Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat di Dusun Rebile Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah Nurul Indana STIT Al-Urwatul Wutsqo. Jombang. Indonesia emailanda@email. Ali Mustofa STIT Al-Urwatul Wutsqo. Jombang. Indonesia Aljep_90@yahoo. Abstrak Purpose of the study was to describe the strategy of instilling Islamic values in the community in Rebile Hamlet. Tanak Awu Village. Central Lombok Regency. The research method used by researchers is a qualitative method with a qualitative descriptive design. Data collection techniques used interviews, observation, and The data validity test uses extension of participation, persistence of observation, triangulation, and using reference materials. Data analysis techniques use data condensation, data presentation, verification and conclusions. Research results: 1. The cultivation of Islamic values in Rebile Hamlet uses the strategy of . Exemplary, where religious figures model how to speak and use polite language, besides that, religious figures also model exemplary examples such as going to pray in congregation to the mosque or to the musholla. Habituation, which is done in the rebile hamlet is to hold a recitation routine on Saturday afternoon and yasin tahlil every Friday night. The last strategy is . Advice, about the morals and morals of fellow residents of rebile hamlet, namely mutual respect, help and love. The process of instilling Islamic values in rebile hamlet: . Moral Knowing, namely Religious Leaders provide motivation and opportunities to ask residents about Islamic values. Moral Loving/Feeling, namely Religious Leaders create a social environment that supports religious values such as supporting religious practices. Moral Doing/Acting, namely residents of rebile hamlet who actively participate in religious activities and share food with neighbors. Kata kunci: Value Internalization. Tolerance. Harmony Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Abstract Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan Strategi penanaman nilai-nilai Islam pada masyarakat di Dusun Rebile Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah. Adapun metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, dan menggunakan bahan refrensi. Teknik analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data, verifikasi dan kesimpulan. Hasil penelitian: 1. Penanaman nilai-nilai Islam di Dusun Rebile menggunakan strategi . Keteladanan, dimana Tokoh Agama mencontohkan tata cara berbicara dan menggunakan bahasa yang sopan santun, selain itu Tokoh Agamanya juga mencontohkan keteladanan seperti pergi sholat berjamaAoah ke masjid atau ke musholla. Pembiasaan, yang di lakukan di dusun rebile adalah mengadakan pengajian rutinan hari sabtu sore dan yasin tahlil tiap malam jumAoat. Strategi terakhir adalah . Nasihat, tentang moral dan akhlak sesama warga dusun rebile yaitu saling menghargai, membantu dan menyayangi. Proses penanaman nilainilai Islam di dusun rebile: . Moral Knowing yaitu Tokoh Agama memberiakan motivasi dan kesempatan bertanya pada warga tentang nilai-nilai Agama Islam. Moral Loving/Feeling yaitu Tokoh Agama menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai Agama seperti mendukung praktik keagamaan. Moral Doing/Acting yaitu warga dusun rebile yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan saling berbagi makanan dengan tetangga Keywords: Internalisasi Nilai. Toleransi. Kerukunan Pendahuluan Pendahuluan Setiap individu dalam masyarakat memiliki cara yang berbeda dalam bersosialisasi dan berperilaku keagamaan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh tingkat pemahaman terhadap agamanya. Pemahaman ini berawal dari pengetahuan dasar tentang ajaran agama yang kemudian tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Semakin tinggi pemahaman seseorang terhadap ajaran Islam, maka semakin baik pula perilaku keagamaannya (Saerozi, 2. Perbedaan pemahaman ini terlihat dalam kehidupan sosial. Individu yang memahami ajaran agamanya cenderung berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam, seperti menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah dan menghindari larangan-Nya. Sebaliknya, kurangnya pemahaman agama dapat menyebabkan penyimpangan perilaku, baik karena faktor internal seperti rendahnya minat belajar agama, maupun faktor eksternal seperti lingkungan yang permisif terhadap penyimpangan. Di tengah masyarakat, sering dijumpai fenomena seperti remaja yang enggan melaksanakan salat, orang tua yang mendukung anak-anaknya dalam Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat pergaulan bebas, hingga pemahaman keliru terhadap kewajiban menutup aurat. Bahkan, konflik dalam keluarga juga bisa muncul akibat ketidaktahuan dalam hal pembagian waris secara syariat. Hal ini menunjukkan perlunya upaya nyata untuk menanamkan nilai-nilai Islam secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Penanaman nilai-nilai keislaman menjadi penting untuk membentuk pribadi yang berakhlak dan religius. Pendidikan agama, baik melalui jalur formal, nonformal, maupun informal, memiliki peran besar dalam proses ini. Kegiatan seperti ceramah, pengajian rutin, diskusi agama, dan pembiasaan sikap Islami di lingkungan sosial dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Islam. Al-Qur'an sendiri menegaskan pentingnya petunjuk agama melalui wahyu, sebagaimana dalam surah Asy-Syura ayat 52, bahwa Allah menjadikan Al-QurAoan sebagai cahaya yang membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Nuwairotul Layaliya . mengenai penanaman nilai-nilai PAI dalam konteks spiritual company, yang terbukti mampu meningkatkan perilaku keagamaan karyawan. Begitu juga penelitian Ami Tri Lestari . tentang peran penyuluh agama Islam dalam meningkatkan pemahaman masyarakat menunjukkan bahwa penyuluhan yang efektif berdampak pada perubahan sikap dan perilaku religius warga. Melihat pentingnya pembinaan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam proses penanaman nilainilai Islam di Dusun Rebile. Desa Tanak Awu. Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi lembaga desa dan masyarakat dalam membangun generasi yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh dan konsisten. Kajian Teori Penanaman Nilai-Nilai Islam Pengertian Penanaman Nilai-nilai Islam Dilihat dari definisi secara umum kata penanaman merupakan sebuah kata benda yang berarti proses, cara, perbuatan menanam, menanami, atau menanamkan (Kemendikbud, 2018:1. Sedangkan definisi nilai, diartikan berbeda-beda oleh para ahli. Khoiron Rosyadi mengatakan bahwa nilai adalah Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali ukuran untuk menghukum atau memilih tindakan dan tujuan tertentu (Rosyadi, 2004:. Pendapat yang lain dari Sutarjo Adisusilo, menyebut bahwa nilai sebagai sesuatu yang abstrak mempunyai sejumlah indikator, meliputi (Adisusilo, 2021:. Nilai memberi tujuan atau arah . oals or purpose. kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan. Nilai memberikan aspirasi . atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik dan positif bagi kehidupan. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku . , atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai memberi acuan atau pedoman bagaimana seseorang harus bertingkah laku. Nilai itu menarik . , memikat hati seseorang untuk difikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati. Nilai mengusik perasaan hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat dan lain-lain. Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan . eliefs and conviction. seseorang, suatu kepercayaan atau keyakinan terkait dengan nilai-nilai tertentu. Suatu nilai menuntut adanya aktivitas . , perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut. Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup . orries, problems, obstacle. Dari beberapa definisi diatas, dapat dipahami bahwa secara umum nilai merupakan suatu sifat yang melekat pada suatu sistem kepercayaan yang berhubungan dengan subjek dan mampu memberi arti. Dalam hal ini, subjeknya adalah manusia yang mengartikan dan yang meyakini, ini dapat dipahami bahwa penanaman nilai-nilai Islam merupakan sebuah proses melekatkan sebuah kebiasaan pada individu baik yang sebelumnya sudah mengenal hal tersebut maupun belum (Purwadarminta, 2005 : . Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat Penanaman nilai-nilai Islam merupakan suatu konsep yang mengandung tata aturan yang dinyatakan benar oleh agama Islam. Jika dalam sebuah lembaga pendidikan, maka artinya bagaimana usaha seorang guru menanamkan nilai-nilai Islam tersebut pada seluruh siswanya. Penanaman nilai-nilai Islam adalah salah satu bagian dari Pendidikan Agama Islam yang berproses melalui tahap dan tingkatan tertentu. Tujuan pendidikan bukanlah sesuatu yang berbentuk tetap dan statis, melainkan mencangkup keseluruhan dari kepribadian seseorang dan berkenaan dengan seluruh aspek Dasar adanya nilai-nilai Islam mengacu pada dasar agama Islam yaitu alQuran. Sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Azmi bahwa dasar tersebut kemudian dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk ijtihad yang meliputi qiyas dan ijmaAo yang diakui (Azmi, 2006 : . Macam Nilai-Nilai Islam Nilai merupakan keyakinan, maka nilai pendidikan Islam merupakan kumpulan dari prinsip-prinsip hidup yang berkaitan dengan agama Islam untuk memelihara dan mengembangkannya menuju manusia seutuhnya . nsan kami. yang sesuai dengan ajaran Islam. Pokok nilai pendidikan Islam yang harus ditanamkan kepada peserta didik yaitu nilai pendidikan akidah, nilai pendidikan ibadah, dan nilai pendidikan akhlak. Nilai pendidikan agama Islam harus ditanamkan sejak dini, agar seorang individu mengetahui nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Dalam pendidikan agama Islam terdapat macam-macam nilai Islami yang mendukung pelaksanaan pendidikan, bahkan menjadi kesatuan sistem didalamnya. Nilai tersebut menjadi dasar pengembangan anak sehingga out put dari pendidikan dapat sesuai dengan harapan masyarakat luas. Menurut Heri Jauhari Muchtar dalam bukunya Fikih Pendidikan mengatakan bahwa. Islam adalah agama Allah SWT yang diperuntukkan bagi manusia sebagai petunjuk dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban di dunia ini (Heri, 2005 : Secara singkat Muhaimin menjelaskan bahwa adanya nilai-nilai Islam dijadikan upaya untuk mendidik individu agar menjadi pribadi yang memiliki pandangan dan sikap hidup . ay of lif. Islami (Muhaimin, 2010 : . Proses Penanaman Nilai - nilai Islam Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Penanaman nilai-nilai Islam adalah sebuah proses menanamkan nilai . al-hal atau sifat yang berguna dan penting sebagai acuan tingkah lak. secara penuh ke dalam hati, sehingga ruh dan jiwa bergerak berdasarkan nilai dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi nilai akidah/keimanan, nilai ibadah dan nilai akhlak. Semua nilai tersebut penting diajarkan bagi masyarakat apalagi anak-anak yang rentang akan pengaruh dari luar (Majis dkk, 2010:. Pilar-pilar karakter merupakan sebuah tonggak yang berfungi untuk menguatkan sebuah yang dituju agar objek yang dimaksud itu tetap kokoh dan berdiri, segala sesuatu yang dibangun dan dibuat bisa saja itu adalah hal yang mudah, tetapi bagaimana untuk bisa mempertahankannya, sama halnya dalam membentuk sebuah karakter, mendidik anak agar memiliki perilaku yang baik bisa kita menanamkan dan memberi contoh dari mereka masih kecil. Tapi bagaimana cara mereka untuk bisa mempetahankannya, sedangkan kita hidup berada disebuah lingkungan yang seluruh masyarakat memiliki karakteristik berbeda-beda dan bagaimana mereka akan mempertahankannya jika kehidupan luar bagaikan duri berselimut gulali? Atas penjelasan diatas tersebut, sangat begitu penting untuk mempertahankan ditimbang membangunnya (Najili, 2022:. Menurut majid dalam (Najili, 2022:. terdapat pilar-pilar pendidikan karakter untuk membentuk sebuah karakter dan mempertahankannya pula, diantaranya adalah: Moral Knowing (Pengetahuan Mora. Moral knowing adalah kesadaran dan pengetahuan mengenai norma-norma moral yang diterima di masyarakat. Ini melibatkan pemahaman tentang prinsip etika yang mengarahkan tindakan individu dan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam konteks sosial. Moral knowing adalah aspek dari pengetahuan moral yang mencakup pemahaman mengenai apa yang dianggap baik dan buruk dalam konteks sosial dan budaya (Mulyadi, 2015:45-. William Kilpatrick dalam Febrianty . menyebut salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu . oral knowin. adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan . oral doin. Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki 6 unsur, yaitu: Kesadaran moral (Moral Awere. Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (Knowing moral value. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat . Penentuan sudut pandang . erspective takin. Logika moral (Moal Reaso1nin. Keberanian mengambil menentukan sikap (Decision Macin. Pengenalan diri . elf knowledg. Keenam unsur inilah yang harus seorang guru ajarkan kepada siswanya terkait dengan semua pengetahuan moral. Akal yang merupakan pemberian Allah SWT kepada satu-satunya makhluk hidup yang diciptakan secara sempurna yaitu manusia merupakan sebuah kebaikan bagi umat manusia agar mereka bisa berfikir karena salah satu alasan Allah SWT memberikan akal kepada manusia agar manusia dapat berfikir dan memperbanyak ilmu pengetahuan. Sebuah pembinaan pola fikir/kognitif, yakni sebuah pembinaan kecerdasan dari ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai penjabaran dari sifat fathonah Rosulullah, seseorang yang fathonah itu tidak hanya cerdas, melainkan memiliki sebuah kearifan dan kebijaksanaan dalam dirinya disaat dia berfikir dan bertindak sehingga mereka yang memiliki sifat fathonah akan mampu menangkap gejala dan hakikat dibalik semua peristiwa. Majid mengemukakan bahwa karakteristik yang terkandung dalam jiwa