Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. April 2024 2023 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Efektivitas Premedikasi Simetikon dan Natrium Bikarbonat Pada Tindakan Esofagogastroduodenoskopi The Effectiveness of Simethicone and Sodium Bicarbonate Premedication in Esophagogastroduodenoscopy Fauzi Yusuf. Desi Maghfirah* Divisi Gastroenterohepatologi. Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Banda Aceh *Email: desimaghfirah@usk. Submit : 31 Oktober 2022. Revisi: 14 April 2023. Terima: 23 Juli 2023 Abstrak Simetikon adalah salah satu agen anti busa yang banyak digunakan untuk menghilangkan gelembung dan meningkatkan kenyamanan pasien. Namun penggunaan premedikasi pada esofagogastroduodenoskopi dengan sedasi masih sangat jarang digunakan karena risiko aspirasi. Larutan natrium bikarbonat dikombinasikan dengan simetikon dapat mencegah terbentuknya gelembung busa dengan menetralkan asam lambung. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek premedikasi simetikon terhadap visibilitas mukosa saluran cerna, kebutuhan penyiraman air, dan lama tindakan dibandingkan dengan tanpa premedikasi pada tindakan esofagogastroduodenoskopi yang dilakukan dengan sedasi. Penelitian intervensi double-blind randomized control trial yang dilakukan di Instalasi Endoskopi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dari 1 Juli sampai 30 September 2022. Kelompok I . mendapatkan air hangat sebanyak 100 ml. Kelompok II . mendapatkan simetikon 40 mg tablet kunyah dan 100 ml natrium bikarbonat 5% diberikan 2 jam sebelum tindakan. Sampel berjumlah 137 orang yang terdiri dari 73 pada kelompok I dan 64 pada kelompok II. Visibilitas mukosa pada kelompok II lebih baik dibandingkan kelompok I . Durasi tindakan pada kelompok II lebih cepat . 77A0. dibandingkan kelompok I . 25A1. dan jumlah cairan yang dibutuhkan lebih sedikit pada kelompok II . 61A15. dibandingkan pada kelompok I . 96A57. Pemberian simetikon dan natrium bikarbonat 2 jam sebelum tindakan esofagogastroduodenoskopi dengan sedasi dapat meningkatkan visibilitas mukosa, mengurangi kebutuhan penyiraman air dan mempercepat durasi tindakan serta tidak terjadi aspirasi pneumonia Kata Kunci : durasi tindakan, esofagogastroduodenoskopi, natrium bikarbonat, simetikon Abstract Simethicone is commonly used as an anti-foaming agent to remove bubbles and increase patient comfort. however, using simethicone for premedication in esophagogastroduodenoscopy with sedation is still rare because of the risk of aspiration. Sodium bicarbonate solution combined with simethicone can prevent the formation of foam bubbles by neutralizing stomach acid. This study aims to see the effect of simethicone premedication on the visibility of the gastrointestinal mucosa, the need for water irrigation, and the length of action compared to without premedication in esophagogastroduodenoscopy performed with sedation. Double-blind, randomized control trial intervention study conducted at the Endoscopy Installation of RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh from 1 July to September 2022. Group I . received 100 ml of warm Group II . received simethicone 40 mg chewable tablets and 100 ml of 5% sodium bicarbonate, given 2 hours before the procedure. The sample numbered 137 people consisting of 73 in Group I and 64 in Group II. Mucosal visibility in Group II was better than in Group I . The procedure duration in Group II was faster . 77 A 0. than in Group I . 25 A 1. , and the amount of fluid needed was less in Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. Group II . 61 A 15. than in Group I . 96 A 57. Administration of simethicone and sodium bicarbonate 2 hours before esophagogastroduodenoscopy with sedation can improve mucosal visibility, reduce the need for water sprinkling and speed up the duration of the procedure and prevent aspiration Keywords : esophagogastroduodenoscopy, mucosal visibility, procedure duration, simethicone Pendahuluan Esofagogastroduodenoskopi (EGD) adalah jenis prosedur endoskopi yang memeriksa saluran cerna bagian atas (SCBA) yaitu esofagus, lambung, dan duodenum atas dengan kamera kecil sehingga dapat dilihat sejelas-jelasnya setiap organ yang diperiksa (Chen et al. Pemeriksaan EGD memiliki peranan penting untuk mendeteksi dini kanker saluran cerna dan masalah saluran cerna lain, seperti polip dan ulserasi. Kanker saluran cerna bagian atas merupakan masalah kesehatan nasional dan global yang penting. Seringkali kanker terdeteksi saat pasien sudah stadium lanjut dengan hasil pengobatan yang kurang berhasil dibandingkan kanker stadium awal sehingga menghasilkan prognosis yang buruk. Deteksi dini kanker dapat (Wang et al. meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien kanker. EGD memiliki peran penting untuk dapat mendeteksi dini kanker SCBA. Teknologi EGD terus berinovasi untuk dapat mendeteksi dini kanker dan menegakkan diagnosis. Sebagian besar kanker tahap awal dapat dideteksi menggunakan white light imaging (WLI) saja dan teknologi EGD yang lebih canggih dapat menggunakan imaging enhancing endoscopy (IEE), magnifying endoscopy (ME) dan chromoendoscopy, teknologi ini sangat membantu untuk medeteksi dini lesi kanker. Namun teknik dan teknologi canggih ini jadi kurang efisien jika permukaan mukosa saluran cerna tertutup gelembung dan lendir yang menggagu visibiltas mukosa ((Mahawongkajit and Kanlerd 2. Masalah umum bagi ahli endoskopi saat melakukan tindakan EGD yaitu terhalangnya visibilitas mukosa karena adanya gelembung dan lendir saluran cerna yang dapat menutupi lesi kecil pada mukosa lambung dan duodenum. Hal ini meningkatkan risiko tidak terlihatnya lesi halus, menurunkan akurasi diagnostik dan dapat mengurangi kenyamanan pasien. (Chang et al. Beberapa mekanisme pembersihan diterapkan untuk membuat visibilitas mukosa yang lebih baik, diantaranya menggunakan mukolitik, agen antibusa, enzim proteolitik dan penetralisir. Simetikon . olydimethylsiloxane dan silicon dioxid. adalah salah satu agen antibusa yang banyak digunakan untuk menghilangkan gelembung dan meningkatkan kenyamanan pasien dengan durasi tindakan yang lebih singkat dan kebutuhan cairan yang lebih sedikit (Wu et al. Trial et al. Chang et al. Simetikon dapat mengurangi tekanan permukaan gelembung udara, menyebabkan gelembung-gelembung kecil menyatu dan mengecil hingga melepas udara yang (Chang et al. Peneliti lain melaporkan penggunaan simetikon tunggal tidak menunjukkan perbaikan dalam visibilitas mukosa lambung (Monrroy et al. Larutan natrium bikarbonat dikombinasikan dengan formula emulsi simetikon dapat mencegah terbentuknya gelembung busa dengan menetralkan asam lambung (Chen 2020. Chang et al. Penggunaan anti busa 30 menit sebelum tindakan sebagai premedikasi EGD tanpa sedasi sudah menjadi panduan rutin di beberapa negara seperti jepang dan china, namun penggunaan pada EGD dengan sedasi masih sangat jarang digunakan karena risiko aspirasi. Banyak pasien yang cemas selama pemeriksaan EGD, yang dapat mengganggu prosedur EGD dan waktu yang tidak memadai untuk ahli endoskopi untuk melakukan observasi dan penilaian yang Sedasi digunakan saat pemeriksaan EGD untuk mengurangi rasa sakit dan cemas pada Penggunaan bahan antibusa untuk premedikasi EGD dengan sedasi telah menimbulkan kekhawatiran terjadinya pneumonia aspirasi, dan resiko ini meningkat pada pasien yang mandapatkan sedasi. Volume anti busa 50-100 ml yang diberikan tepat sebelum pemeriksaan Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. EGD beresiko menyebabkan pasien mengalami aspirasi terutama ketika tekanan intragastrik meningkat seiring dengan insuflasi gas. Penelitian mengenai manfaat dan keamanan penggunaan obat antibusa untuk premedikasi EGD dengan sedasi masih sedikit (Zhang et al. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek premedikasi simetikon terhadap visibilitas mukosa saluran cerna, jumlah kebutuhan penyiraman air, dan lama tindakan dibandingkan dengan EGD tanpa premedikasi pada tindakan EGD yang dilakukan dengan sedasi. Metode Penelitian 1 Waktu dan tempat penelitian Penelitian dilakukan di Instalasi Endoskopi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dari 1 Juli sampai 30 September 2022. 2 Alat dan Bahan Pada penelitian ini menggunakan unit esofagogastroduodenoskopi dan diagram skor visibilitas Bahan yang digunakan larutan natrium bikarbonat dan simetikon tablet kunyah. 3 Populasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian intervensi dengan desain double-blind randomized control trial yang dilakukan di Instalasi Endoskopi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang akan dilakukan tindakan EGD sesuai indikasi medis. Sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. 4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi merupakan pasien yang akan dilakukan EGD dengan general anastesi, berumur 1860 tahun dan bersedia mengikuti penelitian. Pasien dengan riwayat operasi saluran cerna atas, perdarahan aktif saluran cerna atas dan hamil merupakan kriteria eklusi. Prosedur Penelitian Sampel diacak secara random, double blind dalam 2 kelompok, kelompok I sebagai kelompok kontrol, pasien mendapatkan air hangat sebanyak 100 ml. Kelompok II yaitu kelompok perlakuan menggunakan premedikasi dengan 100 ml natrium bikarbonat 5% simetikon tablet kunyah 40 mg yang diberikan 2 jam sebelum tindakan. Perlakuan standar diberikan pada kedua kelompok yaitu puasa minimal 8 jam . uasa cair dan pada. sebelum prosedur dan general anastesi. Penilaian visibilitas mukosa terlihat pada Gambar 1. Skor 1 jika tidak ditemukan gelembung dan lendir serta mukosa terlihat dengan jelas, skor 2 jika terdapat gelembung atau lendir tipis namun mukosa masih terlihat jelas dan skor 3 jika gelembung dan lendir menutupi mukosa saluran cerna (Chen et al. Durasi tindakan adalah waktu tindakan yang dihitung saat mulai insersi scope sampai dengan scope dikeluarkan. Kebutuhan penyiraman air merupakan jumlah cairan yang disiram pada mukosa saluran cerna saat dilakukannya tindakan EGD. Analisis Data Analisa statistik menggunakan komputer. Data yang berdistribusi normal dianalisis menggunakan Uji T tidak berpasangan dan dan disajikan dalam bentuk rerata A simpang baku, dan data numerik Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. yang tidak berdistribusi normal dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Data kategorik dua kelompok tidak berpasangan dianalisis menggunakan uji chi square dan data katagorik lebih dari dua kelompok tidak berpasangan menggunakan uji Kolmogorov-smirnov. Penelitian ini mendapatkan kelayakan etik dari KEPK RSUDZA/FK USK. Gambar 1. Skor visibilitas mukosa saluran cerna (Chen et al. Hasil dan Pembahasan Efek premedikasi simetikon terhadap visibilitas mukosa saluran cerna Sampel yang diperoleh berjumlah 137 sampel, terdiri dari 73 sampel pada kelompok I dan 64 sampel pada kelompok II (Tabel . Sampel pada kedua kelompok memiliki karakteristik yang Sesuai dengan penelitian di China, tidak ada perbedaan umur, jenis kelamin pada kedua kelompok (Zhang et al. Liu et al. Indikasi endoskopi terbanyak dengan keluhan dispepsia diikuti PSMBA dan sirosis hepatis dengan perdarahan varises esofagus. Hal ini sesuai dengan penelitian di Thailand dimana indikasi terbanyak dilakukan endoskopi adalah dispepsia (Mahawongkajit and Kanlerd 2. Tidak ditemukan efek samping penggunaan obat simetikon maupun aspirasi pneumonia saat tindakan EGD dengan sedasi. Penggunaan premedikasi EGD masih mengalami perdebatan terutama pada EGD yang menggunakan sedasi karena meningkatkan risiko aspirasi jika diberikan larutan 50-100 ml sebelum tindakan (Zhang et al. Bhandari et al. Beberapa peneliti berpendapat bahwa pemberian sedasi saja cukup untuk mengurangi sekresi lambung, sehingga dapat memberikan visibilitas mukosa yang optimal (Zhang et al. Pembilasan selama tindakan dapat mengakibatkan durasi tindakan lebih lama dan meningkatkan risiko komplikasi. Pemberian premedikasi dapat menurunkan kebutuhan pembilasan selama tindakan dan mempersingkat durasi tindakan (Chen 2. Pada penelitian ini premedikasi menggunakan simetikon 40 mg tablet kunyah dan 100 ml natrium bikarbonat 5% diberikan 2 jam sebelum tindakan EGD dengan sedasi dapat meningkatkan Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. visibilitas mukosa saluran cerna, mengurangi kebutuhan penyiraman air dan dapat mengurangi durasi tindakan serta tidak menyebabkan aspirasi pneumonia. Skor visibilitas mukosa lebih baik pada kelompok yang mendapatkan premedikasi simetikon dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan premedikasi serta bermakna secara statistic (Tabel . Tabel 1. Karakteristik dasar sampel penelitian Karakteristik Jenis kelamin, n (%) Laki-laki Perempuan Umur Indikasi Esofagofastroduonoskopi n (%) Dispepsia PSMBA Varices Esofagus Massa Epigastrium Disfagia Sirosis Hepatis Nyeri Ulu Hati Haemoglobin . /d. Haematokrit (%) Trombosit . el/mm. Leukosit . el/mm. Ureum . /d. Kreatinin . /d. GDS . /d. SGOT . /d. SGPT . /d. Natrium . mol/L) Kalium . mol/L) Clorida . mol/L) PT . ApTT . Bilirubin total . g/d. Kelompok I Kelompok II Nilai p 39. 69A15. 09A12. 61A8. 01A129. 15A3. 27A39. 99A11. 87A0. 32A8. 05A0. 76A7. 89A130. 77A5. 42A24. 53A18. 9A0. 64A9. 06A0. Tabel 2. Skor Visibilitas Mukosa Esofagus Fundus Gaster Gastric angle Corpus Gaster Antrum Duodenum Kelompok I 88 A0. 07A0. 03A0. 16A0. 33A0. 12A0. Kelompok II 19A0. 27A0. 29A0. 32A0. 37A0. 50A1. Nilai p Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. Penelitian sebelumnya di Jepang menunjukkan bahwa penggunaan simetikon dan pronase 80 mL, diberikan 20 menit sebelum tindakan EGD dengan sedasi aman digunakan dan dapat meningkatkan visibilitas mukosa. Menghisap cairan di dalam lambung, meninggikan kepala saat melakukan EGD dapat mencegah aspirasi (Zhang et al. Penelitian di Italia menunjukkan bahwa pemberian 2 ml simetikon dan 600 mg N-Acetylsistein dalam 45 ml air hangat diberikan 20 menit sebelum tindakan EGD dapat meningkatkan visibilitas mukosa (Manfredi et al. Penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa pemberian larutan natrium bikarbonat digabungkan dengan emulsi simetikon dapat mencegah pembentukan busa putih dengan cara menetralkan asam lambung (Chen et al. Simetikon merupakan anti busa mukosa yang aman dan efektif dan merupakan agen yang umum digunakan sebelum tindakan EGD. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa simetikon lebih baik dalam meningkatkan visibilitas mukosa jika dibandingkan dengan air dan placebo (Wu et al. Trial et al. Penelitian Lain menyebutkan bahwa untuk mendapatkan visibilitas yang paling baik, simetikon dan larutan natrium bikarbonat diberikan 10-30 menit sebelum tindakan EGD (Woo et al. Mahawongkajit and Kanlerd 2. Penelitian Chang dkk menyebutkan bahwa pemberian simetikon lebih dari 30 menit sebelum tindakan masih memberikan visibilitas mukosa yang baik juga (Chang et al. Penambahan larutan natrium bikarbonat pada simetikon dapat meningkatkan visibilitas mukosa (Mahawongkajit and Kanlerd 2. Pada penelitian ini peneliti memberikan 40 mg simetikon tablet kunyah ditambah 100 ml natrium bikarbonat 5% yang diberikan 2 