Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 7 No. Juni 2025, 33 - 44 PENGARUH PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN LALU LINTAS TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN SISWA SEBAGAI FIRST RESPONDER DI SMAN 1 SUBOH THE INFLUENCE OF FIRST AID TRAINING ON STUDENTS' LEVEL OF KNOWLEDGE AND SKILLS AS FIRST RESPONDERS AT SMAN 1 SUBOH Noer Hayati1*. Baitus Sholehah2*. Zainal Munir3* Universitas Nurul Jadid. Indonesia Universitas Nurul Jadid. Indonesia Universitas Nurul Jadid. Indonesia *Email Korespondensi: nungh7126@gmail. Abstrak Latar Belakang: Di seluruh penjuru dunia, kecelakaan lalu lintas masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama. Perlu disebutkan bahwa anak-anak dan remaja di bawah usia 25 tahun merupakan 30% dari korban kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, penyebab kematian paling mematikan bagi remaja berusia antara 15 dan 29 tahun adalah kecelakaan di jalan raya. Siapa pun dapat memberikan pertolongan pertama dalam keadaan apa pun. Tujuan: untuk mengetahui apakah ada pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Metode: desain pra-eksperimental dengan desain one-group prepost test. Hasil: hasil pretest tingkat pengetahuan 6,8% . , 60,8% . 32,4% . , dan keterampilan 100,0% . , hasil post test tingkat pengetahuan 81,1% . , 18,9% . dan keterampilan 94,6% . 5,4% . Hasil uji Wicoxon Signed Rank Test diperoleh nilai Z sebesar -7. 214a dan -7. 491a dan P value = 0,000 < 0,005, maka H0 ditolak. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas terhadap pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Kata Kunci: Pelatihan. Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu Lintas. Resusitasi Jantung Paru. Sekolah Menengah Atas. Abstract Background:. Throughout the world, traffic accidents are still a major public health problem. It is worth mentioning that children and teenagers under the age of 25 make up 30% of traffic accident Therefore, the deadliest cause of death for teenagers between the ages of 15 and 29 is road Anyone can provide first aid under any circumstances. Objective: to find out whether there is an influence of traffic accident first aid training on the level of knowledge and skills of high school (SMA) students as first responders at SMAN 1 Suboh. Method: pre-experimental design with one-group pre-post test design. Results: pretest results of knowledge level 6. 8% . , 8% . 4% . , and skills 100. 0% . , post test results of knowledge level 81. , 18. 9% . and skills 94. 6% . 4% . The Wicoxon Signed Rank Test results obtained Z values of -7. 214a and -7. 491a and P value = 0. 000 < 0. 005, so H0 was rejected. Conclusion: There is an influence of traffic accident first aid training in increasing students' knowledge and skills as first responders at SMAN 1 Suboh. Keywords: Training. First Aid for Traffic Accidents. Cardiopulmonary Resuscitation. High School. Submitted Accepted Website : 7 November 2024 : 23 Januari 2025 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. Pendahuluan Kejadian kecelakaan lalu lintas masih menjadi simbol masalah kesehatan publik yang mendesak di seluruh penjuru dunia (Pei et al. , 2. Peristiwa seperti kecelakaan dapat berlangsung kapan saja dan dimana kecelakaan dapat menyebabkan luka cedera, kecacatan bahkan kematian terutama bagi anak-anak (Emir Rizkanto et al. , 2. Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, pejalan kaki dan pengendara kendaraan terkena dampak cedera lalu lintas jalan secara tidak proporsional. Risiko kematian akibat cedera lalu lintas jalan tiga kali lipat dibandingkan dengan negara-negara (Fanai Mohammadnezhad, 2. Indonesia adalah Negara dengan tingkat kecelakaan tertinggi kelima di dunia (Rahmadiyani & widyanti. Berdasarkan Badan Pusat Statistik . jumlah kecelakaan di Indonesia tiap tahunnya 645,00, 266,00, luka berat 10. 533,00 dan luka ringan 117. 913,00. Melampaui 30% korban kecelakaan lalu lintas adalah remaja dan anak-anak belum mencapai usia 25 tahun. Dengan ini, kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh paling berbahaya bagi kaum muda berusia 15 - 29 tahun (Yudha Chrisanto & Novitasari, 2. Dirlantas Polda Jawa Timur . memetakan ada 72 lokasi rawan kecelakaan di Jawa Timur, di lintas utara ada 20 lokasi rawan kecelakaan, lintas Tengah ada 22 lokasi rawan kecelakan, lintas Selatan ada 22 lokasi rawan kecelakan, lintas tapal kuda 3 lokasi rawan kecelakan, dan lokasi madura 5 lokasi rawan kecelakan. Kabupaten Situbondo merupakan 10 besar lokasi rawan kecelakan di lintas utara setelah Bojonegoro. Tuban. Lamongan. Gresik. Sidoarjo. Pasuruan. Surabaya-Banyuwangi, dan Probolinggo. Satlantas Polres Situbondo . memetakan titik rawan laka lantas di jalur pantura dan memasang spanduk imbauan untuk peringatan pada lima titik rawan diantaranya di jalan raya Kalianget Kecamatan Banyuglugur, jalan raya simpang tiga Buduan Kecamatan Suboh, jalan raya Kapongan, simpang empat jalan PB Sudirman Situbondo dan jalan hutan Baluran Kecamatan Banyuputih. Pada jalan raya simpang tiga Buduan Kecamatan Suboh adalah tempat yang sering terjadi kecelakaan karena padat kendaraan, dimana bertemunya kendaraan roda empat dan roda dua dari tiga arah sekaligus, yakni arah barat Surabaya, arah timur Banyuwangi dan arah Selatan Bondwoso. Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi kecelakaan lalu lintas, yatu lingkungan(Hidayati & Hendrati, 2. Faktor manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan di jalan raya termasuk pengemudi yang kurang hati-hati dalam mengendalikan kendaraannya, pengemudi yang lalai dalam mengemudikan kendaraannya, dan pengemudi yang memiliki kesehatan fisik yang buruk saat Faktor kendaraan yang paling umum . ,91%) termasuk ban telanjang, rem tidak berfungsi, dan kerusakan komponen kecelakaan . ,66 %). Faktor lingkungan termasuk jalan licin akibat genangan air setelah hujan, tingginya lalu lintas pada jamjam tertentu dari pabrik dan sekolah, anak sekolah sembarangan menyebrang jalan, trotoar tidak rata, lampu jalan mati, dan jalan berlubang . , 43%)(Wahyuni et al. , 2. Kecelakaan menyebabkan korban mengalami trauma . ovsteby et al. , 2. Kegawatdaruratan akibat trauma juga menyebabkan kecacatan atau cedera baik luka memar, patah tulang, luka terbuka dan cedera kepala, yang kematian(Pei et al. , 2. Selain itu, korban kecelakaan juga mengalami henti nafas/tidak sadar(Pasquier et al. , 2. Jika korban tidak menerima penanganan secara cepat dan tepat maka akan menyebabkan kematian(Ngurah & Putra, 2. Hampir 90% korban cedera bahkan meninggal karena waktu yang terlalu lama dibiarkan dan ketidaktepatan tentang ditemukan(Sudarman et al. , 2. Berdasarkan Anggraini menyatakan bahwa pemberian pertolongan pertama mengindikasikan sebagian upaya untuk mengurangi terjadinya kecacatan dan kematian yang tidak disengaja(Anggraini et , 2. Perawatan pertama untuk penyakit atau cedera akut dikenal sebagai pertolongan Targetnya untuk menyelamatkan menghentikan bahaya atau cedera tambahan dan mempercepat pemulihan (Zideman et al. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. Didukung oleh penelitian Susetiyanto, bahwa dalam hal ini pertolongan pertama menjadi bagian penting dalam penanganan kasus kegawatdaruratan(Susetiyanto Atmojo et al. , 2. Penelitian lain menyebutkan bahwa pertolongan pertama yang diberikan pada korban kecelakan mampu mengurangi trauma yang lebih parah dan dapat mempersingkat waktu pengobatan mereka di hari berikutnya(Rahman et al. , 2. Setiap pertolongan pertama dalam situasi apa pun(Zideman et al. , 2. Salah satunya adalah Siswa SMAN 1 Suboh sebagai generasi muda memiliki keingintahuan yang tinggi dan kepedulian sosial dalam berperan di Masyarakat untuk membantu orang yang sedang butuh pertolongan(Sholihah & Ningsih, 2. Tingkat kesediaan yang tinggi untuk pertolongan pertama di kalangan remaja dapat membantu mengurangi kematian dan kesakitan akibat cedera dengan memberi korban akses lebih cepat ke layanan medis berkualitas tinggi(Huy et al. , 2. Peran tersebut menjadi penting selama beberapa menit pertama saat di lokasi kecelakaan. Siswa sebagai first responder yang berada di lokasi pertama