Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 OPERATIONALIZATION OF EXCELLENT SERVICE Aida Fitriani Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Univesitas Kapuas Sintang. Jl. Oevang Oeray No. Sintang. Indonesia, email: aidafitriani45@gmail. Abstract: Technically, the Puskesmas is tasked with providing services that include treatment, prevention, health improvement, and health recovery services aimed at all residents in its working area. The research objectives can be analyzed and described the principles and concepts of Excellent Service at Puskesmas by conducting Descriptive research. Data collection techniques used are, indepth interviews with purposive informants, observation and documentation studies. The principles and concepts of Excellent Service at Puskesmas are prioritizing the community/patient, an effective system, serving with conscience, making continuous improvements and empowering the community/patient. The implementation of Excellent Service at the Health Center is a renewal of service design through several activity steps, namely determining the type of service, appreciating community/patient activities and designing service processes. It is recommended that Puskesmas apply the Health Service Process Model as a whole, especially formulating goals and objectives as guidance in the implementation of health service policies provided. Keywords: Operationalization of Excellent Service. Abstrak: Secara teknis Puskesmas bertugas memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan pengobatan, pencegahan, peningkatan kesehatan, dan pemulihan kesehatan ditujukan kepada semua penduduk yang berada di wilayah kerjanya. Tujuan penelitian dapat dianalisis dan dideskripsiskan prinsip dan konsep Pelayanan Prima di Puskesmas dengan melakukan penelitian Deskriptif. Teknik pengumpulan data dipergunakan adalah, indepth interview terhadap informan secara purposive, observasi dan studi dokumentasi. Prinsip dan konsep Pelayanan Prima di Puskesmas adalah mengutamakan masyarakat/pasien, merupakan sistem yang efektif, melayani dengan hati nurani, melakukan perbaikan yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat/pasien. Pelaksanaan Pelayanan Prima di Puskesmas adalah pembaharuan disain pelayanan melalui beberapa langkah kegiatan yaitu menetapkan jenis pelayanan, menghayati kegiatan masyarakat/pasien serta merancang proses pelayanan. Direkomendasikan agar Puskesmas menerapkan Model Proses Pelayanan Kesehatan secara utuh, terutama merumuskan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran sebagai panduan . dalam implementasi kebijakan pelayanan kesehatan yang diberikan. Kata Kunci: Operasionalisasi Pelayanan Prima. PENDAHULUAN Bentuk pelayanan birokrasi pemerintah kepada masyarakat berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan penyediaan berbagai data informasi, pengetahuan, kebijakan beserta penyebarannya ke Pemerintah yang baik (Good Governanc. berkewajiban untuk menciptakan perencanaan berorientasi keadilan, transparan agar mendorong masyarakat kreatif, dan mampu bersaing. Satu diantara pelayanan prima yang sangat penting dalam penyelenggaraan pembangunan adalah pelayanan di bidang FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Pembangunan bertujuan untuk mencapai hidup sehat bagi setiap penduduk dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang Salah satu unsur kesejahteraan nasional dan keutuhan masyarakat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, berbagai kebijakan di bidang kesehatan telah dilaksanakan sebagai pencerminan dari menanggulangi masalah kesehatan. Upaya nasional berwawasan kesehatan sebagai salah satu misi serta strategi yang baru dapat dijadikan komitmen semua pihak. Pelayanan merupakan pelayanan yang mendapat banyak sorotan. Kualitas kesehatan masyarakat ditentukan oleh pelaksanaan pembangunan kesehatan, bertujuan untuk mencapai hidup sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan secara optimal sebagai salah satu wujud dari unsur kesejahteraan AuKualitas pelayanan kesehatan dapat diukur melalui tingkat kepuasan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang diterima, baik pelayanan kuratif maupun preventifAy (SMERU, 2017: . Menurut Amirudin Aupelayanan pelayanan yang vital bagi masyarakat, baik masyarakat yang tergolong kelas menengah maupun kelas menengah bawahAy. Untuk meningkatkan pemerataan menyelenggarakan layanan dasar melalui Puskesmas dan layanan rujukan melalui Rumah Sakit. Puskesmas berperan sebagai pusat pelayanan dan pengembangan kesehatan masyarakat, serta menjalankan P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 tugas pengobatan . , pencegahan . , . , dan pemulihan . bagi warga di wilayah kerjanya. Selain itu. Puskesmas juga menyusun program, melaksanakan kegiatan, dan melaporkan Dinas Kesehatan. Kegiatan utamanya adalah pelayanan pengobatan yang menyasar individu, keluarga, dan kelompok masyarakat melalui strategi pembinaan. Sebagai bagian dari pemerintah daerah. Puskesmas bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Konsep dan Prinsip Pelayanan Prima Konsep Pelayanan Prima Menurut Sutopo Sugiyanti . Aupelayanan prima di Indonesia mengalami pengayaan konsepsional dari berbagai bidang kajianAy. Peningkatan masyarakat telah mendesak pemerintah untuk mampu menunjukkan akuntabilitas publik, antara lain dengan menyajikan pelayanan yang terbuka dan bertanggung Kepercayaan dan kedekatan dengan pelanggan dibangun melalui pelayanan yang mampu memenuhi kebutuhan mereka, mendorong dunia usaha untuk terus bersaing meningkatkan mutu Kepercayaan pelanggan dilihat sebagai faktor produksi utama krusial dalam menghadapi dinamika kebutuhan yang terus berkembang, sehingga produk baru pun dirancang untuk mengantisipasi perubahan tersebut. Pelayanan dibedakan menjadi eksternal dan internal, serta mencakup seluruh proses sebelum, saat. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 dan sesudah interaksi langsung dengan Pengembangan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pelayanan utama, dilanjutkan dengan pelayanan pendukung, dan terakhir pelayanan tambahan Prinsip Pelayanan Prima Menurut Sutopo dan Sugiyanti . Aukata prima memiliki arti harfiah yang terbaik. Pelayanan prima diartikan sebagai pelayanan yang terbaik, yang dapat diberikan oleh pemerintah kepada masyarakatAy. Ukuran terbaik ini sangat relatif, dan biasanya dikaitkan dengan Standar Pelayanan Prima (SPP). Sutopo dan Sugiyanti . menyatakan sebagai patokan, pelayanan prima dibedakan atas 3 tingkatan: Pelayanan yang dianggap terbaik oleh lembagalembaga memiliki SPP. Batasan pengertian di atas adalah dari sisi kaca mata pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik. Pengertian pelayanan publik dari sudut pandang pemerintah berbeda dengan pandangan Bagi pemerintah, pelayanan terbaik adalah yang sesuai standar yang ditetapkan, namun bagi masyarakat, pelayanan terbaik adalah yang mampu memenuhi atau melebihi harapan mereka. Akibatnya, pelayanan yang dinilai baik oleh pemerintah belum tentu memuaskan masyarakat jika harapan mereka tidak Dalam dunia usaha, pelayanan menjadi kunci utama untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan, yang penting bagi kelangsungan usaha. Pengkajian dari pihak pemerintah awalnya menghasilkan pandang yang P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 masih bercirikan birokratik. Semakin kuatnya paksaan dari masyarakat, mendengarkan, dan belajar memahami aspirasi mereka. Saat ini, pemerintah sungguh menyadari bahwa tujuan akhir dari pelayanan adalah mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang persoalan mereka sendiri. Pelayanan adalah upaya untuk membantu menyiapkan, menyediakan, atau mengurusi keperluan orang lain. Pihak yang dilayani disebut pelanggan. Hardjosoekarto . 9: . menyatakan Auselain berupa barang-barang yang nyata . , layanan juga dapat berupa barang yang tak nyata . , seperti Layanan juga dapat berupa jasa, yaitu apabila pihak yang melayani perlu menggunakan keahlian atau mengurus keperluan dari pihak yang dilayaniAy. Sebagai contoh, layananlayanan yang diberikan oleh seorang teknisi, dosen, pengemudi, konsultan, pelawak, penyiar radio, jaringan telepon, dan sebagainya. Standar pelayanan berbentuk suatu dokumentasi berisi rincian teknis dari sebuah pelayanan. Menurut Purwanto dan Kusrini . , manfaat standar pelayanan ada dua. AuPertama, merupakan jaminan mutu bagi para pelanggan. Dari standar pelayanan ini pelanggan dapat mengetahui apa saja yang dapat diharapkan dari sebuah pelayanan, pelanggan setiap kali dapat menggugat lembaga pelayanan jika ternyata apa yang mereka peroleh kurang dari yang dicantumkan dalam standar pelayanan. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Kedua, merupakan ukuran baku mutu yang harus ditampilkan oleh para petugas pelayananAy. Menurut Purwanto dan Kusrini . Aupelayanan yang bermutu tinggi mampu mencerminkan prinsipprinsip pelayanan prima, yaitu: . mengutamakan pelanggan, . sistem yang efektif, . melayani dengan hati nurani, . perbaikan berkelanjutan, dan . memberdayakan pelangganAy. Bentukbentuk pelayanan oleh pemerintah kepada masyarakat berjumlah ribuan dan secara teknis berbeda satu sama lainnya. Dari sekian ribu ini yang sudah dapat dinilai sebagai pelayanan prima masih belum banyak. Sebuah pelayanan dinilai sebagai pelayanan prima jika disain dan prosedurnya mematuhi beberapa prinsip, merupakan sistem yang efektif, melayani dengan hati nurani, melakukan perbaikan yang berkelanjutan dan memberdayakan Pelaksanaan Pelayanan Prima Pembaharuan Desain Pelayanan Sutopo dan Sugiyanti . menyatakan Autitik awal dari siklus pembaharuan disainAy. Yang dimaksud pembaharuan disain tidak selalu harus menciptakan yang baru sama sekali. Pelayanan yang sudah ada secara berkala juga memerlukan pembaharuan agar semakin dapat memenuhi kebutuhan Menurut Sutopo dan Sugiyanti . Auproses pembaharuan disain pelayanan melibatkan beberapa langkah kegiatan: . menemukan roh pelayanan. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 menetapkan jenis pelayanan, . menghayati kegiatan pelanggan, serta . merancang proses pelayananAy. Pelayanan prima hanya akan berhenti sebagai anganangan saja, jika diterapkan secara nyata dalam penyelenggaraan sehari-hari pada setiap jenis pelayanan. Aplikasi pelayanan prima bukanlah hal yang mudah, karena . , penguasaan, dan konsistensi tindakan yang sangat tinggi. Sosialisasi Dan Koordinasi Koordinasi adalah salah satu bentuk karakteristik khusus. Menurut Kadarmo. Suganda Supono Aykarakteristiknya antara lain harus adanya integrasi serta sinkronisasi atau adanya keterpaduan, keharmonisan, serta arah yang samaAy. Pentingnya koordinasi ini agar organisasi dapat menciptakan efektifitas dan efisiensi. Selanjutnya, dikatakan oleh Kadarmo. Suganda dan Supono . alat koordinasi yang dapat digunakan, yaitu: AyKomunikasi. Organisasi . Operating Rencana bersama. Desisi . manajer puncak. Instruksi. Norma kebijakan dan peraturan. Asas-asas organisasi dan manajemen. Strategi, dan Ideologi . ilsafat Pancasil. Ay. Dengan berpedoman pada ketentuan tersebut. Kadarmo. Suganda dan Supono . menyatakan koordinasi dalam suatu organisasi dimaksudkan agar organisasi dapat : Membangkitkan kesadaran pada setiap orang dan setiap manajer bahwa kedudukan, fungsi dan pekerjaannya berkaitan dengan kedudukan, fungsi, dan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 pekerjaan pihak lainnya, sehingga merasa pekerjaannya tidak lepas dari yang lain. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut MaAomoeri . koordinasi sangat penting dalam organisasi untuk mencapai tujuan yaitu: Memastikan adanya kesatuan gerak dalam organisasi. Saling membantu antar pejabat/unit. Menjamin kesatuan kebijaksanaan untuk hal-hal Menghindarkan kecenderungan merasa Aupaling pentingAy dalam organisasi. Memelihara dan diantara para pelaksana, sehingga dapat masing-masing, memelihara dan mengembangkan saling memenuhi, sehingga kontak atas dasar kebijaksanaan dan saling membantu antara pihak-pihak yang tugasnya saling berkaitan, menumbuhkan sikap para pelaksana untuk mematuhi peraturan yang mengatur hubungan kerja antar Berdasarkan Kadarmo. Suganda dan Supono . lebih rinci dapat diuraikan bahwa koordinasi dan hubungan kerja mempunyai tujuantujuan untuk : Terwujud keterpaduan dan meningkatkan kerjasama antara atasan dan bawahan, dan antar sesama anggota Bersikap tanggap terhadap setiap informasi yang diterima dan menolak berbagai masalah yang dihadapi. Rancangan proses pelayanan yang sudah disusun perlu disosialisasikan kepada stakeholders, yaitu pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan mati hidupnya pelayanan kita. Langkah P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 sosialisasi sengaja dilakukan sebelum rancangan menjadi lebih matang sebagai sebuah prosedur pelayanan yang baku. Pendekatan seperti ini memang sengaja dipilih agar masih terbuka peluang lebarlebar bagi para stakeholder untuk dapat ikut serta memperkaya pelayanan kita dengan aspirasi dan keberdayaan mereka. Petugas pelaksana pelayanan dapat berasal dari beberapa unit yang berbeda dalam organisasi. Rancangan disain pelayanan perlu disosialisasikan kepada para stakeholder, yaitu pihak-pihak yang berkepentingan dengan mati-hidupnya pelayanan kita. Mulai dari para petugas, atasan, direksi, tenaga fungsional, organisasi profesi, masayarakat umum, asosiasi dunia usaha, sektor-sektor Sosialisasi dimaksudkan untuk menyempurnakan rancangan disain pelayanan melalui kritik dan aspirasi. Sosialisasi juga dapat menghasilkan sumberdaya tambahan bagi pelaksanaan pelayanan. Selain sosialisasi, rancangan disain pelayanan juga perlu dikoordinasikan dengan unit-unit lain yang terlibat dalam pelaksanaannya nanti. Koordinasi dilakukan dengan cara dialog agar diperoleh komitmen yang murni. Hasil koordinasi berupa kecepatan pasokan dan kecepatan layanan. Standar Pelayanan Sutopo dan Sugiyanti . Austandar merupakan dokumentasi resmi yang berisi rincian teknis dari sebuah sistem pelayanAy. Standar pelayanan berguna sebagai pedoman kerja dari batasan mutu pelayanan yang harus dipenuhi oleh para Sedangkan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 berguna sebagai jaminan mutu pelayanan Menurut Sutopo dan Sugiyanti . 8: . Austandar pelayanan umumnya memuat hal-hal seperti berikut: Visi dan Misi Pelayanan. Jenis Pelayanan Spesifikasi Pelanggan. Prosedur Pelayanan. Pengawasan dan Pengendalian Mutu. Lampiran yang memuat Denah Lokasi. Formulir. Hasil Kesepakatan, dan sebagainyaAy. Menurut Sutopo dan Sugiyanti . , terdapat beberapa kesamaan standar pelayanan yang sering dijumpai di berbagai bidang kajian, yaitu: Proses pelayanan dilaksanakan sesuai prosedur pelayanan yang standar. Petugas pelayanan memiliki kompetensi yang Pelaksanaan prasarana yang memadai. Pelayanan dilaksanakan dengan cara-cara yang tidak Pelaksanaan pelayanan dapat memuaskan Pelaksanaan pelayanan dapat Pelaksanaan pelayanan mendatangkan keuntungan bagi lembaga penyedia Evaluasi Pelayanan Menurut Dunn . 8: . Auistilah berhubungan di mana masing-masing menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan Secara umum istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran . , pemberian angka . , dan penilaian . yaitu kata-kata yang P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilainyaAy. Dalam arti yang lebih spesifik evaluasi berkenaan dengan produksi Konsep dasar evaluasi didasarkan pada klasifikasi responsibilitas manajerial pada tiap tingkatan dalam organisasi yang bertujuan untuk pelaksanaan kegiatan pada tiap bagian. AuKonsep inilah yang membedakan adanya kegiatankegiatan yang terkendali . ontrollable activitie. dan kegiatan-kegiatan yang tidak terkendali . ncontrol-lable activitie. Ay. (Pusdiklatwas BPKP, 2020:. Evaluasi suatu proyek atau kegiatan pada dasarnya sistematis terhadap masa lampau yang akan digunakan untuk meramalkan, memperhitungkan dan mengendalikan hari depan secara lebih baik. Berdasarkan pelaksanaannya terdapat dua macam evaluasi (Dipohusodo, 2016: . , yaitu Auevaluasi summatif yang dilakukan setelah kegiatan berakhir dan evaluasi kegiatan/proyek berjalanAy. Evaluasi summatif bermanfaat untuk digunakan merumuskan kebijaksanaan dan perencanaan kegiatan/proyek-proyek serupa lainnya di masa mendatang. Evaluasi formatif digunakan untuk keperluan penyesuaian dan perencanaan ulang atas kegiatan/proyek yang sedang Perencanaan evaluasi harus sudah dipertimbangkan pada saat menyusun daftar kegiatan yang akan dilaksanakan dan paling lambat disiapkan pada tahap-tahap awal pelaksanaan. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Perlu dicatat bahwa setiap proyek pada dasarnya memiliki kerangka logis, baik yang terdokumentasi maupun tidak, karena setiap proyek pasti dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Jika evaluasi proyek harus dilakukan tanpa pendukung, maka perencanaannya harus melibatkan para perencana, pelaksana, dan pengawas proyek secara langsung. Jika hasil dan langkah sebelumnya belum mendorong perbaikan desain pelayanan, maka evaluasi perlu dilakukan untuk mengukur dan menilai sejauh mana masyarakat dan memenuhi harapan Evaluasi ini dapat dilakukan menggunakan Service Quality Gap Model (SQGM), sistematis mengidentifikasi kelemahan dalam siklus pengembangan pelayanan METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Informan adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai focus Informan dipilih dengan teknik purposive. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Wawancara. Observasi dan Studi Dokumentasi. Analisis digunakan adalah analisis kualitatif. Metode kualitatif menurut Bogdan dan Taylor . alam Moleong, 2019: . Aysebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamatiAy. Penelitian ini P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 penulis lakukan pada Puskesmas Sungai Durian Kecamatan Sintang. Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan pertimbangan praktis dan pertimbangan metodologis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan. Oleh karena itu puskesmas secara administratif merupakan bertanggung jawab baik teknis maupun administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan. Adapun AuMelaksanakan pelayanan, pembinaan dan pengembangan kesehatan secara paripurna kepada masyarakat di wilayah kerjanyaAy. Sedangkan fungsi pokok puskesmas yaitu : Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Konsep dan Prinsip Pelayanan Prima di Puskesmas Konsep Pelayanan Prima Pemerintah dinilai akuntabel apabila sanggup memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat terbuka, dan bertanggungjawab. Proses pengembangan setiap bentuk pelayanan kesehatan harus diawali dengan perumusan visi dan misi yang tepat. Sebuah pelayanan tidak akan pernah menjadi pelayanan prima jika tidak akuntabel, yaitu terbuka dan bertanggung jawab. Khusus untuk menajemen pelayanan kesehatan, mengenalkan kepada kita budaya pelayanan, bertitik tolak pada norma-norma: Fokus kepada masyarakat atau masyarakat/pasien, mengetahui kebutuhannya, mengembangkan proses pelayanan yang sesuai dengan FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 kebutuhan masyarakat/pasien. Melibatkan semua orang : mutu pelayanan adalah tanggung jawab semua warga organisasi. Pemimpin harus mendorong dan mendukung perbaikan oleh siapa saja. Warga organisasi perlu diberi kemerdekaan untuk memperbaiki mutu pelayanan, kapan saja. Memenuhi standar: menyusun standar pelayanan, mengukur penyimpangan, dan memperbaiki Perbaikan berkesinambungan : mempercepat siklus pekerjaan, menerima perkembangan kebutuhan masyarakat/pasien. Semua layanan umum diharapkan dapat mengandung unsur-unsur : Kesederhanaan : pelayanan umum harus mudah, cepat, lancar, tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan. Kejelasan dan kepastian: dalam hal prosedur pelayanan, persyaratan pelayanan, unit dan pejabat yang bertanggung jawab, hak dan kewajiban petugas maupun masyarakat/pasien, menangani keluhan. Kemanan: proses dan hasil pelayanan harus aman dan nyaman, serta memberikan kepastian hukum. Keterbukaan : segala sesuatu tentang proses pelayanan harus masyarakat, diminta ataupun tidak diminta. Efisien: tidak perlu terjadi duplikasi Ekonomis: biaya pelayanan mempertimbangkan nilai layanan, daya beli masyarakat, dan peraturan perundangan lainnya. Keadilan: pelayanan harus merata dalam hal jangkauan dan pemanfaatannya. Ketepatan waktu: tidak perlu berlama-lama. Prinsip Pelayanan Prima Pelayanan publik adalah pelayanan terbaik yang dapat diberikan pemerintah, dan sesuai dengan harapan masyarakat. Sedangkan pelayanan prima adalah pelayanan publik yang sesuai, atau bahkan dapat melampaui standar Standar P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 dokumentasi yang memuat semua rincian teknis dari sebuah pelayanan. Standar ini memuat antara lain janji pelayanan, yaitu spesifikasi layanan yang pasti akan didapatkan oleh masyarakat/pasien. Prinsip pelayanan prima di Puskesmas adalah mengutamakan masyarakat/pasien, merupakan sistem yang efektif, melayani dengan hati nurani, melakukan perbaikan yang berkelanjutan dan masyarakat/pasien. Masyarakat/pasien pada dasarnya adalah Tanpa masyarakat/pasien tidak akan pernah ada Mereka memiliki kekuatan untuk menghentikan atau terus menghidupkan Prosedur pelayanan harus disusun demi masyarakat/pasien, bukan untuk memperlancar pekerjaan petugas sendiri. Mengapa harus ada loket yang terpisah-pisah untuk pendaftaran pasien, kasir, laboratorium, apotek, dan kamar periksa dokter? Hal semacam ini terjadi mungkin karena memang masih belum cakap untuk menggalang koordinasi dan integrasi teman-teman masyarakat/pasien yang ternyata harus Pelayanan Puskesmas dilihat sebagai sebuah sistem, yaitu tatanan yang memadukan hasil-hasl kerja dan berbagai unit dalam organisasi kita. Perpaduan ini harus terlihat sebagai sebuah proses pelayanan yang berlangsung dengan tertib dan lancar di mata para masyarakat/pasien. Jika masyarakat/pasien bahkan tidak pernah merasakan bahwa mereka sebenarnya telah berhadapan dengan beberapa unit yang Dari segi disain pengembannya, setiap pelayanan selayakya memiliki prosedur yang memungkinkan perpaduan hasil kerja ini dapat mencapai batas maksimum. Sebaik apapun disain dan prosedur sebuah pelayanan, akhirnya tetap para petugas pelayanan yang harus berhadapan muka secara FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 langsung dengan para masyarakat/pasien. Saat-saat terjadinya transaksi antar manusia seperti ini sangat berharga. Penilaian masyarakat/pasien terhadap mutu sebuah layanan sebagian besar terjadi ketika mereka bertemu muka langsung dengan petugas Meskipun sarana dan prasarana pelayanan sering dijadikan ukuran mutu oleh para masyarakat/pasien, namun ukuran utama penilaian tetap sikap dan perilaku pelayanan yang ditampilkan oleh para petugas. Sikap dan perilaku yang baik oleh petugas sering dapat menutup kekurangan dalam hal sarana dan Dalam masyarakat/pasien, yang utama adalah keaslian sikap dan perilaku sesuai dengan hati Perilaku yang dibuat-buat, atau berlebihan sangat mudah dikenali oleh masyarakat/pasien memperburuk penilaian mereka. Keaslian perilaku hanya bisa muncul pada pribadi yang sudah matang, pribadi yang sudah menghayati bahwa kebahagiaan hidup hanya dapat diperoleh melalui pengabdian dan pelayanan. Masyarakat/pasien pada dasarnya juga belajar mengenali kebutuhan dirinya dari proses Semakin baik mutu pelayanan akan masyarakat/pasien semakin sulit untuk dipuaskan, karena tuntutannya juga semakin tinggi dan kebutuhannya semakin meluas serta beragam. Memberdayakan masyarakat/pasien berarti menawarkan jenis-jenis layanan yang dapat digunakan sebagai sumber daya atau perangkat tambahan oleh masyarakat/pasien untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sehari-hari. Pelaksanaan Pelayanan Prima di Puskesmas Pembaharuan Desain Pelayanan Proses pembaharuan desain pelayanan melibatkan beberapa langkah kegiatan yaitu menetapkan jenis pelayanan, menghayati P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 kegiatan masyarakat/pasien serta merancang proses pelayanan. kegiatan pelayanan kita lakukan bukan hanya sebagai tugas pekerjaan. kita melayani karena menghayati nilai bahwa pelayanan merupakan kesempatan terbaik keberhargaan diri kita sendiri di antara sesama Salah satu kegiatan dalam pembaharuan disain pelayanan menetapkan jenis-jenis Pelayanan yang akan masyarakat/pasien. Penetapan jenis-jenis Pelayanan yang harus diselenggarakan dapat didasarkan pada uraian Tugas Pokok dan Fungsi dari Unit Langkah selanjutnya dalam pembaharuan desain pelayanan adalah belajar menghayati kegiatan masyarakat/pasien. Untuk setiap jenis pelayanan yang sudah ditetapkan kita masyarakat/pasien. Dengan daur ini kita secara kreatif mencoba memetakan semua kegiatan masyarakat/pasien ketika dilayani. Kreativitas pada tahap ini sangat berpengaruh terhadap keseluruhan disain dari sebuah proses Hal ini adalah langkah penting untuk menciptakan sebuah pelayanan yang bermutu tinggi sebagai pencerminan dari prinsip mengutamakan masyarakat/pasien, sehingga diperlukan kejelasan bentuk layanan dan baku mutu di Puskesmas. Dalam penetapan kegiatan, unit pelaksana, dan sikap pelayanan agar bentuk dan mutu pelayanan dapat benar-benar menjadi kenyataan, dapat dilihat pada pelayanan kunjungan pasien, jenis kegiatan, unit pelaksana, dan sikap pelayanan. Menetapkan prasarana, dan sarana yang dibutuhkan untuk dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pelayanan di atas serta menetapkan alur kegiatan pelayanan di Puskesmas. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Sosialisasi Dan Koordinasi Para pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di puskesmas bisa sangat berbeda dengan pelayanan yang lain. Secara umum, komposisi para pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di puskesmas biasanya terdiri atas : Seluruh Karyawan yang bertugas pada Puskesmas bersangkutan. Mereka yang secara nyata paling mengetahui kelebihan dan kekurangan dari Unit kita, sehingga sebenarnya mereka inilah yang berhak memutuskan apakah Rancangan Pelayanan kita itu mungkin untuk dilaksanakan atau Atasan Langsung yang bertugas membina Puskesmas bersangkutan. Puskesmas biasanya dibina oleh Kepala Bidang Pelayanan Medik. Atasan memiliki tugas untuk menjaga keselarasan Pelayanan kita dengan Kebijakan Manajerial yang telah ditetapkan oleh Para Tenaga Fungsional yang Pelaksanaan Pelayanan Puskesmas biasanya melibatkan Dokter. Apoteker. Laboran, dan Perawat. Mereka adalah Tenaga Pelaksana Teknis, yang akan langsung bertanggungjawab dalam Pelaksanaan Mutu Teknis Pelayanan kita. Masyarakat Masyarakat/pasien, biasanya dapat diwakili oleh Pemerintah Daerah. DPRD. Partai Politik, atau Organisasi Sosial tertentu seperti Perkumpulan Jantung Sehat. Lion Club. Rotary Club, dan Mereka umumnya sangat antusias untuk dilibatkan secara langsung dalam Pengembangan Pelayanan. Organisasi Profesi yang langsung maupun tidak langsung berkepentingan dengan kelangsungan hidup Pelayanan kita. Puskesmas tentuya memiliki arti tersendiri bagi Ikatan Dokter Indonesia. Ikatan Bidan Indonesia. Persatuan Perawat Nasional Indonesia, dan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Organisasi Profesi dapat juga kita perankan sebagai Sumber Pengetahuan dan Teknologi yang diperlukan untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Asosiasi Dunia Usaha. Gabungan Pengusaha Farmasi tentu sangat berkepentingan dengan kelangsungan hidup Poliklinik, karena merupakan Outlet Produk Obat-Obatan yang cukup Potensial. Sektor-Sektor lain dalam Pemerintahan. Puskesmas tentunya sangat penting bagi Sektor Pendidikan, yaitu sebagai Lahan Praktek bagi Siswa Perawat. Siswa Bidan Mahasiswa Kedokteran. Siswa Pekerja Sosial, dll. Teknik sosialisasi rancangan proses pelayanan kepada para pihak yang terlibat tersebut di atas, sangat beraneka ragam tergantung siapa yang dihadapi. Pada umumnya teknik interaksi tatap muka masih merupakan teknik paling efektif. Teknik ini dapat berupa presentasi, seminar, lokakarya, sarasehan, dan lain semacamnya. Dalam melakukan tatap muka ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan pertama, rancangan proses pelayanan perlu dikemas secara khusus sesuai dengan kebutuhan para pihak yang dihadapi. Kedua, sikap apresiatif terhadap stakeholder. Mereka cenderung menggunakan forum tatap muka ini sebagai kesempatan untuk menyatakan kritik dan menyimpang jauh dari topik pembicaraan. Ketiga, nyatakan dengan tegas dan jelas peran dan fungsi para pihak dalam pengembangan Koordinasi sangat mudah diucapkan, tetapi pelaksanaannya sangat sukar. Kesulitan melakukan koordinasi sebenarnya berpangkal pada tiadanya perangkat yang memadai, dan lemahnya komitmen di antara pihak-pihak yang terlibat. Pelaksana pelayanan dapat terdiri atas beberapa unit dalam suatu Oleh karena itu, koordinasi merupakan keharusan dalam operasionalisasi pelayanan prima. Mengenali Unit Pemasok dan Unit Masyarakat/pasien, berdasarkan Rancangan Proses Pelayanan Di Puskesmas. Mengundang unit-unit pemasok berdialog bersama-sama dalam rangka menggalang FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Format pertemuannya sebaiknya berupa dialog terbuka, karena biasanya lebih memungkinkan tumbuhnya komitmen yang Hindari penggunaan kekuasaan dan kewenangan formal. Dialog diarahkan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan kesepakatan dengan unit pemasok. Dengan mengikuti langkah di atas niscaya akan dapat terbina Koordinasi yang Tertib dan Lancar di antara Unit-Unit yang terlibat dalam Kegiatan Pelayanan. Standar pelayanan Standar pelayanan umumnya memuat halhal seperti berikut: visi dan misi pelayanan, jenis pelayanan yang ditawarkan, spesifikasi masyarakat/pasien, pengawasan dan pengendalian mutu, lampiran yang memuat denah lokasi, formulir, hasil kesepakatan, dll. Pernyataan visi dan misi dalam standar pelayanan dimaksudkan untuk menunjukkan hakekat pelayanan yang menjiwai semua aspek dalam tatanan Adapun visi dan misi pelayanan pada puskesmas sekadau hilir adalah: Visi pelayanan : menjadikan hidup anda lebih Misi pelayanan : pelayanan yang murah, bersahabat, dan tepat guna. Bagi petugas pelayanan, pernyataan visi kebanggaan dan semangat kejuangan mereka Kegiatan dilaksanakan bukan hanya karena tugas pekerjaan apa saja, melainkan ada sesuatu yang sangat bermakna bagi martabat mereka Sedangkan pernyataan misi diharapkan dapat berperan sebagai koridor sejauh manakah mereka dapat melakukan kreativitas dan inovasi. Bagi para masyarakat/pasien, mencerminkan ukuran normatif sejauh manakah pelayanan itu akan membela Sedangkan pernyataan misi masyarakat/pasien dapat P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 mengetahui ciri-ciri pelayanan yang akan Jenis-jenis pelayanan yang akan disajikan masyarakat/pasien dinyatakan secara eksplisit dan rinci, meliputi pelayanan utama, pendukung, dan tambahan. Jika terdapat perbedaan jenis pelayanan eksternal dan pelayanan internal juga harus dinyatakan secara tegas. Sebuah proses pelayanan tentu tidak ditujukan untuk semua jenis masyarakat/pasien, tetapi sengaja dirancang secara khusus untuk kelompok masyarakat/pasien tertentu. Prosedur pelayanan merupakan bagian yang paling penting dari standar pelayanan. Penulisannya harus sangat rinci, dan biasanya meliputi hal-hal sebagai berikut: diagram alur kegiatan masyarakat/pasien serta prosedur persiapan pelayanan, yaitu hal-hal rutin apa saja yang perlu dilakukan petugas sebelum memulai pelayanannya sehari-hari bagi masyarakat/pasien. Untuk keperluan ini, hasilhasil kesepakatan koordinasi antar unit pelaksana dapat dijadikan bahan acuan. Prosedur pelayanan inti, yaitu melayani kegiatan-kegiatan diagram alur pelayanan seperti telah dirancang di bagian depan. Prosedur semacam ini perlu disusun untuk masyarakat/pasien. Prosedur pelayana harus cukup rinci, dan biasanya memuat beberapa hal penting: berkas/persyaratan yang harus dilengkapi masyarakat/pasien, lokasi tempat penyelenggaraan pelayanan, petugas yang berkas/bukti pelayanan yang harus diterima masyarakat/pasien, rincian tarif pelayanan, dan tata cara pembayaran, waktu/hari pelayanan, dan lain semacamnya. Prosedur penutupan pelayanan, yaitu hal-hal rutin apa saja yang perlu dilakukan petugas dalam mengakhiri tugas pelayanannya sehari-hari. Dalam standar pelayanan harus secara tegas dinyatakan ukuran mutu pelayanan yang FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 akan diperoleh para masyarakat/pasien, dan mengendalikan mutu pelayanan tersebut. Pernyataan mutu pelayanan yang akan diperoleh para masyarakat/pasien. Pernyataan ini perlu disampaikan secara terbuka kepada para masyarakat/pasien melalui kemasankemasan khusus seperti brosur, iklan, siaran pers, dll. Pernyataan mutu pelayanan dapat terdiri atas beberapa bagian, antara lain pernyataan mutu layanan, yaitu spesifikasi layanan-layanan yang akan diterima oleh masyarakat/pasien dan baku Mutu Layanan Bagi Masyarakat/pasien Di Puskesmas. Pernyataan Perilaku Pelayanan yang akan ditampilkan oleh Petugas Pelayanan (Dokter dan perawat. Satpam. Petugas loket, petugas keuangan, petugas Ambulans, pelayanan Pernyataan mutu sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelayanan berupa Baku Mutu Sarana/Prasarana Pelayanan Puskesmas. Pengawasan mutu pelayanan diartikan sebagai semua upaya untuk memantau dan mengukur mutu pelayanan. Pengawasan mutu terdiri atas dua bagian diantaranya adalah pengawasan ekternal oleh masyarakat/pasien untuk memantau dan mengukur mutu pelayanan apakah sudah sesuai dengan harapan masyarakat/pasien. Untuk keperluan ini, dapat disediakan kemudahan-kemudahan antara lain : loket khusus untuk menampung keluhan dari masyarakat/pasien secara langsung, kotak saran, saluran telepon khusus, sarasehan, public opinion. Tata cara pengawasan eksternal ini juga harus diwujudkan menjadi prosedur tetap. Prosedur Tetap menanggapi keluhan masyarakat/pasien petugas loket khusus di Puskesmas diantaranya: Menerima Masyarakat/pasien dengan senyum, dan ucapan mempersilahkan. Menyiapkan Blanko Keluhan, mencatat hari, tanggal, dan jam saat itu. Mencatat nama, alamat, dan nomor telepon Masyarakat/pasien. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Mencatat secara rinci keluhan yang dirasakan masyarakat/pasien, dengan sikap yang empati. Segera menghubungi bagian-bagian lain yang Jika tidak mungkin memberikan tanggapan secara langsung harus segera menyampaikan kepada Masyarakat/pasien bahwa diperlukan waktu. Pengawasan internal oleh para petugas pelayanan terhadap ketertiban dan kelancaran kegiatan pelayanan menurut prosedur yang telah ditetapkan. Apabila langkah koordinasi dilakukan dengan baik, dan prosedur pelayanan ditulis dengan cermat, maka tata cara pengawasan internal ini tentu sudah menajdi bagian integral dari prosedur tetap Pengendalian mutu pelayanan diartikan sebagai prosedur untuk mengambil keputusan dan tindakan langsung yang dirasa perlu jika terjadi pelaksanaan pelayanan yang menyimpang dari prosedur pelayanan yang Prosedur pengendalian ini sangat penting, dan harus ditulis dengan sangat rinci. Evaluasi Pelayanan Teknik Evaluasi yang secara luas digunakan adalah Peta Kesenjangan Mutu Pelayanan. Teknik berdasarkan atas sebuah model. Teknik evaluasi peta kesenjangan mutu pelayanan diterapkan dengan mengikuti langkah-langkah seperti berikut : Pengumpulan data dari masyarakat/pasien dengan cara survei untuk mengetahui harapan masyarakat/pasien, dan penilaiannya terhadap mutu pelayanan yang selama ini telah mereka terima. Perlu diketahui bahwa harapan masyarakat/pasien sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pribadinya, penilaiannya terhadap mutu pelayanan setelah saling berkomunikasi dengan masyarakat lain, pengalaman pribadinya sebagai masyarakat di masa-masa yang lalu dan janji-janji pelayanan yang disampaikan oleh petugas pemasaran. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Faktor-faktor ini perlu digali dengan instrumen survei yang memadai. Pengumpulan data dari manajer pelayanan dengan cara survei atau wawancara untuk mengetahui pemahanan mereka terhadap masyarakat/pasien. Pengumpulan data dari para petugas pelayanan dengan cara survei untuk mengetahui tingkat kepatuhan mereka terhadap standar dan pelayanan dalam melaksanakan pelayanan sehari-hari. Pengumpulan data dari para petugas pemasaran dengan cara survei dan wawawancara untuk mengetahui tingkat dukungan mereka terhadap pelaksanaan Mengukur tingkat kepuasan masyarakat/pasien membandingkan harapan masyarakat/pasien terhadap penilaiannya atas mutu pelayanan yang telah mereka terima. Ukuran kepuasan masyarakat/pasien adalah apabila mutu pelayanan sudah sesuai atau melebihi harapan Meskipun jarang terjadi, hasil analisis masyarakat/pasien telah merasa puas dengan mutu pelayanan yang mereka terima. Jika hal semacam ini terjadi, maka kita melanjutkan kelangkah pembaharuan disain lagi namun dengan titik perhatian untuk dapat menemukan disain yang lebih antisipatif perkembangan kebutuhan masyarakat/pasien di masa datang. Jika ternyata kepuasan masyarakat/pasien masih belum tercapai, maka kita dapat melanjutkan dengan langkahlangkah berikut ini untuk menentukan titiktitik kelemahan yang lebih mendasar. Mengukur tingkat pemahaman manajer masyarakat/pasien. Jika ternyata tingkat pemahaman para manajer masih rendah, maka pembaharuan disain lagi agar lebih dapat masyarakat/pasien. Sebaliknya, jika para manajer sudah dapat memahami harapan masyarakat/pasien, maka P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 kita dapat melanjutkan dengan meneliti ulang konsistensi rancangan pelayanan yang pernah kita susun sebelumnya. Untuk keperluan ini pertanyaan di bawah ini : Apakah visi dan misi unit kita sudah selaras dengan visi dan misi organisasai? Apakah visi dan misi unit kita sudah dihayati oleh para petugas pelayanan? Apakah daur kegiatan masyarakat/pasien masyarakat/pasien? Apakah penentuan betukbentuk layanan dan baku mutunya sudah sesuai dengan harapan masyarakat/pasien? Apakah sikap pelayanan kita kurang disenangi masyarakat/pasien? Apakah sarana dan prasarana pelayanan kita kurang sesuai dengan harapan masyarakat/pasien? Apakah alur kegiatan masyarakat/pasien yang telah kita masyarakat/pasien merasa kurang nyaman? Apakah standar pelayanan kita sudah ditulis dengan cukup cermat, rapi, dan sesuai dengan rancangan proses pelayanannya. Dengan menelusuri pertanyan-pertanyaan di atas niscaya akan dapat ditemukan titik-titik lemah dalam disain pelayanan kita, dan dapat disempurnakan seperlunya. Namun jika uji konsistensi ini ternyata memberikan hasil yang baik, maka kita dapat melanjutkan dengan langkah menilai tingkat kepatuhan petugas pelayanan terhadap standar pelayanan dalam melaksanakan kegiatan pelayanannya seharihari. Jika ternyata memang mereka terlihat masih kurang patuh, maka perlu segera dilakukan tindakan khusus, yaitu dengan Lakukan wawancara dari hati ke hati terhadap mereka yang terlihat masih belum patuh pada standar Harus mencoba memahami sebabsebab ketidakpatuhan mereka. Jika mereka ternyata memang kurang menguasai standar pelayanan, maka segera dilakukan pelatihan Jika ternayata mereka merasa kurang nyaman dengan teknologi, peralatan, sarana FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 atau prasarana yang digunakan dalam pelayanan maka segera temukan jalan keluarnya yang memadai. Jika ternyata mereka mengalami hambatan-hambatan psikologis untuk dapat bekerja dengan baik, maka segera berikan tindakan psikologis yang efektif. Hambatan psikologis yang umum dijumpai adalah depresi, sulit konsentrasi, tidak akur dengan teman sekerja, pasif-agresif, kurang motivasi, kurang percaya diri, penuh kecurigaan kepada orang lain, merasa tidak aman, merasa dikucilkan, emosinya tidak stabil, dan lain semacamnya. Tindakan psikologis dapat berupa pendampingan, konsultasi psikologis, atau psikoterapi. Kadang kala dijumpai petugas mengalami gangguan kepribadian yang menyebabkan mereka memang tidak dapat berfungsi efektif sebagai petugas pelayanan. Untuk petugas semacam ini harus segera digantikan dengan yang lain. Jika ternyata petugas menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap standar pelayanan, maka meneliti dampak kegiatan pemasaran terhadap pembentukan harapan masyarakat/pasien. Tanpa sengaja, kadang kala kegiatan pemasaran telah mengobral janji-janji yang berlebihan kepada para calon masyarakat/pasien kita. Penggunaan media atau teknik komunikasi yang kurang tepat juga dapat menimbulkan salah pengertian pada masyarakat/pasien, menimbulkan harapan yang berlebihan. Satu hal yang pasti, jika ternyata sama sekali tidak ada kegiatan pemasaran, maka harapan masyarakat/pasien akan terbentuk secara liar dan tentunya sangat sulit untuk dipenuhi. KESIMPULAN DAN SARAN Konsep dan Prinsip operasionalisasi Pelayanan Prima di Puskesmas adalah mengutamakan masyarakat, merupakan sistem efektif, melayani dengan hati nurani, melakukan perbaikan yang P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 masyarakat/pasien. Khusus pelayanan kesehatan di Puskesmas bertitik tolak pada norma-norma antara melibatkan semua orang, memenuhi standar, serta perbaikan. Pelayanan kesehatan di Puskesmas diharapkan unsur-unsur: Kesederhanaan. Kejelasan dan kepastian. Keamanan. Keterbukaan. Efisien. Ekonomis. Keadilan. Ketepatan waktu. Aplikasi Pelayanan Prima Puskesmas adalah pembaharuan disain pelayanan melalui beberapa langkah masyarakat/pasien proses pelayanan. Para pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di puskesmas biasanya terdiri atas: seluruh Karyawan Puskesmas, atasan Langsung yang bertugas membina Puskesmas. Tenaga Fungsional yang terlibat dalam Pelaksanaan Pelayanan, serta masyarakat. Sosialisasi rancangan proses pelayanan berupa presentasi, seminar, lokakarya, sarasehan, dan lain semacamnya. Kesulitan sebenarnya berpangkal pada tiadanya perangkat yang memadai, dan lemahnya komitmen di antara pihak-pihak yang Standar pelayanan umumnya memuat hal-hal seperti berikut: visi dan misi pelayanan, jenis pelayanan yang prosedur pelayanan, pengawasan dan pengendalian mutu, lampiran yang memuat denah lokasi, formulir, hasil kesepakatan, dan sebagainya. Teknik FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Evaluasi Kabupaten Sintang, yang digunakan Peta Kesenjangan Mutu Pelayanan, dengan mengikuti langkahlangkah masyarakat/pasien dengan cara survei masyarakat/pasien, dan penilaiannya terhadap mutu pelayanan yang selama ini telah mereka terima. Diharapkan Puskesmas menerapkan Model Proses Pelayanan Kesehatan secara utuh, terutama merumuskan tujuantujuan dan sasaran-sasaran sebagai panduan . dalam implementasi kebijakan pelayanan kesehatan yang Kegiatan pendaftaran pasien maupun pemeriksaan/diagnosa, dapat sehingga pendataan dan dilakukan secara optimal. Ketersediaan tenaga kesehatan dan tenaga administrasi maupun peralatan pada Puskesmas dapat Selain penyuluhan kesehatan juga diharapkan dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Dipohusodo, 2016. Evaluasi Proyek. Jakarta: Gunung Agung. Hardjosoekarto. Beberapa Perspektif Pelayanan Prima. Jakarta: Bisnis dan Birokrasi Kadarmo. Suganda dan Supono. Koordinasi dan Hubungan Kerja. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara RI. MaAomoeri. Hubungan Kerja dan Koordinasi. Bahan Diklat Adum. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara RI. Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja. Rosdakarya. Purwanto dan Kusrini. Excellent Services. Diklat Perjenjangan Manajer Madya. Jakarta: PT. Angkasa Pura II. Pusdiklat BPKP, 2020. Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta. SMERU. Pelayanan Kesehatan Dasar Era Otonomi Daerah. Jakarta:SMERU. Sutopo dan Sugiyanti. Pelayanan Prima. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara RI. DAFTAR PUSTAKA