BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial P-ISSN: 2685-6700 E-ISSN: 2685-6719 https://jurnal. id/index. php/biyan PENGEMBANGAN DESAIN PEMBERDAYAAN PEMULUNG DALAM PROGRAM PERTANIAN PERKOTAAN DI YAYASAN SWARA PEDULI INDONESIA JAKARTA ABSTRAK Putri Maisaroh Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia Pmaisaroh55@yahoo. Dede Kuswanda Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia dede_stks@yahoo. Yana Sundayani Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Indonesia Yana_sundayani@yahoo. Pemulung merupakan kelompok masyarakat perkotaan yang bekerja di sektor informal dan kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber daya serta layanan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan desain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan yang dilaksanakan oleh Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Desain ini dikembangkan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan partisipan yang terdiri dari pengurus yayasan, anggota kelompok tani, dan motivator ketahanan pangan yang didalamnya juga terdapat unsur dari organisasi lokal. Proses pengembangan desain dilakukan secara kolaboratif melalui tahapan perencanaan, aksi, observasi, dan refleksi bersama. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semi terstruktur. Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan studi pusaka atau literature review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pemberdayaan yang dikembangkan mampu meningkatkan konsistensi pemulung dalam menjalankan siklus pertanian perkotaan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan mendorong partisipasi aktif organisasi lokal sebagai agen perubahan. Desain akhir yang dihasilkan memuat penjadwalan kegiatan rutin, pembentukan kelompok edukasi serta strategi pendampingan berkelanjutan berbasis komunitas. KATA KUNCI: Pengembangan Desain. Pemberdayaan Pemulung. Motivator. Ketahanan Pangan. Pertanian Perkotaan PENDAHULUAN Masyarakat miskin perkotaan memiliki perbedaan pengalaman kemiskinan dengan penduduk miskin perdesaan. Mereka berada di dalam kondisi ketidakberdayaan yang kompleks dan membutuhkan upaya membangun kekuatan untuk bangkit dari kemiskinan (Hasanah & Komariah, 2. Masyarakat miskin perkotaan lebih sering mengalami keterisolasian dan perbedaan perlakuan dalam memperoleh atau memanfaatkan peluang berusaha sehingga umumnya mereka bekerja sebagai buruh di sektor informal yang bertempat tinggal di pemukiman yang tidak sehat dan rentan terhadap penggusuran (Suaib, 2. Mayoritas keluarga miskin yang bekerja di sektor informal seperti pedagang, buruh, tukang ojek, supir angkot dan pemulung (Purwastuty et al. , 2. Pemulung adalah kelompok masyarakat yang bekerja di sektor informal dengan aktivitas mengumpulkan dan memilah barang-barang bekas. Pekerjaan ini tidak membutuhkan persyaratan formal mapun keterampilan khusus, dan tidak memiliki kepastian penghasilan. Pemulung sudah menjadi bagian dari penduduk kota-kota besar yang termarjinalkan oleh pembangunan dan membutuhkan perhatian khusus seperti pemberdayaan (Amrullah, 2013. Yunus & Asyhari, 2. Masyarakat yang mencari jalan keluar dengan bekerja sebagai pemulung, membutuhkan programprogram pemberdayaan guna meningkatkan sosial ekonomi mereka (Fitrah et al. , 2. Pemulung sebagai tombak dari aktivitas mengumpulkan barang bekas di perkotaan harusnya mendapatkan porsi perhatian besar dalam pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan sehingga pemulung dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan ataupun kemampuan yang dimilikinya (Amrullah, 2013. Saputera et al. , 2. Sebaliknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa program berbasis komunitas yang tumbuh dari bawah . ottom-u. dan melibatkan partisipasi aktif warga cenderung lebih bertahan dan berkelanjutan (Afriansyah et al. , 2023. Endah, 2. Author correspondence email: pmaisaroh@yahoo. Available online at: https://jurnal. id/index. php/biyan Copyright . 2025 by BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Oleh karena itu, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada partisipasi, motivasi, serta dukungan sosial yang berkelanjutan dari komunitas lokal. Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta merupakan organisasi sosial yang bergerak dalam bidang rehabilitasi sosial, pendampingan komunitas marjinal, dan pemberdayaan kelompok miskin perkotaan, termasuk komunitas pemulung yang menjadi lokus dalam penelitian ini. Salah satu program unggulannya adalah Program Pertanian Perkotaan (Urban Farmin. bernama Swara Hijau Farm, yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi keluarga pemulung. Program ini menyasar sekitar 200 kepala keluarga di RT 07 RW 10 Kampung KUMIS (Kumuh dan Miski. , namun yang tergabung secara aktif dalam Kelompok Tani (Pokta. hanya berjumlah 20 orang. Ketimpangan ini menunjukkan rendahnya partisipasi dan konsistensi sasaran program, yang menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan program di yayasan. Selain itu, tantangan utama yang dihadapi yayasan saat ini adalah rendahnya konsistensi pemulung dalam menabung sampah dan merawat bibit tanaman. Pemulung yang terbiasa menerima bantuan langsung cenderung kesulitan mempertahankan motivasi untuk menjalankan program secara mandiri. Diperlukan strategi baru yang mampu menjawab permasalahan tersebut dengan melibatkan aktor lokal sebagai agen perubahan. Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman peneliti saat praktikum, muncul gagasan untuk mengembangkan desain pemberdayaan yang melibatkan Motivator Ketahanan Pangan (Moketa. dari unsur organisasi lokal. Moketan berperan sebagai pendamping yang memberi dukungan dan motivasi secara konsisten kepada pemulung agar tetap aktif dalam program. Pendekatan ini juga mendorong partisipasi organisasi lokal dalam pelaksanaan program, sehingga program tidak bergantung pada peran tunggal yayasan. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diidentifikasi tiga riset gap yang mendasari perlunya dilakukan penelitian ini. Kurangnya konsistensi pemulung dalam menjalankan program tabungan sampah dan perawatan bibit tanaman. Keterbatasan motivasi dan dukungan yang berkelanjutan bagi pemulung. Minimnya pelibatan organisasi lokal sebagai aktor pendukung dalam pemberdayaan. Ketiga riset gap ini menjadi dasar bagi peneliti untuk mengembangkan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan, dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang memungkinkan partisipasi aktif seluruh pihak dalam penyusunan dan pelaksanaan desain secara bersama-sama. Kebaruan dari penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti ini dapat ditinjau dari: . kerangka kerja dalam melakukan perubahan yang belum pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya baik yang berkaitan dengan pemberdayaan pemulung ataupun program pertanian . teknologi yang digunakan dalam mencapai perubahan yaitu dengan menghadirkan pelibatan organisasi dan . pendekatan konseptual yang digunakan peneliti yaitu lebih pada perspektif pekerjaan sosial dalam pelaksanaan pemberdayaan pemulung. Peneliti telah mengembangkan desain baru terkait pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan dengan melibatkan motivator ketahanan pangan . elanjutnya disebut moketa. sebagai sosok pendamping yang memberikan motivasi kepada pemulung dan kelompok tani . Desain tersebut adalah hasil rekayasa teknologi yang dirancang oleh peneliti bersama parrtisipan untuk menyelesaikan permasalahan dalam pemberdayaan yang diberikan kepada pemulung. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Penelitian ini menjadi terobosan baru dimana peneliti menyajikan desain rekayasa teknologi berupa desain pemberdayaan pemulung yang melibatkan partisipasi aktif dari organisasi lokal dalam pelaksanaan program pertanian perkotaan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan rancangan Participatory Action Research (PAR). PAR merupakan pendekatan kolaboratif yang memosisikan partisipan sebagai mitra aktif dalam proses penelitian. Pendekatan ini sangat relevan dalam praktik pekerjaan sosial karena memungkinkan terjadinya proses belajar bersama, refleksi kritis dan aksi perubahan yang berkelanjutan (Brydon-Miller et al. , 2020. Pujileksono et al. , 2. Secara operasional, penelitian ini diawali dari pengalaman praktikum peneliti di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, di mana ditemukan tantangan dalam keberlanjutan partisipasi pemulung dalam program pertanian perkotaan. Temuan awal tersebut menjadi dasar perencanaan desain awal pemberdayaan, yang kemudian diuji dan dikembangkan melalui keterlibatan langsung partisipan dalam proses PAR. Terdapat empat tahapan utama dalam siklus PAR yang digunakan dalam penelitian ini: Perencanaan . : Peneliti menyusun rancangan awal desain pemberdayaan berdasarkan hasil praktikum sebelumnya, kemudian mendiskusikannya dengan pengurus yayasan, poktan, dan calon motivator untuk menyepakati fokus intervensi. Tindakan . : Desain awal diimplementasikan melalui pelibatan motivator ketahanan pangan . yang berasal dari organisasi lokal seperti PKK, dasawisma, dan kader posyandu. Mereka menjalankan peran sebagai pendamping dalam kegiatan pertanian pemulung. Refleksi . : Seluruh pihak melakukan refleksi bersama melalui FGD dan diskusi individu untuk mengevaluasi efektivitas desain, menyusun perbaikan, dan merumuskan desain akhir pemberdayaan. Seluruh proses dilakukan secara partisipatif dan melibatkan peran aktif dari tiga kelompok utama: pengurus yayasan, anggota kelompok tani . dan motivator ketahanan pangan . Mereka berperan dalam 43 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Putri Maisaroh, et al. merumuskan ide, memberi masukan, menjalankan peran lapangan, serta mengevaluasi proses secara Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yang dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, focus group discussion (FGD), observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Sumber data primer berasal dari pengurus inti yayasan, anggota poktan, dan moketan. Sumber data sekunder berupa buku, jurnal, dokumen yayasan, serta referensi lain yang mendukung. Keabsahan data diuji dengan pendekatan empat kriteria: uji kredibilitas . , uji transferabilitas . , uji reliabilitas . , dan uji objektivitas . (Sugiyono, 2. Analisis data yang dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yaitu melalui proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Partisipan Penelitian Inisial Jenis Usia Nama Kelamin (Tahu. Laki-laki Laki-laki Perempuan Pendidikan Terakhir S-1 Kesejahteraan Sosial S-1 Psikologi SMP Pekerjaan Peran dalam Penelitian Wirausaha Ketua Yayasan Penggerak Sosial Staf Yayasan IRT (Suami Anggota Poktan Pemulun. Laki-laki STM Mesin Pemulung Anggota Poktan Perempuan S-1 Sekretaris IRT Moketan (Kader TP-PKK) Perempuan S-1 Guru PAUD Moketan (Kader Posyand. Perempuan SMA IRT Moketan (Kader Dasawism. Perempuan SMK Akuntansi Pedagang Moketan (Fasilitator PKBI) Partisipan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang, terdiri dari unsur pengurus yayasan, anggota kelompok tani . , dan motivator ketahanan pangan . Dua orang merupakan pengurus inti Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, satu orang anggota poktan yang berlatar belakang sebagai pemulung aktif, satu orang ibu rumah tangga anggota poktan yang suaminya sebagai pemulung aktif, dan empat orang lainnya merupakan motivator ketahanan pangan yang berasal dari organisasi lokal seperti TP-PKK. Posyandu. Dasawisma, dan PKBI. Penting untuk dicatat bahwa para moketan dalam penelitian ini sebelumnya berperan sebagai kader organisasi komunitas, namun dalam konteks penelitian mereka mengemban fungsi baru sebagai agen motivator ketahanan Rentang usia partisipan antara 31 hingga 50 tahun, dengan latar belakang pendidikan yang bervariasi, mulai dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi. Tugas dan kontribusi masing-masing partisipan berbeda-beda sesuai peran yang mereka emban dalam proses pengembangan desain pemberdayaan. Sementara jumlah pemulung yang menjadi partisipan langsung sebagai sumber data primer masih terbatas, hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu penelitian dan pendekatan PAR yang dilakukan secara bertahap. Fokus penelitian ini adalah pada penyusunan desain awal yang melibatkan representasi unsur pemulung sebagai bagian dari proses bersama, yang nantinya dapat diperluas dalam implementasi desain ke skala komunitas lebih luas. Identifikasi Desain Awal Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan Penelitian ini dilaksanakan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, dengan periode pelaksanaan utama dari 17 April hingga 9 Mei 2024. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari kegiatan praktikum AuProfil Manajemen Pengubahan KomunitasAy yang telah dilakukan pada tahun 2023 selama kurang lebih dua bulan. Pada tahap praktikum tersebut, peneliti telah melakukan identifikasi awal terhadap dinamika komunitas pemulung, tantangan dalam program pemberdayaan yang sedang berjalan, dan menyusun rancangan awal intervensi berbasis rekayasa teknologi. Desain awal yang dikembangkan oleh peneliti pada masa praktikum kemudian menjadi dasar dalam penelitian ini, yang bertujuan untuk menguji dan menyempurnakan desain pemberdayaan pemulung melalui pelibatan motivator ketahanan pangan . dari unsur organisasi lokal. Gagasan desain ini dilatarbelakangi oleh sejumlah kendala yang dihadapi Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, seperti rendahnya konsistensi pemulung dalam merawat tanaman dan berpartisipasi dalam kegiatan tabungan sampah, serta kurangnya pelibatan organisasi lokal sebagai mitra pemberdayaan. Dalam praktiknya, program pertanian perkotaan yang dijalankan yayasan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan dan potensi komunitas pemulung secara menyeluruh. Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi anggota kelompok tani . yang fluktuatif dan belum merata di seluruh komunitas pemulung. Selain itu, belum adanya mekanisme terstruktur untuk mempertahankan perubahan perilaku dan motivasi pemulung menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan ketahanan pangan keluarga secara mandiri. Mengacu pada pendekatan Participatory Action Research (PAR), desain pemberdayaan idealnya disusun bersama antara peneliti, komunitas pemulung sebagai kelompok sasaran, dan yayasan sebagai fasilitator. Oleh karena itu, pada tahap ini peneliti tidak hanya menawarkan desain awal, tetapi juga membuka ruang partisipasi bagi pemulung dan organisasi lokal untuk memberikan masukan, mengevaluasi realitas lapangan, serta bersama-sama BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | menyempurnakan rancangan intervensi yang lebih kontekstual. Proses ini menjadi langkah awal dalam siklus PAR yang bersifat reflektif, partisipatif dan kolaboratif. Analisis Kebutuhan Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung Identifikasi kebutuhan pengembangan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan focus group discussion (FGD) yang melibatkan pengurus yayasan, anggota kelompok tani, serta motivator ketahanan pangan. Proses ini bertujuan menggali keberhasilan dan tantangan program, serta merumuskan strategi penguatan desain pemberdayaan secara partisipatif dan reflektif sesuai pendekatan PAR. Program masih berjalan dengan melibatkan sekitar 200 pemulung, tetapi hanya 3 kelompok tani aktif . engan anggota sekitar 20 orang per kelompo. Ini menunjukkan partisipasi aktif baru mencakup 30% dari jumlah sasaran Data observasi lapangan menunjukkan frekuensi distribusi bibit sebanyak 2 kali dalam sebulan, namun hanya 20-30 orang yang rutin mengambil bibit secara mandiri di yayasan. Dari wawancara semi terstruktur, 3 dari 8 partisipan menyebutkan mereka merasa puas karena hasil panen bisa dikonsumsi langsung dan mengurangi pengeluaran dapur. Namun, hasil observasi menunjukkan hanya 6-7 rumah dari 3 titik lingkungan kelompok tani . di area RT 07 RW 10 yang masih mempertahankan instalasi tanamnya secara aktif, mencerminkan tantangan dalam keberlanjutan perubahan pola pikir. Partisipasi pemulung dalam program cenderung fluktuatif. Misalnya, pada sesi pertemuan tanggal 22 dan 25 April 2024, hanya 6 dari 40-50 orang yang diundang hadir. Anggota yang tinggal dekat dengan yayasan . arak <100 mete. menunjukkan kehadiran lebih tinggi dibandingkan yang tinggal >300 meter. Selama observasi 2 minggu setelah pelatihan, hampir 20 orang pemulung yang menjadi anggota bank sampah tercatat melakukan penukaran bibit atau perawatan tanaman di lahan mereka. Dalam FGD, para partisipan menyebutkan bahwa keberhasilan bertumpu pada tersedianya 3 jenis bibit utama . aby pokcoy, bayam, kangkun. dan dukungan dari 2 perusahaan CSR. Sementara itu, ancaman relokasi juga menjadi isu baru dalam FGD karena mayoritas lahan yang dipakai merupakan lahan garapan tanpa status kepemilikan yang Sementara itu, motivator ketahanan pangan . dalam konteks penelitian ini merujuk pada anggota masyarakat atau kader organisasi lokal . eperti kader TP-PKK, posyandu, dasawism. yang diberikan peran tambahan untuk mendorong pemulung agar tetap berpartisipasi dalam siklus pertanian. Meskipun berasal dari kader, mereka bukan bertugas sebagai pelaksana program kesehatan atau kegiatan rutin kader, melainkan sebagai agen perubahan yang mendampingi pemulung dalam aspek ketahanan pangan. Oleh karena itu, penyebutan peran mereka dalam penelitian lebih tepat sebagai AumoketanAy dibanding AukaderAy. Partisipasi pemulung dinilai bervariasi. Sebagian aktif mengikuti kegiatan, terutama mereka yang tinggal dekat yayasan atau tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, partisipasi ini cenderung menurun karena keterbatasan bibit, tuntutan ekonomi, atau media tanam yang tidak sesuai kebutuhan mereka. Program yang lebih responsif terhadap kondisi lapangan diperlukan agar dapat menjaga motivasi dan keterlibatan mereka. Faktor pendukung program antara lain: Ketersediaan bibit dan sarana pertanian. Sumber daya manusia internal yayasan yang aktif. Dukungan masyarakat dan lingkungan sekitar. Kemitraan dengan pemerintah dan lembaga swasta. Namun, terdapat tujuh faktor penghambat yang mengancam keberlanjutan program: Kualitas dan jenis bibit yang terbatas. Ketergantungan administrasi pada ketua yayasan. Keterbatasan jumlah pengurus dan tenaga lapangan. Penurunan motivasi kelompok tani. Minimnya pelibatan langsung komunitas pemulung dalam perumusan dan pengambilan keputusan. Ketergantungan masyarakat pada bantuan instan. Ancaman relokasi lahan tempat tinggal pemulung dan yayasan. Motivasi pemulung untuk bertani bersifat fluktuatif dan dipengaruhi pekerjaan, waktu luang, serta kepuasan pribadi saat panen. Sebaliknya, penurunan motivasi seringkali muncul karena kualitas bibit yang menurun dan minimnya pendampingan langsung. Hal ini mengindikasikan bahwa desain pemberdayaan harus memperhitungkan realitas kehidupan pemulung dan tidak hanya mengandalkan peran motivator atau moketan. Berdasarkan FGD yang dilakukan, diidentifikasi kebutuhan dan tantangan utama sebagai berikut: diperlukan pendamping lapangan yang tinggal dekat komunitas, strategi mempertahankan konsistensi menabung sampah dan