REKA KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ISSN . : 2829-0. DOI: https://doi. org/10. 26760/rekakarya. Volume 5 | Nomor 1 Maret 2026 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan Baskoro Tri Julianto1. Satyanto Krido Saptomo2. Moh. Yanuar Jarwadi Purwanto3 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Indonesia Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan. Fakultas Teknik dan Teknologi. Institut Pertanian Bogor. Indonesia Pusat Pengkajian. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Kampus IPB Baranang Siang. Institut Pertanian Bogor. Indonesia 220701baskoro@ummi. id 1, saptomo@apps. id 2, yanuar. tta@gmail. ABSTRAK Kegiatan studi ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan air irigasi berdasarkan berbagai skenario pola tanam padi pada sawah rakyat di Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Data iklim selama dua dekade . 4Ae2. dari Stasiun Meteorologi Mopah digunakan sebagai dasar pemodelan dengan perangkat lunak CROPWAT yang menerapkan metode PenmanAeMonteith. Sebanyak 15 skenario pola tanam padi-padi-padi disimulasikan dengan pergeseran waktu tanam setiap 10 hari mulai dari 1 Oktober. Hasil menunjukkan bahwa pola tanam yang dimulai dari awal hingga puncak musim hujan memiliki efisiensi penggunaan air tertinggi dengan kebutuhan irigasi di bawah 0,5 l/s/ha, sementara pola tanam pada musim kemarau memerlukan debit lebih dari 1 l/s/ha. Perbandingan antara perhitungan curah hujan efektif USDA dan skenario konservatif . anpa curah hujan efekti. menunjukkan perbedaan kebutuhan air hingga 60%. Studi ini menekankan pentingnya menyinkronkan waktu tanam dengan dinamika curah hujan dan menerapkan metode perhitungan curah hujan efektif untuk mendukung perencanaan irigasi yang efisien dan berkelanjutan di sawah-sawah petani kecil di Merauke. Kata kunci: analisis kebutuhan air irigasi. CROPWAT, hujan efektif. Merauke, pola tanam Reka Karya - 102 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan PENDAHULUAN Program cetak sawah rakyat merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk menambah luasan lahan produktif dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Kabupaten Merauke di Papua Selatan termasuk wilayah yang secara geomorfologi dan ketersediaan ruang memiliki potensi besar untuk pengembangan sawah skala luas. Namun demikian, studi lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan pemanfaatan lahan baru sangat ditentukan oleh aspek rekayasa irigasi, khususnya terkait ketersediaan, distribusi, dan pengelolaan air . , . Dengan karakteristik iklim yang bervariasi, tanah bertekstur pasir hingga lempung berpasir, serta jaringan irigasi permukaan yang masih terbatas, kebutuhan air tanaman pada lahan cetak sawah di Merauke harus dihitung secara akurat dan sistematis. Dalam konteks rekayasa sipil sumber daya air, perencanaan irigasi yang andal menuntut estimasi evapotranspirasi referensi (ET. dan kebutuhan air tanaman menggunakan metode baku. Persamaan PenmanAeMonteith sebagaimana dirumuskan dalam FAO Irrigation and Drainage Paper No. 56 adalah standar internasional untuk menghitung ETo, sementara perangkat lunak seperti CROPWAT digunakan secara luas untuk menyimulasikan kebutuhan irigasi berdasarkan pola tanam