Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Gunungpati. Semarang Periode Tahun 2022, 2012 dan 2002 Fitri Anggraeni1,*. Safira Delani2. Ibra Fabian Dwinata3 11 Geografi. Universitas Negeri Jakarta 1. Jl. Mangun Muka Raya No. RT. 11/RW. Rawamangun Email Korespondensi: fitrianggraeni766@gmail. Abstract Sitasi: Anggraeni. Delani. , & Dwinata. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Gunungpati Semarang Periode Tahun 2022, 2012, dan 2002. Jurnal Sains Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima: 10 Agustus 2023 Disetujui: 15 Agustus 2023 Publikasi: 25 November 2023 Various needs for land use are increasingly changing the form of land use from time to time. Changes in land use that occur are in line with the existence of sustainable regional development due to the increasing population. Gunungpati District is one of the areas in the southern part of Semarang City which has characteristics that tend to be agrarian. Land use that has changed in Gunungpati District starts from agricultural land use changing to non-agricultural land use. This study aims to examine changes in land use that have occurred over three periods within a ten-year period as well as the shape of the land formed from each year. This study uses a descriptive approach and overlay analysis to see changes in land use. The output generated from this analysis is a land use overlay map. The results of the study show that there have been changes in land use in Gunung Pati District, especially in the periods of 2002, 2012 and 2022. Keyword: Gunung Pati, land use, land change Abstrak Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Berbagai kebutuhan akan penggunaan lahan kian merubah bentuk penggunaan lahan dari waktu ke waktu. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi sejalan dengan adanya pembangunan wilayah yang berkelanjutan akibat semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kecamatan Gunungpati merupakan salah satu wilayah di bagian selatan Kota Semarang yang memiliki karakteristik yang cenderung agraris. Penggunaan lahan yang telah berubah di Kecamatan Gunungpati dimulai dari penggunaan lahan pertanian berubah menjadi penggunaan lahan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi selama tiga periode dalam kurun waktu per-sepuluh tahun serta bentuk lahan yang terbentuk dari masing-masing tahunnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis overlay untuk melihat perubahan penggunaan Output yang dihasilkan dari analisis ini berupa peta overlay penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan tata guna lahan di Kecamatan Gunung Pati khususnya pada periode tahun 2002, 2012 dan 2022. Kata Kunci: Gunung Pati, penggunaan lahan, perubahan lahan Pendahuluan Tanah adalah sumber daya alam yang mempunyai peran penting dalam kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Tanah biasanya masih berbentuk AotanahAo yang belum dikelola atau dimanfaatkan oleh Sedangkan untuk lahan sendiri diartikan sebagai suatu bidang luas tanah yang dimanfaatkan oleh manusia baik dalam Anggraeni, dkk. Halaman 20 bentuk pemukiman, perkebunan, pertanian, dan lain-lain. Dapat dikatakan tanah atau lahan selalu dimanfaatkan untuk kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan sosial manusia. Hal ini membuat setiap manusia ingin mempunyai tanah untuk dikelola sesuai dengan kebutuhan, ketika permintaan mempengaruhi nilai tanah. Kegiatan pembangunan yang terjadi di suatu wilayah Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. merupakan suatu wujud dari pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan akan lahan yang Oleh karena itu, kebutuhan lahan seiring berjalannya waktu terus meningkat namun di sisi lain ketersediaan lahan terbatas. Dampak yang dirasakan akibat permasalahan tersebut yaitu sedikitnya ketersediaan lahan untuk kepentingan pembangunan. Di waktu yang bersamaan, harga lahan juga semakin meningkat dan menunjukkan pergeseran nilai dari fungsi sosial suatu lahan ke fungsi (Ahadi et al. , 2. Laju pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah baik pedesaan maupun perkotaan menandakan bahwa kebutuhan lahan untuk pemukiman juga semakin meningkat padahal