CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Fermentasi Limbah Kotoran Sapi menjadi Pupuk Organik. Solusi Peningkatan Sirkular Ekonomi bagi Peternak Sapi Kusmiyati1*. Sigit Muryanto2. Mahmud3. Farrikh Alzami4. Risky Yuniar Rahmadieni5 Kata Kunci: Fermentasi. Pupuk organik. Kotoran hewan (Koh. Peternak sapi. Ekonomi sirkular Keywords: Fermentation. Organic fertilizer. Animal manure (Koh. Cattle farmers. Circular economy Corespondensi Author Prodi Teknik Industri Fakultas Teknik. Universitas Dian Nuswantoro Jl. Imam Bonjol No. Semarang Email: kusmiyati@dsn. Article History Received: 21-08-2025. Reviewed: 28-10-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peternak dan petani kopi di Desa Banyuanyar. Boyolali, dalam mengolah limbah padat kotoran sapi . menjadi pupuk organik berkualitas melalui proses fermentasi yang benar. Pelatihan dilaksanakan untuk menjawab permasalahan pemanfaatan kohe mentah yang selama ini kurang efektif, berisiko menimbulkan polusi lingkungan, serta berpotensi menyebabkan keracunan NHCE dan NHCE pada tanaman akibat proses dekomposisi yang tidak terkendali. Metode kegiatan meliputi pemaparan materi, praktik langsung, dan pendampingan lapangan. Proses fermentasi dilakukan menggunakan bahan utama kohe, bekatul, gula pasir, kapur dolomit, probiotik MA11, dan MOL lokal. Peralatan pendukung seperti pengukur suhu, pH, dan kelembapan digunakan untuk memastikan kondisi fermentasi berada pada kisaran optimal. Monitoring rutin dilakukan selama proses berlangsung untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan peternak mengenai teknik fermentasi, kendali proses, serta penanganan pascapanen Peternak menghasilkan pupuk organik fermentasi dengan kandungan nutrisi lebih baik, bau lebih rendah, dan lebih aman bagi tanaman dibandingkan kohe mentah. Simpulannya, pelatihan fermentasi kohe berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan limbah ternak, menghasilkan produk pupuk organik yang bermanfaat bagi peningkatan produktivitas tanaman kopi, serta membuka peluang usaha baru yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal. Abstract. This study aims to enhance the capacity of livestock farmers and coffee growers in Banyuanyar Village. Boyolali, in converting solid cattle manure . into high-quality organic fertilizer through proper fermentation techniques. The training program was designed to address issues related to the direct use of raw manure, which is often ineffective, poses environmental pollution risks, and may cause NHCE and NHCE toxicity in plants due to uncontrolled decomposition. The activities involved a combination of lectures, hands-on practice, and Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 on-site mentoring. The fermentation process utilized key materials including cattle manure, rice bran, sugar, dolomite. MA11 probiotics, and locally produced MOL. Supporting equipment such as temperature, pH, and moisture meters was used to ensure that fermentation conditions remained within the optimal range. Routine monitoring was conducted throughout the process to maintain product quality and consistency. The results show a significant improvement in farmersAo understanding and technical skills related to fermentation procedures, process control, post-harvest handling, and product Participants were able to produce fermented organic fertilizer with higher nutrient content, reduced odor, and better safety for plant application compared with raw manure. In conclusion, the fermentation training program successfully strengthened the communityAos capacity in livestock waste management, resulting in organic fertilizer that enhances coffee crop productivity while creating new economic opportunities and contributing to improved local livelihoods. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author untuk menguraikan bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana. Dalam konteks kohe sapi, fermentasi berfungsi mengurangi patogen, menurunkan bau nutrisi, serta menekan risiko fitotoksisitas yang sering muncul akibat penggunaan kohe mentah seperti keracunan NHCE dan NHCE pada tanaman (Maligan & Nahda, 2023. Seimahuira, 2016. Zelin et al. , 2. Proses ini telah lama digunakan tidak hanya dalam industri pangan, biofuel, dan farmasi, tetapi juga dalam pengelolaan limbah pertanian sebagai bagian dari pertanian ramah Desa Banyuanyar. Kecamatan Ampel. Kabupaten Boyolali, merupakan wilayah dengan potensi pertanian kopi dan peternakan sapi perah yang cukup besar. Populasi ternak yang tinggi menghasilkan volume limbah kohe yang melimpah, yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar petani masih menggunakan pupuk anorganik sebagai input utama. Minimnya pengetahuan tentang manfaat, fungsi, dan teknik pembuatan pupuk organik menyebabkan kohe lebih sering digunakan secara langsung PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan limbah organik dan penerapan praktik budidaya berkelanjutan. Salah satu sumber daya yang berpotensi besar namun masih kurang dimanfaatkan adalah kotoran hewan sapi . , yang di banyak wilayah masih dianggap sebagai limbah yang menimbulkan gangguan sanitasi dan pencemaran udara. Padahal, dengan proses fermentasi yang tepat, kohe dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, dan menyediakan unsur hara secara lebih stabil dibandingkan kohe mentah (Arunkumar & Thippeshappa, 2022. Toleikien et al. , 2020. Uka et al. , 2. Kompos hasil fermentasi terbukti memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman karena pelepasan hara berlangsung lebih lambat dan teratur, sekaligus meningkatkan aktivitas mikroba tanah (Geng et al. , 2019. Lasmini et , 2018. Tellen & Mbiseh, 2. Fermentasi sendiri merupakan proses biologis yang melibatkan mikroorganisme Kusmiyati et al. Fermentasi Limbah Kotoran Sapi. tanpa melalui proses fermentasi yang benar. Praktik ini tidak hanya mengurangi efektivitas pupuk, tetapi juga berpotensi merusak tanah dalam jangka panjang karena penurunan unsur hara dan kualitas struktur tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan (Ratriyanto et al. , 2019. Sutarsyah et al. , n. Selain itu, limbah peternakan yang menimbulkan pencemaran udara, air, dan tanah, menjadi sumber penyakit, serta meningkatkan emisi gas metana (Meo et al. Dengan produksi kohe 8Ae10 kg per ekor per hari, setiap sapi berpotensi menghasilkan 1,5Ae2 ton pupuk organik per tahun apabila diolah secara benar (Gunawan et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan . yang jelas antara potensi sumber daya dan praktik aktual di Gap tersebut menjadi dasar perlunya intervensi berupa program pelatihan fermentasi kohe. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan petani secara teoritis, tetapi juga memberikan keterampilan praktis melalui demonstrasi langsung, pendampingan proses, hingga teknik pengemasan. Melalui pendekatan praktis dan partisipatif, diharapkan petani mampu menghasilkan pupuk organik yang lebih aman, bernutrisi tinggi, berdaya guna bagi tanaman kopi, serta berpotensi memiliki nilai ekonomi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pertanian berkelanjutan, ekonomi sirkular, dan pupuk kimia. Dengan pembuatan pupuk organik dari kohe sapi di Desa Banyuanyar memiliki nilai strategis baik dari aspek agronomis, lingkungan, maupun ekonomi. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani, mengoptimalkan pemanfaatan limbah lokal, serta menghasilkan produk pupuk organik yang mendukung pertanian setempat. METODE Kegiatan pengabdian dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dan experiential learning . earning by doin. , yang dinilai efektif untuk meningkatkan keterampilan teknis masyarakat dalam (Chambers. Pendekatan memungkinkan peserta belajar melalui pengalaman langsung, diskusi terbimbing, dan refleksi, sehingga proses transfer diterapkan dan berkelanjutan pada tingkat kelompok tani. Desain metode pelatihan Metode pelatihan terdiri dari: Ceramah Memberikan konsep dasar fermentasi, pengendalian proses, dan fungsi pupuk organik. Diskusi partisipatif Menggali pengalaman peserta dan penggunaan kohe mentah. Praktik langsung . earning by doin. Peserta melakukan sendiri proses pengukuran suhuAepH. Pendampingan lapangan Monitoring fermentasi setiap dua hari selama 14 hari. Refleksi & evaluasi Peserta menilai hasil kompos dan memahami standar kualitas kompos Pemilihan metode ini sesuai dengan pengalamansangat efektif dalam pelatihan teknis untuk petani (Knowles, 1. Tahapan kegiatan terlihat pada tabel 1 Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Tabel 1. Tahapan kegiatan Tahap Kegiatan Utama Observasi lokasi, wawancara petani. Identifikasi analisis SWOT, need Masalah Penyusunan jadwal, modul pelatihan. Perencanaan koordinasi dengan Program perangkat desa & kelompok tani Ceramah, diskusi. Pelatihan Teori (Sesi . fermentasi, bahaya kohe mentah Penyusunan lapisan Pelatihan kompos 3 ton. Praktik (Sesi aplikasi probiotik, pengukuran suhuAe Kontrol suhuAepH setiap 2 hari. Monitoring & Pendampingan Pengayakan. Panen & Pascapanen (Sesi . PreAepost test. Evaluasi & Refleksi Output Durasi Data baseline & daftar kebutuhan Minggu 1 Rencana Minggu 1 pembelajaran lengkap Peningkatan pengetahuan dasar 2 jam Batch kompos dalam proses fermentasi 3 jam Fermentasi optimal selama 14 hari 14 hari Kompos matang siap pakai/jual 3 jam Data peningkatan kapasitas peserta Minggu 4 Bahan dan alat Bahan terdiri atas: Kohe sapi 3 ton. Bekatul 50 kg. Dolomit 3 karung. Sekam/arang sekam 3 karung. Probiotik MA11 . L). PGPR akar bambu . Kemasan 2,5 kg. Alat terdiri atas: termometer, pH meter. TDS meter, cangkul, sekop, ayakan, timbangan, tong probiotik, dan alat Alur metode (Flowchar. Identifikasi Masalah Ie Need Assessment & SWOT Ie Perencanaan Program Ie Pelatihan Teori (Sesi . Ie Praktik Fermentasi (Sesi . Ie Monitoring Fermentasi 14 Hari Ie Panen & Pascapanen (Sesi . Ie Evaluasi & Validasi Praktik fermentasi Prosedur disusun berdasarkan standar pengomposan aerobik (Utomo & Nurdiana. Waqas et al. , 2. : Persiapan kotak kompos ukuran 2 y 1,5 y 1 m . apasitas A3 to. Penyusunan lapisan: Lapisan 1: arang sekam . Lapisan 2: bambu untuk aerasi. Kusmiyati et al. Fermentasi Limbah Kotoran Sapi. Lapisan 3: kohe . dolomit bekatul. Lapisan 4: penyiraman probiotik PGPR. Proses diulang hingga tinggi 1 m . Monitoring suhu & kelembapan setiap 2 hari. Pembalikan tumpukan bila suhu > 60AC. Panen kompos setelah 14 hari ketika warna hitam pekat, tekstur remah, dan tidak berbau. Pengayakan dan pengemasan. Gambar 1. menunjukan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk dari kohe Metode evaluasi Evaluasi pendekatan formatif dan sumatif. Instrumen Evaluasi PreAepost test: mengukur perubahan pengetahuan, lembar observasi: menilai keterampilan praktik . enyusunan lapisan, pengukuran suhu, pembalika. , wawancara semi-terstruktur: menilai perubahan perilaku dan pemahaman peserta, dokumentasi monitoring: mencatat suhu, pH, dan WhatsApp Group: memantau perkembangan harian peserta selama 14 hari. Indikator keberhasilan Peningkatan pengetahuan minimal Ou30% berdasarkan preAepost test, 80% peserta mampu melakukan pengukuran suhuAepH secara mandiri, 70% peserta mampu menyusun lapisan kompos sesuai SOP, kompos yang dihasilkan memenuhi ciri kompos matang . uhu < 35AC, tidak berbau, tekstur rema. , tingkat kehadiran peserta > Validasi keabsahan data Keabsahan data dijamin dengan: Triangulasi sumber: data berasal dari monitoring, konfirmasi mitra . ember checkin. , ketua kelompok tani memvalidasi hasil observasi & evaluasi, , triangulasi metombinasi tes, observasi, dokumentasi, dan diskusi, pencatatan sistematis seluruh data dicatat dalam logbook pendampingan selama 14 hari. Gambar 1. Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk dari kohe dan peternak sapi perah yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Widodo 1 dan 2. Temuan assessment menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara kondisi ideal pengolahan limbah kandang sapi dan praktik aktual yang dilakukan oleh petani. Hasil Assessment Kebutuhan Mitra ditunjukkan dalam Tabel 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kebutuhan Mitra Analisis kebutuhan mitra dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan ketua kelompok tani, serta diskusi kelompok terarah (FGD) dengan petani kopi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Tabel 2. Hasil assessment kebutuhan mitra Masalah Penyebab Pengetahuan proses fermentasi dalam pembuatan pupuk Kurangnya informasi dan organik masih rendah bimbingan dalam pembuatan pupuk organik Penguasaan teknologi fermentasi masih rendah Minimnya tentang teknologi fermentasi Penguasaan teknologi alat kontrol dalam proses Minimnya fermentasi rendah pengetahuan tentang alat Analisis menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara potensi sumber daya limbah kohe yang sangat melimpah dan kemampuan teknis petani dalam mengolahnya menjadi pupuk organik berkualitas. Temuan pada Tabel 2 menegaskan bahwa petani masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai dasar-dasar probiotik, rasio C/N, dan ciri-ciri kompos Selain itu, penggunaan kohe mentah sebagai pupuk masih menjadi praktik umumAi suatu kondisi yang meningkatkan risiko fitotoksisitas NHCE/NHCE dan memperburuk struktur tanah. Rendahnya pemahaman ini diperkuat oleh minimnya inovasi teknologi di tingkat petani, serta ketiadaan SOP fermentasi yang menyebabkan proses pengomposan berlangsung tidak konsisten. Di sisi lain, hasil analisis menunjukkan adanya kelemahan pada aspek keterampilan teknis, khususnya dalam penggunaan alat kontrol fermentasi seperti pH meter, termometer, dan alat ukur kelembapan. Petani juga belum terbiasa melakukan pengadukan atau pembalikan tumpukan kompos secara teratur, padahal langkah ini sangat menentukan keberhasilan fermentasi aerobik. Permasalahan ini terutama disebabkan oleh belum pernah dilaksanakannya pelatihan teknis yang komprehensif, terbatasnya akses pendampingan teknologi di kelompok tani. Namun demikian, kelompok tani memiliki potensi besar untuk berkembang karena ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, meningkatnya permintaan pupuk organik pada tanaman kopi, dan peluang ekonomi yang menjanjikan apabila pengolahan kompos dilakukan dengan metode yang benar. Tabel 3. Usulan solusi masalah mitra Masalah 1 Pengetahuan proses fermentasi dalam pembuatan pupuk organic masih rendah 2 Penguasaan teknologi fermentasi masih Penyebab Pelatihan dan bimbingan dalam pembuatan pupuk organik Pelatihan dan pendampingan tentang teknologi fermentasi Berdasarkan berbagai temuan tersebut, disusunlah sejumlah solusi yang dirangkum dalam Tabel 3, meliputi pelatihan dan bimbingan pembuatan pupuk organik, pendampingan teknologi fermentasi, serta demonstrasi penggunaan alat kontrol proses. Implikasi dari analisis kebutuhan ini kemudian diterapkan dalam perancangan program melalui pendekatan pembelajaran partisipatif, pendampingan intensif selama 14 hari, penyusunan modul pelatihan bertahap, serta penyediaan SOP sebagai panduan teknis. Strategi ini dirancang untuk memastikan terjadinya peningkatan kapasitas . apacity buildin. dan adopsi teknologi . echnology adoptio. , sehingga kelompok tani mampu menerapkan proses fermentasi secara mandiri dan berkelanjutan. Hasil Pelaksanaan Program Peningkatan Kapasitas Mitra Hasil analisis awal menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara potensi sumber daya yakni ketersediaan limbah kohe Kusmiyati et al. Fermentasi Limbah Kotoran Sapi. yang melimpah dengan kemampuan teknis petani dalam mengolahnya menjadi pupuk Sebelum pelatihan, mayoritas petani menggunakan kohe mentah langsung ke lahan, tidak memahami konsep fermentasi, rasio C/N, ciri kompos matang, ataupun pentingnya pengukuran suhu, pH, dan Keterampilan menggunakan alat kontrol . H meter, termometer, dan moisture mete. juga belum dimiliki. Setelah pelaksanaan pelatihan yang meliputi ceramah, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan selama 14 hari, terjadi peningkatan kapasitas yang cukup Berdasarkan hasil preAepost test terhadap 25 peserta, tingkat pengetahuan meningkat sebagai berikut: Tabel 4. Hasil pelaksanaan program Indikator Pengetahuan Pre-test Dasar fermentasi Teknik penyusunan kompos Kontrol suhuAekelembapan Penggunaan probiotik/PGPR Ciri kompos matang Tabel pelaksanaan program terlihat peningkatan pengetahuan, keterampilan teknis juga Peserta telah mampu melakukan penyusunan lapisan kompos 3 ton dengan benar, mencampur probiotik MA11 dan PGPR, mengukur suhu kompos setiap dua hari, melakukan pembalikan ketika suhu melebihi 60AC, serta melakukan panen, pengayakan, dan pengemasan produk akhir. Dari proses fermentasi lapangan, diperoleh kompos matang dengan karakteristik: warna hitam pekat, tekstur remah, tidak berbau, suhu akhir stabil 29Ae32AC, kelembapan 35Ae45%, total produksi A1,8 ton dari 3 ton bahan awal . ield 60%). Kondisi ini menunjukkan bahwa petani mampu mengikuti SOP fermentasi dengan baik. Selain itu, keberhasilan program terlihat dari perubahan perilaku: 70% peserta mulai membuat kompos mandiri dan 40% di antaranya telah menjual hasil kompos ke petani lain. Dampak ekonomi awal menunjukkan potensi pendapatan Rp 1,8Ae4,5 juta per batch, yang dapat meningkat jika produksi dilakukan secara rutin. Post-test Peningkatan 36% 42% 40% 42% 40% kelompok tani. Berdasarkan evaluasi preAe post test, terjadi peningkatan pemahaman peserta sebesar 38Ae45%, terutama pada aspek pengaturan suhu, kelembapan, pH, serta indikator kompos matang. Selama proses fermentasi berlangsung, petani mampu melakukan pemantauan rutin setiap dua hari, serta melakukan pembalikan tumpukan ketika suhu melebihi 60AC. Kondisi aktual fermentasi di lapangan menunjukkan bahwa suhu inti tumpukan kompos stabil pada 55Ae 60AC pada hari ke-3 sampai hari ke-6, sesuai dengan standar fermentasi aerob. Pada hari ke-14, kompos yang dihasilkan telah berwarna hitam, bertekstur remah, beraroma tanah, dan tidak berbau menyengat. Hasil ini konsisten dengan laporan (Silalahi et al. bahwa fermentasi yang baik ditandai dengan penurunan suhu menjadi stabil di bawah 35AC setelah fase termofilik selesai. Dari 3 ton bahan awal, dihasilkan A 1,8 ton kompos matang, menunjukkan efisiensi (Dharmawibawa & Karmana, 2. Dampak sosial ekonomi yang muncul antara lain peningkatan kemampuan teknis petani, terbukanya peluang produksi pupuk organik mandiri, serta pengurangan ketergantungan pada pupuk anorganik yang harganya mahal. Dampak sosial ekonomi juga mulai terlihat. Petani kopi melaporkan bahwa pupuk organik fermentasi mampu menurunkan kebutuhan pupuk kimia hingga 30%, sementara kelompok ternak menyatakan Keberhasilan Pelaksanaan Fermentasi dan Dampaknya Bagi Mitra Pelaksanaan pelatihan dan praktik fermentasi pupuk organik menunjukkan peningkatan kapasitas yang signifikan pada Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 bahwa lingkungan kandang menjadi lebih bersih dan berkurang bau. Dari sisi ekonomi, pupuk kompos yang sudah diayak dan dikemas memiliki potensi nilai jual Rp 1. 000Ae 500 per kg. Dengan produksi awal 3 ton per siklus, kelompok tani berpotensi memperoleh tambahan pendapatan Rp 3Ae4,5 juta per bulan jika proses dilakukan secara rutin. Temuan ini sejalan dengan studi (Silva et al. yang menekankan bahwa pengelolaan limbah ternak melalui fermentasi tidak hanya meningkatkan kualitas tanah, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru dalam ekonomi sirkular desa. pH, oksigen, nutrisi mikrob. , semakin cepat bahan organik berubah menjadi kompos stabil dengan kandungan hara lebih baik. Hal ini terbukti pada hasil fermentasi di Banyuanyar yang menghasilkan kompos berwarna hitam gelap, bertekstur remah, tidak berbau, dan lolos ayakan halus. Keuntungan fermentasi ini juga dirasakan oleh petani, seperti peningkatan daya serap nutrisi tanaman, pengurangan bau, peningkatan bioavailabilitas unsur hara, serta pemanfaatan limbah menjadi produk mahal guna. Keunggulan ini sejalan dengan temuan (Tuaka et al. , 2. yang menegaskan bahwa pengendalian suhu, pH, ketersediaan nutrisi, dan waktu fermentasi merupakan faktor kunci dalam menghasilkan pupuk organik berkualitas konsisten. Studi (Arunkumar & Thippeshappa, 2. juga menegaskan bahwa penggunaan probiotik mampu mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan kualitas nutrisi kompos. Dengan demikian, keberhasilan fermentasi di kelompok tani Banyuanyar dapat dinyatakan sesuai standar literatur ilmiah. Keberhasilan teknis ini mendukung keberlanjutan program karena petani kini telah memiliki keterampilan dasar, alat ukur, serta SOP fermentasi yang memungkinkan proses dilakukan secara mandiri. Hal ini mencerminkan kesiapan adopsi teknologi jangka panjang, sejalan dengan konsep transfer teknologi dan pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif. Analisis Proses Fermentasi. Reaksi Kimia, dan Keterkaitan Dengan Hasil Lapangan Efektivitas pelatihan tidak hanya terlihat dari peningkatan keterampilan petani, tetapi juga dari hasil teknis Beberapa faktor penting yang diperhatikan dalam proses fermentasi meliputi: . penggunaan bambu berongga sebagai jalur aerasi agar suhu tumpukan stabil pada 40Ae60AC, . penyiraman berkala untuk mempertahankan kelembapan 50Ae 60%, dan . pembalikan tumpukan setiap dua hari untuk menjaga oksigenasi dan mencegah pemadatan bahan. Hal ini sesuai rekomendasi (Utomo & Nurdiana, 2. Mekanisme ini menjelaskan mengapa fermentasi berlangsung stabil dan kompos matang dalam 14 hari. Secara ilmiah, proses fermentasi menggambarkan perubahan senyawa organik menjadi bentuk yang lebih sederhana. Reaksi-reaksi tersebut (Suhartawan et al. Penguraian karbohidrat . elulosa & (CH2O)x zO2 IezCO2 zH2O Energi Mineralisasi nitrogen organik: NorganikIeNH4 IeNO2OeIeNO3Oe Energi Oksidasi senyawa sulfur organik: Sorganik O2IeSO42Oe Energi Penguraian senyawa fosfor organik: P-organikIeH2PO4 Ca(HPO. SIMPULAN DAN SARAN Program pelatihan fermentasi kohe sapi di Desa Banyuanyar berhasil meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola limbah ternak menjadi pupuk organik berkualitas. Melalui metode partisipatif yang menggabungkan teori, praktik langsung, dan pendampingan parameter penting seperti suhu, pH, kelembapan, dan teknik pembalikan kompos. Produk pupuk organik yang dihasilkan dibandingkan kohe mentah, ditinjau dari tekstur, aroma, dan kematangan kompos. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka Reaksi tersebut menunjukkan bahwa semakin optimal kondisi fermentasi . Kusmiyati et al. Fermentasi Limbah Kotoran Sapi. mengurangi ketergantungan pada pupuk Mendukung Pengembangan Sektor Pertanian dan Perkebunan Desa Segoroyoso. Jurnal Atma Inovasia, 2. , 382Ae386. https://doi. org/10. 24002/jai. UCAPAN TERIMA KASIH