kecelakaan diharapkan memiliki pemahaman mengenai tindakan atau perilaku pertolongan pertama kecelakaan agar menghindari kecacatan atau cedera yang terjadi(Yin et al. , 2. Berdasarkan survei pendahuluan di SMAN 1 Suboh pada 11 siswa, hasil wawancara didapatkan 11 siswa belum memiliki pemahaman mengenai tindakan atau menemukan korban kecelakaan. Hal ini didukung karena siswa belum memperoleh pengetahuan tentang pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas. Peristiwa tersebut Seringkali kejadian kecelakaan lalu lintas yang memengaruhi kematian atau kecacatan/disabilitas ketidaktahuan masyarakat awam tentang cara memberikan bantuan awal yang tepat kepada korban(Saputri et al. , 2. Penelitian lain juga mengatakan karena takut menyakiti korban(De Smedt et al. , 2. , dan fakta bahwa korban adalah orang asing(Huy et al. Dalam hal ini sebagian besar siswa memerlukan pelatihan karena mereka kurang pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan perihal penanganan penderita kecelakaan dengan pertolongan pertama. Pada akhirnya, sebagian besar orang akan berada dalam situasi dimana pertolongan pertama diperlukan untuk orang lain atau diri mereka sendiri, maka setiap orang harus memiliki kemampuan untuk memberikan pertama(Thygerson. Perilaku yang salah terhadap korban disebabkan oleh pengetahuan yang kurang tentang cara memberikan pertolongan Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan yang baik untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam memberikan pertolongan pertama sebagai langkah awal mengurangi tingkat kesakitan dan mencegah buruk(Wijaya & Widyawati, 2. Keterampilan pertolongan pertama dapat diajarkan ke semua golongan terutama pada penolong pertama atau first responder di tempat kejadian. Seorang penolong pertama harus memiliki pengetahuan sebelum mereka menguasai keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan(Apriani et al. , 2. Didukung oleh penelitian Kristinawati, yang mengatakan bahwa keterampilan pertolongan pertama dapat diperoleh dari pelatihan pertolongan pertama. Pelatihan ini memberikan pengetahuan tentang pengendalian kasus kecelakaan sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah disosialisasikan(Kristinawati et al. Dengan pertolongan pertama diperlukan untuk membekali kesiapan siswa sebagai first responder di lapangan agar dapat memberikan perawatan awal yang cepat dan sesuai jika terjadi kecelakaan lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai first responder di lapangan. Metode Desain penelitian menggunakan pre eksperimental dengan rancangan one-group pre-post test design. 737 siswa dari SMAN 1 Suboh adalah populasi penelitian ini. Sampel yang diambil pada penelitian ini sebanyak 74 orang dengan perhitungan rumus sampel berdasarkan tabel persentase menurut Yount . , yaitu 10% dari total populasi. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. Besar Populasi Besar Sample 0 Ae 100 101 Ae 1000 1001 - 5000 5001 Ae 10. Ou10. Tehnik sampling penelitian menggunakan purposive sampling dengan ketetapan kriteria inklusi dan eksklusi dari peneliti,yaitu: a. Kriteria inklusi: setuju atau bersedia belajar kecelakaan lalu lintas, siswa yang setuju menjadi responden dan berusia 15 Ae 20 tahun, siswa yang belum pernah ikut kursus pelatihan pertolongan pertama, siswa yang aktif mengendarai motor. Penelitian ini dilakukan di aula sekolah SMAN 1 Suboh pada tanggal 13 Mei 2024. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu instrumen tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner yang dimodifikasi dari kuesioner sebelumnya oleh Gradvohl (Gradvohl et al. , 2. Sewante (Sewante Kusumaningrum (Kusumaningrum et al. , yang telah teruji validitas dan reliabilitas, sehingga peneliti tidak diperlukan untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas Kuesioner berupa 30 pernyataan favorable dan unfavorable dengan memakai Guttman scale yang digunakan pada pretest Sedangkan instrumen keterampilan berbentuk pedoman Standart Operasional Prosedur (SOP) pertolongan pertama saat kejadian kecelakaan lalu lintas