Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Yogi Fitra Firdaus Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta firdaus@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This study applies the method of cross-textual communitarian hermeneutics to explore the intersection between Christianity and Buddhism in Asia, specifically through the comparison of two sacred narratives: the temptation of Jesus in the wilderness (Matthew 4:1-. and the temptation of Siddhartha Gautama prior to his enlightenment. This method brings together religious texts from different traditions, creating a space for mutual enrichment and understanding. The article demonstrates how this method which involves engaging both Christian and Buddhist communities in interpreting these texts can offer new insights into the common themes of temptation and spiritual awakening. The comparison between the temptation narratives of Jesus and Siddhartha Gautama reveals shared psychological and spiritual struggles, such as the temptation to succumb to desires, and provides a deeper understanding of the concept of evil and inner conflict. By integrating these two texts, the study not only enriches the interpretation of the biblical text but also fosters a dialogue between Christian and Buddhist communities, allowing for a more nuanced understanding of each traditionAos spiritual journey and its implications for interfaith dialogue. Keywords: cross-textual communitarian. Jesus. Buddha, temptation. Abstrak Penelitian ini menerapkan metode hermeneutika lintas tekstual komunitarian untuk mengeksplorasi perjumpaan antara agama Kristen dan Buddhisme di Asia, khususnya Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. melalui perbandingan dua narasi sakral: kisah pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan kisah pencobaan Sidharta Gautama sebelum mencapai pencerahan. Metode ini menghubungkan teks-teks dari tradisi agama yang berbeda, menciptakan ruang untuk saling memperkaya makna. Artikel ini menunjukkan bagaimana pembacaan lintas tekstual komunitarian yang melibatkan partisipasi kedua komunitas Kristen dan Buddhis dalam menafsirkan teks-teks tersebut sehingga dapat menawarkan wawasan baru tentang tematema bersama, seperti pencobaan dan pencerahan spiritual. Perbandingan antara kisah pencobaan Yesus dan Sidharta Gautama mengungkapkan perjuangan psikologis dan spiritual yang serupa, seperti godaan untuk tunduk pada keinginan. Dengan mengintegrasikan kedua teks ini, penelitian ini tidak hanya memperkaya penafsiran terhadap teks Alkitab, tetapi juga mendorong dialog antaragama antara komunitas Kristen dan Buddhis, yang memungkinkan pemahaman yang lebih tentang perjalanan spiritual masing-masing tradisi serta implikasinya terhadap dialog antaragama. Kata-kata kunci: lintas tekstual komunitarian. Yesus. Buddha, pencobaan. Pendahuluan Pada saat berusia delapan belas tahun, penulis pernah mendengar seorang pengkhotbah di gereja berbasis etnis Tionghoa mengatakan jika umat Kristen sebaiknya mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. AuBerusahalah sekuat tenaga pada hari ini, sebab belum tentu esok hari kita masih hidup. Ay Ujarnya. Meskipun sederhana, bagi penulis khotbah itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Timbul pula dalam pikiran penulis jika kalimat tersebut merupakan pengajaran yang berasal dari Alkitab Kristen. Setelah hampir 15 tahun berlalu, betapa terkejutnya penulis ketika menyadari bahwa kalimat yang disampaikan oleh pengkhotbah pada Kebaktian Minggu itu bukan dari teks Alkitab. Ketika mengikuti Puja Bhakti bersama dengan kelompok di salah satu Vihara Buddha di Yogyakarta dalam rangka pembacaan lintas teks komunitarian antara komunitas Kristen dan Buddha, penulis menemukan kalimat yang bebunyi AuBerusahalah hari ini juga! Siapa tahu kematian ada di esok hari. Karena tawar menawar dengan Sang Raja Kematian bersama pasukan besarnya tiada bagi kita. Ay Kalimat itu tersebut tertera pada Paritta Suci yang kami baca bersama-sama di sepanjang peribadatan. Setelah bertanya kepada salah satu umat Buddha, penulis mendapatkan informasi jika kalimat itu bersumber dari Bhaddekaratta Sutta bagian Majjhima Nikaya. Peristiwa perjumpaan penulis dengan komunitas Buddha di Yogyakarta tersebut membuktikan bahwa orang Kristen di Asia hidup dalam hibriditas, mereka menghidupi teks Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Alkitab dan juga teks-teks keagamaan Asia. 1 Di dalam konteks pengalaman penulis yang berasal dari komunitas Tionghoa Kristen, hibriditas itu terjadi antara kekristenan dengan Buddhisme. Jika menilik penelitian Daniel H. Bays dalam A New History of Christianity in China terungkap bahwa perjumpaan antara kekristenan dengan Buddhisme di Tiongkok telah terjadi sejak abad ke-7 ZB. Mulai abad ke-2 ZB. Buddhisme memang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sendi-sendi kehidupan masyarakat Tiongkok di samping Konfusianisme dan Taoisme yang lebih dulu telah menjadi kepercayaan di sana. Agama Kristen pertama kali dibawa oleh para misionaris dari Gereja Nestorian melalui Mongolia dan terus berkembang hingga ChangAoan (XiAoan sekaran. yang pernah menjadi ibu kota dari 13 dinasti kekaisaran di Tiongkok. Para misionaris itu diterima dengan baik oleh para kaisar dari Dinasti Tang yang memerintah sebagian besar daratan Tiongkok selama lebih dari 200 tahun. Pada masa selanjutnya usaha menyebarkan agama Kristen di Tiongkok dilakukan oleh para misionaris Jesuit yang berasal dari Eropa. Adolf Heukeun menyatakan jika pada awalnya, karya misi tersebut mendapatkan tantangan karena Dinasti Ming telah menutup segala pengaruh asing di Tiongkok termasuk agama-agama yang berasal dari luar negeri itu. Kekristenan mulai diterima