fathonah adalah : Mereka tidak hanya menguasai dan terampil dalam melaksanakan profesinya, tetapi juga sangat berdedikasi dan dibekali hikmah kebijakan. Mereka sangat bersungguh-sunguh dalam segala hal, khususnya dalam meningkatkan kualitas keilmuan dirinya. Mereka terus memiliki motivasi yang sangat kuat untuk belajar dan selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialami. Mereka bersikap proaktif dengan memberikan kontribusinya terhadap lingkungan sekitar. Mereka sangat mencintai Tuhannya. Dan karenanya selalu mendapatkan petunjuk dari-Nya. Mereka selalu menempatkan dirinya menjadi insan yang dapat dipercaya sehingga mereka tidak mau ingkar janji. Selalu ingin menjadikan mereka sebagai teladan. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali . Mereka selalu menaruh cinta terhadap orang lain sama halnya dia mencintai dirinya sendiri. Mereka memiliki kedewasaan emosi, tabah dan tidak mengenal kata menyerah. Mereka memiliki jiwa yang tenang. Mereka memiliki tujuan atau arah yang jelas, dan . Mereka memiliki 2011:. untuk bersaing secara sehat (Majid. Moral Loving atau Morl Feeling Seorang yang memiliki kemampuan moral kognitif yang baik, tidak saja menguasai bidangnya, tetapi memiliki dimensi rohani yang kuat, menurut Naim . dalam (Najili, 2022:. Keputusan- keputusan menunjukkan kemahiran seorang yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur, dimana selain pilar pengetahuan yang dimiliki seseorang harus bisa juga didukung dengan sikap yang tertanam dari pengetahuan yang ia miliki. Hal ini merupakan sikap mental sebagai penjabaran dari sikap Rasulullah. Moral Loving merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter, penguatan ini berkaitan dengan bentuk- bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, yaitu: Percaya diri . elf estee. Kepekaan terhadap orang lain (Emphat. Cinta kebenaran . oving the go. Pengendalian diri . elf contro. , dan Kerendahan hati . Saat seseorang sudah bisa menyikapi sebuah perihal, secara tidak langsung bahwa dalam dirinya ini ternyata sudah memiliki kekuatan rohaniyah yang dimana semua sikap yang dilakukannya adalah sebuah perintah dari Tuhannya dan perintah itu merupakan salah satu Amanah yang harus dijaga, dan pada saat itu pula dia memiliki sebuah getaran dalam sanubarinya. Suwanto juga menjelaskan tentang hubungan antara empati dan perilaku moral serta bagaimana empati dapat memperkuat komitmen moral dalam Teori ini berfokus pada bagaimana kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain . mempengaruhi tindakan moral seseorang (Suwanto 2015:40- . Moral Doing atau Acting Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat Menurut Naim dalam (Najili, 2022:. Fitrah manusia sejak kelahirannya adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin dapat berkembang dan survive kecuali ada kehadiran orang lain. Bila seorang filsuf barat mengatakan Aucogitu ergo sumAy aku ada karena aku berfikir, kita pun dapat mengatakan Auaku ada karena aku bermakna untuk orang lainAy sebagaimana rasulullah SAW bersabda: Auengkau belum disebut sebagai orang yang beriman kecuali engkau mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirimu sendiri. Ay Berdasarkan sabda Rasulullah SAW kaitannya dengan makna Auaku ada karena aku bermakna untuk orang lainAy menurut penulis sangat erat sekali kaitannya, salah satu kita mencintai diri kita sendiri dengan cara kita memaknai bahwa diri kita penting, diri ini harus dijaga, disayang, sama halnya kita akan disebut orang beriman disaat kita memberikan hal yang bermakna terhadap orang lain, memberikan sebuah hal yang manfaat yang dapat diterima oleh orang lain seperti halnya disaat kita mengasihi diri kita dengan memberikan makanan yang enak, maka berbagilah terhadap mereka yang merasakan kelaparan. Jadi karakter itu tidak dibeli, karakter itu bukan sebuah materi, tapi karakter merupakan sebuah ilmu hidup yang memang harus dimiliki setiap insan untuk menuju jalan kebenaran. Ketiga pilar itu sangat mempererat satu sama lainnya. Aksi nyata dalam konteks moral Islam mencakup perilaku sehari- hari, kebiasaan, dan keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini menciptakan lingkungan di mana nilai-nilai Islam diterapkan secara konsisten dan diinternalisasi oleh masyarakat (Fauzi, 2015:102-. Mulyani menyoroti bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan mencerminkan penerimaan dan penerapan nilai-nilai Islam. Kegiatan seperti pengajian, berbagi makanan, dan gotong royong memperlihatkan bagaimana nilainilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan mempromosikan solidaritas dalam komunitas. Lingkungan sosial memiliki dampak signifikan terhadap penerapan nilai-nilai moral (Mulyani 2016:115-. Tufik juga menjelaskan bahwa lingkungan sosial yang positif dan mendukung dapat memperkuat penerapan nilai-nilai Islam di masyarakat. Lingkungan yang kondusif memfasilitasi praktik nilai-nilai moral dan membentuk norma-norma sosial yang sesuai dengan ajaran agama (Taufik 2013:50-. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Metode Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid sebagai penemuan, pembuktian dan pengembangan yang selanjutnya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah (Sugiyono, 2019: . Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang dimaksudkan untuk menafsirkan fenomena secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa (Moleong. , 2. Alasan menggunakan metode tersebut, karena metode kualitatif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau kondisi sebenarnya yang ada dilapangan terutama dalam kaitannya dengan tema penelitian yang diambil, yang mana tema dalam penelitian ini adalah Penanaman Nilai-nilai Islam pada Masyarakat di Dusun Rebile. Desa Tanak Awu. Kabupaten Lombok Tengah. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2019: . Agar dapat diperoleh data yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka diperlukan cara-cara pengumpulan data lapangan yang akurat, mengunkan observasi, dokumentasi dan wawancana, alisis bersifat deskriptif. Hasil Strategi Penanaman Nilai-niai Islam pada masyarakat di Dusun Rebile Peningkatan pemahaman agama di kalangan masyarakat merupakan salah satu tujuan utama dalam pengembangan kehidupan spiritual dan sosial, dalam konteks Islam, penanaman nilai-nilai Agama yang mendalam dan menyeluruh memainkan peran krusial dalam membentuk karakter dan perilaku masyarakat, serta memperkuat kohesi sosial dalam komunitas. Strategi penanaman nilai-nilai Islam yang efektif tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan praktik yang selaras dengan ajaran agama. Adapun beberapa strategi yang digunakan Tokoh Agama dusun Rebile dalam menanamkan nilai-nilai Islam sebagai berikut: a. Keteladanan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan bahwa strategi yang digunakan di dusun ini salah satunya adalah sikap keteladanan dari Tokoh Agama, dimana para Tokoh Agama mencontohkan tentang tata cara berbicara dan menggunakan bahasa yang sopan santun kepada Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat sesama, yang tidak menyinggung perasaan, ini terlihat dari bagaimana bahasa yang digunakan ketika mengisi pegajian dan ketika berbicara sehari-hari. Sehingga menjadikan masyarakat setempat paham bagaimana seharusnya berbicara yang baik, sopan dan santun kepada sesama, dan bisa dicontoh langsung oleh masyarakat setempat, ini termasuk dalam dimensi praktik agama yaitu tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya. Unsur yang ada dalam dimensi ini mencakup pemujaan, ketaatan, serta hal-hal yang lebih menunjukkan komitmen seseorang dalam agama yang dianutnya dan pengetahuan agama adalah dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci manapun yang lainnya (Sumardin, 2022:140-. Hal ini di dukung oleh teori Ansori dimana keteladanan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah uswah, iswah, qudwah, qidwah yang mempunyai arti perilaku baik yang dapat ditiru oleh orang lain. Allah Swt dalam mendidik manusia menggunakan teladan atau contoh yang baik agar mudah diterima, diserap, dan diterapkan manusia. Contoh atau teladan itu sudah diperankan oleh para Nabi dan Rasul Ansori, 2016:. Pond juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dalam membangun hubungan sosial. Dalam penelitian ini, berbicara dengan sopan oleh tokoh agama berfungsi untuk memperkuat komunikasi interpersonal yang Hal ini berkontribusi pada pembentukan hubungan sosial yang harmonis dan meningkatkan pemahaman agama di masyarakat. Sikap sopan dalam komunikasi menciptakan atmosfer yang mendukung pemahaman dan pengamalan ajaran agama (Pond. K, 2001:425-. Salah satu keteladanan dari Tokoh Agama disini adalah memberikan contoh dengan sholat berjamaAoah, dimana Tokoh Agama memainkan peran dalam mendorong dan menanamkan praktik sholat berjama'ah dengan tetap pergi sholat berjamaAoah ke masjid, musholla, sehingga di ikuti dan di contoh oleh masyarakat setempat. Karena Sholat berjama'ah merupakan salah satu praktik penting dalam ajaran Islam yang memiliki nilai signifikan dalam membentuk komunitas dan meningkatkan spiritualitas. Ini sejalan dengan teori Bourdieu, di mana sholat jama'ah yang diperagakan oleh tokoh agama berfungsi untuk memperkuat norma norma sosial dan agama di komunitas. Ketika tokoh agama konsisten dalam praktik ini, mereka membantu memperkuat norma sosial mengenai pentingnya sholat jama'ah dan menanamkan nilai-nilai tersebut dalam masyarakat (Bourdieu. , 2. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Pembiasaa Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan bahwa pembiasaan menjadi strategi di dusun rebile, dengan mengadakan pengajian rutinan hari sabtu sore, dimana pengajian rutin merupakan salah satu strategi efektif dalam pembinaan spiritual dan sosial masyarakat dusun Rebile, pengajian rutin yang dilaksanakan setiap Sabtu sore memainkan peran penting dalam penguatan nilai-nilai agama dan pembiasaan masyarakat terhadap ajaran Islam, dengan masyarakat mengahdiri pengajian tersebut bisa sedikit demi sedikit meningkatkan pemahaman Agama masyarakat, dengan mengikuti pengajian pengalaman, keyakinan dan pengetahuan masyarakat jadi bertambah, lebih mengetahui tentang ajaran-ajaran Agama sehingga menambah wawasannya terutama yang ada di dalam kitab suci al-QurAoan, ini termasuk dalam dimensi keyakinan yaitu sejauh mana seseorang menerima halhal yang dogmatik dalam agamanya, misalnya kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, surga dan neraka. Pada dasarnya setiap agama juga menginginkan adanya unsur ketaatan bagi setiap pengikutnya. Dan pengetahuan yaitu seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaranajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci al-QurAoan (Sumardin, 2022:140-. Hal ini sejalan dengan teori Eimer, dkk tentang teori pembiasaan atau habituasi menjelaskan bagaimana perilaku dan kebiasaan terbentuk melalui repetisi dan rutinitas. Dalam konteks ini, pengajian rutin berfungsi untuk membiasakan masyarakat dengan ajaran agama secara konsisten (Eimer, dkk 2009:407-. Yasin dan Tahlil juga menjadi salah satu pembiasaan yang dilakukaan warga dusun rebile setiap malam jumAoat. Pembiasaan membaca Surah Yasin dan melakukan Tahlil pada malam Jum'at adalah praktik keagamaan yang umum di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia. Praktik ini sering dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman agama dan memperdalam keimanan. Analisis di atas didukung oleh teori Hill dimana pembacaan rutin Yasin dan Tahlil dapat meningkatkan pengetahuan agama dengan memperkenalkan dan mengulang ajaran-ajaran penting dalam Al-Qur'an dan Hadis. Keterlibatan dalam ritual religius yang teratur dapat memperdalam pengetahuan dan pemahaman individu masyarakat tentang ajaran agama. Proses ini melibatkan pengulangan teks dan doa, yang memungkinkan individu masyarakat untuk mempelajari dan memahami nilai-nilai agama secara lebih mendalam (Hill 2006:483- . Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat Hal ini juga di dukung oleh teori Durkheim dimana Pembacaan Yasin dan Tahlil sering dilakukan secara kolektif di komunitas, yang memungkinkan individu untuk belajar dari satu sama lain dan berbagi pengetahuan agama. dalam karya terbarunya ini Durkheim menyatakan bahwa ritual keagamaan berfungsi untuk memperkuat ikatan sosial dan memfasilitasi transfer pengetahuan dan nilai-nilai agama antara anggota komunitas. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi individu untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman keagamaan, yang dapat memperdalam pemahaman mereka tentang agama (Durkheim, 2. Nasihat Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan bahwa nasihat yang di sampaikan Tokoh Agama dusun rebile adalah tentang moral dan akhlak sesama warga, seperti saling menyayangi dan saling membatu sesama. Penanaman nilainilai moral dan akhlak dalam masyarakat merupakan aspek penting dalam membangun karakter individu dan komunitas. Dusun Rebile, strategi penanaman nilai-nilai Islam yang melibatkan nasihat tokoh agama memainkan peranan sentral, yang akan membentuk sikap dan keperibadian masyarakat, jika terus menerus diberikan nasihat tanpa menunggu dibutuhkan saja maka akan semakin cepat meningkatkan pemahaman Agama masyarakat, apalagi nasihat yang di sampaikan adalah tentang moral dan akhlak sangat berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat hal ini bisa menambah pengalaman masyarakat dalam hidup bersosial antar sesama, merasa takut berbuat dosa (Sumardin, 2022:140-. Hal ini di dukung oleh teori DeVito dimana teori ini menjelaskan bagaimana komunikasi efektif antara individu dapat membangun hubungan yang saling mendukung dan memahami. Nasihat tokoh agama yang dilakukan secara langsung dan personal dapat memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat, memfasilitasi penyampaian pesan moral dan akhlak yang lebih mendalam (DeVito, 2007:95-. Proses Penanaman Nilai-nilai Islam pada masyarakat