dikembangkan oleh peneliti sesuai teori Thygerson juga buku saku prosedur pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas dari Kemenkes RI. Dalam penelitian ini, peneliti dibantu e-numerator. Sehingga dilakukan penelitian, peneliti melakukan uji interrater reability . ji kapp. dengan pemilihan e-numerator, peneliti menetapkan kriteria inkklusi: a. E-numerator merupakan perawat yang sudah 5 tahun kerja, b. Enumerator telah menyelesaikan Pendidikan minimal D3 Keperawatan, c. E-numerator pernah mengikuti pelatihan PPGD. Jika hasil uji didapatkan nilai mendekati satu maka hasil dapat koefisien/signifikan, sehingga persepsi peneliti dan e-numerator identik atau sama, sedangkan jika uji kappa didapatkan nilai menjauhi angka satu maka hasil tidak koefisien/tidak signifikan, sehingga persepsi peneliti dan e-numerator berbeda. Pengumpulan data dilakukan secara online dan offline. Sebelum diberikan materi pelatihan, responden diminta untuk mengisi dan menandatangani lembar informed consent jika setuju, pada tahap pretest responden diminta secara online mengisi kuesioner tingkat pengetahuan melalui google form sedangkan, untuk keterampilan secara offline pendampingan peneliti dan e-numerator. Responden yang mengisi kuesioner harus sesuai dengan kriteria inklusi jika tidak, maka responden tidak dapat melanjutkan pengisian Tahap pelatihan pertolongan pertama, ini dilakukan melalui praktik dan metode pembelajaran video sesuai dengan pedoman pelatihan dasar tentang pertolongan pertama kecelakaan lalu Materi yang diberikan meliputi definisi pertolongan pertama, tujuan pertolongan pertama, kewajiban penolong . , prinsip saat melihat kejadian kecelakaan di jalan, penatalaksanaan tindakan awal pada korban kecelakaan yang mengalami syok, pendarahan, atau cedera, bantuan hidup dasar (BHD), cara memindahkan atau mengangkut Kemudian, pada tahap posttest responden diminta kembali melakukan tes yang sama seperti pada tes sebelumnya. Setelah mendapatkan data yang diperlukan, selanjutnya data diolah menggunakan Microsoft excel dan SPSS 16. Hasil Uji yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain: uji interrater reability . ji kapp. , kategori karakteristik responden, kategori pretest posttest tingkat pengetahuan, kategori pretest posttest keterampilan, uji statistik wicoxon sign rank test. Tabel 1. Uji Interrater Reability CohenAos Kappa Peneliti* e-numerator1* enumerator2*Crosstabulation e-numerator1* Peneliti Total Total Symmetric Measures Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. Measure N of valid Valu Asymptotic Approxi mate Tb Approximate Berdasarkan tabel 1, maka nilai yang . menunjukkan 0,783 yang berarti koefisien kapa sebesar 0,783 dan p valuenya sebesar Dengan hasil ini berarti p value > alpha berarti 0,783>0. 00, maka hasil uji kappa koefisien dan dapat diterima. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Karakteristik Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia Responden 51,4 % 48,6 % 15-17 Tahun 82,4 % 18-20 Tahun 17,6 % Berdasarkan tabel 2, mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, mayoritas usia responden berada pada rentang usia 15-17 tahun. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pretest posttest Tingkat Pengetahuan Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu Lintas Tingkat Pengetahuan Pertolongan Pertama Baik Post test Cukup Rendah 32,4% 0,0% Total 100,0% 100,0% 6,8% 81,1% 60,8% 18,9% Berdasarkan hasil diatas pada tabel 3, menunjukkan bahwa hasil prestest tingkat pengetahuan rata-rata berpengetahuan cukup. Sedangkan hasil posttest tingkat pengetahuan berpengetahuam baik. Tabel 4. Distribusi Frekuensi pretest posttest Keterampilan Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu Lintas Keterampilan Pertolongan Pertama Baik Pretest /Post Negativ e ranks Variabel Pengetahuan Post Pretes (%) keterampilan pertolongan pertama rerata secara keseluruhan memiliki keterampilan Sedangkan, keterampilan pertolongan pertama rerata memiliki keterampilan baik. Tabel 5. uji Statistik Wicoxon Sign Rank Test Post test 0,0% 94,6% Cukup 0,0% 