Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Berpikir Kritis Perawat dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Yanti Sutriyanti 1. Mulyadi 2 Prodi Keperawatan Curup. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Curup. Indonesia iwanyanti70@gmail. Abstract Critical thinking skills is a very essential ability in providing services to patients. Factors that can influence critical thinking skills include physical condition, motivation, anxiety, habits, intellectual development, consistency, feelings, and experience. These factors can provide positive support or can reduce critical thinking skills. The purpose of the study was to analyze the factors that influence the application of nurses' critical thinking skills in implementing nursing care to patients. Crossectional research design. The study population was inpatient nurses and a total population sample of 113 nurses. The results of this study . %) were female, . %) education was not Ners, . %) were married, . %) were civil servants, . %) were more than 30 years old, . %) were working long < 6 years. There was a significant relationship between sex factors . , duration of work . , motivation . , anxiety . , intellectual development . , and experience . towards the application of critical thinking nurses in implementing nursing care. There was no significant relationship between factors of age, education, marital status, employment status, physical condition, feelings, habits, consistency in the application of nurse critical thinking in implementing nursing care . value> 0. The intellectual development of nurses can improve critical thinking which is the most dominant in implementing nursing care. Keyword: Nursing care. Critical thinking. Nurses Abstrak Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan sangat esensial dalam memberikan pelayanan terhadap pasien. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis antara lain kondisi fisik, motivasi, kecemasan, kebiasaan, perkembangan intelektual, konsistensi, perasaan, dan Faktor tersebut dapat memberikan dukungan positif ataupun menurunkan kemampuan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor yang mempengaruhi penerapan keterampilan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Desain penelitian crossectional. Populasi penelitian ini perawat ruang rawat inap, sampel sebanyak 113 perawat. Instrumen yang digunakan kuesioner sebanyak 32 item pernyataan. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji pengaruh dengan regresi linier. Hasil penelitian di dapatkan responden . %) berjenis kelamin perempuan, . %) pendidikan bukan Ners, . %) sudah menikah, . %) pegawai Negeri Sipil, . %) usia lebih dari 30 tahun, . %) lama kerja < 6 tahun. Ada hubungan yang bermakna antara faktor jenis kelamin . =0. , lama kerja . =0. , motivasi . =0. , kecemasan . =0. , perkembangan intelektual . =0. , dan pengalaman . =0. terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor usia, pendidikan, status perkawinan, status kepegawaian, kondisi fisik, perasaan, kebiasaan, konsistensi terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan . >0. Perkembangan intelektual perawat dapat meningkatkan berpikir kritis yang paling dominan dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Kata kunci: Asuhan keperawatan, berpikir kritis, perawat Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 ISSN: 2656-6222. DOI 10. 33088/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 22 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 PENDAHULUAN Kemampuan yang sangat esensial dan berfungsi dalam semua aspek kehidupan terutama dalam melaksanakan pekerjaan diperlukan kemampuan berpikir kritis agar masalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan Menurut Halpern . berpikir kritis adalah suatu upaya yang dilakukan dalam memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif untuk menentukan tujuan yang Oleh karena itu untuk memberikan perawatan yang aman dan efektif bagi pasien dengan kebutuhan yang kompleks sangat penting bagi perawat dapat keterampilan berfikir kritis (Kaddoura, 2. Kemampuan dibutuhkan juga dalam Autranscultural nursingAy yang merupakan asuhan