dan kondisi iklim yang berbeda . , . Penggunaan metode ini memungkinkan perbandingan berbagai skenario pola tanam serta evaluasi alokasi air yang paling efisien di bawah keterbatasan infrastruktur irigasi. Ruang lingkup kegiatan cetak sawah di Merauke mencakup serangkaian tahapan teknis yang biasanya berada dalam domain rekayasa sipil, antara lain: penyiapan dan pembukaan lahan. perencanaan dan konstruksi jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier. perhitungan kebutuhan air untuk satu atau beberapa musim tanam. analisis kehilangan air akibat perkolasi dan infiltrasi yang relatif tinggi pada kondisi tanah lokal. serta penentuan strategi operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi agar penyaluran air antar petak berjalan sinkron. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingginya kehilangan air di wilayah ini merupakan faktor pembatas utama, sehingga pola tanam harus dirancang secara terpadu untuk memaksimalkan efisiensi pemanfaatan air . , . Berdasarkan kebutuhan tersebut, makalah ini menguraikan metode perhitungan kebutuhan air irigasi menggunakan pendekatan PenmanAeMonteith dan perangkat lunak CROPWAT, kemudian mengevaluasi beberapa skenario pola tanam yang relevan bagi program cetak sawah rakyat di Merauke. Kajian ini merupakan langkah awal untuk menyediakan rekomendasi teknis yang dapat mendukung perencanaan irigasi yang lebih efisien, adaptif terhadap kondisi lokal, dan berkelanjutan dalam jangka METODOLOGI Pengambilan Data Pada kajian ini, data iklim dan hidrologi diambil berdasarkan laman data online BMKG pada stasiun Meteorologi Mopah dengan ID WMO 97980 yang berada pada koordinat lintang -8,52019 dan bujur 140,41568 serta elevasi 3,0 mdpl. Data yang diambil berupa temperatur maksimum (T. temperatur minimum (T. , temperatur rerata (T. , lama penyinaran matahari . , kelembaban rerata (RH), kecepatan angin rerata . dan curah hujan harian (RR) dari periode 2004-2024 . Pengolahan Data Olah data dilakukan di Bogor, terutama di kampus IPB University Dramaga dan kantor Pusat Pengkajian. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W). IPB University Baranangsiang pada selama bulan Juni dan Juli, 2025. Pengolahan data terdiri dari pemodelan evapotranspirasi, perhitungan hujan efektif, penentuan parameter tanaman, penentuan parameter tanah, pembuatan skenario pola tanam dan kalkulasi skema irigasi. Pengolahan data tersebut dibantu dengan perangkat lunak Reka Karya - 103 Baskoro Tri Julianto. Satyanto Krido Saptomo. Moh. Yanuar Jarwadi Purwanto CROPWAT. Perangkat lunak CROPWAT secara default memodelkan evapotranspirasi menggunakan persamaan Penman-Monteith sebagai berikut . , . , . , . yaycNycu = 0,408OIycIycu yu ycN 273 ycO2 . ceyc Oe yceyca ) . OI yu. 0,34ycO2 ) Dimana ETo adalah evapotranspirasi acuan . m, har. Rn adalah radiasi matahari neto di atas permukaan tanaman (MJ/m2/har. T adalah suhu udara rerata (AC). U2 adalah kecepatan angin pada ketinggian 2,0 m di atas permukaan tanah . , es adalah tekanan uap air jenuh . , ea adalah tekanan uap air aktual . , i adalah kemiringan kurva tekanan uap air terhadap suhu . Pa/AC) dan adalah konstanta psikrometri . Pa/AC). Perhitungan hujan efektif dilakukan melalui dua skenario, yaitu hujan efektif diperhitungkan dan tidak Hujan efektif diperhitungkan menggunakan metode USDA pada Persamaan 2 . Pe adalah hujan efektif . dan P adalah hujan harian . Sementara untuk hujan efektif tidak diperhitungkan disimulasikan untuk menggambarkan kondisi worst-case scenario yang ycEyce = . cE O 250 ycoyco, ycEyce = ycE. Oe 0,2ycE) ycE > 250 ycoyco, ycEyce = 125 0,1ycE . Evapotranspirasi acuan digunakan untuk menghitung evapotranspirasi tanaman. Dimana nilai evapotranspirasi tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut . yaycNyca = yaycNycu y yayca Dimana. ETc adalah evapotranspirasi tanaman . m/har. dan Kc adalah koefisien tanaman. Koefisien tanaman adalah koefisien tanpa satuan yang merepresentasikan seberapa besar konsumsi air untuk kegiatan evapotranspirasi. Koefisien tanaman ditentukan berdasarkan jenis tanaman dan fase hidupnya. Berdasarkan Allen et al. , nilai Kc untuk tanaman padi adalah 1,05 pada fase awal. 1,20 pada fase pertengahan musim dan 0,90-0,60 pada fase akhir musim . Secara model di CROPWAT, tanaman padi yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1. Reka Karya - 104 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan Gambar 1. Model Tanaman yang Digunakan Pemodelan tanah yang digunakan menggunakan asumsi bahwa total air tersedia pada tanah sebesar 130,00 mm/mAo. Hal ini dikarenakan pada studi awal ini data tanah belum didapatkan secara lengkap. Nilai ini diambil dari selisih antara field capacity (FC) dan permanent wilting point (PWP) dengan laju infiltrasi diasumsikan sebesar 10 mm/hari untuk tanah sawah serta kedalaman akar diasumsikan sepanjang 20 cm. Model tanah yang digunakan pada kajian ini dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Model Tanah yang Digunakan Pada perangkat lunak CROPWAT, kebutuhan air irigasi . rrigation water requiremen. dihitung berdasarkan neraca air di lapangan yang disederhanakan yang dapat dinyatakan sebagai berikut: yayc ycEyce yaycI = yaycNyca yaycE ycIycC Dimana Ir adalah air irigasi. Pe adalah hujan efektif. CR adalah air yang naik dari kapilaritas. DP adalah perkolasi dan RO adalah limpasan. Persamaan 4 dapat disederhanakan menjadi perubahan terhadap waktu antara evapotranspirasi tanaman dengan hujan efektif. Pada CROPWAT, kebutuhan neto irigasi dihitung berdasarkan total kebutuhan air irigasi pada tingkat skema selama periode waktu tertentu yang dihitung secara bulanan serta mempertimbangkan kebutuhan irigasi tanaman di lapangan selama periode analisis dan luas lahan yang ditanami yang dapat dinyatakan dalam bentuk rerata mm/hari, mm/bulan atau l/s/ha. Perhitungan kebutuhan neto irigasi mempertimbangkan juga skenario pola tanam. Pola tanam dirancang berdasarkan survei lapangan yang dilakukan dengan metode wawancara petani dan GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Petan. di wilayah Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Pola tanam dirancang menjadi 15 skenario dengan pola tanam padi-padi-padi selama satu tahun. Reka Karya - 105 Baskoro Tri Julianto. Satyanto Krido Saptomo. Moh. Yanuar Jarwadi Purwanto PELAKSANAAN Kondisi Iklim dan Hidrologi Dari olah data iklim dan hidrologi berdasarkan data online BMKG, diperoleh hasil sebagai berikut. Gambar 3. Rerata Kondisi Iklim dari Tahun 2004-2024 di Stasiun Meteorologi Mopah Gambar 3 menyajikan nilai rerata kondisi iklim yang diambil dari tahun 2004-2024 di stasiun Meteorologi Mopah. Kabupaten Merauke. Data menunjukkan karakter iklim tropis lembab yang relatif stabil sepanjang tahun. Kecepatan angin rata-rata berkisar antara 3,4Ae5,1 m/s dengan nilai tertinggi pada September dan terendah pada AprilAe Mei, menunjukkan pengaruh sirkulasi angin musiman. Suhu udara rerata berada pada rentang 25,4Ae 28,1AC, dengan suhu tertinggi pada NovemberAeDesember dan terendah pada JuliAeAgustus, menggambarkan fluktuasi termal yang kecil. Lama penyinaran matahari bervariasi antara 4,5Ae 7,3 jam per hari, meningkat pada OktoberAeNovember saat cuaca relatif cerah dan menurun pada awal tahun ketika curah hujan tinggi. Kelembaban relatif berkisar 78Ae84%, tertinggi pada FebruariAeMaret dan terendah pada OktoberAeNovember, menunjukkan dominasi udara lembab hampir sepanjang tahun. Reka Karya - 106 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan Kombinasi antara suhu tinggi yang stabil, kelembaban tinggi, dan penyinaran yang bervariasi ini menandakan bahwa wilayah Mopah memiliki potensi evapotranspirasi yang moderat hingga tinggi, dengan kebutuhan air irigasi meningkat pada periode kering ketika penyinaran dan kecepatan angin mencapai puncaknya. Neraca air bulanan pada periode tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Neraca Air Bulanan pada Stasiun Meteorologi Mopah pada Periode 2004-2024 Gambar 4 menunjukkan neraca air bulanan di Stasiun Meteorologi Mopah selama periode 2004Ae2024 yang menggambarkan pola iklim tropis dengan ciri perbedaan jelas antara musim hujan dan musim kemarau, namun dengan karakteristik yang agak tidak umum dibandingkan wilayah tropis Indonesia pada umumnya. Curah hujan (P) tertinggi terjadi pada bulan Maret sebesar 370,5 mm dan umumnya tinggi pada Januari hingga April, menandakan periode surplus air ketika nilai PAeET bernilai positif. Mulai Mei, curah hujan menurun signifikan dan menyebabkan defisit air (PAeET negati. dari Juni hingga November, dengan puncak kekeringan pada September sebesar Ae110,1 mm akibat evapotranspirasi (ET) yang tetap tinggi dan melampaui curah hujan. ET sendiri relatif stabil sepanjang tahun, berkisar antara 100Ae160 mm/bulan, mencerminkan kebutuhan air vegetasi yang konstan. Neraca air kembali positif pada Desember . ,8 m. seiring meningkatnya curah hujan yang menandai awal musim hujan. Pola ini tergolong tidak umum karena periode surplus air lebih panjang di awal tahun dan periode defisitnya lebih lama hingga akhir tahun, menunjukkan adanya pengaruh lokal seperti posisi geografis Mopah di selatan Papua yang menyebabkan musim kering berlangsung lebih panjang akibat dominasi angin monsun Australia. Secara keseluruhan. Gambar 4 mengindikasikan bahwa wilayah Mopah mengalami kondisi surplus air pada awal tahun dan defisit panjang pada pertengahan hingga akhir tahun, sehingga diperlukan strategi pengelolaan air yang efektif untuk memanfaatkan kelebihan air di musim hujan dan mengantisipasi kekeringan pada musim kemarau. Skenario Pola Tanam Penyusunan dan penentuan skenario pola tanam didasari pada hasil survei wawancara kepada para petani di Kabupaten Merauke. Mayoritas petani di beberapa Distrik di Merauke