5,4% Rendah 100,0% 0,0% Total 100,0% 100,0% Berdasarkan hasil diatas pada tabel 4. Keterampila Post Pretes Mea Rank Posistiv e ranks AN Tie Negativ e ranks Posistiv e ranks Tie Total Sum of Rank Test StatisticsA Post test Pretest Post test Pretest Keterampilan Asymp. Sig. -taile. Hasil Uji stasistik pada tabel diatas, . -taile. mempunyai nilai 0,000. Kesimpulan AuHa diterimaAy menunjukkan terdapat perbedaan hasil pretest dan post test terkait tingkat pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas karena nilai 0,000 kurang dari <0,005. Pembahasan Karakteristik Responden/Siswa Berdasarkan Usia Dan Jenis Kelamin. Masa remaja adalah periode yang penting dimana terjadi tansisi dalam berfikir logis, kritis dan cepat sehingga dapat menyesuaikan diri dengan suatu keadaan, masa remaja juga masa perkembangan sosial dalam memahami orang lain, sehingga pada masa ini remaja terdorong untuk menjalin hubungan sosial baik(Santrock. Hurlock menyatakan bahwa seseorang mencapai kematangan fisik, sosial dan emosional pada tahap pertumbuhan remaja(Rais, 2. Masa remaja awal merupakan tahap perkembangan ketika minat terhadap aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan atau keterampilan psikomotorik sudah umum. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. dimana hal ini bisa menyebabkan pada situasi dan kondisi darurat(Silva et al. , 2. Menurut Statuta anak remaja penting untuk meningkatkan perlindungan dan bantuan yang diperlukan mereka pada situai yang mereka alami (Faria et al. , 2. Dalam hal ini, salah satu kelompok sasarannya adalah siswa SMA, yang diharapkan dapat membantu dalam pemberian pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Hal ini dikarenakan mereka berada pada usia matang yang memiliki pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama, dengan diberikannya pelatihan dan pengetahuan yang memadai, mereka dapat berperan aktif dalam memberikan bantuan awal dengan respons cepat dan tepat sampai bantuan medis tiba. Menurut Notoatmodjo dalam Noviyanti jenis kelamin adalah komponen genetik yang mempengaruhi perilaku seseorang. Rasa kepercayaan menentukan adanya perbedaan laki-laki perempuan(Noviyanti & M. Kafit, 2. Kepercayaan dan keyakinan laki-laki lebih baik daripada perempuan karena laki-laki mampu mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya(Kusuma et al. , 2. Dalam penelitian Amirah menyatakan bahwa dari segi gender tidak menunjukkan perbedaan antara gender dengan tingkat pengetahuan secara signifikan(Nur Amirah Mohd Sharif & Farrah Ilyani Che Jamaludin, 2. Sejalan dengan asumsi Al-Khamees nedaa bahwa tidak ada kebutuhan khusus mengenai gender menyarankan untuk menargetkan pendidikan pertolongan pertama pada lebih banyak lakilaki(Connolly et al. , 2. Perbandingan populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki. Meskipun demikian, temuan penelitian, jumlah responden laki-laki dan perempuan selisih 2 orang responden. Perempuan lebih mudah menangkap informasi karena daya ingatnya yang kuat, sedangkan laki-laki berbanding sebaliknya, namun pria atau laki-laki lebih percaya diri dan memiliki keyakinan tinggi akan tanggung jawab dan Sehubungan dengan ini, laki-laki yang lebih banyak menerima pendidikan pertolongan pertama dianggap lebih mampu dan berani dalam menghadapi situasi darurat. Tingkat pengetahuan siswa sebelum pertama kecelakaan lalu lintas sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Notoadmodjo mengungkapkan bahwa sosial budaya, lingkungan, usia, dan pendidikan merupakan Faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan (Notoatmodjo. Pendidikan yaitu faktor yang akurat dan dapat mengembangkan pengetahuan seseorang dalam pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas. Pengetahuan dan pendidikan saling terkait erat. Individu yang berpendidikan tinggis seharusnya mengetahui banyak hal. Pengetahuan ialah hasil dari pengindraan objek dengan pancaindra manusia, yaitu penciuman, rasa, pendengaran, pengelihatan, dan raba. Dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan mempunyai peranan besar dalam