EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational ANALISIS PEMBIASAAN DISIPLIN SISWA TERHADAP DIMENSI GOTONGROYONG PADA PROFIL PELAJAR PANCASILA HUSNIL MUBAROKA. AAN WIDIYONOA Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara e-mail: 191330000539@unisnu. id1, aan. widiyono@unisnu. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisa dimensi gotong royong yang ada disekolah baik implementasinya maupun faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan dimensi gotong royong. Unsur-unsur gotong royong terdiri dari : . Terbentuknya ketergantungan positif antar setiap individu yang terlibat, . tanggungjawab perorangan, . pihak-pihak yang terlibat saling berinteraksi secara personal, . keahlian untuk bekerja sama, . pengevaluasian proses kelompok. Mengamati hasil riset yang sudah dipaparkan, konklusi yang dapat diambil ialah penanaman karakter gotong royong di SDN 3 Ngasem Batealit dilakukan melalui sejumlah kegiatan seperti sampah setiap hari, piket kelas, kerja bakti setiap hari JumAoat, infaq hari jumat dan P5 . rojek penguatan profil pelajar Pancasil. Di samping hal tersebut, guru ikut pula dalam memberikan keteladanan positif dengan turut berpartisipasi dalam gotong royong seperti ikut dalam aktivitas pungut sampah dan Jumat bersih, bekerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, senantiasa bersedakah ketika diadakan program infaq di hari Jumat, serta menjadi penggiat utama pelaksanaan P5. Peneliti juga menemukan adanya sejumlah hal yang menjadi faktor pendukung pelaksanaan kegiatan pengembangan karakter kegotongroyongan yakni kepribadian anak yang rajin, teladan dari guru, orang tua yang perhatian, dan terciptanya kerja sama antara guru dengan pihak sekolah dalam mengupayakan berbagai program untuk menumbuhkembangkan sikap gotong royong. Sedangkan kendala yang dihadapi dalam pengembangan sikap gotong royong adalah adanya kepribadian siswa yang cuek, egois dan malas, pembiasaan yang kurangnya terlaksana secara konsisten, serta ketersediaan fasilitas sekolah yang sangat kurang. Kata kunci: Analisis: Pembiasaan disiplin. Profil pelajar pancasila. Dimensi gotong royong. ABSTRACT This study aims to observe and analyze the dimension of mutual cooperation in schools, both its implementation and the supporting and inhibiting factors in the implementation of the mutual cooperation dimension. The elements of mutual cooperation consist of: . The formation of positive dependence between each individual involved, . individual responsibility, . the parties involved interact with each other personally, . skills to work together, . evaluating the group process. Observing the research results that have been presented, the conclusion that can be drawn is that the cultivation of the character of gotong royong at SDN 3 Ngasem Batealit is carried out through a number of activities such as daily garbage, class picket, community service every Friday. Friday infaq and P5 (Pancasila student profile strengthening projec. In addition to this, teachers also provide positive role models by participating in gotong royong . utual cooperatio. such as participating in garbage picking and Friday clean-up activities, working together to clean the school environment, always giving alms when an infaq program is held on Fridays, and becoming the main activist for the implementation of P5. Researchers also found that there are a number of things that become supporting factors for the implementation of mutual cooperation character development activities, namely the diligent personality of children, role models from teachers, caring parents, and the creation of cooperation between teachers and the school in pursuing various programs to develop mutual cooperation attitudes. While the obstacles faced in developing mutual cooperation attitudes are the existence of Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational ignorant, selfish and lazy student personalities, habituation that is not consistently implemented, and the availability of school facilities that are very lacking. Keywords : Analysis: Discipline habituation. Pancasila student profile. Dimension of mutual PENDAHULUAN Pada era globalisasi seperti saat ini, tantangan pendidikan semakin kompleks dengan munculnya berbagai perubahan dan tuntutan dalam sistem pembelajaran. Proses pembentukan karakter mencerminkan keragaman nilai-nilai yang berdampak pada munculnya tindakan menghormati serta mengapresiasi individu lain. sikap terbuka yang positif. dan penguatan melalui berbagai bentuk komunikasi verbal, tulisan, isyarat, atau penghargaan terhadap pencapaian siswa. Ini juga melibatkan bimbingan siswa untuk merenungkan pengalaman belajar yang sudah mereka jalani (Dwi Aryani, 2. Pendidikan karakter menjadi topik yang cukup ramai dibicarakan di dunia pendidikan karena menjadi salah satu aspek terpenting dalam upaya pembentukan karakter baik dalam diri siswa, hal ini dapat menjadi pondasi utama dalam menyukseskan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia pada tahun 2025. Pemerintah merancang program penanaman pendidik karakter guna meningkatkan semakin kuatnya karakter pada siswa terutama karakter-karakter yang terkandung dalam setiap butir sila Pancasila. Alasan dicanangkannya program penanaman pendidikan karakter adalah karena sekarang ini banyak generasi muda yang budi pekertinya mulai meluntur akibat zaman yang semakin berubah dan modernisasi di segala lini kehidupan (Yuliandari, 2. Salah satu contoh lunturnya karakter generasi pada masa sekarang ini adalah kurangnya rasa peka terhadap kondisi di sekitarnya. Masalah ini menjadi sangat perlu untuk segera diperbaiki, tentunya melalui program pendidik karakter yang terfokus pada profil pelajar Pancasila. Kebijakan yang termuat dalam kurikulum merdeka mampu mewujudkan visi pendidikan Indonesia yaitu menciptakan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Upaya dalam membentuk karakter bangsa dapat diwujudkan dalam Profil Pelajar Pancasila bagi setiap siswa pada semua jenjang sekolah. Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter yang harus dimiliki oleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah (Asiati & Hasanah, 2. Menurut Profil Pelajar Pancasila dimaksudkan untuk memberi jawaban terkait pertanyaan tentang kompetensi yang dihasilkan dari sistem pendidikan di Indonesia. Melalui Profil Pelajar Pancasila, pembelajaran dalam suatu instansi pendidikan akan memberi perhatian lebih pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter menjadi aspek terpenting yang sangat perlu dan wajib untuk diimplementasikan di sekolah. Hal ini dikarenakan pendidikan karakter mampu mewujudkan tujuan dari dilaksanakannya pendidikan nasional yakni membangun bangsa yang bermoral dan berkarakter luhur (Hamzah et al. , 2. Melalui pelaksanaan program pendidikan karakter diupayakan agar siswa memiliki sifat-sifat ataupun karakter positif, seperti disiplin. Disiplin merujuk pada kemampuan mengendalikan diri sendiri untuk selalu mematuhi aturan ataupun terus melakukan kebiasaankebiasaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika seseorang memiliki kedisiplinan yang baik maka dirinya akan senantiasa patuh menjalankan tugasnya sesuai ketentuan, dan selalu bersikap sesuai norma yang belaku. Sementara itu, bagi individu yang kedisiplinannya rendah, maka mereka akan lebih sering melanggar aturan dan sulit konsisten dalam menjalankan kebiasaan yang ditetapkan. Jika dikaitkan dengan siswa, disiplin berhubungan dengan ketaatan terhadap tata tertib ataupun berbagai aturan yang diterapkan di suatu lembaga pendidikan. Sementara itu, aturan yang harus ditaati, dilaksanakan, dan mengatur sikap serta tingkah laku siswa dapat disebut sebagai disiplin sekolah. Pihak sekolah memegang peranan yang cukup krusial dalam menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam diri para siswanya. Sekolah harus bisa Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational membiasakan sikap disiplin agar tertanam dalam diri siswa sehingga menghasilkan tingkah laku yang positif. Melalui pembiasaan untuk bersikap disipin, siswa dapat senantiasa bertindak selaras dengan norma di lingkungannya. Pembiasaan sikap disiplin juga dapat memberikan pengalaman kepada siswa agar bisa terbiasa untuk mengontrol dirinya sendiri sehingga terbentuk pribadi yang teratur dan lebih berpotensi. Disiplin menjadi karakter yang cukup esensial dalam perkembangan siswa untuk mempersiapkan masa depannya. Supaya kedisiplinan dapat tertanam dalam diri anak, maka mereka harus dibiasakan sedini mungkin untuk melakukannya. Selain itu, disiplin juga menjadi elemen kunci dalam upaya pencapaian prestasi belajar yang optimal oleh siswa (Mulyawati et al. , 2. Dengan membiasakan anak untuk bersikap disiplin, ada berbagai manfaat yang bisa didapatkan yakni potensi dalam diri semakin berkembang, terbiasa untuk melakukan hal baik dan positif, menjadi bertanggung jawab, bersikap sopan, mandiri, serta lebih bisa mengatur waktu. Selain itu, pembiasaan berperilaku disiplin juga bisa membuat anak semakin percaya diri dan kemampuan yang dimilikinya juga bisa semakin meningkat, salah satunya bergotongroyong dalam masyarakat. Gotong-royong bisa diartikan sebagai tindakan dari seorang individu untuk menjalankan sebuah aktivitas secara bersama-sama dengan individu lainnya, di mana orangorang yang terlibat di dalamnya tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun (Yasa et , 2. Tindakan maupun aktivitas yang dilaksanakan oleh anggota dari sebuah komunitas atau perkumpulan lainnya secara kerja sama sebagai wujud pemberian pertolongan guna mempercepat penyelesaian suatu pekerjaan ataupun permasalahan tertentu secara sukarela bisa dikatakan sebagai gotong royong (Khosyiatun, 2. Merujuk pada uraian tersebut, gotong royong aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama secara sukarela untuk memberikan pertolongan agar suatu pekerjaan ataupun persoalan bisa segera selesai. Gotong royong menciptakan kerja sama antara individu dan kelompok yang membentuk kepercayaan untuk bekerja bersama dalam mengatasi masalah yang menguntungkan semua pihak. Selain itu, gotong royong merupakan tindakan bekerja bersama untuk menangani masalah dan mencapai tujuan bersama. Karakter bergotong royong perlu ditanamkan sejak usia dini, supaya anak-anak dapat bekerja efektif dengan individu lainnya, mengembangkan hubungan dalam kelompok, dan berkolaborasi untuk mewujudkan tujuan bersama. Sikap kolaboratif menunjukkan interaksi saling memberi dan menerima, dengan tujuan mencapai suatu sasaran bersama (G. Mantra et , 2. Dimensi bergotong royong mengarahkan siswa pada kemampuan berkolaborasi atau bekerja sama dalam mewujudkan hasil bersama dengan cara menghargai orang lain tanpa memaksakan kehendak diri sendiri. Dimensi ini dapat dilihat pada hubungan timbal balik yang saling memiliki tujuan yang sama antara satu orang atau lebih. Nilai dari dimensi bergotong royong penting diterapkan pada siswa agar tidak terjadi pertentangan terhadap nilai moral dan etika di masa mendatang. Sementara itu, dimensi kreatif mengarahkan siswa pada kemampuan modifikasi dan inovasi baru yang diciptakan dalam memecahkan suatu permasalahan. Kreatif memiliki unsur utama yaitu ide orisinal dalam menciptakan sebuah karya maupun tindakan yang orisinal. Ide yang muncul dari siswa perlu mendapatkan sebuah apresiasi positif agar muncul daya kreatifitas lain dalam bidang pembelajaran. Hal ini mampu menumbuhkan sikap percaya diri bagi siswa (F. Regina & Sastromiharjo, 2. Dimensi dalam sikap kegotongroyongan memiliki sejumlah unsur, yakni mencakup: . Terbentuknya ketergantungan positif antar setiap individu yang terlibat, . tanggungjawab perorangan, . pihak-pihak yang terlibat saling berinteraksi secara personal, . keahlian untuk bekerja sama, . pengevaluasian proses kelompok. Kelima unsur yang sudah diuraikan bisa terlihat dari tindakan maupun sikap seorang individu di kesehariannya. Berdasarkan observasi dan hasil diskusi ditemukan bahwa Tingkat dimensi gotong royong siswa kurang dalam kebersamaan dan kepekaan terhadap sesame. Selain itu, aktivitas Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational belajar siswa secara kelompok hanya terbatas pada diskusi ataupun tanya jawab saja. Kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan nampaknya belum secara efektif memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk bisa mengamalkan ataupun melakukan kegiatan gotong royong dengan baik dan benar. Pada saat peneliti melaksanakan pengamatan kegiatan pembelajaran masih belum nampak kerjasama antar siswa. Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk karakter dan kepribadian siswa agar menjadi individu yang berkualitas, mandiri, dan memiliki sikap empati terhadap sesama. Bergotong royong merupakan nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan dalam pendidikan, karena melalui bergotong royong, siswa diajak untuk saling bekerja sama, menghargai perbedaan, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Pada kurikulum Merdeka gotong royong menjadi salah satu sikap yang wajib siswa miliki. Peneliti ingin mengamati dan menganalisa, pembiasaan disiplin siswa dan dimensi gotong royong yang ada disekolah baik implementasinya maupun faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan dimensi gotong royong. METODE PENELITIAN Jenis riset yang peneliti laksanakan memakai metode kualitatif melalui pendeskripsian semua peristiwa dan fenomena yang terlihat saat riset sedang dilaksanakan (Setiyaningsih et , 2. Metode kualitatif merupakan riset yang memakai data deskriptif dalam wujud ucapan maupun tulisan yang bisa berasal dari seseorang maupun sebuah lembaga yang merupakan subjek dari riset yang dilakukan, untuk dianalisis dan diterangkan kepada pihak lainnya mengenai fenomena dari seseorang, sekelompok individu, dinamika sosial, sikap kepercayaan, sesuatu kejadian, dan sudut pandang (Umrati & Wijaya, 2. Proses penganalisisan secara deskriptif ditujukan untuk membagikan sebuah gambaran yang akurat dan teratur dari temuan yang didapatkan ketika dilakukannya penelitian (Gusdini et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai serangkaian budaya sekolah yang dapat membantu membentuk karakter disiplin siswa. Pelaksanaan riset ini dilakukan di di SDN 3 Ngasem Batealit Jepara pada bulan Januari 2023 dengan subjek penelitiannya adalah kepala sekolah. Sumber data berupa sikap gotong royong siswa di sekolah dasar. Data yang dipakai sifatnya deskriptif dan non numerik (Safitri et al. , 2. Data yang peneliti butuhkan dikumpulkan menggunakan sejumlah teknik yakni mencakup kegiatan pengamatan, wawancara serta dokumentasi sebagai pendukung. Apabila suatu riset terfokus pada kegiatan manusia, sikap dan tingkah lakunya, serta fenomena alam, maka kegiatan pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap subjek riset memberikan kesempatan kepada peneliti untuk dapat meneliti secara lebih dekat dan intens dengan persitiwa/fenomena yang sedang terjadi (Syifa 2. Kegiatan pengamatan dilakukan di SDN 3 Ngasem Batealit Jepara. Metode selanjutnya yakni wawancara yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara langsung dari pihak terkait melewati aktivitas pengajuan pertanyaan oleh pewawancara yang kemudian akan dijawab oleh narasumber. Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti berupaya untuk menggali informasi secara mendalam melalui kegiatan wawancara dengan kepala sekolah SDN 3 Ngasem Batealit Jepara. Dokumentasi studi merujuk pada suatu kegiatan pengumpulan informasi yang dibutuhkan untuk proses penganalisisan, sehingga klaim riset yang sebelumnya telah dibuat bisa lebih kuat, terpercaya, dan terbukti kebenarannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Gotong royong menjadi salah satu dimensi yang ada dalam Profil Pelajar Pancasila. Katakter setia kawan dan rasa kekeluargaan antar siswa bisa ditumbuhkan melalui kebiasaan untuk bergotong royong. Melalui kegiatan pengamatan yang telah peneliti laksanakan di SD N 3 Ngasem Batealit, dapat diketahui bahwa sekolah ini telah mengimplementasikan kurikulum Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational merdeka dan profil pelajar Pancasila. Hal ini tampak dari visi misi sekolah serta adanya sejumlah aktivitas yang diperuntukan sebagai sarana pengembangan profil pelajar Pancasila dalam diri setiap siswanya. Berkaitan dengan dimensi gotong royong yang menjadi bagian dari Profil Pelajar Pancasila, peneliti menemukan bahwa sekolah memiliki program pembiasaan guna menumbuhkembangkan rasa kegotongroyongan setiap siswanya. Pembiasaanpembiasaan mencakup piket kelas, belajar secara berkelompok, gerakan pungut sampah disetiap pagi, berinfaq dihari jumat, kerja bakti di hari sabtu, serta pelaksanaan kegiatan P5 . rojek penguatan profil pelajar Pancasil. Fakta yang peneliti dapatkan memiliki kesesuaian dengan temuan dalam riset (Mulyani et al. , 2. yakni dijelaskan bahwa bahwa melalui pengadaan kegiatan piket, jumat besih, dan penugasan berkelompok bisa menumbuhkan rasa gotong royong pada siswa. Oleh karenanya. SD N 3 Ngasem Batealit menjalankan kebiasaankebiasan tersebut untuk mengupayakan terwujudnya profil pelajar Pancasila dimensi gotong royong pada setiap siswanya. Melalui pembiasaan yang dilakukan, secara sadar ataupun tidak karakter gotong royong bisa muncul dan terus tumbuh dalam diri siswa. Hal ini menujukkan bahwa pembiasaan gotong royong memang menjadi sebuah keharusan untuk dilaksanakan. Pembiasaan yang dilakukan siswa di sekolah bisa membuatnya menjadi terbiasa dan terlatih untuk peka dalam memberikan pertolongan dan bergotong royong baik di sekolah itu sendiri maupun di lingkungan rumahnya. Bagi pihak pendidik dan sekolah, pembiasan positif merupakan upaya peningkatan karakter siswa yang kemudian berimplikasi pada semakin baiknya mutu pendidikan di sekolah. Selain pembiasaan, teladan yang baik dari guru juga menjadi aspek penting dalam pembentukan budi pekerti baik dalam diri siswa. Hal ini dikarenakan guru berperan sebagai panutan, role model, ataupun contoh bagi siswanya. Melalui kegiatan pengamatan, peneliti melihat bahwa wujud teladan yang diberikan guru di SDN 3 Ngasem Batealit yakni seperti berpartisipasi dalam aktivitas pungut sampah dan Jumat bersih, bekerja bakti membersihkan lingkungan sekolah misalnya dengan ikut mencabuti rumput liar, senantiasa bersedakah ketika diadakan program infaq di hari Jumat, serta menjadi penggiat utama pelaksanaan P5. Menjadi keharusan bagi seorang pendidik untuk ikut serta melaksanakan pembiasaan yang ada di instansi sekolahnya supaya para siswa bisa termotivasi mencontoh dan menjadi terbiasa untuk melakukan hal tersebut dikesehariannya, baik saat bersekolah ataupun bermasyarakat. Teladan baik dari seorang guru bisa mendorong siswanya untuk senantiasa bersikap dan melakukan perilaku-perilaku positif. SDN 3 Ngasem Batealit juga memiliki sejumlah program pembiasaan untuk menanamkan kedisiplinan misalnya, adanya aturan untuk hadir tepat pada waktunya, pembiasaan untuk berpartisipasi pada aktivitas positif yakni membaca Asmaul Husna di setiap pagi, menyelesaikan tugas sebelum batas waktu yang telah ditentukan, serta melaksanakan pembelajaran sesuai jadwal. Berlandaskan hasil yang didapat dari kegiatan pengamatan, wawancara, serta dokumentasi, terlihat bahwa mayoritas siwa telah memiliki kedisplinan yang cukup baik dalam mengikuti pembiasaan-pembiasaan di sekolah, yakni ketika hari Senin mengikuti upacara, membaca Asmaul Husna disertai hafalan surat pendek, senam di haru Jumat, dan lain sebagainya. Para siswa terlihat selaly ikut serta dalam sejumlah program pembiasaan yang diadakan di sekolah ini. Selain itu, peneliti huga menemukan adanya pembiasaan di dalam kelas yang merupakan hasil kesepakatan antara pendidik dengan siswa yakni seperti, mencuci tangan sebelum masuk kelas, kemudian siswa dapat masuk ke dalam kelasnya dengan tertib, menginput presensi, dan memberikan sapaan kepada temannya yang telah hadir. Dari kegiatan pengamatan, wawacara, dan dokumentasi, peneliti bisa mengkonklusikan bahwa ketaatan siswa saat mengerjakan tugasnya di dalam kelas sudah cukup baik, meksipun memang masih ada anak yang sering izin ke kamar mandi, bahkan ada pula yang mainan di luar. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Beragam aturan yang ada di SDN 3 Ngasem Batealit, sengaja diciptakan sebagai sarana untuk menanamkan kedisiplinan dalam diri setiap warga sekolah, utamanya para siswa. Dijelaskan oleh (Permatasari et al. , 2. bahwa kedisplinan bisa dimunculkan pada diri siswa melalui berbagai program yang dicanangkan oleh sekolah maupun pendidikan, misalnya dengan membiasakan siswa untuk disiplin saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan melakukan pengumpulan tugas dengan tepat waktu, pendidik juga dapat menjadi teladan serta memberi arahan kepada siswa agar senantiasa berperilaku baik misalnya dengan berpakaian rapi ataupun berbicara secara santun. Pembiasaan menjadi apek utama dalam upaya menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Pihak sekolah melalui pendidikan bisa melakukan kesepakatan dengan para siswanya dalam membuat atutan ataupun pembiasaan yang akan dilaksanakan, melalui hal ini siswa pasti akan merasa dilibatkan serta lebih sukarela untuk melaksanakannya. Dalam pemikirannya, (Pertiwi, 2. , menjelaskan bahwa adanya pembiasaan-pembuasaan tertentu di suatu lembaga pendidikan bertujuan agar siswa lebih bertanggungjawab, mengambang spiritualnya, dan kedisiplinannya juga semakin meningkat. Program pembiasaan dan peraturan sekolah yang telah dibuat sebagai sarana penanaman karakter pada siswa harus dilakukan secara kontinu, rutin, dan teratur agar tujuan dari dibentuknya program tersebut bisa terealisasikan. Aspek utama yang sangat ditekankan dalam pendidikan karakter yaitu agar siswa bisa mengenal, memahami, mampu menginternalisasi, dan berusaha untuk menciptakan kehidupan yang baik dikesehariannya (Ansori, 2. Pendidikan karakter yang dilaksanakan melalui program pembiasaan-pembiasaan positif harus dilakukan secara kontinu sehingga bisa menumbuhkan karakter disiplin pada diri siswa. Kedisplinan dalam diri siswa bisa membantunya lebih produktif, memunculkan kemandirian, dan membuatnya berani bertanggung jawab. Hal inilah yang menjadi fokus SDN 3 Ngasem, sehingga diadakan kegiatan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama di lapangan disetiap Kegiatan ini menjadi sarana penanaman karakter gotong royong dan disiplin/tertib. Pelaksanaan kegiatan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama juga dibarengi dengan pelafalan doa, sholawat, dan surat pendek. Hal ini dapat memberikan bekal positif bagi siswa dan meningkatkan spiritualitasnya. Pelaksanaan kegiatan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama dipimpin oleh guru pengampu mata pelajaran agama bersama dengan siswa dari kelas tinggi. Selain berkaitan dengan spiritual, adapula pembiasaan yang berkaitan dengan kesehatan dan tentunya untuk menanamkan kedisplinan serta gotong royong yakni senam. Tepat dihari Jumat seluruh warga sekolah di SDN 3 Ngasem berkumpul di lapangan untuk bersama-sama melakukan senam sehat. Selain untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jasmani, pelaksanaan kegiatan senam juga dirujukan untuk melatih kedisiplinan dan menumbuhkan rasa kebersamaan/kegotongroyonga. Dimensi Gotong Royong Adapun beberapa aspek yang terbentuk dalam pembiasaan kegiatan kedisiplinan yang dilakukan dalam proses belajar dan pembelajaran saat dikelas yaitu : Aspek Kolaborasi Pada dimensi gotong royong, kolaborasi mempunyai dua indikator yang terdiri atas koordinasi dan kerjasama. Dari kedua indikator yang sudah dijelaskan, terlihat bahwa guru sudah menerapkan keduanya melalui kolaborasi dengan siswa yang direalisasikan dalam beragam aktivitas. Guna mendorong peningkatan koordinasi antara satu siswa dengan yang lainnya, guru sapat mengatur kelas sedemikian rupa agar sesuai dan menunjang pelaksanaan aktivitas belajar mengajar secara berkelompok. Guru bisa mengatur tempat duduk siswa seefektif mungkin, karena hal ini bisa mendorong peningkatan pretasi dan kolaborasi antara satu siswa dengan yang lainnya. Aktivitas yang diimplementasikan oleh guru terlihat saat siswa berkoordinasi dengan saling berkumpul sesuai kelompoknya dengan maksud agar tujuan kelompok bisa terwujud. Setelahnya, siswa akan bersama-sama mempersiapkan tempat mana Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational yang akan digunakan untuk melaksanakan aktivitas kelompoknya. Meskipun pembelajaran dilakukan secara berkelompok, peranan dari pendidik tidak lepas begitu saja dari aktivitas ini. Pendidikan berperan sebagai perencana dalam pembagian kelompok. Sebenarnya, satu dari sekian banyak tugas utama guru adalah sebagai perencana pembelajaran agar berjalan dengan baik dan mencapai keberhasilan. Guru merencanakan pembelajaran secara berkelompok dengan tujuan agar siswa bisa terbiasa untuk bekerja sama dengan individu lain. Guru memberikan penugasan, tes, ataupun tantangan kepada siswa yang penyelesaiannya harus dilakukan secara berkelompok. Kegiatan kelompok adal bentuk pembiasaan yang diberikan kepada siswa untuk dapat meningkatkan kerjasama. Siswa saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok dengan membagi tanggung jawab yang sama kepada tiap-tiap anggota dan saling membantu jika ada yang kesulitan saat mencari jawaban. Aspek Kepedulian Kepedulian diterapkan guru melalui pembentukan kelompok dengan anggota beragam, di mana siswa-siswa yang menjadi anggota dari sebuah kelompok memiliki latar belakang Kelompok belajar bisa dibentuk melalui beragam metode, misalnya dengan berhitung, menyesuaikan nomor absen, ataupun siswa bisa langsung dibagi ke dalam dua kelompok besar. Melalui kegiatan dikusi untuk menyelesaikan soal yang diberikan, relasi positif antar siswa dengan karakteristik yang berbeda-beda bisa tercipta. Jika dalam kelomponya ada teman yang kelihatan kesusahan, maka siswa dalam kelompok yang sama akan sukarela membantu. Jadi, kelompok yang dibentuk secara heterogen bisa menumbuhkan perasaan toleran dan membuat anak terbiasa dengan perbedaan atau keberagaman. Di samping hal tersebut, rasa empati