Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp Ida Agus Setiawati1. Rany Claudia2 Jurusan Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Bengkulu Jurusan Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Bengkulu corresponding author: iasetiawati@unib. id, rclaudia@unib. Received: November 10, 2025. Revised: November 25, 2025. Accepted: November 27, 2025. Published: November 30, 2025 Abstract Mamak in matrilineal societies in Minangkabau hold a prominent position as the person responsible for the main family and their family of origin, including their nephews and This role is not limited to that of an uncle, but also as a leader and guardian of family heirlooms. However, this role cannot be optimally performed by mamak who live far from their homeland. Social media has become an alternative for mamak to maintain communication, preserve relationships, foster family traditions, and provide attention to their nieces and nephews. However, virtual communication poses obstacles for mamak to perform their roles optimally. This study uses descriptive qualitative research. The technique for determining informants is purposive sampling with 7 informants who are migrants. The results of the study show that the obstacles found are ineffective emotional closeness and interaction with nieces and nephews, adaptation from conventional to virtual communication makes it difficult for mamak to use social media, internet networks that are sometimes unstable, and limited internet quota costs. In this virtual communication, these obstacles affect social symbols and emotional closeness that can be interpreted and translated in direct interactions to maintain family relationships with nieces and nephews. Keywords: Communication. Social Media. WhatsApp Abstrak Mamak dalam masyakat yang menganut sistem matrilineal di Minangkabau memiliki kedudukan utama sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap keluarga utama maupun keluarga asalnya, termasuk pada kemenakannya. Peran tersebut tidak hanya sebatas paman, namun juga sebagai pemimpin, penjaga harta pusaka, namun hal ini tidak dapat optimal dilakukan dalam kondisi mamak yang tinggal diperantauan karena berada jauh dari daerah Media sosial menjadi alternative bagi mamak untuk tetap dapat berkomunikaasi, menjaga hubungan, membina tradisi keluarga dan memberikan perhatian pada kemenakan. Akan tetapi, komunikasi via virtual memiliki hambatan untuk mamak dapat menjalankan perannya dengan maksimal. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan purposive sampling dengan 7 informan perantau. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa hambatan yang ditemukan yaitu kedekatan emosional dan interaksi dengan kemenakan yang tidak efektif, adaptasi peralihan dari komunikasi konvensional ke virtual menjadikan mamak kesulitan dalam menggunakan media sosial, jaringan internet yang kadang kala tidak lancar dan biaya kuota internet yang terbatas. Dalam komunikasi virtual ini hambatan tersebut mempengaruhi simbol-simbol sosial dan kedekatan emosional yang dapat dimaknai dan diterjemahkan dalam interksi secara langsung untuk menjaga relasi kekeluargaan dengan kemenakan. Keywords: Komunikasi. Media Sosial. WhatsApp ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang heterogen, memiliki berbagai macam suku, etnis, budaya, bahasa dan agama (Aji et al. , 2022. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Keberagaman tersebut menjadikan setiap daerah memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing, baik dalam pola kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat ((Sukmawati & Wulandari, 2. Salah satunya yaitu Minangkabau yang menjadi sebutan khas bagi daerah Sumatera Barat (Yuliani. Dalam budaya kekeluargaan di Minangkabau yang menganut sistem matrilineal, menempatkan mamak yakni saudara laki-laki tertua dari pihak ibu sebagai posisi tertinggi dalam keluarga (Fadli, 2023. Yuliani, 2. Mamak memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan, pendidikan dan menjaga harta pusaka keluarga (Suryanto, 2021. Fadli, 2. Tanggung jawab ini tidak hanya pada saudara perempuan, namun juga pada anak perempuan dari saudaranya, atau yang disebut dengan istilah kemenakan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020. Hamid, 2. Peran mamak sangat krusial dalam keluarga karena tidak hanya sekedar status paman, namun juga bertugas memelihara, membina serta memimpin kehidupan dan kebahagiaan seluruh kemenakan serta keluarganya (Rahman, 2022. Fadli, 2. Namun, peran ini menjadi tidak maksimal saat kondisi keberadaan mamak jauh dari keluarga batih (Pratama, 2. Hal ini dikarenakan banyaknya mamak yang merantau keluar daerah setelah menginjak usia dewasa (Nasution, 2. Merantau sendiri adalah bagian ciri khas dari Minangkabau (Syafril, 2. Alasan merantau karena berbagai hal, yaitu mencari ilmu, pengalaman dan dapat menjalin interaksi dengan orang lain dari berbagai daerah (Iswandi, 2. Kemudian seiring berjalannya waktu, karena faktor menikah, mendapatkan pekerjaan tetap atau telah memiliki usaha di perantauan sehingga menjadikan mamak menetap di daerah rantau dan enggan kembali ke kampong halaman (Yusuf, 2. Hal ini mempersulit hubungan interaksi dan komunikasi antara mamak dan kemenakan (Pratama, 2. Biasanya mamak akan rutin berkunjung kerumah gadang untuk sekedar bersilaturahmi atau memutuskan suatu hal sehingga terjalin kedekatan emosional antar keluarga (Hamid, 2. Namun kondisi ideal ini tidak dapat dilakukan karena tinggal jauh di perantauan dan menyebabkan pudarnya ketaatan pada adat istiadat leluhurnya (Sari & Rahman, 2. Pekanbaru merupakan salah satu daerah yang ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 cukup banyak menjadi tempat perantuan masyarakat Minangkabau (Harian Haluan Riau, 2. Letak geografis yang bersebelahan, potensi wilayah yang kaya akan minyak, pertambangan dan perkebunan. Pekanbaru menjadi pilihan tujuan merantau (Badan Pusat Statistik, 2. Persentasi etnis Minangkabau di Pekanbaru tahun 2024 terdapat 40,96% dari seluruh total penduduk Pekanbaru. Sedangkan data tahun 2025 Gubernur Sumatera Barat menyatakan 1,2 juta penduduk Pekanbaru, 40 % adalah masyarakat Minangkabau. Dapat dilihat bahwa hampir setengah masyarakat di Pekanbaru adalah perantau dari Sumatera Barat. Menetapnya mamak di perantauan memberikan dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap keberlangsungan sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau beserta nilai dan norma yang melekat di dalamnya (Sukmawati, 2. Kedekatan hubungan antara seorang suami dengan keluarga intinya cenderung mengakibatkan berkurangnya intensitas dan kekuatan relasi laki-laki Minangkabau dengan anggota keluarga dari garis keturunannya sendiri (Ahsani et al. , 2. Mamak yang menetap secara permanen di perantauan tidak dapat lagi menjalankan fungsi serta perannya secara optimal (Pratama, 2. Kondisi ini berimplikasi pada menurunnya intensitas hubungan antara mamak dan kemenakannya. Berkurangnya kedekatan tersebut tampak melalui pola komunikasi yang semakin jarang dan kurang intensif antara keduanya (Ahsani et al. , 2. Di tengah kemajuan teknologi masyarakat dimudahkan dengan adanya handphone dan media sosial untuk dapat berkomunikasi jarak jauh, berbisnis, mencari ilmu bahkan bekerja. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat yaitu Whatsapp. Platform ini memberikan fitur-fitur yang menarik, tidak hanya fitur chat namun juga ada fitur panggilan telepon, grup, video call dan story (Amaliadanti et al. , 2. Riset yang dilakukan oleh Wearesocial Hootsuite . terdapat 150 juta pengguna aktif media sosial yang setara dengan 56 % dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan pada tahun 2020 mengalami peningkatan menjadi 85 % pengguna. APJII . juga melakukan riset bahwa persentase 49,52 % paling banyak pada usia 19-34 tahun, usia 35-49 tahun berjumlah 29,55 %, rentang usia 13-18 tahun berjumlah 16,68 %, dan 54 tahun keatas sebesar 4,24 % dari keseluruhan pengguna internet. Dari data tersebut artinya mayoritas masyarakat sudah akrab dengan digital. Platform Whatsapp memberikan kemudahan kepada penggunanya untuk berinteraksi baik secara individu maupun grup (Sabilla & Rochmaniah, 2. Banyak pengguna yang menjadikan Whatsapp sebagai media ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp untuk memberikan informasi dengan keluarga, menyampaikan pesan, berbagi kegiatan, rapat bersama dan membuat grup keluarga untuk dapat terhubung dengan semua keluarga baik yang berada didaerah asal maupun di perantauan (Halim, 2. Mamak yang telah menetap didaerah rantau menjadikan Whatsapp sebagai alternatif media berkomunikasi dengan kemenakan-nya (Yulianti et al. , 2. Meski demikian, peralihan komunikasi secara konvensional menjadi via virtual ini memiliki hambatan tersendiri (Schwartz et al. , 2024. Dimana dalam komunikasi secara langsung . ace to face comunicatio. , proses penyampaian pesan tidak hanya mengandalkan teks dan kata-kata saja tetapi juga melibatkan unsur lain seperti gestur tubuh, ekspresi wajah, nada suara dan eye contact (Daft & Lengel, 1. Seluruh elemen tersebut berperan penting dalam menyampaikan pesan dan menerima pesan dari komunikan (Schwartz et al. , 2. Begitu pula dalam konteks penelitian ini, mamak akan dapat memberikan perhatian yang penuh dan menjalin interaksi jika melalui komunikasi secara langsung (Daft & Lengel, 1986. Yulianti et al. , 2. Namun berbeda ketika hal ini dilakukan via virtual, keterbatasan tersebut menjadi hambatan dalam melakukan perannya (Schwartz et al. , 2024. Weizmann Institute of Science, 2. Hal ini selaras dengan kajian Sosiologi bahwa interaksi sosial atau komunikasi antar individu merupakan langkah awal dalam pengharmonisasian fungsi-fungsi sosial dan berbagai kebutuhan individu lainnya. Seluruh kegiatan interaksi sosial atau komunikasi antar individu tersebut dilakukan secara verbal, nonverbal maupun simbolis (Bungin, 2009:. Penelitian terdahulu yang dikaji oleh Hutomo . mengenai Computer Mediated Communication by Gen Z in the Whatsapp Group Family menemukan bahwa generasi muda (Gen Z) memandang Whatsapp sebagai ruang komunikasi praktis dan efisien, tetapi sering mengalami kesulitan dalam menyesuaikan gaya bahasa serta topik percakapan dengan anggota keluarga yang lebih tua. Hambatan ini muncul dalam bentuk kesalahpahaman pesan, perbedaan makna terhadap simbol tertentu, serta kecenderungan generasi muda untuk menarik diri dari percakapan keluarga yang dianggap tidak relevan. Penelitian