seperti Semangga,Tanah Miring. Kurik dan Jagebob menyatakan bahwa biasanya kegiatan tanam padi dimulai antara bulan September hingga bulan Oktober. Maka dari itu, disusun 15 skenario pola tanam yang dimulai dari tanggal 01 Oktober hingga 106 hari ke depan untuk satu periode tanamnya. Satu periode tanam ini didasari pada asumsi umur panen padi yang tersaji pada Gambar 1 yaitu 106 hari. Skenario pola tanam lainnya diatur maju 10 hari dari hari tanam pertama pola tanam sebelumnya. Rekapitulasi skenario pola tanam tersaji pada Tabel 1 dan sampel dokumentasi wawancara dengan petani tersaji pada Gambar 5. Reka Karya - 107 Baskoro Tri Julianto. Satyanto Krido Saptomo. Moh. Yanuar Jarwadi Purwanto Tabel 1. Skenario Pola Tanam yang Digunakan pada Model Pola Tanam Tanam 1 Panen 1 Tanam 2 Panen 2 Tanam 3 Panen 3 01/10 11/10 21/10 31/10 01/11 11/11 14/01 24/10 03/02 13/02 14/02 24/02 29/01 08/02 18/02 28/02 01/03 11/03 14/05 24/05 03/06 13/06 14/06 24/06 29/05 08/06 18/06 27/06 28/06 08/07 11/09 21/09 01/10 10/10 11/10 21/10 21/11 01/12 11/12 21/12 31/12 01/01 11/01 21/01 31/01 06/03 16/03 26/03 05/04 15/04 16/04 26/04 06/05 16/05 21/03 30/03 09/04 19/04 29/04 01/05 10/05 20/05 30/05 04/07 13/07 23/07 02/08 12/08 14/08 23/08 02/09 12/09 18/07 29/07 08/08 18/08 28/08 28/08 07/09 17/09 27/09 31/10 11/11 21/11 01/12 11/12 11/12 21/12 31/12 10/01 Gambar 5. Sampel Dokumentasi Wawancara dengan Petani dan FGD di Distrik Kurik dan Jagebob. Kabupaten Merauke Model Kebutuhan Air Irigasi Model perhitungan kebutuhan air irigasi menggunakan CROPWAT dilakukan pada dua pendekatan, yaitu perhitungan hujan efektif berdasarkan USDA dan hujan efektif yang diabaikan. Keduanya disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3. Reka Karya - 108 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan Tabel 2. Model Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam dan Hujan Efektif Dihitung Menggunakan Metode USDA Tanam Jan 0,51 0,23 0,01 0,01 0,01 0,03 0,02 0,02 0,01 0,00 0,00 0,00 0,22 0,37 0,38 Feb 0,00 0,33 0,34 0,34 0,56 0,20 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Mar 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,22 0,37 0,39 0,21 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Kebutuhan Air Irigasi Lahan Aktual . /s/. Apr Mei Jun Jul Agu Sep 0,00 0,53 0,18 0,32 0,43 0,44 0,00 0,22 0,48 0,30 0,48 0,18 0,00 0,01 0,55 0,28 0,47 0,34 0,00 0,05 0,56 0,27 0,46 0,48 0,00 0,06 0,51 0,27 0,46 0,49 0,00 0,08 0,10 0,56 0,44 0,54 0,00 0,07 0,14 0,63 0,42 0,54 0,00 0,06 0,22 0,61 0,41 0,52 0,31 0,05 0,24 0,15 0,69 0,50 0,52 0,04 0,24 0,20 0,38 0,48 0,52 0,03 0,23 0,30 0,34 0,46 0,40 0,03 0,22 0,31 0,34 0,46 0,20 0,23 0,21 0,33 0,33 0,66 0,00 0,44 0,19 0,33 0,32 0,53 0,00 0,46 0,18 0,32 0,44 0,47 Okt 0,43 0,90 0,47 0,40 0,40 0,16 0,29 0,47 0,52 0,51 0,50 0,50 0,48 0,45 0,43 Nov 0,40 0,37 0,35 0,33 0,33 0,81 0,87 0,27 0,15 0,26 0,37 0,37 0,42 0,42 0,41 Des 0,10 0,12 0,11 0,09 0,09 0,07 0,05 0,04 0,27 0,20 0,19 0,20 0,10 0,06 0,08 Perbandingan Tabel 2 dan Tabel 3 menunjukkan pengaruh yang sangat jelas dari metode perhitungan hujan efektif terhadap hasil estimasi kebutuhan air irigasi pada berbagai pola tanam dan kondisi Tabel 2 menggunakan pendekatan USDA (United States Department of Agricultur. dalam menentukan hujan efektif, sedangkan Tabel 3 mengasumsikan hujan efektif bernilai nol. Perbedaan pendekatan ini berdampak langsung pada variasi besarnya kebutuhan air irigasi . /s/h. sepanjang tahun. Pada Tabel 2, di mana hujan efektif diperhitungkan, kebutuhan irigasi cenderung lebih rendah dan berfluktuasi mengikuti pola musim hujan dan kemarau. Misalnya, pada Pola Tanam 1 dan 2, kebutuhan air di bulan-bulan basah (JanuariAeMe. sangat kecil, sedangkan pada bulan-bulan kering (JuniAe Novembe. Pola ini menunjukkan bahwa metode USDA berhasil merepresentasikan kontribusi curah hujan terhadap pemenuhan kebutuhan air tanaman, di mana curah hujan efektif mampu mengurangi debit irigasi yang diperlukan selama musim hujan. Puncak kebutuhan air terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kemarau, yakni antara Juli dan Oktober, saat curah hujan menurun signifikan dan evapotranspirasi meningkat. Tabel 3. Model Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam dengan Mengabaikan Hujan Efektif Tanam Jan 0,40 0,25 0,47 0,58 0,59 0,61 0,60 0,59 0,57 0,55 0,53 0,53 0,75 0,73 Feb 0,52 0,85 0,37 0,33 0,41 0,25 0,49 0,59 0,60 0,59 0,58 0,57 0,55 0,53 Mar 0,55 0,53 0,51 0,50 0,50 0,71 0,36 0,34 0,25 0,47 0,56 0,56 0,57 0,56 Kebutuhan Air Irigasi Lahan Aktual . /s/. Apr Mei Jun Jul Agu Sep 0,54 0,37 0,43 0,49 0,53 0,48 0,56 0,23 0,73 0,47 0,57 0,21 0,55 0,40 0,38 0,45 0,57 0,45 0,54 0,50 0,37 0,44 0,56 0,60 0,54 0,50 0,35 0,44 0,56 0,61 0,52 0,52 0,20 0,73 0,54 0,66 0,50 0,51 0,38 0,39 0,52 0,65 0,49 0,50 0,47 0,36 0,50 0,64 0,79 0,48 0,49 0,21 0,79 0,62 0,43 0,47 0,48 0,37 0,42 0,60 0,39 0,46 0,47 0,47 0,38 0,58 0,34 0,45 0,47 0,49 0,39 0,58 0,25 0,65 0,46 0,5 0,38 0,78 0,47 0,37 0,44 0,5 0,42 0,58 Reka Karya - 109 Okt 0,63 1,11 0,54 0,47 0,47 0,22 0,49 0,67 0,72 0,72 0,71 0,71 0,68 0,66 Nov 0,70 0,68 0,66 0,64 0,64 1,11 1,09 0,37 0,23 0,51 0,68 0,68 0,73 0,73 Des 0,64 0,66 0,65 0,63 0,63 0,61 0,59 0,58 0,80 0,39 0,32 0,33 0,21 0,45 Baskoro Tri Julianto. Satyanto Krido Saptomo. Moh. Yanuar Jarwadi Purwanto Tanam Jan 0,31 Feb 0,52 Mar 0,55 Kebutuhan Air Irigasi Lahan Aktual . /s/. Apr Mei Jun Jul Agu Sep 0,55 0,35 0,43 0,49 0,54 0,52 Okt 0,64 Nov 0,71 Des 0,60 Sebaliknya, pada Tabel 3, di mana hujan efektif dianggap nol, kebutuhan air irigasi meningkat secara konsisten di semua bulan dan pola tanam. Sebagai contoh, pada Pola Tanam 2, kebutuhan air bulan Oktober meningkat dari 0,90 L/s/ha (Tabel . menjadi 1,11 l/s/ha (Tabel . Kenaikan yang sama juga terjadi pada Pola Tanam 7, di mana kebutuhan air bulan November naik dari 0,87 menjadi 1,09 L/s/ha. Peningkatan tersebut menunjukkan besarnya peran hujan efektif dalam menekan kebutuhan air irigasi, terutama pada periode peralihan musim. Tanpa kontribusi hujan, sistem irigasi harus memenuhi seluruh kebutuhan air tanaman, sehingga debit yang dibutuhkan dapat meningkat antara 20Ae60% dibandingkan skenario dengan perhitungan hujan efektif. Jika dikaitkan dengan pola tanam, kecenderungan ini menunjukkan bahwa tanaman yang ditanam pada awal atau puncak musim hujan . isalnya Pola Tanam 1Ae. memperoleh manfaat signifikan dari keberadaan hujan efektif, karena sebagian besar kebutuhan airnya telah disuplai oleh curah hujan. Sebaliknya, pola tanam yang dimulai