ketika para Jesuit di Tiongkok menggunakan tradisi Buddhisme sebagai jalan masuk pewartaan Injil, hal tersebut ternyata berhasil sebab ada orang-orang Tiongkok yang menjadi Kristen baik yang berasal dari kalangan masyarakat biasa maupun pejabat kekaisaran. Tetapi persoalan muncul di kemudian hari pada saat misionaris Dominikan melaporkan kepada Sri Paus jika para Jesuit telah melakukan sinkretisme dengan meniru kebiasaan para Biksu Buddha. Hal itu menyebabkan Jesuit sempat dibubarkan pada tahun 1773 dan direstorasi kembali 41 tahun kemudian. Di Indonesia sendiri komunitas Kristen Tionghoa tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Buddhisme. Setelah dua abad Protestanisme hadir di Nusantara, pertengahan abad ke-19 upaya untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang Tionghoa baru dilakukan. Chris Hartono menyebutkan bahwa orang-orang Tionghoa bukan sasaran utama dari zendeling Belanda sehingga karya misi dilakukan oleh gerakan misi kaum awam Tionghoa. Sebelum menjadi Kristen, orang-orang Tionghoa di Jawa mayoritas memeluk agama Konfusianisme. Taoisme Menurut Archie Lee, kehidupan orang-orang Asia telah ditopang oleh kitab suci Asia yang memberikan pedoman secara spiritual bagi masyarakat secara luas tanpa memandang agama mereka. Lih. Archie C. Lee. AuCross-Textual Hermeutics and Identity in Multi-Scriptural Asia,Ay dalam Christian Theology in Asia, ed. Sebastian Kim (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 183. Daniel H. Bays. A New History of Christianity in China (New Jersey: Wiley Blackwell, 2. , 5Ae10. Adolf Heuken. Agama Kristen Di Asia: Dari Yerusalem Sampai Ke Beijing (Abad Ke-1 Hingga Ke-. (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2. , 21. Thomas F. Ryan. Yesuit Di Cina (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 93. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. dan Buddhisme yang seringkali disebut tiga kepercayaan atau Sam Kauw. 5 Memang hingga saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan cara penyampaian ajaran agama Kristen yang dilakukan oleh para misionaris awam Tionghoa itu, bukan hal mustahil jika penginjilan menggunakan tuturan-tuturan dari ajaran Sam Kauw. Nilai-nilai Buddhisme yang dihidupi oleh orang-orang Kristen tentunya tidak hanya berpengaruh pada kelompok masyarakat Tionghoa melainkan juga masyarakat Suku Jawa. Berdasarkan penelitian sejarah antara abad ke-5 hingga ke-10 terjadi perkembangan agama Buddha di Pulau Jawa dibuktikan dengan adanya kerajaan bercorak Buddhisme seperti Majapahit. Kerajaan Mataram Kuno sendiri pernah dipimpin oleh raja yang menganut agama Buddha terutama dari Wangsa Syailendra. 7 Salah satu bukti akurat mengenai pengaruh Buddhisme di kalangan orang Jawa adalah umat Buddha dari suku tersebut yang penulis jumpai di Vihara. Melihat fakta kekinian dan juga historis seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Adanya hibriditas antara orang Kristen di Asia . an Indonesia di dalamny. dengan Buddhisme memberikan ruang adanya perjumpaan secara hermeneutis antara kedua teks keagamaan. Menurut Lee, pola penafsiran yang dibawa oleh misionaris Barat bertujuan untuk mencari makna tunggal dengan menekankan Alkitab sebagai satu-satunya teks yang dihormati sebagai tulisan tentang Allah yang abadi, universal, mandiri dan tidak berubah. Sehingga seolah-olah teks-teks suci Asia tidak dapat berkontribusi apapun terhadap penafsiran Alkitab. 8 Tampak sekali jika ada hegemoni tradisi keagamaan dan teks suci yang dibawa oleh para misionaris Barat ke Asia seiring dengan kolonialisme. Sebagai respons terhadap penafsiran Barat, para pakar biblika di Asia mengembangkan hermeneutika Alkitab Asia salah satunya ada pembacaan lintas tekstual. Pembacaan lintas tekstual pertama kali diperkenalkan oleh Archie Lee dan dikembangkan oleh Daniel K. Listijabudi melalui disertasinya di Vrije Universiteit Amsterdam dua teks keagamaan yaitu kisah Yakub di Yabok dalam Alkitab dengan Serat Dewa Ruci dari komunitas Kejawen sehingga saling memperkaya dari kedua Secara sederhana pembacaa lintas tekstual merupakan pendekatan yang membandingkan Chris Hartono. Orang Tionghoa Dan Pekabaran Injil: Suatu Studi Tentang Pekabaran Injil Kepada Masyarakat Tionghoa Di Jawa Barat Pada Masa Kolonial Hindia Belanda (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1. , 12. Zendeling S. Coolsma dalam De Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indiy menyebutkan jika para penginjil awam Tionghoa di abad ke-19 seperti Ang Boen Swi merupakan orang yang gemar ngelmu Jawa serta mendalami agama Tionghoa termasuk ajaran Buddhisme sehingga memungkinkan menjadi jalan untuk melakukan penginjilan kepada masyarakat Tionghoa di Pesisir Utara Jawa Barat yang masih menganut agama Sam Kauw. Lih. Yogi Fitra Firdaus. AuPeran Orang-Orang Tionghoa Dalam Pekabaran Injil: Kajian Historis Terbentuknya Jemaat Tionghoa Di Jawa Barat,Ay Jurnal Abdiel 1, no. : 89, https://doi. org/10. 37368/ja. Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya 3: Warisan Kerajaan Konsentris, 3rd ed. (Jakarta: Gramedia, 2. , 25Ae37. Archie C. Lee. AuCross-Textual Hermeneutics in Asia: Christianity. Culture and Context,Ay dalam Asian Theology on The Way, ed. Peniel Jesudason Rufus Raj Kumar (London: SPCK, 2. , 33Ae34. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies teks dari dua konteks berbeda, sekaligus memperjumpakan dan menautkan kedua teks tersebut sehingga terjadi enriching terhadap keduanya. 9 Selanjutnya oleh Listijabudi pembacaan lintas tekstual ini dikembangkan lagi menjadi pembacaan lintas tekstual komunitarian yang tidak hanya memperjumpakan dua teks keagamaan tetapi juga dua komunitas pemiliki kitab suci tersebut. Meskipun orang Asia hidup dalam hibriditas tentu tidak dapat secara equal dan tidak akan pernah sama sebab orang tersebut memiliki core atau jangkar tradisi identitas yang utama dari tradisi lain di dalam dirinya. Penulis bersama dengan kelompok berupaya menerapkan pembacaan lintas tekstual komununitarian ini terhadap kisah pencobaan Yesus di Padang Gurun yang tercatat di dalam Matius 4: 1-11 dengan kisah pencobaan Sidharta Gautama ketika mencapai pencerahan. Kedua teks tersebut memiliki kesamaan sebagai tokoh utama dalam masing-masing agama dan memiliki tema yang sama yaitu pencobaan serta pencerahan. Perjumpaan kedua teks tersebut diharapkan dapat memperkaya serta memberikan alternatif pembacaan terhadap teks yang sangat populer di kalangan umat Kristen. Hermeneutik Alkitab Asia Listijabudi di dalam buku Bergulat di Tepian: pembacaan lintas tekstual dua kisah mistik (Dewa Ruci & Yakub di Yabo. untuk membangun perdamaian, mengatakan jika adalah upaya menafsir Alkitab dalam interaksi yang dialogis dan dinamis di antara teks Alkitab dengan konteks Asia secara bolak-balik di dalam realitas sosial dan keragaman kultur-religiositas Asia yang berkait kelindan satu sama lain dalam berbagai gradasi interaksinya. Tidak hanya teks ke konteks, konteks seharusnya juga berbicara kepada teks sehingga orang Kristen Asia tidak hanya pasif menerima tetapi juga aktif berbicara pada teks Alkitab. Mengutip Kwok Pui Lan, di dalam artikelnya Listijabudi menuliskan ada tiga pendekatan yang sering digunakan oleh para teolog Asia dalam hermeneutik konstekstual: Model/pendakatan pertama ini membandingkan motif-motif yang sama dengan studi lintas teks dalam rangka memperluas implikasi-implikasi hermeneutis. Inilah yang menjadi dasar hermeneutis dari metode cross-textual hermeneutics/reading atau hermeneutik/pembacaan lintas tekstual. Daniel K. Listijabudi. AuPembacaan Lintas Tekstual: Tantangan Ber-Hermeneutik Alkitab Asia . ,Ay Gema Teologika 4, no. : 83. Albert Teguh Santosa dan Ahmad Shalahuddin Mansur. AuSebuah Upaya Pertemuan Dua Teks Suci Tentang Kenaikan Yesus Dan Kenaikan (Isra MiAoRa. Nabi Muhammad SAW,Ay ed. Daniel K. Listijabudi dan Wahyu Nugroho (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 38. Daniel K. Listijabudi. Bergulat Di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci & Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 48. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Metode/pendekatan kedua, disebut dengan istilah Aumelihat melaluiAy atau seeing through, di mana para penafsir melihat Alkitab melalui perspektif yang disediakan oleh tradisi religius lain. Pada model/pendekatan ini diharapkan menemukan ide-ide dan penemuan-penemuan baru dalam penafsiran Alkitab Asia. Nama generik dari model ini adalah cross-cultural hermeneutics atau hermeneutik lintas kultural. Model/pendekatan ketiga adalah mendalami tilikan-tilikan biblis dan teologis yang dimukan di dalam kisah-kisah rakyat, mite serta legenda. Berbeda dengan model yang kedua, model ketiga ini lebih berfokus pada sumber-sumber kekayaan tradisi religius Asia . on-Alkita. ini, para teolog membangun refleksi-refleksi kristiani dan memperjumpakannya . dengan berita Alkitab. Hermeneutika Alkitab Asia berangkat dari realitas Asia yang khas. Aloysius Pieris berpendapat bahwa konteks Asia memiliki dua karakteristik utama yaitu kemiskinan yang merajalela dan keberagaman yang plural. 13 Sedangkan menurut Lee seperti yang dikutip oleh Listijabudi, konteks Asia yakni realitas penderitaan secara sosio-politik dan keragaman dalam agama. Meskipun pederitaan itu universal dan tidak hanya dialami oleh orang Asia, namun realitas penderitaan di Asia sungguh berskala besar dan mendalam, sehingga tidak bisa Selain bencana alam, eksploitasi ekonomi, kekerasan militer, dan tekanan politik, dikombinasi oleh tekanan negara dan korporasi transnasional telah menciderai hak-hak asasi manusia dan harkat hidup manusia. Realitas keragaman dalam agama, membuat Asia kaya akan teks-teks keagamaan yang lahir di wilayah ini. Berdasarkan hal tersebut Stanley Samartha menegaskan apabila hermeneutik Asia memiliki tugas menyusun kerangka neighborly relationship dari dua teks keagamaan yang berbeda dapat dihubungkan satu sama lain untuk saling memperkaya tanpa mengabaikan kekhasannya masing-masing. Bagi Samartha ada perbedaan antara pendekatan misionaris Barat yang menekankan monoskriptural dengan konteks Asia. Dengan kekhasan konteksnya, orang Kristen Asia harus terus mengembangkan hermeneutik baru yang sesuai dengan realitas multiskriptural. Daniel K. Listijabudi. AuMengolah Hermeneutik Kontekstual: Suatu Kisi-Kisi Untuk Pembacaan Alkitab MultiIman. Lintas Budaya. Dan Lintas Teks,Ay in Belajar Alkitab Itu Tidak Pernah Tamat, ed. Julianus Monjau and Salmon Pamantung (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 153. Aloysius Pieris. An Asian Theology of Liberation (New York: Orbis Book, 1. Listijabudi. Bergulat Di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci & Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian, 48Ae49. Stanley Samartha. AuScripture and Scriptures,Ay dalam Voices from the Margin: Interpreting the Bible in the Third World, ed. Sugirtharajah (New York: Orbis Books, 1. , 13Ae14. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Pembacaan Lintas Tekstual Penafsiran lintas tekstual atau cross-textual interpretation pertama kali dicetuskan oleh Archie Lee, meskipun menurut Listijabudi pendekatan semacam ini bukan sesuatu yang sama sekali baru sebab teolog Asia seperti Krishna Mohan Banerjea dan Pieris telah mengupayakan pendekatan serupa. Namun Lee, membuat pendekatan ini mengalami penembangan yang lebih jelas dan meyakinkan. Pendekatan ini mencoba memahami teks Alkitab dalam relasinya dengan teks kultural religius Asia dan berupaya untuk mengupayakan integrasi dari keduanya. Tujuan dari pendekatan ini adalah transformasi dan penemuan yang memperkaya. Pembacaan lintas tekstual mempertemukan teks Alkitab (Teks B) dengan teks Asia (Teks A) dengan interaksi yang dinamis dan pencerahan terhadap teks Alkitab dari teks-teks Asia. Terjadi Persilangan antara dua teks selama proses membaca melibatkan keduanya dalam ketegangan Menurut Lee, hal yang diharapkan dari pendekatan ini adalah konfigurasi makna yang diperbaharui dan dengan demikian menegaskan identitas ganda para pembaca. Teks A harus dicermati oleh teks B dan sebaliknya teks B juga perlu dibaca secara kritis dari dari perspektif yang diberikan oleh teks A. Kedua teks dianggap dapat saling memperkaya melalui dialog. Listijabudi memberikan enam evaluasi sekaligus kritik terhadap model lintas tekstual dari Archie Lee antara lain: Worldview masing-masing orang memiliki tingkatan dan lapisan berbeda sehingga pembacaan lintas tekstual akan selalu cocok terhadap orang Asia dengan komposisi hibriditasnya beragam terlalu muluk. Kedua teks yang dari masing-masing tradisi religius harus memiliki motif yang sama. Idealnya penafsir memiliki pengetahuan yang memadai atas kedua teks. Setiap teks harus digali terlebih dahulu dengan menggunakan metode tafsir sesuai dengan tradisi masing-masing sehingga memunculkan kekayaan makna, insight serta temuan-temuan dari masing-masing teks. Diperlukan kualifikasi untuk mengelaborasi kesamaan dan perbedaan dari masingmasing teks. Menganalisis gagasan-gagasan yang memiliki kesamaan dalam pola, motif dan unsur. Perbedaan-perbedaan yang ada di dalam kedua teks dapat dikategorikan . Appreciative differences (Perbedaan yang dapat diapresias. Enriching differences (Perbedaan yang memperkay. irreconcilable differences (Perbedaan yang tidak dapat diperdamaika. 18 Listijabudi. Bergulat Di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci & Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian, 97Ae99. Lee. AuCross-Textual Hermeneutics in Asia: Christianity. Culture and Context,Ay 36. Listijabudi. Bergulat Di Tepian: Pembacaan Lintas Tekstual Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci & Yakub Di Yabo. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Pada pembacaan lintas tekstual ini dilakukan secara komunitarian dengan interaksi langsung antara pemilik teks Alkitab (Teks B) dan teks Buddha (Teks A). Pemilihan Teks Alkitab (Teks B) Sebelum melakukan pembacaan lintas tekstual komunitarian kelompok Kristen sebagai pemilik teks B dengan sepakat memilih kisah pencobaan Yesus di Padang Gurun dari Matius 4:1-11. Pemilihan teks ini diawali dengan melakukan riset terlebih dahulu tentang tokoh Sidharta Gautama sebelum mencapai ke-buddha-an dan ditemukan fakta jika Sang Buddha juga mengalami pencobaan. Sehingga kelompok penulis menilai adanya kesamaan motif, pola dan tujuan dari kedua teks yang nantinya akan dielaborasi setelah melakukan pertemuan dengan kelompok Buddha. Setelah itu kelompok penulis mengadakan pertemuan untuk membaca teks dan menafsirkan bersama-sama. Kisah pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Datanglah si pencoba dan berkata kepada-Nya. AuJika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti. Ay Jawa Yesus. AuAda tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Ay Lalu iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di pinggir atau bait Allah, lalu berkata kepada-Nya. AuJika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu. Ay Yesus berkata kepada-Nya. AuAda pula tertulis: Janganlah Engkau mencobai Tuhan. Allahmu!Ay Iblis juga membawa-Nya ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadaNya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya. AuSemua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. Ay Lalu berkatalah Yesus kepadanya. AuEnyahlah. Iblis! Sebab, ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan. Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau beribadah!Ay Iblis lalu meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikan datang melayani Yesus. Proses Penafsiran Kisah pencobaan Yesus merupakan kelanjutan dari narasi sebelumnya tentang pembaptisanNya oleh Yohanes Pembaptis (Mat. 3:13-. Pencobaan itu terjadi di sebuah padang gurun dengan menampilkan adegan dari dua tokoh yakni Yesus dengan Iblis yang disebut juga sebagai Untuk Membangun Perdamaian, 100Ae101. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies si pencoba . Iblis datang ketika Yesus sedang merasa lapar setelah berpuasa selama 40 hari dan empat puluh malam . Teks mengenai pencobaan Yesus terbagi dalam tiga adegan sebagai berikut. Pencobaan 1: Makanan (Ayat 1-. Kata Iblis berasal dari kata Yunani diabolos yang berarti: pencoba, pemfitnah, penuduh dan pendakwa. Penulis Injil Matius disini menjelaskan bahwa niat iblis pada titik ini adalah untuk AumenggodaAy Yesus agar berbuat salah. Keadaan yang dijelaskan oleh narator dalam ayat ini adalah Yesus yang sedang ada dalam keadaan lapar karena telah berpuasa empat puluh hari empat puluh Yesus berpantang makan tetapi tidak berpantang minum. Menurut Craig S. Keener, empat puluh hari empat puluh malam ini merujuk pada perjalanan orang Israel menuju Kanaan. 20 Injil Matius tidak memberi penjelasan mengenai apakah puasa Yesus pada periode ini sengaja dilakukan sendiri atau hanya akibat kurangnya makanan yang tersedia di padang gurun. Iblis dalam ayat ketiga mencoba mengajak Yesus untuk menunjukkan kekuasaan yang diarahkan pada diri sendiri. Ada usaha untuk mengalihkan fokus Yesus dari tujuan dan kehendak Bapa-Nya kepada diri-Nya sendiri. 21 Charles H. Talbert mengungkapkan jika di sisi lain, penggunaan frasa AuAnak AllahAy hendak menunjukkan bahwa Yesus bukan sekadar Anak Allah atau bukan, tetapi sebagai penegas apabila Yesus memang Anak Allah. Pencobaan 2: Status dan eksistensi sebagai Anak Allah . John Gibson di dalam komentarnya mengenai pencobaan yang kedua ini, iblis ingin mencobai Yesus dalam mempertanyaan eksistensi Allah. Sebagai Anak Allah tentunya tidak akan membiarkan-Nya terantuk atau dengan kata lain menjadi celaka karena menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah . Bagi Gibson hal ini mengingatkan para pembaca pada peristiwa umat Israel di Masa dan Meriba yang mempertanyakan providensi Allah di tengah-tengah mereka sebab mereka tidak menemukan air. Bagi France. The New International Commentary on the New Testament: The Gospel of Matthew (New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 174. Craig S. Keener. A Commentary On The Gospel Of Matthew (Grand Rapids: William B. Erdmans Publishing Company, 1. , 136. Keener, 139. Charles H. Talbert. Matthew: (A Cultural. Exegetical. Historical, & Theological Bible Commentary on the New Testamen. (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 61. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. umat Israel kala itu bukankah sebagai umat-Nya mereka tidak harus merasa kesulitan di dalam perjalanan menuju tanah yang dijanjikan. Pencobaan 3: Kekuasaan Politis (Ayat 8-. Berdasarkan penelitian dari Keener, di dalam pencobaan yang ketiga ini iblis seolah sedang mendefinisikan ulang tentang Yesus dalam konteks budaya Palestina terutama berkaitan dengan peran pemimpin politik yang karismatik. Pertama, kuasa supernatural yang bisa mengubah sesuatu. Iblis memulai dengan hal yang sederhana, mengubah batu menjadi roti. Kedua. Audeluded visionerAy untuk mengecoh visi Yesus sehingga bersedia mati konyol. Keener mengaitkan hal itu sebagai cara untuk menggoyahkan visi dan misi yang Yesus terima untuk merengkuh jalan kematian di atas kayu salib dan bangkit dari kematian. Ketiga, upaya memancing Yesus untuk mengakui dirinya sebagai pemimpin politik revolusioner. Kepemimpinan politik ini dikaitkan juga dengan konteks sosial Yahudi dalam kondisi terjajah dan membutuhkan mesias yang membebaskan. Tidak hanya secara sosial, secara teologis hal ini juga berhubungan dengan konteks Perjanjian Lama, khususnya Daniel 10:13, 20-21 yang menjelaskan tentang Iblis yang adalah penguasa dunia. Dengan kata lain. Yesus dicobai secara politis sekaligus hendak disamakan posisinya dengan iblis sebagai penguasa dunia. Pada bagian akhir dari narasi Matius 4:1-11. Yesus digambarkan berhasil mengalahkan pencobaan dari iblis. Narator menyebutkan jika iblis meninggalkan dan tidak ada lagi kehadirannya untuk mencobai-Nya. Injil Matius memiliki pembaca yang spesifik yaitu orangorang Kristen yang berasal dari latar belakang Yahudi, sehingga hal ini menjadi penting untuk disampaikan kepada kelompok Buddha jika peristiwa yang dikisahkan sering merujuk pada Perjanjian Lama terutama bagian kata AuSebab ada tertulisAy yang muncul sebanyak tiga kali. Pemilihan Teks Buddha (Teks A) Pertemuan dengan kelompok Buddha sebagai pemilik teks A dilakukan sebanyak lima kali di tempat yang berbeda. Proses pembacaan komunitarian baru dimulai pada pertemuan ketiga. Pada pertemuan sebelumnya kelompok Kristen telah memberikan teks yang dipilih beserta penjelasan singkat mengenai kisah tersebut. Kelompok Buddha sepakat untuk memilih teks yang dengan tema yang sama yaitu pencobaan yang dialami oleh Sidharta Gautama di dalam proses mencapai pencerahan. John Monro Gibson. The ExpositorAos Bible: The Gospel of St. Matthew (Indiana: Gibson, 2. , 33. Keener. A Commentary On The Gospel Of Matthew, 142. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Di dalam pertemuan keempat kelompok Buddha menyampaikan proses pemilihan teks dan juga proses penafsiran yang menjadi temuan baru bagi kelompok Kristen diantaranya: Kisah pencobaan Mara kepada Sidharta Gautama yang digunakan oleh kelompok Buddha tidak berasal dari Tipittaka melainkan bersumber dari The Chronicle of Buddhas yang ditulis oleh Bhikku Ashin Kusaladhamma. Hal tersebut dikarenakan Tipitaka Pali sangat tebal, ditambah lagi Atthakatha . itab komenta. dan Tika . itab sub-komenta. Menurut Bhikkhu Kusaladhamma, salah satu riwayat Buddha yang tebal yaitu The Great Chronicle of Buddhas karya Bhaddanta Vicittasarabhivamsa yang terdiri dari enam bagian termuat dalam sepuluh jilid saja tidak lengkap, saking luasnya. Bhikkhu Kusaladhamma mengambil 69 kisah penting dari sejarah kehidupan Buddha Gautama. Ada dua kesulitan dalam menulis kronologi hidup Buddha: Beberapa detail dari kisah dapat ditemukan dalam Atthakatha25 yang berbeda-beda. Sutta mencatat lokasi suatu kejadian tetapi tidak mencatat waktunya. Selain itu terdapat perbedaan di dalam tradisi Buddhisme, misalkan aliran Theravada Thailand lebih mengutakamakan Sutta Pittaka sedangkan Theravada Myanmar mementingkan Abhidamma Pittaka. Hal tersebut menunjukkan adanya keragaman dalam kitab suci agama Buddha. Di dalam proses penafsiran juga tidak seperti kelompok Kristen yang memiliki metode tertentu dan tidak ada tafsiran yang dianggap paling berotoritas. Seringkali penafsiran menggunakan hasil refleksi pribadi berdasarkan pemaknaan secara logika. Kelompok Buddha mengikuti pola dari kisah Matius 4:1-11 yang terdiri dari tiga pencobaan, sehingga kelompok ini juga memilih tiga bentuk pencobaan yang dialami oleh Sidharta Gautama. Pencobaan yang dialami oleh Sidharta Gautama terjadi pada saat sebelum pencerahan, menuju pencerahan dan sesudah pencerahan. Kelompok Buddha memberikan kisah dan penjelasan mengenai pencobaan Mara kepada Sidharta Gautama sebagai berikut: Pencobaan Sebelum Perncerahan: Perjumpaan Bhodisatta Sidharta Gautama dengan Mara Vasavatti Latar belakang kisah ini adalah ketika Bodhisatta Gotama pergi dari kerajaan untuk menjadi seorang petapa. Dalam perjalanannya. Bodhisatta Gotama dihadang oleh Mara Vasavatti. Istilah Bodhisatta mengacu pada Buddha Gotama ketika menuju pencerahan. Penjelasan atau komentar dalam bahasa Pali merujuk kepada komentar para ahli agama Buddha Theravada terhadap Tipitaka yang tertulis dalam bahasa Pali. Komentar dari para ahli agama tersebut memberikan interpretasi tradisional terhadap ayat-ayat dari bagian-bagian yang ada dalam Tipitaka. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Dalam cerita tradisi. Bodhisatta Gotama pergi dari kerajaan klan Sakya pada malam hari, meninggalkan keluarganya diam-diam. Godaan Mara Vasavatti adalah supaya Bodhisatta Gotama tidak pergi menjadi bhikkhu, karena tujuh hari lagi Harta Roda Agung akan muncul ke hadapan Bodhisatta Gotama dan Beliau akan menjadi adiraja dunia. Bhikkhu Analayo dalam MeditatorAos Life of the Buddha menjelaskan bahwa tujuh harta adiraja dunia . heel-turning kin. ini paralel dengan tujuh faktor pencerahan . : mindfulness, investigation of dharma, energy, joy, tranquility, concentration, equipose. Bodhisatta menolak godaan Mara Vasavatti. Beliau sudah tahu tentang Harta Roda Agung, tetapi tetap tidak menginginkannya. Beliau lebih ingin menjadi seorang Buddha, membebaskan semua makhluk. Motif ini menggambarkan perbandingan antara menguasai dunia secara politik dengan menguasai segala sesuatu secara spiritual. Pada saat ini. Mara Vasavatti bertekad untuk mengikuti Bodhisatta selama tujuh tahun. Sebagai catatan. Mara bisa dipahami secara kosmologis . atau sesuatu yang sifatnya psikologis. Motif psikologis ini dapat dipahami terutama dalam konteks pengalaman meditatif. Godaan Mara pada Saat Pencapaian Pencerahan Bodhisatta Sidharta Gautama datang ke hutan Gaya, ke kaki pohon Bodhi menghadap Timur lalu bertekad untuk bermeditasi hingga mencapai Kebuddhaan. Para Dewa dan Brahma datang untuk menyaksikan. Lalu Mara, beserta pasukannya, datang untuk menggoda Bodhisatta di ujung perjalanannya untuk mencapai Kebuddhaan. Dalam konteks Buddhisme, posisi dewa secara kosmologis adalah di alam atas setelah manusia dan para dewa menikmati kenikmatan sensual. Posisi Brahma secara kosmologis lebih tinggi dari pada dewa. Brahma berdiam dalam kebahagiaan non-sensual. Bodhisatta bertahan dengan memegang sepuluh Parami-nya yaitu dana, sila, nekkhama, panna, viriya, khanti, sacca, adhitthana, metta, upekkha. Untuk mencobai Sidharta Gautama. Mara meluncurkan sembilan senjata mautnya: Angin topan dahsyat . Angin topan tersebut mengobrak-abrik hutan, tetapi hilang ketika mendekati Bodhisatta. Hujan super besar . Semua hanyut, muncul air bah. Tetapi Bodhisatta tidak basah sama sekali. Hujan batu cadas membara . Ribuan batu besar jatuh dari angkasa . ujan meteo. tetapi semuanya berubah menjadi karangan bunga saat mendekati Bodhisatta. Hujan senjata panas . Ketika mendekati area pohon bodhi . odhi mandal. , semuanya jatuh dan menjadi ragam bunga. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Hujan batu bara . Semuanya juga menjadi ragam bunga. Hujan debu panas . Debu tersebut berubah menjadi bubuk cendana . Hujan pasir panas . Pasir tersebut menjadi bunga. Hujan lumpur panas . Semua menjadi ramuan wangi. Kegelapgulitaan . Gelap gulita tersebut sirna seakan terbuyar oleh sinar Sembilan senjata ini bisa dipahami sebagai ketakutan terhadap sakit dan mati, karena yang diancam adalah nyawa. Dalam konteks meditasi, rasa takut juga dapat muncul terkait dengan AukeakuanAy, karena rasa takut terhadap mati adalah rasa takut terhadap hilangnya AuakuAy atau diri. Dikisahkan jika pada akhirnya Mara kalah, tetapi Bodhisatta tidak suka membunuh. Bodhisatta Sidharta Gautama memandang Mara dengan cinta kasih dan welas asih. Motif tidak membunuh ini juga ada pada sila pertama lima pelatihan moral . ancasila/pancasikkhapad. Mara lalu meminta bukti Parami Bodhisatta. Bodhisatta lalu mengambil sikap bumisparsa . angan kanan menyentuh tana. , bumi lalu memberi kesaksian Parami Bodhisatta. Konsep bumisparsa ini adalah mengambil motif bumi sebagai sesuatu yang solid, tidak terguncang, tidak menilai siapapun yang ada hidup pada bumi. Pencobaan setelah pencerahan: Digoda Tiga Anak Mara Pada minggu kelima setelah pencerahan. Sang Buddha di bawah pohon banyan digoda oleh tiga anak Mara. Istilah Sang Buddha mengacu pada Buddha Gotama pascapencerahan. Walaupun Sang Buddha sudah mencapai pencerahan, kamma masa lalu tetap berbuah di kehidupannya, hanya saja Sang Buddha tidak lagi membentuk kamma baru. Munculnya tiga anak Mara, bisa juga dipahami sebagai munculnya godaan . alam konteks ini objek yang bisa dinafsui seperti kemolekan tubuh, tarian, dst. ) pada Sang Buddha. Dalam konteks meditatif, hal ini bisa dipahami dengan munculnya objek yang sebelumnya pernah seorang pribadi nafsui. Ketiga anak gadis Mara itu adalah Tanha. Arati, dan Raga. Ketiganya menunjukkan kemolekan tubuh, kata-kata menggoda, menari-nari, dan mempertunjukkan tontonan lainnya: Tanha: nafsu-indria. Arati: kebencian. Raga: nafsu duniawi. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Ketiga nama anak gadis Mara ini adalah motif yang sering ditemukan dalam Buddhisme sebagai penyebab munculnya dukkha. Godaan kemolekan tubuh, kata-kata menggoda, menari-nari, tontonan adalah gambaran mengenai kegiatan-kegiatan yang biasanya dapat memancing nafsu namun Sang Buddha tetap menutup mata dan meneruskan meditasi. Sikap tetap menutup mata dan meneruskan meditasi adalah ketika seseorang bermeditasi apapun yang muncul disadari dan dibiarkan saja. Saat dihadapi objek yang memancing nafsu, seseorang tanpa kesadaran muncul nafsu dan melekati objek. Bagi seorang Buddha, objek tidak lagi melekat. Berdasarkan kisah tersebut dapat disimpulkan jika pencobaan kepada Sidharta Gautama terdapat tiga motif: Motif perjumpaan pertama adalah tentang pilihan menjadi adiraja atau menjadi Buddha. Motif perjumpaan kedua adalah tentang ancaman diri dari Mara, penyempurnaan parami, dan kemantapan Bodhisatta untuk mencapai Kebuddhaan. Motif perjumpaan ketiga adalah tentang godaan nafsu-indria. Pencobaan Mara kepada Sidharta Gautama berlangsung dalam kurun waktu 7 tahun, namun ada juga yang mengatakan sampai Sang Buddha MahAparinibbAna . Buddha mencapai pencerahan pada usia 35 tahun dan telah mengalami nafsu indria atau nafsu seksual terutama kemolekan tubuh. Kesamaan dan Perbedaan antara Teks B dan Teks A Kesamaan Kisah pencobaan Yesus di padang gurun dan pencobaan Mara kepada Sidharta Gautama memiliki kesamaan diantaranya: Pencobaan kepada kedua tokoh utama pada kedua agama. Yesus menjadi tokoh utama di dalam kekristenan bahkan dikatakan sebagai wahyu Ilahi yang mewujud dan Sidharta Gautama sebagai tokoh utama bagi Buddhisme yang membabarkan dhamma. Keduanya memiliki status istimewa: Yesus memiliki kesucian sebagai Anak Allah sedangkan Sidharta Gautama di dalam kehidupan sebelumnya pernah menjadi dewa. Dicobai oleh makhluk/pribadi di dalam Matius 4:1-11 disebut dengan iblis . sedangkan dalam teks Buddhisme bernama Mara. Sama-sama melakukan puasa. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Terdapat tiga pencobaan: ALKITAB (TEKS B) TEKS BUDDHISME (TEKS A) Mengubah batu menjadi roti . ebutuhan Godaan kekayaan dan menjadi raja pada saat akan pergi menjadi pertapa Menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (Statu. Ancaman di bawah pohon bodi: Tawaran kerajaan dunia dan Godaan seksual dari tiga anak Mara Persiapan untuk melakukan tugas berikutnya yang lebih besar. Berhasil mengalahkan pencobaan. Mengawali proses pengajaran Yesus dan pembabaran dhamma bagi Sang Buddha. Perbedaan Tentunya selain kesamaan pada proses pembacaan lintas tekstual antara teks Matius 4:1-11 dengan teks kelompok Buddha yang bersumber dari The Chronicle of Buddhas yang ditulis oleh Bhikku Ashin Kusaladhamma, penulis menemukan perbedaan-perbedaan yang dapat diapresiasi, tidak dapat diperdamaikan dan yang akan diolah sebagai proses enriching. Tetapi untuk setiap perbedaan yang ada pertama-tama tentu harus diapresiasi sebagai kekhasan dari teks suci masing-masing. Perbedaan yang muncul pertama adalah tokoh yang dikisahkan yaitu Yesus dan Sidharta Gautama. Keduanya memiliki setting budaya serta lokasi yang berbeda. Yesus berasal dari budaya Yahudi di Palestina dan pencobaan yang dialami-Nya terjadi di padang gurun. Sedangkan Sidharta Gautama diyakini hidup di Nepal serta mengalami pencobaan di tiga tempat yang berbeda: di luar istana, di bawah pohon bodi dan perjalanan setelah mengalami Selain itu durasi pencobaan yang dialami oleh masing-masing tokoh juga berbeda, jika Yesus mengalami pencobaan setelah menjalani puasa selama empat puluh hari serta tidak dijelaskan apakah ketiga pencobaan itu terjadi di hari yang sama. Sidharta Gautama berpuasa selama 6 tahun serta mengalami pencobaan selama 7 tahun. Perbedaan kedua adalah sosok dari si pencoba, di dalam Matius 4:1-11 sebagai teks B pencobaan berasal dari pribadi/makhluk yang disebut iblis . Sedangkan Mara dalam teks A tidak hanya dipahami sebagai pribadi tetapi juga aspek psikologis seperti keinginan atai ketidakinginan yang ada dalam diri manusia. Bahkan menurut kelompok Buddha. Mara juga bisa dikategorikan sebagai dewa yang tidak suka dengan manusia yang berhasil melepaskan diri dari samsara seperti Sidharta Gautama ketika mencapai ke-buddha-an. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Perbedaan ketiga yaitu pada saat Yesus dicobai oleh iblis terlibat dengan dialog secara aktif sedangkan Sidharta Gautama ketika mengalami pencobaan oleh Mara ketike bermeditasi di bawah pohon bodhi lebih bersikap pasif, hanya menyadari adanya tantangan serta membiarkan Perbedaan keempat yakni bentuk pencobaan. Sidharta Gautama mengalami pencobaan secara seksual dan rupa-rupa ketakutan terutama hujan serta kegelapan. Tetapi Yesus tidak mengalami pencobaan yang seperti demikian. Hal yang paling penting adalah ketika mengusir sosok pencoba. Yesus mengusir iblis sedangkan Sidharta Gautama yang telah menjadi Buddha menunjukkan belas kasih-Nya yang membuat Mara lari terbirit-birit. Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Teks B) Diperkaya oleh Kisah Pencobaan Sidharta Gautama (Teks A): Proses Enriching dan Refleksi Yesus Tidak Terikat Tanha? Kisah pencobaan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-. tidak pernah memunculkan narasi tentang pencobaan secara seksual. Di dalam teks A yaitu kisah hidup Sidharta Gautama pencobaan secara seksual berkaitan dengan tanha yaitu nafsu indria atau keinginan untuk memuaskan keinginan tubuh berkaitan hasrat seksual. Hal ini berkaitan dengan latar belakang Yesus sendiri yang tidak pernah diceritakan memiliki seorang istri. Sidharta Gautama mencapai pencerahan ketika berusia tiga puluh lima tahun yang artinya telah mengalami pembentukan nafsu indria selama hidup di kerajaan apalagi Dia tercatat telah memiliki istri. Meskipun Sidharta Gautama telah mencapai pencerahan, karma masa lalunya masih tetap ada. Maka Mara mencobai Sidharta Gautama dengan membangkitkan memori atas tanha atau nafsu indria atas kenikmatan seksual yang pernah dialaminya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika Mara tidak hanya berwujud sebagai makhluk tetapi juga aspek psikologis. Secara psikologis, laki-laki yang pernah mengalami kenikmatan seksual akan melekat pada keinginan diri. Refleksi penulis atas pencobaan seksual yang tidak dialami Yesus, karena tidak ada catatan dalam teks Injil kanonik manapun yang menjelaskan bahwa Dia pernah memiliki istri dan merasakan kenikmatan seksual. Oleh sebab itu Yesus cobaan secara seksual tida ada karena iblis tidak bisa membangkitkan ingatan Dia mengenai kenikmatan seksual. Dengan kata lain Yesus tidak memiliki tanha, atau ada kemungkinan lain yakni jika Yesus dicobai secara seksual. Ia akan menjadi gagal. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Pencobaan Yang Ada Di Dalam Diri Lebih Berat Pada perjumpaan Mara dengan Sidharta Gautama di bawah pohon bodhi. Mara menunjukkan diri dengan rupa-rupa ketakutan seperti hujan yang mengerikan serta kegelapan. Kembali di sini bahwa sosok Mara bukan sekadar pribadi tetapi yang ada di dalam diri yaitu tanha . afsu indri. , arati . dan raga . afsu duniaw. Pencobaan yang ada di dalam manusia tidak hanya tentang apa yang diinginkan oleh diri melainkan juga hal yang tidak diinginkan atau bahkan dibenci, keduanya bisa menggoyahkan manusia dari jalan yang akan dituju sebab membuat manusia semakin mengejar hal yang diinginkan atau menghindar yang tidak Sidharta Gautama dicobai oleh Mara dengan rupa-rupa serta ketakutan dan kecemasan karena tujuan-Nya mencapai pencerahan adalah untuk membebaskan manusia dari samsara yang membuat mereka takut menjadi tua, sakit dan mati. Ketakutan semakin dihindari maka pencobaan melalui rupa tersebut semakin hadir. Sidharta Gautama juga mengalami pencobaan raga yaitu nafsu akan kekayaan duniawi sebab sejak semula memang memiliki hak Istimewa sebagai calon raja. Hal yang paling penting dari keberhasilan Sidharta Gautama lepas dari pencobaan raga adalah kesadaran ketika menghadapi godaan duniawi. Godaan kekayaan duniawi ada di dalam diri Sidharta Gautama, namun dia sadar bahwa pencobaan itu ada dan membiarkannya. Menurut penulis teks A memperkaya pemaknaan keberhasilan Yesus dalam melawan godaan ketiga yaitu kekuasaan atas kerajaan dunia. Seperti Sidharta Gautama. Yesus mengalami kesadaran bahwa keinginan raga itu ada di dalam diri, lalu kesadaran bahwa pencobaan itu dan membiarkannya. Yesus sadar bahwa tujuannya bukanlah meraih raga melainkan melaksanakan tujuan Bapa-Nya sejak semula. Mungkinkah Berterima Kasih kepada Iblis atau Mara? Hal yang mencuat dari proses diskusi dengan kelompok Buddha yang menurut penulis dapat memperkaya kisah pencobaan Yesus di padang gurun adalah sesungguhnya si pencoba itu memiliki peran penting dalam mempersiapkan Yesus sebagai tokoh yang siap melaksanakan misi lebih besar. Kelompok Buddha melihat sisi lain dari Mara dengan mengatakan jika di dalam Buddhisme seharusnya Mara juga bisa dianggap sebagai sosok yang berjasa dalam menghantar Sidharta Gautama menjadi seorang Buddha. Sebab dengan berbagai pencobaan Mara yang berhasil dilalui oleh Sidharta Gautama. Ia menjadi tokoh yang dapat menolong umat melepaskan diri dari samsara dan dhukka. Antara Padang Gurun dan Pohon Bodhi: Pembacaan Lintas Tekstual Komunitarian Antara Kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Matius 4:1-. dan Kisah Pencobaan Sidharta Gautama dalam Mencapai Pencerahan Volume 4 Nomor 3 (September-Desember 2. Berdasarkan hal tersebut penulis berefleksi, mungkinkah Yesus juga perlu berterima kasih kepada iblis yang telah mencobai-Nya. Padang gurun menjadi tempat mempersiapkan diri-Nya untuk pelayanan lebih besar yaitu melaksanakan karya Bapa-Nya yang secara teologis telah ada sejak mula. Justru karena pencobaan iblis yang berhasil dilalui. Yesus mampu tampil sebagai sosok yang mampu mengalahkan pencobaan duniawi bahkan pada akhirnya siap menghadapi tantangn yang lebih besar yaitu mati disalib. Kelompok Buddha Belajar dari Pencobaan yang Dialami Yesus Bagi kelompok Buddha kisah pencobaan Yesus di padang gurun memberikan peneguhan bagi mereka akan bahaya kemelakatan atas keinginan duniawi. Pencobaan pertama yang dialami oleh Yesus yaitu mengubah batu menjadi roti mengajarkan agar mereka tidak didorong oleh kebutuhan jasmani dengan menghalalkan segala cara. Yesus mengajarkan pengendalian diri yang baik, bahwa tanha yaitu nafsu-indria dan raga atau kekayaan duniawi adalah bersifat sementara. Berbeda dengan Sidharta Gautama yang menyadari adanya pencobaan dan bersikap pasif. Yesus memberikan teladan untuk bertindak aktif melawan dengan memusatkan pikiran terhadap ayat-ayat Perjanjian Lama. Mungkin umat Buddha juga perlu memusatkan pikiran dengan dhamma atau ajara-ajaran Sang Buddha ketika menghadapi pencobaan. Selain itu adanya tiga pola pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun juga mengingatkan bahwa pencobaan bisa hadir setiap waktu. Kesimpulan Orang Kristen Asia hidup di dalam hibriditas sebagai orang yang menghidupi teks Alkitab dan teks keagamaan Asia termasuk teks Buddhisme. Teks tersebut dapat memperkaya pembacaan Alkitab seperti kisah pencobaan Yesus di padang gurun. Kisah yang tercantum di dalam Matius 4:1-11 memiliki motif dan kesamaan dengan pencobaan yang dialami oleh Sidharta Gautama ketika menjelang serta sesudah mencapai pencerahan. Kedua teks telah mempertemukan dua tokoh utama dalam agama masing-masing di dalam proses persiapan mereka menuju karya yang lebih besar. Bagi teks Alkitab, kisah Sidharta Gautama memperkaya pembacaan terutama berkaiatan dengan godaan seksual dan konsep iblis. Godaan seksual merupakan tanha atau nafsu atas kenikmatan seksual yang dibangkitkan oleh Mara secara psikologis. Oleh sebab itu iblis tidak selalu dipandang sebagai pribadi tetapi kondisi yang memang sudah melekat dalam diri manusia sejak semua. Pembacaan lintas tekstual komunitarian menjadi sarana memperkaya teks suci masing-masing tetapi juga sebagai ruang dialog antara dua kelompok keagamaan yang dapat memperkaya kehidupan spiritual masing-masing. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Daftar Pustaka