keperawatan dengan area budaya keilmuan dalam proses pembelajaran dan praktek keperawatan focus memandang perbedaan dan kesamaannya antara budaya dengan asuhan keperawatan yang memerlukan penghargaan asuhan, sehat sakit, didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu yang digunakan dalam melaksanakan asuhan keperawatan (Leininger, 2. Berbagai faktor yang bisa menyebabkan perbedaan dalam mengukur berpikir kritis antara hasil seseorang yang satu dengan yang lainnya menurut American Society of Registered Nurses . adalah dijelaskan berpikir kritis dalam keperawatan sangat dipengaruhi oleh karakter psikologis, fisiologis, serta dapat dipengaruhi oleh lingkungan internal maupun eksternal seperti usia, tingkat kepercayaan, keterampilan, stress, dan kelelahan, serta rekan kerja. Sedangkan hasil penelitian lainnya dikatakan bahwa kemampuan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan proses keperawatan tidak dipengaruhi oleh karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pengalaman kerja serta status perkawinan (Sumartini, 2. Sedangkan dijelaskan oleh lainnya bahwa factor salah satunya yang bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang adalah terjebak dalam rutinitas, dan juga cara tersering yang membuat terjebak dalam rutinitas adalah membiasakan kita menggunakan model kebiasaan berlebihan (Rubenfeld & Scheffer, 2. Faktor-faktor lainnya yang dapat juga mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir kritis adalah kondisi fisik seseorang, keyakinan diri/ motivasi, merasa kecemasan, kebiasaan atau rutinitas yang dikerjakan, perkembangan intelektual, konsistensi atau ketetapan, perasaan atau emosi, dan pengalaman yang biasa rutin dilakukan sewaktu bekerja (Rubenfeld & Scheffer, 2007. Maryam. Setiawati, & Ekasari, 2. Berbagai faktor tersebut dapat berkontribusi kemampuan berpikir kritis perawat disaat melaksanakan asuhan keperawatan dan juga dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis perawat menurun disaat menghadapi Namun ini juga tergantung dari metode yang digunakan dalam mengukur kemampuan berpikir kritis perawat disaat melaksanakan asuhan keperawatan. Survey yang dilaksanakan di rumah sakit melaksanakan asuhan keperawatan hanya sebatas rutinitas kebiasaan yang belum mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Hasil keperawatan sebagai pencatatan pada critikal thingking dalam melaksanakan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi belum tergambar secara Sutriyanti, dkk. Analisis Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan . | 23 Padahal rumah sakit telah mengembangkan sumber daya manusianya melalui pelatihan - pelatihan pengembangan ilmu keperawatan salah satunya adalah komunikasi therapeutik dalam keperawatan, penerapan keterampilan berpikir kritis bagi perawat dalam melaksanakan asuhan METODE Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian korelasi. Pengambilan data cross sectional. Desain penelitian ini mempelajari hubungan faktor-faktor yang penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi fisik, motivasi, perasaan, kebiasaan / rutinitas, konsistensi, dan pengalaman perawat terhadap penerapan berpikir kritis perawat di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Maret - November tahun 2018. Lokasi penelitian adalah Rumah Sakit Umum Daerah Curup. Data diambil dengan menggunakan instrumen pernyataan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berpikir kritis perawat meliputi pernyataan kondisi fisik 5 item, motivasi 5 item, kecemasan 5 item, perkembangan intelektual 5 item, perasaan 3 item, kebiasaan 3 item, konsistensi 3 item, pengalaman 3 item. Keseluruhannya 32 Setiap pernyataan diberi skor 1 4 selalu dilakukan . = 4, sering dilakukan . anyak dilakukan tapi kadang ada yang tidak dilakuka. = 3, kadang dilakukan . ebih banyak tidak dilakukan namun pernah melakuka. = 2, tidak dilakukan = 1. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan membandingkan r alpha dengan r tabel. Koefisien reliabilitas instrument sebesar Populasi penelitian ini adalah perawat keperawatan pada pasien di ruang rawat di rumah sakit sebanyak 113 perawat. Sampel penelitian ini total populasi adalah seluruh keperawatan pada pasien. Analisis data untuk melihat hubungan karakteristik responden serta faktor yang mempengaruhi berpikir kritis perawat . ondisi fisik, motivasi, perasaan, kebiasaan / rutinitas, konsistensi, dan pengalama. dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam asuhan keperawatan menggunakan uji statistik chi square. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh karakteristik perawat dan faktor yang mempengaruhi berpikir kritis perawat terhadap penerapan dalam melaksanakan asuhan keperawatan menggunakan uji statistik regresi linier. Penelitian ini telah lolos kaji etik dengan No. DM. 04/124/3/V/2018 dari komite etik Poltekkes Kemenkes Bengkulu. HASIL Tabel 1. Karakteristik Perawat Berdasarkan JK. Usia. Tk Pendidikan. Status Perkawinan. Status Kepegawaian. Lama Kerja di RSUD Curup Tahun 2018 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia Produktif Non Produktif. Tingkat pendidikan Ners D3/S1 Kep. Status perkawinan Belum nikah Nikah Status Kepegawaian PNS Kontrak Jumlah Persentase 24 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Lama Kerja di RS Lama Belum lama Tabel 1. menunjukkan bahwa jenis kelamin keperawatan di ruang rawat inap rumah sakit sebagian besar perempuan . 5%), sebagian besar . 1%) usia produktif, sebagian kecil . 1%) mempunyai pendidikan ners, sebagian besar . 5%) sudah menikah, sebagian kecil . 4%) bekerja sebagai PNS, hampir sebagian . 6%) perawat sudah lama bekerja di rumah sakit. Faktor-faktor yang mempengaruhi perawat berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup sebagian kecil . %) mempunyai kondisi fisik yang baik, hampir sebagian . %) mempunyai motivasi yang tinggi, sebagian besar . %) melaksanakan asuhan keperawatan dalam kondisi tidak cemas, sebagian besar . %) mempunyai perkembangan intelektual yang baik. Sebagian . 4 %) mempunyai perasaan yang nyaman, sebagian besar . %) sudah terbiasa berpikir kritis, sebagian besar . %) selalu konsisten, dan sebagian besar . %) melaksanakan asuhan keperawatan. Penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup masih ditemukan sebagian kecil . %) kurang baik dalam melakukan pengkajian, sebagian kecil . %) kurang baik dalam menentukan diagnose keperawatan, sebagian kecil . 5%) kurang baik dalam merencanakan, sebagian kecil . %) kurang baik dalam melaksanakan tindakan, dan sebagian kecil . 3%) kurang Serta secara keseluruhan berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagian besar . %) sudah baik penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Tabel 2. Hubungan Karakteristik perawat (Jenis Kelamin. Usia, pendidikan. Status perkawinan. Status kepegawaian, dan Lama bekerja sebagai perawa. dengan Penerapan Berpikir Kritis dalam Melaksanakan Askep di RSUD Curup Tahun 2018 Karakteristik Perawat Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Produktif Non Produktif Pendidikan Ners Bukan ners Status Perkawinan Belum nikah Sudah PenerapanBerpikir Kritis Dalam melaksanakan Askep Baik Kurang Baik Total % CI) P value Sutriyanti, dkk. Analisis Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan . | 25 Status pegawai PNS Non PNS Lama Kerja Sudah lama Belum lama Tabel 2. Menunjukkan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dari hasil uji statistik chi square tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin p value 0. 555, usia p 095, pendidikan p value 0. 797, status perkawinan p value 0. 629, status pegawai p 241 > dengan penerapan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien p 0. Sedangkan ada hubungan yang signifikan antara lama kerja perawat dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup p value 0. (CI . 