Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 467-482 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Kreativitas, e-WOM, motif, dan kepemimpinan merek dalam membangun minat pembelian ulang: Peran mediasi emosi pada minuman kekinian di Kota Batam Edy Yulianto Putra*. Novi Angelina. Lily Purwianti Universitas Internasional Batam *) Korespondensi . -mail: yulianto@uib. Abstract Social media commerce has increasingly served as a primary platform for sharing product and service information, while also facilitating the buying and selling process. It has become a crucial source of information in consumer purchasing decisions. This study aims to examine the effects of stimuli, namely creativity, electronic word of mouth (E-WOM), motives, and brand leadership, on repurchase intention, with emotion acting as the mediating variable, among consumers of contemporary beverages in Batam City. Data were collected through a questionnaire distributed to 288 respondents and analyzed using the Structural Equation ModelingAePartial Least Squares (SEM-PLS) method. The findings indicate that creativity. EWOM, and motives have a significant and positive influence on repurchase intention through emotional mediation. In contrast, brand leadership has no significant effect. This study contributes to a broader understanding of the role of social media in shaping consumer purchasing decisions in the contemporary beverage industry. The findings also provide strategic implications for business actors to focus on enhancing creativity, strengthening wordof-mouth communication on social media, and fostering emotional connections with consumers to encourage repeat purchases. Keywords: Social Commerce. Social Media. Brand Leadership. Repurchase Intention. Digital Marketing. Abstrak Perdagangan melalui media sosial kini berperan sebagai platform utama dalam berbagi informasi produk dan layanan, sekaligus memfasilitasi proses penjualan dan pembelian. Media sosial juga telah menjadi sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan pembelian Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh stimulus berupa kreativitas, electronic word of mouth (E-WOM), motif, dan kepemimpinan merek terhadap niat pembelian ulang . epurchase intentio. , dengan emosi sebagai mediator pada konsumen minuman kekinian di Kota Batam. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 288 responden dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation ModelingAePartial Least Squares (SEMPLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas, e-WOM, dan motif berpengaruh signifikan positif terhadap niat pembelian ulang melalui mediasi emosi. Sebaliknya, kepemimpinan merek tidak berpengaruh signifikan. Penelitian ini berkontribusi dalam memperluas pemahaman tentang peran media sosial dalam membentuk keputusan pembelian di industri minuman kekinian. Temuan ini juga memberikan implikasi strategis bagi pelaku bisnis untuk fokus pada peningkatan kreativitas dan penyebaran informasi dari mulut ke mulut di media sosial, serta memperkuat hubungan emosional dengan konsumen guna mendorong pembelian ulang. Kata kunci: Perdagangan Sosial. Media Sosial. Kepemimpinan Merek. Niat Membeli Kembali. Pemasaran Digital How to cite: Putra. Angelina. , & Purwianti. Kreativitas. E-WOM, motif, dan kepemimpinan merek dalam membangun minat pembelian ulang: Peran mediasi emosi pada minuman kekinian di Kota Batam. Journal of Management and Digital Business, 5. , 467Ae482. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 468 Pendahuluan Pada era globalisasi, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah merubah hampir setiap segi kehidupan kita secara signifikan. Terutama selama pandemi Covid-19, masyarakat global merasa perlu tetap terhubung meskipun ada pembatasan fisik dan Menurut Sanjaya & Budiono . menggunakan media sosial saat ini sebagai alat informasi untuk membuat keputusan pembelian telah banyak digunakan dan bahkan menjadi kebutuhan sosial seluruh masyarakat. Menurut Irawan & Nasrun . , media sosial adalah platform yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan dan berbagi dalam konten yang dibuat, serta dapat berinteraksi dengan sesama pengguna secara online tanpa batasan waktu dan ruang. Meskipun penggunaan media sosial terus mengalami pertumbuhan yang pesat, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman mengenai bagaimana media tersebut dapat memengaruhi keputusan pembelian. Menurut Wulandari et al. , banyak pelaku bisnis memanfaatkan platform media sosial untuk mempromosikan produk mereka, tetapi tidak semua dari mereka berhasil membangun keterikatan emosional yang kuat dengan konsumen. Keterikatan ini sangat penting karena dapat berpengaruh pada niat konsumen untuk melakukan pembelian ulang. Gambar 1. Jumlah Pengguna Media Sosial Sumber: We Are Social . Menurut laporan We Are Social dan Meltwater, jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia per Januari 2023 mencapai 77% atau 212,9 juta dari total populasi Indonesia sebanyak 276,4 juta jiwa yang meningkat 1,8 juta dari populasi per 2022 Ini jelas menjadi kemajuan besar dalam teknologi karena media sosial memungkinkan orang untuk tetap terhubung dengan banyak orang, mendapatkan informasi, dan melakukan banyak aktivitas bisnis. Menurut Maydeline & Christiarini . , social commerce berfungsi sebagai media tempat berbagi informasi produk dan layanan tentang jenis produk perbelanjaan yang dipromosikan, serta proses penjualan dan pembelian produk. Menurut Wang et al. , social commerce adalah aplikasi komersial berbasis internet yang dikenal sebagai perdagangan sosial memanfaatkan media sosial dan teknologi web 2. 0 yang memungkinkan interaksi sosial dan konten yang dibuat oleh Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 469 pengguna untuk membantu pelanggan membuat keputusan tentang barang dan jasa baik di pasar online maupun komunitas. Menurut Purwianti & Dila . , social commerce berkembang pesat karena pengunaan media sosial yang semakin meluas dan mudah dipahami. Perdagangan melalui social commerce kini telah menjadi tren dengan memasarkan produknya di berbagai media sosial seperti Instagram. TikTok. Facebook dan platform lainnya (Syaharni & Kesumahati, 2. Salah satu tren bisnis yang berkembang adalah minuman kekinian. Saat ini, ada peningkatan daya saing perdagangan di Indonesia, termasuk persaingan di industri makanan dan minuman. Menurut Kompas. com, industri makanan dan minuman meningkat 5,35% selama triwulan pertama 2023. Karena persaingan di industri makanan dan minuman semakin tinggi dan sulit, pelaku usaha perlu mempunyai kemampuan merancang strategi untuk bertahan serta bersaing dengan pelaku usaha lainnya (Wang & Yu, 2. Menurut Veronica & Ilmi . , salah satu industri minuman kekinian yang sedang tren saat ini adalah Boba Drink. Minuman kekinian sering kali menjadi tren yang sedang terkenal, terutama di kalangan generasi Z. Menurut Afista et al. , . generasi Z adalah generasi internet yang lahir pada tahun 1995 hingga tahun 2010 yang biasanya mempunyai karakter pemuas keinginan dan belanja berlebihan. Generasi Z mempunyai karakteristik seperti ahli teknologi, berambisi tinggi, menggemari hal-hal instan, menginginkan kebebasan, percaya diri, merupakan generasi yang mengharapkan pengakuan dan memiliki dorongan untuk mandiri. Generasi Z cenderung menyukai minuman yang praktis, dianggap segar, dan tidak mengandung bahan pengawet. Tidak dapat disangkal bahwa minuman boba sekarang menjadi bagian gaya hidup bagi mereka. Generasi Z mempunyai dampak besar dalam menentukan tren konsumen saat ini dan di masa depan (Nugroho et al. , 2. Dengan perkembangan dalam era