Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Perspektif Guru Terhadap Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learin. Di Tk Se- Kecamatan Medan Tuntungan Viyona Marsesa Sitorus1 & Artha Mahindra Diputera2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Medan Telp: 62 812-6217-3806 E-mail: viyonasitorus0318@gmail. com1, artha91@unimed. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-01 Revised : 2025-11-17 Accepted : 2025-11-26 KEYWORDS TeachersAo Perspective. Deep Teacher Readiness KATA KUNCI Perspektif guru. Pembelajaran mendalam. Kesiapan Guru ABSTRACT This study focuses on examining teachers' views on the implementation of deep learning approaches in kindergartens in the Medan Tuntungan District. The deep learning approach is based on three main components, namely mindful learning, meaningful learning, and joyful learning, which emphasize a learning process that is conscious, meaningful, and enjoyable for children. The research was conducted using a quantitative descriptive design through a survey method. All kindergarten teachers in the research area were involved as respondents, resulting in a sample size of 65 people using total sampling technique. Data collection was carried out using a Likert scale questionnaire, then analyzed using percentage techniques. The results of the analysis showed that the level of teacher readiness for the application of deep learning was in the very high category. all respondents, 33 teachers . %) were in the very ready category, while 32 teachers . %) were in the ready category, with no respondents classified as not These findings indicate that all teachers have adequate understanding and readiness to implement the deep learning approach in early childhood education. Thus, this study provides an overview that kindergarten teachers in Medan Tuntungan District are ready to support government policies related to the implementation of deep learning in kindergarten education units. ABSTRAK Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji pandangan guru mengenai pelaksanaan pendekatan pembelajaran mendalam . eep learnin. pada Taman Kanak-Kanak di wilayah Kecamatan Medan Tuntungan. Pendekatan deep learning bertumpu pada tiga komponen utama, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning, yang menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, serta menyenangkan bagi anak. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan deskriptif kuantitatif melalui metode survei. Seluruh guru TK di wilayah penelitian dilibatkan sebagai responden, sehingga jumlah sampel mencapai 65 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket berskala Likert, kemudian dianalisis melalui teknik Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kesiapan guru terhadap penerapan pembelajaran mendalam berada pada kategori sangat tinggi. Dari keseluruhan responden, sebanyak 33 guru . %) termasuk dalam kategori sangat siap, sedangkan 32 guru . %) berada pada kategori siap, tanpa adanya responden yang tergolong tidak siap. Temuan ini mengindikasikan bahwa seluruh guru telah memiliki pemahaman serta kesiapan yang memadai dalam 276 | JPI. Vol. No. November 2025 mengimplementasikan pendekatan deep learning pada pendidikan anak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran bahwa guru TK di Kecamatan Medan Tuntungan telah siap mendukung kebijakan pemerintah terkait penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learnin. di satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak. Pendahuluan Pendidikan di tingkat Taman Kanak-Kanak berfungsi sebagai tahap awal yang sangat menentukan dalam pembentukan kemampuan berpikir, keterampilan dasar, serta sikap anak. Pada fase ini, keberhasilan kegiatan belajar sangat bergantung pada strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Secara umum, strategi pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua Pendekatan menempatkan guru sebagai pusat penyampaian informasi . eacher-centered approac. , sedangkan pendekatan kedua memandang anak sebagai subjek