ketersediaan lahan sendiri tidak dapat (Widowati. , & Wijaya, 2. Hal ini menyebabkan perubahan penggunaan lahan yang semakin menurunkan proporsi lahan-lahan yang mungkin sebelumnya adalah lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian menjadi lahan non pertanian. Pergeseran penggunaan lahan ini juga ditandai dengan lahan yang sebelumnya sebagai lahan terbuka hijau yang seharusnya tersedia guna untuk daya serap air atau sebagai penyedia oksigen tetapi malah diubah menjadi pembangunan industri yang berfokus pada tujuan ekonomi. Perubahan penggunaan lahan merupakan sesuatu yang terjadi atas segala campur tangan manusia, baik secara permanen ataupun siklis terhadap suatu SDA dan sumber daya buatan yang secara keseluruhan disebut lahan dengan tujuan untuk kebutuhan sehari-hari baik dalam bentuk benda maupun spiritual atau keduanya (Malingreau, 1. Perubahan penggunaan lahan yang dilakukan oleh seseorang mempunyai maksud untuk memanfaatkan secara maksimal sumberdaya lahan tersebut sehingga diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal Perubahan penggunaan lahan yang terjadi di suatu wilayah sejalan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk yang secara langsung berdampak pada kebutuhan terhadap lahan yang semakin Kota Semarang adalah salah satu ibukota provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari 16 kecamatan, salah satunya yaitu Kecamatan Gayamsari. Kecamatan Gayamsari memiliki 7 kelurahan, yang terdiri dari Kelurahan Gayamsari. Kelurahan Pandean Lamper. Kelurahan Sambirejo. Kelurahan Siwalan. Kelurahan Sawah Besar. Kelurahan Kaligawe, dan Kelurahan Tambakrejo. Berkembangnya Kecamatan Gayamsari dari tahun ketahun yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan penduduk pemanfaatan/ penggunaan lahan dimana diharapkan mampu untuk menampung aktivitas penduduk yang selalu berkembang (Ahadi et al. , 2. Perubahan penggunaan lahan dan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi mengakibatkan nilai tanah di Kecamatan Gayamsari Kota Semarang terdiri dari dua dataran yang membagi wilayah utama yaitu bagian utara merupakan dataran rendah yang dikenal dengan sebutan kota bawah dan bagian selatan merupakan dataran tinggi yang juga dikenal dengan sebutan kota atas. Daerah dataran rendah ini hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari garis pantai sehingga menjadikan kawasan ini seringkali dilanda banjir yang disebabkan oleh luapan air laut . (Kusrini. Suharyadi. , & Hardoyo, 2. Di sebelah selatan yang merupakan dataran tinggi, telah mengalami perkembangan pesat dengan munculnya kawasan bisnis baru dan permukiman. Daerah dengan sebutan kota atas ini meliputi Kecamatan Candi. Mijen. Gunungpati, dan Banyumanik. Masalah perkembangan kota pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup kompleks untuk diatasi dan sering memunculkan dampak negatif pada beberapa aspek, utamanya aspek lingkungan. Perkembangan kota membutuhkan lahan sebagai tempat hidup penduduk dengan aktivitasnya. Akibat kebutuhan ruang yang semakin meningkat namun lahan yang tersedia terbatas, terjadi perubahan dalam penggunaan lahan. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. (Monsaputra, 2. Lahan merupakan suatu daerah dipermukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu yang meliputi biosfer, atmosfer, tanah, lapisan geologi, hidrologi, populasi tanaman, binatang dan hasil kegiatan manusia masa lalu dan masa sekarang sampai pada tingkat tertentu. Sifat-sifat tersebut mempunyai pengaruh yang berarti terhadap penggunaan lahan oleh manusia pada masa sekarang dan masa yang akan datang (Kusrini. Suharyadi. , & Hardoyo, 2. lahan dapat diartikan sebagai land settlement yaitu suatu tempat atau daerah dimana penduduk berkumpul dan hidup menggunakan lingkungan setempat untuk mengembangkan hidupnya. Pola Kota dan Permasalahan Komprehensif : Pengantar dan Penjelasan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa setiap makhluk hidup pasti membutuhkan lahan untuk tumbuh dan berkembang, berbagai aktivitas manusia di dalam ruang bumi ini tidak lepas dari fungsi lahan yang berbeda-beda dalam penggunaan lahan. Penggunaan lahan adalah segala campur tangan manusia, baik