teknologi dan media sosial, selera mereka terhadap minuman kekinian menggambarkan perubahan sejauh mana minuman tersebut diminati oleh generasi ini dan juga dapat berdampak pada minat pembelian ulang (Sallaku & Vigolo, 2. Menurut Laparojkit & Suttipun . , minat pembelian ulang adalah penilaian seseorang untuk membeli ulang di perusahaan sebelumnya atau suatu minat untuk mengulang pembelian produk atau merek tertentu. minat pembelian ulang dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, termasuk pengaruh creativity . Xu et al. E-WOM . nformasi dari mulut ke mulu. Wang et al. , . , motives . Fang & Lee . , brand leadership . epemimpinan mere. Chiu & Cho . , dengan mediasi emotion . Simanjuntak et al. , . Menurut Li et al. , kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan ide atau karya yang inovatif, yang secara signifikan berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Kreativitas memengaruhi secara positif terhadap emosi. Menurut Chrisnathaniel et al. E-WOM adalah pendapat dan saran yang disampaikan melalui internet mengenai produk dan layanan. Menurut Xia. Zhang & Gu . Purwianti et al. E-WOM memengaruhi secara positif terhadap Emosi. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 470 Menurut Samoggia et al. , motif adalah suatu hal yang menjadi motivasi bagi individu untuk terlibat dzlam kegiatan khusus. Motif memengaruhi secara positif terhadap Emosi. Menurut Chiu & Cho . , kepemimpinan merek adalah perspektif konsumen terhadap suatu merek yang mencapai keunggulan dengan menggabungkan tren penentu dan penempatan merek di segmen industri tertentu. Menurut Chiu & Cho . , kepemimpinan merek memengaruhi secara positif terhadap emosi. Menurut Rahadhini et al. , emosi merupakan keadaan perasaan positif yang berkembang pada seseorang karena suasana hati atau kondisi yang menyenangkan, seperti merasa senang, kasih sayang, gembira, sukacita, atau puas. Menurut Simanjuntak et . , emosi memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang. Menurut Xu et al. kreativitas memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Menurut Cristimonica & Setiawan . EWOM memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi (Christina & Yulianto, 2. Menurut Fang & Lee . , motif memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Menurut Nathania & Susan . , kepemimpinan merek memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan tren pasar dan keinginan konsumen saat ini, terutama dalam faktor-faktor yang memengaruhi minat pembelian ulang dalam konteks minuman kekinian. Maka tujuan penelitan menganalisis pengaruh kreativitas . E-WOM, motif . , kepemimpinan merek . rand leadershi. terhadap minat pembelian ulang . epurchase intentio. dengan mediasi emosi . pada minuman kekinian di Kota Batam. Tinjauan Pustaka Minat Pembelian Ulang Penilaian seseorang untuk membeli ulang di perusahaan sebelumnya atau suatu minat untuk mengulang pembelian produk atau merek tertentu disebut dengan minat pembelian ulang (Laparojkit & Suttipun, 2. Sedangkan Khaddapi et al. mendefinisikan minat pembelian ulang sebagai keinginan konsumen untuk melakukan pembelian secara berulang, memberikan informasi yang baik kepada konsumen yang lain setelah konsumen tersebut mendapatkan pelayanan. Pada penelitian Ginting et . mendefinisikan minat pembelian ulang sebagai keinginan atau niat seorang pelanggan untuk melakukan pembelian ulang suatu barang atau jasa (Nainggolan et Emosi Penelitian menurut Xia. Zhang & Gu . mendefinisikan emosi sebagai faktor kunci dalam membentuk keputusan untuk melakukan pembelian ulang suatu produk. Emosi juga dapat didefinisikan sebagai rasa positif karena ingin membagikan pengalaman mengonsumsi sesuatu yang unik dan merasa puas dengan daya tarik yang diperoleh dari interaksi sosial. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 471 Kreativitas terhadap Minat Pembelian Ulang dengan Mediasi Emosi Penelitian menurut Xia. Zhang & Gu . mendefinisikan Kreativitas sebagai individu yang memiliki kemampuan menggunakan perilaku kreatif selama proses pemecahan masalah umumnya ditandai dengan kehadiran kreativitas sebagai salah satu ciri kepribadian mereka. Kreativitas juga dapat didefinisikan sebagai ciri dari proses pikiran atau hasil yang mengandung ide-ide kreatif. Individu yang memiliki kemampuan menggunakan perilaku kreatif selama proses pemecahan masalah umumnya ditandai dengan kehadiran kreativitas sebagai salah satu ciri kepribadian mereka merupakan definisi kreativitas yang disebutkan oleh Xia et al. Sedangkan Li et al. menyebutkan kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan ide atau karya yang inovatif, yang secara signifikan berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Xu et al. didapatkan hasil berupa kreativitas memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk menetapkan hipotesis sebagai berikut. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu. H1: Kreativitas berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi Emosi E-WOM terhadap Minat Pembelian Ulang dengan Mediasi Emosi Penelitian menurut Xia. Zhang & Gu . mendefinisikan E-WOM sebagai respons terhadap kemajuan teknologi dan media sosial, yang mencakup ulasan positif atau negatif yang diberikan oleh konsumen. Penelitian menurut Le et al. mendefinisikan E-WOM juga dapat didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang terjadi secara online, di mana orang-orang berbagi pengalaman, memberikan ulasan tentang layanan yang digunakan, serta mendiskusikan merek atau organisasi. Respons terhadap kemajuan teknologi dan media sosial, yang mencakup ulasan positif atau negatif yang diberikan oleh konsumen merupakan definisi E-WOM yang disebutkan oleh Xia et al. Pada penelitian yang dilakukan oleh Cristimonica & Setiawan . dan Christina & Yulianto . , didapatkan hasil berupa E-WOM memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang. Berdasarkan pembahasan sebelumnya adapun hipotesis penelitian ini yaitu. H2: E-WOM berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi Emosi Motif terhadap Minat Pembelian Ulang dengan Mediasi Emosi Penelitian menurut Xia et al. mendefinisikan motif sebagai dorongan yang membuat konsumen tertarik dan memutuskan untuk membeli. Motif juga dapat didefinisikan sebagai alasan yang mendorong seseorang untuk bertindak, termasuk dalam hal pembelian produk atau jasa. Sedangkan Samoggia et al. menyebutkan motif adalah suatu hal yang menjadi motivasi bagi individu untuk terlibat dalam kegiatan khusus. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fang & Lee . , didapatkan hasil berupa motif memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian Literasi ini akhirnya membentuk hipotesis penelitian yang dapat diajukan yaitu. H3: Motif berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi Emosi Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 472 Kepemimpinan Merek terhadap Minat Pembelian Ulang dengan Mediasi Emosi Penelitian menurut Kumgliang & Khamwon . mendefinisikan kepemimpinan merek sebagai inovasi yang berlangsung secara berkelanjutan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai karakteristik lainnya. Penelitian menurut Novitasari et al. mendefinisikan kepemimpinan merek sebagai pengembangan, pengelolaan, dan promosi merek dengan strategi yang menjadikannya sebagai pilar utama dalam dunia Pada penelitian yang dilakukan oleh Nathania & Susan . Kepemimpinan merek memengaruhi secara positif terhadap minat pembelian ulang. Literasi ini akhirnya membentuk hipotesis penelitian yang dapat diajukan yaitu. H4: Kepemimpinan merek berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Metode kuantitatif sebagai metode pengamatan dari