aktif yang mampu berkontribusi dan saling berbagi dalam proses belajar . earner-centered approac. (Yus Anita & Sari Winda, 2020, hlm. Sejalan dengan perkembangan praktik pendidikan anak usia dini, pendekatan deep learning mulai diperkenalkan dengan tujuan mendorong kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sekaligus membantu anak memahami konsep secara lebih mendalam dan Gagasan pembaruan arah kurikulum nasional mencuat pada November 2024 ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Abdul MuAoti, mengemukakan wacana pengalihan dari Kurikulum Merdeka Belajar menuju sebuah pendekatan alternatif yang dikenal sebagai Deep Learning. Konsep Deep Learning sendiri bukanlah istilah baru dalam kajian pendidikan. Pendekatan ini berakar dari pemikiran Marton dan Syljy . yang menekankan pentingnya proses belajar yang menuntun peserta didik untuk menangkap makna serta keterkaitan antarkonsep secara utuh. Dalam implementasinya. Deep Learning mendorong terbentuknya pemahaman substansial terhadap materi melalui rangkaian pengalaman belajar yang Proses ini tidak hanya melibatkan aspek intelektual siswa, tetapi juga menyentuh dimensi afektif, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdaya guna (Wijaya et al. 2025, hlm. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa Deep Learning tidak diposisikan sebagai pendekatan yang terbatas pada satu disiplin tertentu, melainkan dipahami sebagai model pembelajaran yang bersifat lintas bidang dan relevan untuk menjawab beragam Dalam konteks pendidikan masa kini, pendekatan ini dimanfaatkan sebagai pilihan strategis untuk membantu peserta didik membangun pemahaman yang lebih substansial dan bernilai, melampaui sekadar penguasaan isi pelajaran sebagaimana lazim ditemukan pada pola pembelajaran konvensional. Lembaga Catherine McAuley College menegaskan bahwa penerapan Deep Learning mendorong berkembangnya berkomunikasi, serta kolaborasi yang efektif pada peserta didik di seluruh mata pelajaran (Kompas. , 2. Riska Putri dan rekan-rekannya . menilai bahwa penerapan deep learning dalam sistem pendidikan Indonesia membuka peluang signifikan untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran. Kerangka deep learning yang dibangun atas tiga komponen utama Mindful Learning. Meaningful Learning, dan Joyful Learning memberikan arah pembelajaran yang lebih selaras dengan karakteristik dan tuntutan peserta didik masa kini. Pendekatan ini menempatkan pengalaman belajar sebagai proses yang berkesadaran, bermakna, serta menyenangkan, sehingga tidak hanya memperkaya pemahaman siswa, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Dalam proses pendidikan, guru berperan sebagai figur yang mendampingi dan mengarahkan peserta didik selama kegiatan belajar berlangsung. Keberadaan guru tidak hanya dipahami sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan yang sikap dan tindakannya menjadi rujukan bagi siswa (Yestiani & Zahwa, 2020, hlm. Sejalan dengan pandangan tersebut. Brown et al. menekankan bahwa fungsi guru dalam pembelajaran berkembang ke arah peran fasilitator, yakni membantu peserta didik mengonstruksi pengetahuan melalui pendampingan, penyediaan dukungan, dan penciptaan situasi belajar yang mendorong keterlibatan aktif serta bermakna. Pada pendidikan anak usia dini, peran fasilitatif ini memiliki kontribusi krusial dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kreatif sejak tahap awal perkembangan anak. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, guru memiliki tanggung jawab untuk menyusun pengalaman belajar yang mendorong anak terlibat aktif, bereksperimen, mengajukan pertanyaan, serta Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 277 menemukan solusi atas permasalahan sederhana melalui aktivitas nyata. Agar deep learning dapat berlangsung secara optimal di lingkungan Taman Kanak-Kanak, kondisi belajar perlu ditata secara Penataan tersebut mencakup pengelolaan ruang kelas yang kondusif, ketersediaan media dan permainan edukatif, serta penciptaan suasana yang nyaman dan aman bagi anak. Keterpaduan antara keterlibatan guru, dukungan lingkungan belajar, dan keluwesan kurikulum menjadi unsur yang saling melengkapi dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kreatif sejak usia dini. Sinergi berbagai komponen ini berperan penting dalam membangun dasar pembelajaran yang kokoh dan berkelanjutan bagi perkembangan anak di tahap selanjutnya (Sulistiani et al. , 2023, hlm. Dalam kerangka Deep Learning yang mencakup tiga unsur utama, keberadaan guru menempati posisi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik. Penelitian ini diarahkan untuk menggali bagaimana guru memaknai serta memahami konsep pembelajaran mendalam sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Secara leksikal. Collins Dictionary menjelaskan perspektif sebagai cara seseorang memandang dan menafsirkan peristiwa maupun persoalan tertentu. Sejalan dengan itu. Rilus Kinseng . dalam Adila et al. memandang perspektif atau sudut pandang sebagai kerangka interpretatif yang digunakan untuk memahami berbagai fenomena, khususnya dalam ranah sosiologi dan pendidikan. Merujuk pada berbagai pendapat para pakar, dapat disarikan bahwa deep learning dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bernilai serta memberi rasa nyaman dan keterlibatan positif bagi peserta didik. Keberhasilan penerapan pendekatan ini sangat bergantung pada kontribusi guru, khususnya dalam merancang, mengelola, dan menghidupkan suasana belajar yang mendukung. Guru berperan sebagai penggerak utama dalam menumbuhkan motivasi siswa serta memastikan proses pembelajaran berjalan selaras dengan tiga komponen utama yang menjadi landasan Deep Learning. Praktik pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang berada di wilayah Kecamatan Medan Tuntungan menunjukkan keragaman pola yang disesuaikan dengan kondisi dan ciri khas masingmasing lembaga. Meskipun demikian, tingkat pembelajaran mendalam belum menunjukkan Sebagian pendidik telah mencoba menghadirkan aktivitas belajar yang memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, terlibat secara aktif, dan mengasah kemampuan berpikir kritis, sementara pendidik lainnya masih cenderung bertumpu pada metode pembelajaran yang bersifat tradisional. Kondisi ini menegaskan perlunya kajian yang lebih komprehensif mengenai sudut pandang guru TK di Kecamatan Medan Tuntungan terhadap deep learning, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang menyeluruh terkait tingkat kesiapan, hambatan yang dihadapi, serta peluang pengembangan penerapan pendekatan tersebut dalam konteks pendidikan anak usia dini. Temuan Ruhalahti . menunjukkan bahwa pendidik yang memiliki penguasaan kuat terhadap prinsip deep learning cenderung mampu merancang pengalaman belajar yang lebih menyeluruh dan melibatkan peserta didik secara aktif. Meski demikian, kondisi di Indonesia memperlihatkan bahwa kesiapan guru dalam menerapkan pendekatan ini belum merata (Dwijantie, 2. Penelitian Mahardika dan Jaya . mengungkapkan bahwa sebagian besar guru kelas memperlihatkan sikap positif dan minat yang tinggi untuk mengadopsi deep Akan tetapi, mereka masih dihadapkan pada keterbatasan pemahaman konseptual yang mendalam serta minimnya pelatihan teknis yang mendukung penerapan secara optimal. Di sisi lain, guru mulai menunjukkan kreativitas dalam penggunaan media pembelajaran yang menarik, meskipun pelaksanaan deep learning yang konsisten, terencana, dan sistematis masih memerlukan penguatan melalui pendampingan serta program pelatihan lanjutan. Hasil pengamatan lapangan yang dilakukan peneliti di seluruh Taman Kanak-Kanak di Kecamatan Medan Tuntungan menunjukkan keberadaan 33 lembaga pendidikan anak usia dini. Masing-masing sekolah menampilkan ciri khas tersendiri dalam penyelenggaraan pembelajaran, yang dipengaruhi oleh arah kebijakan institusi, kompetensi pendidik, serta ketersediaan sarana dan Variasi kondisi tersebut menjadi dasar pertimbangan bagi peneliti untuk menelusuri tingkat pemahaman guru sekaligus praktik penerapan pendekatan deep learning dalam kegiatan belajar mengajar di lingkungan TK. Dengan demikian, penelitian ini difokuskan pada pengkajian sudut pandang guru terhadap pelaksanaan kebijakan pembelajaran mendalam (Deep Learnin. yang dicanangkan pemerintah pada Taman Kanak-Kanak di Kecamatan Medan Tuntungan. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 278 | JPI. Vol. No. November 2025 Tinjauan Literatur Perspektif Istilah perspektif memiliki makna yang beragam bergantung pada sudut keilmuan yang digunakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai perspektif sebagai cara seseorang memandang atau merepresentasikan objek, termasuk penggambaran ruang tiga dimensi pada bidang dua dimensi. Sementara itu. Collins Dictionary menjelaskan perspektif sebagai cara pandang individu yang membantu dalam memahami serta menafsirkan peristiwa maupun persoalan tertentu. Dalam kajian sosiologi dan pendidikan. Rilus A. Kinseng . sebagaimana dikutip oleh Chorida Adila et al. memandang perspektif yang kerap disebut sudut pandang sebagai upaya penafsiran terhadap berbagai bentuk pemahaman dalam kehidupan sosial dan dunia pendidikan. Dari sudut psikologi. Kamus Psikologi pandangan yang utuh, dibangun dari berbagai titik acuan konseptual, fisik, maupun temporal, yang memungkinkan seseorang memperoleh persepsi yang lebih mendekati realitas dibandingkan sudut pandang lainnya (Reber, 2. Sejalan dengan itu. Charon . dalam Mutiara . menempatkan perspektif sebagai kerangka berpikir yang terdiri atas asumsi, nilai, dan gagasan, yang secara langsung memengaruhi cara individu memaknai situasi dan menentukan tindakan yang diambil. Guru Secara etimologis, istilah guru berakar dari bahasa Sanskerta yang tersusun atas dua unsur, yaitu gu yang bermakna kegelapan dan ru yang berarti cahaya, sehingga guru dipahami sebagai sosok yang membawa pencerahan. Dalam pandangan klasik, peran guru sering digambarkan sebagai pengajar yang menyampaikan pengetahuan dari depan kelas. Namun, pemaknaan tersebut berkembang seiring perubahan paradigma pendidikan. Rajeev N. dalam tulisannya The Essence of Teaching menjelaskan bahwa guru memegang posisi strategis dalam membangun iklim belajar yang kondusif serta berfungsi sebagai pendorong yang menumbuhkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran (Sulistiani, 2023, hlm. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, guru PAUD diposisikan sebagai tenaga profesional yang memiliki tanggung jawab menyeluruh, mulai dari pembelajaran, hingga evaluasi perkembangan belajar anak. Selain itu, guru PAUD juga berperan dalam memberikan pendampingan, pengasuhan, perawatan, serta perlindungan bagi peserta didik sebagai bagian integral dari proses pendidikan (Dini & Anggraini, 2. Peran Guru Terhadap Pembelajaran Menurut Kiki Yestiani dan Zahwa . , keterlibatan guru dalam aktivitas pembelajaran mencakup beragam fungsi yang saling melengkapi. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga menjadi rujukan belajar bagi peserta didik. Selain itu, guru bertugas menciptakan kemudahan dalam proses belajar melalui peran fasilitator dan pendamping, sekaligus menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Dalam pelaksanaannya, guru juga berfungsi sebagai pengelola kegiatan pembelajaran, pemberi arahan dan nasihat, serta penggerak inovasi. Peran lainnya mencakup upaya memotivasi, melatih kemampuan peserta didik, hingga mendorong perkembangan dan peningkatan potensi mereka secara berkelanjutan. Pembelajaran Mendalam (Deep Learnin. Kimble dan Garmezy memandang pembelajaran sebagai proses yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif menetap, yang terbentuk melalui latihan dan pengulangan secara terus-menerus. Dalam pembelajaran diwujudkan melalui upaya pendidik dalam merancang dan mengarahkan kegiatan belajar agar peserta didik mampu berkembang secara Proses ini mencakup pemberian dukungan agar peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, menguasai keterampilan, membentuk kebiasaan, serta menumbuhkan sikap dan keyakinan tertentu. Dengan demikian, pembelajaran dapat dipahami sebagai rangkaian tindakan pendidik yang bertujuan memfasilitasi peserta didik agar belajar secara efektif (Djamaluddin & Wardana, 2019, hlm. Dalam pelaksanaannya, guru menyusun pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik lebih mudah memahami konsep, berlatih keterampilan, dan mengalami perubahan perilaku secara bertahap. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam dunia pendidikan adalah Deep Learning, yang menitikberatkan pada pendalaman pemahaman dan pemaknaan materi pembelajaran. Pendekatan ini bukan merupakan kurikulum baru, melainkan dapat diterapkan dalam berbagai sistem pendidikan dengan tujuan membangun pemahaman yang menyeluruh. Melalui Deep Learning, peserta didik tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga dilatih untuk menganalisis serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupan nyata (Putri et al. , 2. Dalam perkembangannya. Deep Learning juga dikenal sebagai teknik berbasis jaringan saraf tiruan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 279 yang banyak dimanfaatkan dalam beberapa tahun terakhir sebagai salah satu metode penerapan. Pendekatan ini berbeda dari pola pembelajaran konvensional yang cenderung menekankan hafalan dan pemahaman permukaan . urface learnin. , yang sering dinilai kurang memadai dalam membekali peserta didik menghadapi tantangan nyata (Haditia et al. , 2. Oleh karena itu, model pendidikan tradisional yang berfokus pada transfer informasi perlu diarahkan menuju pendekatan yang lebih menyeluruh, di mana peserta didik berperan aktif dalam proses belajar, bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan (Al-Jannah & Aly, 2. Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam . eep learnin. bertumpu pada tiga komponen utama, yaitu Mindful Learning. Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Metode Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui pelaksanaan Subjek penelitian mencakup seluruh guru yang bertugas pada lembaga Taman Kanak-Kanak di Kecamatan Medan Tuntungan. Kota Medan. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 65 guru yang berasal dari 33 TK, dengan teknik pengambilan sampel berupa exhaustive sampling atau total sampling, yaitu metode penentuan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan responden penelitian (Ainun. Mannyullei, & Amqam, 2. Setelah tahap pengumpulan data, diperoleh informasi demografis responden berdasarkan latar belakang pendidikan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki kualifikasi pendidikan strata satu (S. sebesar 85%, disusul lulusan SMA sebanyak 12%, dan diploma (D. sebesar 3%. Distribusi ini memberikan gambaran umum mengenai karakteristik responden yang terlibat dalam penelitian. Penelitian dilaksanakan pada satuan pendidikan Taman Kanak-Kanak yang berada di wilayah Kecamatan Medan Tuntungan. Kota Medan. Provinsi Sumatera Utara, dengan waktu pelaksanaan pada semester genap tahun 2025, yaitu pada bulan Juli hingga Agustus 2025. Pengolahan menggunakan teknik analisis persentase. Teknik ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan dan tingkat frekuensi jawaban responden terhadap pernyataan dalam angket yang berkaitan dengan penerapan pembelajaran mendalam . eep learnin. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, setiap item pernyataan diberikan bobot nilai sesuai dengan pilihan jawaban responden, yaitu skor 4 untuk SS (Sangat Sia. , skor 3 untuk S (Sia. , skor 2 untuk TS (Tidak Sia. , dan skor 1 untuk STS (Sangat Tidak Sia. Skor yang diperoleh selanjutnya dijumlahkan dan dianalisis dalam bentuk persentase (Ali & Asrori, 2. dengan cara menghitung jumlah responden pada setiap alternatif jawaban, kemudian mengonversinya ke dalam persentase menggunakan rumus yang telah ditetapkan. P = yce ycu 100 % ycA Keterangan: A P = Persentase A f = Jumlah skor diperoleh A N = Maximal skor . Menginterpretasikan Persentase Nilai persentase yang diperoleh dari setiap butir pernyataan kemudian dikelompokkan untuk menggambarkan arah kecenderungan jawaban Pengelompokan tersebut didasarkan pada kriteria interpretasi tertentu yang