PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 3, . e-ISSN: 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Pengaruh Penggunaan QRIS. Perilaku Pencatatan Pengeluaran, dan Perilaku Penyusunan Anggaran terhadap Perilaku Menabung Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang Titik Yektiningtyas1*. Vicky OktaviaA. Maria Safitri 3. Diana Puspitasari 4 211202207792@mhs. id 1, vicky. oktavia@dsn. id 2, mariasafitri@dsn. id 3, dianapuspitasari718@dsn. Program Studi Manajemen. Universitas Dian Nuswantoro. Indonesia 1*,2,3,4 Abstrak Penelitian dilaksanakan untuk menganalisis pengaruh penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), perilaku pencatatan pengeluaran, perilaku penyusunan anggaran terhadap perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Menerapkan metode kuantitatif dengan memanfaatkan data primer yang didapatkan melewati penyebaran kuesioner dengan teknik purposive sampling. Analisis data dijalankan dengan metode regresi linear berganda melalui SPSS versi 25. Hasil menyatakan bahwa penggunaan QRIS berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung dengan nilai t hitung sebesar 3,645 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Perilaku penyusunan anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung dengan nilai t hitung sebesar 6,506 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Sementara itu, perilaku pencatatan pengeluaran tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku menabung dengan nilai t hitung sebesar 1,849 dan nilai signifikansi sebesar 0,067. Temuan penelitian membuktikan bahwa perilaku menabung mahasiswa lebih dipengaruhi oleh kemampuan perencanaan keuangan melalui penyusunan anggaran dan pemanfaatan teknologi pembayaran digital dibandingkan aktivitas pencatatan Kata Kunci: QRIS. Pencatatan Pengeluaran. Penyusunan Anggaran. Perilaku Menabung. Mahasiswa This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah mengubah kehidupan masyarakat dalam pengelolaan keuangan dan sistem pembayarannya. Perubahan ini ditunjukkan oleh peningkatan penggunaan instrumen pembayaran elektronik yang lebih mudah, cepat, serta efisien untuk digunakan. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dioptimalkan oleh Bank Indonesia selaku bentuk inovasi dengan mengintegrasikan layanan transaksi digital ke dalam sistem yang terstandarisasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 376 Pengguna QRIS Periode Gambar 1. Jumlah Pengguna QRIS di Indonesia . 2 Ae 2. Sumber: Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), olahan data penulis . Berdasarkan data Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) tahun 2026, pengguna QRIS di Indonesia terus berkembang setiap tahunnya. Pada tahun 2022, pengguna QRIS tercatat sebanyak 29 juta pengguna, kemudian bertambah menjadi 46 juta pengguna pada tahun 2023. Selanjutnya, pengguna QRIS bertambah hingga 55 juta pengguna pada tahun 2024 dan meningkat menjadi sekitar 60 juta pengguna pada tahun Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah pengguna QRIS terbesar, yaitu mencapai 40,83 juta pengguna. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa transaksi digital telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi ini mengindikasikan semakin tingginya tingkat penerimaan dan penggunaan teknologi pembayaran digital yang berpotensi memengaruhi perilaku transaksi masyarakat, khususnya di kalangan Peningkatan penggunaan QRIS memberikan berbagai manfaat berupa kemudahan, kecepatan dan efisiensi transaksi yang mendorong peningkatan penggunaan sistem ini (Monir & Hasan, 2. Namun, kemudahan berpotensi menimbulkan perilaku konsumtif dan impulsif, sehingga dapat melemahkan kontrol keuangan individu (Kumar & Kumar, 2. Selain itu, sifat uang yang tidak kasat mata dalam transaksi non-tunai berpengaruh pada kurangnya kesadaran individu terhadap jumlah uang yang digunakan, sehingga mendorong perilaku konsumtif (Salsabila & Fauzan. Hal ini menjadi tantangan yang semakin kompleks bagi mahasiswa dalam mengelola keuangannya di era modern (Widiyawati et al. , 2. , terutama dalam hal kemampuan menabung sebagai salah satu indikator kesejahteraan finansial jangka Dengan demikian, meningkatnya penggunaan QRIS tidak hanya membawa perubahan pada cara bertransaksi, tetapi juga berpotensi mempengaruhi perilaku keuangan mahasiswa, termasuk dalam kemampuan mereka mengendalikan pengeluaran dan menyisihkan dana untuk ditabung. Ketidakpastian kondisi ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup menuntut individu untuk memiliki kemampuan mengelola keuangan secara lebih bijaksana. Menabung berfungsi sebagai sarana penyimpanan dana dan sebagai bentuk kesiapan menghadapi kebutuhan mendesak dan perencanaan keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, perilaku menabung bermanfaat dalam menilai kualitas pengelolaan keuangan individu, terutama pada kelompok mahasiswa yang sedang berada pada tahap pembentukan kebiasaan dan kemandirian finansial. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 377 Kelompok Saldo Simpanan Masyarakat > Rp 5 miliar < Rp 100 juta Pertumbuhan Simpanan (%) Gambar 2. Simpanan Masyarakat Berdasarkan Kelompok Saldo . Sumber: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), . Fenomena perilaku menabung masyarakat Indonesia masih menunjukkan adanya ketimpangan antar kelompok simpanan. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp 100 juta hanya sebesar 3,43%. Sedangkan, simpanan masyarakat dengan saldo di atas Rp 5 miliar mencapai 22,76%. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat tidak terjadi secara merata. Kelompok masyarakat dengan saldo simpanan kecil mengalami pertumbuhan yang relatif lambat dibandingkan kelompok masyarakat dengan saldo simpanan besar. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kemampuan menabung masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah. Fenomena tersebut relevan untuk dikaji pada kelompok mahasiswa, karena mahasiswa merupakan generasi muda yang mulai memiliki tanggung jawab dalam mengelola keuangan secara mandiri serta mulai mengambil berbagai keputusan keuangan yang akan memengaruhi kondisi finansialnya di masa depan. Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi pembayaran digital seperti QRIS, kemampuan melakukan pencatatan pengeluaran dan penyusunan anggaran menjadi penting untuk mendukung terbentuknya perilaku menabung yang berkelanjutan. Kemampuan membuat keputusan ekonomi yang bertanggung jawab menjadi semakin krusial di tengah iklim ekonomi yang penuh ketidakpastian, termasuk dalam hal pengelolaan pengeluaran dan perencanaan keuangan sehari-hari (Chauhan et al. , 2. Dalam konteks ini, pencatatan pengeluaran membantu individu memantau arus kas, sedangkan penyusunan anggaran berfungsi membantu individu mengalokasikan pendapatan secara terstruktur. Keduanya berperan sebagai bentuk implementasi dari pengelolaan keuangan yang efektif dalam membentuk perilaku menabung mahasiswa (Letycia et al. , 2. Perilaku menabung merupakan salah satu bentuk perilaku keuangan yang mencerminkan kemampuan individu dalam menyisihkan sebagian pendapatannya. Kebiasaan menabung berperan penting dalam membangun stabilitas dan kesejahteraan finansial jangka panjang (Suwatno et al. , 2. Perilaku menabung didorong berbagai aspek psikologis, sosial ekonomi, serta akses terhadap layanan keuangan digital (Yadav et al. , 2. Dalam konteks mahasiswa, penggunaan QRIS sebagai bentuk adopsi teknologi pembayaran digital, perilaku pencatatan pengeluaran sebagai bentuk pemantauan keuangan, dan perilaku penyusunan anggaran sebagai bentuk perencanaan keuangan diduga memiliki Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 378 hubungan yang erat dengan perilaku menabung. Interaksi ketiga faktor tersebut dapat menghasilkan pola pengelolaan keuangan yang berbeda pada setiap individu. Penelitian Salsabila & Fauzan . menemukan bahwa cashless society menunjukkan pengaruh yang signifikan pada perilaku menabung mahasiswa. Temuan itu menegaskan penggunaan teknologi finansial dapat berkontribusi terhadap perilaku menabung, namun efektivitasnya tetap bergantung pada faktor pengelolaan keuangan Sejalan dengan penelitian Sumaya & Masud . menyatakan bahwa penggunaan transaksi digital dipengaruhi oleh faktor kepercayaan, keamanan, dan kondisi yang mendukung, yang pada akhirnya mendorong penggunaan aktual. Dari perspektif perilaku manajemen keuangan, pencatatan pengeluaran dan penyusunan anggaran terbukti terdapat pengaruh yang konsisten terhadap perilaku keuangan. (Muasyaroh & Yoga, 2. menemukan bahwa mencatat, dan menganggarkan keuangan menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Temuan tersebut diperkuat oleh (Tan & Meng, 2. yang menunjukkan bahwa perilaku penganggaran dipengaruhi oleh pendidikan keuangan melalui mediasi sikap dan norma subjektif, sehingga pembentukan kebiasaan penganggaran tidak hanya berdasar pada pengetahuan, namun juga pada lingkungan sosial yang mendukung. Meskipun penelitian mengenai penggunaan pembayaran digital dan perilaku manajemen keuangan telah banyak dilakukan, hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan temuan yang beragam. Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan pembayaran digital dapat mendukung perilaku menabung melalui kemudahan akses transaksi dan pengelolaan keuangan. Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan bahwa kemudahan transaksi digital justru berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif sehingga dapat mengurangi kemampuan individu untuk menabung. Di sisi lain, penelitian mengenai pencatatan pengeluaran dan penyusunan anggaran umumnya hanya dikaitkan dengan perilaku keuangan secara umum dan belum banyak menguji pengaruhnya terhadap perilaku menabung. Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan yang perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian yang mengintegrasikan penggunaan QRIS sebagai representasi teknologi pembayaran digital dengan perilaku pencatatan pengeluaran dan perilaku penyusunan anggaran dalam menjelaskan perilaku menabung mahasiswa masih relatif terbatas, khususnya pada konteks mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Universitas Dian Nuswantoro Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki jumlah mahasiswa yang besar dan berasal dari berbagai latar belakang sosial ekonomi. Selain itu, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro merupakan kelompok yang aktif memanfaatkan teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan QRIS sebagai sarana Karakteristik tersebut menjadikan mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro relevan untuk mengkaji hubungan antara penggunaan QRIS, perilaku pengelolaan keuangan, dan perilaku menabung di era digital. Berdasarkan kesenjangan yang telah diidentifikasi, penelitian dilakukan untuk mengkaji bagaimana setiap faktor yang mempengaruhi perilaku menabung mahasiswa di Universitas Dian Nuswantoro Semarang melalui integrasi tiga variabel utama, yaitu penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. sebagai representasi adopsi teknologi keuangan digital, perilaku pencatatan pengeluaran sebagai komponen pemantauan keuangan, dan perilaku penyusunan anggaran sebagai komponen perencanaan keuangan, dalam satu model penelitian yang dikaji pada konteks mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Penelitian ini diharapkan mampu Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 379 memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan literatur perilaku keuangan mahasiswa dan memberikan kontribusi praktis bagi perguruan tinggi dan mahasiswa dalam menambah kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan dan perilaku menabung di era digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian penggunaan QRIS, perilaku pencatatan pengeluaran, dan perilaku penyusunan anggaran dalam satu model penelitian untuk menjelaskan perilaku menabung mahasiswa, yang masih relatif jarang dikaji secara simultan pada penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB), diperluas oleh Ajzen . dalam Suwatno et al. yang menegaskan bahwa perilaku individu terbentuk dari interaksi antara sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang Hal Ini menjelaskan bagaimana perilaku penyusunan anggaran sebagai bentuk kontrol perilaku yang kuat dan terencana menjadi prediktor dominan bagi perilaku menabung mahasiswa. Tan & Meng . menggunakan TPB sebagai kerangka teoritis dan membuktikan bahwa sikap positif dan norma subjektif secara signifikan memperkuat niat penganggaran yang pada akhirnya membentuk perilaku keuangan mahasiswa. Selain itu, penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model Theory (TAM), dikembangkan oleh (Davis et al. , 1. dalam (Salsabila & Fauzan, 2. yang menjelaskan penerimaan dan penggunaan teknologi oleh individu berdasarkan persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan. TAM relevan untuk menjelaskan variabel penggunaan QRIS, karena keputusan mahasiswa dalam menggunakan