pengujian yang diinginkan. Metode ini mengacu pada pengumpulan, pengolahan, dan interpretasi data kuantitatif untuk menghasilkan informasi yang dapat diukur secara objektif. Dalam metode analisis, peneliti mengumpulkan data dalam bentuk angka. Data ini kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS dikarenakan melihat hubungan kausal kompartif untuk menyajikan sebab akibat dalam pengaruh variabel (Hair et al. Berikut merupakan model penelitian yang dikembangkan dari hipotesis yang telah disebutkan sebelumnya Gambar 2. Model Penelitian Dalam menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan, disarankan untuk menggunakan setidaknya 100 sampel atau lebih saat menganalisis populasi yang tidak diketahui. Namun, cara lain menentukan sampel yang lebih tepat atau diterima yaitu dengan menggunakan rasio 10:1 (Hair et al. Oleh karena itu, terdapat 27 pertanyaan pada kuesioner yang disebar, dengan menggunakan rasio 10:1 maka sampel untuk penelitian yang dibutuhkan penulis setidaknya paling sedikit adalah 270 Adapun indikator masing-masing variabel sebagaimana Lampiran 1. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 473 Hasil dan Pembahasan 1 Hasil penelitian Berdasarkan penyebaran kuesioner yang dilakukan maka diperoleh ringkasan khususnya mengenai responden yang menjadi sampel penelitian ini, dapat dilihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Statistik Deskripsi Reponden Kategori Jenis Kelamin Sub-kategori Laki-laki Perempuan Usia 13-16 tahun 17-20 tahun 21-24 tahun 25-28 tahun Domilisi Batam Pendidikan SMP SMA/SMK Diploma (D1/D2/D. Sarjana (S1/S2/S. Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa . elum bekerj. Pegawai swasta Pegawai negeri Pengusaha Ibu rumah tangga Tidak bekerja Pengeluaran < Rp. Bulanan untuk Rp. 001 Ae Rp. Minuman Boba Rp. 001 Ae Rp. > Rp. Pernah Membeli Ya Minuman Boba secara Online Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan jenis kelamin, telah mencapai 288 peminat minuman boba. Profil demografis responden menunjukkan bahwa mereka sebagian besar adalah perempuan sebanyak 228 atau 79,2%, responden dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 60 atau 20,8%. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang tertarik pada minuman boba dan menjadi bagian dari sampel dalam penelitian ini adalah perempuan. Sementara berdasarkan usia, dapat diketahui dari 288 responden peminat minuman boba yang berusia 13-16 tahun sebesar 27 orang atau 9,4%, usia 17-20 tahun sebesar 86 orang atau 29,9%, usia 21-24 tahun sebanyak 76 orang atau 26,4%, dan 25-28 tahun sebesar 99 orang atau 34,4%. Dari angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar peminat minuman boba adalah usia 2528 tahun. Sementara, berdasarkan domisi, hanya Kota Batam yang menjadi fokus dalam penelitian ini dengan total 288 responden. Berdasarkan pendidikan terakhir, dapat diketahui 288 responden peminat minuman boba memiliki pendidikan pada tingkat SMP sebanyak 26 orang atau 9%, pada tingkat Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 474 SMA/SMK sebanyak 100 orang atau 34,7%, pada tingkat diploma (D1/D2/D. sebanyak 42 orang atau 14. 6%, pada tingkat sarjana (S1/S2/S. sebanyak 120 orang atau 41,7%. Dari jumlah tersebut menunjukkan bahwa mayoritas peminat minuman boba adalah pendidikan sarjana (S1/S2/S. Adapun berdasarkan pekerjaan, menyatakan bahwa tingkat pekerjaan responden sebagian besar merupakan pegawai swasta sebesar 81 orang atau 28. 