di Dusun Rebile Dusun Rebile, merupakan tempat di mana nilai-nilai Islam memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari warganya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pemahaman agama, salah satunya adalah melalui penanaman nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh tokoh agama setempat. Proses ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, memperdalam pengetahuan mereka tentang ajaran agama, dan mengamalkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Adapun proses penanaman nilai-nilai Islam dalam meningkatkan pemahaman Agama pada masyarakat di Dusun Rebile sebagai berikut: Moral Knowing (Pengetahuan Mora. Berdasarkan hasil penelitian yang di uraikan bahwa proses penanaman nilainilai Islam di Dusun Rebile dilakukan melalui berbagai metode, baik formal maupun Informan-1 menjelaskan bahwa sebagai tokoh agama, mereka memiliki kewajiban untuk memberikan nasehat dan motivasi kepada warga tentang ajaran Islam. Kegiatan seperti majlis taAolim dan pengajian diadakan sebagai media untuk menyebarluaskan pengetahuan dan memperkuat aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, apalagi nilai-nilai tentang moral atau prilaku sesama Pengajian ini berfungsi untuk memotivasi warga dalam mempelajari nilai-nilai Islam. Pemberian kesempatan untuk bertanya dalam setiap sesi pengajian juga menjadi metode penting dalam proses pembelajaran agar masyarakat bisa mengetahui mana yang baik, benar dan salah dalam kehidupan, khususnya kehidupan dalam bermasyarakat. Ini menunjukkan bahwa motivasi untuk mempelajari agama bukan hanya berasal dari tokoh agama tetapi juga dari interaksi aktif antara warga dan pemimpin agama. Motivasi dan kesadaran tentang pentingnya mempelajari agama tercermin dari semangat warga untuk menghadiri pengajian dan melibatkan anak-anak mereka dalam pendidikan agama sejak dini hal ini termasuk dalam dimensi pengetahuan sejauh mana masyarakat mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya dan dimensi konsekuensi dimana seseorang dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan sosial (Sumardin, 2022:140- . Hal ini di dukung oleh teori Mulyadi dimana Moral knowing adalah kesadaran dan pengetahuan mengenai norma-norma moral yang diterima di masyarakat. Ini melibatkan pemahaman tentang prinsip etika yang mengarahkan tindakan masyarakat dan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam konteks sosial. Moral knowing adalah aspek dari pengetahuan moral yang mencakup pemahaman mengenai apa yang dianggap baik dan buruk dalam konteks sosial dan budaya (Mulyadi, 2015:45-. Moral Loving atau Moral Feeling Berdasarkan hasil penelitian yang di uraikan bahwa tokoh agama sangat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat agama, yang berdampak pada peningkatan moral loving di masyarakat. Dibuktikan dengan menekankan tanggung jawabnya dalam memberikan dukungan moral dan emosional kepada masyarakat. Tokoh agama tidak hanya memberikan nasihat dan doa tetapi juga membangun lingkungan sosial yang mendukung iman dan praktik keagamaan yang berguna untuk memperkuat hubungan sosial dan agama dalam masyarakat, yang mencerminkan nilai-nilai Islam seperti kasih sayang . dan kepedulian . aAoawu. Hal ini menunjukkan bagaimana perasaan kasih dan empati yang ditunjukkan oleh Tokoh Agama mempengaruhi hubungan sosial dan memperkuat komitmen moral di masyarakat. Sehingga menjadikan masyarakat menyadari bahwa belajar agama memberikan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, dan kasih sayang. Pengajaran tokoh agama membantu masyarakat memahami nilai-nilai tersebut sebagai panduan hidup yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaranajaran agamanya dalam kehidupan sosial misalnya apakah ia mengunjungi tetangganya sakit, menolong orang yang kesulitan, mendermakan hartanya, dan sebagainya hal ini termasuk dalam dimensi konsekuensi dimana masyarakat dapat mengukur sejauh mana perilakunya dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan sosial misalnya apakah ia mengunjungi tetangganya sakit, menolong orang yang kesulitan, mendermakan hartanya, dan sebagainya (Sumardin, 2022:140. Teori Naim dalam Najili mendukung analisis di atas yang menjelaskan bahwa keputusan-keputusan menunjukkan kemahiran seorang yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur, dimana selain pilar pengetahuan yang dimiliki seseorang harus bisa juga didukung dengan sikap yang tertanam dari pengetahuan yang ia miliki. Hal ini merupakan sikap mental sebagai penjabaran dari sikap Rasulullah (Najili, 2022:. Suwanto juga menjelaskan tentang hubungan antara empati dan perilaku moral serta bagaimana empati dapat