lainnya oleh Undip . tentang Peran Anggota Keluarga Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Media Pada Generasi Baby Boomers menemukan bahwa generasi tua sering menghadapi hambatan teknis seperti kesulitan fitur aplikasi, kesalahan dalam membaca pesan dan ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Hambatan-hambatan Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 memperlemah intensitas komunikasi antar generasi dan menghambat penyampaian makna yang diinginkan. Penelitian tersebut terdapat perbedaan pada fokus kajian, dimana penelitian terdahulu lebih menekankan pada hambatan komunikasi keluarga secara general antar generasi dalam media digital tanpa melihat kerangka kekerabatan khusus dan belum menggali pengaruh media digital terhadap perubahan peran tradisional serta keberlangsungan fungsi sosial kekerabatan dalam konteks komunikasi virtual sedangkan penelitian ini akan mengkaji hambatan komunikasi virtual secara spesifik antara mamak dan kemenakan-nya yang mempengaruhi pergeseran peran dan keberfungsian kekerabatan tradisional. Sehingga hal ini perlu untuk dikaji untuk menambah keilmuan dan mengisi gap research pada bidang sosiologi komunikasi. Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer. Teori ini menekankan bahwa interaksi sosial terjadi melalui penggunaan simbol-simbol yang memiliki makna, yang kemudian ditafsirkan oleh para pelaku sosial. Dalam komunikasi digital, simbol tersebut hadir dalam bentuk teks, emoji, tanda baca, dan berbagai fitur pesan yang sering dipahami secara berbeda oleh mamak dan kemenakan. Perbedaan interpretasi inilah yang memicu kesalahpahaman, terutama ketika pesan yang biasanya disampaikan secara tatap muka seperti nasehat atau teguran mamak kehilangan konteks nonverbal yang penting dalam budaya kekerabatan. Penggunaan teori ini juga relevan dengan gap penelitian yang ditemukan. Penelitian terdahulu hanya membahas komunikasi keluarga secara umum atau hambatan antar generasi, tetapi belum menelaah bagaimana makna pesan, simbol digital, serta peran sosial mamak dipahami dan dinegosiasikan ulang dalam hubungan kekerabatan yang bercorak adat. Melalui interaksionisme simbolik, penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan melihat bagaimana makna dibentuk dan dimaknai ulang dalam komunikasi WhatsApp, serta bagaimana perbedaan penafsiran simbol dapat menimbulkan hambatan dalam hubungan mamakAekemenakan karena proses komunikasi tidak terjadi secara langsung sehingga menimbulkan perbedaan antara stimulus dan respons. Data penelitian yang diperoleh melalui wawancara mendalam serta studi dokumen terhadap para informan disajikan secara deskriptif dalam bentuk narasi, pendapat, foto, dan argumentasi guna memberikan jawaban yang sesuai dengan tujuan Dengan demikian, perilaku manusia tidak sekedar merupakan reaksi otomatis terhadap rangsangan, tetapi hasil dari pemaknaan yang diberikan individu ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp terhadap situasi sosial dan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi tersebut (Polama, 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, proses pengumpulan serta analisis data untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap permasalahan penelitian. Melalui metode ini peneliti dapat memberikan gambaran yang komprehensif sekaligus interprestasi yang lebih bermakna terhadap fenomena yang diteliti. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan literature review. Dalam melakukan literature review, peneliti menelusuri berbagai penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, baik yang bersumber dari artikel ilmiah, laporan penelitian, maupun publikasi akademik Telaah literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi temuan-temuan kunci, pendekatan teoritis, serta pola-pola yang telah dibahas oleh peneliti sebelumnya terkait komunikasi digital, dinamika hubungan kekerabatan, dan hambatan interaksional pada media sosial. Data dan temuan dari penelitian terdahulu kemudian dianalisis, dibandingkan, dan dihubungkan dengan fokus penelitian ini untuk melihat sejauh mana kesesuaian maupun perbedaannya. Proses perbandingan ini tidak hanya berfungsi untuk memperkuat landasan teoretis dan empiris penelitian, tetapi juga untuk mengidentifikasi ruang kosong . esearch ga. yang belum terisi dalam studi Dengan demikian, literature review tidak hanya berperan sebagai pijakan konseptual, tetapi juga sebagai dasar argumentatif untuk menunjukkan kontribusi dan kebaruan penelitian ini dalam menambah pemahaman mengenai hambatan komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui media digital. Dalam memperoleh data dari para informan, penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Afrizal, 2. Pemilihan informan dilakukan tidak secara acak, melainkan dengan mempertimbangkan kesesuaian karakteristik individu terhadap fokus penelitian. Dalam konteks ini, informan yang dipilih adalah mamak yang tinggal di perantauan dan secara aktif memanfaatkan WhatsApp sebagai sarana berkomunikasi dengan kemenakan-nya. Fokus penelitian ini adalah perilaku mamak dalam memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan kemenakan pada tujuh perantau Minangkabau di Pasar Selasa Panam. Kelurahan Tuah Karya. Informan