menanam, upaya menjaga perubahan perilaku positif yang telah terbentuk, serta perluasan pelibatan pemulung dalam perencanaan dan pelaksanaan program, bukan hanya dalam pelatihan. Dengan demikian, desain pemberdayaan yang dikembangkan perlu memperkuat aspek keberlanjutan dari sisi komunitas, dengan pendekatan yang mengintegrasikan pemulung secara lebih langsung dan bermakna sebagai subjek aktif dalam transformasi sosial mereka sendiri. Penyusunan Rencana Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan Tahap selanjutnya dari penelitian ini adalah penyusunan rencana pengembangan desain yang dilakukan secara kolaboratif bersama partisipan. Penyusunan rencana ini merupakan tindak lanjut dari hasil identifikasi kebutuhan dan 45 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Putri Maisaroh, et al. tantangan yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya. Dalam konteks ini, desain yang dikembangan diberi nama AuDesain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian PerkotaanAy. Komponen penting yang disusun dalam perencanaan ini mencakup: nama desain, identifikasi kondisi objektif di lapangan, tujuan yang ingin dicapai, bentuk komitmen dari partisipan, dan kalender kegiatan impelementasi. Proses penyusunan dilakukan melalui sesi diskusi dan validasi bersama partisipan. Peneliti berperan sebagai fasilitator, sementara partisipan yang terdiri dari pengurus yayasan, anggota kelompok tani, dan moketan berperan aktif sebagai pengusul dan penentu langkah-langkah pengembangan desain. Berikut ini hasil penyusunan rencana pengembangan desain, dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar: Desain Awal Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan (Moketa. Sumber: Hasil Olahan Data Peneliti Tahun 2024 Tujuan yang ingin dicapai melalui implementasi pengembangan desain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan, antara lain: Mempertahankan partisipasi dari pemulung untuk terlibat dalam setiap siklus kegiatan pemberdayaan. Meningkatkan keberlanjutan siklus pertukaran sampah dengan bibit untuk mewujudkan ketahanan pangan pemulung yang mandiri. Meningkatkan kerja sama antar anggota kelompok tani dan pemulung dalam menjalankan program pertanian Mendorong pelibatan organisasi lokal sebagai agen perubahan atau motivator yang dapat berperan aktif dalam perubahan perilaku komunitas. Komitmen dari partisipan merupakan salah satu elemen penting dalam perencanaan dan implementasi pengembangan desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan dalam Program Pertanian Perkotaan. Komitmen yang dimaksud ini mengacu pada kesepakatan dan kontribusi yang dapat diberikan oleh partisipan dalam pelaksanaan implementasi pengembangan desain, sebagai berikut: kesepakatan aktif, dukungan terhadap program dan keputusan yang diambil, serta pembelajaran dan pengembangan pribadi. Hasil dari komitmen yang dibangun dari partisipan dapat menjadi dorongan yang kuat bagi keberhasilan implementasi pengembangan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan. Kehadiran komitmen ini dapat menjadikan partisipan sebagai agen perubahan yang aktif dan memiliki peran yang penting dalam proses perubahan di dalam komunitas pemulung. Implementasi Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan Tahap implementasi merupakan proses pelaksanaan desain pemberdayaan yang telah disusun sebelumnya. Dalam pendekatan PAR, tahapan ini dilakukan secara fleksibel, partisipatif, dan adaptif terhadap konteks lokal serta waktu yang tersedia bagi partisipan. Implementasi dibagi ke dalam tiga tahap utama, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengakhiran. Tahap Persiapan Tahap persiapan dimulai dengan komunikasi awal antara peneliti dan pihak Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Peneliti melakukan audiensi resmi dengan Ketua Yayasan untuk memperoleh izin pelaksanaan penelitian dan menyampaikan garis besar rencana kerja. Pada pertemuan ini, disepakati pula komitmen bersama untuk melibatkan komunitas secara aktif dalam program yang akan diimplementasikan. Langkah awal lainnya dilakukan melalui pendekatan informal dengan Ketua RT, tokoh masyarakat, dan pengurus lingkungan yang mewakili kelompok. Tujuannya adalah untuk menjelaskan maksud dan tujuan program, serta mengidentifikasi dukungan sosial yang memungkinkan partisipasi aktif warga Kampung Sumur. Langkah berikutnya adalah pelaksanaan wawancara semi terstruktur kepada pengurus yayasan dan anggota kelompok tani, dengan tujuan menggali informasi awal terkait keberhasilan dan tantangan program pertanian perkotaan yang BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | sedang berjalan. Wawancara ini juga membahas kondisi objektif di lapangan seperti menurunnya partisipasi dan konsistensi pemulung, keterbatasan bibit, dan rendahnya motivasi dari pemulung