memperkuat komitmen moral dalam Teori ini berfokus pada bagaimana kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain . mempengaruhi tindakan moral seseorang. Tokoh agama yang menunjukkan empati dan kasih sayang dapat meningkatkan kemampuan individu masyarakat untuk merespon kebutuhan emosional Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali dan moral orang lain, memperkuat ikatan sosial, dan membentuk komitmen terhadap nilai-nilai moral (Suwanto, 2015:40-. Moral Doing atau Acting Berdasarkan hasil penelitian yang di uraikan bahwa Tokoh Agama menggarisbawahi pentingnya menjadi teladan dalam menjalankan atau menanamkan nilai-nilai Islam pada masyarakat, karena tindakan nyata dari pemimpin Agama atau Tokoh Agama berfungsi sebagai model perilaku yang diharapkan diikuti oleh warga. Ini menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai Islam di dusun Rebile dilakukan melalui tindakan nyata dan konsisten dengan prinsip-prinsip moral, bukan hanya melalui penyampaian teori semata. Dengan demikian masyarakat dapat mengikuti atau mencontoh hal-hal yang baik dari tokoh agama dan pemimpin masyarakat serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai moral memerlukan aksi nyata dan pengaruh positif dari lingkungan sosial. Hal ini terlihat dari warga dusun Rebile yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan menunjukkan solidaritas dalam bentuk kegiatan seperti pengajian dan berbagi makanan dengan Ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoritis tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hal ini termasuk dalam dimensi praktik agama yaitu sejauh mana seseorang mengerjakan kewajibankewajiban ritual dalam agamanya. Unsur yang ada dalam dimensi ini mencakup pemujaan, ketaatan, serta hal-hal yang lebih menunjukkan komitmen seseorang dalam agama yang dianutnya (Sumardin, 2022:140-. Hal ini di dukung oleh teori Naim dalam Najili, dimana Fitrah manusia sejak kelahirannya adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin dapat berkembang kecuali ada kehadiran orang lain. Bila seorang filsuf barat mengatakan Aucogitu ergo sumAy aku ada karena aku berfikir, kita pun dapat mengatakan Auaku ada karena aku bermakna untuk orang lainAy sebagaimana rasulullah SAW bersabda: Auengkau belum disebut sebagai orang yang beriman kecuali engkau mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirimu sendiriAy (Najili, 2022:. Fauzi menyatakan bahwa aksi nyata dalam konteks moral Islam mencakup perilaku sehari-hari, kebiasaan, dan keputusan yang diambil dalam kehidupan seharihari. Hal ini menciptakan lingkungan di mana nilai-nilai Islam diterapkan secara konsisten dan diinternalisasi oleh masyarakat (Fauzi, 2015:102-. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Penanaman Nilai-Nilai Islam pada Masyarakat Mulyani menyoroti bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan mencerminkan penerimaan dan penerapan nilai-nilai Islam. Kegiatan seperti pengajian, berbagi makanan, dan gotong royong memperlihatkan bagaimana nilainilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan mempromosikan solidaritas dalam komunitas. Lingkungan sosial memiliki dampak signifikan terhadap penerapan nilai-nilai moral (Mulyani, 2016:115-. Pernyataan Taufik menjelaskan bahwa lingkungan sosial yang positif dan mendukung dapat memperkuat penerapan nilai-nilai Islam di masyarakat. Lingkungan yang kondusif memfasilitasi praktik nilai-nilai moral dan membentuk norma-norma sosial yang sesuai dengan ajaran agama Taufik . 3:50-. Simpulan Penanaman nilai-nilai Islam di Dusun Rebile menggunakan strategi . Keteladanan, dimana Tokoh Agama mencontohkan tata cara berbicara dan menggunakan bahasa yang sopan santun, selain itu Tokoh Agamanya juga mencontohkan keteladanan seperti pergi sholat berjamaAoah ke masjid atau ke . Pembiasaan, yang di lakukan di dusun rebile adalah mengadakan pengajian rutinan hari sabtu sore dan yasin tahlil tiap malam jumAoat. Strategi terakhir adalah . Nasihat, tentang moral dan akhlak sesama warga dusun rebile yaitu saling menghargai, membantu dan menyayangi. Proses penanaman nilainilai Islam di dusun rebile: . Moral Knowing yaitu Tokoh Agama memberiakan motivasi dan kesempatan bertanya pada warga tentang nilai-nilai Agama Islam. Moral Loving/Feeling yaitu Tokoh Agama menciptakan lingkungan sosial yang mendukung nilai-nilai Agama seperti mendukung praktik keagamaan. Moral Doing/Acting yaitu warga dusun rebile yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan saling berbagi makanan dengan tetangga. Jurnal Pendidikan Islam Nusantara Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Huda Volume 04 Nomor 01 2025 Nurul. Ali Referensi