Jurnal Siti Rufaidah Volume 3. Nomor 4. November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 DOI : https://doi. org/10. 57214/jasira. Tersedia: https://journal. org/index. php/JASIRA Kesiapsiagaan dan Kapasitas Tanggap Darurat Layanan Medis Gawat Darurat (Emergency Medical Service. terhadap Bencana: Scoping Review Rati Awaliah 1. Dio Triyoga 2*. Nabila Chairunissa 3. Nazla Nur Riastini 4. Ririn Zuhairini 5 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Indonesia Alamat: Jl. Siliwangi No. Area Sawah. Nogotirto. Kec. Gamping. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55292 * Penulis Korespondensi: triyogadio@gmail. Abstract. Disasters are global phenomena that continue to increase in both frequency and impact, posing serious challenges to health systems worldwide. One of the crucial components in disaster management is the preparedness of Emergency Medical Services (EMS) during the pre-hospital phase, which determines the speed and effectiveness of the initial medical response. However, multiple studies indicate that EMS preparedness and response capacity remain suboptimal, particularly in areas such as personnel training, intersectoral coordination, communication systems, infrastructure, and policy support. This study aims to map the preparedness and emergency response capacity of EMS in disaster situations using a scoping review approach. The research follows the methodological framework of Arksey and OAoMalley . , which includes formulating research questions, conducting literature searches, selecting relevant studies, extracting data, and synthesizing Literature searches were conducted through PubMed. ScienceDirect. Cochrane Library, and Google Scholar databases. From 114 identified records, 12 studies met the inclusion criteria. The review reveals that EMS disaster preparedness varies across countries. The main factors influencing EMS response capacity include: training and competency development of EMS personnel, . effectiveness of interagency coordination and communication, . availability of medical facilities and infrastructure, . national policy and system support, and . the use of technology to enhance response efficiency. This scoping review underscores the need for stronger national policies, improved cross-sectoral coordination, and sustainable capacity-building programs to enhance the effectiveness of EMS in disaster response, particularly in developing countries such as Indonesia. Keywords: Disaster Management. Disaster Preparedness. Emergency. Medical Services. Response Capacity Abstrak. Bencana merupakan fenomena global yang terus meningkat setiap tahun dan memberikan dampak serius terhadap sistem kesehatan. Salah satu komponen krusial dalam manajemen bencana adalah kesiapsiagaan Emergency Medical Services (EMS) pada fase pra-rumah sakit, yang menentukan kecepatan dan efektivitas respons awal terhadap korban. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap EMS di berbagai negara masih belum optimal, terutama dalam aspek pelatihan sumber daya manusia, koordinasi lintas sektor, sistem komunikasi, serta dukungan infrastruktur dan kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap darurat EMS terhadap bencana melalui pendekatan scoping review. Metode penelitian mengacu pada kerangka Arksey & OAoMalley . , yang meliputi perumusan pertanyaan penelitian, penelusuran artikel, seleksi literatur, ekstraksi data, serta sintesis temuan. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed. ScienceDirect. Cochrane Library, dan Google Scholar. Dari 114 artikel yang teridentifikasi, diperoleh 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan EMS terhadap bencana masih bervariasi antarnegara. Faktor-faktor utama yang memengaruhi kapasitas tanggap darurat meliputi: . pelatihan dan pengembangan kompetensi tenaga EMS, . efektivitas koordinasi dan komunikasi antar lembaga, . ketersediaan fasilitas dan infrastruktur medis, . dukungan kebijakan nasional terhadap sistem tanggap bencana, serta . pemanfaatan teknologi dalam mempercepat proses Scoping review ini menegaskan pentingnya penguatan kebijakan nasional, peningkatan integrasi sistem lintas sektor, serta pengembangan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas EMS dalam penanggulangan bencana, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Kata kunci: Emergency Medical Services. Gawat Darurat. Kapasitas Tanggap Darurat. Kesiapsiagaan Bencana. Layanan Medis Naskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 LATAR BELAKANG Bencana merupakan fenomena global yang frekuensinya terus meningkat setiap tahun dan menimbulkan ancaman serius terhadap kehidupan manusia. Menurut World Health Organization (WHO, 2. , lebih dari 400 bencana besar terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia dengan dampak yang luas terhadap sistem kesehatan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ribuan kematian, tetapi juga mengganggu layanan medis, logistik, dan infrastruktur kesehatan di berbagai negara. Fenomena tersebut menunjukkan betapa pentingnya kesiapan sistem kesehatan global dalam mempertahankan layanan darurat yang efektif di tengah situasi krisis. Dampak bencana tidak hanya bersifat fisik dan ekonomi, tetapi juga mencerminkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan tenaga kesehatan dalam merespons keadaan darurat. Banyak korban meninggal bukan karena cedera yang tidak dapat ditangani, melainkan akibat keterlambatan pemberian pertolongan medis pada fase awal pascabencana. Kondisi ini menegaskan pentingnya sistem pelayanan pra-rumah sakit yang tanggap dan responsif untuk memberikan intervensi medis sebelum pasien tiba di fasilitas kesehatan. Dalam konteks ini. Emergency Medical Services (EMS) berperan krusial sebagai komponen utama yang menentukan kecepatan, ketepatan, dan koordinasi dalam pemberian layanan gawat darurat di Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapan EMS terhadap bencana masih belum optimal di banyak negara. Studi sistematis oleh Beyramijam et , . mengungkapkan bahwa sebagian besar lembaga EMS belum memiliki kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi bencana berskala besar, terutama dalam hal pelatihan rutin, kapasitas sumber daya manusia, komunikasi, dan koordinasi lintas sektor. Penelitian tersebut menekankan perlunya kebijakan nasional yang kuat untuk memperkuat sistem tanggap darurat pra-rumah sakit secara menyeluruh. Penelitian lanjutan oleh Beyrami Jam et al. , . di Iran menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar fasilitas EMS berada pada tingkat kesiapsiagaan sedang, terdapat kesenjangan serius dalam kapasitas respons dan koordinasi antar-lembaga. Kurangnya latihan simulasi serta belum terintegrasinya sistem komunikasi berkontribusi terhadap keterlambatan transportasi pasien dan meningkatnya angka kematian pascabencana. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan respons bencana tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada sistem koordinasi dan kesiapan organisasi. Dari sisi kebijakan, beberapa negara telah memperkuat sistem tanggap darurat nasional dengan menjadikan EMS sebagai bagian integral dari sistem kesehatan. Di Indonesia. Kesiapsiagaan dan Kapasitas Tanggap Darurat Layanan Medis Gawat Darurat (Emergency Medical Service. terhadap Bencana: Scoping Review Kementerian Kesehatan melalui program Public Safety Center (PSC) 119 telah berupaya mempercepat penanganan pra-rumah sakit dalam kondisi gawat darurat dan bencana. Meskipun demikian, implementasi program tersebut belum merata di seluruh wilayah dan masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan tenaga terlatih, infrastruktur komunikasi yang belum optimal, serta minimnya sarana transportasi medis yang memadai (Nurmalia & Budiono, 2. Melihat fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap darurat EMS terhadap bencana, khususnya pada fase pra-rumah sakit dan proses transportasi pasien, merupakan aspek krusial yang perlu dikaji secara mendalam. Kajian literatur ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi kesiapsiagaan EMS baik secara global maupun nasional, serta menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan strategi peningkatan efektivitas layanan medis gawat darurat di masa mendatang. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini mengacu pada kerangka metodologis yang dikemukakan oleh Arksey & OAoMalley, . dalam pelaksanaan scoping Pendekatan ini digunakan untuk memetakan secara menyeluruh literatur yang relevan terkait topik penelitian serta mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan yang masih ada. Secara umum, scoping review dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yaitu: Merumuskan pertanyaan penelitian secara jelas dan objektif. Mencari dan menentukan artikel yang relevan dengan topik penelitian. Menyeleksi literatur yang sesuai dan melakukan proses ekstraksi data. Mengorganisir, merangkum, dan menganalisis informasi yang diperoleh. Menyajikan dan melaporkan hasil temuan dari data yang telah dikumpulkan. Scoping review merupakan metode sintesis bukti ilmiah yang bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai literatur yang ada mengenai suatu topik, konsep, atau isu tertentu. Berbeda dengan systematic review yang berfokus pada penilaian efektivitas intervensi, scoping review menitikberatkan pada pemetaan ruang lingkup penelitian yang telah dilakukan, pendekatan metodologis yang digunakan, serta identifikasi kesenjangan pengetahuan . nowledge gap. yang masih perlu diteliti lebih lanjut. Metode ini bersifat fleksibel dan iteratif, sehingga memungkinkan peneliti menyesuaikan pertanyaan penelitian serta strategi pencarian literatur seiring perkembangan proses kajian. Selain itu, scoping review mencakup berbagai jenis sumber, baik dari penelitian empiris maupun grey literature, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih Jurnal Siti Rufaidah - Volume 3. Nomor, 4 November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 komprehensif mengenai tren, teori, serta arah pengembangan penelitian dalam bidang tertentu (Peters et al. , 2. Dalam konteks penelitian ini, komponen penerapan dimulai dari tahap pengkajian hingga evaluasi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penerapan diartikan mengimplementasikan sesuatu. Sementara menurut (Nilaprapti et al. , 2. , penerapan dapat dipahami sebagai aktivitas mempraktikkan teori, metode, atau konsep tertentu guna mencapai hasil yang diinginkan oleh individu, kelompok, atau organisasi. Pertanyaan penelitian AyBagaimana tingkat kesiapsiagaan dan kapasitas respon bencana pada layanan Emergency Medical Services (EMS)?Ay Tabel 1. Pencarian keywords dengan metode PICO Emergency Medical Implementation Services (EMS) OR Prehospital Emergency Care OR Paramedic OR Ambulance Personnel Disaster Preparedness OR Emergency Preparedness OR Training Program OR Disaster Education OR Simulation Exercise Implementation Penelusuran literatur dilakukan melalui empat basis data utama, yaitu PubMed. ScienceDirect. Cochrane Library, dan Google Scholar. Dari hasil pencarian awal, diperoleh sebanyak 114 artikel pada tahap identifikasi. Selanjutnya, dilakukan proses penyaringan terhadap judul dan abstrak untuk mengeliminasi artikel yang tidak relevan dengan topik penelitian, tidak tersedia dalam bentuk teks lengkap . ull tex. , serta artikel yang terbit sebelum Setelah proses penyaringan, dilakukan eliminasi artikel duplikasi dan penyisihan terhadap artikel yang tidak memenuhi kriteria inklusi, yaitu artikel yang tidak membahas peran Emergency Medical Services (EMS) pada fase pra-rumah sakit atau tidak berkaitan langsung dengan kesiapsiagaan dan kapasitas respons terhadap bencana. Setelah melalui proses penyaringan bertahap ini, diperoleh sebanyak 12 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Seleksi literatur mengikuti panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Proses PRISMA membantu menjaga transparansi serta replikasi proses telaah, dimulai dari identifikasi artikel, penyaringan, penentuan kelayakan, hingga tahap akhir seleksi artikel yang diikutsertakan. Setiap tahap dilakukan secara sistematis untuk memastikan bahwa hanya artikel yang relevan dan memenuhi kriteria kualitas ilmiah yang Kesiapsiagaan dan Kapasitas Tanggap Darurat Layanan Medis Gawat Darurat (Emergency Medical Service. terhadap Bencana: Scoping Review dimasukkan dalam analisis akhir. Hasil seleksi artikel secara keseluruhan digambarkan dalam diagram PRISMA Moher 2009 pada Gambar 1 berikut ini: Gambar 1. Prisma Flow Diagram (Moher, 2. Beberapa aspek yang diekstraksi dari setiap artikel meliputi nama peneliti, tahun publikasi, negara asal penelitian, serta judul artikel. Selain itu, komponen analisis disusun berdasarkan kerangka DSVIA, yang mencakup Desain penelitian. Sampel. Variabel. Instrumen, dan Analisis yang digunakan dalam masing-masing studi. Setiap artikel juga dicatat temuan utamanya yang relevan dengan fokus kajian mengenai kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap Emergency Medical Services (EMS) dalam menghadapi bencana. Seluruh data yang telah diekstraksi kemudian disintesis secara sistematis untuk mengidentifikasi kesamaan, perbedaan, dan pola tematik yang muncul di antara berbagai studi. Hasil proses ekstraksi dan sintesis literatur tersebut disajikan secara ringkas dalam Tabel 2, yang menggambarkan karakteristik utama dari artikel yang terpilih dan memberikan dasar bagi analisis lebih lanjut pada bagian hasil dan pembahasan. Hasil ekstraksi dan sintesis literatur tersebut disajikan dalam Tabel 2 berikut: Jurnal Siti Rufaidah - Volume 3. Nomor, 4 November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 Tabel 2. Sintesis review artikel Penulis. Tahun. Metode (Desain. Sampel. Judul Hasil Temuan Negara Variabel. Instrumen. Analisi. Saadatmand V. et Emergency medical D: Systematic review (PRISMA- Kesiapsiagaan EMS bergantung pada . Iran services preparedness pelatihan individu, kerja tim, ketersediaan in mass casualty S: 10 studi tentang EMS di incidents: A systematic insiden massal. namun banyak sistem EMS V: Kesiapsiagaan EMS masih kekurangan pelatihan rutin. I: Ekstraksi literatur koordinasi, dan sarana pendukung saat A: Sintesis tematik Beyramijam et al. Disaster Preparedness D: Systematic review Studi-studi sebelumnya menunjukkan . Iran among Emergency S: Artikel primer dan sekunder bahwa kesiapsiagaan petugas EMS Medical Service . ualitatif, kuantitatif, revie. masih beragam dan dipengaruhi oleh Providers: A tentang kesiapsiagaan petugas pelatihan, pengalaman, serta dukungan Systematic Review EMS yang dipublikasikan Belum ada review lengkap yang Protocol tahun 2005Ae2019. merangkum tingkat kesiapsiagaan EMS. V: Tingkat kesiapsiagaan petugas sehingga penelitian ini dibuat untuk EMS, dimensi kesiapsiagaan, mengidentifikasi faktor kunci yang dan strategi meningkatkan memengaruhi preparedness dan strategi I: Pencarian database (PubMed. Scopus. Web of Science. Google Schola. , penilaian kualitas menggunakan STROBE A: Analisis tematik Jam et al. Evaluating the disaster D: Cross-sectional Sebagian besar fasilitas EMS di Iran Iran preparedness of S: Semua fasilitas EMS di Iran berada pada tingkat kesiapsiagaan emergency medical . AusedangAy, services (EMS) V: Tingkat kesiapsiagaan fasilitas signifikan dalam dimensi koordinasi/kerja facilities: a crossEMS terhadap bencana sama dan surge capacity. sectional investigation I: Alat ukur nasional in Iran standar,kuesioner, data A: Statistik deskriptif, uji t-test, korelasi Pearson Biswas Preparedness for Mass D: Cross-sectional Pelatihan multisektor yang melibatkan . Israel Casualty Incidents: The S: Petugas EMS dan lembaga non-medis Effectiveness of darurat terkait di Israel meningkatkan kesiapsiagaan MCI, tetapi Current Training Model V: Efektivitas