Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. OKSIDENTALISME DALAM BUKU SUFI HEALING. TERAPI DENGAN METODE TASAWUF KARYA M. AMIN SYUKUR. Analisis Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi tentang Tiga Pilar Pembaharuan Yuli Darwati Institut Agama Islam Negeri Kediri yulidarwati72@iainkediri. Info Artikel Submit : 16 Agustus 2024 Revisi : 2 September 2024 Diterima : 9 September 2024 Publis : 17 September 2024 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: . Sikap kritis Amin Syukur terhadap tasawuf. Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap penyembuhan medis. Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap realitas penyembuhan saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari kajian literatur kepustakaan , utamanya dari buku sufi healing karya M. Amin Syukur dan literatur tentang oksidentalisme dari Hassan Hanafi . Penelitian ini ini menggunakan pola pikir induktif-deduktif dan atau deduksi-induktif secara timbal balik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : . Amin Syukur memiliki sikap kritis terhadap tasawuf. Tasawuf sebagai sebagai ajaran untuk meraih kedekatan dengan Allah SWT, dapat berfungsi sebagai metode penyembuhan baik bagi diri . ara suf. , maupun orang awam. Metode penyembuhan ini kemudian disebut dengan sufi healing. Sufi healing sebagai metode penyembuhan memiliki kelemahan, yaitu cenderung menyandarkan diripada teks kitab suci dan keyakinan, sebaliknya belum memiliki rujukan ilmiah. Untuk itu. Amin Syukur melakukan penelitian untuk menemukan rujukan ilmiah dan menemukannya dalam . Amin syukur yang sangat kritis terhadap barat. Ia mengkritik era digital sebagai produk dari modernitas telah menyebabkan beberapa penyakit Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 Kata kunci P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 baik fisik maupun mental dalam masyarakat. Sementara itu penyembuhan dan penanganan medis terhadap penyakit tersebut, memiliki beberapa kelemahan, sehingga diperlukan bantuan dari pendekatan lain, utamanya psikologi dan pendekatan spiritual . ufi healin. Amin Syukur juga memiliki sikap kritis terhadap realitas penyembuhan penyakit pada saat ini, sehingga ia sangat optimis dengan masa depan sufi healing sebagai salah satu penyembuhan alternatif dalam masyarakat, baik dalam penyembuhan medis. Oksidentalisme. Sufi Healing. M Amin Syukur Pendahuluan Artikel ini hendak memfokuskan diri pada upaya untuk menggali muatan oksidentalisme dalam buku Sufi Healing Terapi dengan Metode tasawuf, buah karya M Amin Syukur. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi penulisan artikel ini. Pertama, buku ini merupakan salah satu buku teks rujukan utama bagi mahasiswa dan dosen tasawuf dan psikoterapi di PTKI. Bahkan ketika kita hendak mengkaji tentang sufi healing, selayaknya kita membaca buku ini terlebih dahulu, sebagai rujukan dasar dalam kajian. Kedua, buku memiliki manfaat yang besar bagi pembaca , antara lain membuka dan meluaskan wawasan dan pengalaman tentang dunia. Lebih dari itu, buku dapat menjadi sumber inspirasi dan mempengaruhi sikap pembaca. Penelitian oksidentalisme dalam buku sufi healing, terapi dengan metode tasawuf, karya M Amin Syukur ini menggunakan pendekatan psikologi sosial. Psikogi sosial merupakan salah satu cabang dari psikologi yang khusus mempelajari perilaku manusia dalam konteks sosial. Dalam psikologi sosial, sikap merupakan kajian yang penting dan senantiasa aktual untuk dipelajari. Sikap adalah proses evaluasi yang dilakukan individu terhadap suatu objek sikap . Objek ini dapat berupa benda, manusia, atau hal lainnya, sedangkan hasil evaluasi bisa positif dan negatif. 1 Beberapa teori menjelaskan bahwa sikap mempengaruhi perilaku. Teori itu antara lain teori perilaku beralasan dan Ajzen dan Fisbein dan teori perilaku berencana yang dicetuskan oleh Ajzen yang merupakan pengembangan dari teori perilaku beralasan. Teori perilaku beralasan memandang bahwa perilaku itu 1 Eko Sarwono. Sarlito, and Meinarno. Psikologi Sosial (Jakarta: Salemba Humanika, 2. , 82Ae83. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 ditentukan oleh intensi atau niat, dan intensi ditentukan oleh sikap dan norma subjektif. Sementara itu Ajzen dalam teori perilaku berencananya mengemukakan bahwa intensi atau niat tidak hanya ditentukan oleh sikap dan norma subjektif, tetapi juga kontrol perilaku yang dipersepsikan. Sikap manusia bukanlah bawaan manusia sejak lahir , tetapi diperoleh melalui Dengan demikian sikap dapat dibentuk melalui pengkondisian klasik, penguatan, maupun melalui pengamatan dan interaksi sosial. 