2025. : 99-108 E-ISSN 2722709x https://jurnal. id/index. php/herbapharma/index Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Balsam Stik Kombinasi Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. dan Minyak Atsiri Eukaliptus (Eucalyptus globulus L. Marini1*. Aura Nur Halimah1. Herlingisih2. Haty Latifah Priatni2 Program Studi S1 Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kuningan. Kuningan. Indonesia Program Studi D3 Farmasi. Universitas Muhammadiyah Kuningan. Kuningan. Indonesia *E-mail : marinizakhra18@gmail. ABSTRAK Balsam merupakan sediaan topikal yang diaplikasikan dengan cara dioleskan dengan tangan secara langsung ke kulit dan dapat digunakan sebagai pereda nyeri, namun cara pengaplikasian tersebut sering kali dianggap kurang higienis. Senyawa alam oleoresin, gingerol, gingerdione, dan zingeron yang terkandung dalam jahe merah terbukti mampu mengurangi nyeri sendi dan Selain itu, senyawa sineol pada minyak atsiri eukaliptus memiliki efek menghangatkan serta memberikan aroma khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi sediaan balsam stik berbasis bahan alam, yaitu kombinasi ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. dan minyak atsiri Eukaliptus (Eucalyptus globulus L. ), guna mendapatkan sediaan yang lebih praktis dan higienis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, dimana dibuat empat jenis formula sediaan balsam stik, yaitu F0 tanpa zat aktif, serta variasi konsentrasi jahe marah dan minyak atsiri eukaliptus masing-masing F1. % dan 2%). F2 . % dan 2%), dan F3 . % dan 2%). Evaluasi sediaan balsam stik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat formula memenuhi persyaratan uji organoleptik, homogenitas, pH, dan daya lekat. Namun, nilai daya sebar dari seluruh formula belum sepenuhnya memenuhi standar yang Formula F3 dengan konsentrasi ekstrak jahe merah 20% merupakan formula terbaik, karena memiliki daya sebar sebesar 4,5 cm, yang paling mendekati persyaratan daya sebar ideal, yaitu 5Ae7 cm. Kata Kunci : Balsam stik, jahe merah, minyak atsiri eukaliptus, nyeri otot ABSTRACT Balm is a topical dosage form applied directly to the skin by hand and is commonly used for pain however, this method of application is often considered less hygienic. Natural compounds such as oleoresin, gingerol, gingerdione, and zingerone contained in red ginger have been proven to reduce joint and muscle pain. In addition, cineole present in eucalyptus essential oil provides a warming effect and a characteristic aroma. This study aimed to develop a stick balm formulation based on natural ingredients, namely a combination of red ginger extract (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. and eucalyptus essential oil (Eucalyptus globulus Labill. ), in order to obtain a dosage form that is more practical and hygienic. An experimental method was employed, in which four stick balm formulations were prepared: F0 without active ingredients, and formulations containing varying concentrations of red ginger extract and eucalyptus essential oil, namely F1 . % and 2%). F2 . % and 2%), and F3 . % and 2%). Evaluation of the stick balm formulations included organoleptic properties, homogeneity, pH, spreadability, and adhesiveness. The results showed that all formulations met the requirements for organoleptic properties, homogeneity, pH, and adhesiveness. However, the spreadability values of all formulations did not fully meet the established standards. Formulation F3, containing 20% red ginger extract, was identified as the HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 optimal formulation, as it exhibited a spreadability of 4. 5 cm, which was the closest to the ideal spreadability range of 5Ae7 cm. Keywords: eucalyptus essential oil , muscle pain, red ginger, stick balm PENDAHULUAN Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. adalah obat alternatif tradisional yang banyak digunakan di Indonesia dan dikenal dapat mengurangi nyeri sendi dan otot karena kandungan oleoresin, gingerol, gingerdione, dan zingeron di dalamnya (Aliyanti et al. , 2. Selain itu, jahe merah memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan jenis jahe lainnya, sehingga meningkatkan intensitas rasa dan aromanya (Aryanta, 2. Minyak eukaliptus (Eucalyptus globulus Labill. ) juga banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, terutama bagian daunnya. Senyawa bioaktif dalam minyak atsiri kayu putih antara lain asam galat, eucaglobulin, cuniloside, dan 1,8-sineol, dimana senyawa sineol memiliki sifat menghangatkan serta aroma terapeutik, sehingga cocok digunakan untuk pembuatan balsam (Yustinah & Dike, 2020. Immaroh et al. , 2. Balsam merupakan sediaan topikal yang diaplikasikan dengan cara dioleskan pada kulit dan memberikan sensasi panas. Namun, bentuk sediaan ini dinilai kurang higienis dan kurang praktis dalam penggunaannya (Jayanti Djarami et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan inovasi berupa sediaan balsam dalam bentuk stik yang mengombinasikan ekstrak jahe merah dan minyak atsiri kayu putih untuk memberikan manfaat terapeutik yang lebih optimal, serta efek menghangatkan, menyejukkan, dan menenangkan dengan aroma yang menyegarkan. Penelitian yang dilakukan oleh Athaillah & Lianda . menunjukkan bahwa formulasi balsam stik oleoresin jahe merah dengan konsentrasi 10% memiliki daya menghangatkan yang paling maksimal. Sedangkan penelitian Wulandari et al. , . menunjukkan bahwa sediaan balsam stik terbaik diperoleh dari formula dengan penambahan 2 ml minyak daun eukaliptus yang memiliki nilai penerimaan konsumen tertinggi, pH 5,6, dan daya sebar 5,3 cm, serta aroma khas Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi sediaan balsam stik dari kombinasi ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus, sehingga dapat dihasilkan sediaan yang lebih praktis, higienis, dan berpotensi memberikan efek terapeutik yang optimal. BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel berupa rimpang jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. dan minyak atsiri (Eucalyptus globulus Labill. (Orion Natur. Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi diantaranya yaitu alkohol 96%. Cera alba (Making Cosmetic. , adeps lanae (Fagro. , menthol . , setil alkohol (Akom. , butil hidroksitoluen (SLB 3. , virgin coconut oil. (Trivic. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi timbangan digital (Henherr BL-H. , gelas ukur (Pyre. , blender . , pengayak, oven (Memmer. , beaker glass (Pyre. Magnetic Stirrer (Heidolp. , waterbath listrik (Memmer. Cawan Petri, alat daya lekat, object glass, batang pengaduk, sudip, kaca arloji, cawan porselen, pH Indikator, pipet tetes, sendok tanduk, wadah sediaan. Prosedur Penelitian Determinasi Tanaman Sampel rimpang jahe merah diperoleh dari Petani di Desa Darma. Kabupaten Kuningan. Selanjutnya dilakukan determinasi tanaman di Laboratorium Biologi farmasi di Universitas HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 Muhammadiyah Kuningan yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas dari tanaman Pembuatan Simplisia Pada tahap awal dilakukan pengumpulan rimpang jahe merah yang diperoleh dari Petani Desa Darma. Kabupaten Kuningan. Rimpang jahe merah segar dikumpulkan dan ditimbang sebanyak 5 kg, kemudian dibersihkan dari kotoran yang tidak terlihat dengan mata telanjang dan dibuang dari bagian rimpang yang tidak digunakan . usuk, kering, dan lain-lai. , kemudian dicuci dengan air mengalir sampai bersih, dan ditiriskan agar terbebas dari partikel-partikel air (Rahmadani et al. , 2. Langkah berikutnya, rimpang jahe merah tersebut dirajang kecil-kecil hingga berukuran A3 mm (Athaillah & Lianda, 2. , kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 49-55AC selama 3 hari. Setelah kering, sampel dihaluskan dengan blender (Srikandi et al. , 2. dan diayak meggunakan ayakan dengan mesh nomor 40 (Athaillah & Lianda, 2. Ekstraksi Simplisia Rimpang Jahe Merah Simplisia rimpang jahe merah diekstraksi dengan metode maserasi, yaitu dengan merendam 500 gram simplisia ke dalam 3,5 liter etanol 96% dengan perbandingan 1:7 . selama 24 jam sambil diaduk sesekali. Kemudian setelah 24 jam, maserat disaring sehingga diperoleh filtrat estrak. Proses maserasi tersebut diulangi sebanyak 2 kali dengan pelarut, jumlah, dan waktu yang sama dengan proses maserasi sebelumnya (Ramdhini et al. , 2. Seluruh filtrat yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dilanjutkan dengan proses pemekatan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50-60oC hingga diperoleh ekstrak kental (Rahmadani et al. , 2. Pennetuan Kadar Air Ekstrak Cawan porselen kosong dipanaskan dalam oven pada suhu 1050C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang (Efrilia et al. , 2. Setelah cawan kosong ditimbang, tambahkan ekstrak sebanyak 2 gram dan timbang bobotnya. Cawan beserta ekstrak tersebut kemudian dipanaskan dalam oven selama 3 jam pada suhu Selanjutnya, cawan didinginkan dalam desikator selama 30 menit, lalu ditimbang kembali. Proses pemanasan dan penimbangan diulangi hingga diperoleh bobot konstan. Persentase kadar air dihitung menggunakan rumus berikut : Kadar air ekstrak (%) = B1 Oe B2 y 100% Keterangan : B = Berat sampel . B1 = Berat . ampel cawa. sebelum dikeringkan B2 = Berat . ampel cawa. setelah dikeringkan (Baehaki et al. , 2. Skrining Fitokimia Ambil 0,5 gram larutan ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 1 mL eter dan dikocok hingga homogen. Selanjutnya, ditambahkan 3-4 tetes larutan FeCl3. Apabila terbentuk warna biru kehitaman maka hal ini menunjukkan ekstrak positif mengandung senyawa fenol (Jayanti Djarami et al. , 2. Proses Pembuatan Balsam Stik Tabel 1 Formulasi Sediaan Balsam Stik Kombinasi Ekstrak Jahe Merah (Zingiber Officinale Var. rubrum Theilad. Dan Minyak Atsiri Eukaliptus (Eucalyptus Globulus L. HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 Nama Bahan Ekstrak etanol Jahe Merah Minyak Atsiri Eukaliptus Cera alba Adeps Lanae Menthol Formulasi Balsam Stik (%) 15% 20% Kegunaan Zat aktif Zat aktif Pengeras Pengemulsi Pemberi sensasi Pengeras Pengawet Pelarut Setil alkohol Butil Hidroksitulen (BHT) Virgin Coconut Oil (VCO) Keterangan: F0 : Balsam stik tanpa penambahan ekstrak jahe merah F1 : Balsam stik dengan penambahan ekstrak jahe merah dengan konsentrasi 10% F2 : Balsam stik dengan penambahan ekstrak jahe merah dengan konsentrasi 15 % F3 : Balsam stik dengan penambahan ekstrak jahe merah dengan konsentrasi 20% Seluruh bahan yang digunakan ditimbang sesuai dengan formula yang telah ditentukan. Kemudian masukkan bahan basis balsam stik yaitu cera alba, adeps lanae, setil alkohol, dan VCO ke dalam beaker glass dan panaskan dengan menggunakan hot plate pada suhu 700C hingga seluruh bahan meleleh dan tercampur homogen. Setelah basis balsam homogen, ditambahkan BHT dan mentol ke dalam beaker glass dan diaduk hingga homogen. Selanjutnya, suhu campuran diturunkan hingga 400C dan ditambahkan ekstrak jahe merah dan diaduk dengan cepat hingga homogen. Setelah itu, minyak atsiri eukaliptus ditambahkan ke dalam campuran dan diaduk kembali hingga merata. Sediaan balsam cair kemudian dituangkan ke dalam wadah balsam stik dan dibiarkan hingga mengeras, sehingga diperoleh sediaan balsam stik yang siap dilakukan evaluasi fisik (Ramadhan, 2. Evaluasi Fisik Sediaan Uji Organoleptik Uji organoleptik dilakukan dengan cara mengamati sediaan balsam stik meliputi bentuk, warna, dan aroma dari setiap formula yang telah dibuat (Purba et al. , 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan balsam stik pada permukaan objek gelas atau bahan transparan lainnya. Sediaan dinyatakan homogenitas yang baik ditandai dengan tidak adanya gumpalan pada olesan, tekstur yang halus dan warna yang sama dari awal hingga akhir pengolesan (Purba et al. , 2. Uji pH Uji pH pada sediaan balsam dilakukan dengan menggunakan pH indikator universal yang dioleskan atau dicelupkan ke dalam sediaan balsam stik. Perubahan warna yang terjadi pada pH indikator menunjukkan nilai pH sediaan balsam (Indrayani & Hikma, 2. Adapun nilai pH balsam yang baik pada kisaran 4,5-6,5 (Purba et al. , 2. Uji Daya Sebar Uji daya sebar dilakukan dengan menimbang 0,5 gram sediaan balsam stik, lalu diletakkan di tengah kaca, kemudian ditutup dengan menggunakan cawan petri dan diberikan beban dengan berat yang berbeda, yaitu 50 gram, 100 gram, 150 gram dan 200 gram selama 1 menit. Setelah itu, diameter uji daya sebar sediaan balsam pada masing-masing beban diukur (Suartha et al. Daya sebar pada balsam yang baik yaitu pada diameter 5-7 cm (Salsabila et al. , 2. Uji Daya Lekat HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 Sebanyak 0,5 gram sediaan balsam diletakkan di atas kaca objek pada alat uji daya lekat, kemudian ditambahkan beban sebesar 500 gram dan dibiarkan selama 1 menit. Setelah beban dilepaskan, waktu yang dibutuhkan hingga kedua kaca terpisah dicatat sebagai nilai daya lekat. Nilai daya lekat sediaan balsam yang baik adalah lebih dari 4 detik (Purba et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Tanaman Pada penelitian ini, berdasarkan hasil determinasi tanaman yang telah dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Muhammadiyah Kuningan dengan nomor surat 235/II. AU/KET/2025 menyatakan bahwa tanaman yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah benar yaitu spesies Zingiber officinale var. rubrum Theilade dengan suku Zingiberaceae. Pembuatan Simplisia Rimpang Jahe Merah Pada Penelitian ini, rimpang jahe merah diperoleh dari petani di Desa Darma. Kabupaten Kuningan. Rimpang jahe merah segar ditimbang hingga bobot 5 kg sebelum dilakukan proses pengolahan lebih lanjut menjadi simplisia. Hasil pembuatan simplisia rimpang jahe merah (Zingiberis officinale var. rubrum Theilad. dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Simplisia Rimpang Jahe Merah (Zingiberis officinale var. rubrum Theilad. Karakteristik Hasil Bobot Simplisia Awal 5 kg Bobot Simplisia Kering 551 gram Berdasarkan hasil pada Tabel 2, didapatkan hasil simplisia rimpang jahe merah segar . sebesar 5 kg. Setelah dilakukan pengupasan, berat jahe merah segar menjadi 3,778 kg dan setelah dilakukan proses pengeringan selama 3 hari didapatkan bobot simplisia serbuk kering yaitu 551 gram. Ekstraksi Simplisia Rimpang Jahe Merah Simplisia jahe merah diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Tujuan dari ekstraksi adalah untuk menarik dan melarutkan komponen kimia yang terdapat dalam simplisia jahe merah. Setelah proses ekstraksi selesai, diperoleh ekstrak kental. Kemudian dilakukan perhitungan rendemen ekstrak. Rendemen ekstrak jahe merah yang diperoleh sebesar 19,68%. Hasil rendemen ekstrak dapat dilihat pada Tabel 3 : Tabel 3. Hasil Ekstrak Jahe Merah (Zingiberis officinale var. rubrum Theilad. Bobot Bobot Ekstrak Rendemen Standar Tanaman Simplisia (%) . (%) > 17% Jahe Merah 500 gram 98,4 gram 19,68% (Farmakope Herbal. Berdasarkan hasil pada Tabel 3, diperoleh rendemen ekstrak jahe merah sebesar 19,68%. Nilai tersebut menandakan bahwa rendemen yang diperoleh telah memenuhi standar Farmakope Herbal Indonesia, yaitu tidak kurang dari 17,0%. Hasil rendemen yang didapat tidak berbeda jauh dengan penelitian sebelumnya oleh Muttaqin et al. , . yang melaporkan rendemen ekstrak jahe merah sebesar 19,99%. Persentase rendemen digunakan untuk mengetahui jumlah ekstrak HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 yang dihasilkan selama ekstraksi. Jumlah zat aktif yang dihasilkan dalam proses ekstraksi juga akan mempengaruhi pada nilai persen rendemen, dimana semakin tinggi nilai rendemen, maka semakin banyak pula senyawa aktif yang terkandung dalam suatu ekstrak (Pawarti et al. , 2. Kadar Air Ekstrak Rimpang Jahe Merah (Zingiberis officinale var. rubrum Theilad. Pengujian kadar air pada penelitian ini dilakukan menggunakan metode gravimetri. Prinsip metode ini adalah menguapkan kandungan air dalam sampel melalui proses pemanasan menggunakan oven. Hasil kadar air ditentukan berdasarkan selisih berat sampel sebelum dikeringkan dan setelah dikeringkan (Yoga et al. , 2. Tabel 4. Hasil Kadar Air Ekstrak Jahe Merah (Zingiberis officinale var. rubrum Theilad. Parameter Kadar Air Ekstrak Jahe Merah Kadar (%) 26,8% Standar (%) 5-30% (Voight, 1. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4, diperoleh rata-rata kadar air ekstrak jahe merah sebesar 26,8%. Menurut Voight . , hal ini menunjukkan bahwa kadar air ekstrak jahe merah telah memenuhi syarat dimana kadar air yang diperbolehkan untuk ekstrak kental berada pada rentang 5Ae30%. Penentuan kadar air bertujuan untuk menjamin stabilitas ekstrak selama penyimpanan dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga kemampuan bioaktivitas ekstrak tetap optimal pada saat penyimpanan. Kadar air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan kapang, jamur, dan mikroorganisme lain, yang dapat menyebabkan ekstrak lebih cepat mengalami kerusakan dan menurunkan kualitasnya (Setya et al. , 2. Skrining Fitokimia Ekstrak Rimpang Jahe Merah Uji Skrining fitokimia dilakukan untuk mendeteksi adanya kandungan fenolik pada ekstrak jahe merah. Skrining ini difokuskan pada identifikasi senyawa metabolit sekunder golongan fenol. Golongan Senyawa Fenolik Tabel 5. Hasil Uji Skrining Fitokimia Senyawa Fenolik Pereaksi Hasil Standar Uji Eter FeCl3 Hijau kehitaman. Hitam pekat (Harborne, 1. Keterangan: ( ) = Terdeteksi Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 5, diperoleh hasil positif uji skrining fitokimia senyawa fenolik pada ekstrak jahe merah, hasil menunjukkan terbentuk warna hitam pekat yang menandakan bahwa ekstrak jahe merah ini mengandung senyawa fenol. Senyawa fenol memiliki gugus hidroksil yang dapat bereaksi dengan ion Fe 3 pada larutan FeCl3 sehingga terbentuk senyawa kompleks berwarna hitam pekat (Prayoga et al. , 2. Senyawa fenol bersifat polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar seperti etanol. Oleh karena itu, penggunaan etanol 96% sebagai pelarut ekstraksi dinilai sesuai, karena memiliki tingkat kepolaran yang sebanding dengan senyawa golongan fenol, sehingga mampu mengekstraksi senyawa aktif seperti gingerol dari rimpang jahe merah (Fauziyah et al. , 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Leslie & Gunawan, . melaporkan bahwa jahe merah mengandung senyawa fenolik. dan selain fenolik ada beberapa kandungan lain seperti alkaloid, flavonoid, kardioglikosida, glikosida, saponin, kumarin, kuinon, betasianin, steroid, dan terpenoid. Evaluasi Sediaan Fisik Uji Organoleptik HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 Uji organoleptik sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus dilakukan dengan mengamati sediaan meliputi bentuk, warna dan aroma. Hasil Uji Organoleptik dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Hasil Uji Organoleptik Adapun yang membandingkan masing-masing konsentrasi berdasarkan pada Semakin tinggi konsentrasi dari sediaan, semakin pekat warna sediaan yang dihasilkan (Iskandar et al. , 2. Perbedaan ini terjadi karena adanya penambahan konsentrasi ekstrak jahe merah 10%,15%, dan 20% Uji Homogenitas Homogenitas yang baik ditandai dengan tidak adanya gumpalan pada sediaan saat dioleskan pada permukaan kaca objek (Purba et al. , 2. Formula Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas Hasil Uji Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Berdasarkan hasil pengujian homogenitas sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak eukaliptus yang tersaji pada Tabel 6, seluruh formula yaitu F0 . %). F1 . %). F2 . %). F3 . %) dinyatakan memenuhi syarat homogenitas. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya gumpalan saat sediaan dioleskan pada kaca objek, yang membuktikan bahwa seluruh formulasi sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak eukaliptus yang dibuat memiliki homogenitas yang baik. Uji pH Uji pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman atau kebasaan sediaan balsam stik. Nilai pH yang sesuai sangat penting untuk menjamin keamanan sediaan saat diaplikasikan pada Hasil uji pH sediaan balsam stik kombinasi ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Uji pH Formula Nilai pH Syarat 4,5 Ae 6,5 (Purba et al. , 2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan pH yang HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 ditetapkan dan memiliki nilai pH dalam rentang yang sesuai untuk kulit, yaitu 4,5Ae6,5. Rentang pH ini dinilai aman karena pH yang terlalu asam dapat menyebabkan iritasi kulit, sedangkan pH yang terlalu basa dapat menyebabkan kulit menjadi kering (Unique et al. , 2. Uji Daya Sebar Uji daya sebar dilakukan untuk mengetahui kemampuan sediaan balsam dalam menyebar pada permukaan kulit. Hasil uji daya sebar sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus dapat dilihat pada Tabel 8. Formula Tabel 8. Hasil Uji Daya Sebar Diameter 4,25 cm 4,4 cm 3,7 cm 4,5 cm Syarat 5-7 cm (Salsabila et al. , 2. Berdasarkan hasil pengujian, seluruh formula belum sepenuhnya memenuhi persyaratan daya sebar ideal, yaitu 5Ae7 cm. Rendahnya daya sebar ini diduga disebabkan oleh konsistensi sediaan balsam yang relatif padat, sehingga menghambat kemampuan sediaan untuk menyebar secara optimal pada permukaan kulit (Kiptiah et al. , 2. Ketidaksesuaian pada hasil uji daya sebar di beberapa formulasi dapat disebabkan oleh konsentrasi cera alba yang terlalu tinggi. Konsentrasi cera alba yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi kekentalan pada sediaan balsam. Semakin tinggi konsentrasi, maka balsam akan semakin kental dan mengurangi kemampuan daya sebar dari balsam tersebut. (Unique et al. , 2. Meskipun demikian, di antara keempat sediaan balsam stik yang telah dibuat. F3 dengan konsentrasi ekstrak jahe merah 20% memiliki daya sebar yang paling besar dibandingkan dengan formula yang lain yaitu 4,5 cm. Dengan demikian, sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus masih dapat digunakan, meskipun saat diaplikasikan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman karena adanya sensasi sedikit tebal (Nurfaizah et al. , 2. Uji Daya Lekat Uji daya lekat dilakukan untuk mengetahui waktu yang diperlukan sediaan balsam stik untuk dapat melekat dengan baik pada permukaan kulit, yang berkaitan dengan lamanya kontak sediaan dengan kulit sehingga dapat memengaruhi efektivitas terapi. Tabel 8. Hasil Uji Daya Lekat Formula Daya lekat 6 menit 21 detik 12 menit 58 detik 5 menit 10 detik 6 menit 50 detik Syarat > 4 detik (Purba et al. , 2. Berdasarkan hasil pada Tabel 8, seluruh sediaan balsam stik ekstrak jahe merah dan minyak atsiri eukaliptus memenuhi persyaratan uji daya lekat, yaitu lebih dari 4 detik. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki kemampuan melekat yang baik pada kulit. Semakin lama waktu daya lekat suatu sediaan, maka semakin lama pula kontak sediaan dengan kulit, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas terapi yang dihasilkan (Ardiansyah et , 2. HERBAPHARMA, 2025. : 99-108 KESIMPULAN Kombinasi ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. dan minyak atsiri eukaliptus (Eucalyptus globulus Labill. ) dapat diformulasikan sebagai sediaan balsam stik. Berdasarkan hasil evaluasi fisik sediaan yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat, formulasi terbaik dari sediaan balsam stik ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilad. dan minyak atsiri eukaliptus (Eucalyptus globulus Labill. ) adalah F3 dengan konsentrasi ekstrak jahe merah sebesar 20%. Formula ini memenuhi seluruh persyaratan evaluasi fisik sediaan, serta menunjukkan nilai daya sebar yang paling mendekati persyaratan ideal dibandingkan formula lainnya. REFERENSI