model pelatihan partisipasi dan keterlibatan sektor publik kesiapsiagaan MCI (Mass serta non-medis masih rendah. Casualty Inciden. I: Kuesioner data pelatihan A: Analisis deskriptif Schulz Exploring medical first D: Mixed-method Pelatihan skenario massal sangat . Jerman respondersAo S: Petugas medis pertama . irst dihargai oleh first responders, tetapi perceptions of mass responder. di Jerman masih diperlukan latihan yang lebih casualty incident V: Persepsi kesiapsiagaan realistis dan integrasi antar-lembaga agar training and terhadap kejadian massal respons menjadi lebih efektif. I: Kuesioner, wawancara A: Analisis tematik, statistik Seid et al. Challenges of preD: Kualitatif deskriptif Infrastruktur, komunikasi, dan sumber Ethiopia hospital emergency S: 21 petugas layanan pra-rumah daya menjadi hambatan utama dalam care at Addis Ababa sakit di Addis Ababa Fire & pelayanan pra-rumah sakit di Addis Fire and Disaster Risk Disaster Risk Management Ababa. Management Commission Commission. Addis V: Tantangan dalam pelayanan Ababa. Ethiopia: a pra-rumah sakit . re-hospita. qualitative study. I: Wawancara mendalam semiterstruktur Analisis tematik Bhattarai et al. Prehospital Emergency D: Systematic review Sistem EMS pra-rumah sakit di negara . Nepal Care in Low- and S: Studi pra-rumah sakit di LMIC sangat terfragmentasi, dengan Middle-Income negara berpenghasilan rendah infrastruktur, pelatihan, dan regulasi yang Countries: A dan menengah (LMIC) belum memadai berdampak pada Systematic Review. V: Kapasitas sistem pra-rumah keterlambatan penanganan darurat. sakit dan kesiapsiagaan EMS I: Pencarian literatur di database A: Sintesis naratif Kesiapsiagaan dan Kapasitas Tanggap Darurat Layanan Medis Gawat Darurat (Emergency Medical Service. terhadap Bencana: Scoping Review Metode (Desain. Sampel. Hasil Temuan Variabel. Instrumen. Analisi. D: Systematic review (PRISMA- Berbagai SimEx . abletop, functional, full-scale exercise. terbukti S: 29 studi tentang SimEx dari berbagai negara. preparedness, namun masih diperlukan V: Jenis SimEx, efektivitas, evaluasi yang lebih rigorous dan metode evaluasi. standardisasi proses. Metode evaluasi I: Ekstraksi literatur dari PubMed, umum: kuesioner, debriefing, postCINAHL. BioMed Central, exercise exam, dan video/photography. Google Scholar A: Newcastle-Ottawa Scale (NOS), sintesis naratif Ely et al. Role of EMS in D: Position statement / dokument EMS harus terlibat di semua fase USA Disaster Response Ae A manajemen bencana . Position Statement and S: Administrators & physician mitigasi, respons, pemuliha. dan Resource Document of EMS di AS memiliki kapabilitas yang berkelanjutan NAEMSP V: Peran dan kesiapsiagaan EMS untuk merespons kekurangan tenaga, dalam manajemen bencana I: Studi literatur, konsensus perlindungan pekerja. A: Analisis naratif Sheikhi COVID-19 Pandemic D: Systematic review Layanan pra-rumah sakit menghadapi . Iran and the challenges of S: Studi literatur tentang layanan tantangan besar berupa kecemasan pre-hospital emergency pra-rumah sakit selama petugas, kesiapan perlindungan diri, services in Iran: a pandemi COVID-19 komunikasi yang terganggu, serta systematic review. V: Tantangan layanan pra-rumah kurangnya pelatihan untuk kondisi sakit EMS I: Ekstraksi artikel dari database internasional, analisis literatur A: Sintesis naratif Riska et al. Kesiapsiagaan Perawat D: Kuantitatif. Deskriptif dengan Mayoritas Indonesia Dalam Menghadapi pendekatan Cross Sectional. kesiapsiagaan kategori tinggi . ,3%). Bencana di Ruang S: 32 perawat . otal samplin. ,8%), %). Rawat Inap RSUDZA V: Variabel tunggal: Pengetahuan tertinggi pada aspek Banda Aceh Kesiapsiagaan perawat dalam logistik, komunikasi, dan pelatihan menghadapi bencana . asing-masing 90,6%). Faktor I: Kuesioner pengetahuan pendukung: usia produktif, pendidikan kesiapsiagaan bencana oleh Di/Ners dan pelatihan kebencanaan. Hidayati . yang dimodifikasi . item, 5 indikator: pengetahuan bencana, logistik, komunikasi, pelatihan, kerja sama lintas A: Analisis distribusi frekuensi . Andini Analisis Kesiapsiagaan D: Systematic literature review Rumah sakit sudah memiliki kebijakan . Indonesia Manajemen Bencana di S: 12 artikel tentang dan SOP, serta tim bencana, namun Rumah Sakit kesiapsiagaan manajemen implementasi pelatihan, pemeliharaan Indonesia: Systematic bencana di rumah sakit sarana, dan evaluasi rutin masih kurang. Literature Review Indonesia V: Kesiapsiagaan manajemen bencana RS I: Pencarian literatur dari Google Scholar. Garuda. ScienceDirect. Scopus . A: Sintesis naratif Penulis. Tahun. Judul Negara Mahdi Systematic review on . , the current state of Pakistan/Malaysia disaster preparation Simulation Exercises (SimE. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Studi Dari hasil penelusuran literatur pada empat basis data utama, yaitu PubMed. ScienceDirect. Cochrane Library, dan Google Scholar, diperoleh total 114 artikel pada tahap awal identifikasi. Setelah melalui proses penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, seperti kesesuaian topik, ketersediaan teks lengkap, dan tahun publikasi (Ou2. , tersisa 12 Jurnal Siti Rufaidah - Volume 3. Nomor, 4 November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Proses seleksi ini digambarkan secara ringkas dalam diagram PRISMA (Moher, 2. Dari 12 artikel yang direview, penelitian berasal dari berbagai negara diantaranya 5 jurnal dari Iran, 2 jurnal dari Indonesia, 1 jurnal dari Israel, 1 jurnal dari Jerman, 1 jurnal dari Ethiopia, 1 jurnal dari Nepal, 1 jurnal dari Malaysia, dan 1 jurnal dari Amerika Serikat. Artikelartikel ini merangkum tema tentang kesiapsiagaan dan kapasitas tanggap darurat Emergency Medical Services (EMS) terhadap bencana pada fase pra-rumah sakit. Setting penelitian bervariasi mulai dari sistem EMS pra-rumah sakit, pusat komando bencana, hingga koordinasi lintas sektor. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terstandar, ekstraksi literatur sistematis, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Beberapa jurnal sudah melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen. Secara garis besar dari ke-12 artikel ini didapatkan tema: Tema 1: Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi Tenaga EMS Kesiapsiagaan EMS bergantung pada pelatihan individu, kerja tim, ketersediaan sumber daya, dan perencanaan operasional, namun banyak sistem EMS masih kekurangan pelatihan rutin, koordinasi, dan sarana pendukung saat bencana (Saadatmand et al. , 2. Pelatihan skenario massal sangat dihargai oleh first responders, tetapi masih diperlukan latihan yang lebih realistis dan integrasi antar-lembaga agar respons menjadi lebih efektif (Schulz et al. , 2. Pelatihan multisektor yang melibatkan lembaga non-medis terbukti meningkatkan kesiapsiagaan MCI (Mass Casualty Inciden. , tetapi partisipasi dan keterlibatan sektor publik serta non-medis masih rendah (Biswas et al. , 2. Kesiapsiagaan EMS dipengaruhi oleh pelatihan yang tidak merata, kurangnya koordinasi antar lembaga, keterbatasan sumber daya, dan belum adanya standar prosedur terpadu dalam penanganan bencana (Beyramijam et al. Tema 2: Efektivitas Koordinasi dan Komunikasi Antar Lembaga Sebagian besar fasilitas EMS berada pada tingkat kesiapsiagaan "sedang", tetapi ada kekurangan signifikan dalam dimensi koordinasi/kerja sama dan surge capacity (Beyrami Jam et al. , 2. EMS harus terlibat di semua fase manajemen bencana . esiapsiagaan, mitigasi, respons, pemuliha. dan memiliki kapabilitas yang berkelanjutan untuk merespons kekurangan tenaga, surge capacity, dokumentasi dan perlindungan pekerja (Ely et al. , 2. Infrastruktur, komunikasi, dan sumber daya menjadi hambatan utama dalam pelayanan pra-rumah sakit (Seid et al. , 2. Sistem EMS pra-rumah sakit di negara LMIC (Low- and Middle-Income Countrie. sangat terfragmentasi, dengan infrastruktur, pelatihan, dan regulasi yang belum memadai sehingga berdampak pada