secara menetap ataupun berpindah-pindah terhadap suatu kelompok sumberdaya alam dan sumberdaya buatan, yang secara keseluruhan disebut lahan, dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan baik material maupun spiritual, maupun kebutuhan kedua-duanya (Kusrini. Suharyadi. , & Hardoyo, 2. Dalam permasalahan kali ini yang akan diangkat yaitu perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati yang sudah terlihat dan diduga akibat jumlah penduduk yang meningkat, jumlah penduduk yang bekerja di sektor non pertanian, tingkat migrasi yang disebabkan oleh jumlah penduduk pendatang meningkat aksesibilitas jarak antara fasilitas sosial maupun fasilitas umum. Untuk itu permasalahan ini bisa dijadikan acuan dengan memperlihatkan apa saja perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati pada periode tahun 2002, 2012, dan 2022 . er 10 tahu. sehingga dapat diketahui faktor yang melatarbelakangi perubahan ini dan dampak bagi wilayah tersebut dan masyarakat sekitar. Sehingga hal ini sangat diperlukan untuk dikaji dan diharapkan bisa mendapatkan solusi dari permasalahan ini agar lahan terbuka hijau pun tetap tersedia. Metode Penelitian . Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan analisis overlay. Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang objektif tentang objek atau subjek yang sedang diteliti. Metode ini berfokus pada penggambaran fakta-fakta mendeskripsikan karakteristik serta frekuensi dari objek yang diteliti dengan akurat. (Zellatifanny & Mudjiyanto, 2. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari hasil citra satelit, penelitian terdahulu, literatur jurnal terkait dan dokumen-dokumen yang bersumber dari instansi terkait. Tabel 1. Bahan Data Bahan Data Peta Tata Guna Lahan Tahun 2002, 2012 dan Dekripsi Data Peta ini sebagai gambaran mengenai perubahan tata guna lahan setiap 10 tahun yaitu pada periode 2002, 2012 dan 2022 Tabel 2. Alat dan Bahan Contoh Data Laptop Software Arcgis 10. Metode Analisis Dekripsi Data Mengolah Data Mengolah Data Spasial Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis overlay dan analisis deskriptif. Data spasial yang diperoleh diolah menggunakan software pengolah data spasial (SIG) seperti arcgis. Analisis yang digunakan adalah overlay yang Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. bertujuan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan selama tiga periode dalam kurun waktu per-sepuluh tahun. Output yang dihasilkan dari analisis yaitu peta overlay perubahan lahan. Berikut kerangka kerja dari penelitian ini Pengumpulan Data Pengolahan Data Spasial Output Peta Perubahan Tata Guna Lahan Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Gambar 1. Diagram Alur Hasil dan Pembahasan Hasil Secara astronomis. Kecamatan Gunungpati terletak antara lintang selatan 7A1`6y hingga 7A6`50y dan bujur timur 110A20`25y hingga 110o24`12y (Bappeda Kota Semarang, 2. Administratif. Kecamatan Gunungpati masuk ke dalam wilayah Kota Semarang. Wilayah Kecamatan Gunungpati terdiri dari 16 kelurahan, yaitu Gunungpati. Plalangan. Mangunsari. Ngijo. Sekaran. Patemon. Pakintelan. Sukorejo. Jatirejo. Cepoko. Nongkosawit. Pongangan. Sumurejo. Kandri, dan Kalisegoro. Kelurahan Sekaran memiliki luas terbesar dengan 583. 66 hektar Hal ini disebabkan oleh penyesuaian batas administrasi dengan karakteristik fisik lahan yang datar. Sedangkan kelurahan dengan luas terkecil adalah Nongkosawit dengan luas 238. hektar atau 3. Berikut peta administrasi dari kecamatan Gunungpati. Gambar 2. Peta Administrasi Kecamatan Gunung Pati (Source: InaGeoportal. Berdasarkan (Gambar . merupakan peta administrasi Kecamatan Gunung Pati. Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan beberapa wilayah. Kecamatan Gunung Pati sendiri memiliki luas lahan sebesar 5. 