digunakan sebagai acuan dalam menafsirkan besaran persentase hasil pengolahan data, dengan rincian kategori sebagai berikut: Tabel 1 Interval Skor Kategori Interval Skor Kategori Tidak Siap Siap Sangat Siap . Penyajian Hasil Temuan dari proses analisis ditampilkan melalui tabel yang memuat sebaran frekuensi dan persentase pada setiap butir pernyataan. Selain itu, hasil tersebut juga diuraikan secara deskriptif guna menyajikan pemahaman yang menyeluruh mengenai pandangan guru terhadap pelaksanaan pembelajaran mendalam di Taman Kanak-Kanak se-Kecamatan Medan Tuntungan. Hasil Data hasil penelitian tentang perspektif guru terhadap pembelajaran mendalam . eep learnin. di Tk Se- Kecamatan Medan Tuntungan dapat dilihat dari tabel 1 berikut: Tabel 1. Kategorisasi Perspektif Guru Terhadap Pembelajaran Deep Learning Kategori Deep Jumlah Presentase Learning Tidak Siap Siap Sangat Siap Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 280 | JPI. Vol. No. November 2025 Merujuk pada informasi yang tersaji dalam Tabel 1 tentang pandangan guru terhadap pendekatan pembelajaran mendalam . eep learnin. , terlihat bahwa lebih dari separuh responden, yakni 51%, berada pada tingkat kesiapan sangat tinggi. Sementara itu, 49% guru lainnya termasuk dalam kategori siap untuk menerapkan pendekatan tersebut. Tidak ditemukan responden yang berada pada kategori kurang siap, yang mengindikasikan bahwa seluruh guru yang terlibat dalam penelitian ini telah memiliki kesiapan yang memadai dalam memahami serta melaksanakan deep learning pada satuan pendidikan anak usia dini. Tingginya menunjukkan bahwa guru telah memiliki penguasaan yang cukup kuat terhadap dasar-dasar pembelajaran mendalam, termasuk pemahaman mengenai pentingnya partisipasi aktif anak serta penguatan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif. Selain menghadirkan proses belajar yang bernilai, menyenangkan, dan dilaksanakan dengan kesadaran penuh melalui penerapan meaningful learning, joyful learning, dan mindful learning. Apabila dianalisis lebih lanjut berdasarkan tiga komponen utama pembelajaran mendalam tersebut, temuan penelitian menunjukkan adanya perbedaan capaian pada masing-masing elemen. masih diperlukan penguatan bagi sebagian guru agar penerapan perhatian secara konsisten terhadap peserta didik dapat lebih optimal. Komponen Meaningfull Learning Gambar 2. Diagram Batang Berdasarkan Komponen Meaningfull Learning Pada dimensi meaningful learning, hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa 32 guru berada pada tingkat kesiapan siap, sedangkan 33 guru lainnya termasuk dalam kategori sangat siap. Jika dinyatakan dalam bentuk persentase, sebanyak 49% responden tergolong siap dan 51% berada pada tingkat sangat siap. Temuan ini mengindikasikan bahwa guru telah memiliki kemampuan yang baik dalam merancang pembelajaran yang bernilai, dengan melibatkan pengalaman belajar serta pendalaman pemahaman yang relevan bagi anak. Komponen Joyfull Learning Komponen Mindfull Learning Gambar 1. Diagram Batang Berdasarkan Komponen Mindfull Learning Pada aspek mindful learning, temuan penelitian menunjukkan bahwa 43 guru berada pada tingkat kesiapan siap, sementara 22 guru lainnya termasuk dalam kategori sangat siap. Setelah data tersebut diolah dalam bentuk persentase, terlihat bahwa 66% responden berada pada kategori siap dan 34% tergolong sangat siap dalam mengimplementasikan komponen mindful learning. Kondisi ini menunjukkan bahwa mayoritas guru telah memiliki kemampuan untuk menghadirkan pembelajaran yang berlandaskan kesadaran penuh, meskipun Gambar 3. Diagram Batang Berdasarkan Komponen Joyfull Learning Pada aspek joyful learning, hasil analisis menunjukkan bahwa 28 guru berada pada tingkat kesiapan siap, sementara 37 guru lainnya tergolong sangat siap. Setelah dikonversi ke dalam persentase, diperoleh bahwa 43% guru berada pada kategori siap dan 51% termasuk dalam kategori sangat siap. Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas guru telah berhasil menghadirkan suasana pembelajaran yang menarik dan interaktif, meskipun masih terdapat sebagian guru yang perlu memperkuat strategi agar keterlibatan aktif anak dapat lebih ditingkatkan dalam kegiatan belajar. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 281 Dikusi Temuan penelitian menunjukkan bahwa pandangan guru terhadap penerapan pembelajaran mendalam . eep learnin. di Taman Kanak-Kanak se-Kecamatan Medan Tuntungan berada pada tingkat kesiapan yang sangat tinggi. Berdasarkan data pada Tabel 1, dari 65 guru yang menjadi responden, 33 orang atau 51% berada pada kategori sangat siap, sedangkan 32 guru atau 49% termasuk dalam kategori siap. Tidak ada guru yang tergolong kurang siap, yang menandakan bahwa seluruh responden telah memiliki pemahaman serta kesiapan yang memadai untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam dalam konteks pendidikan anak usia dini. Sejalan dengan hasil tersebut. Ruhalahti . menyatakan bahwa pendidik yang menguasai prinsip deep learning secara mendalam mampu merancang pengalaman belajar yang lebih menyeluruh dan mendorong interaksi aktif peserta didik. Namun demikian, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam menerapkan pendekatan ini belum sepenuhnya merata (Dwijantie, 2. Penelitian Mahardika dan Jaya . juga mengungkapkan bahwa meskipun guru pada umumnya memperlihatkan minat dan kesiapan untuk mengadopsi deep learning, mereka masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pemahaman konseptual yang komprehensif serta minimnya pelatihan teknis. Di sisi lain, guru mulai berinisiatif memanfaatkan media pembelajaran yang menarik, meskipun penerapan deep learning secara terstruktur dan berkelanjutan masih memerlukan dukungan berupa pelatihan dan pendampingan Merujuk pada temuan dari dua penelitian tersebut, dapat ditarik pemahaman bahwa walaupun guru telah menunjukkan minat dan kesiapan untuk menerapkan pembelajaran mendalam, kemampuan mengimplementasikannya di lapangan belum berada pada tingkat yang seragam. Situasi ini menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas guru secara kompetensi pedagogis yang selaras dengan prinsipprinsip deep learning. Sebagai pendukung temuan pada setiap elemen pembelajaran deep learning, hasil penilaian skor individu yang diperoleh melalui instrumen penelitian menunjukkan bahwa nilai terendah, yakni 94, muncul pada aspek mindful learning. Temuan ini berkaitan dengan pernyataan pada indikator kedua yang menunjukkan bahwa kegiatan refleksi belum dipahami sebagai bagian esensial dalam praktik pembelajaran di kelas Taman Kanak-Kanak. Kondisi mengisyaratkan masih kesadaran guru akan peran refleksi dalam memperkuat proses belajar yang bermakna. Sejalan dengan hal tersebut. Nikki Tri Sakung . menjelaskan bahwa refleksi merupakan kegiatan menelaah kembali serta merenungkan pengalaman atau proses belajar yang telah dilalui, dengan tujuan membangun pemahaman yang lebih mendalam dan Hasil pengukuran menunjukkan bahwa skor individu tertinggi, yaitu 226, terdapat pada aspek joyful learning. Temuan ini berkaitan dengan pernyataan pada indikator ke-21 yang menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengambil inisiatif dan mengekspresikan kreativitas sesuai dengan minat serta potensi yang Kondisi tingginya kesadaran dan komitmen guru dalam membangun suasana belajar yang menyenangkan, melibatkan anak secara aktif, serta mendukung pengembangan kemampuan individu secara Sejalan dengan hal tersebut. Hanif . menyatakan bahwa ketertarikan belajar peserta didik memiliki keterkaitan langsung dengan keberhasilan mereka dalam proses pembelajaran. Analisis terhadap rentang skor pada setiap komponen deep learning menunjukkan bahwa pada aspek mindful learning, capaian nilai tertinggi mencapai 222 dan muncul pada indikator kelima, keterikatan emosional, intelektual, dan sosial secara mendalam dengan peserta didik. Temuan ini mengindikasikan bahwa guru memiliki tingkat kesadaran yang kuat mengenai perlunya menjalin relasi yang bermakna dengan anak, tidak terbatas pada aspek kognitif semata, tetapi juga mencakup dimensi emosional dan sosial. Kesadaran