakan suasana belajar dari pasif menjadi aktif, dari kaku menjadi gerak, dan jenuh menjadi riang (Sunarto,2. Menurut Dunlap . 3, h. permainan penyegaran . ce breaking ) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencairkan suasana pembelajaran yang membosankan, kaku, dan pasif menjadi kegiatan pembelajaran yang menyenangkan serta membangkitkan minat dan motivasi belajar lebih Berbagai penelitian telah dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran snowball throwing dan ice breaking dan diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah Anwar dkk . mengenai meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran snowball throwing di sekolah MTs Negeri Model Kota Sorong pada kelas Vi H. Penelitian ini menemukan bahwa ada pengaruh positif, peningkatan minat dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran snowball throwing di sekolah MTs Negeri Model Kota Sorong pada kelas Vi H. Selain itu, penelitian juga dilakukan oleh Salmawati . yang mengkaji penerapan strategi ice breaking terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Mangarabombang kabupaten takalar. Penelitian ini mengemukakan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan ice breaking dibandingkan tanpa menggunakan ice breaking. Berdasarkan hasil observasi melalui pengamatan di kelas ketika proses pembelajaran di SMP Negeri 5 Tobadak Kelas Vi Tahun ajaran 2019/2020 peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika siswa kelas Vi SMPN 5 TOBADAK. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. Penelitian ini telah dilaksanakan di SMPN 5 Tobadak yang beralamat di Kec. Tobadak . Kab. Mamuju Tengah . Waktu penelitian dilaksanakan di semester Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 genap tahun ajaran 2020/2021. Adapun subjek penelitian ini yaitu siswa kelas Vi SMPN 5 Tobadak tahun ajaran 2020/2021. Dengan jumlah siswa sebanyak 20 siswa yang terdiri dari 11 laki Ae laki dan 9 perempuan. Untuk memperjelas rencana tindakan penelitian ini, mengacu pada model Kemmis & McTaggart menggambarkan dalam siklus terdapat 4 . langkah yaitu: Planning . Acting . Observing . , dan Refelecting . Menurut Adnan Latif . pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan strategi yang telah direncanakan bisa terdiri dari satu atau beberapa pertemuan yang merupakan kelanjutan dalam satu unit strategi yang telah direncanakan. Sehingga, peneliti merencanakan untuk tiap siklusnya terdapat 3 pertemuan dari 2 siklus yang direncanakan. Untuk teknik pengumpulan data terdapat 4 metode yaitu dokumteasi, tes, observasi, dan angket kemudian untuk instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi, angket minat siswa, angket respon siswa, dan lembar tes hasil belajar. Analisis Kualitatif Data yang terkumpul berupa hasil observasi dan angket berupa pertanyaan. Dijelaskan secara deskriptif untuk mengetahui pelaksanaan dan hambatan-hambatan yang terjadi selama Tahapan-tahapan dalam proses analisis data adalah sebagai berikut: Reduksi data Reduksi data dalam penelitian ini merupakan proses penyeleksian dan penyederhanaan data melalui seleksi, pemfokusan dan pengabstrakan data mentah ke pola yang lebih terarah dan dikelompokkan berdasarkan kepentingan pada rumusan masalah. Penyajian data Penyajian data dilakukan dalam rangka penyusunan informasi secara sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan dan refleksi pada masing-masing siklus. Dalam penyajian data ini dilakukan proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan Penarikan kesimpulan Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara, yang ditarik pada akhir siklus I, ke kesimpulan terevisi pada akhir siklus II dan kesimpulan terakhir pada akhir siklus terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan terakhir saling terkait karena kesimpulan pertama digunakan sebagai pedoman untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan model snowball throwing dengan ice breaking. Data yang dikumpulkan tidak hanya terbatas pada data tentang perubahan yang diharapkan, melainkan juga mencakup data tentang peningkatan atau perubahan yang tidak direncanakan sehingga kesimpulan