http://ejurnal. id/index. php/photon Faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan NAPZA di Masyarakat Rahmi Indiani*. Siti Nurazizah AH. Rivandia Listi. Mochamad Bhagas Abdulah Faculty of Health. Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia *Correspondence e-mail: rahmiindiani@gmail. Abstract Deaths due to drugs in Indonesia are estimated at 50 people per day. This causes the problem of drug abuse to become a BNN continues to act to prevent the wider spread of drugs in the community, such as tracking for drug trafficking However, drug abuse and drug distribution by irresponsible persons persists and this problem never ends in the This study aims to analyze the factors that can cause people to abuse drugs by using the literature study method. The results show that the factors of drug abuse are personality, family, economy, environment, education, behaviour, age and Therefore, the role of the community is needed to prevent drug trafficking and drug abuse in the immediate environment by looking at the factors that can lead to drug abuse so that drug deaths can be reduced. Keywords: Drugs, community, drugs abuse Abstrak Kematian akibat NAPZA di Indonesia diperkirakan mencapai 50 orang perhari. Hal ini menyebabkan permasalahan penyalahgunaan NAPZA menjadi prioritas. BNN terus bertindak untuk mencegah penyebaran NAPZA yang lebih luas di masyarakat di masyarakat seperti pelacakan jaringan peredaran narkoba. Namun, penyalahgunaan dan penyebaran NAPZA oleh oknum tidak bertanggungjawab terus berlanjut dan permasalahan ini tidak kunjung usai di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor yang dapat mengakibatkan masyarakat melakukan penyalahgunaan NAPZA dengan metode studi pustaka. Hasil menunjukkan bahwa yang menjadi faktor dari penyalahgunaan narkoba adalah kepribadian, keluarga, ekonomi, lingkungan. Pendidikan, perilaku, umur dan jenis kelamin. Oleh karena itu dibutuhkan peran masyarakat untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan NAPZA di lingkungan terdekat dengan melihat faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyalahgunaan NAPZA sehingga kematian akibat NAPZA menurun. Kata kunci NAPZA, masyarakat, penyalahgunaan, obat Pendahuluan Pembangunan nasional memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang seutuhnya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Masyarakat yang ingin dibentuk dalam pembangunan nasional adalah masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan damai. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dilakukan berbagai macam rencana, salah satunya adalah peningkatan bidang aspek kehidupan seperti bidang kesehatan (Maulida Indriani, 2. Pada bidang kesehatan khususnya obat-obatan tentu tidak asing dengan NAPZA. NAPZA biasanya digunakan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan atau pengobatan yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan mengobati suatu masalah dalam kesehatan manusia dengan dosis yang terukur. Permasalahan muncul dimasyarakat saat narkoba digunakan dengan cara yang salah dan bukan bertujuan untuk peningkatan kesehatan dan pengobatan (Isnaini, 2. NAPZA merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif berbahaya yang masingmasing dikategorikan dalam beberapa golongan. Narkotika adalah obat-obatan yang berfungsi menurunkan rasa sakit dan kesadaran, penggolongan obat ini ada 3 yaitu golongan 1 . eroin & metamfetami. merupakan narkotika yang memiliki potensi kecanduan yang tinggi dan tidak boleh digunakan untuk terapi, golongan 2 . merupakan narkotika yang dapat digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan memiliki potensi kecanduan yang tinggi, dan golongan 3 . dapat digunakan untuk terapi dalam dosis yang terukur (Humas BNN, 2. Psikotropika adalah obat-obatan yang dapat mempengaruhi saraf pusat secara selektif dan terbagi dalam 4 golongan. Golongan I merupakan psikotropika yang tidak dapat digunakan untuk terapi karena menimbulkan ketergantungan yang tinggi, contohnya ekstasi dan LSD. Golongan II merupakan Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon psikotropika yang memiliki potensi kecanduan yang tinggi dan dapat digunakan dalam terapi, contohnya Golongan i merupakan psikotropika yang memiliki potensi kecanduan yang sedang, contohnya Golongan IV merupakan psikotropika yang memiliki potensi kecanduan ringan, contohnnya diazepam dan pil koplo. Zat adiktif adalah zat yang dapat menimbulkan ketergantungan contohnya adalah alkohol, rokok, dan lainnya (Ruri, 2. Penyalahgunaan NAPZA merupakan ancaman besar dalam permasalahan kesehatan yang ada di Indonesia, hal ini dikarenakan bila penggunaan NAPZA tidak berdasarkan dosis yang sesuai maka akan mengakibatkan efek samping yang berbahaya bagi penggunanya. Penyalahgunaan NAPZA dapat menghambat aktivitas manusia dalam kehidupan bermasyarakat seperti aktivitas berumah tangga, pendidikan, pekerjaan dan lingkungan sosial. Menurut data penyalahgunaan narkoba sudah mencapai berbagai lapisan masyarakat seperti pelajar, ibu rumah tangga, pedagang, perkerja, dan tokoh publik (Navisa et al. , 2. Sampai saat ini Indonesia masih terancam penyalahgunaan narkoba walaupun telah bertekad bebas HIV/AIDS dan narkoba di tahun 2015. Penyalahgunaan NAPZA diakibatkan oleh bermacam-macam hal diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang muncul dari diri sendiri seperti kepribadian, tingkat religiusitas, keluarga, maupun ekonomi sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang diakibatkan dari pengaruh luar seperti pergaulan dan lingkungan sekitar. Penelitian sebelumnya menyatakan tingkat religiusitas berhubungan dengan penyalahgunaan narkoba, individu yang memiliki tingkat religiusitas rendah beresiko 175 kali lebih besar dibandingkan dengan individu yang tidak menyalahgunakan narkoba (Rahmadona & Agustin, 2. Menurut United Nation Office Drug and Crime Indonesia termasuk ke dalam 10 negara dengan tingkat peredaran narkoba tertinggi, terutama ekstasi dan ganja. Indonesia menggeser posisi Eropa sebagai produsen ekstasi untuk asia dan occenia serta 18 dari 58 pabrik di asia terletak di Indonesia (Puteri & Irena, 2. Berdasarkan Indonesia Drug Report provinsi dengan kasus tindak pidana narkoba tertinggi adalah Sumatera Utara sebanyak 7. 353 kasus. Jawa Timur 6. 193 kasus. DKI Jakarta 4. 749 kasus. Jawa Barat 2. 494 kasus. Sulawesi Selatan 2. 120 kasus. Jenis NAPZA yang paling banyak disalahgunakan adalah sabu-sabu, ganja, dan ekstasi dengan pelaku didominasi berjenis kelamin laki-laki (Falabiba et al. , 2. Pada tahun 2018, penyalahgunaan narkoba oleh pelajar di 13 provinsi Indonesia sebesar 2,29 juta orang dan pelajar menjadi salah satu kategori yang mudah terpapar penyalahgunaan NAPZA (Karminingtyas & Furdiyanti, 2. Permasalahan NAPZA harus segera diselesaikan karena mampu menghancurkan masa depan penerus bangsa. Dampak dari penggunaan NAPZA sendiri dapat berefek untuk psikis, fisik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, ekonomi, dan lainnya. Status penyelesaian masalah narkoba di Indonesia dapat dijelaskan dengan tinggi rendahnya prevalensi penyalahgunaan obat yang diukur secara berkala (Rachman. Oleh karena itu, pencegahan penyalahgunaan narkoba memerlukan partisipasi seluruh masyarakat sehingga penyalahgunaan narkoba yang dapat mengancam jiwa dapat diminimalisir. Berdasarkan uraian di atas, studi literatur ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor yang dapat mengakibatkan masyarakat menyalahgunakan NAPZA. Metodologi Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian quasi eksperime. jenis One group pretest-posttest yang hanya terdiri dari 1 kelompok. Pada rancangan ini tidak ada kelompok pembanding . , tetapi dilakukan observasi awal . terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi, setelah itu diberikan intervensi kemudian dilakukan observasi akhir . (Alimul,2007 dalam dari Sihotang, 2. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan basis Google Cendekia menggunakan kata kunci AuFaktor yang mempengaruhi penggunaan NAPZA pada masyarakatAy. Hasil dari pencarian didapatkan 15000 jurnal untuk skrining awal. Kriteria eklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang melebihi 10 tahun Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon terakhir, artikel merupakan literature review, skripsi, tesis, disertasi, tidak tersedia dalam full text, diluar pulau Jawa. Sumatera, dan Kalimantan. Skrining berdasarkan judul, abstrak, dan teks penuh diperoleh 10 artikel yang sesuai serta dapat digunakan untuk analisa manuskrip. Hasil pencarian dan seleksi literatur dapat dideskripsikan dalam bentuk diagram seperti di bawah ini. 3689 artikel terpilih untuk skrining tahap awal Dikecualikan n=3262 Artikel melebihi 10 tahun=2900 Review article n= 35 skripsi, tesis, disertasi n=327 427 artikel telah dilakukan skrining tahap awal Dikecualikan n=407 Diluar pulau Jawa. Sumatera, dan Kalimantan n=215 Tidak melakukan analisis mengenai faktor penyebab penggunaan NAPZA n=192 20 artikel terpilih Gambar 1. Diagram alir penelusuran literatur. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan 20 artikel yang dianalisis, didapatkan faktor-faktor penyalahgunaan NAZPA di masyarakat dapat dibagi menjadi 2 antara lain faktor internal dan eksternal seperti umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengetahuan, kepribadian, kondisi fisik dan mental, peluang, lingkungan kelurga, dan teman sebaya. Faktor lingkungan keluarga dan teman merupakan faktor yang paling banyak dipaparkan sebagai penyebab terjadinya penyalahgunaan NAPZA. Tabel 1. Studi pustaka faktor penyalahgunaan NAPZA di masyarakat. Hasil Tahun Desain Penelitian Penulis Hasan. Handian Maria Maula Yuniastuti Desain korelatif dengan pendekatan cross sectional Observasional analitik, dengan desain cross sectional Analitik dengan desain cros sectional Cahyani Ahmadi Analitik observasional cross sectional Faktor yang mempengaruhi penggunaan NAZPA seperti umur, jenis kelamin, dan Adapun faktor lainnya seperti faktor kepribadian, kecemasan, kondisi sosial, dan lingkungan sosial Faktor dominan dalam perilaku mabuk disebabkan rasa ingin tahu yang tinggi, kepribadian, pengetahuan, dan lingkungan. Faktor yang menyebakan penyalahgunaan narkoba pada remaja meliputi kesibukan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan Terdapat hubungan rendah antara kecemasan dengan faktor penggunan narkoba, dan didapatkan tidak ada hubungan antara umur, pendidikan, pekerjaan, pernikahan, depresi. Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Pertama Deskriptif dengan Melaniani & Sri Asmoro Obeservasional dengan desain cross Puteri & Irena Dalimunte & Dewi Harahap Deskriptif reptrospektif dengan pendekatan case Cross sectional Listiawaty Hidayat Yolanda Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional Desain analitik cross Zulfa Purwandari Komariah Beda Desain observasional NurAoartavia Desain korelatif dengan pendekatan cross sectional Deskriptif Kusumastuti & Hadjam Observasional Hastiana et al. Penelitian Kuantitatif Rosyadi et al Observasional Desain cross sectional Warlenda Wahyudi pengetahuan, bahaya narkoba, ketaatan beribadah, penggunaan waktu luang, tingkat sosial ekonomi, keharmonisan keluarga dan pola asuh orang tua. Kejadian relapse pecandu narkoba dapat diakibatkan oleh faktor internal dan eksternal seperti niat, pekerjaan, akses yang baik, serta peran keluarga. Lingkungan kelurga dapat menjadi penyebab penyalahgunaan NAPZA pada remaja, seperti keharmonisan orang tua, aktivitas orang tua, tipe orang tua, ibadah dalam keluarga. Terdapat keterkerkaitan antara faktor kepribadian, hubungan keluarga, dan lingkungan pada kasus penyalahan gunaan NAPZA. Penggunaan mengatasai masalah, menghilangkan cemas dan stress pada mahasiswa. Terdapat 4 faktor yang diteliti meliputi pengetahuan, sikap, sumber informasi, serta perilaku pencegahan penyalahgunaan NAPZA. Lingkungan yang buruk dan teman yang buruk merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA. Resiko penyalahgunana NAPZA disebabkan faktor keluarga harmonis dan teman. Tidak terdapat hubungan bermakna antara penyalahgunaan NAPZA. Rasa penasaran tinggi, dukungan teman sebaya, dan jenis kelamin mempengaruhi kejadian penyalahgunaan NAPZA. Konflik keluarga, model orang tua negatif, keterlibatan dalam kegiatan negatif degan teman, dan konformitas teman beresiko menyalahgunaan NAPZA. Faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba antara lain ketersediaan dan kemudahan, cara pemakaian mudah dan harga murah, lingkungan, dan faktor individu. Faktor individu, keluarga, dan masyrakat mempengaruhi seseorang menggunakan NAPZA. Terdapat hubungan antara kepribadian, keluarga dan lingkungan dengan penggunaan Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Nurjanisah et Zahara et al. Desain fenomenologi Desain deskriptif Yulia Deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional narkoba pada narapidana di lembaga pembinaan khusus anak kelas II Pekanbaru. Stress dan faktor lingkungan merupakan hambatan dalam penghentian NAPZA. Penyebab penggunaan narkotika di kalangan selebriti meluputi sebagai pelarian dikala stress dan tekanan tinggi, dapat meringankan beban, dopping penambah energi, dan merlarikan dari emosi. Dukungan keluarga mempengaruhi kejadian relapse pada pecandu narkotika Menurut BNN terdapat 3,5 juta pengguna narkoba di Indonesia, termasuk 2 juta pelajar dan 1,5 juta Mayoritas pengguna narkoba adalah usia kerja, sebagian besar remaja dan dewasa muda . Jika hal ini tidak segera diperbaiki, maka akan mengancam kesejahteraan generasi mendatang. Anak merupakan sumber daya manusia pembangunan nasional yang harus dilindungi sebagai generasi muda. Status penyelesaian masalah narkoba di Indonesia dapat dijelaskan dengan tinggi atau rendahnya prevalensi penyalahgunaan obat yang diukur secara berkala setiap tiga tahun (Rachman, 2. Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia cenderung menurun antara tahun 2008 dan 2017. Pada tahun 2019, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat sebesar 0,03%. Namun angka tersebut masih di bawah target peningkatan prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 0,05% (Winarko, 2. Faktor jenis kelamin mempengaruhi penyalahgunaan NAPZA karena perempuan memiliki agresifitas dan ambisi lebih rendah dibanding laki-laki (Hasan, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian Shekarchizadeh yang menyatakan jenis kelamin berpengaruh terhadap kenakalan. Faktor yang menyebabkan tingginya penyalahgunaan NAPZA pada laki-laki diantaranya sifat maskulin cenderung terlihat berani dan pemberani, pemberontakan dalam keluarga juga banyak dilakukan oleh laki-laki, dan laki-laki cenderung berkelompok oleh karena itu mereka melakukan hal lain untuk dapat diterima dalam kelompok, ketika salah satu anggota kelompok menyalahgunakan narkoba, anggota lainnya cenderung melakukan perilaku menyimpang (Shekarchizadeh H. Ekhtiari H. Khami MR, 2. Faktor pendidikan didapatkan sebagian besar merupakan pelajar dan mahasiswa, artinya belum memiliki pengetahuan yang luas terhadap bahaya NAPZA sehingga mudah tergoda oleh bujukan teman untuk menggunakan NAPZA (Listiawaty, 2. Menurut Notoatmodjo pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu Autahu . , memahami . , aplikasi . , analisis . , sintesis . , evaluasi . Ay. Hubungan antara pengetahuan dan sikap dapat bergantung pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk menentukan informasi yang baik dan informasi yang kurang baik. Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh orang lain yang dianggap penting. Apabila pengetahuan yang didapat kurang maka pemahaman akan kurang sehingga akan berpengaruh terhadap aplikasi (Notoatmodjo, 2. Faktor berikutnya adalah faktor kepribadian, individu dengan gangguan kepribadian . mengalami gangguan kepribadian yang ditandai dengan ketidakpuasan terhadap bagaimana perilakunya mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Selain itu, tidak dapat berfungsi dengan baik dan efektif di rumah, sekolah, pekerjaan, dan interaksi sosial (Mulkiyan, 2. Psikologi seseorang pada usia remaja dianggap belum stabil dan merasa kurang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar sehingga masih dengan mudah terpengaruh provokasi seseorang. Hal ini mendorong perilaku buruk salah satunya konsumsi NAPZA. Menurut penelitian ini remaja yang memiliki kepribadian ekstrovert memiliki risiko 2,44 kali lebih besar menyalahgunakan NAPZA dibanding remaja dengan kepribadian introvert. Peneliti menyebutkan bahwa Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon remaja menggunakan NAPZA karena ingin mencoba, mengikuti trend, menghindari rasa bosan dan kesulitan hidup, serta ingin melawan peraturan yang ditetapkan orang tuanya (Puteri & Irena, 2. Kondisi fisik yang kurang dan aktifitas yang padat mengakibatkan seseorang mengkonsumsi narkoba sebagai dopping. Pada penderita penyakit berat penggunaan NAPZA dalam pengobatannya perlu diawasi dengan ketat, karena dosis yang tinggi saat pengobatan bisa mengakibatkan pederita kecanduan terhadap Di sisi lain, kondisi mental seperti stress dan tekanan tinggi, emosi dan sakit hati, ganguan kecemasan juga memilki peran penting terhadap penyalahgunaan NAPZA. Kecemasan merupakan gambaran keadaan dari gangguan jiwa depresi dan cemas. Dalam mengatasi depresi dan rasa cemas tersebut banyak orang cenderung menggunakan obat-obat narkotika sebagai upaya mengobati dirinya sendiri . elf medicatio. atau sebagai reaksi pelarian. Orang dengan gangguan kecemasan dan depresi seharusnya berkonsultasi kepada dokter atau psikiater untuk mencegah timbulnya penylahgunaan NAPZA. John Tsilimparis seorang psikoterapis asal Los Angeles menggambarkan adiksi terhadap narkoba sebagai siklus Stress relief = repetition yang merupakan kondisi dimana saat stress orang cenderung mencari sesuatu yang bisa meringankan beban mereka seperti halnya penggunaan narkotika. Apabila penggunaan obat itu berhasil maka, upaya itu akan dilakukan secara terus menerus (Zahara et al. , 2. Faktor selanjutnya adalah kemudahan dalam memperoleh NAPZA, semakin besar aksesibilitas terhadap informan dalam hal ini lingkungan narkoba maka semakin besar kemungkinan seseorang yang sudah berhenti menggunakan narkoba akan terpengaruh untuk kembali menggunakan narkoba. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut seseorang harus membatasi paparannya terhadap lingkungan yang diindikasikan berkaitan dengan NAPZA dan harus mengendalikan keinginan penyalahgunaan narkoba (Hastiana et al. , 2020. Pertama et al. , 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Komariah & Beda pada tahun 2020 yang menyatakan bahwa pembentukan sikap seseorang sangat dipengaruhi kebudayaan tempat dimana seseorang tinggal dan secara tidak langsung berpengaruh pada bagaimana cara seseorang menyelesaikan suatu masalah (Komariah & Beda, 2. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap penyalahgunaan NAPZA meliputi beberapa aspek seperti keharmonisan, aktivitas orang tua, pola asuh orang tua, dan cara beribadah dalam bekeluarga. Lingkungan keluarga memiliki peranan penting dalam sosialisasi awal, dan keluarga yang harmonis dapat menjadi panutan bagi anak. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat setiap hari, dan keluarga yang tidak harmonis menjadi salah satu dampak yang negatif pada mereka (Zulfa & Purwandari, 2. Menurut Matinka keluarga broken home memiliki dampak besar terhadap suasana rumah sehingga tidak lagi kondusif, perhatian orang tua terhadap anak menurun sehingga berdampak pada perkembangan anak terutama anak remaja yang memiliki rasa ingin tahu. Orang tua merupakan contoh bagi anak, perkembangan remaja terutama pada psikis dan emosi, akibatnya remaja akan menyalurkan emosi pada penggunaan narkoba (Matinka, 2. Orang tua yang memiliki aktivitas tinggi, memliki waktu yang lebih sedikit dengan anak sehingga membuat anak merasa kesepian. Selain itu, pola asuh orang tua permisif, dimana orang tua tidak memberikan bimbingan pada anak mengenai segala tingkah laku termasuk keinginan anak yang bersifat mendadak dan selalu mengizinkan. Hal berikutnya adalah ibadah dalam keluarga dan rendahnya religiusitas beresiko lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki komitmen beragama yang kuat (Melaniani & Sri Asmoro, 2. Kurangnya kontrol keluarga sehingga memungkinkan pengaruh teman yang tidak baik dapat masuk dalam kehidupan anak dan kemudian memberikan pengaruh negatif (Maula & Yuniastuti, 2. Wong melaporkan bahwa teman sebaya mampu mendorong seseorang dalam bertindak salah satunya mengajak untuk menggunakan NAPZA. Orang yang tidak bisa bergaul dengan baik dengan teman sebayanya memiliki ketidakmampuan untuk menolak pengaruh teman terhadap perilaku negatif, salah satunya penyalahgunaan narkoba (Wong & Donna, 2. Kesimpulan Received: 11 Januari 2022. Accepted: 10 Juni 2022 - Jurnal Photon Vol. 12 No. DOI : https://doi. org/10. 37859/jp. PHOTON is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License http://ejurnal. id/index. php/photon Penyalahahgunaan NAPZA di pengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah lingkungan yang meliputi keluarga, teman, dan tempat tinggal. Faktor kepribadian indvidu, jenis kelamin dan umur juga sangat berpengaruh dalam kasus penyalahgunaan NAPZA dimana sebagian besar hasil penelitian menyebutkan bahwa para pengguna di dominasi oleh laki-laki dewasa dan laki-laki pada usia remaja Ucapan Terimakasih Penulis berterima kasih kepada dosen program studi S1 Farmasi Universitas Singaperbangsa Karawang khususnya apt. Indah Laily Hilmi. Farm. KM yang telah memfasilitasi penulis untuk mempublikasikan review artikel. Daftar Pustaka