Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius Volume 3 | Nomor 1 | Juli Ae Desember 2025 e-ISSN: 3032-2774 DOI: https://doi. org/10. 70920/pengabmaskes. Website: https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Pendampingan Pedagang Makanan/Minuman dalam Pemanfaatan Bengkuang sebagai Pangan Fungsional Cepat Saji untuk Pengendalian Profil Lipid Andrafikar1. Hasneli2. Safyanti3. Kasmiyeti4. Yesi Alfadjri5 Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Padang. Indonesia Email korespondensi: andrafikar@poltekkespadang. History Artikel Received:26-8-2025 Accepted:30-8-2025 Published:31-12-2025 Kata kunci Pendampingan. Bengkuang. Pedagang makanan/minuman. Profil lipid ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat Program Kemitraan Wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pedagang makanan/minuman dalam memanfaatkan bengkuang sebagai makanan fungsional cepat saji guna membantu pengendalian kadar lipid darah di Kecamatan Kuranji. Kota Padang. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan sosialisasi, penyuluhan, ceramah, diskusi, demonstrasi pengolahan bengkuang, serta pendampingan langsung kepada pedagang. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta serta monitoring terhadap praktik pengolahan makanan berbahan bengkuang. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan signifikan, dari 28,6% pedagang dengan kategori baik sebelum penyuluhan menjadi 80% setelah Simpulan dari kegiatan ini adalah pengabdian berjalan dengan baik dan mendapat dukungan pemerintah serta masyarakat, serta mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan pedagang dalam pemanfaatan bengkuang sebagai pangan fungsional. Disarankan kegiatan serupa dilanjutkan secara berkelanjutan, melibatkan lebih banyak pedagang dan variasi pangan lokal. Keywords: ABSTRACT Mentoring. Jicama. Food and beverage Lipid profile The community service activity of the Regional Partnership Program aimed to improve the knowledge and skills of food and beverage vendors in utilizing bengkuang . am bea. as an instant functional food to help control blood lipid levels in Kuranji District. Padang City. The implementation method was carried out through several stages, including socialization, counseling, lectures, discussions, demonstrations of bengkuang processing, and direct assistance to the vendors. Evaluation was conducted using pre-tests and post-tests to measure participants knowledge improvement, as well as monitoring the vendors Ao practice of processing bengkuang-based food. The results of the activity showed a significant increase in knowledge, from 28. 6% of vendors categorized as goodAybefore the counseling to 80% after the counseling. The conclusion of this activity is that the program was successfully implemented, received support from both the government and the community, and effectively enhanced the vendorsAo understanding and skills in utilizing bengkuang as functional food. It is recommended that similar activities be continued sustainably, involving more vendors and a wider variety of local food A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. PENDAHULUAN Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan tantangan kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 70% kematian di dunia disebabkan oleh PTM, dengan penyakit kardiovaskular sebagai kontributor terbesar (WHO, 2. Kondisi ini sejalan dengan situasi di Indonesia, di mana prevalensi PTM terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI . , prevalensi PTM di Indonesia mencapai 69,91% dengan penyakit kardiovaskular sebagai penyebab utama kematian. Penyakit jantung koroner (PJK) menempati urutan kedua penyebab kematian setelah stroke, yaitu sebesar 12,9% (Anies, 2. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 35,9% penduduk usia di atas 15 tahun memiliki kadar kolesterol total melebihi batas normal, dengan prevalensi lebih tinggi di daerah perkotaan . ,5%) dibandingkan perdesaan . ,1%) (Riskesdas, 2. Fakta ini menegaskan bahwa hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko utama yang mendesak untuk Hiperkolesterolemia didefinisikan sebagai kondisi meningkatnya kadar kolesterol total dalam darah Ou200 mg/dl (Feryadi. Sulastri, & Kadri, 2. Peningkatan kadar kolesterol total. LDL, trigliserida, dan penurunan HDL menjadi faktor dominan dalam pembentukan plak aterosklerosis yang memicu penyakit Prevalensi ini diperkirakan akan terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak, kolesterol, dan gula sederhana, serta kurangnya aktivitas fisik (Apriyeni. Sandra, & Juliwirina, 2. Oleh karena