penelitian berjumlah 10 orang, terdiri dari tujuh informan pelaku yang ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 telah memenuhi kriteria penggunaan media sosial dan tiga informan pengamat yang merupakan istri atau anak dari informan pelaku, serta juga aktif menggunakan media melainkan dijembatani oleh proses penafsiran terhadap makna tindakan orang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar mamak telah menggunakan media sosial setidaknya selama dua tahun terakhir. Faktor ketersediaan akses jaringan internet yang stabil di tempat tinggal mereka menjadi salah satu alasan utama yang mendorong pemanfaatan media sosial, khususnya sebagai sarana komunikasi dengan keluarga, teman, dan terutama kemenakan yang tinggal Intensitas komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui platform seperti whatsApp umumnya berlangsung sekitar dua kali dalam seminggu. Meskipun frekuensi komunikasi tersebut tidak terlalu tinggi, hubungan emosional antar keduanya tetap terjaga dengan baik. Kedekatan hubungan ini tercermin melalui tema percakapan yang sering muncul, seperti saling bertukar kabar, berbagi kegiatan selama bulan Ramadhan, serta menjaga tradisi kekeluargaan melalui video call saat sahur dan momen silaturahmi daring saat lebaran. Selain itu, mamak juga masih memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan keluarga, misalnya ketika kemenakan memerlukan izin atau restu untuk melangsungkan pernikahan. Temuan ini menunjukan bahwa komunikasi berbasis media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat bertukar informasi, tetapi juga sebagai media pelestarian hubungan kekerabatan dan nilai budaya Minangkabau ditengah keterbatasan jarak geografis. Hambatan Mamak dalam Berkomunikasi Melalui Media Sosial Kedekatan Emosional dan Interaksi dengan Kemenakan Komunikasi pada hakikatnya merupakan suatu proses pertukaran makna yang melibatkan penyampaian pikiran, ide, informasi, dan perasaan dari seorang komunikator kepada komunikan melalui simbol-simbol tertentu yang kemudian diinterpretasikan oleh penerima pesan. Dalam konteks hubungan keluarga, khususnya antara mamak dan kemenakan, komunikasi interpersonal menjadi bentuk komunikasi yang paling efektif dalam membangun dan mempertahankan kedekatan Komunikasi tatap muka . ace to face communicatio. memungkinkan terjadinya interaksi langsung, di mana kedua pihak dapat menangkap pesan verbal ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp maupun nonverbal seperti ekspresi wajah, gestur tubuh, dan intonasi suara yang memperkuat pemahaman makna dari pesan yang disampaikan. Namun, perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia berkomunikasi. Pergeseran dari komunikasi konvensional menuju komunikasi berbasis digital menjadikan media sosial seperti WhatsApp sebagai sarana alternatif bagi mamak untuk tetap menjalin komunikasi dengan kemenakan yang tinggal di kampung halaman, terutama ketika mamak menetap secara permanen di perantauan. Meskipun fitur video call pada media sosial memungkinkan adanya komunikasi visual, keterbatasan layar dan kualitas resolusi video sering kali menjadi hambatan dalam menangkap ekspresi wajah dan gestur tubuh secara utuh. Hal ini menyebabkan kedekatan emosional yang biasa terbangun melalui interaksi langsung menjadi sulit dipertahankan ketika komunikasi dilakukan secara daring. Dari hasil wawancara dengan informan, hambatan lain yang muncul adalah kesulitan mamak dalam mengekspresikan pesan kasih sayang melalui media sosial. Menurut mereka, makna kasih sayang dalam budaya Minangkabau sering kali lebih bermakna melalui tindakan fisik seperti menepuk pundak atau mengusap kepala kemenakan sebagai simbol kasih dan kedekatan yang sulit tergantikan dalam komunikasi virtual. Dengan demikian, media sosial tidak sepenuhnya mampu menggantikan fungsi interaksi langsung dalam membangun relasi emosional antara mamak dan kemenakan. Gangguan semacam ini dapat dikategorikan sebagai gangguan semantik, yakni kesenjangan makna yang muncul ketika simbol atau kata yang digunakan tidak dipahami secara seragam oleh komunikator dan komunikan. Jika ditinjau melalui perspektif Teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer, hambatan ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari perbedaan penafsiran terhadap simbol-simbol komunikasi. Menurut Blumer, makna terbentuk melalui interaksi sosial dan dimodifikasi melalui proses interpretasi yang terus berlangsung. Dalam konteks ini, simbol-simbol kasih sayang seperti sentuhan fisik atau ekspresi wajah memiliki makna yang mendalam bagi relasi antara mamak dan kemenakan. Ketika simbol-simbol tersebut tidak dapat dimediasi secara penuh melalui media sosial, makna emosional dari komunikasi tersebut menjadi tereduksi. Dengan kata lain, keterbatasan media digital telah mengubah proses pembentukan makna dan interaksi simbolik di antara kedua pihak. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Irwandi . komunikasi keluarga melalui media sosial di kalangan perantau Minangkabau cenderung mengalami penurunan kedekatan emosional karena keterbatasan ekspresi nonverbal yang tidak dapat tergantikan oleh simbol digital. Temuan serupa juga diungkapkan oleh Hidayat dan Siregar . dalam penelitian mereka mengenai komunikasi keluarga jarak jauh melalui WhatsApp di Indonesia, yang menyimpulkan bahwa meskipun komunikasi daring memudahkan interaksi, namun tidak sepenuhnya mampu menggantikan makna simbolik yang tercipta dalam komunikasi langsung. Dalam konteks penelitian ini juga selaras karena ditemukan bahwa komunikasi virtual berimplikasi pada kelekatan emosi antara mamak dan kemenakan menjadi menurun mengalami pergeseran makna kasih sayang yang tidak dapat dirasakan jika berinteraksi secara langsung. Dengan demikian, interaksi antara mamak dan kemenakan melalui media sosial merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi, namun tetap menghadapi tantangan dalam mempertahankan makna simbolik dan kedekatan emosional sebagaimana yang diuraikan dalam perspektif interaksionisme simbolik. Adaptasi dan Transisi Berkomunikasi Sebagian besar mamak yang menjadi informan dalam penelitian ini telah menggunakan WhatsApp selama dua hingga lima tahun sebagai sarana komunikasi dengan kemenakan dan anggota keluarga lainnya. Walaupun sudah cukup lama beradaptasi dengan media sosial, mereka tetap mengalami kesulitan dalam beralih dari pola komunikasi konvensional ke komunikasi berbasis digital. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang sosial dan pekerjaan para mamak yang sebagian besar merupakan pedagang pasar, yang terbiasa berinteraksi secara langsung dengan pelanggan, kerabat, dan rekan kerja. Pola komunikasi tatap muka yang mereka bangun sehari-hari di lingkungan seperti warung kopi atau pasar menciptakan suasana yang hangat dan cair ditandai dengan percakapan ringan, kontak fisik, serta ekspresi nonverbal yang memperkuat makna dalam interaksi sosial. Kebiasaan berkomunikasi dalam konteks sosial yang penuh kedekatan dan interaksi langsung ini sulit digantikan oleh komunikasi virtual melalui Whatsapp. Media sosial yang bersifat terbatas pada teks atau suara tidak mampu sepenuhnya merepresentasikan nuansa emosional dan simbolik yang biasa hadir dalam komunikasi tatap muka. Akibatnya, komunikasi antara mamak dan kemenakan ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp melalui WhatsApp cenderung bersifat formal, kaku, dan tidak mencerminkan kehangatan relasional sebagaimana interaksi langsung. Keterbatasan ini juga diperkuat oleh faktor generasi. Para mamak yang berusia antara 33 hingga 55 tahun tergolong ke dalam generasi yang tumbuh pada masa ketika teknologi digital belum berkembang pesat. Kondisi tersebut membuat mereka relatif kurang adaptif terhadap perkembangan teknologi komunikasi modern. Kesulitan yang sering muncul antara lain dalam mengoperasikan fitur-fitur media sosial, seperti saat mengetik pesan teks. Beberapa mamak memerlukan waktu lama karena kebingungan dalam mencari letak huruf di papan ketik ponsel pintar. Hambatan teknis semacam ini berimplikasi pada penyampaian pesan yang terbatas dan kurang elaboratif, sehingga sering kali menimbulkan perbedaan tafsir antara mamak dan kemenakan. Fenomena ini termasuk dalam kategori gangguan semantik, yakni gangguan komunikasi yang terjadi karena perbedaan pemaknaan terhadap simbol atau kata yang sama. Apabila ditinjau menggunakan teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer, kesulitan ini dapat dipahami sebagai bentuk perubahan dalam proses pembentukan makna yang muncul melalui interaksi sosial. Blumer menegaskan bahwa makna tidak melekat pada objek atau simbol itu sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi dan interpretasi yang dilakukan oleh individu. Dalam konteks ini, mamak yang terbiasa menafsirkan makna kasih sayang, keakraban, dan penghargaan melalui simbol fisik . eperti senyuman, gestur tubuh, atau percakapan langsun. mengalami kesulitan ketika simbol-simbol tersebut harus digantikan oleh teks atau ikon digital yang miskin nuansa emosional. Oleh karena itu, media sosial tidak hanya mengubah cara berinteraksi, tetapi juga memengaruhi bagaimana makna dibangun dan dimaknai dalam hubungan sosial antara mamak dan kemenakan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ramadhani dan Sari . yang menemukan bahwa generasi tua di Sumatera Barat mengalami kesulitan adaptasi terhadap komunikasi digital karena minimnya literasi teknologi, sehingga pesan yang disampaikan melalui media sosial sering kali kehilangan konteks sosial-budaya Penelitian Rohmah dan Susanto . juga menunjukkan bahwa komunikasi keluarga melalui Whatsapp pada generasi non-digital cenderung bersifat fungsional dan formal tanpa adanya ekspresi emosional yang kuat. Hal ini memperkuat bahwa hambatan dalam komunikasi digital bukan hanya bersifat teknis. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 tetapi juga simbolik dan kultural. Temuan dalam penelitian ini memperluas pemahaman mengenai hambatan komunikasi digital dengan menyoroti relasi kekerabatan yang lebih spesifik, yakni antara mamak dan kemenakan dalam budaya Minangkabau. Relasi ini memiliki muatan simbolik dan kultural yang kuat, sehingga peralihan komunikasi ke media digital seperti WhatsApp tidak hanya menimbulkan kendala teknis, tetapi juga mengganggu penyampaian makna simbolik yang selama ini disampaikan melalui gestur, ekspresi, dan kedekatan fisik. Dengan demikian, bahwa hambatan komunikasi digital pada relasi tradisional Minangkabau bersifat lebih kompleks karena menyangkut hilangnya dimensi kultural. Jaringan Internet Hambatan komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui media sosial, khususnya Whatsapp, tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial-budaya, tetapi juga mencakup hambatan teknis dalam proses komunikasi itu sendiri. Salah satu bentuk hambatan yang sering dialami adalah gangguan lingkungan . nvironmental nois. , yaitu gangguan yang bersumber dari faktor eksternal di luar kendali komunikator maupun komunikan. Berdasarkan hasil wawancara, bentuk gangguan lingkungan yang paling sering dialami oleh mamak adalah koneksi internet yang buruk atau tidak stabil, yang menyebabkan pesan suara, panggilan video, atau teks tidak tersampaikan dengan baik. Kualitas jaringan internet yang tidak stabil menjadi faktor penting yang memengaruhi efektivitas komunikasi digital. Meskipun pemerintah telah berupaya meningkatkan akses jaringan melalui berbagai program pemerataan infrastruktur digital agar internet dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, faktanya masih terdapat kesenjangan kualitas jaringan antarwilayah. Kondisi geografis, cuaca buruk seperti hujan deras, serta pemadaman listrik bergilir sering kali menjadi penyebab utama gangguan koneksi. Akibatnya, komunikasi yang dilakukan oleh mamak dengan kemenakan melalui media sosial menjadi terputus-putus dan tidak efisien, yang berdampak pada tidak tersampaikannya pesan secara utuh dan menimbulkan potensi salah tafsir dalam interaksi mereka. Dalam perspektif Interaksionisme Simbolik menurut Herbert Blumer, gangguan jaringan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berdampak pada proses pembentukan makna sosial dalam interaksi. Teori ini menekankan bahwa makna dibangun melalui interaksi simbolik yang berlangsung secara berkesinambungan antara individu. Ketika proses interaksi ini terganggu, misalnya karena jaringan ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp terputus atau komunikasi tidak sinkron maka proses interpretasi terhadap simbol, ekspresi, dan pesan juga ikut terganggu. Dalam konteks ini, mamak dan kemenakan mengalami hambatan dalam memahami maksud dan perasaan satu sama lain, sehingga makna simbolik dari hubungan kekerabatan tersebut menjadi tereduksi. Kajian tentang komunikasi digital pada generasi non-digital menunjukkan bahwa kesulitan dalam berinteraksi tidak hanya disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosial dan budaya, tetapi juga oleh masalah teknis yang mengganggu kelancaran komunikasi. Penelitian Nugraha dan Lestari . yang menemukan bahwa ketidakstabilan jaringan internet di daerah pedesaan Sumatera Barat berpengaruh terhadap menurunnya intensitas komunikasi keluarga perantau melalui media digital. Sementara itu. Ayu dan Pratama . dalam penelitiannya tentang hambatan komunikasi daring di wilayah semi-perkotaan juga menyebutkan bahwa gangguan teknis seperti jaringan lemah sering menurunkan kualitas komunikasi interpersonal karena pesan yang disampaikan menjadi tidak utuh dan kehilangan konteks emosionalnya. Hambatan jaringan sebagai bagian dari proses terbentuknya makna dalam interaksi kekerabatan mamak dan kemenakan. Gangguan internet tidak hanya menghambat arus pesan, tetapi juga memutus kesinambungan interaksi simbolik yang diperlukan untuk membangun dan mempertahankan makna hubungan Dengan demikian, penelitian ini mengisi gap bahwa hambatan jaringan tidak sekadar persoalan teknis, tetapi juga fenomena sosial yang berdampak langsung pada proses interpretasi simbol sebagaimana dijelaskan dalam teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hambatan komunikasi yang bersumber dari gangguan jaringan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan turut mengganggu proses konstruksi makna dan simbol sosial yang menjadi inti dari interaksi antara mamak dan kemenakan dalam perspektif interaksionisme simbolik. Keterbatasan Kuota Internet Selain gangguan lingkungan, penelitian ini juga menemukan bentuk hambatan komunikasi lain yang dikategorikan sebagai gangguan mekanik . echanical nois. , yaitu hambatan yang muncul akibat kendala pada alat atau perangkat yang digunakan untuk menunjang proses komunikasi. Dalam konteks komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui media sosial, bentuk gangguan mekanik tampak pada kendala penggunaan smartphone sebagai perangkat utama komunikasi. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 Smartphone membutuhkan dukungan paket data atau kuota internet agar dapat menjalankan aplikasi seperti WhatsApp yang menjadi sarana komunikasi utama antara keduanya. Pada era digital dan revolusi industri 4. 0, internet mobile telah menjadi kebutuhan primer masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari, termasuk dalam hal menjaga hubungan sosial dan kekerabatan. Namun, tingginya ketergantungan terhadap internet juga berarti munculnya beban ekonomi baru. Berdasarkan hasil wawancara, mamak yang menjadi informan dalam penelitian ini rata-rata harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp80. 000 hingga Rp300. 000 per bulan untuk membeli kuota internet. Perbedaan biaya ini bergantung pada penyedia layanan seluler dan kecepatan akses internet yang digunakan. Bagi sebagian mamak yang berprofesi sebagai pedagang dengan penghasilan tidak tetap, pengeluaran untuk kuota internet menjadi beban tambahan yang harus disesuaikan dengan prioritas kebutuhan rumah tangga. Hambatan mekanik seperti keterbatasan kuota internet berdampak pada keberlanjutan komunikasi digital antara mamak dan kemenakan. Ketika kuota habis atau sinyal tidak tersedia, komunikasi terhenti, dan hubungan sosial pun menjadi Dari perspektif teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer, kondisi ini dapat dimaknai sebagai terhambatnya proses interaksi simbolik yang menjadi dasar terbentuknya makna sosial. Menurut Blumer, makna tidak muncul secara otomatis, melainkan terbentuk melalui interaksi yang berkesinambungan antara individu. Dalam konteks ini, terputusnya komunikasi akibat kendala mekanik menghambat proses pertukaran simbol dan makna yang lazim terjadi dalam relasi mamak dan kemenakan. Akibatnya, pemaknaan terhadap nilai kekeluargaan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial yang biasanya diperkuat melalui interaksi rutin menjadi berkurang intensitasnya. Studi tentang hambatan komunikasi digital dalam keluarga menunjukkan bahwa faktor ekonomi memainkan peran kunci dalam menentukan keberlanjutan interaksi melalui media sosial. Artinya, kemampuan ekonomi keluarga dapat mempengaruhi akses dan penggunaan teknologi digital, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan frekuensi interaksi digital dalam keluarga. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kurnia dan Yuliani . bahwa keterbatasan kuota internet menjadi salah satu hambatan utama dalam menjaga intensitas komunikasi keluarga di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia. Penelitian tersebut ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp menegaskan bahwa faktor ekonomi berperan penting dalam menentukan keberlanjutan interaksi digital keluarga. Selain itu. Wulandari dan Simatupang . dalam penelitiannya tentang adaptasi komunikasi digital di kalangan orang tua di pedesaan juga menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya teknologi, termasuk biaya internet, mengurangi frekuensi komunikasi dan berdampak pada penurunan kualitas hubungan interpersonal. Dengan menggunakan perspektif Interaksionisme Simbolik, penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan kuota tidak hanya mengganggu komunikasi, tetapi juga menghentikan proses pembentukan makna sosial yang penting dalam hubungan kekerabatan. Dengan demikian, penelitian ini mengisi celah dalam kajian sebelumnya dengan menyoroti dampak langsung keterbatasan kuota pada intensitas dan makna simbolik dalam relasi mamak-kemenakan. Gangguan mekanik yang muncul akibat keterbatasan perangkat dan kuota internet tidak hanya menghambat komunikasi secara teknis, tetapi juga berdampak pada proses sosial yang lebih mendalam yakni terhambatnya pembentukan dan pertukaran makna simbolik antara mamak dan kemenakan sebagaimana dijelaskan oleh Blumer dalam teori interaksionisme simbolik. Implikasi Temuan dengan Teori Interaksionisme Simbolik Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup terpisah Dalam membutuhkan interaksi sosial sebagai sarana untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan menjalankan fungsi sosialnya. Salah satu bentuk utama dari interaksi sosial tersebut adalah komunikasi, yakni proses penyampaian pesan antara komunikator dan komunikan melalui simbol, bahasa, dan makna yang diinterpretasikan. Dalam perspektif interaksionisme simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer, komunikasi dipandang sebagai proses pertukaran simbol di mana individu memberikan makna terhadap tindakan dan pesan orang lain sebelum memutuskan bagaimana harus bertindak. Blumer mengemukakan tiga premis utama. Pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki terhadap sesuatu itu. Dalam konteks penelitian ini, mamak menggunakan media sosial seperti Whatsapp karena makna yang melekat pada peran sosialnya dalam budaya Minangkabau, yaitu tanggung jawab untuk membimbing, menasihati, dan menjaga hubungan dengan kemenakan serta kaum di kampung halaman. Bagi mamak, tindakan menggunakan media sosial ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 tidak sekadar aktivitas teknologis, tetapi juga refleksi dari makna sosial yang ditanamkan oleh budaya yakni menjaga kesinambungan hubungan keluarga dan tanggung jawab moral terhadap kaum. Selain itu, makna lain yang melekat pada diri mamak adalah identitas sebagai pekerja dan rekan sejawat. Makna ini memengaruhi cara mamak berinteraksi di media sosial misalnya penggunaan bahasa yang lebih santai dengan teman sejawat, namun lebih formal atau bernuansa nasihat ketika berkomunikasi dengan kemenakan. Premis kedua, makna yang dimiliki individu berasal dari interaksi sosial dengan orang lain. Artinya, pola komunikasi mamak dibentuk melalui pengalaman interaksi sehari-hari dengan berbagai peran sosialnya. Bagaimana mamak berbicara, menasihati, atau memberikan pandangan dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial yang telah diinternalisasi melalui proses sosial budaya Minangkabau. Bahasa yang digunakan terutama penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi digital menjadi simbol identitas sekaligus bentuk pemeliharaan nilai kekerabatan yang khas. Premis ketiga, makna dimodifikasi melalui proses interaksi sosial yang Setiap kali mamak berkomunikasi dengan kemenakan, terjadi proses penyesuaian makna berdasarkan tanggapan yang diterima. Ketika pesan atau nasihat mamak direspons positif oleh kemenakan, maka hal tersebut memperkuat kecenderungan mamak untuk terus berinteraksi dengan cara serupa. Namun, apabila tanggapan yang diterima bersifat negatif atau kurang sesuai, maka mamak akan menyesuaikan gaya bahasa, intensitas, atau bentuk pesan di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa makna dan tindakan sosial senantiasa bersifat dinamis. Lebih lanjut. Blumer juga memperkenalkan konsep self-indication, yaitu proses di mana individu secara aktif menilai, memberi makna, dan memutuskan tindakan berdasarkan interpretasi pribadi terhadap pesan yang diterima. Dalam konteks penelitian ini, mamak menunjukkan proses self-indication ketika menerima pesan penting dari kemenakan, seperti permintaan restu untuk menikah atau meminta nasihat terkait pekerjaan. Sebelum memberikan tanggapan, mamak terlebih dahulu mempertimbangkan makna sosial dan emosional dari situasi tersebut. Setelah proses refleksi dan interpretasi, barulah mamak mengambil keputusan tentang tindakan yang dianggap tepat. Dengan demikian, tindakan mamak bukan hasil paksaan eksternal . eperti norma struktura. atau dorongan internal semata, tetapi lahir dari proses penilaian subjektif dan rasional yang disebut interpretasi simbolik. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Ida Agus Setiawati. Rany Claudya Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp Namun, proses interpretasi ini tidak selalu berjalan sempurna. Hambatan teknis seperti gangguan jaringan internet, kesulitan membaca pesan karena keterbatasan penglihatan, atau ketidakmampuan memahami ekspresi nonverbal melalui media digital dapat mengganggu proses pembentukan makna. Ketidaksempurnaan dalam menginterpretasikan pesan dapat memicu kesalahpahaman, yang pada akhirnya berdampak pada hubungan sosial antara mamak dan kemenakan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sari dan Purnamasari . yang menjelaskan bahwa penggunaan media sosial oleh keluarga perantau di Sumatera Barat berfungsi sebagai sarana mempertahankan ikatan emosional, tetapi juga sering mengalami hambatan makna akibat keterbatasan teknologi dan perbedaan generasi digital. Selain itu, penelitian Rahman . menunjukkan bahwa komunikasi keluarga melalui WhatsApp rentan terhadap misinterpretasi pesan karena absennya ekspresi nonverbal dan perbedaan kemampuan literasi digital antar anggota keluarga. Berdasarkan teori interaksionisme simbolik, dapat dipahami bahwa komunikasi antara mamak dan kemenakan bukan hanya sarana pertukaran informasi, tetapi juga arena pembentukan, peneguhan, dan modifikasi makna sosial. Hambatan yang terjadi, baik teknis maupun psikologis, memengaruhi bagaimana simbol-simbol sosial dimaknai dan diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjaga relasi kekeluargaan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa proses komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui media sosial, khususnya WhatsApp, merupakan bentuk interaksi sosial yang sarat makna dan dipengaruhi oleh konteks budaya Minangkabau. Dalam perspektif interaksionisme simbolik Herbert Blumer, tindakan komunikasi mamak tidak hanya dilihat sebagai pertukaran pesan semata, tetapi juga sebagai proses interpretasi makna terhadap simbol-simbol sosial yang terkandung dalam pesan Sebagai figur sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kemenakan dan kaumnya, mamak menafsirkan penggunaan media sosial sebagai sarana alternatif untuk menjalankan peran sosialnya ketika keterbatasan jarak menjadi penghalang komunikasi langsung. Tindakan mamak dalam menggunakan WhatsApp didorong oleh makna yang melekat pada dirinya sebagai seorang pembimbing, pekerja, dan anggota kaum. Namun, proses komunikasi ini juga diwarnai oleh berbagai hambatan, baik sosiologis maupun teknis, seperti ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 2 November 2025 keterbatasan adaptasi terhadap teknologi, gangguan jaringan internet, keterbatasan kemampuan menggunakan fitur aplikasi, serta hilangnya unsur nonverbal dalam komunikasi digital. Hambatan-hambatan tersebut berimplikasi pada terjadinya gangguan semantik dan interpretatif yang dapat menyebabkan kesalahpahaman makna pesan. Meskipun demikian, melalui proses self-indication, mamak tetap berperan aktif dalam menilai, memberi makna, dan menentukan tindakan yang dianggap tepat dalam setiap interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi bersifat reflektif, dinamis, dan bergantung pada interpretasi simbolik yang dibentuk oleh pengalaman sosial dan nilai budaya yang dimiliki mamak. Dengan demikian, komunikasi antara mamak dan kemenakan di ranah digital tidak hanya merepresentasikan adaptasi teknologi, tetapi juga merupakan bentuk keberlanjutan nilai-nilai sosial budaya Minangkabau di era modern. Interaksi ini menegaskan bahwa simbol, makna, dan interpretasi tetap menjadi inti dari hubungan sosial, sekalipun dijembatani oleh teknologi komunikasi baru seperti media sosial. REFERENSI