https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Sejarah Berbasis Deep Learning di SMA Negeri 3 Surakarta Zinjy Jehanagara1. Sariyatun2 Universitas Sebelas Maret. Indonesia, zinjyjehanagara@student. Universitas Sebelas Maret. Indonesia, sariyatun@staff. Corresponding Author: zinjyjehanagara@student. Abstract: This study aims to . describe teachersAo understanding of multicultural education at SMA Negeri 3 Surakarta, . describe teachersAo understanding of the deep learning approach in history learning at SMA Negeri 3 Surakarta, . describe the implementation of multicultural education in history learning based on the deep learning approach at SMA Negeri 3 Surakarta, and . describe the obstacles in implementing multicultural education in history learning based on the deep learning approach at SMA Negeri 3 Surakarta. This study employed a qualitative research method with a descriptive approach. The data sources included history teachers, students, learning activities, and supporting learning documents. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data validity was tested using source triangulation and method triangulation, while data analysis was carried out through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of this study are as follows. TeachersAo understanding of multicultural education indicates that teachers have an awareness of the importance of diversity in the learning process. Teachers attempt to instill the values of tolerance, mutual respect, and non-discriminatory attitudes in history learning activities. TeachersAo understanding of the deep learning approach shows that teachers have begun to implement learning oriented toward deeper understanding through discussions, reflections, and active student involvement in history learning. The implementation of multicultural education in history learning based on the deep learning approach has been carried out through learning activities involving active interaction among students, group discussions, and connecting historical materials with studentsAo social lives so that learning becomes more . The obstacles faced in implementing multicultural education based on the deep learning approach include limited learning time, studentsAo readiness to participate in active learning, and teachersAo readiness to manage learning that integrates multicultural values with the deep learning approach. Therefore, strengthening lesson planning, classroom management, and improving the readiness of both teachers and students are needed so that the learning process can be implemented more optimally. Keyword: Multicultural Education. History Learning. Deep Learning. Implementation. Obstacles. 130 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk . Mendeskripsikan pemahaman guru mengenai pendidikan multikultural di SMA Negeri 3 Surakarta. Mendeskripsikan pemahaman guru mengenai pendekatan deep learning dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta. Mendeskripsikan implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis pendekatan deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta. Mendeskripsikan kendala pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis pendekatan deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Sumber data meliputi guru sejarah, peserta didik, aktivitas pembelajaran, serta dokumen pendukung pembelajaran. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Uji validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pemahaman guru mengenai pendidikan multikultural menunjukkan bahwa guru telah memiliki kesadaran terhadap pentingnya keberagaman dalam proses pembelajaran. Guru berusaha menanamkan nilai toleransi, saling menghargai, dan tidak membedakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sejarah. Pemahaman guru mengenai pendekatan deep learning menunjukkan bahwa guru mulai menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman mendalam melalui kegiatan diskusi, refleksi, dan keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran . Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis deep learning telah dilakukan melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antar peserta didik, diskusi kelompok, dan pengaitan materi sejarah dengan kehidupan sosial peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Kendala yang dihadapi dalam penerapan pendidikan multikultural berbasis deep learning meliputi keterbatasan waktu pembelajaran, kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran aktif, serta kesiapan guru dalam mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan nilai multikultural dengan pendekatan deep learning. Oleh karena itu, diperlukan penguatan dalam perencanaan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan peningkatan kesiapan guru maupun peserta didik agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan lebih optimal. Kata Kunci: Pendidikan Multikultural. Pembelajaran Sejarah. Deep Learning. Implementasi. Kendala. PENDAHULUAN Dalam konteks masyarakat Indonesia yang dikenal dengan kekayaan budaya, etnis, dan agama, pendidikan multikultural menjadi semakin penting sebagai pendekatan untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan menghargai keberagaman. Keragaman tersebut secara langsung memengaruhi perilaku individu, pola pikir, hingga sistem nilai yang dianut oleh setiap kelompok. Setiap komunitas memiliki cara hidup yang berbeda-beda, termasuk dalam bentuk penggunaan bahasa, kebiasaan sehari-hari, norma sosial, hingga adat istiadat yang menjadi warisan budaya turun-temurun. Keanekaragaman ini meskipun merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai pada kenyataannya juga berpotensi menimbulkan gesekan sosial di tengah masyarakat. Perbedaan dalam aspek ras, agama, budaya, dan etnis sering kali memunculkan persoalan-persoalan sosial yang kompleks. Tidak jarang ketegangan dan konflik terjadi sebagai akibat dari kurangnya pemahaman antarkelompok terhadap perbedaan yang ada. Fenomena semacam ini dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari termasuk di lingkungan sekolah misalnya tawuran antar pelajar, perilaku perundungan . , hingga sikap eksklusif terhadap teman yang berbeda latar belakang, mencerminkan adanya ketegangan 131 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 sosial yang tumbuh di tengah keragaman yang semestinya menjadi kekuatan bangsa (Nauval. Jika keberagaman tidak dikelola secara bijaksana, maka potensi tersebut justru dapat berubah menjadi sumber konflik sosial. Ketegangan horizontal antar kelompok masyarakat bisa muncul, dan apabila dibiarkan, dapat mengarah pada disintegrasi sosial yang mengancam persatuan bangsa. Dalam konteks ini, pendidikan berbasis multikulturalisme bukan hanya menjadi pilihan, melainkan suatu keniscayaan. Pendidikan yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai multikultural menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam keberagaman. Tanpa pendekatan pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap realitas masyarakat majemuk, keberagaman justru dapat berubah menjadi pemicu konflik yang menghancurkan. Pada masa lalu, keberagaman di Indonesia dipandang sebagai kekayaan bangsa yang menjadi landasan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun kehidupan bersama. Namun kini, keberagaman tersebut sering kali direduksi menjadi sekadar perbedaan yang diperuncing oleh kepentingan tertentu, baik politik, ekonomi, maupun golongan. Kondisi ini memicu munculnya berbagai konflik horizontal yang berdampak buruk terhadap stabilitas sosial dan kebangsaan. Oleh karena itu, membangun kembali kesadaran multikultural menjadi tugas penting, terutama melalui jalur Pendidikan (Nauval, 2. Secara konseptual, multikulturalisme merujuk pada pengakuan terhadap fakta bahwa suatu negara atau masyarakat terdiri atas beragam kelompok dengan latar belakang yang Multikulturalisme juga mencerminkan kepercayaan bahwa keberagaman merupakan sesuatu yang normal dan patut diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama. Istilah AumultikulturalAy sendiri mengandung dua makna penting, yaitu AumultiAy yang berarti banyak atau beragam, dan AukulturalAy yang merujuk pada budaya. Dalam ranah pendidikan, multikulturalisme dapat dimaknai sebagai pendekatan yang mengedepankan pengajaran dan pemahaman terhadap keragaman budaya dalam merespon dinamika demografis dan perubahan sosial masyarakat. Pendidikan multikultural menekankan pentingnya pengakuan terhadap keberagaman etnis dan budaya dalam proses pendidikan, sebagai bagian dari nilai-nilai yang harus diwariskan dan dikembangkan. Selain itu, pendekatan ini juga menjadi respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan kesetaraan hak dalam lingkungan sekolah yang semakin Pendidikan multikultural mendorong integrasi berbagai sudut pandang, narasi sejarah, pencapaian, dan kepedulian terhadap kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan dalam sistem Pendidikan (Anita Dkk, 2. Pembelajaran abad ke-21 menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta keterampilan bekerja sama. Tuntutan tersebut muncul sebagai konsekuensi dari semakin kompleksnya tantangan global yang harus dihadapi secara cermat. Dalam merespons kondisi tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya di berbagai sektor, khususnya di bidang pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan menjadi langkah strategis yang ditempuh untuk menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan mampu beradaptasi dalam persaingan global (Suci Dkk, 2. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasme. Abdul MuAoti memperkenalkan pendekatan pembelajaran Deep Learning sebagai salah satu upaya pembaruan dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini menekankan pentingnya pengalaman belajar yang bermakna dan disadari oleh peserta didik, dengan fokus pada pemahaman yang mendalam. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya sekadar menghafal materi, tetapi mampu memahami serta menginternalisasi pengetahuan secara lebih bermakna (Putri, 2. Deep learning merupakan salah satu wacana baru dalam paradigma pendidikan di Indonesia yang saat ini masih berada pada tahap pengembangan dan eksplorasi awal. Pendekatan ini menawarkan pembaruan dalam proses pembelajaran dengan menekankan pemahaman yang mendalam serta pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. 132 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Melalui Deep Learning, pembelajaran tidak lagi berorientasi pada penguasaan materi secara dangkal, melainkan mendorong peserta didik untuk memahami, mengolah, dan menginternalisasi pengetahuan secara lebih komprehensif. Meskipun demikian, penerapan pendekatan ini menuntut kesiapan berbagai aspek, seperti pemahaman pendidik, kesesuaian dengan kurikulum, serta kemampuan mengintegrasikannya dengan konteks pendidikan nasional yang beragam. Oleh karena itu, pengembangan deep learning perlu dilakukan secara cermat dengan tetap menjunjung prinsip pendidikan yang humanis dan berkeadilan. Selain itu proyek ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai persoalan atau tantangan yang ada di sekitarnya (Gafar Hidayat, 2. Pendekatan pembelajaran Deep Learning diyakini mampu mengoptimalkan pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui proses belajar yang berpusat pada siswa. Dalam pendekatan ini, peserta didik diposisikan sebagai subjek utama pembelajaran yang didorong untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu, berpikir kritis, serta memahami materi secara mendalam dan terperinci, sehingga pengetahuan yang diperoleh lebih mudah diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan pendekatan ini dapat berjalan secara optimal apabila guru memiliki pemahaman yang memadai terhadap pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pemilihan pendekatan pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan karakteristik materi serta kondisi dan gaya belajar peserta didik. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki wawasan yang luas mengenai strategi pembelajaran serta mampu memahami keberagaman latar belakang dan gaya belajar peserta didik. Melalui pendekatan deep learning, guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar siswa sejak awal sehingga permasalahan belajar dapat ditangani secara lebih efektif (Gafar Hidayat, 2. Penelitian yang relevan dengan topik ini dilakukan oleh Nurhijrah dan Syarifah Suryana . dalam Jurnal Pendidikan dan Profesi Keguruan dengan judul Pengembangan Profesionalisme Guru melalui Pembelajaran Deep Learning dalam Kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi kelas, dan dokumentasi refleksi guru. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan pendekatan pembelajaran deep learning dapat mendorong pengembangan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan deep learning mampu meningkatkan pemahaman guru terhadap pembelajaran bermakna, mendorong perubahan strategi mengajar ke arah yang lebih eksploratif, kolaboratif, dan reflektif, serta memperkuat kompetensi pedagogik dan sikap profesional guru. Penelitian ini juga menemukan sejumlah kendala, seperti keterbatasan waktu, kesiapan siswa, dan kebutuhan akan pelatihan berkelanjutan, yang diatasi melalui dukungan sekolah dan kolaborasi antarguru. Penelitian tersebut menjadi rujukan penting dalam skripsi ini karena memberikan gambaran empiris mengenai implementasi pendekatan deep learning dalam konteks pembelajaran dan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran bermakna. Namun, penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada pengembangan profesionalisme guru dan belum secara khusus mengkaji integrasi nilai-nilai pendidikan multikultural dalam pembelajaran Sejarah. Dalam dunia pendidikan, penerapan pendidikan multikultural semakin dibutuhkan terutama di sekolah-sekolah yang siswanya berasal dari berbagai latar belakang. Salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan multikultural secara nyata adalah SMA Negeri 3 Surakarta. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan negeri tingkat menengah atas yang berada di kawasan kota dengan lingkungan siswa yang sangat beragam dari segi budaya, agama, suku, dan bahasa, hal ini terlihat dari visi misi serta tujuan sekolah yang mendukung nilai-nilai keberagaman. Letaknya yang strategis juga menjadi alasan kenapa sekolah ini menjadi tempat belajar bagi siswa dari berbagai daerah dan latar belakang. Berdasarkan hasil pengamatan awal, diketahui bahwa para siswa di SMA Negeri 3 Surakarta memiliki latar belakang yang sangat beragam, seperti pemeluk agama Islam. Kristen. Katolik. Hindu, dan 133 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Buddha. Tidak hanya berbeda agama siswa-siswanya juga berasal dari berbagai suku memiliki bahasa ibu yang berbeda dan membawa adat serta kebudayaan masing-masing. Situasi ini menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang penuh dengan dinamika keberagaman. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran sehari-hari, para guru di sekolah ini berusaha untuk selalu memperhatikan nilai-nilai multikultural agar semua siswa merasa dihargai dan diterima. Melihat realitas di lapangan yang menunjukkan keragaman seperti ini, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuImplementasi Pendidikan Multikultural Pada Pembelajaran Sejarah Berbasis Deep Learning di SMA Negeri 3 Surakarta. Ay Penelitian ini penting dilakukan, mengingat Kota Surakarta dikenal sebagai kota yang memiliki latar belakang masyarakat yang multikultural. Perbedaan suku, agama, etnis, dan ras menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kota ini. Namun bila tidak dijaga dan dikelola dengan baik keberagaman ini justru bisa menjadi sumber konflik seperti yang pernah terjadi pada beberapa peristiwa sosial di masa lalu yang disebabkan oleh gesekan antar kelompok. Melalui pembelajaran sejarah yang mengandung banyak nilai tentang keberagaman dan toleransi pendidikan multikultural bisa dimaksimalkan untuk mencegah munculnya sikap diskriminatif dan fanatisme yang sempit. Dengan adanya pendidikan yang mampu menanamkan sikap saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai diharapkan siswa bisa tumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan yang ada di tengah Karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pendidikan multikultural diterapkan dalam proses belajar sejarah di sekolah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. TINJAUAN PUSTAKA Multikultural Secara etimologis, istilah multikultural berasal dari dua kata, yaitu multi yang berarti banyak atau beragam, dan kultur yang berarti kebudayaan. Maka, multikultural secara sederhana dapat diartikan sebagai keberagaman budaya dalam suatu lingkungan masyarakat. Istilah ini tidak hanya mencerminkan perbedaan dalam praktik kebudayaan semata, tetapi juga mencakup unsur-unsur penting lain seperti agama, ras, dan suku bangsa. Keempat elemen tersebut membentuk identitas budaya yang khas dalam masyarakat, dan saling berkaitan satu sama lain (Rahmawati Dkk, 2. Peran Guru Dalam Pendekatan Deep Learning Penerapan pendekatan pembelajaran deep learning membawa perubahan terhadap proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam pendekatan ini, guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, melainkan memiliki peran sebagai pendamping dan fasilitator dalam kegiatan belajar peserta didik. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang interaktif dan kolaboratif, merancang pengalaman belajar yang memiliki makna, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengasah kemampuan berpikir kritis secara lebih mendalam. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogik agar proses pembelajaran dapat terlaksana secara optimal dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan (Akmal Dkk, 2. Deep Learning Dalam dunia pendidikan, deep learning dipahami sebagai strategi pembelajaran yang menekankan eksplorasi, pemanfaatan teknologi, analisis informasi, dan pemecahan masalah. Melalui pendekatan ini, peserta didik diharapkan mampu memahami pola, hubungan antarkonsep, serta menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks kehidupan (Siregar, 2023. Warburton, 2003. Smith & Colby, 2. Pendekatan deep learning tidak hanya relevan dengan tuntutan pembelajaran modern, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung pembelajaran berkelanjutan serta meningkatkan efektivitas proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan (Gordon & Debus, 2002. Entwistle, 2. 134 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pembelajaran Sejarah Dalam pengertiannya pembelajaran sejarah pada dasarnya bukan sekadar menyampaikan informasi tentang kejadian-kejadian di masa lalu tetapi juga merupakan proses untuk menanamkan nilai-nilai penting dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi kepada Dalam Sejarah yang dipelajari bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga apa yang dipikirkan, dikatakan, dirasakan, dilakukan, dan dialami oleh manusia pada masa lalu. Artinya sejarah mencakup seluruh pengalaman manusia. Lewat Sejarah siswa diajak mengenal siapa yang terlibat dalam suatu peristiwa, kapan dan dimana peristiwa itu terjadi, serta bagaimana peristiwa itu berlangsung Tujuan pembelajaran sejarah tidak hanya sebatas agar siswa tahu tentang peristiwa masa lalu, tetapi lebih penting lagi agar mereka bisa memahami dan mengambil pelajaran dari perjuangan orang-orang terdahulu. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Surakarta. Jalan Prof. Dr. Yohannes No. Kelurahan Purwodiningratan. Kecamatan Jebres. Kota Surakarta, selama tujuh bulan mulai Oktober 2025 hingga April 2026. Populasi penelitian meliputi guru mata pelajaran sejarah dan siswa kelas XI, sedangkan sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa informan memahami implementasi pendidikan multikultural dan pendekatan berbasis deep learning dalam pembelajaran sejarah. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, lembar observasi, serta dokumen pendukung seperti RPP, silabus, dan modul ajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen . ontent analysi. untuk memperoleh data yang mendalam mengenai implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah. Validitas data diuji menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode untuk memastikan keakuratan data di lapangan. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyaring dan memfokuskan data penting, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi sistematis, sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil analisis terhadap implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Guru Mengenai Pendidikan Multikultural Pemahaman guru terhadap pendidikan multikultural terlihat dari cara memandang keberagaman yang ada di dalam kelas sebagai bagian yang wajar dalam proses pembelajaran. Perbedaan latar belakang peserta didik, baik dari segi budaya, agama, maupun sosial, tidak diposisikan sebagai hambatan, tetapi justru dipahami sebagai potensi yang dapat memperkaya proses belajar. Cara pandang ini menunjukkan bahwa guru tidak lagi melihat keberagaman sebagai sesuatu yang perlu dihindari, melainkan sebagai realitas yang perlu dikelola secara positif dalam pembelajaran. Kondisi tersebut relevan dengan situasi di SMA Negeri 3 Surakarta yang memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam. Keberagaman ini tidak hanya terlihat dari perbedaan agama, tetapi juga dari asal daerah, budaya, dan bahasa yang digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekolah yang demikian menuntut guru untuk memiliki pemahaman yang baik terhadap pendidikan multikultural agar proses pembelajaran dapat berjalan secara inklusif dan tidak menimbulkan kesenjangan di antara peserta didik. Pada pembahasan ini juga akan dijelaskan sejauh mana pemahaman guru sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta mengenai Pendidikan Multikultural tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh 135 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 informan pertama selaku Guru Mata Pelajaran Sejarah SMA Negeri 3 Surakarta sebagai Au Menurut saya pendidikan multikultural itu adalah bagaimana kita menanamkan kepada anak rasa saling menghormati satu sama lain dinilai dari keragaman siswa yang ada di sekolah ini, agamanya beda ras nya beda model pembelajaran nya pun berbedaAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd. , pada Selasa, 7 April 2. Menurut guru sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta, pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menekankan pada penanaman sikap saling menghormati antar peserta didik. Hal ini didasarkan pada kondisi siswa yang memiliki latar belakang beragam, baik dari segi agama, ras, maupun budaya yang berbeda. Guru SMA Negeri 3 Surakarta juga memandang bahwa keberagaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Perbedaan yang ada tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan Selain itu, perbedaan gaya belajar siswa juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga guru berupaya menyesuaikan metode yang digunakan agar dapat diterima oleh seluruh peserta didik. Temuan ini memiliki kesamaan dengan hasil penelitian yang menjelaskan bahwa pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berkaitan erat dengan upaya membantu peserta didik memahami keberagaman melalui kajian peristiwa masa lalu (Anwar, 2. Pembelajaran sejarah tidak hanya digunakan untuk mengenalkan fakta, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran terhadap perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Kondisi ini terlihat dalam pembelajaran yang dilakukan, di mana materi sejarah tidak disampaikan sebagai rangkaian peristiwa semata, tetapi dikaitkan dengan nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan keberagaman (Anwar, 2. Hasil yang serupa juga ditunjukkan dalam penelitian lain yang menjelaskan bahwa guru sejarah telah mulai mengintegrasikan pendidikan multikultural dengan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik serta mengaitkan materi dengan realitas di lingkungan sekitar (Ekwandari. Perdana, & Lestari, 2. Pola ini terlihat sejalan dengan praktik pembelajaran yang dilakukan, di mana guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami keberagaman melalui contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman guru tidak hanya bersifat konseptual, tetapi sudah mulai mengarah pada penerapan yang nyata. Pemahaman guru menjadi landasan utama dalam pelaksanaan pendidikan multikultural. Ketika pemahaman tersebut sudah terbentuk dengan baik, pembelajaran yang dilakukan akan lebih mudah diarahkan pada pengembangan sikap toleransi dan saling menghargai. Sebaliknya, jika pemahaman masih terbatas, maka nilai-nilai tersebut cenderung tidak tersampaikan secara Oleh karena itu, kualitas pemahaman guru menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran Sejarah (Ekwandari. Perdana, & Lestari, 2. Pemahaman Guru Mengenai Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta Pemahaman guru terhadap pendekatan deep learning menjadi aspek penting dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah, khususnya dalam upaya menciptakan proses belajar yang bermakna dan berpusat pada peserta didik. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif siswa dalam memahami materi melalui proses eksplorasi, pengolahan informasi, serta pengaitan pengetahuan baru dengan pemahaman awal yang telah dimiliki. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah SMA Negeri 3 Surakarta, diperoleh informasi sebagai berikut: 136 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 AuKarna pembelajaran ini memfokuskan kepada anak saya biasanya intinya anak itu mengeksplor pembelajaran jadi saya yang penting dia paham tentang materinya jadi saya berbasis pada siswanya, awal pembelajaran saya sampaikan dulu materi yang kita pelajari nanti silahkan eksplor nah eksplor nanti terserah dia mau pakai buku pembelajaran bisa lewat browsing boleh saya izinkan. Saya juga menggunakan rambu rambu apa yang saya pelajari, dari situ ketika sudah mempelajari apa yang sesuai rambu saya akan mulai menjelaskan, ketika menjelaskan saya minta dulu kepada siswa apa yang sudah dia dapatkan nanti dikoreksi jika ada yg miskonsepsi akan saya betulkan. Saya itu yang pasti anak paham materi ketika saya menjelaskan jadi gabungnya. Bukan saya mejelaskan dia gatau apa apa seperti gelas kosong saat diisi, saya inginnya dia punya dasar dulu nanti jika ada kekurangan maka saling melengkapi. Saya pun juga manusia biasa sebagai guru Sejarah kan materi Sejarah banyak kadang saya juga lupa gainget atau pemahaman kurang jadi kita saling melengkapi mereka belajar syaa juga belajar. Biasanya kita berbasis data browsing buku dll, jadi kita gampang menjelajahiAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Berdasarkan wawancara dengan Ibu A,R,S. Pd. menunjukkan bahwa guru telah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi materi secara mandiri. Kegiatan eksplorasi dilakukan melalui berbagai sumber belajar, baik buku maupun media digital, sehingga siswa memperoleh kesempatan untuk membangun pemahamannya sebelum memperoleh penjelasan dari guru. Proses pembelajaran juga dilaksanakan secara terarah melalui penggunaan rambu-rambu yang disusun oleh Ibu A. Pd selaku guru di SMA Negeri 3 Surakarta. Rambu-rambu tersebut berfungsi sebagai pedoman agar kegiatan eksplorasi tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Setelah siswa melakukan proses pencarian informasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil pemahamannya, yang kemudian dikaji bersama untuk mengidentifikasi serta meluruskan kemungkinan terjadinya miskonsepsi. Pandangan guru yang tidak memposisikan siswa sebagai Augelas kosongAy menunjukkan adanya pengakuan terhadap pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik. Pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan dan menyempurnakan pemahaman tersebut melalui interaksi antara siswa dan guru. Situasi ini mencerminkan proses pembelajaran yang bersifat konstruktif, di mana pengetahuan dibangun secara bertahap melalui pengalaman belajar. Sikap guru yang terbuka terhadap kemungkinan adanya keterbatasan dalam penguasaan materi juga memperlihatkan adanya hubungan pembelajaran yang lebih dialogis. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya berlangsung satu arah, melainkan saling melengkapi. Hal ini diperkuat berdasarkan wawancara bersama informan kedua yaitu I. F, dari Kelas XI F2 sebagai berikut: AuGuru sejarah di kelas biasanya menjelaskan dengan cukup menarik. Kadang pakai diskusi, kerja kelompok, dan juga analisis peristiwa sejarah. Menurut saya cara belajar seperti itu lumayan membantu, karena jadi tidak cuma mendengarkan penjelasan, tapi juga ikut berpikir dan memahami sendiri isi materinyaAy. (Wawancara dengan I. Pada Kamis 16 April 2. Dari hasil penelitian mengenai pelaksanaan tugas kelompok dan kegiatan presentasi dari wawancara bersama informan kedua yaitu I. F menunjukkan bahwa informan pertama Ibu A. Pd tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pemahaman siswa dalam menyampaikan materi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menjelaskan materi, apakah disampaikan berdasarkan pemahaman sendiri atau masih bergantung pada teks. Adapun diperkuat dari kutipan sebagai berikut: 137 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Au Kalau itu bervariasi, bukan untuk kelas tertentu, tetapi tergantung pada siswanya Ada siswa yang dapat menjelaskan tanpa melihat catatan karena benar-benar memahami materi, tetapi ada juga kelas yang masih harus dituntun secara perlahan. Dari saya sendiri menekankan agar tidak membaca, melainkan mencoba menjelaskan sesuai pemahaman di awal. Karena sejak awal saya mengatakan bahwa jika menjelaskan dengan cara membaca, berarti belum memahami materi, tetapi jika bisa menjelaskan tanpa membaca, berarti sudah memahami isi dan maknanya. Biasanya di kelas yang pemahamannya masih kurang, siswa saya beri kesempatan untuk browsing terlebih Intinya memang berbeda-beda, karena kemampuan siswa tidak sama, sehingga dalam pembelajarannya juga dilakukan secara perlahan. Namun, saya tetap menekankan sebisa mungkin tidak membaca saat presentasiAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Ibu A. Pd memberikan perhatian pada proses penyampaian materi oleh siswa pada kelas sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta sebagai indikator tingkat pemahaman. Kemampuan siswa dalam menjelaskan tanpa membaca dipandang sebagai tanda bahwa siswa telah memahami materi secara lebih mendalam. Pelaksanaan presentasi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa juga mencerminkan adanya fleksibilitas dalam pembelajaran. Ibu A. R,S. Pd tidak memaksakan keseragaman, melainkan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik. Upaya untuk mendorong siswa agar tidak bergantung pada teks menunjukkan bahwa pembelajaran diarahkan pada penguatan pemahaman, bukan sekadar penyampaian informasi. Pemberian kesempatan untuk melakukan pencarian informasi sebelum presentasi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendukung eksplorasi pengetahuan. Melalui kegiatan tersebut, siswa memiliki kesempatan untuk memperdalam materi sebelum menyampaikannya di depan kelas. Dengan demikian, proses pembelajaran yang berlangsung menunjukkan adanya penerapan prinsip deep learning yang menekankan pada pemahaman, keterlibatan aktif, serta proses belajar yang bermakna. Kondisi tersebut sejalan dengan prinsip deep learning yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta didik dalam membangun pemahaman secara mendalam. Penggunaan teknologi memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi materi secara lebih luas melalui berbagai sumber belajar, serta membantu dalam mengaitkan informasi yang diperoleh dengan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya. Penggunaan media visual dan platform digital dalam pembelajaran sejarah juga mendukung terbentuknya pengalaman belajar yang lebih Siswa tidak hanya menerima informasi secara verbal, tetapi juga memperoleh representasi visual yang dapat memperkuat pemahaman terhadap peristiwa sejarah. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sejarah tersebut menunjukkan bahwa guru berupaya mengembangkan proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada penguatan pemahaman siswa melalui berbagai pendekatan yang relevan dengan perkembangan pembelajaran saat ini. Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Sejarah Berbasis Deep Learning di SMA Negeri 3 Surakarta Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta menjadi bagian penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pemahaman materi, tetapi juga pada pembentukan sikap menghargai keberagaman. Dalam konteks ini, pembelajaran sejarah tidak hanya memuat nilainilai multikultural secara konseptual, tetapi juga diwujudkan melalui aktivitas belajar yang melibatkan interaksi antar peserta didik dengan latar belakang yang berbeda. 138 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pemahaman tersebut tercermin dari cara informan pertama selaku guru sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta dalam mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam proses pembelajaran yang berbasis eksplorasi dan diskusi. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mendorong siswa terlibat secara aktif dalam memahami materi sekaligus belajar menghargai perbedaan yang muncul dalam proses tersebut. Adapun hasil wawancara dengan informan pertama sebagai guru sejarah SMA Negeri 3 Surakarta menunjukkan bahwa: Au Intinya kalau konsep multikultural artinya menggerakkan anak untuk saling mengeksplor bersama. Misalnya ketika mereka mengerjakan tugas bersama atau berdiskusi dengan teman yang berbeda agama dan pendapat, dari situ mereka belajar menghargai perbedaan pemikiran. Dalam satu kelompok diskusi ada siswa yang pendapatnya lebih kuat dan ada yang lebih lemah, tetapi saya tidak menginginkan adanya sikap superior. Saya ingin semuanya terlibat dalam pembicaraan, jadi tugas itu tidak dikerjakan sendiri, melainkan bersama-sama. Intinya walaupun pendapatnya berbedabeda, tetap dicari jalan tengahnya seperti apaAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Berdasarkan kutipan wawancara menunjukkan bahwa implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah dilakukan melalui kegiatan diskusi kelompok yang melibatkan interaksi antar siswa dengan latar belakang dan pemikiran yang beragam. Proses diskusi menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat sekaligus belajar menerima perbedaan pandangan. Penekanan guru agar tidak terjadi dominasi dalam kelompok juga menunjukkan adanya upaya untuk menciptakan pembelajaran yang inklusif. Setiap siswa diberikan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, sehingga tidak ada pihak yang merasa lebih unggul maupun terpinggirkan. Kondisi ini mendukung terbentuknya sikap saling menghargai dalam proses pembelajaran. Pengalaman siswa dalam pembelajaran sejarah dapat memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai multikultural benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar di kelas. Interaksi antar siswa yang memiliki latar belakang berbeda menjadi bagian penting dalam membentuk sikap saling menghargai, terutama melalui kegiatan diskusi dan kerja kelompok. Dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta, kegiatan diskusi kelompok memungkinkan siswa untuk bertukar pendapat dengan teman yang berasal dari latar belakang budaya maupun agama yang berbeda. Situasi ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami materi pelajaran, tetapi juga melatih mereka untuk mendengarkan, menerima, dan menghargai perbedaan pandangan. Hal tersebut diperkuat oleh salah satu siswa selaku informan kedua dari etnis Tionghoa di SMA Negeri 3 Surakarta yaitu I. F Kelas XI F2 sebagai Au Pernah. Saya beberapa kali berdiskusi dan kerja kelompok dengan teman-teman yang latar belakangnya berbeda. Menurut saya itu justru seru, karena dari situ saya jadi bisa belajar saling menghargai pendapat dan lebih terbuka dengan perbedaan yang adaAy. (Wawancara dengan I. F Kelas XI F2 , pada Kamis 16 April 2. Informan kedua tidak hanya terlibat dalam kegiatan belajar secara akademis, tetapi juga mengalami secara langsung proses interaksi dalam keberagaman. Kegiatan diskusi yang dilakukan membuat siswa terbiasa menghadapi berbagai perbedaan, baik dalam cara berpikir maupun dalam latar belakang sosial. Rasa AuseruAy yang disampaikan oleh siswa menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suasana yang nyaman dan tidak menimbulkan Perbedaan yang ada justru dipandang sebagai hal yang menarik, sehingga mendorong siswa untuk lebih terbuka dan aktif dalam berinteraksi dengan teman lainnya. 139 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Selain itu keberagaman latar belakang peserta didik menjadi salah satu kondisi yang mendukung penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta. Adanya siswa dari latar belakang etnis yang berbeda memberikan ruang bagi guru untuk menanamkan nilai saling menghargai dan menghormati sejak proses pembelajaran di Hal tersebut disampaikan oleh informan pertama selaku guru sejarah SMA Negeri 3 Surakarta sebagai berikut: Au Kalau etis tionghoa ada banyak di kelas 11, kalau Arab di kelas 12, tetapi sekarang kebanyakan orang Jawa atau pribumi. Pendidikan Multikultural yang ditanamkan disekolah kita kan menyikapi perbedaan, tetapi perbedaan tidak selamanya menghancurkan, perbedaan itu indah asal kita saling menghargai dan menghormati, itu kuncinya bagaimana kita menghargai saudara kita, karena kita tinggal bersama, ini wilayah kita, kita jaga bersama. Kalau ada gesekan-gesekan kecil itu normal, tetapi jangan dipupuk menjadi bom waktu. Cara menanamkannya bisa dari sekolah, jadi itulah multikultural. Bersama-sama sekolah, bersama di kelas, dan berdiskusi bersama. Diawali dari diskusi, karena dari situ terlihat bahwa kita satu sama lain bisa menghargai pendapatAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Kutipan wawancara oleh Ibu A. Pd tentang keberagaman etnis di lingkungan sekolah menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah yang berbasis pendidikan multikultural. Adanya siswa dari etnis Tionghoa. Arab, maupun Jawa menunjukkan bahwa kelas merupakan ruang yang beragam, sehingga sangat memungkinkan terjadinya interaksi sosial antar peserta didik dengan latar belakang yang berbeda. Pandangan guru bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang indah menunjukkan adanya pemahaman bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang harus dijaga. Penekanan pada sikap saling menghargai dan menghormati menjadi inti dari penerapan pendidikan multikultural di Guru juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat maupun gesekan kecil antar siswa merupakan hal yang wajar dalam proses interaksi. Namun, hal tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai toleransi sejak dini. Kegiatan belajar bersama, berada dalam satu kelas, serta diskusi kelompok menjadi cara yang digunakan untuk menumbuhkan sikap Melalui diskusi, siswa belajar untuk mendengarkan pendapat teman dan menghargai sudut pandang yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pembentukan sikap sosial siswa dalam kehidupan seharihari. Pengalaman siswa menunjukkan bahwa nilai-nilai multikultural di lingkungan sekolah benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana siswa berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda tanpa adanya perlakuan yang membeda-bedakan. Hal tersebut disampaikan pada wawancara bersama informan kedua, siswa kelas XI F2 dari etnis Tionghoa, yang menyatakan bahwa: Au Iya, saya merasa dihargai dan diterima. Di kelas maupun di lingkungan SMAN 3 Surakarta, saya merasa teman-teman cukup terbuka dan tidak membeda-bedakan berdasarkan latar belakang. Jadi saya merasa nyaman dan bisa bergaul dengan baik seperti yang lainAy. (Wawancara dengan I. F Kelas XI F2, pada Kamis 16 April 2. Informan kedua merasakan adanya sikap terbuka dari teman-temannya di sekolah. Ia dapat bergaul dan berinteraksi tanpa merasa dibedakan karena latar belakang etnisnya. Kondisi ini membuatnya merasa nyaman berada di lingkungan sekolah, baik saat pembelajaran di kelas 140 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 maupun di luar kelas. Rasa nyaman tersebut penting karena dapat mempengaruhi cara siswa mengikuti pembelajaran. Siswa yang merasa diterima cenderung lebih percaya diri untuk berpendapat, berdiskusi, dan terlibat dalam kegiatan belajar. Hal ini juga mendukung terciptanya suasana kelas yang lebih aktif dan tidak kaku. Pengalaman informan kedua oleh I. F Kelas XI F2 juga menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang dalam hubungan antar siswa. Teman-temannya mampu bersikap terbuka dan tidak membedakan, sehingga interaksi sosial dapat berjalan dengan baik. Sikap seperti ini tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk dari kebiasaan berinteraksi, termasuk melalui kegiatan belajar bersama di kelas. Kondisi yang dirasakan oleh informan kedua memperlihatkan bahwa lingkungan sekolah sudah mampu menciptakan suasana yang menerima keberagaman. Siswa dapat bergaul secara wajar, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai masalah. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai multikultural tidak hanya dipahami, tetapi juga sudah terlihat dalam perilaku sehari-hari siswa di sekolah. Interaksi antar siswa yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda juga dapat dilihat dari bagaimana mereka menyikapi perbedaan yang muncul dalam proses pembelajaran. Perbedaan pendapat dalam diskusi merupakan hal yang wajar, terutama dalam pembelajaran sejarah yang sering melibatkan berbagai sudut pandang. Dalam hal ini, penting untuk melihat apakah perbedaan tersebut berkembang menjadi konflik atau justru menjadi bagian dari proses Au Tidak ada, paling hanya perdebatan, tetapi bukan tentang perbedaan etnis, melainkan karena perbedaan pendapat. Siswa saling menghormati, tidak ada yang bermusuhan karena etnis atau agama. Justru ketika mereka berdiskusi dan berbeda pendapat, suasananya menjadi seru karena mereka saling mempertahankan argumennya, kemudian kita mencari mana yang terbaik. Jadi bukan sesuatu yang saling menjatuhkan, hanya perbedaan pendapat saja, bukan tentang ras atau agamaAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Berdasarkan hasil kutipan wawancara bersama informan pertama mengatakan bahwa, perbedaan yang terjadi di dalam kelas lebih bersifat akademis, yaitu berkaitan dengan pendapat atau pemahaman terhadap materi, bukan karena latar belakang etnis atau agama. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu memisahkan antara perbedaan pemikiran dengan identitas Penggunaan media seperti film dalam pembelajaran sejarah juga membantu siswa memahami materi dengan lebih jelas karena siswa dapat melihat gambaran langsung dari peristiwa yang dipelajari. Media visual juga dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga siswa tidak mudah merasa bosan. Meskipun demikian, penggunaan film tidak selalu dilakukan di setiap pertemuan, tetapi disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta, penggunaan film lebih dimanfaatkan untuk memancing pendapat dan pemikiran siswa terhadap suatu peristiwa sejarah. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh wawancara informan pertama selaku guru sejarah sebagai Au Kalau setel film jarang, tetapi nanti saya tanya pendapat. Contohnya kalau di kelas 12, saya sering menayangkan film tentang akhir pemerintahan Soekarno, jatuhnya Soekarno, kemudian juga saya tayangkan akhir pemerintahan Soeharto. Setelah itu, saya minta siswa membandingkan apa perbedaan dan persamaan dari jatuhnya Soekarno dan Soeharto, kira-kira apa yang menyebabkan mereka bisa jatuh. Padahal di awal mereka menjadi presiden seperti pahlawan bagi negara kita dan sangat dikagumi banyak orang, tetapi kemudian bisa mengalami kejatuhan. Dari situ saya minta 141 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pendapat siswa berdasarkan video yang saya tayangkan. Selain itu, jika membahas perlawanan bangsa Indonesia melawan bangsa Barat, seperti peristiwa Bandung Lautan Api, biasanya saya memutar lagu Halo-Halo Bandung, kemudian siswa diminta menebak lagu tersebutAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Penggunaan film dalam pembelajaran sejarah tidak hanya sebagai tontonan, tetapi digunakan untuk mendorong siswa berpikir. Siswa diminta untuk membandingkan dua peristiwa sejarah, sehingga mereka dapat memahami penyebab dan perbedaan dari peristiwa Kegiatan seperti ini membantu siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga diminta untuk menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang mereka lihat. Hal ini dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik. Penggunaan lagu juga menjadi cara yang digunakan untuk menarik perhatian siswa. Lagu yang berkaitan dengan materi sejarah dapat membantu siswa lebih mudah mengingat peristiwa yang dipelajari. Melalui penggunaan media seperti film dan lagu, pembelajaran sejarah menjadi lebih bervariasi. Siswa dapat belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari media lain yang membantu mereka memahami materi secara lebih jelas. Diperkuat dari hasil wawancara informan pertama yang mengatakan sebagai berikut: Au Biasanya saya juga menggunakan video animasi. Intinya membahas kenapa bisa terjadi peristiwa seperti Bandung Lautan Api di Jawa Barat, kemudian ada perbedaan pendapat di dalamnya. Dari situ saya menanyakan kepada siswa, kenapa peristiwa Bandung Lautan Api bisa terjadi, apa yang menyebabkan adanya perbedaan pendapat, dan apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Karena dalam peristiwa Bandung Lautan Api itu kan kota dibakar dan ditinggalkan. Lalu saya tanyakan juga, kenapa perintah dari Jakarta berbeda dengan perintah yang ada di Yogyakarta, dan apa yang melatarbelakangi mereka mengambil keputusan tersebutAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Penggunaan video animasi dalam pembelajaran sejarah tidak hanya membantu penyampaian materi, tetapi juga digunakan untuk menggali pemahaman siswa. Guru tidak hanya menjelaskan, tetapi juga mengajukan pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir mengenai sebab dan latar belakang suatu peristiwa. Kegiatan tanya jawab yang dilakukan setelah menonton video membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Kendala Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Sejarah Berbasis Deep Learning di SMA Negeri 3 Surakarta Pelaksanaan pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah tentu tidak selalu berjalan tanpa kendala. Dalam proses pembelajaran, perbedaan karakter dan kemampuan siswa bisa mempengaruhi jalannya kegiatan di kelas. Namun, tidak semua kendala muncul dari perbedaan latar belakang siswa, karena dalam beberapa kondisi justru pembelajaran dapat berjalan dengan cukup baik. Terlihat dari pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta, di mana penerapan nilai multikultural tidak menimbulkan masalah yang berarti. AuMenurut saya, karena ini pembelajaran yang berbasis multikultural dan deep learning, tidak terlalu bermasalah. Bahkan dari siswanya sendiri secara tidak langsung mereka sudah saling menghargai dan menghormati, meskipun tidak disadari sebagai bagian dari multikulturalAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 142 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Untuk pembelajaran juga tidak ada masalah yang berarti. Hanya saja, ketika di kelas ada siswa yang aktif, biasanya mereka sering speak up menyampaikan pendapat, sehingga siswa yang kurang aktif menjadi agak tenggelam. Namun, itu wajar karena kemampuan siswa berbeda-beda, ada yang lebih pandai berbicara dan ada yang kurang. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa secara umum pembelajaran sudah berjalan dengan baik. Siswa sudah terbiasa saling menghargai, meskipun mereka tidak selalu sadar bahwa itu merupakan bagian dari nilai multikultural. Kendala yang muncul lebih terlihat pada perbedaan keaktifan siswa. Siswa yang aktif cenderung lebih sering berbicara dan menyampaikan pendapat, sedangkan siswa yang kurang aktif menjadi kurang terlihat dalam diskusi. Hal ini bukan karena perbedaan etnis atau latar belakang, tetapi karena perbedaan kemampuan masing-masing siswa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam pembelajaran lebih kepada bagaimana melibatkan semua siswa agar aktif berpartisipasi. Meskipun begitu, situasi ini masih wajar dalam kegiatan belajar di kelas karena setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Secara keseluruhan, pembelajaran sejarah berbasis multikultural dan deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta dapat berjalan dengan baik, dengan kendala yang tidak terlalu besar dan masih bisa diatasi dalam proses pembelajaran. Ketersediaan sarana dan prasarana juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran pembelajaran di kelas, khususnya dalam pembelajaran sejarah yang memanfaatkan media seperti video atau film. Penggunaan LCD sebagai media penunjang pada dasarnya sudah cukup membantu guru dalam menyampaikan materi secara visual. Namun, dalam praktiknya masih terdapat beberapa kendala teknis yang dapat menghambat proses pembelajaran. Hal tersebut disampaikan oleh informan pertama selaku guru sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta sebagai berikut: AuMemakai LCD bisa, tetapi kalau di SMA tiga saya kesulitannya itu pada sound. Kadang saya menayangkan sebuah film, tetapi suaranya tidak keluar. Itu terjadi karena di beberapa kelas kabelnya tidak tersedia. Jadi solusinya saya membeli speaker Walaupun kecil, tetapi suaranya bisa terdengar sampai ke belakang. Karena siswa itu berbeda, ada yang lebih mudah memahami secara visual dan ada yang Kalau hanya gambar tanpa suara, mereka jadi kurang tertarik, makanya saya menggunakan speaker bluetooth tersebutAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Meskipun fasilitas seperti LCD sudah tersedia, masih terdapat kendala pada bagian pendukung lain, seperti audio. Hal ini cukup berpengaruh, terutama ketika guru menggunakan media video yang membutuhkan suara agar materi dapat dipahami secara utuh. Kendala tersebut kemudian diatasi oleh upaya guru dengan cara menyediakan alat tambahan secara mandiri, yaitu speaker bluetooth. AuJadi solusinya, ketika saya mengajarkan Perang Dunia Kedua, saya menampilkan video yang ada gambar dan suaranya. Misalnya saat mencari penyebabnya, saya tayangkan peta, lalu saya jelaskan kenapa Jerman bisa menyerang Polandia, agar siswa tahu wilayah yang diserang itu seperti apa. Kemudian saat membahas Jepang dibom atom, kita juga melihat petanya. Dari situ siswa lebih mudah mengingat karena mereka membaca, mendengar, dan melihat. Ay (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. 143 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Siswa cenderung lebih tertarik dan terlibat dalam pembelajaran ketika materi disajikan secara visual dan audio. Dibandingkan dengan metode ceramah, penggunaan video dan peta membuat siswa lebih fokus karena mereka dapat melihat langsung gambaran dari materi yang Penggunaan peta dalam menjelaskan peristiwa sejarah juga membantu siswa memahami konteks secara lebih jelas. Siswa tidak hanya mengetahui peristiwa, tetapi juga memahami lokasi dan jalannya kejadian. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih mudah Dalam kondisi seperti ini, guru perlu menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa untuk aktif, baik melalui kerja sama dengan teman maupun melalui kegiatan yang Pembelajaran tidak hanya berfokus pada siswa yang sudah aktif, tetapi juga harus mampu mengajak siswa yang cenderung pasif agar ikut berpartisipasi. Hal tersebut terlihat dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 3 Surakarta, di mana informan pertama selaku guru sejarah menggunakan beberapa cara untuk mengatasi siswa yang kurang aktif. Adapun hasil wawancara menunjukkan bahwa: Au Sistemnya ketika mereka berkelompok, saya gabungkan. Jadi siswa yang lebih bisa dapat membantu temannya. Siswa yang lebih paham saya minta untuk mengajari teman-temannya. Untuk beberapa kelas yang saya ajar, ada yang kurang aktif. Ketika saya bertanya apakah ada yang belum paham, siswa cenderung diam. Jadi saya pancing, kalau tetap diam saya tunjuk berdasarkan nomor absen. Dalam pembelajaran saya juga menggunakan kuis. Setelah materi selesai, saya kadang memberi kuis dadakan, misalnya 10 soal jawaban singkat. Saya juga menggunakan game di tengah pembelajaran, misalnya dengan hitungan atau musik. Saat musik berhenti, siswa yang memegang spidol harus menjawab pertanyaan. Biasanya dilakukan di akhir Di akhir pembelajaran, saya juga menyimpulkan materi atau meminta pendapat siswa, seperti hikmah atau pelajaran apa yang didapat, serta bagaimana jika mereka berada pada situasi tersebutAy. (Wawancara dengan Ibu A. Pd, pada Selasa, 7 April 2. Salah satu solusi yang digunakan informan pertama oleh Ibu A. Pd adalah melalui kerja kelompok. Siswa yang lebih paham diminta untuk membantu temannya, sehingga terjadi proses saling belajar. Cara ini cukup efektif karena siswa biasanya lebih mudah memahami penjelasan dari teman sebayanya. Selain itu, guru juga berusaha mendorong keaktifan siswa dengan cara menunjuk secara langsung. Cara ini dilakukan terutama pada kelas yang cenderung pasif, agar siswa tetap terlibat dalam pembelajaran dan tidak hanya diam. Dengan adanya variasi kegiatan, siswa menjadi lebih tertarik untuk berpartisipasi. akhir pembelajaran, siswa diajak untuk memahami kembali materi melalui penyimpulan dan Kegiatan ini membantu siswa untuk tidak hanya mengingat materi, tetapi juga memahami makna dan pelajaran yang bisa diambil. Melalui berbagai cara tersebut, terlihat bahwa guru berusaha menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi siswa di kelas. Siswa yang kurang aktif tetap diberi kesempatan untuk terlibat, sehingga pembelajaran dapat berjalan lebih merata dan tidak hanya didominasi oleh beberapa siswa saja. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pemahaman guru terhadap pendidikan multikultural di SMA Negeri 3 Surakarta menunjukkan bahwa guru telah memiliki kesadaran yang cukup baik terhadap pentingnya keberagaman dalam proses pembelajaran. Guru tidak lagi memandang perbedaan latar belakang peserta didik sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari dinamika kelas 144 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 yang perlu dikelola secara positif. Pemahaman ini tercermin dari sikap guru yang berusaha memperlakukan peserta didik secara adil, tidak diskriminatif, serta mulai mengaitkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai. Dengan demikian, pemahaman guru tidak hanya berada pada tingkat konsep, tetapi sudah mulai diarahkan pada penerapan dalam praktik pembelajaran, meskipun belum sepenuhnya terintegrasi secara sistematis. Pemahaman guru terhadap pendekatan deep learning terlihat dari upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses pemahaman yang lebih mendalam. Guru mulai mendorong siswa untuk tidak sekadar mengetahui peristiwa sejarah, tetapi juga memahami makna di balik peristiwa tersebut serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru juga mulai memberi ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Namun, pemahaman ini belum sepenuhnya diikuti dengan penerapan yang konsisten dalam setiap kegiatan pembelajaran, sehingga pendekatan deep learning masih muncul secara situasional. Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah berbasis deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta sudah mulai terlihat melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antar siswa, seperti diskusi dan pertukaran pendapat. Dalam proses tersebut, siswa tidak hanya belajar materi sejarah, tetapi juga belajar memahami dan menghargai perbedaan pandangan yang muncul. Selain itu, guru juga mulai mengaitkan materi sejarah dengan konteks kehidupan sosial siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Meskipun demikian, implementasi yang dilakukan masih belum sepenuhnya terstruktur dalam perencanaan pembelajaran, sehingga penerapannya belum konsisten di setiap pertemuan. Kendala dalam penerapan pendidikan multikultural berbasis deep learning di SMA Negeri 3 Surakarta meliputi beberapa aspek yang saling berkaitan. Keterbatasan waktu pembelajaran menjadi hambatan utama karena pendekatan ini membutuhkan proses yang lebih panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Selain itu, kesiapan siswa yang belum terbiasa dengan pembelajaran aktif juga memengaruhi jalannya proses Di sisi lain, kesiapan guru dalam merancang dan mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan nilai multikultural dengan pendekatan deep learning juga masih belum merata. Kondisi ini menyebabkan pembelajaran yang diharapkan bersifat mendalam dan interaktif belum dapat berjalan secara optimal. REFERENSI