membentuk tindakan seseorang. Selain itu, usia berperan sebagai satu aspek yang berpengaruh pada pemahaman atau pengetahuan seseorang, semakin matang usia seseorang maka banyak pengalaman dan keputusan, sehingga sikap dan perilakunya berpengaruh kedalam kehidupan sehariharinya. Adapun faktor lingkungan dan sosiokultural juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan sikap dan perilaku seseorang dalam menerima informasi. Seseorang dengan pendidikan dan pelatihan kesehatan dapat bertindak secara berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, memungkinkan siswa untuk berlatih sesuai dengan informasi yang baru mereka peroleh. Berdasarkan temuan penelitian, sebelum menerima pelatihan, rerata pengetahuan atau pemahaman responden mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas masih belum maksimal yakni masuk dalam kategori cukup pada rata-rata pelajar/siswa. hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa siswa belum pernah mengikuti kursus atau pelatihan pertolongan pertama yang berkaitan dengan kecelakaan lalu-lintas, karena itu kebanyakan siswa tidak memiliki pengetahuan yang baik. Penelitian serupa oleh Kristinawati yang menyatakan bahwa hasil nilai pretest pengetahuan bantuan hidup dasar pada masyarakat awam adalah rendah sebelum diberikan pelatihan(Kristinawati et al. , 2. Sejalan dengan asumsi penelitian sholehah yang membuktikan bahwa hasil nilai prestest Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. pengetahuan termasuk pada kategori sedang dan rendah sebelum diberikan simulasi khusus resusitasi jantung paru(Sholehah et al. , 2. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Karaman bahwa total nilai tes pra pelatihan adalah kurang(Karaman et al. , 2. Tingkat pengetahuan siswa tentang pertolongan pertama yang berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas sebagai first responder Sehubungan daripada itu, sangat penting bagi siswa untuk menerima kursus/pelatihan pertolongan pertama guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai first responder pada saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Dimana siswa sebagai generasi muda tertarik dengan hal-hal baru yang baru mereka ketahui, hal ini dapat berguna selama beberapa menit pertama saat dilokasi kejadian(Brito et al. , 2. Selama penelitian, dengan metode ceramah dan simulasi digunakan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pertolongan pertama yang berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas. Pemberian materi dan pelatihan yang diberikan menggunakan power point, video pembelajaran dan praktik, dimana sesuai dengan kerucut pengalaman Edgar Dale yaitu, media yang bersifat langsung dalam bentuk objek nyata akan meningkatkan pengetahuan dan skill dalam melakukan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas(Egok & Hajani, 2. Penggunaan video instruksional memainkan peran yang berharga dalam meningkatkan kesadaran dan mempengaruhi sikap, terutama ketika menyoroti konten yang penting untuk dipahami oleh peserta. Selain membantu siswa memahami konsep dan menyerap informasi dengan lebih mudah, video pendidikan juga dapat membantu peneliti dalam menyajikan konten mereka dengan cara yang menarik dan tepat sasaran sehingga akan mereka(Keni Novanto Mira Higa et al. , 2. Pemutaran video yang baik dapat diputar dua kali atau lebih agar memperhatikan aspek tertentu dan juga pesan dapat tertangkap dengan baik bagi pemahaman siswa(Munadi. Namun, pada penelitian ini, peneliti hanya memutarkan video sebanyak 1 kali kepada para siswa SMAN 1 Suboh, hal ini memungkinkan penyampaian materi dan pemahaman siswa kurang maksimal mengenai pertolongan pertama kecelakaan lalu-lintas. Penyampaian materi yang disampaikan sesuai dengan teori pertolongan pertama dari Tygerson(Thygerson. et al. , 2. dan dimodifikasi dengan langkah-langkah sesuai Kemenkes RI(Rustandi, 2. Perawatan awal yang dikenal juga sebagai pertolongan awal yang diberikan oleh penolong ketika seseorang tiba-tiba sakit atau mengalami kecelakaan hingga mendapatkan perawatan Untuk menyelamatkan nyawa