jam sebelum tindakan EGD dikarenakan pada tindakan EGD dengan sedasi, air masih aman dikonsumsi hingga 2 jam sebelum tindakan. Dari hasil penelitian ini menunjukkan visibilitas mukosa lebih baik dibandingkan placebo. Durasi tindakan endoskopi dan jumlah cairan yang diperlukan Pada penelitian ini didapatkan bahwa durasi EGD pada kelompok yang mendapatkan premedikasi simetikon tablet kunyah lebih singkat dibandingkan pada kelompok yang tidak mendapatkan premedikasi dan bermakna secara statistic dan jumlah cairan yang dibutuhkan untuk pembilasan pada kelompok premedikasi lebih sedikit dibandingkan pada kelompok yang tidak mendapatkan premedikasi dan bermakna secara statistic (Tabel . Tabel 3. Durasi Endoskopi dan Jumlah cairan yang dibutuhkan Durasi EGD Jumlah cairan Kelompok I 25A1. 96A57. Kelompok II 77A0. 61A15. Nilai p Pada percobaan laboratorium, diamati bahwa larutan natrium bikarbonat dikombinasikan dengan emulsi simetikon dapat mencegah terbentuknya presipitasi putih dengan menetralkan asam lambung buatan. Hasil penelitian menunjukkan larutan campuran mengandung minimal 5 ml larutan natrium bikarbonat 5% dan 3 ml emulsi simetikon yang diformulasi ulang diperlukan untuk menjaga stabilitas simetikon dalam 20 ml asam lambung buatan. Oleh karen(Aguila et al. a itu, dalam penelitian klinis, larutan kombinasi mengandung 30 ml natrium bikarbonat 5% dan 15 ml emulsi simetikon yang diformulasi ulang dapat digunakan sebagai premedikasi sebelum EGD, sesuai dengan teori volume maksimum asam lambung. (Chen et al. Penelitian Lee dkk menemukan bahwa dibutuhkan waktu yang jauh lebih singkat untuk menyelesaikan EGD pada pasien yang menerima simetikon dan pronase sebelum tindakan, serta kebutuhan cairan yang lebih sedikit pada penggunaan pronase 20 menit sebelum EGD tanpa Fauzi Yusuf dan Desi Maghfirah /Journal of Medical Science. Vol. 5 No. (Lee et al. Namun pada penelitian Zhang dkk ditemukan bahwa waktu yang diperlukan untuk prosedur EGD secara signifikan lebih lama pada kelompok premedikasi simetikon pronase dibandingkan kelompok kontrol. Kemungkinan mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengamati area yang mencurigakan dan menyedot retensi cairan. Karena penelitian ini juga bertujuan untuk melihat jumlah diagnosis lesi prakanker. (Zhang et al. Sebagai perbandingan, hasil penelitian Xueqin chen dkk serta penelitian kami menunjukkan waktu yang lebih singkat pada kelompok yang mendapatkan premedikasi simetikon kombinasi dengan natrium bikarbonat mungkin disebabkan oleh peningkatan visibilitas mukosa dan waktu sibuk untuk menyiram dan membersihkan busa atau menghisap retensi cairan yang lebih sedikit, sehingga area yang lebih mencurigakan dapat diamati dengan lebih mudah dan cepat. Durasi tindakan yang lebih singkat dapat mengurangi ketidaknyamanan pasien, yang kemudian akan berkontribusi pada kepuasan EGD yang lebih tinggi dan menghindari keterlambatan diagnosis kanker lambung. (Chen 2. Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan untuk melihat waktu pemberian dan formula premedikasi EGD yang paling efektif dan efisien. Kesimpulan Premedikasi simetikon 40 mg tablet kunyah dan natrium bikarbonat sebanyak 100 ml yang diberikan 2 jam sebelum tindakan EGD dengan sedasi bermanfaat diberikan karena dapat meningkatkan visibilitas mukosa saluran cerna, mengurangi durasi tindakan endoskopi dan mengurangi kebutuhan jumlah air yang digunakan. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Bagian Penelitian dan Pengembangan RSUDZA yang telah memfasilitasi pembiayaan penelitian ini, terima kasih kepada semua tim dokter dan perawat di instalasi endoskopi serta peserta didik pendidikan dokter spesialis penyakit dalam divisi gastroenterohepatologi yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Daftar Pustaka