tersebut pembelajaran yang lebih reflektif serta mendukung pendalaman pemahaman siswa. Pada dimensi meaningful learning, skor tertinggi tercatat sebesar 220 dan muncul pada indikator ke11 yang menekankan bahwa pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata memudahkan peserta didik dalam memahami materi. Hasil ini menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya menghadirkan pembelajaran yang relevan dan kontekstual sehingga anak mampu menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan pengalaman sehari-hari. Namun demikian, pada dimensi yang Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 282 | JPI. Vol. No. November 2025 sama juga ditemukan skor terendah sebesar 159, yang mengisyaratkan bahwa masih terdapat beberapa aspek meaningful learning yang perlu ditingkatkan agar pencapaian pada seluruh indikator dapat lebih optimal. Pada aspek joyful learning, skor terendah tercatat sebesar 185 yang terdapat pada indikator ke-24, yang pembelajaran yang terlalu berat berpotensi menurunkan motivasi siswa dan menjadikan proses belajar kurang menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa masih terdapat guru yang mengalami kesulitan dalam mengatur tingkat kompleksitas kegiatan belajar agar tetap menstimulasi tanpa menimbulkan rasa tertekan pada anak. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara tantangan pembelajaran dan kemampuan peserta didik, sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara menyenangkan sekaligus memberikan makna yang mendalam. Kesimpulan Hasil kajian mengenai pandangan guru terhadap penerapan pembelajaran mendalam . eep learnin. di Taman Kanak-Kanak se-Kecamatan Medan Tuntungan menunjukkan bahwa secara umum pendidik berada pada kondisi kesiapan yang sangat baik untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip deep learning dalam pendidikan anak usia dini. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa 51% guru termasuk dalam kategori sangat siap, sementara 49% lainnya berada pada tingkat siap, tanpa adanya responden yang tergolong kurang siap. Kondisi ini menandakan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang memadai serta berupaya menerapkan pendekatan pembelajaran yang menekankan pengembangan kemampuan berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan kolaboratif pada anak. Jika dianalisis berdasarkan tiga komponen utama deep learning, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning, seluruh aspek menunjukkan pencapaian yang cukup tinggi meskipun terdapat perbedaan tingkat pada masingmasing elemen. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menggambarkan tingginya kesadaran dan kesiapan guru TK di Kecamatan Medan Tuntungan terhadap urgensi penerapan pembelajaran mendalam. Meski demikian, penguatan masih diperlukan, khususnya pada aspek refleksi serta penyesuaian antara tingkat tantangan dan kenyamanan belajar, agar implementasi deep learning dapat berlangsung secara lebih utuh, bermakna, dan berkelanjutan. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang diperoleh, maka disarankan beberapa hal sebagai A Bagi Guru, diharapkan dapat terus meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik dalam menerapkan pembelajaran mendalam dengan menekankan keseimbangan antara aspek reflektif, bermakna, dan menyenangkan. A Bagi Lembaga Pendidikan (TK), disarankan untuk menyediakan dukungan berupa pelatihan, pendampingan, dan forum berbagi praktik baik antar guru guna memperkuat penerapan elemen mindful, meaningful, dan joyful learning secara konsisten dan terarah. A Bagi Dinas Pendidikan, diharapkan dapat mengadakan program pelatihan berkelanjutan terkait implementasi pembelajaran mendalam PAUD, pengembangan kegiatan reflektif dan strategi pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. A Bagi Peneliti Selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas atau menggunakan metode campuran . ixed method. agar dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan guru dalam menerapkan deep learning di pendidikan anak usia dini. Referensi