korban, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat pemulihan, pertolongan pertama harus diberikan secara cepat dan tepat(Zideman et , 2. Pelatihan ini mengubah pengetahuan siswa yang kurang baik karena memberikan informasi sebagai proses belajar. Hal serupa dengan asumsi penelitian Li Pei penguasaan pengetahuan yang baik dapat meningkatkan perilaku. Pengetahuan siswa yang lebih tinggi sebagai pengamat . irst responde. menunjukkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi ketika menghadapi trauma kecelakaan lalu lintas, berbanding terbalik dengan siswa yang berpengetahuan lebih rendah(Pei et al. , 2. Penelitian lain menyatakan Perilaku dan tindakan seseorang dipengaruhi sebagian besar oleh pengetahuan, atau kognitif(Yudha Chrisanto & Novitasari. Dari hasil temuan penelitian terdapat perbedaan atau peningkatan nilai pengetahuan sebelum dan sesudaah dilakukan pelatihan. Serupa dengan asumsi Chrisanto dimana terdapat peserta dengan pengetahuan baik 16 . %) yang dilakukan di SMA Yadika Natar Lampung Selatan(Yudha Chrisanto & Novitasari, 2. Lestari membuktikan juga dalam penelitiannya, pengetahuan responden rerata kurang masimal sebelum diberikan pendidikan kesehatan namun, pengetahuan responden mengalami peningkatan sangat memuaskan setelah diberikan pendidikan kesehatan(Lestari, 2. Hasil peneliian yang dilakukan oleh Nastiti nilai pretest pengetahuan siswa rata-rata rendah dan mengalami peningkatan pada nilai post test menjadi baik, yang artinya terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah pada pengetahuan mengenai pertolongan pertama cedera antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi dengan media E-Fa game(Nastiti & Darotin. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. Tingkat pengetahuan siswa sebelum pertama kecelakaan lalu lintas sebagai first responder di SMAN 1 Suboh Dalam mengembangkan keterampilan, maka diperlukan pengetahuan yang baik. Seseorang dengan pengetahuan yang baik akan memudahkan mereka menentukan respons mereka dalam situasi darurat. Sebagai first responder siswa dengan keterampilan baik juga memiliki peran menyediakan layanan darurat dalam memberikan perawatan pra-rumah sakit untuk mendorong perawatan yang tepat waktu pada korban yang membutuhkan pertolongan pertama. Serupa dengan penelitian M. Di yang mengungkapkan bahwa keterampilan pertolongan pertama pada perawatan pra-rumah sakit mendorong perawatan yang tepat waktu bagi orang-orang yang sakit parah dan terluka(Sebakeng & Cox. Menurut Rustam Aji keterampilan pertolongan pertama didapatkan melalui pelatihan atau kursus, hal ini untuk pertama dengan pelatihan keterampilan(Aji et , 2. Penelitian Huy yang menyatakan kesedian siswa memberikan bantuan pada korban dipengaruhi adanya kursus pelatihan pertolongan pertama(Huy et al. , 2. Penelitian Basuhail menyatakan kesadaran dan pengetahuan mengenai pertolongan pertama sangat penting dalam menyelamatkan nyawa korban di masa depan(Basuhail et al. Keterampilan pertolongan pertama yang berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas sebagai first responder Anggraini penelitiannya bahwa keterampilan responden termasuk pada kategori cukup sebelum mendapatkan simulasi mengenai bantuan hidup dasar(Anggraini et al. , 2. Dalam hal ini, siswa menyebutkan bahwa mereka takut untuk memberikan pertolongan pertama, sehingga mereka hanya menyaksikan dan menunggu sampai bantuan medis tiba. Adanya ketakutan tersebut dikarenakan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang pertolongan pertama dan tidak pernah mengikuti kursus atau pelatihan mengenai pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Setelah dilakukan pelatihan keterampilan siswa mengalami peningkatan pada tindakan pertolongan pertama mengenai kecelakaan lalu lintas rata-rata keterampilan siswa baik. Serupa dengan asumsi penelitian Ndile ratarata skor keterampilan kurang, namun setelah diberikan pelatihan rata-rata skor menjadi baik(Ndile et al. , 2. Penelitian lain yang dilakukan Triyani rata-rata nilai keterampilan pendidikan kesehatan, sedangkan sesudah pertolongan pertama cedera olahraga nilai mengalami peningkatan(Triyani & Ramdani. Sesuai dengan penelitian Hizrian yang meningkatkan pemahaman dan kepasitas dalam memberikan bantuan awal pertolongan pertama yang berkaitan dengan korban kecelakaan(Hizrian et al. , 2. Karaman membuktikan dalam penelitiannya bahwa nilai tes rata-rata pasca pelatihan adalah baik(Karaman et al. , 2. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Kristinawati rata-rata nilai post test menjadi baik setelah pemberian pelatihan tentang tatalaksana bantuan hidup dasar pada masyarakat awam(Kristinawati et , 2. Pengaruh pertama kecelakan lalu lintas dengan Tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai first responder di SMAN 1 Suboh. Berdasarkan hasil uji statistik Wicoxon yang disjikan pada tabel 5 terdapat perbedaan sebelum dan sesudah dilaksanakan pelatihan pertolongan pertama terhadap pengetahuan dan keterampilan siswa. Temuan penelitian perubahan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa, pada nilai prestest dan post test saat diberikan pelatihan dengan ratarata selisih skor >50% dalam artian sangat Hal ini serupa dengan asumsi penelitian Saputri yang menjelaskan bahwa terdapat pengaruh pemberian pelatihan pertolongan pertama menggunakan metode audiovisual terhadap pengetahuan pemuda karang taruna mengenai kecelakaan lalu lintass(Saputri et al. , 2. Sejalan dengan penelitian Kristinawati yang menyatakan terdapat peningkatan pengetahuan/pemahaman dan keterampilan dengan nilai rerata baik pada masyarakat awam(Kristinawati et al. , 2. Penelitian Yohannes Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan . (Noer Hayati, dk. peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap perawatan pra-rumah sakit setelah diberikan pelatihan(Koster & Silesh, 2. Penelitian Sumadi juga membuktikan terdapat perbedaan terhadap penanganan fraktur sebelum dan setelah diberikan pelatihan(Sumadi et al. Triyani dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dengan nilai pengetahuan sebelum kurang menjadi baik, dan nilai keterampilan sebelum rendah menjadi baik sesudah pemberian pendidikan kesehatan(Triyani & Ramdani, 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian didapatkan nilai asymp. mempunyai nilai 0,000 atau p value 0,000 < 0,005 dan dapat disimpulkan AuHa diterimaAy bahwa terdapat perbedaan hasil pretest dan post test terkait tingkat pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas. Penelitian yang diberikan kepada para siswa-siswi ini adalah upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan skill dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus kecelakaan lalu lintas, mereka juga mengaku sangat senang dan berterima kasih karena mendapatkan ilmu yang bermanfaat saat menerapkannya ketika mereka menemukan kasus kejadian kecelakaan di jalan, sehingga mereka tidak takut kembali untuk membantu dan memberikan pertolongan bagi korban Kesimpulan Berlandaskan hasil penelitian yang didapat oleh peneliti pada siswa pelajar di SMAN 1 Suboh dari penggolongan usia dan jenis kelamin adalah siswa SMA yang memasuki usia remaja awal dapat berperan pertolongan pertama karena pada masa ini mereka terdorong untuk menjalin hubungan sosial yang baik. Tidak ditemukan kebutuhan khusus dalam hal gender atau pengkategorian responden berdasarkan jenis kelamin, namun peneliti menyarankan untuk lebih banyak dilakukan pada laki-laki, karena mereka memiliki rasa percaya diri dan keyakinan tinggi akan tanggung jawab dan tugasnya. Sedangkan hasil penelitian yang didapatkan dari nilai pretest posttest tingkat pengetahuan dan keterampilan terdapat pengaruh yang signifikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas sebagai first responder di lapangan, yang dibuktikan dengan rata-rata nilai pengetahuan dari 60,8% menjadi 81,1% dan rata-rata nilai keterampilan dari 0,0% menjadi 94,6%. Ucapan Terima Kasih Dengan alhamdulillah hirabbil 'alamin, penulis berterimakasih kepada Allah SWT, orang tua beserta keluarga tercinta dan seluruh pihak yang terkait dalam proses penelitian ini. Daftar Pustaka