399,085 Ha. Selain itu. Kecamatan Gunung Pati berbatasan dengan Desa Cepoko. Desa Nongkosawit dan Desa Plalangan. Selain itu setiap kecamatan memiliki luasan yang menjadi bahan analisis dalam perubahan penggunaan lahan sebagai Tabel 3. Luas Kecamatan No. Kecamatan Luas Wilayah Pakintelan 274, 808 Mangunsari 221, 540 Plalangan 331, 727 Gunungpati 667, 696 Nongkosawit 190, 909 Pongangan 343, 946 Ngijo 319, 762 Patemon 499, 088 Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Sekaran 490, 718 Sukorejo 228, 063 Sadeng 245, 405 Cepoko 425,503 Sumurrejo 325, 159 Jatirejo 247, 776 Kalisegoro 281, 884 Kandri 245,490 Jasa lainnya Berdasarkan . ada berbagai macam mata pencaharian masyarakat, tetapi masyarakat yang tinggal di Kecamatan Gunungpati sebagian besar bermata pencaharian petani karena Kecamatan Gunungpati memiliki luasan lahan yang cukup besar dalam lahan persawahan. Tabel di atas merupakan tabel luas wilayah yang ada di kecamatan Gunungpati, dapat dilihat bahwasanya wilayah desa yang paling luas adalah wilayah kecamatan Gunungpat dengan luas 667,696 m2 sementara kecamatan yang paling kecil adalah kecamatan nongkosawit dengan luas besarnya luas wilayah suatu desa tentunya akan berpengaruh pada luas tata guna lahan di gunung Pati. seperti di daerah Patemon Sadeng mayoritas wilayahnya digunakan untuk pemukiman sementara itu di wilayah Jatirejo Sukorejo sekarang didominasi oleh wilayah sawah dan juga lahan hijau. Tabel 4. Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Gunung Pati Mata Pencaharian Petani Buruh tani Nelayan Pengusaha Buruh industry Buruh bangunan Pedagang Angkutan PNS Pensiun Gambar 3. Peta Tata Guna Lahan Tahun 2002 (Source: InaGeoporta. Dapat dilihat dari peta diatas (Gambar . mengenai tata guna lahan pada periode tahun 2002 di dominasi oleh lahan Hal ini mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kecamatan Gunung Pati seperti mata pencaharian masyarakat sebagian besar bekerja sebagai petani. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Hasil dari peta tata guna lahan tahun 2022 (Gambar . memperlihatkan secara jelas bahwa lahan pemukiman semakin bertambah dari tahun sebelumnya. Sebagian besar lahan yang mengalami perubahan yaitu antara lahan sawah ke lahan pemukiman penduduk. Tentu hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan yang semakin naik baik tingkat natalitas ataupun laju migrasi. Pembahasan Gambar 4. Peta Tata Guna Lahan Tahun 2012 (Source: InaGeoporta. Berdasarkan peta diatas (Gambar . , terlihat mulai ada perubahan tata guna lahan di tahun 2012 yaitu ditandai dengan sebagian lahan sawah sudah dialih fungsikan untuk pemukiman masyarakat. Hal tersebut dapat terjadi karena permintaan tempat tinggal secara bersamaan akibat pertumbuhan penduduk yang naik dalam kurun waktu 10 Gambar 5. Peta Tata Guna Lahan Tahun 2022 (Sumber : InaGeoporta. Perubahan penggunaan lahan adalah proses pergeseran atau transformasi dari satu bentuk dan lokasi penggunaan lahan yang sudah ada sebelumnya menjadi bentuk dan lokasi penggunaan lahan yang baru. (Suharyadi & Hardoyo, 2. Penggunaan lahan . and us. dapat dijelaskan sebagai segala tindakan yang dilakukan oleh manusia terhadap lahan dengan tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara materiil maupun (M. Laka et al. , 2. Dalam penelitian ini, perubahan penggunaan lahan mencakup transformasi dari lahan sawah, tegalan, kebun, ladang, sungai dan pemukiman yang terjadi pada tahun 2002, 2012, dan 2022. Sawah, padang rumput dan permukiman adalah jenis penggunaan lahan yang mengalami perubahan proporsi secara Perubahan ini disebabkan oleh pertumbuhan perguruan tinggi, bangunan pertokoan dan aktivitas ekonomi yang semakin intens di sepanjang jalan utama Sampangan Gunungpati. Dampaknya adalah perkembangan yang lebih cepat pada kelurahan-kelurahan yang terletak di sepanjang jalur jalan arteri dan dekat dengan perguruan tinggi tersebut, dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Penggunaan lahan akan selalu mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Kabupaten Semarang, tepatnya Kecamatan Gunungpati setiap sepuluh tahunnya mengalami perubahan penggunaan lahan. Secara keseluruhan lahan di kecamatan Gunungpati masih terdapat lahan pertanian. Namun, penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati pada tahun 2002 dikategorikan menjadi enam Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. jenis meliputi lading, padang rumput, pemukiman, perkebunan, sawah, dan sungai. Persentase tersebut masih didominasi oleh padang rumput, kebun dan sawah. Hal ini dikarenakan penduduk asli gunungpati sebagian besar menjadi petani atau buruh bangunan di kota Semarang bawah. Perubahan penggunaan lahan bersamaan dengan bertambahnya jumlah penduduk serta sektor ekonomi yang semakin berkembang. Kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian di pedesaan cenderung meningkat sehingga hal tersebut menyebabkan alih fungsi lahan pertanian sulit dihindari (Iqbal et al. , 2. Menurut Mc Gee . dalam Wahyuni . mendefinisikan wilayah pinggiran . eriphery are. mempunyai chiri khas antara lain sebagian besar penduduk bergantung pada sektor pertanian padi dengan kepemilikan lahan sempit. Dan mengalami perubahan kegiatan dari pertanian ke berbagai kegiatan non pertanian, seperti perdagangan dan industri. Berdasarkan penjelasan diatas membuktikan bahwa terjadi konversi lahan pertanian yang nantinya akan berdampak luas bagi masyarakat maupun produksi pertanian. Dalam aspek ekonomi menyebabkan berkurangnya ketahanan pangan bagi produksi pertanian. Selain itu, masyarakat petani akan kehilangan pekerjaan lalu pendapatan dari daya beli produksi pertanian yang semakin menurun dan tidak terjamin petani yang kehilangan pekerjaan akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik (Hariyanto, 2. (Dewi & Rudiarto. Kecamatan Gunungpati adalah sebuah wilayah yang memiliki karaktersitik morfologi bergelombang atau berbukit-bukit, bukan tipe wilayah yang memiliki topografi Wilayah Kecamatan Gunungpati termasuk dalam iklim tropis agak basah dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi antara 2. 600 mm/tahun. Hal ini mempengaruhi mata pencaharian masyarakat sekitar, dimana masyarakat yang tinggal di Kecamatan Gunungpati di dominasi oleh para petani dan buruh bangunan dengan persentase secara berurut yaitu 34% dan 22% dari total penduduk wilayah tersebut. Kondisi ini menandakan bahwa lahan pertanian menjadi faktor penunjang kebutuhan hidup masyarakat terutama masyarakat pinggiran kota dan Masyarakat yang berada disekitar pedesaan dan pinggiran kota berpenghasilan yang bersumber dari pendapatan di bidang Namun banyak lahan pertanian atau persawahan sudah dialih fungsikan menjadi pembangunan untuk lahan industri, pemukiman dan perumahan menyebabkan produksi beras nasional semakin menurun tetapi dilain sisi permintaan akan produksi pertumbuhan penduduk. (Dewi & Rudiarto. Penjelasan diatas didukung oleh pernyataan dari (Iqbal et al. , 2. yang mengemukakan bahwa secara empiris lahan pertanian yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah Hal tersebut disebabkan oleh kepadatan penduduk di pedesaan yang mempunyai agroekosistem dominan sawah Lahan berdekatan dengan daerah perkotaan dengan infrastruktur wilayah lebih memadai dibandingkan lahan kering. Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman, kawasan berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, dimana topografi seperti itu . erutama di Pulau Jaw. ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan. Kota Semarang mencakup Kecamatan Gunungpati termasuk wilayah pinggiran kota yang sudah mengalami konversi lahan penduduk, pergeseran struktur tenaga kerja, perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri serta penguasaan lahan dan Konversi lahan pertanian merupakan suatu hal tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis pembangunan industri, sehingga perlu sebuah perencanaan penggunaan lahan yang baik dalam rangka pengendalian konversi lahan pertanian di Kota Semarang. Untuk itu perlu diketahui Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. lebih dahulu mengenai pola dan intensitas konversi lahan pertanian di Kota Semarang (Hariyanto, 2. Dalam penelitian ini membuktikan bahwa benar Kecamatan Gunungpati menglami konversi lahan pertanian yang ditandai dengan alih fungsi lahan persawahan ke lahan pemukiman Dapat dilihat dari peta tata guna lahan pada periode tahun 2002, 2012 dan Pada tahun 2012 berdasar peta perubahan penggunaan lahan dikategorikan menjadi enam jenis meliputi lading, padang rumput, pemukiman, perkebunan, sawah, dan sungai. Dari luasan tersebut didapatkan lahan yang telah berubah yakni padang rumput menjadi lahan terbangun berupa pemukiman. Perubahan lahan terbangun berada di kelurahan Patemon karena lokasinya yang berdekatan dengan kelurahan Sekaran dimana terdapat kampus universitas negeri Perubahan yang terjadi yakni penambahan jumlah bangunan pemukiman karena dibangunnya kos atau pun kontrakan akibat datangnya jumlah penduduk. Selanjutnya pada peta tahun 2022 terdapat enam jenis pengkategorian lahan yang meliputi lading, padang rumput, pemukiman, perkebunan, sawah, dan sungai. Luasan lahan yang paling banyak mengalami penurunan berupa lahan sawah karena jumlah penduduk semakin bertambah sehingga permintaan akan kebutuhan pemukiman dan bangunan Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati terjadi secara luas, terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk yang memerlukan lahan untuk tempat tinggal. Seiring dengan pertambahan pemukiman juga meningkat, sehingga banyak lahan yang digunakan untuk keperluan tersebut. Perubahan penggunaan lahan di kecamatan Gunungpati yang paling signifikan adalah pengalihan fungsi lahan Pertumbuhan luas lahan terbangun yang paling besar terjadi di Kelurahan Sekaran dan Patemon. Perubahan tersebut disebabkan oleh keberlanjutan peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan lahan untuk permukiman, meninggalkan lahan sawah dan padang rumput untuk keperluan tersebut. Di Kecamatan Gunungpati, terlihat adanya pola perkembangan fisik kota yang mengikuti pola jaringan jalan secara linear, dan penggunaan lahan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Batas Kecamatan Gunungpati dengan daerah sekitarnya dipisahkan oleh sungai, dan di tengahnya terdapat sungai dengan stadium tua yang mempengaruhi pola perkembangan yang berbeda-beda mengikuti kelurahan yang dilalui oleh jalur transportasi tersebut. Selain itu Perubahan penggunaan lahan, terutama lahan pertanian, di Kecamatan Gunungpati telah mengakibatkan perubahan pada beberapa area, seperti area yang berdekatan dengan pusat kota, kawasan pendidikan, dan area yang berdekatan dengan koridor jalan Kecamatan Gunungpati. (Dewi & Rudiarto, 2. Perubahan ini memberikan dampak yang signifikan bagi penduduk asli Kecamatan Gunungpati, terutama dalam hal perubahan mata pencaharian mereka . ransformasi ekonom. , dimana mereka beralih dari pekerjaan sebagai petani menjadi pekerjaan non-pertanian. Kesimpulan Ketersediaan lahan suatu wilayah merupakan hal yang penting untuk pembangunan wilayah namun tata guna lahan pada lahan yang tersedia perlu diseimbangkan antara pembangunan indutsri atau pemukiman penduduk dan ruang terbuka hijau. Hal ini perlu perhatian lebih karena jika ketersediaan lahan ini tidak menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan hanya melihat pada aspek ekonomi saja, maka yang akan menjadi ancaman yaitu ketersediaan lahan terbuka Dapat disimpulkan bahwa tata guna lahan di Kecamatan Gunung Pati mengalami perubahan yang cukup signifikan . ilihat per 10 tahu. yaitu Kecamatan Gunung Pati di dominasi oleh lahan perkebunan dan sawah. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Tetapi dari tahun ke tahun bisa dilihat juga dari segi pemukiman masyarakat pun makin pertumbuhsn penduduk yang cukup Untuk meminimalisir adanya degradasi lahan yang semakin buruh, diperlukan adanya pembatasan ataupun menyeimbangkan pembangunan industri dengan memperhatikan aspek lingkungan. Ketidakseimbangan antara pemukiman dengan lahan hijau tentunya akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Apabila lahan terbuka hijau berkurang maka bencana alam yang terjadi pada manusia tentunya juga didorong oleh faktor dari manusia itu tersebut. bencana seperti banjir longsor yang disebabkan oleh kekurangan lahan hijau sangat mungkin terjadi di gunung Pati. seharusnya bisa mengontrol agar agar lahan terbuka hijau tetap ada meskipun kebutuhan pemukiman terus bertambah. yang tidak terkontrol seperti yang terlihat pada peta tata guna lahan pada tahun 2002 2012 dan 2022 membuat ancaman bencana alam semakin tinggi. Ucapan Terima Kasih Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan artikel sehingga kami dapat menyelesaikan artikel ini. Pada hal ini kami ingin mengucapkan terima kasih matakuliah Sistem Informasi Geografis dan teman-teman sekelompok sudah bekerja sama dengan baik Daftar Pustaka