keterlambatan penanganan darurat (Bhattarai et al. , 2. Layanan pra-rumah sakit menghadapi tantangan besar berupa kecemasan petugas, kesiapan Kesiapsiagaan dan Kapasitas Tanggap Darurat Layanan Medis Gawat Darurat (Emergency Medical Service. terhadap Bencana: Scoping Review perlindungan diri, komunikasi yang terganggu, serta kurangnya pelatihan untuk kondisi pandemi (Sheikhi et al. , 2. Tema 3: Ketersediaan Fasilitas dan Infrastruktur Medis Infrastruktur, komunikasi, dan sumber daya menjadi hambatan utama dalam pelayanan pra-rumah sakit di Addis Ababa (Seid et al. , 2. Sistem EMS pra-rumah sakit di negara berpenghasilan rendah dan menengah sangat terfragmentasi, dengan infrastruktur, pelatihan, dan regulasi yang belum memadai yang berdampak pada keterlambatan penanganan darurat (Bhattarai et al. , 2. Sebagian besar fasilitas EMS di Iran berada pada tingkat kesiapsiagaan "sedang", tetapi ada kekurangan signifikan dalam surge capacity untuk menghadapi lonjakan korban massal (Beyrami Jam et al. , 2. Tema 4: Dukungan Kebijakan Nasional terhadap Sistem Tanggap Bencana Rumah sakit sudah memiliki kebijakan dan SOP, serta tim bencana, namun implementasi pelatihan, pemeliharaan sarana, dan evaluasi rutin masih kurang (Andini et al. Kesiapsiagaan EMS dipengaruhi oleh belum adanya standar prosedur terpadu dalam penanganan bencana dan kurangnya koordinasi antar lembaga (Beyramijam et al. , 2. EMS harus terlibat di semua fase manajemen bencana dan memiliki kapabilitas yang berkelanjutan yang didukung oleh kebijakan nasional (Ely et al. , 2. Sistem EMS pra-rumah sakit di negara LMIC sangat terfragmentasi dengan regulasi yang belum memadai (Bhattarai et al. , 2. Kesiapsiagaan EMS bergantung pada perencanaan operasional yang matang, namun banyak sistem EMS masih kekurangan kebijakan yang mengatur standar operasional dan pendanaan dalam situasi bencana (Saadatmand et al. , 2. Tema 5: Pemanfaatan Teknologi dalam Mempercepat Proses Respons Pelatihan skenario massal dengan teknologi simulasi sangat dihargai oleh first responders untuk meningkatkan kesiapsiagaan (Schulz et al. , 2. EMS memiliki kapabilitas dokumentasi yang berkelanjutan untuk merespons situasi darurat dengan sistem informasi yang terintegrasi (Ely et al. , 2. Sistem komunikasi yang terganggu menjadi hambatan dalam pelayanan pra-rumah sakit, sehingga diperlukan teknologi komunikasi yang handal (Seid et al. Sheikhi et al. , 2. Infrastruktur teknologi komunikasi yang belum memadai berdampak pada keterlambatan penanganan darurat di negara LMIC (Bhattarai et al. , 2. Jurnal Siti Rufaidah - Volume 3. Nomor, 4 November 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 264-275 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil telaah terhadap dua belas artikel yang dianalisis, dapat disimpulkan bahwa Emergency Medical Services (EMS) memegang peran penting dalam fase pra-rumah sakit pada penanganan bencana. Namun, sebagian besar sistem EMS di berbagai negara, termasuk Indonesia, masih menghadapi sejumlah kendala mendasar seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur yang belum memadai, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta kurang optimalnya sistem komunikasi dan informasi. Meskipun demikian, beberapa negara menunjukkan peningkatan kapasitas EMS melalui penerapan surge capacity, pelatihan berkala, serta pengembangan sistem komunikasi digital dan kebijakan tanggap bencana yang terintegrasi. Hasil ini menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dan berbasis sistem dalam memperkuat kesiapsiagaan EMS. Secara umum, kesiapsiagaan EMS yang efektif bergantung pada empat pilar utama: peningkatan kompetensi tenaga EMS, dukungan kebijakan yang kuat, integrasi sistem informasi dan komunikasi, serta kolaborasi antar lembaga kesehatan dan penanggulangan bencana. Dengan penguatan di empat aspek ini, layanan darurat pra-rumah sakit dapat memberikan respons yang cepat, tepat, dan efisien dalam situasi krisis. Saran