QRIS dipengaruhi oleh kemudahan dalam penggunaan serta manfaat yang diperoleh. Semakin tinggi perhatian mahasiswa terhadap kemudahan dan manfaat QRIS, maka semakin tinggi kecenderungan mereka dalam menggunakan sistem pembayaran dalam kesehariannya. Lebih lanjut, penelitian ini menggunakan Financial Management Behavior Theory yang dikembangkan oleh Kholilah & Iramani . dalam Muasyaroh & Yoga . yang menjelaskan bahwa manajemen keuangan yang efektif mencakup kapabilitas individu dalam menyusun, menganggarkan, memantau, mengontrol, serta menggunakan dana secara bertanggung jawab. Teori ini relevan untuk menjelaskan variabel perilaku pencatatan pengeluaran dan penyusunan anggaran sebagai bentuk perilaku pengelolaan keuangan individu dalam memantau, mengendalikan, dan merencanakan penggunaan dana secara efektif. Muasyaroh & Yoga . membuktikan bahwa kedua komponen tersebut secara signifikan memengaruhi perilaku keuangan mahasiswa, sementara Tan & Meng . menegaskan bahwa perilaku penganggaran yang konsisten secara langsung berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Dengan demikian, ketiga teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan perilaku menabung mahasiswa. Technology Acceptance Model (TAM). Theory of Planned Behavior (TPB), dan Financial Management Behavior Theory untuk menjelaskan perilaku menabung mahasiswa. TAM digunakan untuk memahami bagaimana mahasiswa menerima dan memanfaatkan QRIS sebagai teknologi pembayaran digital berdasarkan persepsi kemudahan dan manfaat yang dirasakan. Selanjutnya. TPB menjelaskan bahwa perilaku keuangan seseorang dipengaruhi oleh kemampuannya dalam mengendalikan dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan, yang dalam penelitian ini tercermin melalui perilaku penyusunan anggaran. Sementara itu. Financial Management Behavior Theory menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik melalui kebiasaan mencatat pengeluaran dan menyusun anggaran secara teratur. Melalui penggabungan ketiga teori tersebut, penelitian ini berupaya memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana penggunaan teknologi pembayaran digital dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 380 perilaku pengelolaan keuangan dapat memengaruhi perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. merupakan aktivitas pembayaran melalui pemindaian kode QR menggunakan aplikasi digital dengan standar nasional Bank Indonesia. QRIS membantu pengguna melakukan transaksi dengan cepat, mudah, dan efisien. Penggunaan transaksi digital yang dilakukan secara terencana dan terkendali akan membantu pengelolaan keuangan pribadi secara lebih rasional (Siregar et al. , 2. Namun di sisi lain, kemudahan dan kecepatan transaksi berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif dan impulsif jika tidak diimbangi dengan pengendalian diri (Tokoro & Safirah, 2. Kemudahan akses saldo digital seringkali mendorong mahasiswa untuk lebih konsumtif dan kurang mampu mengendalikan keuangan pribadi mereka (Fikri et al. , 2. Oleh karena itu, dampak pembayaran non-tunai melalui QRIS terhadap pengelolaan keuangan sangat bergantung pada kemampuan individu dalam mengontrol perilaku keuangannya. Dalam penelitian ini, penggunaan pembayaran nontunai diukur melalui tiga indikator, meliputi persepsi kemudahan penggunaan, keamanan, serta manfaat yang dirasakan, yang diadaptasi dari (Davis et al. , 1989 dalam Salsabila & Fauzan, 2. Pencatatan pengeluaran merupakan aktivitas mencatat arus kas, meliputi pemasukan dan pengeluaran untuk memonitor kondisi keuangan. Individu dengan kesadaran keuangan yang baik berpotensi lebih mampu mengevaluasi keuangannya, sehingga lebih aktif dalam mengelolan keuangan (Sandoval et al. , 2. Individu dengan kemampuan manajemen keuangan terstruktur berpotensi memiliki perilaku keuangan yang lebih positif (Chamida et al. , 2. Dengan demikian, pencatatan pengeluaran berperan sebagai mekanisme kontrol yang mendukung pengambilan keputusan keuangan yang lebih rasional. Di era digital, praktik pencatatan pengeluaran semakin didukung oleh ketersediaan aplikasi keuangan yang membantu dalam mencatat dan memantau kondisi keuangan (Anwar, 2. Meskipun demikian, kemudahan teknologi tersebut tidak secara otomatis membentuk kebiasaan pengelolaan keuangan yang baik apabila tidak disertai kesadaran dan kedisiplinan finansial dari individu itu sendiri (Putri et al. , 2. Wulan et al. menyatakan bahwa sebagian mahasiswa belum melakukan pencatatan pengeluaran secara rutin, sehingga belum menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Dalam penelitian ini, perilaku pencatatan pengeluaran diukur melalui beberapa indikator, yaitu frekuensi pencatatan, penggunaan alat atau aplikasi pencatatan, serta tingkat akurasi dan kedisiplinan dalam mencatat (Muasyaroh & Yoga. Penyusunan anggaran keuangan merupakan proses merencanakan tujuan, ketentuan, dan alokasi pendapatan untuk kegiatan keuangan dalam periode tertentu (Grozdanovska et al. , 2017 dalam Muasyaroh & Yoga, 2. Penganggaran keuangan memiliki peran strategis dalam pengelolaan keuangan pribadi karena memberikan kerangka yang jelas bagi individu dalam mengambil keputusan keuangan sehari-hari. Tan & Meng . menambahkan bahwa perilaku penganggaran di kalangan mahasiswa tidak terbentuk secara otomatis dari niat semata, melainkan memerlukan mediasi sikap positif dan norma sosial yang mendukung. Mahasiswa yang memiliki sikap positif terhadap penganggaran dan berada di lingkungan yang menganggap penyusunan anggaran sebagai norma yang wajar akan lebih konsisten dalam mempraktikkan penganggaran Indikator perilaku penyusunan anggaran dalam penelitian ini mengacu pada Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 381 (Muasyaroh & Yoga, 2. , mencakup ketersediaan dana darurat, frekuensi pembuatan anggaran, dan ketepatan pengalokasian dana. Perilaku menabung merupakan kecenderungan individu untuk menyisihkan sebagian pendapatan. Perilaku menabung menunjukkan pengelolaan keuangan yang baik yang berkaitan dengan pengendalian diri dalam penggunaan dana (Suwatno et al. Dalam era digital, perilaku menabung menghadapi tantangan baru akibat kemudahan dan kecepatan transaksi non-tunai yang dapat mendorong pengeluaran impulsif (Tokoro & Safirah, 2. Oleh karena itu, praktik pencatatan pengeluaran dan penyusunan anggaran menjadi penting sebagai mekanisme kontrol untuk menjaga disiplin keuangan dan mendukung terbentuknya perilaku menabung yang konsisten. Indikator perilaku menabung mengacu pada kebiasaan menyisihkan uang secara rutin, konsistensi dalam menabung, kejelasan tujuan menabung, serta frekuensi dan jumlah tabungan (Salsabila & Fauzan, 2. Pengaruh Penggunaan QRIS Terhadap Perilaku Menabung Penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. semakin berkembang sebagai salah satu cara pembayaran digital yang sering digunakan oleh Penggunaan QRIS dipengaruhi oleh faktor kemudahan, efisiensi dan kepercayaan sistem, yang akhirnya dapat memengaruhi perilaku keuangan individu (Syari et al. , 2. Kemudahan dan kecepatan transaksi berpotensi mengurangi sensasi nyata atas kehilangan uang dibandingkan dengan pembayaran tunai, sehingga individu cenderung melakukan pembelian tanpa pertimbangan yang matang (Putri et al. , 2. Tokoro & Safirah . menyatakan penggunaan sistem pembayaran non-tunai dapat mendorong pemborosan jika tidak dibarengi pengendalian diri. Hal ini diperkuat (Kumar & Kumar, 2. yang menyatakan bahwa kemudahan transaksi digital berpotensi memicu perilaku impulsif yang dapat melemahkan pencatatan dan penganggaran. Dengan demikian, semakin tinggi intensitas penggunaan transaksi digital melalui QRIS, semakin besar pula potensi terjadinya pengeluaran yang tidak terencana, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan mahasiswa dalam menyisihkan dana untuk tabungan. Berdasarkan penjelasan tersebut, ditetapkan hipotesis pertama sebagai berikut: HCA: Penggunaan QRIS berpengaruh negatif terhadap perilaku menabung mahasiswa di Kota Semarang Pengaruh Perilaku Pencatatan Pengeluaran Terhadap Perilaku Menabung Pencatatan pengeluaran merupakan aktivitas fundamental dalam pengelolaan keuangan pribadi yang memberikan gambaran nyata mengenai pola penggunaan dana. Perilaku keuangan yang tidak terkontrol, seperti pengeluaran impulsif, dapat mengganggu perencanaan keuangan dan menurunkan kemampuan individu dalam menabung (Kumar & Kumar, 2. Mahasiswa yang secara disiplin mencatat setiap pengeluaran akan lebih mudah mengidentifikasi pengeluaran yang tidak perlu, sehingga dapat mengalihkan dana tersebut ke tabungan (Muasyaroh & Yoga, 2. Sejalan dengan pandangan (Suwatno et , 2. bahwa kemampuan memantau dan mengendalikan arus kas merupakan prasyarat penting bagi terbentuknya kebiasaan menabung yang konsisten. Dengan demikian, semakin tinggi kedisiplinan mahasiswa dalam mencatat pengeluaran, semakin besar pula kemampuannya dalam mengidentifikasi celah penghematan dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 382 mengalokasikan dana tersebut untuk tabungan. Berdasarkan penjelasan tersebut, ditetapkan hipotesis kedua sebagai berikut: HCC: Perilaku pencatatan pengeluaran berpengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa di Kota Semarang Pengaruh Perilaku Penyusunan Anggaran Terhadap Perilaku Menabung Penyusunan anggaran memberikan kerangka yang jelas bagi individu dalam menentukan prioritas keuangan, termasuk mengalokasikan tabungan sebagai kewajiban sebelum pengeluaran konsumtif lainnya. Tan & Meng . menemukan bahwa perilaku penganggaran secara langsung berdampak pada kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan, termasuk dalam menabung dan berinvestasi. Lemahnya perencanaan keuangan dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, sehingga menghambat pencapaian tujuan keuangan, termasuk menabung (Kumar & Kumar, 2. Diperkuat dengan temuan (Muasyaroh & Yoga, 2. yang membuktikan bahwa individu yang meguasai perencanaan keuangan yang baik, berpotensi mengatur pengeluaran dan menyisihkan dana untuk tabungan secara lebih Semakin meningkat perilaku penganggaran, semakin baik pula potensi individu dalam mempertahankan komitmen menabung. Berdasarkan penjelasan tersebut, ditetapkan hipotesis ketiga sebagai berikut: HCE: Perilaku penyusunan anggaran berpengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa di Kota Semarang Kerangka Penelitian Penggunaan QRIS (X. Perilaku Pencatatan Pengeluaran (X. (-) H2 ( ) Perilaku Menabung (Y) ( ) Perilaku Penyusunan Anggaran (X. Gambar 3. Kerangka Konseptual Sumber: Olahan data penulis . Metode Analisis Studi ini dilaksanakan pada tahun 2026 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang dengan menerapkan jenis penelitian kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan penelitian yang memfokuskan pada pengumpulan serta analisis informasi berupa angka Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 383 guna mengukur variabel dan menilai hubungan antar variabel secara objektif dan terukur. Penelitian ini memanfaatkan data primer dari responden melewati kuesioner yang dijalankan secara daring dengan Google Form. Instrumen penelitian dilakukan berdasarkan skala likert lima poin. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa aktif program Sarjana (S. Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang memanfaatkan sistem pembayaran non-tunai dalam kesehariannya. Teknik pengambilan sampel dijalankan dengan metode non-probability sampling melalui pendekatan purposive sampling, yakni penetapan sampel berdasarkan kriteria Adapun kriteria responden meliputi: . Mahasiswa aktif program Sarjana (S. Universitas Dian Nuswantoro Semarang. menggunakan QRIS untuk kesehariannya. dan bersedia menjawab kuesioner penelitian secara lengkap. Dari penyebaran kuesioner tersebut, diperoleh sebanyak 138 responden. Namun, hanya 130 responden yang dapat digunakan dalam proses analisis karena 8 responden yang tidak memenuhi kriteria penelitian, yaitu menggunakan alamat e-mail pribadi dan bukan e-mail mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Dari 130 responden yang memenuhi kriteria, sebanyak 55 laki-laki . ,3%) dan 75 perempuan . ,7%), dengan mayoritas responden berusia 21-23 tahunsebesar 71,5%. Penentuan jumlah berdasarkan pada rekomendasi (Hair et al. , 2. , bahwa ukuran sampel yang memadai ditentukan berdasarkan jumlah indikator penelitian dikalikan dengan angka 5 hingga 10. Rumus yang diterapkan sebagai berikut: n = jumlah indikator x . n = 13 x 10 n = 130 Keterangan: n = jumlah sampel jumlah indikator = seluruh indikator yang digunakan dalam penelitian Dari hasil perhitungan, jumlah sampel yang direkomendasikan 130 responden. Dengan jumlah indikator sebanyak 13 butir, maka jumlah ukuran sampel yang direkomendasikan adalah 65 hingga 130 responden. Hal ini sejalan dengan hasil penyebaran kuesioner yang diperoleh sebanyak 130 responden. Penetapan 130 responden dalam penelitian ini berada pada jumlah jumlah sampel yang direkomendasikan sehingga dinilai memadai untuk melakukan analisis data. Karakteristik responden yang beragam dari sisi jenis kelamin dan usia diharapkan mampu memberikan gambaran yang representatif mengenai perilaku keuangan mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Selain itu, penggunaan kuesioner secara daring memungkinkan proses pengumpulan data dilakukan secara lebih efektif dan menjangkau responden yang tepat dengan kriteria penelitian. Pengujian instrumen dilakukan dengan cara menguji validitas melewati korelasi Pearson Product Moment, dianggap valid jika nilai r hitung Ou r tabel. Selanjutnya. Uji reliabilitas berdasar pada koefisien CronbachAos Alpha, dinyatakan reliabel jika suatu nilai koefisien lebih besar dari 0,6. Analisis data yang digunakan yakni metode regresi linier berganda menggunakan SPSS versi 25. Kemudian, uji asumsi klasik, terdiri dari uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov, uji multikolinearitas berdasar pada nilai Variance Inflation Factor (VIF), dan uji heteroskedastisitas menggunakan metode Glejser. Pengujian hipotesis melalui tiga tahap, yaitu uji t untuk menguji pengaruh secara parsial dengan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 384 kriteria Signifikansi < 0,05, uji F untuk menguji kelayakan model, serta uji koefisien determinasi (Adjusted R Squar. untuk menguji kemampuan model dan menjelaskan variasi variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Kode Perilaku Penyusunan Anggaran (X. Perilaku Penyusunan Anggaran (X. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X3. X3. X3. Perilaku Penyusunan Anggaran (X. Perilaku Menabung (Y) Indikator Referensi Kemudahan pengguna Keamanan Manfaat yang dirasakan Frekuensi pencatatan Penggunaan aplikasi pencatatan Akurasi dan kedisiplinan pencatatan Ketepatan pengalokasian dana Ketepatan pengalokasian dana Ketepatan pengalokasian dana Kebiasaan menyisihkan uang Konsistensi dalam menabung Tujuan menabung yang jelas Frekuensi dan jumlah tabungan (Salsabila dan Fauzan. Muasyaroh & Yoga, (Muasyaroh & Yoga, (Salsabila dan Fauzan. Sumber: Olahan data penulis . Hasil Penelitian Hasil Penelitian Tabel 2. Karakteristik Reponden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Sumber: Olahan data penulis . Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, diperoleh sebanyak 42,3% . laki-laki dan 57,7% . Berdasarkan usia, mayoritas responden pada rentang usia 21-23 tahun, diperoleh sebanyak 93 mahasiswa . ,5%), sedangkan responden berusia 18-20 berjumlah 37 mahasiswa . ,5%). Maka dari itu, disimpulkan bahwa responden yang diperoleh didominasi oleh perempuan dengan rentang usia 21-23 tahun. Statistik Deskriptif Tabel 3. Statistik Deskriptif Variabel Minimum Maximum Mean Std. Deviation Penggunaan QRIS Pencatatan Pengeluaran Penyusunan Anggaran Perilaku Menabung Sumber: Olahan data penulis . Jumlah responden yang digunakan sebanyak 130 responden. Variabel Penggunaan QRIS (X. mempunyai nilai minimum 3 dan nilai maksimum sebanyak 15 dengan nilai rata-rata 13,57 serta standar deviasi 2,027. Nilai rata-rata yang mendekati skor maksimum mengindikasikan bahwa responden mempunyai tingkat penggunaan QRIS relatif tinggi dalam aktivitas transaksi sehari-hari. Variabel Perilaku Pencatatan Pengeluaran Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 385 (X. mempunyai nilai minimum 4 dan nilai maksimum 15 dilengkapi nilai rata-rata 10,14 serta standar deviasi 2,800. Hasil menunjukkan bahwa perilaku pencatatan pengeluaran responden berada pada kategori sedang hingga tinggi, meskipun masih terdapat variasi perilaku pencatatan di antara responden. Variabel Perilaku Penyusunan Anggaran (X. mempunyai nilai minimum 5 dan nilai maksimum 15 dengan nilai rata-rata 11,38 serta standar deviasi 2,081. Nilai rata-rata tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar responden telah mempunyai kebiasaan menyusun anggaran keuangan dalam tingkat yang cukup baik. Variabel Perilaku Menabung (Y) mempunyai nilai minimum 4 dan nilai maksimum 20 dilengkapi nilai rata-rata 15,83 serta standar deviasi 2,648. Hasil menunjukkan bahwa tingkat perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang cenderung tinggi, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar responden telah memiliki kebiasaan menyisihkan sebagian dana untuk ditabung. Uji Instrumen Tabel 4. Hasil Uji Instrumen Variabel Instrumen r-calculated X1. X1. X1. X2. Penggunaan QRIS (X. Perilaku Pencatatan Pengeluaran (X. X2. Perilaku Penyusunan Anggaran (X. X2. X3. X3. X3. Perilaku Menabung (Y) Cronbach Alpha Hasil Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Valid dan reliabel Sumber: Olahan data penulis . Uji instrumen penelitian dijalankan guna memastikan kelayakan data. Pada uji validitas dengan 130 responden diperoleh r tabel 0,1723. Uji validitas melewati korelasi pearson Product Moment, dimana suatu item dinyatakan valid apabila nilai r hitung Ou r Uji reliabel berdasarkan CronbachAos Alpha, dimana suatu item disebut reliabel apabilai Ou 0,6. Berdasarkan hasil yang disajikan, semua konstruk dinyatakan valid dengan nilai di atas 0,1723, dan dinyatakan reliabel dengan nilai di atas 0,6. Sehingga semua variabel dinyatakan valid dan memiliki reliabilitas yang baik. Uji Normalitas Tabel 5. Uji Normalitas Residual Asymp. Sig Keterangan 0,200 Normal Sumber: Olahan data penulis . Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi suatu data. Pada pengkajian ini, uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov (K-S), data terdistribusi normal apabila nilai Sig. Ou 0,05. Hasil pengujian ditemukan nilai sebanyak 0,200, maka data yang digunakan dalam penelitian dinyatakan normal dan layak. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 386 Uji Multikolinearitas Tabel 6. Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance VIF Keterangan Tidak terjadi multikolinearitas Tidak terjadi multikolinearitas Tidak terjadi multikolinearitas Penggunaan QRIS Perilaku Pencatatan Pengeluaran Perilaku Penyusunan Anggaran Sumber: Olahan data penulis . Uji multikolinearitas dijalankan berdasar pada nilai VIF Variance Inflation Facto. O 10, maka bisa diartikan tidak terjadi multikolinearitas. Hasil pengujian menunjukkan semua nilai O 10, maka dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas pada semua variabel. Uji Heteroskedastisitas Tabel 7. Uji Heteroskedastisitas Variabel Sig. Keterangan Penggunaan QRIS Perilaku Pencatatan rPengeluaran Perilaku Penyusunan Anggaran Tidak terjadi heteroskedastistas Tidak terjadi heteroskedastistas Tidak terjadi heteroskedastistas Sumber: Olahan data penulis . Uji heteroskedastisitas dijalankan guna mengetahui adanya perbedaan varians residual antar pengamatan dalam model regresi. Penelitian menggunakan metode Glejser, yaitu dengan mengorelasikan nilai absolut residual terhadap masing- masing variabel independen dengan kriteria nilai signifikansi Ou 0,05 maka dinyatakan tidak mengalami Hasil uji menunjukkan ketiga variabel tersebut dinyatakan tidak terjadi Sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Analisis Regresi Berganda Tabel 8. Analisis Regresi Berganda Variabel (Constan. Penggunaan QRIS Perilaku Pencatatan Pengeluaran Perilaku Penyusunan Anggaran Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Sumber: Olahan data penulis . Analisis dilakukan guna megukur tingkat hubungan variabel independen dan variabel dependen dan mengetahui arah hubungan yang terbentuk pada variabel-variabel Diperoleh persamaan regresi seperti: Y = 2,587 0,314X1 0,134X2 0,670X3 Dari persamaan di atas, dapat disimpulkan: Nilai konstanta sebanyak 2,587 mengindikasikan bahwa apabila variabel pengguna QRIS (X. , perilaku pencatatan pengeluaran (X. , dan perilaku penyusunan anggaran (X. dianggap konstan, maka nilai perilaku menabung (Y) sebanyak 2,587. Variabel XCA (Penggunaan QRIS) memiliki nilai koefisien regresi sebanyak 0,314 bernilai positif dengan nilai signifikansi 0,000. Ini menunjukkan penggunaan QRIS (X. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 387 berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung (Y) mahasiswa. Semakin tinggi penggunaan QRIS, maka perilaku menabung mahasiswa juga cenderung meningkat. Variabel XCC (Pencatatan Pengeluara. memiliki nilai koefisien regresi sebanyak 0,134 bernilai positif dilengkapi nilai signifikansi 0,067. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 mengindikasikan bahwa perilaku pencatatan pengeluaran tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku menabung (Y) mahasiswa. Meskipun koefisien regresi bernilai positif, pengaruh yang ditunjukkan belum cukup kuat secara Variabel XCE (Penyusunan Anggara. memiliki nilai koefisien regresi sebanyak 0,670 bernilai positif dilengkapi nilai signifikansi 0,000. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perilaku penyusunan anggaran (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung (Y). Semakin tinggi perilaku penyusunan anggaran mahasiswa, maka semakin tinggi pula perilaku menabungnya. Uji T (Parsia. Tabel 9. Uji T Variabel Unstandardized (Constan. Penggunaan QRIS Perilaku Pencatatan Pengeluaran Perilaku Penyusunan Anggaran Sumber: Olahan data penulis . Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Berdasarkan hasil uji T yang telah dijalankan, diketahui bahwa: Pada variabel XCA (Penggunaan QRIS), diperoleh nilai t hitung sebanyak 3,645 dengan signifikansi 0,000. Hasil mengindikasikan adanya pengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa. Koefisien yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan QRIS, maka semakin tinggi pula perilaku menabung mahasiswa. Mahasiswa yang semakin sering menggunakan QRIS cenderung memiliki perilaku menabung yang lebih baik. Penggunaan QRIS tidak selalu mendorong perilaku Sebaliknya. QRIS dapat membantu mahasiswa melakukan transaksi secara lebih praktis serta memantau riwayat pengeluaran melalui aplikasi digital, sehingga memudahkan pengelolaan keuangan dan mendukung kebiasaan Dengan demikian hipotesis 1 ditolak. Pada variabel XCC (Pencatatan Pengeluara. , nilai t hitung sebanyak 1,849 dan signifikansi 0,067. Hasil mengindikasikan pencatatan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku menabung mahasiswa. Mahasiswa yang mencatat pengeluarannya belum pasti mempunyai perilaku menabung yang lebih Pencatatan pengeluaran hanya membantu mengetahui kondisi keuangan, tetapi belum efektif untuk mengurangi pengeluaran atau meningkatkan tabungan. Oleh karena itu, hipotesis 2 ditolak. Pada variabel XCE (Penyusunan Anggara. , nilai t hitung sebanyak 6,506 dan signifikansi 0,000. Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa. Mahasiswa yang membuat anggaran keuangan lebih mampu menentukan prioritas kebutuhan, mengontrol pengeluaran, dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 388 menyisihkan dana untuk tabungan. Oleh karena itu, semakin baik penyusunan anggaran yang dilakukan, semakin tinggi pula perilaku menabungnya. Dengan demikian, hipotesis 3 dapat diterima. Uji F (Kelayakan Mode. Tabel 10. Uji F Sum of Squares Regression Residual Total Mean Square Sig. Sumber: Olahan data penulis . Uji F dilakukan guna menguji signifikansi pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika nilai signifikansi < 0,05, maka variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil menunjukkan nilai F hitung sebanyak 46,516 dilengkapi tingkat signifikansi sebesar 0,000. Demikian, variabel XCA (Penggunaan QRIS). XCC (Pencatatan Pengeluara. , dan XCE (Penyusunan Anggara. secara simultan menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y (Perilaku Menabun. Uji Koefisien Determinasi (RA) Tabel 11. Uji Koefisien Determinasi R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,526 Sumber: Olahan data penulis . Uji koefisien determinasi (RA) dilakukan guna memahami besarnya kontribusi variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Semakin tinggi nilai RA, maka semakin besar kemampuan model dalam menjelaskan variasi perilaku menabung. Hasil nilai Adjusted R Square diperoleh sebanyak 0,514. Hal ini menerangkan bahwa variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen sebanyak 51,4%, sedangkan sebanyak 48,6% didorong oleh faktor lain. Pembahasan Pengaruh Penggunaan QRIS Terhadap Perilaku Menabung Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan QRIS (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung (Y) mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,314, nilai t hitung sebanyak 3,645 dan signifikansi 0,000. Temuan penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan dugaan awal penelitian yang memperkirakan bahwa penggunaan QRIS dapat mendorong perilaku konsumtif dan mengurangi kemampuan menabung. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa dampak penggunaan QRIS tidak hanya ditentukan oleh kemudahan transaksi yang ditawarkan, tetapi juga oleh bagaimana pengguna memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia dalam aplikasi pembayaran digital. Pada mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang, penggunaan QRIS cenderung dimanfaatkan sebagai sarana transaksi yang praktis sekaligus sebagai media untuk memantau pengeluaran melalui riwayat transaksi yang tersimpan secara otomatis. Kondisi tersebut memungkinkan mahasiswa memiliki Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 389 kontrol yang lebih baik terhadap kondisi keuangannya sehingga dapat mendukung perilaku menabung. Temuan ini sejalan dengan Technology Acceptance Model (TAM) oleh Davis et al. TAM yang menjelaskan bahwa persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan teknologi akan mendorong individu untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal dalam mendukung aktivitasnya, termasuk dalam pengelolaan keuangan pribadi. Kemudahan akses terhadap informasi transaksi memungkinkan mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap pengeluaran dan menyusun keputusan keuangan yang lebih baik, termasuk dalam menyisihkan sebagian dana ke dalam tabungan. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa penggunaan QRIS tidak menyebabkan Sebaliknya, penggunaan QRIS yang disertai dengan kesadaran pengelolaan keuangan dapat membantu mahasiswa mengontrol pengeluaran dan meningkatkan perilaku menabung. Dengan adanya riwayat transaksi yang tersimpan secara digital, mahasiswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melakukan monitoring keuangan dibandingkan dengan penggunaan uang tunai yang relatif sulit ditelusuri kembali. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Salsabila & Fauzan . yang menyatakan bahwa penggunaan sistem pembayaran digital berpengaruh signifikan terhadap perilaku menabung mahasiswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi keuangan tidak hanya memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi juga dapat mendukung perilaku keuangan yang lebih baik apabila dimanfaatkan secara bijak oleh Dengan kata lain, manfaat QRIS terhadap perilaku menabung tidak muncul semata-mata karena penggunaan teknologi pembayaran digital, tetapi karena teknologi tersebut dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kontrol terhadap Berdasarkan hasil tersebut. H1 yang menyatakan bahwa penggunaan QRIS berpengaruh negatif terhadap perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang dinyatakan ditolak, karena hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan tetapi dengan arah positif, sehingga tidak sesuai dengan arah hubungan yang diprediksi dalam hipotesis. Pengaruh Perilaku Pencatatan Pengeluaran Terhadap Perilaku Menabung Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pencatatan pengeluaran (X. tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku menabung (Y) mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,134, nilai t hitung sebesar 1,849 dan nilai signifikansi 0,067. Meskipun koefisien regresi menunjukkan arah positif, pengaruh yang diberikan belum cukup kuat untuk mencapai taraf signifikansi statistik. Berdasarkan hasil kuesioner, sebagian besar responden telah melakukan pencatatan pengeluaran dalam tingkat yang cukup baik. Namun, pencatatan yang dilakukan belum diikuti dengan tindakan pengendalian keuangan yang nyata. Pencatatan pengeluaran pada dasarnya hanya berfungsi sebagai alat pemantauan kondisi keuangan, sedangkan keputusan untuk mengurangi pengeluaran atau menyisihkan dana untuk ditabung tetap bergantung pada komitmen dan disiplin individu dalam mengelola keuangannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pencatatan pengeluaran yang dilakukan mahasiswa lebih bersifat administratif daripada sebagai dasar dalam pengambilan keputusan keuangan. Dengan kata lain, mahasiswa telah mengetahui besarnya pengeluaran yang dilakukan, tetapi informasi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk mengevaluasi pola konsumsi, menetapkan prioritas kebutuhan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 390 maupun menentukan jumlah dana yang akan dialokasikan untuk tabungan. Akibatnya, pencatatan pengeluaran belum mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap perilaku menabung. Financial Management Behavior Theory oleh Kholilah & Iramani . dalam Muasyaroh dan Yoga . menyatakan bahwa pengelolaan keuangan yang efektif tidak hanya memerlukan aktivitas pemantauan keuangan, tetapi juga membutuhkan kemampuan perencanaan dan pengendalian keuangan. Pencatatan pengeluaran merupakan salah satu bentuk pemantauan keuangan yang membantu individu mengetahui kondisi keuangannya. Akan tetapi, apabila informasi yang diperoleh dari pencatatan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mengendalikan pengeluaran dan menyusun strategi keuangan yang lebih baik, maka pencatatan pengeluaran tidak akan memberikan dampak terhadap perilaku menabung. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pemantauan keuangan saja belum cukup untuk membentuk perilaku menabung apabila tidak diikuti dengan kemampuan mengendalikan pengeluaran dan menyusun anggaran. Dengan demikian, hasil penelitian ini tetap konsisten dengan Financial Management Behavior Theory yang menempatkan pencatatan sebagai salah satu komponen pengelolaan keuangan, bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku keuangan individu. Hasil mengindikasikan bahwa mahasiswa yang melakukan pencatatan pengeluaran belum mempunyai perilaku menabung yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tidak melakukan pencatatan secara rutin. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan catatan keuangan saja belum cukup untuk mendorong terbentuknya kebiasaan menabung apabila tidak disertai tindakan lanjutan berupa pengendalian konsumsi dan perencanaan keuangan yang terstruktur. Temuan ini berbeda dengan penelitian Muasyaroh dan Yoga . yang menyatakan bahwa perilaku pencatatan keuangan berpengaruh terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena penelitian ini secara khusus mengukur perilaku menabung. Pencatatan pengeluaran dapat meningkatkan kesadaran terhadap kondisi keuangan, namun belum tentu mendorong individu untuk menyisihkan pendapatan ke dalam tabungan apabila tidak disertai dengan perencanaan keuangan yang terstruktur dan pengendalian terhadap perilaku konsumsi. Hal ini mengindikasikan bahwa pencatatan pengeluaran berfungsi sebagai aktivitas pemantauan, sedangkan perubahan perilaku menabung lebih dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa dalam merencanakan dan mengendalikan penggunaan dana melalui penyusunan anggaran. Dengan demikian. H2 yang menyatakan bahwa perilaku pencatatan pengeluaran berpengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang dinyatakan ditolak karena hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh yang diberikan tidak signifikan secara statistik. Pengaruh Perilaku Penyusunan Anggaran Terhadap Perilaku Menabung Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penyusunan anggaran (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung (Y) mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,670, nilai t hitung 6,506 dan signifikansi 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik perilaku penyusunan anggaran yang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula perilaku menabung yang Selain itu, perilaku penyusunan anggaran merupakan variabel yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 391 mempunyai pengaruh paling kuat terhadap perilaku menabung. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam merencanakan penggunaan dana memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk kebiasaan menabung dibandingkan aktivitas pemantauan pengeluaran maupun penggunaan teknologi pembayaran digital. Berdasarkan hasil kuesioner, sebagian besar responden telah memiliki kebiasaan menyusun anggaran keuangan sebagai bentuk perencanaan penggunaan dana. Penyusunan anggaran membantu mahasiswa menentukan prioritas kebutuhan, mengalokasikan pendapatan secara terencana, serta menetapkan sejumlah dana yang dapat disisihkan untuk tabungan. Berbeda dengan pencatatan pengeluaran yang berfokus pada evaluasi penggunaan dana yang telah terjadi, penyusunan anggaran berfungsi sebagai pedoman dalam mengendalikan penggunaan dana sebelum pengeluaran dilakukan. Temuan tersebut dapat dijelaskan melalui Theory of Planned Behaviour (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen . dalam Suwatno et al. Dalam teori tersebut, perceived behavioral control menjelaskan bahwa individu yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya dalam mengendalikan suatu perilaku akan lebih mudah merealisasikan perilaku tersebut. Dalam konteks penelitian ini, penyusunan anggaran mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam merencanakan dan mengendalikan penggunaan dana sehingga mendorong terbentuknya perilaku menabung. Berbeda dengan pencatatan pengeluaran yang hanya menghasilkan informasi mengenai transaksi yang telah terjadi, penyusunan anggaran memberikan arah dan batasan dalam penggunaan dana sebelum transaksi dilakukan sehingga lebih efektif dalam membentuk kebiasaan menabung. Hasil ini searah dengan penelitian Tan & Meng . yang menerangkan bahwa perilaku penganggaran mempunyai peran penting dalam membangun perilaku keuangan yang positif. Selain itu. Muasyaroh & Yoga . juga menemukan bahwa praktik penganggaran keuangan mendorong peningkatan kualitas pengelolaan keuangan individu. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa yang secara konsisten menyusun anggaran cenderung lebih mampu mengendalikan pengeluaran dan mengalokasikan dana untuk tabungan secara terencana. Dengan demikian. H3 yang menyatakan bahwa perilaku penyusunan anggaran berpengaruh positif terhadap perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang dinyatakan diterima. Simpulan dan Saran Studi ini mengkaji pengaruh penggunaan QRIS, perilaku pencatatan pengeluaran, dan perilaku penyusunan anggaran terhadap perilaku menabung mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan QRIS dan perilaku penyusunan anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku menabung, sedangkan perilaku pencatatan pengeluaran tidak berpengaruh signifikan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perilaku penyusunan anggaran merupakan faktor yang paling dominan dalam membentuk perilaku menabung mahasiswa. Mahasiswa yang mampu merencanakan penggunaan dana, menetapkan prioritas kebutuhan, dan mengalokasikan sebagian pendapatan untuk tabungan cenderung memiliki perilaku menabung yang lebih baik. Selain itu, penggunaan QRIS juga memberikan kontribusi positif terhadap perilaku menabung karena memudahkan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 392 mahasiswa melakukan transaksi sekaligus memantau riwayat pengeluaran secara digital. Sebaliknya, pencatatan pengeluaran belum mampu mendorong perilaku menabung apabila hanya dilakukan sebagai aktivitas administratif tanpa diikuti pengendalian pengeluaran maupun perencanaan keuangan yang lebih terarah. Secara teoritis, penelitian ini memperkuat Theory of Planned Behavior (TPB) yang menunjukkan bahwa perilaku yang terencana melalui penyusunan anggaran mampu meningkatkan kontrol perilaku individu dalam mengelola keuangan. Penelitian ini juga mendukung Technology Acceptance Model (TAM) dengan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi pembayaran digital yang dipersepsikan mudah dan bermanfaat dapat mendorong perilaku keuangan yang positif. Selain itu, penelitian ini memperkaya Financial Management Behavior Theory dengan menunjukkan bahwa aspek perencanaan keuangan memiliki peran yang lebih besar dibandingkan aktivitas pemantauan keuangan dalam membentuk perilaku menabung mahasiswa. Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, objek penelitian hanya mencakup mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasi pada populasi mahasiswa secara lebih luas. Kedua, data penelitian diperoleh melalui kuesioner self-report sehingga masih berpotensi menimbulkan social desirability bias. Ketiga, nilai Adjusted R Square sebesar 51,4% menunjukkan bahwa masih terdapat faktor-faktor lain di luar model penelitian yang memengaruhi perilaku menabung mahasiswa. Berdasarkan keterbatasan tersebut, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas cakupan responden pada berbagai perguruan tinggi maupun wilayah yang berbeda agar hasil penelitian memiliki tingkat generalisasi yang lebih baik. Penelitian berikutnya juga dapat menambahkan variabel lain, seperti literasi keuangan, kontrol diri, pendapatan, gaya hidup, atau pengaruh teman sebaya untuk memperoleh model yang lebih komprehensif dalam menjelaskan perilaku menabung mahasiswa. Dari sisi praktis, mahasiswa disarankan untuk membiasakan penyusunan anggaran sebelum melakukan pengeluaran serta memanfaatkan fitur riwayat transaksi pada aplikasi pembayaran digital sebagai sarana evaluasi keuangan. Meskipun pencatatan pengeluaran tidak berpengaruh signifikan dalam penelitian ini, kebiasaan tersebut tetap penting apabila diintegrasikan dengan perencanaan anggaran dan pengendalian pengeluaran sehingga dapat mendukung terbentuknya perilaku menabung yang berkelanjutan. Referensi