3 Sikap juga dapat dibentuk melalui komunikasi persuasif. Penelitian ini menfokuskan diri pada pembentukan sikap melalui komunikasi persuasif melalui buku. Dalam psikologi sosial, buku merupakan salah satu bentuk komunikasi persuasif secara tertulis, untuk mempengaruhi pembaca sehingga terjadi perubahan sikap pada diri Secara umum buku berisi pesan-pesan penulis yang diharapkan diikuti oleh pembaca sebagai target sasaran. Ketika komunikasi persuasif dilakukan ada kemungkinan pembaca menerima pengaruh . dengan harapan akan mendapatkan keuntungan positif dari pesan yang disampaikan, pembaca melakukan identifikasi, karena ia percaya dengan sikap-sikap yang baru, atau melakukan internalisasi , karena isi pesan yang disampaikan oleh penulis, sesuai dengan sistem yang dimilikinya. Keberhasilan komunikasi persuasif ini akan ditentukan oleh beberapa hal. Pertama, karakteristik Komunikator. Seorang komunikator dianggap baik bila memiliki kredibilitas yang tinggi dan memiliki daya tarik bagi komunikan , dalam hal ini pembaca. Kredibilitas seorang komunikator akan bergantung pada keahlian dan validitas pesan yang disampaikan. Keahlian menggambarkan keluasan pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan dimiliki oleh komunikator, sedangkan validitas merujuk tingkat akurasi dn kebenaran dari apa yang disampaikan oleh komunikator, sehingga menimbulkan kepercayaan komunikan terhadap komunikator. Adapun daya tarik komunikator bisa dilihat dari bagaimana komunikator menyampaikan pesan dengan teknik dan metode yang menarik dan mudah dipahami oleh komunikan. 2 Sarwono. Sarlito, and Meinarno, 90Ae91. 3 Sarwono. Sarlito, and Meinarno, 84Ae85. 4 Tri Dayakisni and Hudaniah. Psikologi Sosial (Malang: UMM Press, 2. , 105Ae6. 5 Dayakisni and Hudaniah, 106Ae7. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Keberhasilan komunikasi persuasif juga dipengaruhi oleh karakteristik pesan. Jika pesan sesuai dengan karakteristik pembaca, maka akan mudah untuk diterima. Namun demikian kesenjangan isi pesan dapat pula menimbulkan perubahan sikap. Sebagaimana teori disonansi kognitif bahwa kesenjangan akan mendatangkan disonansi, dan menimbulkan tekanan yang secara potensial akan mengubah sikap pembaca. Faktor terakhir yang menentukan keberhasilan komunikasi persuasif adalah karakteristik komunikan dalam hal ini adalah pembaca. Dalam konteks ini, sebelum menyampaikan pesan, komunikator hendaknya mengetahui terlebih dahulu karakterisik komunikan sebagai calon penerima Karakteristik tersebut antara lain adalah harga diri dan intelegensi. Harga diri dan inteligensi mempengaruhi sikap, yang selanjutnya mempengaruhi perilaku. Individu yang memiliki harga diri tinggi umumnya sulit untuk dipengaruhi, karena mereka memiliki keyakinan tinggi akan sikap dan perilaku mereka. Sebaliknya dengan mereka yang memiliki harga diri yang rendah, akan mudah dipersuasi. Sementara itu orang yang memiliki intelegensi tinggi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pesan yang disampaikan baik sederhana maupun kompleks, akan tetapi sulit untuk terpengaruh oleh pesan yang Umur pembaca dalam sejumlah penelitian juga berpengaruh pada penerimaan pesan, yaitu pada usia remaja, dan dewasa awal. Usia tua akan sulit untuk Amin Syukur merupakan salah satu guru besar UIN walisongo Semarang. Beliau lahir di Gresik, 17 Juni 1952. Pendidikan S2 dan S3 ditempuhnya di IAIN Sunan kalijaga Yogjakarta. Banyak buku yang ditulis beliau antara lain. Pengantar studi akhlak. Pengantar Ilmu Tauhid. Pengantar Studi Islam. Zuhud di Abad Modern. Menggugat Tasawuf. Tanggung jawab Sosial Abad XXI. Intelektualisme tasawuf. Tasawuf untuk Orang awam. Insan Kamil. Zikir menyembuhkan kankerku, dari Hati ke Hati. Mempertahankan dua hati. Kiat Sukses Membina Keluarga sakinah, dan Terapi Hati. Amin Syukur sebagai penulis tentunya memiliki kredibilitas yang tinggi, beliau merupakan seorang guru besar dengan segudang prestasi dan karya . Kepakaran M. Amin Syukur tentu akan memberikan trust bagi pembaca, sehingga mereka menerima pesan yang Lebih dari itu, pembaca akan mengikutinya bahkan mengaktualisasikan dalam perilaku mereka. Demikian pula pesan yang disampaikan dalam buku ini merupakan Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 pembacaan realitas yang terjadi saat ini, serta didukung oleh literatur yang tepat dan akurat, akan memiliki peluang yang besar untuk diikuti oleh pembaca utamanya dosen dan mahasiswa yang menekuni bidang tasawuf dan psikoterapi. Berikut merupakan sinopsis dari buku Sufi Healing . Terapi dengan Metode Tasawuf, karya M. Amin Syukur. Sufi healing merupakan salah satu metode terapi alternatif dalam penyembuhan penyakit baik psikis maupun fisik. Sufi healing dikembangkan nilai-nilai dan praktik-praktik tasawuf. Model terapi ini sebenarnya telah cukup lama berkembang dalam masyarakat dan menemukan rujukan ilmiahnya dalam Kajian psikoneuroendokrinimonologi menemukan bahwa ada keterkaitan antara pikiran dan tubuh. Dengan demikian pikiran akan mempengaruhi Dengan demikian apabila dikaitkan dengan kebutuhan kesehatan dan kebutuhan akan syarat keilmiahan dalam terapi, sufi heling memiliki peluang yang besar dalam praktik pengobatan penyakit, baik dilakukan secara mandiri, ataupun sebagai pendamping dalam praktik penyembuhan medis yang berifat empiris dan rasional. Dalam sinopsis di atas, nampak penulis berkeinginan untuk mendudukkan sufi healing sejajar dengan metode penyembuhan lainnya khususnya medis yang bersumber dari pemikiran rasional dan empiris. Keinginan ini dapat dimaknai sebagai oksidentalisme. Oksidentalisme merupakan suatu pemikiran yang diciptakan untuk menghadapi westernisasi yang berpengaruh besar pemikiran dan kebudayaan timur, bahkan mengancam kebebasan timur sebagai manusia yang memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda dengan barat dan mandiri. Jika memang benar, maka buku ini bukan hanya sekedar buku teks yang menjadi sumber pengetahuan tetapi juga membentuk sikap dan perilaku oksidentalisme, tentu ini memberikan nilai plus dalam buku ini. Buku ini penting dimiliki oleh pembaca yang sebagian besar adalah dosen dan mahasiswa guna memposisikan sikap dan perilakunya yang objektif tentang barat dan timur, mendudukkan secara sejajar, bahkan mengungguli barat menuju kebangkitan Islam. 6 Amin Syukur. AuSufi Healing: Terapi Dengan Metode Tasawuf,Ay Jakarta: Erlangga, 2012. 7 Siti Mahmudah Noorhayati. AuOksidentalisme: Konsep Perlawanan Terhadap Barat,Ay AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman 3, no. : 189, http://ejournal. id/index. php/at-turas/article/view/189. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Untuk menggali muatan oksidentalisme dalam buku Sufi Healing , terapi dengan metode tasawuf karya M. Amin Syukur, peneliti mendasarkan diri pada pemikiran oksidentalisme dari Hassan Hanafi tentang 3 pilar pembaharuan. Pertama, yaitu sikap kritis terhadap tradisi lama . Kedua , yaitu sikap kritis terhadap barat . he othe. , dan ketiga, sikap terhadap realitas saat ini. 8Berpijak pada pemikiran tersebut secara spesifik ada 3 pertanyaan dalam penelitian ini yaitu : . bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap tasawuf . bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap praktik penyembuhan medis . Bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap realitas penyembuhan penyakit saat ini. Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari kajian literatur kepustakaan , utamanya dari buku sufi healing karya M. Amin Syukur dan literatur tentang oksidentalisme dari Hassan Hanafi . Penelitian ini ini menggunakan pola pikir induktif-deduktif dan atau deduksi-induktif secara timbal balik. Pembahasan Pemikiran Oksidentalisme Hassan Hanafi Secara umum, oksidentalisme diartikan sebagai pemahaman, pengetahuan atau dunia timur tentang barat. Dunia barat diidentikkan dengan Eropa dan Amerika. Adapun dunia timur diidentikkan dengan Asia. Secara khusus, oksidentalisme didefinisikan sebagai pandangan dunia Islam tentang dunia barat. Oksidentalisme sebagai salah satu wacana akademis, lahir dan berkembang pada era 1980-an. Kelahirannya tidak terlepas dari kritik yang dilontarkan Edward Said dalam buku Buku ini ditulis oleh Erward Said pada tahun 1979. 10 Dalam buku tersebut. Edward Said mengemukakan bahwa orientalisme tidak hanya sekedar wacana akademis, 8 Abdurrohman Kasdi and Umma Farida. AuOksidentalisme Sebagai Pilar Pembaharuan (Telaah Terhadap Pemikiran Hassan Hanaf. ,Ay Fikrah 1, no. : 242Ae47, http://journal. id/index. php/fikrah/article/view/540. 9 Noorhayati. AuOksidentalisme,Ay 190. 10 Said Edward. Orientalisme. Terj. Achmad Fawaid (Jakarta: Pustaka Belajar, 2. , 13. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 akan tetapi juga memiliki akar politik, ekonomi, dan agama. Pandangan ini kemudian menuai kontroversi di kalangan akademisi di Barat, yang biasa disebut sebagai kaum Hassan Hanafi rupanya melanjutkan kritik yang dikembangkan oleh Edward Said, dengan mengemukakan pemikirannya yang disebut dengan oksidentalisme. Oksidentalisme merupakan kajian dunia timur tentang barat. Dengan demikian oksidentalisme hadir sebagai lawan dari orientalisme. Oksidentalisme merupakan bagian dari proyek besar Hassan Hanafi tentang Au tradisi dan pembaharuanAy . Dalam dalam proyek ini Hassan Hanafi mengemukakan adanya 3 pilar pembaharuan. Adapun 3 pilar tersebut meliputi sikap kritis terhadap tradisi lama, sikap kritis terhadap Barat, dan sikap kritis terhadap terhadap realitas. Sikap kritis terhadap tradisi lama merepresentasikan bagaimana dunia timur melihat kebudayaannya sendiri, sedangkan sikap kritis terhadap barat, merepresentasikan bagaimana dunia timur memandang kebudayaan lain, yaitu barat. Terakhir, kedua sikap tersebut bertemu di dalam realitas kehidupan saat ini. Menurut Hassan Hanafi, sikap kritis terhadap tradisi lama atau asli, bermanfaat untuk mencegah dan menghalau pengaruh budaya barat terhadap budaya timur. Sikap kritis dikembangkan dengan beberapa cara . Pertama. melakukan rekonstruksi terhadap ego ketimuran yang terjadi ketika pengaruh barat datang menghampirinya. Ego ketimuran menimbulkan kecenderungan munculnya konflik antar kelompok, yaitu kelompok Islam ortodok dan kelompok Islam modern. Dengan rekonstuksi ego ketimuran diharapkan disiintegrasi bangsa pun dapat dikontrol sedemikian rupa, sehingga kondisi sosial masyarakat tetap dalam kondisi aman dan stabil. Kedua adalah mengembangkan keteladanan tentang bagaimana mempertahankan identitas, mencegah, dan menghalau pengaruh barat terhadap timur di antara umat. Keteladanan ini dapat dibangun dengan menggali nilai-nilai dalam al QurAoan, yaitu nilai-nilai tentang bagaimana bersikap terhadap orang lain, memperlakukan musuh, larangan taqlid dan sebagainya. Ketiga. Menghargai dan mengembangkan keteladanan pada pemikiran Islam terdahulu 11 Yolies Yongky Nata. AuOksidentalisme,Ay Al-Ulum Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Ke Islaman 2, no. 12 Noorhayati. AuOksidentalisme,Ay 192. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dengan tanpa menafikkan identitasnya. Hal ini penting dilakukan agar pemikiran tetap relevan dengan perkembangan zaman, sesuai dengan jatidiri, mampu bersanding dengan pemikiran bangsa lain, utamanya barat, dan mewakili peradaban umat Islam. Keempat, mengupayakan kemandirian dalam pemikiran Islam yang modern namun tidak kehilangan Kelima, mengubah hubungan yang membedakan ego dan the other menjadi hubungan yang lebih rasional dan cerdas. Hubungan yang awalnya berkonotasi permusuhan atau antagonistis dapat diubah menjadi hubungan kepakaran dalam ilmu pengetahuan, subjek-objek, dan pengkaji-dikaji. Menurut Hassan Hanafi, sikap kritis terhadap tradisi lama merupakan suatu keharusan untuk menghadapi tantangan zaman yang senantiasa terus mengalami Sebuah tradisi terbentuk dalam periode tertentu dan terpisah oleh jarak dan waktu dalam dengan masa kini. Oleh karena itu telaah kritis atas suatu tradisi harus dilakukan agar tidak lekang oleh waktu dan zaman. Dalam hal ini Hassan Hanafi mengusulkan tujuh cara mengambil sikap atas tradisi lama , yaitu : . dari teologi ke revolusi . dari tranferensi ke inovasi. dari teks ke realitas. dari kefanaan menuju keabadian. dari teks ke rasio . akal dan alam. manusia dan sejarah. Pilar kedua, adalah sikap kritis terhadap tradisi barat. Pilar kedua ini sering juga disebut dengan oksidentalisme. Dalam pilar ini. Hanafi menegaskan tentang perlunya reorientasi terhadap dunia barat, karena tujuan utama oksidentalisme adalah menghadapi westernisasi, yang antara lain dipropagandakan oleh kaum orientalis, telah memberikan pengaruh yang besar bagi budaya dan kosepsi Timur. Lebih dari itu, westernisasi telah mengancam kemerdekaan peradaban Timur serta keseluruhan gaya hidup orang dari budaya timur. Westernisasi juga telah mendudukkan perspektif barat sebagai superior dan Timur sebagai Jika orientalisme melihat ego (Timu. melalui the other, maka oksidentalisme bertujuan menempatkan keduanya baik ego maupun the other dalam posisi yang sejajar dan seimbang, sehingga image bahwa timur inferior dan barat sebagai superior akan hilang. 13 Kasdi and Farida. AuOksidentalisme Sebagai Pilar Pembaharuan (Telaah Terhadap Pemikiran Hassan Hanaf. ,Ay 32Ae34. 14 Kasdi and Farida, 35. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Di samping itu, dengan oksidentalisme. Hassan Hanafi berusaha menyeimbangkan antara kajian Barat dan Timur. Tradisi orientalisme telah mendudukkan barat sebagai subjek dan Timur menjadi objek kajian. Oksidentalisme mengubah posisi itu, di mana Timur menjadi subjek dan barat menjadi objek kajian. Hassan Hanafi juga mengharapkan oksidentalisme dapat mengembalikan Timur pada tempat asalnya, menghilangkan keterasingannya, dan menghapus inferioritasnya. Selain itu oksidentalisme juga mempunyai tugas menghapus dominasi pemikiran barat atas timur yang telah mengakar kuat selama Pilar ketiga, adalah sikap kritis terhadap realitas. Realitas ini tidak hanya terkait dengan realitas yang dihadapi umat Islam saat ini, akan tetapi juga realitas tentang realitas dunia barat. Menurut Hassan Hanafi, keberhasilan gerakan sosial, politik, peradaban, dan kebudayaan sangat ditentukan oleh ketajaman dalam pengamatan, pembacaan , dan analisa terhadap realitas saat ini. Sikap kritis terhadap realitas diperlukan untuk menghadapi tujuh tantangan, yaitu : memerdekakan negara dan bangsa atas dominasi eksternal, baik berupa kolonialisme maupun zionisme. memperoleh kemerdekaan yang universal atas dominasi, pinindasan, dan kediktatoran . menciptakan bangsa yang berkeadilan sosial dalam pengertian terhapusnya jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa untuk mencegah dan menghadapi disintegrasi dan diaspora. meningkatkan pertumbuhan sosial, ekonomi, politik, dan budaya sebagai perlawanan atas keterbelakangan menuju kepada kemajuan. menggapai identitas diri untuk mencegah dan menghadapi westernisasi, dan menghindari konformitas. melakukan mobilisasi kekuatan massa untuk memerangi sikap dan perilaku apatis. Dengan tiga pilar di atas. Hassan Hanafi berusaha menciptakan keseimbangan antara dunia Timur dan Barat. Keseimbangan itu tidak hanya dilihat dalam aspek peradaban, akan tetapi juga pada aspek kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan hubungan antar agama. Oksidentalisme dimaksudkan untuk menunumbuhkan motivasi 15 Kasdi and Farida, 36. 16 Ahmad Munir. AuHassan Hanafi: Kiri Islam Dan Proyek Al Turats Wa Al Tajdid,Ay MIMBAR: Jurnal Sosial Dan Pembangunan 16, no. : 258. 17 Kasdi and Farida. AuOksidentalisme Sebagai Pilar Pembaharuan (Telaah Terhadap Pemikiran Hassan Hanaf. ,Ay 38. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 umat untuk melakukan dialog yang egaliter guna menemukan pola yang disetujui berdasarkan kritik internal dan eksternal, serta ketajaman dalam pembacaan realitas. Oksidentalisme dalam Buku Sufi Healing Karya M. Amin Syukur Sebagaimana dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa ada 3 pertanyaan mendasar dalam penelitian ini : . Bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap . Bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap penyembuhan medis yang lahir dan berkembang dari pemikiran rasional dan empiris dari barat. 3 Bagaimanakah sikap kritis M. Amin Syukur terhadap realitas penyembuhan penyakit saat ini. Dengan tiga pertanyaan ini diharapkan dapat menggali oksidentalisme dalam buku sufi healing karya Amin Syukur. Tiga pertanyaan ini berpijak pada pemikiran Hassan Hanafi tentang 3 pilar pembaharuan, yang meliputi : . sikap kritis terhadap tradisi lama . 2 sikap kritis terhadap barat. sikap kritis terhadap realitas. Sikap M. Amin Syukur terhadap tasawuf Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap tasawuf atau sufisme secara khusus dituangkan dalam tulisannya yang diberi judul sufisme dalam penyembuhan penyakit. Menurut M. Amin Syukur, tasawuf merupakan suatu ilmu yang mengajarkan bagaimana meraih kedekatan yang sedekat-dekatnya dengan Allah SWT. Tasawuf mengajarkan sikap dan perilaku nabi dan rasul. Ajaran ini disandarkan pada pandangan bahwa orang yang paling dekat dengan Allah SWT adalah Nabi dan rasul. Ajaran tasawuf meliputi banyak aspek. Ajaran itu antara lain meliputi aspek ibadah, muamalah dan akhlak sebagai perhiasan para Nabi dan rasul. Tujuan utama para sufi adalah meraih insan Dengan meraih insan kamil, para sufi mengharapkan maAorifatullah. Oleh karena itu para sufi berusaha menjauhkan diri dari segala sesuatu yang akan menghalanginya dalam mencapai tujuan tersebut, seperti menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Para sufi juga melakukan ritual ibadah tertentu yang mereka yakini dapat membantu mencapai tujuannya. Ritual-ritual itu antara lain adalah zikir, khalwat, berpuasa dan Hal itu merupakan tradisi yang melekat pada diri seorang sufi. Semua itu dilakukan dalam rangka penyucian jiwa dari berbagai hal yang dapat merusak atau menghalangi kedekatan seorang sufi dengan Allah SWT. Ajaran tasawuf tidak hanya meliputi ajaran ketauhidan, akan tetapi juga ajaran tentang kecintaan sepenuhnya Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 kepada Allah SWT dan Nabi Muhammd SAW sebagai kekasih dan rasul-Nya. Kecintaan dan ketauhidan ini harus dilakukan dengan ikhlas, sabar, dan syukur. Dalam Islam tasawuf merupakan ilmu yang memurnikan ajaran Islam, agar manusia berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan tidak mendewakan Pada masa Rasulullah, ajaran tasawuf lebih dikenal sebagai ajaran penyempurnaan akhlak, baik akhlak kepada Allah maupun kepada Rasulullah. Kemudian ajaran ini diikuti dan diamalkan oleh para sahabat. Ciri khas mukmin yang saleh adalah meniti jalan untuk sampai kepada Allah. Untuk inilah para sufi mengikuti ajaran perilaku para Nabi dan Rasul, juga para ulama dan mursyid atau guru sufi/tarekat. Karena mereka adalah orang-orang yang dipandang dekat dengan Allah SWT. Pada dasarnya tarekat . itu satu, meskipun ada banyak amalan, sarana, dan cara yang digunakan. Banyaknya macam amalan dan sarana muncul sebagai akibat adanya perbedaan ijtihad atau perubahan ruang dan Perbedaan itu pula yang menyebabkan berkembangnya berbagai macam lembaga tarekat sufi. Namun demikian tarekat itu esensinya adalah tetap satu, yaitu menuju Allah SWT. Jalan untuk sampai kepada allah SWT sangat berkaitan dengan maqam-maqam dalam hati seperti tobat, waraAo, zuhud, sabar, qanaAoah, ridha, tawakkal, mahabbah, dan maAorifah,. Jalan tersebut juga berhubungan dengan akhak yang terpuji seperti shidiq, ikhlas, khauf, dan rajaAo. Semua itu telah diajarkan oleh Rasulullahh SAW secara langsung kepada para sahabat. Dalam tasawuf , maqam-maqam dalam hati dan akhlak terpuji disebut dengan istilah maqamat dan ahwal. Menurut M. Amin Syukur maqamat dan ahwal dapat menjadi terapi atau penyembuh baik jiwa maupun fisik bagi orang yang melakukan atau meraihnya. Amin Syukur menyebut terapi itu sebagai sufi healing. 20 Menurut Amin Syukur. Proses penyembuhan bagi para sufi sudah dimulai ketika seseorang memasuki beberapa tahap kesufian . l bidaya. Tahapan kesufian dimulai ketika seseorang berupaya mengosongkan jiwa dari segala sesuatu yang merusak . Tahap selanjutnya adalah tahalli maknanya adalah pengisian jiwa dengan segala sesuatu yang mulia. Setelah 18 Syukur. AuSufi Healing,Ay 2012, 51Ae52. 