menjelang atau selama musim kemarau . isalnya Pola Tanam 9Ae . memperlihatkan kebutuhan air yang jauh lebih tinggi, karena minimnya curah hujan menyebabkan ketergantungan penuh terhadap air irigasi buatan. Dengan demikian, penentuan waktu tanam menjadi faktor strategis dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan air irigasi. Secara ilmiah, hasil ini memperkuat bahwa metode USDA menghasilkan estimasi kebutuhan air yang lebih realistis dan adaptif terhadap kondisi agroklimat lokal, karena mempertimbangkan curah hujan yang benar-benar dapat dimanfaatkan tanaman . ekitar 70Ae 80% dari total curah hujan bulana. Sebaliknya, pendekatan dengan hujan efektif nol (Tabel . hanya relevan untuk skenario konservatif atau ekstrem, seperti perencanaan kapasitas maksimum jaringan irigasi pada musim kering panjang. Dengan demikian. Tabel 2 dan Tabel 3 secara komplementer merepresentasikan dua kondisi batas dalam analisis dan manajemen air pertanian: Skenario aktual (Tabel 2 Ae metode USDA): menggambarkan kondisi efisien dan realistis yang mempertimbangkan kontribusi curah hujan terhadap kebutuhan air. Skenario konservatif (Tabel 3 Ae hujan efektif = . : merepresentasikan kondisi terburuk untuk perencanaan kapasitas sistem irigasi dan mitigasi kekeringan. Secara keseluruhan, integrasi antara pola tanam dan dinamika musim menjadi aspek kunci dalam optimalisasi manajemen irigasi. Pemilihan waktu tanam yang disesuaikan dengan pola curah hujan tahunan tidak hanya menekan kebutuhan air irigasi, tetapi juga mendukung keberlanjutan sistem pertanian pada skala lahan maupun wilayah irigasi. KESIMPULAN Kajian ini menunjukkan bahwa kebutuhan air irigasi di wilayah cetak sawah rakyat Merauke sangat dipengaruhi oleh waktu tanam dan kondisi hujan efektif. Hasil simulasi dengan model CROPWAT dan metode PenmanAeMonteith memperlihatkan bahwa skenario pola tanam yang dimulai pada awal hingga puncak musim hujan . ekitar OktoberAeFebruar. memberikan efisiensi pemanfaatan air tertinggi, karena sebagian besar kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi oleh curah hujan. Sebaliknya, pola tanam yang dimulai pada musim kemarau meningkatkan kebutuhan irigasi hingga lebih dari 50%. Dengan demikian, sinkronisasi waktu tanam dengan pola curah hujan merupakan kunci dalam perencanaan irigasi yang efisien dan berkelanjutan di wilayah ini. Reka Karya - 110 Prediksi Kebutuhan Air Irigasi Berdasarkan Beberapa Skenario Pola Tanam pada Kegiatan Cetak Sawah Rakyat di Merauke. Papua Selatan UCAPAN TERIMAKASIH Makalah ini merupakan bagian dari kegiatan Survei Investigasi dan Desain (SID) dalam rangka mendukung QW Ekstensifikasi Cetak Sawah. Oleh karena itu, penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pusat Pengkajian. Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah (P4W IPB) serta Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merauke. Papua Selatan, atas fasilitasi dan dukungan yang diberikan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada masyarakat Kabupaten Merauke, khususnya para petani. GAPOKTAN. P3A, serta perangkat kampung dan distrik, yang telah berkenan menjadi narasumber dalam kegiatan wawancara dan memberikan kontribusi penting bagi keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA