Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmac. : 1 Ae 11 ISSN : 2442-8744 . http://jurnal. id/jurnal/index. php/Galenika/index DOI : 10. 22487/j24428744. Kurkumin Meningkatkan Sensitivitas Sel Kanker Payudara terhadap Tamoksifen Melalui Penghambatan Ekspresi P-glikoprotein dan Breast Cancer Resistance Protein (Curcumin Increased Breast Cancer Cells Sensitivity to Tamoxifen Through Inhibition of P-glycoprotein and Breast Cancer Resistance Protein Expression. Erlia Anggrainy Sianipar1. Melva Louisa2 dan Septelia Inawati Wanandi3 Program Studi Farmasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta. Indonesia Departemen Farmakologi dan Terapi. Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta. Indonesia Departemen Biokimia. Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta. Indonesia Article Info: Received : 12 Februari 2018 in revised form: 21 Maret 2018 Accepted: 30 Maret 2018 Available Online: 30 Maret 2018 Keywords: Tamoxifen Curcumin P-gp BCRP Corresponding Author: Erlia Anggrainy Sinaipar Program Studi Farmasi. FK. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, 14440. Indonesia Mobile : 081210445684 Email: anggarainy@atmajaya. ABSTRACT The decreasing of sensitivity or resistance to tamoxifen occured after longterm treatment in breast cancer. One of the major factor in tamoxifen resistance is over expression of efflux transporter P-glycoprotein (P-g. and Breast Cancer Resistance Protein (BCRP). Curcumin has known as inhibitor of P-gp and BCRP. The addition of curcumin to the tamoxifen resistant cells is expected to increase the sensitivity of breast cancer cells to tamoxifen. This study aim to know the effect of curcumin in increasing the cell sensitivity to tamoxifen through inhibition of P-gp and BCRP transporter MCF-7 breast cancer cell line was induced with tamoxifen 1 AAM for 10 passage (MCF-7(T)), then cell viability and mRNA expression of P-gp and BCRP were analyzed. To the MCF-7(T) cells, curcumin was given at of 5/10/20 AAM with or without tamoxifen for 5 days and cell viability and mRNA expression of P-gp and BCRP were analyzed on day 5th. positive control, verapamil 50 AAM was used as P-gp inhibitor, ritonavir 15 AAM and nelfinavir 15 AAM were used as BCRP inhibitor. The results showed that MCF-7(T) cells sensitivity to tamoxifen decreased with 11. 8 times, the cell viability increased 10. 82 fold and mRNA expression of P-gp and BCRP 04 fold. Then after administration of curcumin with or without tamoxifen for 5 days, the cell viability and the mRNA expression of P-gp and BCRP decreased. As conclusion, curcumin increased the sensitivity of MCF-7(T) to tamoxifen characterized by the decreasing of cell viability and mRNA expression of P-gp and BCRP. However, the administration of combination of curcumin with tamoxifen was more potent than just The increased sensitivity was estimated at least partly through the inhibition of P-gp and BCRP mRNA expression by curcumin. Copyright A 2017 JFG-UNTAD This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. How to cite (APA 6th Styl. Sianipar. , et al. Kurkumin Meningkatkan Sensitivitas Sel Kanker Payu Dara Terhadap Tamoksifen Melalui Penghambatan ekspresi P-glikoprotein dan Breast Cancer Resistance Protein. Jurnal Farmasi Galenika : Galenika Journal of Pharmacy, 4. , 1-11. doi:10. 22487/j24428744. Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 ABSTRAK Penurunan sensitivitas hingga resistensi terhadap tamoksifen sering terjadi dalam pengobatan kanker payudara jangka panjang. Salah satu penyebab utamanya adalah peningkatan ekspresi transporter efluks Pglikoprotein (P-g. dan Breast Cancer Resistance Protein (BCRP). Kurkumin diketahui sebagai penghambat Pgp dan BCRP. Pemberian kurkumin pada sel yang telah menurun sensitivitasnya terhadap tamoksifen mampu meningkatkan sensitivitas sel kanker payudara terhadap tamoksifen melalui penghambatan kedua transporter Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek kurkumin dalam meningkatkan sensitivitas sel terhadap tamoksifen dengan cara menghambat kerja transporter effluks P-gp dan BCRP. Sel MCF-7 dipaparkan dengan tamoksifen 1 AAM selama 10 pasasi . el MCF-7(T)), kemudian dianalisis perubahan sensitivitas sel terhadap tamoksifen melalui viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP. Pada sel MCF-7(T), kurkumin diberikan dalam dosis 5. 20 AAM dengan atau tanpa tamoksifen selama 5 hari dan dianalisis viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP pada hari ke-5. Sebagai kontrol positif, verapamil 50 AAM digunakan sebagai penghambat P-gp, ritonavir 15 AAM dan nelfinavir 15 AAM sebagai penghambat BCRP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel MCF-7(T) telah menurun sensitivitasnya terhadap tamoksifen yang dibuktikan dengan terjadinya pergeseran CC50 sebesar 11. 8 kali, peningkatan viabilitas sel sebesar 10. 82 kali, dan peningkatan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP sebesar 4. 04 kali. Kemudian setelah pemberian kurkumin dengan atau tanpa tamoksifen selama 5 hari, viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP menjadi menurun. Kesimpulan penelitian ini adalah kurkumin meningkatkan sensitivitas sel MCF-7(T) terhadap tamoksifen yang ditandai dengan penurunan viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP. Namun demikian, pemberian kombinasi kurkumin dengan tamoksifen lebih kuat dibandingkan kurkumin saja. Peningkatan sensitivitas tersebut diduga terjadi melalui penghambatan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP oleh kurkumin. Kata Kunci : Tamoksifen. Kurkumin. P-glikoprotein. BCRP terjadinya MDR pada kanker payudara (Zhou et al, 2. Telah dilaporkan bahwa sekitar 30% dari MDR disebabkan oleh over ekspresi P-gp dan kejadian pada kanker payudara lebih dari 50% (Zhou et al, 2012 & Bansal et al, 2. Selain itu, pemaparan obat kemoterapi atau terapi hormonal setelah kurang lebih 7-10 bulan telah menunjukkan peningkatan ekspresi P-gp pada kanker payudara sebesar 1. 8 kali lipat. 5 BCRP bekerja sebagai pompa efluks di sel tumor, timbulnya BCRP yang terekspresi berlebihan mengakibatkan peningkatan konsentrasi obat di dalam sel dan menurunkan efek sitotoksik. Secara klinis telah dilaporkan korelasi positif antara ekspresi BCRP berlebihan dan penurunan efek antikanker terhadap pasien di hematologi dan tumor padat (Mao et al, 2005. Ee et al. Penghambat P-gp atau BCRP biasanya diberikan untuk meningkatkan akumulasi dan efikasi obat antikanker dalam kemoterapi (Anuchapreeda et al, 2. Salah satu senyawa sintetik yang telah diidentifikasi sebagai penghambat P-gp adalah penghambat BCRP yaitu ritonavir dan nelfinavir. PENDAHULUAN Diperkirakan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia menderita kanker payudara dan lebih dari 000 kematian terjadi setiap tahunnya (Zhou et al, 2. Pengobatan dengan antiestrogen tamoksifen merupakan terapi lini pertama untuk sebagian besar pasien kanker payudara (Lykkesfeldt et al, 1. Namun dalam tiga dasawarsa terakhir, ribuan wanita yang mendapat pengobatan tamoksifen mengalami penurunan respon atau bahkan tidak memberikan respon terhadap pengobatan kemoterapi kanker Hal ini mungkin terjadi karena timbulnya resistensi (University of California. Sekitar 40% pasien akhirnya kambuh dan meninggal karena resistensi setelah terapi selama 7-10 bulan (Ring et al, 2004 & Wind et al. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa resistensi tamoksifen berkaitan dengan multidrug resistance (MDR). MDR adalah suatu fenomena resistensi terhadap sejumlah bahan kemoterapeutik yang strukturnya berbeda setelah pemaparan suatu obat anti kanker (Choi et al. Peningkatan ekspresi transporter efluks Pgp dan BCRP diduga menjadi penyebab utama Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Namun, pada studi hewan coba dan uji klinik efikasi dari senyawa-senyawa tersebut berkurang karena bersifat toksik (Mao et al, 2005 & Anuchapreeda et al, 2. Kurkumin merupakan salah satu penghambat Pgp dan BCRP yang poten (Shukla et al, 2. Kurkumin memiliki aktivitas biologis dan farmakologi yang sangat luas seperti antioksidan, antiinflamasi dan antikanker. Hal ini penting transporter efluks dan meningkatkan sensitivitas sel kanker payudara terhadap antikanker dalam kemoterapi (Anuchapreeda et al, 2. Kurkumin adalah suatu senyawa polifenol, berupa pigmen berwarna kuning yang terdapat dalam rhizome Curcuma longa. Kandungan polifenol ini mengindikasikan bahwa kurkumin dapat mencegah dan mengobati kanker. Kurkumin bekerja dengan menurunkan ekspresi P-gp dan menurunkan efluks yang dimediasi oleh P-gp pada sel kanker yang resisten terhadap suatu obat. Kurkumin juga secara langsung berinteraksi dengan P-gp (Anuchapreeda et al, 2002. Aggarwal et al, 2. Wind . dalam studinya menjelaskan bahwa kurkumin mampu menghambat overekspresi BCRP yang diinduksi oleh mitoxantrone dan pheophorbide A pada sel kanker payudara (MCF-. Selain itu. Shukla . juga telah meneliti tentang penghambatan transporter efluks BCRP oleh kurkumin pada mencit yang diinduksi sulfasalazin dan menyimpulkan bahwa kurkumin dapat meningkatkan absorbsi dan distribusi obat yang dipengaruhi oleh BCRP. Sugiarti . telah melakukan penelitian mengenai pencegahan penurunan sensitivitas sel kanker payudara (MCF-. terhadap tamoksifen oleh kurkumin. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan sensitivitas sel dengan pemberian tamoksifen 1 AAM selama 12 hari yang ditandai dengan peningkatan ekspresi mRNA P-gp dan viabilitas sel. Namun dengan pemberian kurkumin sejak awal, ekspresi P-gp dan viabilitas sel tersebut menurun. Oleh karena itu, dalam penelitian ini kurkumin diharapkan dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker payudara (MCF-. terhadap pemberian antikanker tamoksifen jangka panjang selama kurang lebih 10 pasasi. Di samping itu, ingin diketahui apakah peningkatan sensitivitas sel tersebut diperantarai oleh penghambatan transporter efluks P-gp dan BCRP oleh METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Biosafety Cabinet Class II (Biohazar. , inkubator CO2 (Esco Memmer. , mikroskop inverted (Zeis. Haemocytometer Improved Neubauer Chamber. Thermo Scientific Centrifuge Eppendorf SorvalA Legend Micro 17. Centrifuge SorvalA Legend RT. Biorad Chromo 4 Real Time PCR Detection System. Ultrospec UV/Visible Spectrophotometer. Microplate Benchmark Biorad. Galur sel kanker payudara MCF-7 (Makmal Terpadu Imunoendokrinologi FKUI). Tamoksifen (Santa Cruz (USA)). Kurkumin, verapamil, ritonavir dan dimethylsulfoxide (DMSO) (Sigma- Aldrich Ltd (Singapur. Nelfinavir (PT Kimia Farm. Dulbecco Minimal Essential Medium (DMEM) dan Fetal Bovine Serum (FBS), Penisilin/Streptomisin. Gentamisin. Fungizone. Dubelco Phosphate Buffer Solution (D-PBS), dan Tryple Express (Gibco Ltd (Singapur. Reagen isolasi total RNA Mini Kit Tripure Isolation Reagent diperoleh dari Roche Diagnostics (Singapur. Primer P-gp. BCRP, dan -mikroglobulin diperoleh dari 1st BASE Ltd (Singapur. KAPA SBYR Fast one-step qRT-PCR kit Universal diperoleh dari KAPA Biosystem (USA). Metode Kultur sel MCF-7 Sel MCF-7 dikultur dengan menggunakan medium DMEM yang disuplementasi dengan 10% FBS, 2 mM L-glutamin, 1% penisilin dan streptomisin, 0,5% gentamisin dan 1% fungizon kemudian diinkubasi pada suhu 370C, 5% O2. Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Pemaparan tamoksifen 1 AAM pada sel MCF-7 Sel MCF-7 memaparkan tamoksifen 1 AAM secara terus menerus selama 10 pasasi, sel ini selanjutnya dinamakan sel MCF-7(T). Analisis ekspresi mRNA P-gp dan BCRP menggunakan qRT PCR Sekuens primer yang digunakan pada qRT PCR yaitu 2-microglobulin (F:5AoCCAGCAGAGAATGGaGTC-3Ao. R:3AoCATGTCTCGATcACTTAAC-5A. P-gp (F:5Ao-cATCATTGCAATAGCAGG-3Ao. R:3Ao-TGTTCaCTTCTGCTCCTGA-5A. BCRP F:5AoAGATgtCCAAGCGTTCAT3Ao. R:3Ao-CCAGTcAGTACGACTGTGACA5A. (Albermann et al, 2. Sampel dipersiapkan dengan mencampurkan 200 nM masing-masing primer, 5 AAL KAPA SYBRA Fast qPCR Master Mix, 0,2 AAL KAPA RT Mix . , 0,2 AAL dUTP, 500 ng RNA template, dan RNAse free water hingga 10 AAL. Sampel kemudian diinkubasi pada mesin qRT-PCR dengan kondisi sebagai berikut: untuk sintesis cDNA dilakukan pada suhu 42oC selama 5 menit, kemudian 5 menit pada suhu 95oC untuk inaktivasi enzim reverse transcriptase, dan 40 siklus yang terdiri dari 3 detik pada suhu 95oC untuk tahap denaturasi, 20 detik pada suhu 60oC untuk tahap annealing dan 20 detik pada suhu 72oC untuk tahap ekstensi. Setelah itu, dilanjutkan untuk tahap melting curve yaitu dimulai pada suhu 60oC sampai dengan 95oC. Perlakuan sel MCF-7(T) dengan kurkumin Sel MCF-7(T) dibagi menjadi beberapa kelompok perlakuan antara lain pemberian tamoksifen 1 AAM saja, pemberian kombinasi tamoksifen 1 AAM dengan kurkumin 5. 20 AAM, kombinasi tamoksifen 1AAM dengan verapamil 50 AAM/ritonavir 15 AAM/nelfinavir 15 AAM, pemberian kurkumin 5. 20 AAM saja, dan pemberian verapamil 50 AAM, ritonavir 15 AAM, nelfinavir 15 AAM saja selama 5 hari. Analisis viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP masing-masing kelompok perlakuan dilakukan pada hari ke-5. Masing-masing perlakuan dilakukan dalam dua kali percobaan rangkap dua. Hitung sel menggunakan Tryphan Blue Exclusion Method Sel yang telah konfluen 80-90%, dipanen dengan cara ditripsinisasi dengan menggunakan Tryple Express selama 5 menit, kemudian ditambahkan medium DMEM. Suspensi sel diambil sebanyak 20 AAL dan ditambahkan 10 AAl trypan blue. Sel dihitung dengan menggunakan kamar hitung Neubaeuer. Sel yang dihitung adalah sel yang hidup yaitu sel yang tidak diwarnai oleh trypan blue. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada pengamatan viabilitas sel MCF-7(T) menunjukkan bahwa tamoksifen masih dapat menekan pertumbuhan sel pada pasasi ke-1, namun mulai dari pasasi ke-2 efek tamoksifen menurun sehingga tidak dapat membunuh sel kanker (Gambar 1A). Terjadi peningkatan ekspresi mRNA transporter efluks P-gp dan BCRP pada sel MCF-7(T) yaitu berturut-turut 82 kali dan 4. 04 kali dibandingkan terhadap kontrol (Gambar 1B). Isolasi RNA Sel yang telah konfluen dipanen dan RNA total diekstraksi menggunakan Tripure Isolation Reagent sesuai prosedur yang telah diberikan oleh produsen. Kadar RNA total dikuantifikasi menggunakan Spektrofotometer Ultrospec 4300 pro UV/Visible dengan mengukur serapan pada panjang gelombang 260 nm dikalikan dengan konstanta 40 ng/AAl. Analisis viabilitas sel MCF-7(T) Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis viabilitas sel terlihat bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara sel MCF-7(T) baik yang dipaparkan kombinasi kurkumin dan tamoksifen maupun kurkumin saja. Kurkumin mampu menurunkan viabilitas sel pada hari ke-5 secara Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Persentase sel hidup MCF-7 (% ) dibandingkan terhadap kontrol Pasasi ke- DMSO MCF-7 TAM 1 uM Rasio ekspresi mRNA . inormalisasi terhadap B2-mikroglobulin sebagai housekeeping gen. *** *** Pgp Gambar 1. (A). Persentase sel hidup MCF-7 yang dipaparkan dengan tamoksifen 1 AAM pada pasasi ke-1 hingga pasasi ke-10. Kontrol adalah sel MCF-7 yang dipaparkan DMSO. (B). Perubahan tingkat ekspresi mRNA P-gp dan BCRP pada sel MCF7(T). Kontrol adalah sel MCF-7 yang tidak diinduksi tamoksifen 1 AAM. Tanda (***) menyatakan bermakna pada p<0,001 setelah uji ANOVA dilanjutkan dengan multiple comparison metode Tukey. Hasil disajikan dalam rerata A SD yang diperoleh dari dua kali percobaan terpisah rangkap dua. Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Persentase sel hidup (%) *** *** *** *** *** *** V uM 1u r 5 am R uM 1u it 1 N uM 1u l 15 K M 1u ur am K uM M 10 K uM *** *** *** *** *** *** Persentase sel hidup (%) Gambar 2. Persentase sel hidup MCF-7(T) setelah pemaparan kurkumin selama 5 hari dengan atau tanpa pemberian (A). Viabilitas sel MCF-7(T) setelah pemaparantamoksifen 1 AAM kurkumin 5/10/20 uM. (B). Viabilitas sel MCF-7(T) padapemaparan kurkumin 5. 20 AAM. Tiap percobaan merupakan hasil dari dua percobaan rangkap dua. Hasil disajikan dalam rerata A SD. Tanda (***) menyatakan bermakna pada p<0,001 setelah uji ANOVA dilanjutkan dengan multiple comparison metode Tukey dibandingkan terhadap tamoksifen 1 AAM. Tingkat ekspresi mRNA P-gp . inormalisasi terhadap B2-mikroglobulin sebagai housekeeping gen. A1. Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Tingkat ekspresi mRNA P-gp . inormalisasi terhadap B2-mikroglobulin sebagai housekeeping gen. A2. Tingkat ekspresi mRNA BCRP . inormalisasi terhadap B2-mikroglobulin sebagai housekeeping gen. B1. *** *** Tingkat ekspresi mRNA BCRP . inormalisasi terhadap B2-mikroglobulin sebagai housekeeping gen. B2. Gambar 3. Ekspresi mRNA P-glikoprotein dan BCRP setelah pemaparan kurkumin selama 5 hari dengan atau tanpa pemberian tamoksifen pada sel MCF-7(T). (A. Ekspresi mRNA P-gp pada sel MCF-7(T) yang dipaparkan dengan tamoksifen 1 AAM kurkumin 5. 20 uM. (A. Ekspresi mRNA P-gp pada sel MCF-7(T) yang dipaparkan dengan kurkumin 20 uM. (B. Ekspresi mRNA BCRP pada sel MCF-7(T) yang dipaparkan dengan tamoksifen 1 AAM kurkumin 5. (B. Ekspresi mRNA BCRP pada sel MCF-7(T) yang dipaparkan dengan kurkumin 5. 20 uM. Tiap percobaan merupakan hasil dari dua percobaan rangkap dua. Hasil disajikan dalam rerata A SD. Tanda (*) menyatakan bermakna pada p<0,05. (**)/(***) bermakna pada p<0,001 setelah uji ANOVA dilanjutkan dengan multiple comparison metode Tukey dibandingkan terhadap tamoksifen 1 AAM. Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 proporsional sesuai kadar, bermakna secara Penurunan viabilitas sel tertinggi dicapai pada kurkumin dengan dosis 20 AAM yaitu sekitar 67%, lebih besar dibandingkan kontrol positif verapamil, nelfinavir, dan ritonavir yang hanya mampu menurunkan viabilitas sel berturut-turut sebesar 25%, 16%, dan 28% (Gambar . ekspresi mRNA BCRP secara bermakna pada hari ke-5 (Gambar 3B1 dan 3B. Meningkatnya viabilitas mulai dari pasasi ke-2 pada pemaparan tamoksifen 1 AAM selama 10 pasasi (A 44 har. pada galur sel kanker payudara MCF-7 menunjukkan bahwa sel MCF-7 telah menurun sensitivitasnya terhadap pemberian tamoksifen. Penurunan sensitivitas ini terlihat mulai pasasi ke-2 . ari ke-. dan menetap hingga pasasi ke-10. Namun, model penelitian ini belum dapat memastikan apakah peningkatan viabilitas sel tersebut sudah stabil dan dapat dikatakan resisten karena waktu pemaparan tamoksifen yang relatif singkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kurniawan et al . dan Sugiarti et al . dimana pemberian tamoksifen 1 AAM sudah tidak dapat menekan pertumbuhan sel MCF-7 mulai pada hari ke-6. Penggunaan tamoksifen kadar 1 AAM juga sejalan dengan penelitian Motahariet al, 2005 pada sel kanker T47D dan Lykkesfeldtet al, 1994 pada sel MCF-7 yang telah resisten terhadap tamoksifen. Keduanya menyatakan bahwa kadar tamoksifen 1 AAM merupakan kadar dimana viabilitas sel masih cukup baik yaitu A 65% pada T47D dan A 50% pada sel MCF-7. Penelitian oleh Motahari et al mengungkapkan untuk dapat menghasilkan sel MCF-7 resisten yang stabil maka sel MCF-7 harus dipaparkan dengan tamoksifen minimal selama 3 bulan. Louieet al, 2010dalam penelitiannya juga mengembangkan sel MCF-7 yang resisten terhadap tamoksifen (MCF-7 TamR) tamoksifen pada konsentrasi 10 AAM selama kurang lebih 6 bulan. Resistensi sel MCF7TamR ini ditandai dengan cepatnya laju pertumbuhan sel dibandingkan dengan sel MCF-7 apabila dipaparkan tamoksifen, sedangkan pada kondisi normal tanpa paparan tamoksifen laju pertumbuhan sel MCF-7TamR dan MCF-7 sama. Peningkatan ekspresi mRNA P-gp sebesar 10,82 kali pada sel MCF-7(T) juga sejalan dengan penelitian Kurniawanet al, 2012 dan Sugiarti et al, 2012 dimana ekspresi mRNA P-gp pada sel MCF-7 yang diinduksi tamoksifen Analisis ekspresi mRNA P-gp dan BCRP pada sel MCF-7(T) Ekspresi mRNA P-gp dan BCRP pada sel MCF7(T) yang diberi perlakuan dengan kurkumin dengan atau tanpa tamoksifen selama 5 hari dapat dilihat pada Gambar 3. Kontrol merupakan sel MCF-7(T) yang diberi diberi tamoksifen 1 AAM. Pada analisis ekspresi mRNA P-gp, pemberian kurkumin berbagai kadar termasuk kontrol positif verapamil 50 AAM baik dikombinasi dengan atau tanpa tamoksifen, dapat menurunkan ekspresi P-gp. Pada hari ke5, paparan kombinasi kurkumin dengan tamoksifen pada kadar yang lebih besar yaitu 10 AAM dan 20 AAM menurunkan ekspresi mRNA Pgp secara bermakna yaitu menjadi 5,5 kali dan 6 Sedangkan pada kelompok yang dipaparkan kurkumin saja, hanya kurkumin 20 AAM yang dapat menurunkan ekspresi mRNA Pgp secara bermakna yaitu menjadi 7,25 kali. Kontrol positif verapamil 50 AAM juga menurunkan ekspresi mRNA P-gp secara bermakna pada hari ke-5 (Gambar 3A1 dan 3A. Pada analisis ekpresi mRNA BCRP, pemberian kurkumin 5, 10, dan 20 AAM dan kontrol positif ritonavir 15 AAM dan nelfinavir 15 AAM, baik dikombinasi dengan atau tanpa tamoksifen, sama-sama mempengaruhi ekspresi mRNA BCRP pada hari ke-5. Kombinasi kurkumin dengan tamoksifen dapat menurunkan ekspresi mRNA BCRP menjadi 2,46 kali pada dosis 20 AAM sedangkan dengan paparan dengan kurkumin saja ekspresi mRNA BCRP menurun menjadi 3,01 kali. Kontrol positif ritonavir 15 AAM dan nelfinavir 15 AAM juga menurunkan Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 meningkat pada hari ke-6 sebesar 1,10 kali. Selain itu penelitian oleh Sane et al juga menyatakan bahwa besarnya peningkatan ekspresi mRNA P-gp pada sel hepatosit manusia HepG2 dan sel kanker kolon LS174T yang masing-masing dipaparkan tamoksifen pada kadar 1 AAM, 2. 5 AAM, dan 5 AAM selama 72 jam adalah berturut-turut sebesar 1. 17 kali, 1. kali, dan 1. 60 kali pada sel HepG2 dan 1. kali, 1. 9 kali, dan 2. 98 kali pada sel LS174T. Penelitian ini menemukan bahwa ekspresi mRNA BCRP pada sel MCF-7(T) meningkat sebesar 4. 04 kali. Farabegoli et al, 2010 dalam penelitiannya, membuktikan bahwa pada sel MCF-7 yang resisten terhadap tamoksifen terdapat peningkatan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP, kemudian setelah diberi perlakuan dengan Epigallocatechin-3gallate (EGCG) pada dosis 100 ug/ml selama 48 jam maka ekspresi mRNA P-gp dan BCRP tersebut menurun sebesar 53% dan 20%. Jika dibandingkan dengan hasil yang didapat dalam penelitian ini, ditemukan bahwa lamanya paparan/induksi dengan tamoksifen sangat mempengaruhi peningkatan ekspresi mRNA Pgp dan BCRP. Semakin lama waktu induksi dengan tamoksifen, maka akan memberikan peningkatan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis viabilitas sel, efek pemberian kurkumin dengan maupun tanpa tamoksifen pada sel MCF-7(T) selama 5 hari membuktikan bahwa kurkumin mampu menekan viabilitas sel. Menurut Shehzad et al, 2010 kurkumin dapat menekan pertumbuhan sel kanker melalui berbagai cara seperti menghambat faktor transkripsi (NF-kB dan AP-. , menghambat enzim (COX-2 dan MMP. , menghambat sitokin dan STAT, menghambat cyclin D1, menginduksi apoptosis, dan lain sebagainya. Pada analisis tingkat ekspresi mRNA Pgp dan BCRP, pemberian kombinasi kurkumin dengan tamoksifen lebih kuat menurunkan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP dibandingkan terhadap pemberian kurkumin saja. Hasil ini menunjukkan bahwa kemungkinan pemberian kombinasi kurkumin dengan tamoksifen menghasilkan efek sinergis sehingga lebih kuat menekan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP dibandingkan terhadap pemberian kurkumin Jiang et al, 2013 dalam penelitiannya mengenai kurkumin meningkatkan sensitivitas tamoksifen pada sel kanker payudara MCF7/LCC2 dan MCF-7/LCC9 mengemukakan bahwa pemberian kombinasi kurkumin dengan tamoksifen dapat meningkatkan sensitivitas sel MCF-7 terhadap tamoksifen sebesar 2. 4 kali dibandingkan dengan pemberian tamoksifen Penurunan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP oleh kurkumin dalam penelitian ini, tidak sebanding dengan penurunan viabilitas sel MCF-7 (T), baik pada pemberian kombinasi maupun dengan kurkumin saja. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian kurkumin dapat meningkatkan sensitivitas sel MCF-7 (T) terhadap tamoksifen, namun bukan hanya melalui penghambatan transporter efluks P-gp dan BCRP. Hal ini kurkumin yang digunakan kurang tinggi atau waktu paparan yang kurang lama sehingga efek kurkumin dalam menurunkan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP belum terlihat maksimal. Selain itu, diduga bahwa terdapat mekanisme transporter lain yang mempengaruhi kerja kurkumin dalam menghambat P-gp dan BCRP Chearwae et al, 2005 dalam studinya menurunkan ekspresi transporter efluks MRP-1 pada galur sel embrionik ginjal manusia HEK293 sehingga meningkatkan sensitivitasnya terhadap etoposide. Krisnamurti et al, 2013 dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa kurkumin mampu menurunkan ekspresi mRNA MRP-2 secara bermakna setelah