siswa SDN 3 Ngasem Batealit Jepara juga bisa terus tumbuh karena anak dibiasakan untuk Agar siswa dapat ikut merasa apa yang temannya rasakan ketika kesusahan, maka guru mengarahkan siswa agar mereka saling menolong rekannya yang tengah kesusahan. Empati pada siswa bisa terlihat ketika meraka saling memberikan bantuan ketika ada yang kesusahan dalam mengerjakan tugas kelompok dari guru. Selain itu, siswa juga sukarela ikut menata tempat duduk saat aktivitas berkelompok akan dilaksanakan. Temuan tersebut selaras dengan penjelasan dari (Triansyah et al. , 2. yang menyatakan bahwa kepedulian siswa tampak ketika meraka berinisiatif memberikan bantuan kepada temannya yang kesusahan Aktivitas tersebut menjadi wujud nyata bahwa siswa peka terhadap kondisi disekitarnya dan secara sukarela mau memberi bantuan. Siswa yang mempunyai kepedulian akan tanggap dengan keadaan lingkungannya dan memiliki inisiatif untuk meningkatkan kondisi yang ada menjadi semakin baik. Aspek Berbagi Tumbuhnya sikap senang untuk berbagai pada siswa bisa guru upayakan melalui kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan latihan untuk salaing memberi dan menerima hal yang dianggap berharga. Supaya siswa bisa memberikan sesuatu yang berharga, guru bisa merancang aktivitas belajar mengajar yang busa memotivasi siswanya untuk berpendapat ataupun menyampaikan persepsesina lewat tanya jawab. Kegiatan tanya jawab bisa dilakukan guru saat sebelum dan pasca dilaksanakannya kegiatan belajar mengajar. Ketika kegiatan tanya jawab berlangsung, siswa menjadi aktif untuk mengungkapkan opini, persepsi, dab pendapatnya berlandaskan apa yang sudah dipahaminya. Kegiatan tanya jawab bisa melatih siswa untuk terbiasa bersikap berani dalam berpendapat. Di samping itu, kegiatan berkelompok juga bisa melatih anak untuk mau berbagi. Kelompok yang sudah terbentuk kemudian akan diberikan persoalan yang harus diselesaikan, sehingga setiap anggotanya harus mengemukakan pendapatnya dalma proses diskusi untuk menemukan pecahan terbaik. Selain memberi, siswa juga diajak oleh guru untuk bisa menerima hal yang berharga yakni melalui pemusatan perhatiannya setiap mereka akan diberikan pemaparan materi agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Ketika kegiatan tanya jawab berlangsung, guru akan menerima semua Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational jawaban yang diberikan oleh siswanya untuk kemudian didiskusikan secara bersama-sama. Dengan melakukan hal tersebut, siswa akan lebih berani dalam berpendapat karena merasa Diskusi kelompok sengaja guru buat supaya suswa bisa belajar dan terbiasa menerima opini dari teman-teman dikelompoknya, baik itu berupa rumus yang digunakan, cara pengerjaan, maupun jawaban atas soal yang ditugaskan. Belajar secara kelompok juga bisa menambah kemampuan siswa untuk berpendapat. Berdiskusi dalam kelompok bisa membiasakan siswa untu lebih menghargai dan menerima opini dari temannya. Perilaku ini mengindikasikan bahwa aspek berbagi sudah dilaksanakan oleh siswa. Berbagai merupakan tindakan yang dilakukan dengan saling memberi dan menerima suatu hal yang dianggap berharga bagi hajat hidup orang banyak ataupun pribadi. Mengacu uraian yang termuat dalam pembahasan riset yang telah peneliti laksanakan, terlihat bahwa melalui pembiasaan yang rutin dilaksanakan setiap hari sangat efektif untuk menumbuhkan karakter disiplin pada diri siswa. Hal ini tampak dalam sejumlah pembiasaan dan peraturan yang pihak sekolah tetokan. Hal ini terlihat dalam beberapa pembiasaan serta aturan yang sudah ditetapkan dari pihak sekolah. Pembiasaan menjadi salah satu metode yang dapat memfasilitasi siswa untuk melatih dirinya agar bertindak secara maksimal dikesehariannya, utamanya di area sekolah (Husna, 2. Melalui pembiasaan sisqa juga bisa mendapatkan kebiasaan-kebiasaan baru dan sikap yang lebih baik dalam artian memiliki kebutuhan ruang dan waktu (Syah, 2. Tumbuh kembang anak akan berjalan dengan baik apabila metode pembiasaan yang diimplemyasikam memiliki kesesuaian dengan sampai mana tahapan perkembangan psikis si anak, utamanya bagi anak dalma usia sekolah dasar yang sangat menyukai kegiatan belajar dalam suasana yang menyenangkan. Faktor Pendukung dan Penghambat Terdapat sejumlah hal yang menjadi faktor pendukung lancarnya upaya penanaman karakter gotong royong pada siswa di SDN 3 Ngasem Jepara yaitu kepribadian siswa, pemberian teladan dari guru, dan terjalinnya kerjasama yang baik antara sekolah dan guru untuk menumbuhkan karakter gotong royong melalui beragam aktivitas. Selain itu penerapan profil pelajar Pancasila juga didukung oleh kepribadian dari orang tua, sanak saudara, dan orang dewasa lainnya yang memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan anaknya, serta pendidik dengan budi pekerti yang baik sehingga dapat menjadi teladan baik di sekolah ataupun di lingkungan sekitarnya. Jika dari awal siswa sudah memiliki kepribadian yang baik, maka hasil yang baik juga akan lebih mudah dicapai dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pemberian teladan dari guru menjadi elemen kunci karena guru adalah seorang panutan di sekolah. Teladan yang diperlihatkan oleh para guru SDN 3 Ngasem sangat baik, oleh karenanya para siswa bisa Faktor pendorong lainnya adalah kerja sama yang dilakukan guru sebagai tenaga pendidik dengan para tenaga kependidikan lainnya gang merencanakan dan merelaksasi beragam aktivitas guna mendukung terwujudnya profil pelajar Pancasila. Di samping hal tersebut, peneliti juga menemukan adanya faktor yang menghambat pelaksanaan kegiatan untuk menciptakan kegotongroyongan di sekolah mislanya heterogenitas kepribadian siswa. Heterogenitas kepribadian merujuk pada karakter siswa yang beragam misalnya ada anak yang malas, sehingg membutuhkan penaganan khusus oleh sekolah maupun orang tua untuk memberikan berbagai program pembiasaan agar kepribadiannya bisa berubah. Faktor penghambat lainnya mencakup, terbatasnya fasilitas yang tersedia, minimnya peran orang tua dalam perkembangan anaknya, keotoriteran guru, budaya dan adat istiadat, kekerasan dalam masyarakat, serta masifnya perkembangan sosial media yang mencipta hal, konfisi, dan keadaan yang buruk. Sejumlah kendala yang sudah dijaskan harus segera ditemukan solusinya oleh pihak sekolah agar penanaman karakter gotong royong bisa dilakukan secara lancar. Salah satu cara yang biaa dilakukan oleh pihak sekolah adalah dengan mensosialisasikan pentingnya Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November-Desember 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pembiasaan-pembiasaan positif di sekolah yang kemudian harus pula dilakukan di rumah, serta fasilitas sekolah juga harus dilengkapi agar menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini. KESIMPULAN Mengamati hasil riset yang sudah dipaparkan, konklusi yang dapat diambil ialah penanaman karakter gotong royong di SDN 3 Ngasem Batealit dilakukan melalui sejumlah kegiatan seperti sampah setiap hari, piket kelas, kerja bakti setiap hari JumAoat, infaq hari jumat dan P5 . rojek penguatan profil pelajar Pancasil. Di samping hal tersebut, guru ikut pula dalam memberikan keteladanan positif dengan turut berpartisipasi dalam gotong royong seperti ikut dalam aktivitas pungut sampah dan Jumat bersih, bekerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, senantiasa bersedakah ketika diadakan program infaq di hari Jumat, serta menjadi penggiat utama pelaksanaan P5. Melalui berbagai program pembiasaan-pembiasaan yang diadakan di sekolah, guru bisa memanfaatkannya sebagai sarana pendukung untuk memperkuat kepribadian disiplin dan tanggung jawab dari para siswanya. Dari serangkaian kegiatan pembiasaan-pembiasaan yang telah dilaksanakan tampak bahwa karakter disiplin pada siswa semakin meningkat, sehingga bisa dikatakan bahwa program yang dicanangkan dijalankan secara efektif. Hal ini terbukti dengan aktivitas yang mendorong siswa untuk lebih disiplin misalnya mereka tiba di sekolah tepat pada waktunya, tertib saat berpartisipasi dalam kegiatan pembiasaan-pembiasaan, serta mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Peneliti juga menemukan adanya sejumlah hal yang menjadi faktor pendukung pelaksanaan kegiatan pengembangan karakter kegotongroyongan yakni kepribadian anak yang rajin, teladan dari guru, orang tua yang perhatian, dan terciptanya kerja sama antara guru dengan pihak sekolah dalam mengupayakan berbagai program untuk menumbuhkembangkan sikap gotong royong. Sedangkan kendala yang dihadapi dalam pengembangan sika gotong royong adalah adanya kepribadian siswa yang cuek, egois dan malas, pembiasaan yang kurangnya terlaksana secara konsisten, serta ketersediaan fasilitas sekolah yang sangat kurang. DAFTAR PUSTAKA