19 Syukur, 52Ae53. 20 Syukur, 53Ae54. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 tahalli, seseorang akan masuk pada tahap tajalli . Pada tahap ini seseorang akan menemukan apa yang dicari dan menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari. Tahap berikutnya, seorang sufi melakukan mujahaddah dan riyadhah, melalui maqamat dan Lalu sampailah pada akhir pencarian . Para sufi memaknai nihayah ini sebagai maqam terakhir, yaitu wushul . , ihsan . erbuatan yang bai. , atau fanaAo . Orang yang telahh sampai pada manzilah ini dinamakan ahl alirfan. Lebih dari itu M. Amin Syukur mengemukakan bahwa terapi dengan metode dapat ditempuh pula oleh orang awam. Jalan itu sama dengan apa yang dilakukan oleh kaum sufi, yakni dengan cara berzikir, shalat, doa, khalwat dan Cara-cara ini terbukti efektif dalam menangani berbagai penyakit, baik fisik maupun psikis, tentu saja dengan metode dan bimbingan seorang guru. Penyembuhan dengan metode tasawuf . ufi healin. telah ada sejak lama dilakukan dan dikenal oleh masyarakat , yaitu sejak sekitar 1400 tahun yang lalu, sejak di mana para sufi mulai eksis sebagai bagian dari spiritualitas Islam. Penyembuhan dengan metode tasawuf bukanlah sebuah teori belaka, melainkan praktik penyembuhan yang nyata. Bahkan para sufi merumuskan sendiri tata cara atau metode yang digunakan dalam mengobati penyakit bagi para pasien. Namun demikian. Amin Syukur menemukan beberapa kelemahan dari terapi Terapi dengan metode tasawuf lebih menyandarkan pada teks kitab suci dan Berdasarkan temuannya ini, mendorong Amin Syukur melakukan penelitian untuk menemukan rujukan ilmiah dari sistem kerja sufi healing. Dan ia menemukan rujukan ilmiah itu dalam psikologi transpersonal dan psychoneurosendokcrine-immunology. Kesimpulannya adalah ada kaitan yang erat antara pikiran dan tubuh yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kesehatan baik fisik dan atau Apa yang dikemukakan dan dilakukan oleh M. Amin Syukur sebagaimana diungkapkan di atas, menunjukkan bahwa M. Amin Syukur merupakan orang atau 21 Syukur, 72. 22 Syukur, 83. 23 Muhammad Amin Syukur. AuSufi Healing: Terapi Dalam Literatur Tasawuf,Ay Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 20, no. : 391. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 ilmuwan yang memiliki sikap kritis terhadap tasawuf. Tasawuf tidak hanya berkaitan dengan hal-hal personal, tetapi dapat diaplikasikan dalam ranah sosial, sebagai metode penyembuh bagi umat yang menderita sakit baik fisik, maupun mental yang disebutnya dengan sufi healing. Ia tidak hanya memahami sufi healing berdasarkan teks dalam al QurAoan dan hadits, akan tetapi juga mencari rujukan ilmiah dari praktik sufi healing tersebut, sehingga sufi healing dapat diupayakan untuk diterima oleh masyarakat yang Hal ini sejalan dengan agenda pembaharuan dari Hassan Hanafi. Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap penyembuhan medis. Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap penyembuhan medis yang lahir dan berkembang dari pemikiran rasional dan empiris barat, diuraikan dalam bagian ketiga dari buku Sufi Heling dengan tema atau judul urgensi penyembuhan spiritual. Dalam bagian ini M. Amin Syukur memulai dengan uraian tentang era digital yang merupakan produk dari modernitas. Era digital dan modernitas telah mengangkat manusia pada peradaban paling tinggi, di mana kita dapat menikmati kecanggihan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan. Kemajuan teknologi telah banyak memberikan kemudahan-kemudahan kepada manusia dalam menjalankan kehidupan di era modern. Namun demikian, modernitas telah melahirkan gaya hidup baru. Kesuksesan diukur secara kuatitaif dan ditentukan pada pencapaian materi. Demikian pula dengan kebahagiaan cenderung ditentukan oleh seberapa banyak materi yang diraih, sehingga kebahagiaan itu bersifat semu. Manusia modern mampu meraih kecukupan kebutuhan akan materi bahkan mengagumkan yang dibangun berdasarkan pengetahuan eksternal , akan tetapi mereka mengabaikan sendiri. Banyak orang berperilaku ataupun diperlakukan seperti mesin, dan banyak pula orang yang menjadi budak teknologi, sebagai akibat dari hilangnya dimensi spiritual. Oleh karena itu berbagai krisis terjadi di era modern ini. Krisis itu antara lain krisis lingkungan, krisis bahan bakar, krisis bahan makanan, krisis sosial, krisis moral, dan krisis kesehatan. Era digital menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan yang bersumber pada ideologi-ideologi yang Manusia digital cenderung menjadi objek, daripada subjek. 24 Syukur. AuSufi Healing,Ay 2012, 20Ae21. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Lebih lanjut. Amin Syukur menyebutkan beberapa produk dari modernitas, antara lain: . Rasionalisme. Ia juga menyebutkan berbagai penyakit rawan di era digital berikut penyebabnya. Pertama adalah mass culture. Setiap masyarakat memiliki budaya tersendiri bersifat khas, berbeda dengan budaya dari belahan bumi lainnya. Globalisasi menyebabkan batas-batas budaya menjadi hilang. Estetika dan etika yang bersifat lokal sirna bersama dengan proses percampuran dan proses adopsi budaya asing yang berlebihan. Contoh nyata, masyarakat timur yang dulu dikenal sopan dan santun, arif dan bijaksana, sekarang sama dengan masyarakat barat yang liberal. Mass culture juga menyebabkan menurunnya keimanan dan moralitas manusia melalui sosialisasi budaya dari berbagai media. Mass culture juga dapat menyebabkan sikap egois mementingkan diri sendiri sebagai akibat dari materialisme. Kedua, adalah kebebasan bertindak. Liberalisme telah menjadi paham yang dikuti secara universal dunia modern saat ini. Liberalisme mendorong orang untuk bertindak secara bebas. Sebagian pihak memaknai kebebasan bertindak diartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya. Liberalisme memicu munculnya penyalahgunaan narkotika, seks bebas, pornografi dan pornoaksi, kriminalitas, dan penyakit-penyakit fisik sebagai akibat dari penggunaan teknologi yang berlebihan dll. Jika berlebihan dan mengabaikan aspek lain . maka akan terjadi ketidakseimbangan. Ketiga, adalah berpikir rasional. Ideologi rasionalisme menjadikan manusia seperti mesin atau barang, diforsir untuk terus bekerja agar menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Akibatnya banyak orang mengalami stres yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya, yang berujung pada kematian. Keempat, adalah materialisme. Ketika fokus manusia hidup itu adalah materi, maka segala upaya dilakukan untuk menggapai materi. Penyakit dari paham ini adalah munculkan sikap berlebihan terhadap materi, egosis dan mengkristalkan hati sebagai sumber penyakit jiwa dan kriminalitas. Penyakit hati akan menimbulkan ketidakseimbangan yang sering disebut dengan stres. Dalam rangka penyembuhan atau penanggulangan penyakit orang di era digital, rupanya metode penyembuhan medis sebagai produk dari pemikiran rasional dan 25 Syukur, 25. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 empiris ternyata dipandang Amin Syukur memiliki beberapa kelebihan dan Dalam hal ini M. Amin Syukur mengemukakan penyembuhan medis memiliki ciri-ciri sebagai berikut : . modern dan menggunakan teknologi yang . syarat akan uji ilmiah, tapi kurang didukung dengan kesaksian tingkat . mengandalkan obat-obatan kimia dan operasi. memandaang penyakit dan kondisi masusia secara terpisah. lebih cenderung menekan gejala. Sintesis dan tidak alami. banyak memiliki efek samping. Hasil yang terlihat dalam mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit cepat. pengobatan tidak aman dikonsumsi dalam jangka panjang apalagi seumur hidup. 26 Untuk itu dalam penyembuhan perlu dilakukan integrasi dengan pendekatan penyembuhan lain, seperti psikologi dan metode penyembuhan spiritual . Dalam hal ini metode dengan pendekatan tasawuf atau sufi healing dapat menjadi Bahkan WHO telah mengakui dimensi spiritual keagamaan sama pentingnya dengan dimensi fisik, psikologis dan psikososial. Sejak itu, terapi-terapi yang dilakukan mulai menggunakan teknik penyembuhan spiritual keagamaan dan menyebutnya sebagai penyembuhan holistik. Dalam konteks ini, terapi spiritual , termasuk sufi healing memiliki peluang yang besar dalam praktik penyembuhan penyakit dalam masyarakat, baik secara mandiri maupun sebagai pendamping dalam penyembuhan medis. Sikap kritis M. Amin Syukur terhadap realitas penyembuhan penyakit saat ini. Sebagai ilmuwan. Amin Syukur memiliki sikap yang positif bahkan optimis dengan masa depan sufi healing. Sikap ini muncul sebagai hasil dari sikap dan pembacaannya terhadap beberapa realitas terkait dengan sufi healing di tengah kehidupan modern. Pertama, hampir semua perilaku para sufi dalam meraih kedekatan dengan All SWT dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan penyakit, baik fisik maupun mental. Proses penyembuhan dimulai ketika seseorang memasuki beberapa tahap kesufian, yaitu tahap takhalli, tahalli , dan tajalli, serta mujahaddh dan riyadhah. 26 Syukur, 39Ae40. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Penyembuhan juga berkaitan erat dengan pengalaman dan pencapaian maqamat dan Kedua, sufi healing memandang penyakit secara menyeluruh dari sebab dan akibat, dari jasmani sampai rohani. Dalam penyembuhan penyakit, sufi healing mampu mengambil peran dalam masyarakat. Jika dibandingkan dengan pendekatan medis, tampak ada perbedaan dan kelebihan yang mencolok dari sufi healing. Selain melihat penyakit secara mennyeluruh, penyembuhan sufistik akan memberikan efek samping berupa peningkatan ketakwaan, atau peningkatan keimanan. Kondisi ini tidak dapat ditemukan dalam apa pun di dunia ini. Sehingga wajar jika kemudian WHO akhirnya memasukkan penyembuhan spiritual sebagai salah satu alternatif penyembuhan mendampingi pengobatan medis. Penyembuhan sufistik sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yang menunjukkan ke arah tren baru dalam memilih pengobatan. Masyarakat mulai melirik dunia pengobatan spiritual. Peradaban modern telah menimbulkan kebutuhan akan spiritualitas yang lebih besar, untuk itu perlu adanya layanan optimal. Spiritualitas dalam pengobatan tentu sangat diperlukan. Oleh karena itu, masa depan sufi healing akan cerah dan semakin diminati oleh masyarakat. Ketiga, kehidupan modern yang mendewakan kecanggihan teknologi, materialistis, dan hedonis telah menyebabkan menurunnya etika dan opan santun dalam masyarakat. Tasawuf sebagai ajaran tentang moral dan kesempurnaan akhlak sudah selayaknya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap dirinya sendiri. Tuhan, sesama manusia dan alam. Zuhud merupakan salah satu contoh ajaran tasawuf yang relevan degan masyarakat modern. Sikap dan perilaku zuhud di sini dapat dimaknai dengan diet, tidak rakus, dan berpikir untuk orang lain yang kelaparan, menggunakan waktu malam untuk beribadah, membicarakan hal-hal penting dalam masyarakat yang aktual dalam kaitannya dengan kehidupan dunia akhirat, disiplin waktu . idur dan bangu. , bicara hanya yang penting-penting saja, tidak membuat orang lain sakit hati, berbicara sesuai fakta dan dalil layaknya intelektual dsb. Zuhud merupakan upaya untuk mempersenjatai diri dengan nilai ruhaniah untuk menghadapi problem hidup dan kehidupan yang serba materialistis. 27 Syukur, 112. 28 Syukur, 108Ae9. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Kesimpulan Dari uraian di atas dapat dipetik sebuah kesimpulan bahwa buku sufi healing. Terapi dengan Metode tasawuf, karya M. Amin Syukur syarat akan muatan oksidentalisme. Sebagai seorang intelektual. Amin Syukur memiliki sikap yang sangat kritis terhadap Tasawuf sebagai ajaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dapat berfungsi sebagai penyembuh atas berbagai macam penyakit baik fisik maupun mental. Penyembuhan dimulai ketika para sufi memasuki tahap kesufian, tahap takhalli, tahalli, tajalli serta mujahaddah dan riyadhah melalui maqamat dan ahwal. Penyembuhan ini tidak hanya berlaku untuk para sufi, tapi dapat pula ditempuh oleh orang awam dengan metode yang sama dengan yang dilakukan oleh para sufi melalui bimbingan seorang guru. Metode penyembuhan ini disebut sebagai sufi healing memiliki akar pada tasawuf. Sufi healing bersifat unik dan khas yang lahir dan berkembang dari tradisi ketimuran yaitu tasawuf (Isla. Sufi healing telah lama dikenal dan dipraktikkan. Bahkan para sufi memiliki teknik dan prosedur sendiri dan metode penyembuhannya. Namun demikian praktik itu, lebih banyak disandarkan kepada teks dan keyakinan. Oleh karena itu. M Amin Syukur melakukan penelitian guna memperoleh rujukan ilmiah dari sufi healing agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Rujukan ilmiah ini ditemukan dalam kajian psikologi transpersonal, di mana dalam kajian ini kesadaran menjadi fokus utana. Penyembuhan sufistik juga menemukan rujukan ilmiah dalam ilmu kedokteran disebut dengan psikoneuroendokrinimunology, di mana kesimpuannya ada keterkaitan yang erat antara pikiran , tubuh, dan kesehatan. Buku sufi healing, terapi dengan metode tasawuf juga merepresentasikan pemikiran Amin syukur yang sangat kritis terhadap barat. Ia mengkritik era digital sebagai produk dari modernitas telah menyebabkan beberapa penyakit baik fisik maupun mental dalam masyarakat, seperti degradasi moral dan etika, penyalahgunaan narkotika, seks bebas. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf. Volume 10. No. September, 2024 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 pornografi dan pornoaksi, egoistis, dan stres yang bisa berujung pada penyakit fisik dan Sementara itu penyembuhan dan penanganan medis terhadap penyakit tersebut, memiliki beberapa kelemahan, sehingga diperlukan bantuan dari pendekatan lain, utamanya psikologi dan pendekatan spiritual. Amin Syukur juga memiliki sikap kritis terhadap realitas penyembuhan penyakit pada saat ini, sehingga ia sangat optimis dengan masa depan sufi healing sebagai salah satu penyembuhan alternatif dalam masyarakat, baik dalam praktik mandiri maupun sebagai pendamping penyembuhan medis. Ia melihat semua praktik dan pengalaman sufi dapat ditarik sebagai penyembuhan dengan rujukan ilmiah psikologi transpersonal dan Sufi healing sangat relevan untuk mengobati penyakit orang modern, yang haus akan spiritualitas, dan penyakit lainnya yang bersumber dari kehidupan yang materialistis. Terakhir, jika boleh penulis mengatakan bahwa M. Amin Syukur merupakan seorang oksidentalis, meskipun ia tak pernah mendeklarasikannya. Hal ini dapat dilihat dari karyanya yang sangat syarat dengan muatan oksidentalisme. Amin Syukur sebagai seorang guru besaar dan pakar sufi healing, tentu memiliki kredibilitas yang tinggi dalam mengungkapkan gagasan dan sikapnya tentang oksidentalisme yang pada gilirannya mampu menggiring atau mempengaruhi pembacanya. DAFTAR PUSTAKA