pemaparan selama 5 hari. Mekanisme kurkumin dapat menurunkan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP tidak dipelajari dalam penelitian ini. Kemungkinan mekanisme yang terlibat antara lain seperti dalam studi Anuchapreeda et al . yang menguji efek kurkumin terhadap aktivitas ATPase dan Sianipar et al. /Jurnal Farmasi Galenika (Galenica Journal of Pharmac. : 1-11 Biochemical Pharmacology, 7,1397-1413. Albermann. Winnenthal. FHS. Graggen. KZ. Volk. Hoffmann. MM. Haefeli. WE. , et . Expression of the drug MDR1/ABCB1, MRP1/ABCC1, MRP2/ABCC2, BCRP/ABCG2, and PXR in peripheral blood mononuclear cells and their relationship with the expression in intestine and liver. Biochemical Pharmacology, 70. Anuchapreeda. Leechanachai. Smith. MM. Ambudkar. SV. Limtrakul. Modulation of P-glycoprotein Expression and Function by Curcumin in MultidrugResistant Human KB Cells. Biochemical Pharmacology, 64, 573-582. Bansal. Jaggi. Khar. RK. Talegaonkar,S. Emerging Significance Flavonoids as P-glycoprotein Inhibitors in Cancer Chemoterapy. Journal of Pharmacy &Pharmaceutical Sciences, 12, 46-78. Chearwae. Wu. CP. Chu. HY. , et al. Curcuminoids purified from turmeric powdermodulate the function of human multidrug resistance protein 1(ABCC. Cancer Chemotherapy and Pharmacology, 57, 376Ae388. Chearwae. Shukla. Limtrakul. Ambudkar. SV. Modulation of the function of the multidrug resistance-linked ATP-binding cassete transporter ABCG2 by the cancer chemopreventive agent curcumin. Molecular Cancer Therapeutics, 5. ,1995-2004. Choi. HK. Yang. JW. Roh. SH. , et al. Induction Multidrug Resistance Associated Protein 2 in Tamoxifen-Resistant Breast Cancer Cells. Endocrine- Related Cancer, 14, 293-303. Ee. PLR. He. Ross. DD. Beck. WT. Modulation of Breast Cancer Resistance Protein (BCRP/ABCG. Gene Expression Using RNA Interference. Molecular Cancer Therapeutics, 3, 1577-1583. Farabegoli. Papi. Bartolini. Ostan. Orlandi. (-)-Epigallocatechin-3gallate downregulates P-gp and BCRP in a Tamoxifen Resistant MCF-7 Cell Line. Phytomedicine, 17, 356-362. Jiang. Huang. Zhang. Xie. Shen. Liu. , et al. Curcumin induces cell pengikatan terhadap P-gp melalui fotoafinitas analog dari substrat, mengindikasikan bahwa kurkumin menghambat P-gp pada tahap imunoreaktif protein dan menurunkan ekspresi pada tahap mRNA. Selain itu, studi oleh Aggarwal et al, 2006 melaporkan bahwa kurkumin merupakan inhibitor yang sangat kuat terhadap faktor transkripsi AP-1, yang berkorelasi positif dalam mengatur ekspresi Pgp. Pada penelitian Waiwut et al, 2002 menghambat P-gp kemungkinan karena kurkumin dapat menghambat translokasi NF-kB dan aktivitas dan ekspresi dari c-jun/AP1. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang meneliti tentang efek kurkumin dalam menghambat transporter efluks BCRP pada sel MCF-7 yang resisten terhadap Penelitian sebelumnya oleh Chearwae et al, 2006 menyatakan bahwa kurkumin merupakan penghambat fungsi BCRP yang poten, namun bukan bekerja pada tingkat protein tetapi kurkumin menstimulasi hidrolisis ATP dari transporter BCRP. KESIMPULAN Pemberian kurkumin dengan atau tanpa tamoksifen dapat mensensitisasi kembali sel kanker payudara MCF-7 terhadap tamoksifen sehingga menurunkan viabilitas sel dan ekspresi mRNA P-gp dan BCRP. Namun temuan ini perlu diklarifikasi lebih lanjut dengan melakukan pengukuran kadar tamoksifen penghambatan P-gp dan BCRP oleh kurkumin. Hasil penelitian ini mendukung penggunaan kombinasi tamoksifen dan kurkumin pada sel kanker yang telah resisten. DAFTAR PUSTAKA