95% 0. Tabel 3. Hubungan Variabel Independen (Kondisi fisik. Motivasi. Kecemasan. Perkembangan Intelektual. Kebiasaan/ rutinitas. Perasaa. dengan Penerapan Berpikir Kritis dalam Melaksanakan Askep di RSUD Curup Tahun 2018 Faktor yang BPK Kondisi Fisik Baik Kurang Baik Motivasi Tinggi Rendah Kecemasan Tidak Cemas Cemas Perkembangan Intelektual Baik Kurang baik Perasaan Nyaman Kurang Nyaman Kebiasaan/Rutin Sudah biasa Kurang Biasa Konsistensi Konsisten Tidak konsisten Pengalaman Berpengalaman Kurang Penerapan BPK dalam Askep Baik Kurang Baik Total % CI) P value 26 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Tabel 3. Menunjukkan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup, menggunakan uji statistik hubungan dengan uji chi square ditemukan pada motivasi p. 015, kecemasan p. perkembangan intelektual p. dan pengalaman p. 002 < dari p. 05 yang artinya ada hubungan yang signifikan antara motivasi, kecemasan, perkembangan intelektual, dan pengalaman dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit Curup. Sedangkan pada kondisi fisik p. 070, perasaan p. kebiasaan p. 145 dan konsistensi p. 308 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kondisi fisik, perasaan, kebiasaan, dan konsistensi dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Curup. Tabel 4. Pemodelan Akhir Variabel Independen Faktor (Kondisi fisik. Motivasi. Kecemasan. Perkembangan Intelektual. Perasaan. Kebiasaan. Konsistensi, dan Pengalama. dengan Penerapan Berpikir Kritis dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan di RSUD Curup Tahun 2018 Variabel faktor (Independe. Sig. Konstanta Motivasi Perkembangan Intelektual Kebiasaan Pengalaman Constant Exp. (B) Square 95% CI for Exp (B) Lower Upper Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa variabel independen yang paling besar pengaruhnya terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup adalah faktor perkembangan intelektual perawat di rumah sakit p value 0. CI 1. < p 0. Di dapatkan Odds Ratio (OR) dari variabel perkembangan intelektual adalah 3. 5, artinya perawat yang mempunyai perkembangan intelektualnya baik akan menerapkan berpikir kritis sebesar 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perawat yang tidak memiliki perkembangan intelektual yang kurang baik setelah dikontrol variabel kebiasaan, pengalaman, dan motivasi. Sedangkan nilai koefisien determinasi (R square 0. , hal ini berarti bahwa keempat variabel baik motivasi, perkembangan intelektual, kebiasaan, dan pengalaman dapat menjelaskan variabel penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebesar 16 % sisanya dijelaskan oleh faktor lain yaitu kecemasan, perasaan, konsistensi dan karakteristik perawat itu sendiri seperti usia, pendidikan, dan jenis kelamin serta budaya. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian analisis faktor yang mempengaruhi penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di ruang rawat inap RSUD Curup memberikan gambaran sebagai Sutriyanti, dkk. Analisis Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan . | 27 Karakteristik perawat bekerja di ruang rawat inap yang melaksanakan asuhan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin sebagian besar perempuan . %). Hasil penelitian ini menemukan tidak adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan yang signifikan kemampuan berpikir kritis berdasarkan jenis kelamin. Jumlah perawat perempuan di Indonesia sampai saat ini masih memegang peranan yang lebih banyak dibandingkan dengan perawat laki-laki. Hal ini disebabkan oleh latar belakang budaya dan kebangsaan serta sejarah keikutsertaan perawat sebagian besar adalah perawat perempuan yang turut serta dalam mengembangkan kesehatan (Priharjo. Begitu juga hasil penelitian lainnya disebutkan bahwa proporsi perawat yang cenderung berpikir kritis adalah berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada berjenis kelamin laki-laki (Aprisunadi. Namun menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, artinya bahwa tidak ada perbedaan dalam berpikir kritis antara laki-laki dan perempuan ( Mulyaningsih ,2. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan perawat sebagian besar belum ners (D3/S1 Keperawata. 9%). Hasil penelitian ini belum bisa membandingkan kemampuan keterampilan berpikir kritis antara pendidikan ners dan pendidikan yang belum ners karena pendidikan yang belum ners jumlahnya lebih banyak ketimbang pendidikan ners. Status perkawinan perawat sebagian besar . 5%) sudah menikah. Dan status kepegawaian sebagian . Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah yang hampir Usia perawat hampir sebagian . %) usia produktif. Menurut Erikson dijelaskan bahwa rentang umur 25-45 tahun merupakan tahap perkembangan generativitas vs stagnasi, pada usia ini dijelaskan dimana seseorang memperhatikan gagasan atau ide - ide, dan keinginan atau dorongan untuk berbagi pengetahuan, serta meningkatkan kreativitas. Lama kerja perawat hampir sebagian . %) memiliki lama kerja Ou 6 tahun. Menurut Suyanto . , seorang perawat apabila sudah bekerja melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien selama Ou 6 tahun dengan latar pendidikan D3 atau S1 keperawatan maka perawat tersebut sudah bisa menjadi ketua tim dalam kelompoknya, karena sudah memiliki pengalaman dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Gambaran faktor yang mempengaruhi penerapan berpikir kritis perawat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran faktor yang mempengaruhi penerapan berpikir kritis perawat di RSUD Curup sebagian besar kurang baik pada faktor kondisi fisik, dan motivasi. Faktor yang sebagian besar baik pada faktor kecemasan, perkembangan kebiasaan, konsistensi, dan pengalaman. Sedangkan faktor yang hampir sebagian sama mempengaruhi adalah faktor perasaan. Menurut Maslow dalam Siti Mariyam . Dalam menjalani kehidupan diperlukan kondisi fisik baik. Kondisi fisik merupakan kebutuhan fisiologi paling dasar bagi kebutuhan manusia. Ketika kondisi fisik seseorang terganggu padahal seseorang 28 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 tersebut dihadapkan pada situasi yang menuntut pemikiran matang untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi, maka kondisi seperti ini sangat dapat pemecahan masalah tidak dapat diselesaikan dengan baik. Dikatakan juga bahwa motivasi Motivasi merupakan hasil faktor internal dan eksternal. Motivasi adalah upaya yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau berbuat sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dorongan yang kuat dalam bekerja dapat memberikan semangat seseorang untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalahnya. Menciptakan minat adalah cara yang sangat baik untuk memberi motivasi pada diri demi mencapai tujuan (Kort 1987, dalam Zafri, 2. Gambaran faktor yang mempengaruhi melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien masih memiliki nilai dibawah 60%-70% adalah penerapan perawat dalam melakukan pengkajian, penerapan dalam menentukan diagnosa keperawatan, dan penerapan dalam Sedangkan pernerapan berpikir kritis perawat dalam melakukan perencanaan keperawatan dan melakukan tindakan keperawatan memiliki nilai lebih dari 70%. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang sudah dilakukan di rumah sakit Kepahyang bahwa penerapan berpikir kritis perawat setelah diberikan pelatihan akan meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan yang lebih baik pada saat melakukan pengkajian dan melakukan implementasi keperawatan. Faktor yang dapat menyebabkan kurangnya kemampuan perawat berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan di RSUD Curup menunjukkan pada hasil penelitian sebagian besar kondisi fisik yang kurang baik dan kurangnya motivasi dalam menerapkan berpikir kritis dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Hubungan asuhan keperawatan. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan karakteristik dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, pendidikan, status perkawinan dan status kepegawaian. Sedangkan yang ada hubungan signifikan antara karakteristik dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan adalah lama kerja. Menurut Aprisunadi . penelitiannya tidak menemukan adanya hubungan yang bermakna antara usia dan Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Feng at all . menunjukkan bahwa faktor pengalaman dan usia secara signifikan adalah faktor yang paling mempengaruhi kemampuan seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Tujuan pembelajaran atau pendidikan kepada orang dewasa adalah lebih mengarah kepada Sutriyanti, dkk. Analisis Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan . | 29 pencapaian kemantapan identitas dirinya sendiri untuk menjadi jati dirinya sendiri. Orang dewasa dalam melakukan kegiatan pembelajaran bukan menjadi objek yang dibentuk untuk menyesuaikan dengan keinginan pemegang otoritas, namun untuk pengalaman (Asmin, 2. Orang dewasa yang mempunyai kisaran umur 25- 45 tahun merupakan umur yang mempunyai tahap perkembangan generativitas vs stagnasi, pada kisaran dalam usia ini baik untuk diberikan pembelajaran dimana pada masa ini seseorang selalu mempunyai gagasan atau ide-ide, keinginannya untuk berbagi pengetahuan, dan selalu ingin meningkatkan kreativitas. pengalaman dengan penerapan berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Sedangkan faktor yang tidak ada hubungan yang signifikan adalah faktor kondisi fisik, faktor perasaan, faktor kebiasaan, dan faktor konsistensi dengan penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Swanburg . dijelaskan bahwa jika masa kerja seseorang bertambah maka akan semakin bertambah pula pengalaman Dapat pengalaman dan masa kerja saling terkait. Maka semakin bertambah masa kerja seseorang maka akan semakin bertambah pula pengalaman klinik dan keterampilan Hal ini memberikan pengalaman pada seseorang mengasah kemampuan berpikir kritis secara rutin dalam melaksanakan pekerjaannya. Pertambahan masa kerja seseorang semakin akan memberikan pertambahan pengalaman dan keterampilan klinisnya. Lebih lanjut bahwa semakin banyaknya pengalaman praktik yang dimiliki oleh perawat maka perawat tersebut dapat berpikir kritis, iniakan sangat membantu dalam menghadapi kendala kerja yang dihadapinya dengan memberikan respon cepat dan tanggap, bahkan pengalaman ini dapat mengasah kemampuan berpikir kritis dalam bekerja. Dijelaskan oleh Roche . bahwa pengalaman praktik yang pernah dilakukan akan menambah pengalaman belajar klinis dan dapat menambah kemampuan dalam berpikir kritis, hal ini keterampilan dalam membuat keputusan. Sedangkan menurut Marta . dijelaskan bahwa keterpaparan dengan masalah klinik di lahan praktik keperawatan dapat memberikan membiasakan menerapkan keterampilannya, berpikir kritis terbiasa rutin Hubungan faktor-faktor asuhan keperawatan Hasil penelitian hubungan faktor-faktor dengan penerapan berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan adalah ada hubungan yang bermakna antara faktor perkembangan intelektual dan faktor Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aprisunadi . ada hubungan antara berpikir kritis dengan kualitas asuhan Namun yang berkontribusi adalah pengalaman praktik . adanya hubungan yang signifikan berpikir kritis dengan kualitas asuhan 30 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Namun jika seseorang yang mengabaikan kemampuan berpikir kritisnya Faktor melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup. Faktor karakteristik yang paling dominan pengaruhnya terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup adalah lama kerja perawat di rumah sakit. Perawat yang bekerja sebagai perawat lebih dari atau sama dengan 6 tahun akan menerapkan berpikir kritis sebesar 0. 05 kali dibandingkan dengan perawat yang bekerja sebagai perawat dengan lama kerja kurang dari 6 tahun setelah dikontrol variabel jenis kelamin dan usia. Kemampuan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan sangat dipengaruhi oleh sifatsifat psikologis dan fisiologis serta lingkungan seperti usia seseorang, tingkat keterampilan yang dimiliki, tingkat stress, dan kondisi kelelahan, serta keberadaan rekan kerja (Sumartini, 2. Hasil penelitian ini lama kerja perawat di rumah keperawatan pada pasien sebagian besarlebih dari 6 tahun, hal ini dapat memberikan pengalaman dalam pelaksanaan praktik Sejalan dengan Swanburg . pengalaman masa kerja seseorang akan menambah pengalaman klinik dan meningkatkan keterampilan klinisnya sehingga kemampuan berpikir kritispun akan semakin terbiasa. Faktor lain selain karakteristik perawat yang mempunyai paling dominan pengaruhnya terhadap penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien di RSUD Curup adalah faktor Perkembangan intelektual mempunyai nilai OR 3. 5, artinya perawat yang mempunyai perkembangan intelektualnya baik akan menerapkan berpikir kritis sebesar 3. 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan perawat yang kurang baik memiliki perkembangan intelektual setelah dikontrol variabel kebiasaan, pengalaman, dan motivasi. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh feng et al . , dikatakan bahwa lama pengalaman praktik di klinik, tingkatan pendidikan dan umur merupakan faktor Ae faktor yang dapat kecenderungan berpikir kritis perawat. Namun hasil penelitian yang sejalan dengan Feng et al. adalah menyatakan bahwa faktor pengalaman dari rumah sakit lain secara signifikan dapat mempengaruhi . <0. Perbedaannya disini adalah faktor pengalaman yang didapatkan Feng et all didapatkan dari rumah sakit lain sedangkan pengalaman yang didapatkan peneliti adalah pengalaman dengan lamanya bekerja di rumah sakit itu sendiri. Perkembangan intelektual perawat di RSUD Curup, saat ini perawat perawat profesional sudah mencapai 21%. Hal ini dapat memberikan kontribusi peningkatan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan Perkembangan intelektual dapat meningkatkan intelegensi perawat. Pengertian intelegensi adalah sebagai suatu kemampuan individu untuk belajar dan berfikir abstrak yang berguna untuk menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi juga merupakan Sutriyanti, dkk. Analisis Fakor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan . | 31 salah satu dari faktor yang mempengaruhi hasil proses pembelajaan. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal yang dapat digunakan untuk berfikir dan mengolah berbagai informasi secara sistematis dan terarah sehingga mempunyai kemampuan dalam menguasai lingkungan. (Khayan. Faktor dari perkembangan intelektual perawat dapat mempengaruhi penerapan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan setelah dikontrol oleh kebiasaan, pengalaman, dan motivasi. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Mulyaningsih . , yang menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berpikir kritis dengan perilaku caring perawat dalam melaksanakan asuhan Dilanjutkan dengan hasil penelitian yang lain menjelaskan bahwa salah satu faktor yang dapat memberikan penurunan kemampuan berpikir kritis seseorang apabila seseorang sudah terjebak ke dalam rutinitas pekerjaan, dan rutinitas yang secara terus menerus dilakukan menjadikan kebiasaan yang sulit untuk dirubah (Rubenfeld & Scheffer, 2. Kebiasaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebiasaan perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan. Kebiasan yang kurang patuh terhadap standar pelayanan akan menurunkan berpikir kritis perawat dalam melaksanakan asuhan Pengalaman merupakan hal utama untuk berpindah dari seorang pemula menjadi seorang ahli, pengalaman perawat di RSUD Curup adalah ditunjang dengan masa kerja yang lama dan 27% sebagai perawat yang meningkat menjadi perawat professional. Peningkatan jenjang perawat vokasional menjadi professional dipengaruhi oleh faktor Motivasi dalam meningkatkan kemampuan dipengaruhi oleh faktor internal . ingkungan menumbuhkan keinginan untuk beruba. Motivasi menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga untuk melaksanakan sesuatu tujuan yang telah ditetapkannya (Lewin, 1935 dalam Maryam. Setiawati & Ekasari, 2. Motivasi yang dilakukan perawat RSUD Curup dalam meningkatkan pengetahuannya sebagai sebagai pemicu melakukan pergerakan positif untuk mencapai tujuan dalam penerapan berpikir kritis asuhan keperawatan adalah . akibat pengalaman yang kurang menyenangkan membuat dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan tindakan atau pelayanan yang lebih baik, . akibat seringnya memberikan tindakan/ pelayanan tersebut sehingga kemampuannya bertambah, . kemudian di tegur / diingatkan oleh teman sejawat, membuat kesadaran diri untuk melakukan asuhan keperawatan yang lebih KESIMPULAN Faktor yang mempengaruhi mempengaruhi penerapan berpikir kritis perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Curup adalah lama masa kerja, motivasi, perkembangan intelektual, kebiasaan dan pengalaman perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada Perkembangan intelektual perawat dapat meningkatkan berpikir kritis yang paling dominan dalam melaksanakan asuhan 32 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Perkembangan intelektual pendidikan formal maupun informal seperti pelatihan kompetensi berpikir kritis dalam melaksanakan asuhan keperawatan. DAFTAR PUSTAKA