itu, pengendalian profil lipid menjadi strategi penting dalam upaya menekan tingginya angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah di masyarakat. Upaya pengendalian kadar lipid dapat dilakukan dengan dua pendekatan utama, yaitu farmakologis dan nonfarmakologis. Pendekatan farmakologis melibatkan pemberian obat-obatan penurun lipid, seperti statin dan fibrat, yang terbukti efektif namun tidak terlepas dari efek samping dan biaya tinggi (Erwinanto et , 2. Sementara itu, pendekatan nonfarmakologis dianggap lebih ramah dan berkelanjutan karena berfokus pada modifikasi gaya hidup, perbaikan pola makan, serta pemanfaatan pangan fungsional (Perkeni, 2. Pangan fungsional adalah bahan makanan yang selain memberikan manfaat nutrisi dasar juga memiliki efek fisiologis tambahan yang mendukung kesehatan, salah satunya adalah bengkuang (Pachyrhizus erosu. Bengkuang merupakan salah satu tanaman umbi yang banyak ditemukan di Indonesia, khususnya di Kota Padang yang bahkan dijuluki sebagai "Kota Bengkuang" karena produksinya yang melimpah. Data BPS Kota Padang . menunjukkan bahwa produksi bengkuang mencapai 873 ton dengan areal tanam seluas 55 hektar. Namun, pemanfaatan bengkuang di masyarakat masih terbatas pada konsumsi segar, seperti rujak, asinan, atau minuman. Padahal, kandungan bioaktif bengkuang sangat potensial untuk dijadikan pangan fungsional. Bengkuang mengandung vitamin C, polifenol, flavonoid, dan inulin. Vitamin C berperan sebagai antioksidan alami, polifenol dan flavonoid mampu menurunkan risiko penyakit jantung dengan cara menghambat enzim yang berperan dalam sintesis kolesterol, sementara inulin berperan dalam menurunkan kolesterol dengan meningkatkan ekskresi melalui saluran pencernaan (Nisrina & Probosari, 2. Selain itu, penelitian terbaru menegaskan bahwa bengkuang memiliki indeks glikemik rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan mereka yang menjalani diet rendah kalori (Azizah. Riani, & Hastuty, 2. Dengan kandungan gizi dan fitokimia tersebut, bengkuang sangat relevan digunakan sebagai Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. pangan fungsional dalam upaya pengendalian profil lipid. Namun, rendahnya pemanfaatan bengkuang sebagai olahan makanan fungsional menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya pedagang makanan/minuman, dalam mengembangkan inovasi berbasis pangan lokal. Urgensi kegiatan pengabdian masyarakat ini muncul dari kebutuhan untuk memberdayakan pedagang makanan/minuman agar mampu memanfaatkan bengkuang secara optimal. Pedagang makanan/minuman dipilih sebagai mitra strategis karena mereka memiliki peran penting dalam menentukan pola konsumsi Dengan kata lain, intervensi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi pedagang melalui diversifikasi produk (Aurora. Sinambela, & Noviyanti, 2. Rasionalisasi kegiatan ini didasarkan pada kebutuhan ganda: kesehatan dan Dari sisi kesehatan, kegiatan ini membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular melalui konsumsi pangan fungsional. Dari sisi ekonomi, diversifikasi produk berbasis bengkuang berpotensi meningkatkan pendapatan pedagang. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, mengintegrasikan aspek gizi, kesehatan, dan ekonomi lokal. Rencana pemecahan masalah dilakukan melalui serangkaian kegiatan terstruktur, meliputi sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat, penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan tentang profil lipid dan manfaat bengkuang, demonstrasi pengolahan bengkuang menjadi makanan/minuman fungsional, serta pendampingan langsung kepada pedagang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pedagang makanan/minuman dalam memanfaatkan bengkuang sebagai makanan fungsional cepat saji guna membantu pengendalian kadar lipid darah di Kecamatan Kuranji. Kota Padang METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Oktober 2024 di Kecamatan Kuranji. Kota Padang, yang dikenal sebagai sentra produksi bengkuang namun pemanfaatannya sebagai pangan fungsional masih terbatas. Lokasi kegiatan meliputi aula Kantor Camat Kuranji untuk sosialisasi dan penyuluhan, laboratorium Jurusan Gizi Poltekkes Padang untuk demonstrasi pengolahan, serta tempat usaha pedagang makanan/minuman untuk kegiatan Sasaran kegiatan adalah 35 pedagang makanan/minuman yang dipilih berdasarkan kriteria aktif berjualan, bersedia mengikuti seluruh tahapan, serta memiliki motivasi untuk mengembangkan produk berbasis pangan lokal. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah, diskusi, demonstrasi, dan pendampingan. Tahapan kegiatan diawali dengan persiapan berupa penyusunan materi, perizinan, serta penyediaan sarana. Dilanjutkan dengan sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat untuk memperoleh dukungan, kemudian edukasi tentang profil lipid, hiperlipidemia, serta manfaat bengkuang sebagai pangan fungsional. Setelah itu dilakukan demonstrasi pembuatan makanan berbasis bengkuang seperti bakwan, sayur lontong, dan stik daging bengkuang, yang diikuti dengan praktik langsung oleh peserta. Tahap selanjutnya adalah pendampingan, di mana tim PKM mendatangi tempat usaha pedagang untuk memberikan bimbingan teknis dalam pengolahan dan promosi produk. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi praktik, serta wawancara dengan peserta untuk menilai perubahan pengetahuan dan Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. Persiapan Sosialisasi Edukasi Pendampin Gambar 1 Bagan Alir kegiatan PKM HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan dan sikap peserta, maka sebelum dilakukan kegiatan edukasi, terlebih dahulu dilakukan pre-test dan post test setelah dilakukan kegiatan. Pengukuran ini hanya dilakukan terhadap 35 orang penjual makanan/minuman atau peserta kegiatan pengabdian masyarakt. Hasil pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Sebelum dan Sesudah Pemberian Edukasi Pengetahuan Hasil Pre Test Post test Baik Kurang Baik Total Tabel 1 menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pedagang makanan/minuman setelah diberikan edukasi mengenai profil lipid dan pemanfaatan bengkuang sebagai pangan fungsional. Sebelum kegiatan, hanya 28,6% peserta yang berada pada kategori pengetahuan baik, sementara 71,4% masih dalam kategori kurang baik. Namun, setelah penyuluhan dan diskusi interaktif, proporsi peserta dengan pengetahuan baik meningkat tajam menjadi 80%, sedangkan yang kurang baik menurun menjadi 20%. Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Penjual Makanan/Minuman Sebelum Edukasi Berdasarkan Item Jawaban . = . Jawaban Tertanyaan Benar Salah Pengertian lipid darah Pengertian dislipidemia Batas normal kadar kolestrol Maksud HDL Maksud LDL Bahan makanan yang banyak mengandung kolesterol Batas normal HDL Batas normal LDL Manfaat bengkoang untuk kesehatan Zat Gizi yang terkandung dalam Bengkoang Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. Tabel 2 menggambarkan tingkat pengetahuan pedagang makanan/minuman sebelum diberikan edukasi, yang secara umum masih sangat rendah. Dari 35 responden, mayoritas menjawab salah hampir pada seluruh item pertanyaan, misalnya hanya 17,1% yang mengetahui pengertian lipid darah, 11,4% yang memahami dislipidemia, dan 25,7% yang mengetahui manfaat bengkuang untuk Tabel 3. Tingkat Pengetahuan Penjual Makanan/Minuman Sesudah Edukasi . = . Jawa Tertanyaan Benar Salah Pengertian lipid darah Pengertian dislipidemia Batas normal kadar kolestrol Maksud HDL Maksud LDL Bahan makanan yang banyak mengandung kolesterol Batas normal HDL Batas normal LDL Manfaat bengkoang untuk kesehatan Zat Gizi yang terkandung dalam bengkoang Tabel 3 memperlihatkan perubahan yang signifikan setelah peserta mendapatkan edukasi. Tingkat pengetahuan meningkat pada hampir seluruh item pertanyaan, seperti pengetahuan tentang pengertian lipid darah yang naik dari 17,1% menjadi 77,1%, pengertian dislipidemia dari 11,4% menjadi 88,5%, serta pemahaman mengenai zat gizi dalam bengkuang dari 11,4% menjadi 80%. Gambar 2 Foto bersama tim dan peserta Gambar 3 Persiapan Pelaksanaan Demonstrasi Pengolahan Bengkuang Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan pedagang makanan/minuman mengenai profil lipid dan manfaat bengkuang sebagai pangan fungsional. Sebelum intervensi, sebagian besar peserta belum memahami konsep dasar lipid darah dan risiko hiperlipidemia, sebagaimana terlihat pada hasil pre-test yang hanya 28,6% berada pada kategori Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. Setelah diberikan edukasi melalui ceramah, diskusi, dan praktik demonstrasi, angka tersebut meningkat menjadi 80% pada post-test. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa metode penyuluhan berbasis partisipatif efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nurjanah. Purnomo, dan Susilo . yang membuktikan bahwa edukasi keamanan pangan mampu meningkatkan pengetahuan serta praktik higienis pedagang kaki Demikian juga Putra dan Suryani . melaporkan bahwa pelatihan pengolahan pangan sehat bagi pedagang jajanan sekolah meningkatkan keterampilan dan kesadaran pedagang dalam menyediakan makanan bergizi. Hal ini menunjukkan bahwa pedagang dapat menjadi mitra strategis dalam memperkenalkan inovasi pangan sehat kepada masyarakat. Efektivitas program ini dapat dijelaskan dengan teori pembelajaran orang dewasa . dult learnin. , yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, keterlibatan aktif, dan relevansi materi dengan kebutuhan peserta (Knowles et al. Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima informasi teoritis tetapi juga dilibatkan dalam praktik pengolahan bengkuang menjadi berbagai menu cepat Kombinasi edukasi dan praktik terbukti lebih berdampak pada perubahan perilaku dibandingkan ceramah semata. Menurut Huang. Ou, dan Tang . , intervensi berbasis edukasi gizi yang disertai praktik dapat memperkuat pemahaman serta meningkatkan peluang penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil monitoring yang menunjukkan beberapa pedagang mulai mengintegrasikan bengkuang dalam olahan makanan mereka, baik untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual kepada konsumen. Dari sisi substansi, pemilihan bengkuang sebagai fokus intervensi memiliki dasar ilmiah yang kuat. Umbi bengkuang kaya vitamin C, flavonoid, polifenol, serta inulin yang berperan sebagai serat prebiotik. Komponen-komponen tersebut berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dengan cara menghambat sintesis kolesterol dan meningkatkan ekskresi asam empedu (Nisrina & Probosari, 2014. Ding & Xu, 2. Meta-analisis terbaru juga menegaskan bahwa konsumsi inulin-type fructans efektif menurunkan kadar kolesterol total. LDL, serta trigliserida (GrgiN. BuiN, & krlin, 2. Oleh karena itu, pemanfaatan bengkuang dalam pola konsumsi masyarakat bukan hanya mendukung diversifikasi pangan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pengendalian profil lipid. Hal ini selaras dengan penelitian Azizah. Riani, dan Hastuty . yang menunjukkan bahwa bengkuang memiliki indeks glikemik rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun individu dengan risiko Kegiatan pengabdian ini juga berimplikasi pada aspek ekonomi lokal. Bengkuang merupakan komoditas unggulan Kota Padang dengan produksi tinggi, namun pemanfaatannya masih terbatas (Sari & Utami, 2. Melalui pelatihan dan pendampingan, pedagang didorong untuk memanfaatkan bengkuang sebagai bahan dasar produk inovatif, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus diversifikasi usaha. Hal ini sejalan dengan program pemberdayaan masyarakat lain yang menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan lokal sebagai pangan fungsional dapat meningkatkan pendapatan pedagang sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap makanan sehat (Nurjanah et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan dampak ganda: memperbaiki kesehatan melalui pengendalian kadar lipid dan meningkatkan kesejahteraan pedagang melalui inovasi produk berbasis pangan lokal. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan pedagang makanan/minuman dalam memanfaatkan Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius e-ISSN: 3032-2774 https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/PengabmasKes/index Vol. 3 No. 1: Juli - Desember 2025 |Hal. bengkuang sebagai pangan fungsional merupakan bukti nyata bahwa intervensi partisipatif berbasis edukasi dan praktik efektif dilakukan di tingkat komunitas. Integrasi teori pembelajaran orang dewasa, bukti ilmiah mengenai manfaat bengkuang, serta praktik pendampingan yang aplikatif memberikan hasil positif bagi kesehatan dan ekonomi. Keberhasilan ini dapat dijadikan model replikasi untuk program sejenis di daerah lain dengan potensi komoditas pangan lokal yang SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat di Kecamatan Kuranji. Kota Padang, makanan/minuman dalam memanfaatkan bengkuang sebagai pangan fungsional cepat saji untuk pengendalian kadar lipid darah. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, di mana peserta dengan kategori baik naik dari 28,6% menjadi 80% setelah diberikan penyuluhan, diskusi, dan Selain itu, pedagang memperoleh keterampilan praktis dalam mengolah bengkuang menjadi berbagai produk inovatif seperti bakwan, lontong sayur, dan stik daging bengkuang, bahkan sebagian telah mengaplikasikannya pada usaha maupun konsumsi keluarga. Simpulan dari kegiatan ini adalah pengabdian berjalan dengan baik dan mendapat dukungan pemerintah serta masyarakat, serta mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan pedagang dalam pemanfaatan bengkuang sebagai pangan fungsional. Disarankan kegiatan serupa dilanjutkan secara berkelanjutan, melibatkan lebih banyak pedagang dan variasi pangan lokal, agar manfaat kesehatan serta peningkatan ekonomi masyarakat semakin optimal dan DAFTAR PUSTAKA