yang ditarik juga harus mencakup perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan sebelumnya. Analisis Kuantitatif Angket minat Dalam menentukan minat peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing dengan ice breaking digunakan rumus sebagai berikut: Pr = Eu As C 100 0 0 Eus Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking Keterangan : Pr : Presentase banyak peserta didik yang memberikan respon terhadap kategori tertentu yang ditanyakan dalam angket Eu As : Skor yang di peroleh siswa Oc yc: Skor maksimum Setelah persentase dari skor minat belajar peserta didik diketahui, maka dihitung skor ratarata dari persentase minat belajar dari seluruh peserta didik dengan menjumlah seluruh persentase minat belajar dari peserta didik kemudian dibagi dengan jumlah dari seluruh peserta C 100 0 0 Keterangan : = persentase skor rata-rata minat belajar = jumlah totol persentase minat belajar = jumlah peserta didik Angket respon siswa Untuk mengetahui data tentang respon siswa dalam penelitian ini dengan menggunakan Ae= C 100 0 0 Keterangan : = persentase rata-rata respon siswa = jumlah total persentase respon siswa = jumlah peserta didik Observasi Analisis data lembar observasi aktivitas guru dan siswa daiperoleh dari lembar pengamatan yang diisi selama proses pembelajaran berlangsung. Data ini dianalisis dengan menggunakan rumus persentase (Sudjana,2. Ae= C 100 0 0 Keterangan : = aktivitas persentase = skor total yang diperoleh dari lembar observasi = skor maksimal Tes Pada analisis kuantitatif peneliti menghitung nilai rata Ae rata dari hasil tes yang diberikan dari setiap pelaksanaan siklus. Selanjutnya untuk menghitung nilai rata Ae rata siswa maka kita akan memperhatikan rumus rata-rata dari Sudjana . Eux Keterangan: A = Rata-rata . Eu x = Jumlah Nilai Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 n= Jumlah Siswa Sedangkan untuk menghitung persentase keberhasilan pembelajaran adalah dengan menggunakan rumus Arikunto . Ae= C 100 0 0 Keterangan : P = Angka persentase keberhasilan pembelajaran f = Jumlah siswa yang mencapai nilai Ou KKM n = Banyaknya individu dalam subjek penelitian . alam hal ini adalah jumlah siswa sebagai subjek penelitian yaitu siswa kelas Vi SMP 5 Tobadak Persentase hasil skor yang diperoleh kemudian dikualifikasi untuk menentukan seberapa tinggi kemampuan matematika siswa. Berikut tabel kualifikasi hasil persentase skor analisis sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Ketuntasan Pembelajaran Nilai/skala Predikat 86Ae 100 81 Ae 85 76 Ae 80 71 Ae 75 66 Ae 70 61 Ae 65 56 Ae 60 51 Ae 55 46 Ae 50 0Ae 45 Kriteria Ketuntasan Sangat Baik Tuntas Sangat Baik Tuntas Baik Tuntas Baik Tuntas Baik Tuntas Cukup Tidak Tuntas Cukup Tidak Tuntas Cukup Tidak Tuntas Kurang Tidak Tuntas Kurang Tidak Tuntas ( Kemendikbud ,2014, h. Kategori Indikator Keberhasilan Tindakan akan dihentikan bila kriteria keberhasilan telah tercapai. Kriteria keberhasilan tindakan ditetapkan berdasarkan ketuntasan belajar yang diterapkan oleh sekolah dan berdasarkan pertimbangan peneliti. Adapun kriteria keberhasilan tindakan tersebut adalah: Ketuntasan hasil belajar siswa berada pada kategori AuBaikAy atau AuSangat BaikAy yaitu dengan ketentuan nilai 66%-80% berkategori Baik dan 81%-100% berkategori Sangat Baik. Persentase kelulusan klasikal 75%. (Mulyasa, 2. Ketercapaian minat siswa dalam pembelajaran adalah minat siswa berada pada persentase 75% dengan kriteria baik (Muchib, 2. Respon siswa terhadap pembelajaran berada pada kategori baik dengan persentase Ou 80% (Winda elinawati dkk, 2018, h. Aktivitas siswa dan guru sebagian besar terlaksana jika mencapai kriteria baik, yaitu berada pada kisaran persentase 70 -79 ( Novika, 2014, h. Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Siklus I siklus I diadakan 3 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus. Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilakukan pada hari rabu 17 februari 2021, pertemuan kedua dilakukan sabtu 20 februari 2021, pertemuan ketiga dilakukan pada hari rabu 24 februari 2021 dan untuk pertemuan keempat dilakukan pada hari sabtu 27 februari 2021. Hasil Belajar Proses ini dilaksanakan diakhir pertemuan siklus, dimana guru memberikan siswa soal tes berupa soal essai sebanyak 5 nomor untuk mengukur hasil belajar siswa. Adapun, hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat dari tabel berikut. Tabel 2. Hasil Tes Belajar Siklus I Rata-rata Kriteria Presentase ketuntasan 53,95% Cukup Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa presentase hasil belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan dimana nilai rata-rata pada siklus I mendapat nilai 53,95% dengan kriteria cukup dan persentase ketuntasan hanya 10%. Minat siswa Berikut ini merupakan hasil angket minat belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking pada siklus I. Tabel 3. Hasil Minat Siswa Siklus I Nilai rata-rata Cukup Berdasarkan tabel 4. 4 yang menunjukkan persentase angket minat belajar siswa pada siklus I ini belum sesuai dengan indikator keberhasilan, karena persentase angket minat belajar siklus I masih berada pada kategori rendah dengan nilai rata-rata 67% dan belum mencapai nilai 75%. Respon siswa Pada proses evaluasi dipertemuan ke empat diberikan juga angket respon belajar Hasil rata- rata angket respon belajar siswa dapat lihat di lampiran 7. Berikut ini merupakan ringkasan hasil angket respon belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking pada siklus I. Tabel 4. Hasil Angket Respon Belajar Siswa Siklus I Banyak siswa yang hadir Skor rata Nilai Kategori penilaian Baik Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 Berdasarkan hasil respons yang diterima dari hasil responden sebanyak 20 orang yang mengisi angket respons siswa sehingga menghasilkan nilai 64 dengan kategori penilaian Tetapi belum memenuhi indikator keberhasilan karna belum mencapai nilai 80. Aktivitas guru Berdasarkan hasil pengamatan dalam observasi guru selama proses pembelajaran dengan menerapkan model snowball throwing dengan ice breaking untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Observer mengamati proses pembelajaran dengan meniti pada 16 aspek kegiatan yang menghasilkan penilaian sebagaimana pada tabel berikut. Tabel 5. Hasil Observasi Guru Siswa I Pertemuan Skor Nilai Kriteria Penilaian Baik Baik Baik Nilai Rata-rata Kriteria Penilaian Baik Berdasarkan tabel di atas, menujukkan hasil data dari lembar observasi aktivitas guru di tiap pertemuan siklus I. Dimana nilai rata- rata hasil obsevasi aktivitas guru dari pertemuan 1 sampai pertemuan 3 sebesar 75% atau bisa dikatakan berkategori baik pada siklus I. Aktivitas siswa Berdasarkan hasil pengamatan dalam observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan model snowball throwing dengan ice breaking untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Observer mengamati proses pembelajaran dengan meniti pada 3 aspek kegiatan yang menghasilkan penilaian sebagaimana pada tebel berikut. Tabel 6. Hasil Obsservasi Siswa Siklus I Pertemuan Nilai Nilai rata-rata Kriteria Cukup Berdasarkan tabel di atas, menujukkan hasil data dari lembar observasi di tiap hasil dari Rata-rata dari pertemuan 1 sampai pertemuan 3 yaitu sebesar 61 % yang menujukkan kriteria cukup pada siklus I. Refleksi Siklus I Berdasarkan hasil dari proses pelaksanaan dan observasi bisa disimpulkan bahwa, masih ada indikator keberhasilan pada siklus I yang belum tercapai seperti hasil belajar siswa, minat belajar siswa dan respon belajar siswa. karena adanya kekurangan dan permasalahan yaitu Siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran dengan model snowball throwing sehingga siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang dilakukan, siswa belum mamahami materi pembelajaran karena siswa belum bersungguh38 Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking sungguh dalam mengikuti pembelajaran, waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat sedikit sehingga proses pembelajaran kurang maksimal, kerjasama dalam kelompok masih sangat kurang terkadang hanya satu atau dua orang yang aktif dalam diskusi kelompok. Siklus II pelaksanaan siklus II diadakan 3 kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus. Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilakukan pada hari rabu 03 maret 2021, pertemuan kedua dilakukan sabtu 06 maret 2021, pertemuan ketiga dilakukan pada hari rabu 10 maret 2021 dan pertemuan keempat dilakukan pada hari sabtu 13 maret 2021 . Hasil belajar Proses ini dilaksanakan setiap akhir pertemuan siklus, dimana guru memberikan siswa soal tes hasil belajar dan angket respons siswa untuk mengukur hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada siklus II dapat dilihat dari tabel berikut. Tabel 7. Tes Hasil Belajar Siklus II Rata-rata Kriteria Persentase ketuntasan 75,15% Baik Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa presentasi hasil belajar siswa suda mencapai indikator keberhasilan dimana nilai rata-rata pada siklus 1 mendapat nilai 75,15% dengan kriteria baik dan persentase ketuntasan 85%. Tindakan ini dikatakan berhasil karena persentase ketuntasan siswa sudah lebih dari 75% dan rata-rata hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Maka tidak perlu ada tindakan selanjutnya. Minat belajar Berikut ini merupakan hasil angket minat belajar belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking pada siklus II. Tabel 8. Hasil MInat Siswa Siklus II Nilai rata-rata Baik Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa persentase angket minat pada siswa kelas Vi dari 20 siswa mendapat nilai rata-rata sebesar 79% dengan kriteria baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat belajar siswa pada siklus II ini sudah lebih dari kriteria keberhasilan minimal maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Respon siswa Pada proses evaluasi dipertemuan ke empat diberikan juga angket respon belajar Berikut ini merupakan ringkasan hasil angket respon belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking pada siklus II. Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 Tabel 9. Hasil Angket Respon Belajar Siswa Siklus II Banyak siswa yang hadir Skor rata Nilai Kategori penilaian 57,6% Sangat baik Berdasarkan hasil respons yang diterima dari hasil responden sebanyak 20 orang yang mengisi angket respons siswa sehingga menghasilkan nilai persentase 80 dengan kategori penilaian baik. Sehingga dari data tersebut sudah memenuhi indikator keberhasilan karna sudah mencapai persentase 80%. Aktivitas guru Berdasarkan hasil pengamatan dalam observasi guru selama proses pembelajaran. Observer mengamati proses pembelajaran dengan meniti pada 16 aspek kegiatan yang menghasilkan penilaian sebagaimana pada tebel berikut. Tabel 10. Hasil Observasi Guru Siklus II Pertemuan Skor Nilai Kriteria Penilaian Nilai Rata-rata Kriteria Penilaian Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Berdasarkan tabel di atas, menujukkan hasil data dari lembar observasi aktivitas guru ditiap pertemuan siklus II. Dimana nilai rata- rata hasil obsevasi aktivitas guru dari pertemuan 5 sampai pertemuan 7 sebesar 80% atau bisa dikatakan berkategori sangat baik pada siklus II . Aktivitas siswa Berdasarkan hasil pengamatan dalam observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan model snowball throwing dengan ice breaking untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Observer mengamati proses pembelajaran dengan meniti pada 3 aspek kegiatan yang menghasilkan penilaian sebagaimana pada tebel berikut. Tabel 11. Hasil Observasi Siswa Siklus II Pertemuan Nilai Nilai rata-rata Baik Berdasarkan tabel di atas, menujukkan hasil data dari lembar observasi di tiap hasil dari Rata-rata dari pertemuan 5 sampai pertemuan 7 yaitu sebesar 76 % yang menujukkan kriteria baik pada siklus. Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking . Refleksi Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking telah berjalan dengan lancar dan baik sesuai dengan harapan peneliti. Berdasarkan data di atas hasil belajar, minat, keaktifan dan respon peserta didik telah mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan tidak perlu dilakukan tindakan lebih lanjut karena telah mencapai tingkat keberhasilan penelitian. Pembahasan Permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah rendahnya minat belajar yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika. Kurangnya variasi dalam penerapan model pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu penyebab rendahnya minat belajar dan hasil belajar peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat menarik minat siswa yakni model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking. Dengan adanya variasi model pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan minat belajar dan hasil belajar peserta didik. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus selama 8 kali pertemuan. Tahaptahap dalam penelitian ini antara lain, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan Berikut adalah pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan soal tes. Dalam penelitian ini menggunakan soal tes pilihan Essay sebanyak 5 butir pertanyaan baik pada siklus I maupun siklus II sesuai dengan materi pembelajaran pada tiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking mampu meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil dari proses pelaksanaan dan observasi pada siklus I terdapat beberapa permasalahan yaitu siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran dengan model snowball throwing sehingga siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang dilakukan, siswa belum mamahami materi pembelajaran karena siswa belum bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran, waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat sedikit sehingga proses pembelajaran kurang maksimal dan kerjasama dalam kelompok masih sangat kurang terkadang hanya satu atau dua orang yang aktif dalam diskusi kelompok. Dari hasil analisis data tes hasil belajar siswa, nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 53,95% dan persentase ketuntasan belajar sebesar 10%, yang artinya penelitian ini lanjut ke siklus II. Dari hasil analisis data angket minat belajar pada siklus I hasil yang didapat masih berada pada kategori rendah dengan nilai rata-rata 66% dan belum mencapai nilai 75% yang artinya penelitian ini lanjut ke siklus II. Respon belajar siswa diukur dengan memberikan angket kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkannya model snowball throwing dengan ice breaking dapat meningkatkan respon belajar siswa. Pada siklus I skor rata Ae rata pada siklus I sebesar 66 dengan nilai persentase 64% yang artinya respon belajar dapat dikatakan baik. Tetapi belum memenuhi indikator keberhasilan karna belum mencapai nilai Sehingga untuk siklus berikutnya harus lebih baik lagi dalam proses Data lembar observasi keaktifan belajar siswa menujukkan hasil Rata-rata dari pertemuan 1 sampai pertemuan 3 yaitu sebesar 61% dimana dipertemuan 1 nilai rata-rata 51%, petemuan 2 nilai 60% dan pertemuan 3 nilai 71% yang menujukkan kriteria cukup pada siklus I. Aktivitas guru diukur juga dengan lembar observasi yang dilakukan oleh observer. Pada siklus I untuk pertemuan pertama dengan nilai sebesar 78%, untuk pertemuan kedua dengan nilai sebesar 73% dan untuk pertemuan ketiga dengan nilai sebesar75%. Dimana nilai rata-rata aktivitas guru pada siklus I sebesar 75% dengan kriteria baik. Citro L Vernando. Herna. Amran Yahya ELIPS: Vol. No. Maret 2022 Dari hasil yang diperoleh pada siklus I, hampir semua aspek belum memenuhi kriteria indikator keberhasilan sehingga peneliti dan guru bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada siklus I dengan melakukan perencanna kembali yang akan diterapkan pada siklus II yaitu guru menjelaskan ulang tentang model pembelajaran yang digunakan dan memberitahukan hal-hal yang ingin dicapai dari medel pembelajaran yang diterapkan, guru meminta agar siswa lebih sungguh-sungguh untuk belajar matematika dan guru juga menekankan agar lebih berani bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru, guru meminta agar lebih meningkatkan kerjasama dalam setiap kelompok dan memanfaatkan grup belajar daring dengan mengirimkan video pembelajaran terkait dengan materi yang akan dipelajari sebelum melaksanakan pertemuan tatap muka atau sehari sebelum melaksanakan Dari hasil analisis data tes hasil belajar siswa, nilai rata-rata siswa pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 75,15% dan persentase ketuntasan belajar siswa menjadi 85 %, maka bisa disimpulkan bahwa penelitian yang terjadi di siklus II telah mencapai indikator keberhasilan. Dari hasil analisis data angket minat belajar pada siklus II hasil angket minat belajar meningkat, dimana nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 79% dengan kriteria baik. Respon belajar siswa diukur dengan memberikan angket kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkannya model snowball throwing dengan ice breaking dapat meningkatkan respon belajar Hal ini dibuktikan pada siklus II bahwa perhitungan skor rata respon siswa terjadi peningkatan yaitu 64 dengan nilai persentase 80%. Hal ini membuktikan bahwa sudah memenuhi indikator keberhasilan. Data lembar observasi keaktifan belajar siswa Pada siklus II di pertemuan 5 sampai pertemuan 7 yaitu sebesar 76% dengan kriteria baik dimana pertemuan 5 nilai rata-rata sebesar 75%, pertemuan ke 6 nilai rata-rata sebesar 77% dan pertemuan 7 nilai rata-rata sebesar 75%. Aktivitas guru diukur juga dengan lembar observasi yang dilakukan oleh observer pada siklus II untuk pertemuan ke 5 dengan nilai sebesar 80%, pertemuan ke 6 dengan nilai sebesar 80% dan untuk pertemuan ke 7 dengan nilai sebesar 83%. Dimana nilai rata-rata aktivitas guru pada siklus II sebesar 81% dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas guru pada siklus II terjadi peningkatan dan dapat dikatakan sudah memenuhi indikator keberhasilan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah Anwar dkk . mengenai minat dan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran snowball throwing di sekolah MTs Negeri Model Kota Sorong pada kelas Vi H. Penelitian ini menemukan bahwa ada pengaruh positif, peningkatan minat dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran snowball throwing. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Fatwal Harsyad . terkait studi penggunaan ice breaking terhadap minat belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 21 Makassar dimana terdapat peningkatan minat setelah diberikan ice breaking dan penelitian yang dilakukan oleh Salmawati . yang mengkaji penerapan strategi ice breaking terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Mangarabombang kabupaten takalar bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan ice breaking dibandingkan tanpa menggunakan ice breaking. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilaksankana dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan modifikasi Penarapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Ice Breaking model Kemmis & McTaggart dalam 2 siklus dimana tiap siklus terdiri dari 3 pertemuan, dengan lokasi penelitian berada pada SMP Negeri 5 Tobadak. Kec. Tobadak. Kab. Mamuju Tengah. Dari hasil yang diperolah bahwa setiap aspek indikator keberhasilan penelitian telah mengalami peningkatan sehingga mencapai keberhasilan proses pembelajaran. Keberhasilan penelitian terjadi pada siklus II tepatnya pada pertemuan ke 5 sampai pertemuan ke 7. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing dengan ice breaking dapat meningkatkan minat dan hasil belajar matematika siswa. Saran Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka beberapa hal yang disarankan antara lain: Guru perlu lebih sering memberikan semangat dan motivasi kepada siswa agar siswa lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Guru perlu menggunakan model pembelajaran yang bervariasi agar siswa tidak mudah bosan dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Siswa perlu meningkatkan semangat dan motivasi belajar dari dalam dirinya sendiri dalam mengikuti pembelajaran matematika Siswa perlu lebih aktif dalam proses pembelajaran agar lebih mudah dalam memahami Siswa perlu lebih giat dalam belajar agar mampu memperoleh nilai sesuai atau bahkan lebih dari KKM yang ditetapkan sekolah. Penelitian tindakan dapat dilakukan dengan model pembelajaran yang lebih bervariasi. Juga, dapat dikombinasikan dengan berbagai media pembelajaran dan beberapa ice breaking untuk semakin meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. DAFTAR PUSTAKA