1%, sedangkan pekerjaan lain yaitu pelajar/mahasiswa . idak bekerj. sebanyak 72 orang atau 25%, pegawai negeri sebanyak 55 orang atau 19,1%, pengusaha sebanyak 40 orang atau 13,9%, ibu rumah tangga sebanyak 19 orang atau 6,6%, dan yang tidak bekerja sebanyak 21 orang atau 7,3%. Adapun berdasarkan pengeluaran bulanan dalam pembelian minuman boba, menyatakan pengeluaran responden di bawah Rp. 000 sebanyak 65 orang atau22,6%. Rp. 001 Ae Rp. 000 sebanyak 144 orang atau 50%. Rp. 001 Ae Rp. 000 sebesar 71 orang atau 24,7%, dan di atas Rp. 001 sebanyak 8 orang atau 2,8%. Dari jumlah tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran bulanan dalam pembelian minuman boba respoden sebesar Rp. 001 Ae Rp. Selanjutnya, berdasarkan 288 responden yang disurvei, seluruhnya pernah melakukan pembelian minuman boba secara online. Tabel 2. Total Variance Explained Kompone Total 7,020 4,591 2,667 2,030 1,407 0,848 0,726 0,673 0,588 0,582 0,539 0,526 0,474 0,460 % Varian % Kumulatif Kompone Total % Varian Initial Eigenvalues 26,000 26,000 0,437 1,620 17,003 43,003 0,406 1,504 9,878 52,881 0,393 1,454 7,517 60,398 0,366 1,354 5,212 65,610 0,334 1,237 3,140 68,749 0,315 1,166 2,689 71,438 0,303 1,122 2,494 73,932 0,274 1,015 2,176 76,108 0,257 ,953 2,156 78,264 0,225 ,834 1,997 80,261 0,197 ,729 1,948 82,209 0,188 ,697 1,754 83,963 0,175 ,648 1,704 85,667 Extraction Sums of Squared Loadings % Kumulatif 87,287 88,791 90,245 91,600 92,837 94,003 95,125 96,140 97,093 97,926 98,655 99,352 100,000 Hasil uji CMB dapat dilihat pada tabel AuTotal Variance ExplainedAy. Data dikatakan bebas dari Common Method Variance / Common Method Bias apabila nilai Au% varianAy kurang dari 50%. Hasil output diatas menunjukkan bahwa nilai % varian sebesar 26,000% yang berarti bahwa data bebas dari Common Method Variance. Sehingga, analisis PLS dapat dilanjutkan. Berdasarkan Tabel 3, korelasi antar sesama variabel menyatakan nilai korelasi diatas 0,7. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antar konstruk dalam model yang diteliti. Nilai korelasi yang tinggi ini mengindikasikan bahwa variabel-variabel tersebut memiliki keterkaitan yang erat Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 475 BL1 BL2 BL3 BL4 EWOM1 EWOM2 EWOM3 EWOM4 EWOM5 RI1 RI2 RI3 RI4 0,821 0,855 0,756 0,803 0,721 0,664 0,705 0,706 0,657 0,627 0,695 0,702 0,681 0,668 0,717 0,718 0,701 0,667 0,691 0,642 0,712 0,603 0,668 0,705 0,739 0,724 0,659 Tabel 3. Cross Loading Creativity Emotion Motives 0,670 0,654 0,585 0,736 0,724 0,676 0,681 0,618 0,644 0,714 0,705 0,673 0,839 0,768 0,717 0,758 0,689 0,678 0,818 0,732 0,740 0,791 0,709 0,703 0,782 0,703 0,685 0,710 0,807 0,714 0,760 0,819 0,732 0,699 0,784 0,699 0,736 0,828 0,694 0,739 0,797 0,702 0,689 0,681 0,703 0,740 0,742 0,732 0,704 0,697 0,654 0,702 0,659 0,647 0,699 0,682 0,617 0,712 0,712 0,846 0,781 0,757 0,863 0,706 0,708 0,801 0,712 0,716 0,788 0,733 0,691 0,696 0,770 0,740 0,730 0,735 0,713 0,678 0,708 0,684 0,644 0,683 0,743 0,642 0,692 0,762 0,687 0,720 0,690 0,688 0,697 0,715 0,670 0,698 0,664 0,699 0,691 0,684 0,642 0,676 0,672 0,733 0,664 0,666 0,870 0,862 0,796 0,786 E-WOM 0,717 0,742 0,686 0,689 0,758 0,679 0,695 0,731 0,665 0,657 0,707 0,695 0,712 0,727 0,805 0,819 0,795 0,787 0,790 0,641 0,741 0,687 0,699 0,732 0,719 0,711 0,650 Tabel 4. Composite Reliability & CronbachAos Alpha Variabel Creativity E-WOM Motives Brand Leadership Emotion Repurchase Intention CronbachAos Alpha 0,857 0,859 0,843 0,824 0,866 0,848 Composite Reliability 0,898 0,898 0,895 0,884 0,903 0,898 Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Tabel 4, menunjukkan data variabel kreativitas teruji reliabel dengan nilai 0,857, data variabel E-WOM teruji reliabel dengan nilai 0,859, data variabel motif teruji reliabel dengan nilai 0,843, data variabel kepemimpinan merek teruji reliabel dengan nilai 0,824, data variabel emosi teruji reliabel dengan nilai 0,866, dan data variabel minat pembelian ulang teruji reliabel dengan nilai 0,848. Analisa selanjutnya akan melihat kecocokan . model dalam penentuan kekuatan serta kesesuaian model yang digunakan dalam penelitian ini, selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Model Fit Summary SRMR d_ULS Chi-Square NFI Saturated Model Estimated Model 0,050 0,060 0,943 1,351 0,725 0,818 1068,463 1147,538 0,826 0,814 Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 476 Hasil pengujian pada Tabel 5 menunjukkan adanya model fit yang cukup baik dalam konstruk yang digunakan, menurut Ringle et al. bahwa syarat untuk kesesuaian minimal model adalah mengacu pada nilai kriteria dengan ambang batas tertentu yaitu dengan nilai SRMR < 0,08 dan NFI > 0,90. Berdasarkan acuan tersebut maka model fit konstruk penelitian ini dapat diterima, dimana nilai SRMR 0,060 (<0,. dan juga nilai NFI . yang masih tergolong marginal fit. Analisis selanjutnya akan melihat pengujian struktural model dalam pengujian hipotesis melalui analisis inner model tang dapat dilihat pada Gambar 3 dan Tabel 6. Gambar 3. Hasil Uji Inner Model Tabel 6. Model Struktural Jalur Mediasi t-hitung Creativity -> Emotion -> Repurchase 5,088 0,000 Intention E-WOM -> Emotion -> Repurchase 3,028 0,003 Intention Motives -> Emotion -> Repurchase 5,080 0,000 Intention Brand Leadership -> Emotion -> 1,717 0,087 Repurchase Intention Keterangan Signifikan Positif Signifikan Positif Signifikan Positif Tidak Signifikan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa variabel kreativitas. E-WOM, dan motif berpengaruh signifikan positif terhadap minat pembelian ulang melalui mediasi emosi, dengan nilai t-hitung masing-masing 5,088. 3,028. dan 5,080 serta prob. < 0,05. Sementara itu, variabel kepemimpinan merek tidak menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t-hitung 1,717 dan prob. 0,087 Emotion Repurchase Intention Tabel 7. R Square R-Square 0,857 0,729 R-Square Adjusted 0,855 0,728 Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 477 Berdasarkan Tabel 7, hasil R-square menunjukkan variabel emosi termasuk dalam kategori kuat karena nila memenuhi kriteria > 0,75 yaitu sebesar 0,857. Selain itu, terdapat hasil R-square menunjukkan variabel minat pembelian ulang termasuk dalam kategori moderate karena nilai telah memenuhi kriteria > 0,50 yaitu sebesar 0,729. 2 Pembahasan Kreativitas. Emosi, dan Pembentukan Minat Pembelian Ulang Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Nilai yang dirasakan oleh konsumen merupakan hasil dari interaksi mereka dengan produk. Dengan kata lain, nilai ini mencerminkan penilaian keseluruhan yang dilakukan oleh konsumen terhadap kegunaan suatu produk atau layanan, setelah mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya serta manfaat yang mereka rasakan. Konsumen mengevaluasi nilai produk berdasarkan kualitas rasa, desain kemasan, dan pengalaman yang mereka alami, baik secara langsung maupun melalui interaksi di media sosial. Jika konsumen merasa bahwa manfaat yang mereka terima jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, mereka cenderung memberikan penilaian yang positif terhadap minuan kekinian tersebut (Xu et al. E-WOM. Emosi, dan Pembentukan Minat Pembelian Ulang Hasil pengujian hipotesis menunjukkan E-WOM berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi Emosi. Niat membeli kembali mencerminkan kombinasi antara minat konsumen terhadap merek atau produk dan kemungkinan mereka untuk melakukan pembelian ulang. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan sikap dan preferensi yang dimiliki konsumen terhadap merek atau produk tertentu. Oleh karena itu, niat membeli kembali dianggap sebagai standar yang menggambarkan perilaku pembelian yang sesungguhnya (Christina & Yulianto, 2. Semakin positif emosi yang dirasakan konsumen melalui pengalaman mereka dengan minuman kekinian, semakin tinggi kemungkinan mereka untuk meningkatkan E-WOM. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman positif yang dialami konsumen terhadap minuman kekinian dapat memperkuat sikap positif mereka terhadap merek, serta meningkatkan E-WOM (Chrisnathaniel et al. Motif. Emosi, dan Pembentukan Minat Pembelian Ulang Motif berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Artinya, ketika konsumen memiliki alasan internal yang kuat untuk memuaskan diri, mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, atau menjaga keterikatan emosional dengan merek, maka mereka lebih cenderung untuk membeli kembali produk tersebut. Apabila minuman kekinian mampu memberikan kepuasan secara konsisten, serta membuat konsumen merasa dihargai oleh merek tersebut, maka mereka akan lebih cenderung untuk melakukan pembelian ulang. Motivasi ini umumnya berasal dari pengalaman positif yang pernah mereka alami sebelumnya, atau dari kepercayaan terhadap kualitas produk sehingga meningkatkan niat untuk membeli kembali. (Fang & Lee, 2. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 478 Kepemimpinan merek. Emosi, dan Pembentukan Minat Pembelian Ulang Berbeda dengan hasil lainnya, hasil pengujian menunjukkan kepemimpinan merek tidak berpengaruh signifikan terhadap minat pembelian ulang dengan mediasi emosi. Meskipun merek yang kuat dan berpengaruh signifikan di pasar mampu mempengaruhi kepercayaan konsumen, kepemimpinan merek yang kuat tidak selalu memberikan dampak signifikan terhadap emosi konsumen. Walaupun konsumen merasa yakin terhadap suatu merek, seperti kualitas produk, pengalaman pengguna, atau niali yang dirasakan bisa lebih mendominasi dalam membentuk emosi mereka. Ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap suatu merek tidak selalu menciptakan hubungan emosional yang kuat, karena faktor-faktor lain seringkali lebih berperan dalam memberikan pengalaman dan kepuasan kepada konsumen (Nathania & Susan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variabel Kreativitas. E-WOM. Motif. Kepemimpinan merek memiliki pengaruh signifikan positif terhadap variabel minat pembelian ulang dengan mediasi Emosi. Social commerce merupakan aplikasi komersial berbasis internet yang dikenal sebagai perdagangan sosial memanfaatkan media sosial dan teknologi web 2. 0 yang memungkinkan interaksi sosial dan konten yang dibuat oleh pengguna untuk membantu pelanggan membuat keputusan tentang barang dan jasa baik di pasar online maupun komunitas. Perdagangan melalui social commerce kini telah menjadi tren dengan memasarkan produknya di berbagai media sosial seperti Instagram. TikTok. Facebook dan platform lainnya. Salah satu industri minuman kekinian yang sedang tren saat ini adalah Boba Drink. Minuman kekinian sering kali menjadi tren yang sedang terkenal, terutama di kalangan generasi Z. Generasi Z mempunyai dampak besar dalam menentukan tren konsumen saat ini dan di masa depan. Dengan perkembangan dalam era teknologi dan media sosial, selera mereka terhadap minuman kekinian menggambarkan perubahan sejauh mana minuman tersebut diminati oleh generasi ini dan juga dapat berdampak pada minat pembelian ulang. Kreativitas. E-WOM, dan Emosi sebagai faktor yang memengaruhi keputusan untuk membeli ulang, serta memperluas pemahaman mengenai peran generasi Z dalam tren konsumsi saat ini. Hasil penelitian ini memberikan wawasan dan juga implikasi yang bermanfaat untuk pelaku bisnis, khususnya di sektor makanan dan minuman, tentang bagaimana memanfaatkan social commerce secara maksimal untuk memperkuat loyalitas konsumen serta membantu mereka memahami peran berbagai faktor dalam menarik minat konsumen dan mendorong keputusan untuk melakukan pembelian ulang. Adapun kontribusi terhadap pengembangan teori dari penelitian ini yaitu melihat peran mediasi dalam hal ini dengan pendekatan secara emosional terhadap konsumen untuk melihat respon akhir yang dihasilkan sehingga dapat menggambarkan secara jelas bahwa respon yang diberikan adalah niat pembelian ulang yang dilakukan. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 479 Referensi