dalam menjalankan program pertanian perkotaan pasca pandemi. Kegiatan ini menjadi dasar penyusunan desain pengembangan. Selanjutnya dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pengurus inti yayasan, moketan, dan perwakilan pemulung. Dalam FGD ini dibahas berbagai kebutuhan lapangan, keterbatasan sumber daya, serta solusi yang mungkin dilakukan. FGD ini menghasilkan sejumlah rekomendasi, seperti pentingnya kehadiran motivator lapangan, perlunya pelatihan teknis berkala, dan perlunya jadwal kegiatan yang disesuaikan dengan aktivitas Output dari tahap persiapan ini berupa rancangan desain awal pemberdayaan, daftar nama moketan potensial, dan kalender kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi waktu partisipan serta kegiatan yang berjalan di yayasan. Tahap ini juga menghasilkan kesepakatan awal peran dan komitmen dari setiap pihak yang terlibat. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan ini terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu: Pemilihan Motivator Ketahanan Pangan (Moketa. Kegiatan ini berlangsung pada 22 April 2024 dan dihadiri oleh perangkat kelurahan, kader-kader organisasi lokal, dan komunitas pemulung. Proses pemilihan dilakukan melalui musyawarah mufakat dengan mempertimbangkan kapasitas sosial, pengalaman kader, dan domisili yang dekat dengan komunitas. Empat perempuan terpilih menjadi moketan. Mereka berasal dari organisasi TP-PKK, dasawisma, posyandu, dan relawan/fasilitator PKBI yang telah menunjukkan komitmen tinggi selama diskusi dan observasi awal. Peningkatan Kapasitas Moketan dan Poktan Peningkatan kapasitas ini dilaksanakan selama dua hari berturut-turut yakni 25-26 April 2024 dengan total empat narasumber dari unsur penyuluh ketahanan pangan, pekerja sosial, dan penggerak komunitas. Materi peningkatan kapasitas, meliputi: A Ketahanan Pangan dan Pengelolaan Gizi Keluarga A Teknik Komunikasi Motivasional A Peran Agen Perubahan dalam Konteks Lokal A Strategi Memotivasi Kelompok Rentan Kegiatan disusun dalam format interaktif dengan diskusi, simulasi, dan studi kasus. Hasil evaluasi harian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan antusiasme dari peserta, terutama dalam mengidentifikasi perannya sebagai penggerak komunitas. Pendampingan Lapangan oleh Moketan Pendampingan dilaksanakan selama 5 hari . April Ae 3 Mei 2. , kegiatan ini meliputi kunjungan rumah, sesi tanya jawab, dan diskusi kelompok kecil. Dari catatan harian bank sampah, tercatat setidaknya 20 pemulung melakukan penimbangan sampah dan beberapa diantaranya melakukan penukaran bibit ke Bank Sampah Swara Cipta Mandiri. Selain itu, setidaknya 6-7 titik rumah masih aktif merawat instalasi tanaman hidroponik atau media Pendampingan ini juga mendorong tumbuhnya minat dan partisipasi anggota baru dari warga sekitar untuk bergabung dalam kelompok tani. Tahap Pengakhiran Tahap akhir difokuskan pada evaluasi an refleksi partisipatif. Evaluasi dilakukan dengan dua pendekatan: Wawancara Semi Terstruktur Individu Wawancara ini dilaksanakan pada tanggal 5, 6, dan 8 Mei 2024 terhadap delapan partisipan. Wawncara ini bertujuan untuk menggali kesan, harapan, dan kendala yang meraka hadapi selama implementasi desain. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar merasa mendapat pengalaman baru dan menyadari pentingnya kolaborasi lintas aktor dalam komunitas. Focus Group Discussion (FGD) Kegiatan FGD ini diselenggarakan pada tanggal 9 Mei 2024 dan diikuti oleh 14 partisipan. FGD ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pelaksanaan, mengeksplorasi capaian maupun tantangan, serta merumuskan rencana perbaikan desain. Hasil FGD mencakup: A Peningkatan kapasitas dari moketan dalam memberikan motivasi atau pendampingan yang perlu dijadwalkan secara rutin. A Perlunya pendampingan yang lebih rutin dan terjadwal dari moketan kepada pemulung, terutama di titik-titik lingkungan yang partisipasinya masih rendah. A Dibutuhkan pembentukan kelompok edukasi sebagai wadah berbagi praktik dan pembaruan pengetahuan pertanian di dalam komunitas. A Masih terdapat ketimpangan partisipasi antara warga yang tinggal dekat yayasan dan yang jauh (>300 mete. sehingga perlu strategi jemput bola. A Evaluasi pelaksanaan penukaran bibit dan bank sampah diusulkan untuk dilakukan setiap triwulan. Peserta FGD atau partisipan juga menekankan pentingnya dukungan logistik seperti variasi bibit, media tanam, serta perlengkapan bertani lainnya untuk meningkatkan keberlanjutan program. Sebagai penutup FGD, 47 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Putri Maisaroh, et al. disepakati bahwa desain ini akan disempurnakan melalui penguatan struktur koordinasi dan jadwal kegiatan mingguan, serta monitoring terpadu oleh pihak Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Dengan demikian, ketiga tahap dalam implementasi desain menunjukkan bahwa perubahan sosial yang diinginkan hanya dapat tercapai melalui kolaborasi yang terus menerus, refleksi kritis, dan penyesuaian desain berdasarkan pengalaman dan praktik baik di lapangan. Evaluasi Desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan Tahap akhir dari penelitian Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan oleh peneliti setelah kegiatan implementasi pengembangan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan yaitu tahap evaluasi desain. Fokus evaluasi dititikberatkan pada umpan balik terhaap efektivitas, kendala, dan potensi pengembangan lebih lanjut dari desain pemberdayaan pemulung. Tahap evaluasi desain ini berisi kegiatan evaluasi terhadap implementasi pengembangan desain secara keseluruhan di Yayasan Swara Peduli Indonesia jakarta melalui kegiatan diskusi kelompok terfokus atau focus group discussion (FGD) dan wawancara semi terstruktur. Kegiatan evaluasi ini dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan para pelaku utama program atau partisipan penelitian yang terdiri dari pengurus inti yayasan, anggota kelompok tani . dan motivator ketahanan pangan . Hal ini guna menjamin bahwa masukan yang diberikan merepresentasikan pengalaman langsung di lapangan. Kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk mendapatkan input atau masukan terhadap implementasi rekayasa teknologi yang dilaksanakan sehingga menjadi saran ataupun rekomendasi terhadap hasil penelitian yang dalam hal ini adalah Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan. Hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan desain sehingga nantinya perubahan desain akhir yang disusun menjadi lebih baik dan dapat diaplikasikan secara optimal dalam program pemberdayaan pemulung yang dilaksanakan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Peneliti dalam kegiatan evaluasi ini berperan sebagai fasilitator yang bertugas untuk memfasilitasi diskusi dan mengumpukan masukan atau pendapat dari partisipan yang hadir pada saat kegiatan FGD. Kegiatan evaluasi melalui FGD dilaksanakan pada Hari Kamis, tanggal 9 Mei 2024 pukul 09. 00 Ae 11. 00 WIB bertempat di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus inti yayasan sebanyak 5 . orang, anggota kelompok tani . Swara Hijau Farm sebanyak 5 . orang, dan moketan sebanyak 4 . Hasil FGD menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan sepakat mengenai perlunya penguatan kapasitas lanjutan dan pengaturan waktu yang lebih jelas dalam pelaksanaan program secara keseluruhan. Salah satu hasil nyata dari evaluasi ini adalah usulan penambahan dua elemen penting dalam desain, yaitu: Penjadwalan rutin kegiatan moketan Hal ini untuk memastikan keberlangsungan kegiatan pendampingan dan edukasi komunitas. Penjadwalan ini penting karena para moketan juga memiliki tanggung jawab lain sebagai kader di organisasi lokal masing-masing, sehingga fleksibikitas dan konsistensi waktu menjadi kunci dalam keberlangsungan kegiatan pendampingan. Pembentukan kelompok edukasi Kelompok ini perlu dibentuk sebagai ruang berbagi dan penguatan pengetahuan di bidang pertanian perkotaan dan ketahanan pangan. Kelompok ini nantinya akan berfungsi sebagai community of practice yang mendorong inovasi lokal berbasis kebutuhan harian warga. Teknik analisis yang digunakan dalam kegiatan evaluasi melalui FGD ini adalah analisis SWOT atau akronim dari Strengths (Kekuata. Weakness (Kelemaha. Opportunities (Peluan. , dan Threats (Ancama. Proses analisis SWOT dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan semua partisipan yang hadir pada kegiatan sehingga didapatkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada implementasi rekayasa teknologi yang baru diterapkan ini. Berdasarkan pelaksanaan FGD yang dilakukan bersama partisipan, peneliti menyadari bahwa relevansi analisis SWOT dalam penelitian ini tidak cukup menangkap dinamika kontekstual komunitas serta penggunaan analisis ini yang sudah terlalu umum digunakan. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar evaluasi di masa mendatang dapat mengadopsi metode analisis lain yang relevan dengan kondisi di lapangan serta pengalaman konkret tiap kelompok . oktan/moketan/pemulun. Evaluasi ini juga menegaskan bahwa keberhasilan program pertanian perkotaan tidak hanya diukur dari seberapa banyak bibit yang disalurkan atau jumlah kelompok yang aktif, melainkan dari perubahan cara pandang dan kemandirian yang mulai tumbuh di kalangan komunitas pemulung di Kampung Sumur. Misalnya, meskipun partisipasi mengalami fluktuasi, hampir 20 orang anggota bank sampah tercatat masih aktif menukar sampah dengan bibit, dan 6-7 titik kebun warga masih terpantau aktif merawat tanaman di setiap lingkungan/gang. Ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku memang terjadi, meskipun belum merata. Langkah selanjutnya dalam evaluasi desain akhir ini, peneliti bersama partisipan melakukan analisis perbaikan desain sementara berdasarkan kebutuhan pengembangan yang sudah diidentifikasi, yaitu perlu adanya penambahan tahapan yang berkaitan dengan penjadwalan rutin kegiatan moketan dan pembentukan kelompok edukasi sebagai wadah berbagi pengetahuan. Setelah dilakukan analisis secara partisipatif antara peneliti dengan partisipan, selanjutnya adalah mengilustrasikan hasil pengembangan desain akhir dari pengembangan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan. Desain akhir ini merupakan perbaikan pertama dari desain sementara atau desain awal pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan. Desain ini diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan program sekaligus menjadi desain pemberdayaan yang lebih relevan dengan karakteristik lokal. Berikut ini adalah hasil pengembangan desain akhir yang telah disusun: BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | Gambar: Desain Akhir Pemberdayaan Pemulung dalam Program Pertanian Perkotaan Sumber: Hasil Olahan Data Peneliti Tahun 2024 KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian Desain ini dikembangkan sebagai respon terhadap rendahnya komitmen dan menurunnya motivasi pemulung dalam mempertahankan keberlangsungan program pertanian perkotaan yang telah dijalankan oleh Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Desain ini berfokus pada pelibatan motivator ketahanan pangan . dalam program pertanian perkotaan sebagai pendamping lokal yang diharapkan mampu meningkatkan partisipasi dan konsistensi pemulung untuk menjalankan siklus pertanian dari yayasan. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), peneliti melibatkan partisipan sejak tahap identifikasi masalah hingga tahap evaluasi desain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan melalui pelibatan motivator dari organisasi lokal yang disebut moketan dapat meningkatkan partisipasi aktif dan konsistensi pemulung dalam menjalankan siklus pertanian. Melalui proses implementasi desain yang terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi, ditemukan bahwa keberadaan moketan memberikan kontribusi positif dalam membangun kembali semangat pemulung untuk menanam, merawat, dan menukarkan sampah dengan bibit secara berkelanjutan. Partisipasi ini terlihat dari meningkatnya keterlibatan anggota bank sampah, keberlanjutan instalasi tanaman hidroponik atau media tanah di rumah warga, dan keterlibata aktif dsalam kegiatan peningkatan kapasitas serta pendampingan. Desain pemberdayaan yang melibatkan moketan tidak hanya mendorong perubahan perilaku pada tingkat individu, tetapi juga memperkuat kapasitas komunitas untuk mengelola sumber daya lokal dan membentuk dukungan sosial yang lebih kohesif. Temuan ini memperkuat teori partisipasi komunitas dan penguatan lokal dalam pendekatan pemberdayaan sosial, khususnya dalam konteks ketahanan pangan di wilayah perkotaan. Pengembangan desain pemberdayaan ini memperlihatkan bahwa pemulung bukan hanya sebagai objek penerima manfaat, tetapi dapat menjadi subjek perubahan ketika didampingi oleh pihak yang memiliki kedekatan sosial dan kultural. Kehadiran moketan yang berasal dari organisasi lokal seperti kader PKK, dasawisma, posyandu, dan PKBI menunjukkan efektivitas pendekatan sosial berbasis komunitas dalam mendorong perubahan perilaku. Komitmen dan kedekatan emosional moketan dengan warga di komunitas pemulung menjadikan intervensi lebih diterima dan relevan dengan kebutuhan komunitas. Alhasil, pengembangan desain pemberdayaan pemulung dalam program pertanian perkotaan mampu menjawab persoalan menurunnya komitmen dan partisipasi pemulung. Desain ini tidak hanya berhasil meningkatkan partisipasi pada aspek teknis seperti bertani dan menukar bibit, tetapi juga membuka ruang pembelajaran kolektif dan komunikasi dua arah yang memperkuat kapasitas komunitas. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bagi organisasi sosial. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), dan pemerintah daerah untuk mempertimbangkan pendekatan serupa dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat rentan. Secara teoritis, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara pendekatan pemberdayaan komunitas dan keberlanjutan program dalam konteks ketahanan pangan di perkotaan. Kemudian penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu program dapat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat sasaran dilibatkan secara aktif dalam seluruh proses dan didampingi oleh aktor lokal yang berfungsi sebagai agen perubahan. Dengan dukungan dan refleksi yang berkelanjutan, pengembangan desain ini memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah perkotaan lainnya yang menghadapi tantangan serupa. DAFTAR PUSTAKA