Volume 5 Nomor 1 . Juni GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN ISSN: 2964-7010 Edukasi Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Skizofrenia Sebagai Upaya Peningkatan Keberhasilan Terapi Arum Nuryati1. Siti Arifah2 Diploma i Medical Technology Laboratory. Stikes Guna Bangsa Yogyakarta. Indonesia Diploma i Radiology. Stikes Guna Bangsa Yogyakarta. Indonesia Jl. Ring Road Utara. Ngringin. Condongcatur. Depok. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia Corresponding author: Arum Nuryati Email: arum. nuryati@gunabangsa. ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memerlukan terapi jangka panjang, di mana keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh kepatuhan minum obat. Ketidakpatuhan masih menjadi masalah utama yang dapat menyebabkan kekambuhan dan penurunan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukasi yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia melalui edukasi berbasis komunitas dengan metode kunjungan rumah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan pendekatan edukatif melalui kunjungan rumah . ome visi. pada 22 pasien skizofrenia. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga . ika pasien skizofrenia tidak bisa memberikan umpan balik ketika diajak komunikas. terkait pentingnya kepatuhan minum obat, cara penggunaan obat yang benar, serta pengelolaan efek samping. Tingkat kepatuhan diukur dan dikategorikan menjadi kepatuhan tinggi, sedang, dan rendah. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki tingkat kepatuhan tinggi, yaitu sebanyak 14 orang . %), diikuti kepatuhan sedang sebanyak 7 orang . %), dan kepatuhan rendah sebanyak 1 orang . %). Edukasi kepatuhan minum obat melalui pendekatan kunjungan rumah terbukti efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien skizofrenia Kata Kunci: Skizofrenia. Kepatuhan Minum Obat. Edukasi ABSTRACT Schizophrenia is a chronic mental disorder requiring long-term pharmacological treatment, where therapeutic success is highly dependent on medication adherence. However, non-adherence remains a major issue, leading to relapse and decreased quality of life. Therefore, effective educational interventions are needed to improve patient adherence. This community service activity aimed to improve medication adherence among patients with schizophrenia through community-based education using a home visit approach. This program was conducted using an educational approach through home visits involving 22 patients with schizophrenia. Education was provided to both patients and their families regarding the importance of medication adherence, proper drug use, and management of side effects. Adherence levels were assessed and categorized into high, moderate, and low adherence. The results showed that most patients had high adherence . 63%), followed by moderate adherence . 32%), and low adherence . 5%). Educational intervention through home visits is effective in improving medication adherence among patients with Keyword: Schizophrenia. Medication Adherence. Education Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/index PENDAHULUAN Kesehatan jiwa dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu gangguan jiwa berat yang sering dijumpai adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang ditandai oleh gangguan pada proses pikir, persepsi, respons emosional, dan interaksi sosial penderitanya. Gangguan ini memiliki dua kelompok gejala utama, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif meliputi pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, serta gangguan kognitif dan persepsi, sedangkan gejala negatif ditandai dengan berkurangnya motivasi dan minat, menurunnya keinginan berbicara, miskinnya isi pembicaraan, afek datar, serta (National Institute for Health and Care Excellence, 2. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2019, diseluruh dunia skizofrenia merupakan gangguan jiwa dengan diagnosis terbanyak yaitu sekitar 24 juta orang. Terdapat 663 juta penderita skizofrenia dari 24 juta jumlah penduduk yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki keanekaragaman penduduk dengan berbagai macam faktor seperti faktor psikologis, biologis, dan sosial hal tersebut mengakibatkan jumlah kasus gangguan jiwa terus meningkat yang berdampak pada penambahan beban bagi Negara dan menurunnya produktivitas manusia jangka panjang (WHO, 2. Berdasarkan data Riskesdas 2018 tentang skizofrenia di Indonesia adalah 7% dari populasi penduduk permil (Kemenkes RI, 2. Penyakit ini tidak sesering gangguan mental lainnya. Onset paling sering terjadi pada masa remaja akhir dan usia dua puluhan, dan onset cenderung terjadi lebih awal pada pria dibandingkan wanita. Skizofrenia penderitaan dan gangguan yang signifikan dalam bidang pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, dan bidang kehidupan lainnya (WHO, 2. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menduduki peringkat tertinggi Nasional dalam kasus skizofrenia dengan prevalensi 9. berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 (BKPK Kemenkes RI, 2. Pasien skizofrenia akan kesulitan berkomunikasi dan berada dalam lingkungan banyak orang, mereka juga mengalami halusinasi dan ilusi sehingga seakan-akan melihat banyak hal yang tidak Penanganan pasien skizofrenia dapat dilakukan dengan terapi pengobatan antipsikotik (Yudhantara & Ratri, 2. Pasien skizofrenia umumnya akan mengalami beberapa kondisi, seperti delusi dan halusinasi sebagai gejala positif, perubahan semangat, berkurangnya kata dan hubungan sosial sebagai gejala negatif, serta terganggunya kognitif. Perubahan pola pikir, cara pandang, emosional, komunikasi, dan tindakan akan ditunjukkan pada penderita Kekambuhan yang dominan adalah gejala positf, tetapi gejala negatif dan gangguan kognitif bersifat kronis (Pasaribu et al. , n. Obat-obat antipsikotik merupakan obatobat yang data menekan fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa mempengaruhi fungsi umum seperti berpikir dan berkelakuan normal (Fitrikasari & Kartikasari, 2. Obat-obat antipsikotik termasuk dalam golongan obatobatan tertentu yang diawasi dengan ketat peredarannya karena rawan disalahgunakan (WHO, 2. Sehingga, terdapat catatan khusus untuk penggunaan obat-obatan yang tergolong obat-obat tertentu di semua pelayanan kesehatan seperti, klinik, rumah sakit, maupun puskesmas (Fitrikasari & Kartikasari, 2. Ketidakpatuhan minum obat . edication nonadherenc. pada pasien skizofrenia merupakan fenomena yang kompleks dan multifactorial. Pasien skizofrenia antara 40 Ae 60% menunjukkan ketidakpatuhan minum obat (Hyjlund et al. , 2. Faktor-faktor ketidakpatuhan meliputi kurangnya wawasan pasien terhadap penyakit . , efek samping obat, kompleksitas regimen terapi, stigma sosial, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, dan kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial (WHO, 2. Ketidakpatuhan dapat kekambuham, perburukan gejala, peningkatan angka rawat inap, serta beban ekonomi yang lebih tinggi pada pasien, keluarga, maupun system kesehatan. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu determinan utama dalam keberhasilan terapi skizofrenia. Pasien yang memiliki tingkat kepatuhan tinggi cenderung menunjukkan stabilitas klinis yang lebih baik, penurunan angka relaps, serta peningkatan kualitas hidup dan fungsi sosia (Tiihonen et al. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakit dan terapi, efek samping obat, rendahnya dukungang keluarga, stigma sosial, dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan adalah melalui edukasi kesehatan yang terstruktur. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi juga kepada keluarga. Edukasi yang baik dapat meningkatkan pemahaman mengenai penyakit, tujuan terapi, pentingnya kepatuhan minum obat, serta cara mengelola efek samping obat (Nailul Faiza et al. , 2. Edukasi mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan sosial terhadap pasien (WHO, 2. Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai efektif dalam menjangkau pasien skizofrenia yang berada di lingkungan Masyarakat serta dapat meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses pengobatan. Berdasarkan observasi tersebut, diperlukan suatu upaya meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian Masyarakat dengan judul AuEdukasi Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Skizofrenia sebagai Upaya Peningkatan Keberhasilan TerapiAy menjai relavan dan penting untuk dilaksanakan. Kegiatan ini bertujuan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien serta keluarga dalam menjalankan terapi, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien skizofrenia. METODE Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode edukasi berbasis kunjungan rumah (Home Visi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 26 Januari hingga 07 Februari dengan responden pasien skizofrenia yang berjumlah 22 orang di wilayah Kecamatan Moyudan. Kecamatan Godean, dan Kecamatan Seyegan. Subjek kegiatan adalah pasien skizofrenia yang sedang menjalani terapi pengobatan dan didampingi oleh keluarga. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi, yaitu pasien yang bersedia diwawancara serta dapat berkomunikasi secara langsung atau melalui pendamping keluarga. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya. Wawancara bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepatuhan minum obat, tingkat pemahaman pasien dan keluarga terhadap terapi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Aspek yang dikaji pemahaman manfaat terapi, pengalaman efek samping, serta hambatan dlam menjalani Intervensi yang diberikan berupa edukasi kesehatan secara langsung kepada pasien dan keluarga. Edukasi dilakukan secara individual dengan pendekatan komunikatif dan partisipatif, mencakup informasi mengenai pentingnya ketidakpatuhan, cara penggunaan obat yang benar, serta strategi peningkatan pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan minum obat serta adanya komitmen pasien atau keluarga pendamping untuk menjalankan terapi secara Tahap pelaksanaan kegiatan ini adalah. Tahap identifikasi dan pendataan pasien skizofrenia, koordinasi dengan pihak terkait . enaga kesehatan setempat dari Puskesmas Moyudan dan Puskesmas Seyegan/keluarga pasie. , penyusunan instrument wawancara terstruktur dan materi edukasi, persiapan administrasi Tahap pelaksanaan kunjungan rumah (Home Visi. dilakukan dengan mengunjungi rumah pasien secara langsung, perkenalan dan penjelasan tujuan kegiatan kepada pasien dan keluarga, dan melakukan wawancara terstruktur untuk menggali informasi terkait kepatuhan minum obat . ola kepatuhan minum obat, tingkat pemahaman terapi, hambatan dalam pengobatan, dan peran keluarga dalam mendukung terap. Tahap edukasi dilakukan secara langsung kepada pasien skizofrenia dan keluarga yang mencakup penjelasan pentingnya kepatuhan minum obat, informasi mengenai manfaat dan tujuan terapi. Risiko serta konsekuensi ketidakpatuhan, cara penggunaan obat yang benar, serta strategi untuk . isalnya menggunakan alarm pengingat obat dan dukungan keluarg. Tahap evaluasi dikalukan secara kualitatif melalui observasi respon pasien dan keluarga selama kegiatan dan diskusi singkat untuk menilai pemahaman setelah edukasi. Tahap dokumentasi Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm dilakukan wawwancara dan edukasi serta dokumentasi kegiatan . esuai dengan izin yang diberikan oleh pasien dan/atau keluarg. Gambar 2. Edukasi dengan Pasien dan Keluarga HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dan home visit ke pasien skizofrenia diadapatkan hasil sebanyak 22 responden dengan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Karalteristik responden Karakteristik Frekuensi (%) Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan 7 . Total Usia (Tahu. 15 Ae 24 25 Ae 59 Total Status Pekerjaan Bekerja 5 . Tidak Bekerja 17 . Total Berdasarkan Tabel 1. Menunjukkan bahwa sebanyak 15 . %) responden pasien laki-laki, responden mayoritas berusia 25 Ae 59 tahun yaitu sebanyak 21 orang . %), dan dengan status pekerjaan tidak bekerja sebanyak 17 orang . %). Gambar 1. Wawancara dengan Pasien Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Tabel 2. Distribusi Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Skizofrenia Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan Tinggi Kepatuhan Sedang Kepatuhan Rendah Frekuensi (%) 14 . Pada Tabel. 2 didapatkan sebanyak 14 orang . %) berada ditingkat kepatuhan tinggi dalam kepatuhan minum obat. Kegiatan Masyarakat tersebut didapatkan hasil bahwa sebagian besar pasien skizofrenia memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi, yaitu sebanyak 14 orang . %), kepatuhan sedang sebanyak 7 orang . %), dan kepatuhan rendah sebanyak 1 orang . %). Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan memiliki kontribusi positif dalam kepatuhan pasien terhadap terapi Hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pasien telah memiliki kesadaran yang cukup baik dalam menjalankan terapi pengobatan secara rutin. Tingginya proporsi kepatuhan dapat dikaitkan dengan efektivitas edukasi yang diberikan secara langsung melalui pendekatan kunjungan rumah . ome visi. Pendekatan ini memungkinkan penyampaian informasi yang lebih personal, interaktif, serta disesuaikan dengan kondisi pasien dan lingkungan Keberadaan pasien dengan kepatuhan sedang mengindikasikan bahwa meskipun pasien telah memiliki pemahaman dasar mengenai pentingnya pengobatan, namun menjalankan terapi. Studi oleh Hyjlund et al. melaporkan bahwa ketidakpatuhan pada pasien skizofrenia masih berada pada kisaran 40Ae60%, yang menunjukkan bahwa kepatuhan optimal masih menjadi tantangan global. Temuan dalam kegiatan ini yang menunjukkan proporsi kepatuhan tinggi lebih dari separuh responden mengindikasikan bahwa pendekatan edukasi berbasis komunitas, khususnya dengan metode kunjungan rumah, memiliki potensi konvensional berbasis fasilitas kesehatan. Edukasi yang dilakukan secara langsung di lingkungan pasien memungkinkan tenaga kesehatan untuk menyesuaikan materi dengan kondisi nyata pasien, termasuk kebiasaan minum obat, dukungan keluarga, serta hambatan yang dihadapi sehari-hari. Hal ini berbeda dengan edukasi di fasilitas kesehatan yang cenderung bersifat umum dan memiliki keterbatasan waktu. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi WHO . yang menekankan pentingnya pelayanan kesehatan jiwa berbasis komunitas dan berpusat pada pasien . erson-centred car. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan peningkatan kepatuhan pengobatan pada pasien skizofrenia, terutama dalam hal pengawasan konsumsi obat dan dukungan emosional. (Tiihonen et al. , 2. Dalam konteks kegiatan ini, edukasi yang melibatkan keluarga secara peningkatan peran caregiver, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap tingginya tingkat kepatuhan. Faktor internal seperti rendahnya insight terhadap penyakit, persepsi negatif terhadap penggunaan obat jangka panjang, serta pengalaman efek samping masih menjadi hambatan yang signifikan. Keturunan atau gen menjadi faktor paling dominan dalam menyebabkan skizofrenia. Orang tua dengan skizofrenia akan berisiko secara genetik untuk menurunkan ke anak-anaknya. Anak-anak dengan orang tua skizofrenia berisiko menunjukkan gejala skizofrenia sekitar 15%, jika kedua orang tua menderita skizofrenia jumlah ini akan meningkat menjadi 35%. Kondisi sistem otak diketahui lebih sedikit jaringannya pada pasien Kondisi tersebut diakibatkan oleh masa perkembangan yang tidak optimal sehingga menyebabkan hilangnya susunan otak. Sistem neurotransmitter kranial pada pasien skizofrenia juga mengalami perubahan, pada orang normal sistem sakelar berfungsi dnegan baik di otak. Sinyal persepsi yang akan datang akan dikirim kembali tanpa ada hambatan untuk mengambil emosi dan pikiran. Pada pasien skizofrenia sinyal yang ditransmisikan diblokir di otak sehinggal mencegah koneksi ke sel tersebut (Mashudi, 2. Faktor eksternal seperti stigma sosial terhadap gangguan jiwa dan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan juga berpotensi memengaruhi keberlanjutan kepatuhan pasien. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi dalam mengisi kesenjangan antara pendekatan klinis berbasis fasilitas kesehatan dan kebutuhan intervensi yang lebih kontekstual di masyarakat. Pengembangan program diperlukan untuk lebih terintegrasi, berkelanjutan, serta didukung oleh evaluasi yang lebih kuat untuk memastikan peningkatan kepatuhan yang konsisten dan Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm berdampak keberhasilan terapi. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia menunjukkan hasil yang positif, dengan mayoritas pasien berada pada kategori kepatuhan tinggi . %). Dukungan yang bersumber dari keluarga sangat perlu agar penderita skizofrenia selalu merasa bahagia dan Keluarga mampu memberi perhatian dan kasih sayang, sehingga pasien dapat tetap fokus menjalani pengobatan. Lingkungan sosial juga memiliki peran yang krusial bagi pasien skizofrenia karena mampu memberikan dukungan emosi dan pengetahuan, sehinggal kecemasan yang mungkin terjadi dapat dicegah dan menurunkan persepsi negatif terhadap penderita skizofrenia. Dukungan dari petugas kepatuhan karena edukasi kesehatan yang benar dapat bersumber dari petugas medis, sehingga penderita skizofrenia dapat berperilaku menjaga kesehatan seperti kepatuhan konsumsi obat. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini, disarankan agar edukasi kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia dilakukan secara berkelanjutan, terstruktur, dan melibatkan keluarga sebagai pendamping utama pasien, karena dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan keteraturan konsumsi obat dan mencegah kekambuhan. Tenaga kesehatan juga perlu menggunakan metode edukasi yang sederhana, komunikatif, dan sesuai dengan kondisi pasien agar informasi yang diberikan lebih mudah dipahami. Selain itu, diperlukan pemantauan rutin terhadap kepatuhan minum obat serta pengembangan kegiatan serupa dengan jumlah peserta yang lebih besar dan waktu pendampingan yang lebih panjang agar manfaat edukasi dapat dievaluasi secara lebih optimal. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm UCAPAN TERIMAKASIH Dengan penuh rasa hormat dan terima kasih, kami mengucapkan apresiasi yang sebesarbesarnya kepada seluruh pasien skizofrenia dan keluarga pasien yang telah bersedia menjadi pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA