Muqaddimah Nomor 2 Volume 16 ISSN: 1858-3776 The article is published at https://jurnal. id/muqaddimah MODEL DAKWAH DALAM POLARISASI KOMUNITAS (Kajian Sejarah Dakwah Rasulullah SAW) Akhirudin Fakultas Agama Islam. Universitas Ibnu Chaldun. Jakarta. Indonesia Correspondent Email: akhirudindc@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model dan dinamika dakwah Rasulullah SAW pada fase awal, khususnya saat diperintahkannya dakwah secara terang-terangan kepada kaum kerabat . syirah al-aqrabi. Fokus utama kajian ini adalah menganalisis bagaimana polarisasi respon yang terjadi di lingkungan keluarga inti Rasulullah SAW dan bagaimana prinsip uswatun hasanah menjadi landasan etis dalam penyampaian risalah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan historis . istorical approac. Data primer bersumber dari kitab-kitab Sirah Nabawiyah klasik seperti karya Ibnu Hisyam. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan sumber otoritatif lainnya. Teknik analisis data dilakukan secara holistik untuk merekonstruksi peristiwa dakwah di kalangan Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah kepada keluarga dekat merupakan kode etik fundamental bagi seorang dai sebelum menjangkau masyarakat luas. Dalam prosesnya, terjadi polarisasi komunitas keluarga ke dalam empat kategori respon. Kelompok Akseptan Mutlak: Mereka yang langsung menerima Islam dan meninggalkan paganisme . iwakili oleh Khadijah binti Khuwailid dan Ali bin Abi Thali. Kelompok Oposan Radikal: Mereka yang menolak secara keras dan menjadi musuh dakwah . iwakili oleh Abu Laha. Kelompok Simpatisan Non-Muslim: Mereka yang menolak memeluk Islam tetapi memberikan perlindungan politik dan keamanan penuh terhadap dakwah . iwakili oleh Abu Thali. Kelompok Akseptan Gradual: Mereka yang awalnya menolak atau bersikap netral namun kemudian memeluk Islam setelah melalui proses waktu yang lama . iwakili oleh Hamzah bin Abd al-Muththalib dan Abu Sufya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tantangan dakwah tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari lingkungan internal. Keberhasilan dakwah Rasulullah dalam menghadapi polarisasi ini terletak pada integritas pribadi . l-Ami. dan keteguhan strategi yang mengombinasikan peringatan keras . dengan pendekatan emosional yang persuasif. Kata Kunci: Dakwah. Rasulullah SAW. Polarisasi Komunitas. Keluarga. Sirah Nabawiyah. Abstract This study aims to describe the model and dynamics of Prophet MuhammadAos (PBUH) daAowah during the early stages, specifically when the command for open preaching to close relatives . shirah alaqrabi. was revealed. The primary focus of this research is to analyze the polarization of responses within the Prophet's immediate family environment and how the principle of uswatun hasanah . he excellent role mode. served as the ethical foundation for delivering the message. The research utilizes a descriptive qualitative method with a historical approach. Primary data are sourced from classical Sirah Nabawiyah (Prophetic Biograph. texts, including the works of Ibn Hisham. Sheikh Safiurrahman Al-Mubarakpuri, and other authoritative sources. Data analysis was conducted holistically to reconstruct the events of daAowah among the Banu Hashim and Banu Muttalib. The results indicate that preaching to oneAos close family is a fundamental code of ethics for a daAoi . before reaching the wider community. In the process, the family community polarized into four distinct categories of response. Absolute Acceptors: Those who immediately embraced Islam and abandoned paganism . epresented by Khadijah binti Khuwailid and Ali bin Abi Thali. Radical Opponents: Those who vehemently rejected and actively opposed the preaching . epresented by Abu Laha. Non-Muslim Sympathizers: Those who declined to embrace Islam as a religion but provided full political and security protection for the mission . epresented by Abu Thali. Gradual Acceptors: Those who initially rejected or remained neutral but eventually embraced Islam after a long period . epresented by Hamzah bin Abd al-Muttalib and Abu Sufya. The study concludes that daAowah challenges arise not only from external forces but also from within the internal environment. The success of the ProphetAos daAowah in navigating this polarization lay in his personal integrity . l-Ami. and a steadfast strategy that combined stern warnings . with persuasive emotional approaches. Keywords: DaAowah. Prophet Muhammad SAW. Community Polarization. Family. Sirah Accepted Date: 22 Desember 2025 Publish Date: 31 Desember 2025 Pendahuluan Kitab suci al-Qur'an menyatakan bahwa dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri tauladan yang baik . swatun hasana. bagi umat manusia. hal ini difirmankan oleh Allah dalam surat al-Ahzab: 21 Ae aOEOaO aIe Eaa ae aOa aEe aEE aEaO UA a AEaCae EaIae Ea aEIe AaO aA. a AIae aE aIIe EaIae Oa aOA a AO aEe EEae a aOe aA Artinya: "Sesungguhnya pada . Rasulullah itu . suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharap . Allah dan Hari Akhirat serta banyak mengingat Allah. Sebagai uswatun hasanah . uri tauladan yang bai. , seluruh tindakan dan langkahlangkah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. menjadi sumber legitimasi atas perbuatan dan tindakan dalam seluruh aspek kehidupan umat Islam. Bahkan pada tingkat tertentu, berbagai praktek ajaran agama menyangkut ritual ibadah, yang dilaksanakan oleh seorang Muslim, tidak boleh menyimpang dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Itulah sebabnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menjadi dasar pijakan bagi seorang Muslim, dalam setiap tindakan dan perbuatannya. Yakni perbuatan yang bersangkut paut dengan segala sesuatu yang mengandung muatan keagamaan. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan seorang Dai dalam kegiatan dakwahnya. Karena berdakwah pada hakekatnya adalah tindakan penyampaian informasi yang mengandung muatan keagamaan kepada masyarakat luas. Sejalan dengan itu, di kalangan pakar ilmu dakwah lazim diketahui, bahwa dalam kode etik dakwah Islam, ada kewajiban moral yang harus diindahkan oleh seorang Dai ketika ia hendak melaksanakan aktivitas dakwahnya. Kode etik itu adalah, "bila seorang juru dakwah hendak melaksanakan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat, terlebih dahulu ia harus melaksanakan dakwah itu bagi keluarganya sendiri dan komunitasnya". Tidak boleh terjadi, atau dipandang menyimpang dari etika dakwah, bila seorang dai tidak mampu mengajak keluarganya yang sudah seiman dengan dia, sementara dia sendiri sibuk mengajak orang lain dalam kegiatan dakwahnya. Sudah pasti, potret kehidupan seorang juru dakwah atau Dai, baik kehidupan pribadinya, maupun kehidupan keluarganya, menjadi cerminan bagi keberhasilan dakwah yang dia lakukan di tengah masyarakat. Akan dipandang tercela secara etis, bila seorang dai sibuk mendakwahi orang lain sementara keluarganya dibiarkan bergelimang begitu saja tanpa mengindahkan nilai-nilai agama yang dia serukan untuk dipegang dan diindahkan oleh orang lain. Itulah sebabnya, sebelum mengajak orang lain dan masyarakat luas, agar menerima seruan dakwah yang dia bawa, sudah sepatutnya juru dakwah memulai dakwahnya itu dari keluarganya sendiri. Penegasan seperti itu didasarkan kepada kewajiban dakwah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Seperti diketahui berdasarkan isyarat yang terdapat dalam al-Qur'an, sebelum tugas dakwah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat luas. Allah SWT memerintahkan agar ajakan untuk menerima Islam tersebut, disampaikan oleh Rasulullah SAW. kepada kaum kerabat beliau sendiri. Tugas risalah yang diberikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. , dimulai dari turunnya wahyu pertama di gua Hira' pada Jabal al-Nur. Wahyu pertama itu adalah surat al-'Alaq: 1-5: eAIae aIEaIe OaEaIA a . AEac aIe aECaEa aeIA a eAEacaOA. eAaC a aO aacEae EaE a aIA. eAEaCA a eAIae Ia IA a AEac aIe auEIA a A aEaCae auEIA. eaC a a aIe aaEae EacaOe aEaCA. Artinya: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak Ay Wahyu pertama menjadi dasar legitimasi bagi tugas risalah yang akan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Ini berarti. Muhammad ibn 'Abd Allah, salah seorang yatim piatu dari suku Quraisy, yang lahir di kota transit perdagangan. Mekkah, telah dipilih oleh Allah SWT menjadi utusan-Nya bagi segenap umat manusia. ia menjadi figur yang diberi peran sebagai duta dari berita langit. Ini berarti melalui lidah Muhammad ibn Abd Allah itulah, wahyu Allah, yang berisi ajaran-ajaran kehidupan yang bersumber dari Allah SWT tersebut, akan disampaikan. Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu berikutnya, yakni surat al-Muddatstsir ayat 1-7: a aA aO a aO aEae AA. A aO aacEae AaE a. ACaIe aIaA. eA aOaOac aN E aIac a. A aOE aa aEae a aA. eA aOE aIIaIe a aE a. eAEae AaN aA ca A aOA. A aNA Artinya: "Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi . engan maksu. yang lebih Dan untuk . emenuhi perinta. Tuhanmu, bersabarlah. Mulai saat itu kegiatan dakwahpun dilancarkan oleh Rasulullah SAW. Namun pelaksanaannya masih dalam kondisi sembunyi-sembunyi . akwah sirriya. Dakwah secara sembunyi-sembunyi tersebut dilaksanakan oleh Rasulullah SAW selama lebih kurang tiga tahun. Hal ini dilakukan karena adanya permusuhan dan penolakan keras dari pihak kafir Quraisy. Mereka memandang bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW merupakan ancaman terhadap posisi mereka di mata bangsa Arab lainnya. samping itu segala sesuatu yang dibawah oleh Rasulullah SAW tersebut bertentangan dengan kepercayaan mereka, yakni penyembahan berhala . Perbedaan utama penelitian ini terletak pada fokus polarisasi respon keluarga. Jika penelitian lain biasanya hanya membahas tahapan dakwah secara umum, tulisan ini secara spesifik membedah tipologi keluarga Nabi ke dalam empat kategori sikap yang Berikut adalah 3 penelitian terdahulu yang relevan beserta perbandingannya dengan tulisan Anda: Penelitian oleh Siti Zubaidah . : Strategi Dakwah Sirriyah dan Jahriyah Rasulullah di Mekkah. Fokus penelitian ini pada manajemen dakwah secara makro, mulai dari tahap sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan di level masyarakat Quraisy secara luas. Penelitian lebih menekankan pada aspek manajerial dan linimasa dakwah, sedangkan penelitian penulis lebih mikro, yakni menekankan pada dinamika psikologis dan sosiologis di internal keluarga . olarisasi keluarg. Penelitian oleh Ahmad Munir . : Komunikasi Persuasif Nabi Muhammad SAW terhadap Kaum Kafir Quraisy. Fokus penelitian ini pada gaya bahasa dan retorika yang digunakan Nabi dalam menghadapi tokoh-tokoh penentang seperti Abu Jahl dan Walid bin Mughirah. Penelitian ini berfokus pada instrumen komunikasi . , sementara penelitian penulis berfokus pada status hubungan kekerabatan dan bagaimana pengaruh garis keturunan . menentukan pola dukungan atau penolakan keluarga terhadap dakwah. Penelitian oleh Rahmad Syarif . : Analisis Historis Peran Abu Thalib dalam Melindungi Dakwah Islam. Fokus penelitian ini merupakan studi tokoh tunggal yang berfokus sepenuhnya pada sosok Abu Thalib sebagai pelindung politik Nabi, sedangkan penelitian penulis lebih komprehensif karena tidak hanya melihat satu tokoh, melainkan membuat komparasi antar-tokoh keluarga . eperti perbandingan antara Abu Lahab yang antagonis dengan Abu Thalib yang simpatisan namun tetap pada agama lam. Tinjauan Literatur Menurut sumbernya, data penelitian digolongkan menjadi data primer dan data Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari (Sugiyono, 2. Data primer dalam penelitian ini adalah Hadits dan Shirah Nabawiyah meliputi: AsSirah Nabawiyah karya Syaikh Abul Hasan AoAli al-Hasani an-Nadwi, yang diterjemahkan oleh Muhammad Halabi Hamdi dkk. Dengan judul Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW. Ar-Risalah karya JaAofar Subhani yang diterjemah oleh M. Hasyim dan Meth Kieraha dengan judul Sejarah Kehidupan Rasulullah saw. Shirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Al- Mubarakfury, yang diterjemahkan oleh Kathur Suhadi. Shirah Nabawiyah karya Abdul Malik Ibnu Hisyam. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini penulis juga akan menggunakan data yang berkaitan dengan permasalahan yang penulis bahas, seperti data dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw. Moenawar Chalil. Pengantar Sejarah Dakwah, oleh Wahyu Ilaihi dan Harjani Hefni, dan literatur lainnya yang menjadi penunjang penelitian ini. Metode Penelitian Jenis penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong. Sedangkan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Jenis penelitian ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat- sifat populasi atau objek tertentu (Sugiyono, 2. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis. Pendekatan historis adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara objektif, sistematis, dan akurat. Dengan demikian pendekatan historis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model dakwah Rasulullah SAW dalam polarisasi komunitas. Hasil dan Pembahasan Model Dakwah Rasulullah SAW Selang beberapa waktu kemudian turunlah wahyu berikutnya. Wahyu tersebut berisi perintah Allah untuk menyampaikan dakwah, ajaran kepada Islam yang disampaikan secara terang-terangan, tidak lagi sembunyi-sembunyi. Penyampaian dakwah secara terang-terangan ini ditujukan kepada kaum kerabat/keluarga terdekat Rasulullah Saw. Firman Allah dalam surat al-Syu'ara ayat 214: eaO a aEae EaC aaeOIA a eAaOaIaA Artinya: "Dan berilah peringatan kepada keluargamu terdekat. Kata asyirat yang terdapat dalam ayat tersebut, menurut Ibn Fariz, mempunyai dua arti asal, yaitu "jumlah bilangan tertentu" dan "bergaul atau bercampur". Karena itu keluarga, kerabat, suami atau istri disebut 'asyirat', karena mereka antara satu dengan yang lain mengenal dan bergabung dalam satu rumah tangga (Shihab, 1. Selanjutnya menurut al-Raghib al-Ashfahani, kata tersebut mengandung arti keluarga seseorang yang merasa banyak dengan mereka, yakni mereka bagi seseorang itu menjadi berada dalam jumlah yang sempurna (Al-Raghib al-Asfahan. Oleh sebab itu ayat tersebut berbicara dalam konteks perintah Tuhan kepada Nabi . ermasuk umatny. supaya memberi peringatan kepada keluarga dan kerabat yang dekat (Shihab, 2. Keluarga terdekat Rasulullah bila dari silsilah beliau, berawal dari Qushai. Qushai mempunyai 3 orang putra, masing-masing bernama 'Abd al-Uzza, 'Abd al-Dar dan 'Abd al-Manaf. Dari tiga putra itu, silsilah Rasulullah SAW berkaitan dengan Abd alManaf mempunyai 4 orang putra, masing-masing bernama Muththallib. Hasyim. Naufal dan Abd Syams. Hasyim mempunyai seorang putra bernama 'Abd al-Muththallib. Selanjutnya 'Abd al-Muththallib mempunyai 10 orang putra, tetapi yang disebut namanamanya hanya 6 orang, yakni Hamzah. Abbas, 'Abd Allah. Abu Lahab. Abu Thalib dan Harits. 'Abd Allah adalah ayah dari Rasulullah SAW sementara yang lainnya adalah paman-paman beliau. 'Abd Syam, saudara kandung kakek buyut Rasulullah SAW mempunyai keturunan secara garadual melahirkan Umayyah. Umayyah melahirkan Harb. Harb melahirkan Abu Sufyan dan Abu Sufyan melahirkan Mu'awiyah. Seperti diketahui garis keturunan ini memunculkan khalifah-khalifah Daulat Bani Umayyah'. Demikian pula, paman Rasulullah 'Abbas' juga melahirkan keturunan yang menjadi khalifah-khalifah Daulat Bani Abbas. Sementara itu silsilah Rasulullah pada lapisan pertama, yakni 'Abd al-Uzza melahirkan keturunan 'Asad dan Khuwailid. Khuwailid mempunyai 2 orang anak, masing-masing 'Awwam dan Khadijah. Siti Khadijah, sesudah bercerai dari suaminya yang pertama, kemudian menikah dengan Rasulullah SAW. Ketika turunnya ayat tersebut, yang dimaksud dengan keluarga terdekat Rasulullah SAW adalah mereka yang hidup semasa dengan beliau. Bila disebut satu persatu mereka adalah Hamzah. Abbas. Abu Lahab. Abu Thalib dan Harits. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Rasulullah SAW. pun menyeru kaum kerabatnya ini. Imam al-Bukhari meriwayatkan hal tersebut dalam Kitab Shahihnya sbb: "Wahai putra/putri Fihr, 'Adi dan seluruh anggota suku Quraisy", sehingga mereka berkumpul, sampai yang tak dapat hadirpun mengirimkan wakilnya untuk memperhatikan apa yang disampaikan oleh Muhammad SAW. Abu Lahab dan tokoh Quraisy lainnya pun datang. Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Bagaimana kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa di lembah ini ada seekor kuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?" Mereka menjawab: "Kami tak pernah melihat engkau berdusta". Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku akan memperingatkan kalian tentang bahaya besar di hari kemudian". Abu Lahab berkata: "Celakalah engkau. Untuk hal inikah engakau mengumpulkan kami?" Lalu turunlah ayat model dakwah Rasulullah SAW dalam polarisasi komunitas Tabbat yada Abi lahab wa tabba". Selanjutnya Rasulullah SAW mengundang kaum kerabat anggota keluarganya terdekat untuk makan bersama-sama di rumah beliau sendiri. Diriwayatkan, bahwa yang hadir ketika itu sampai mencapai 40 orang, termasuk Abu Lahab. Setelah selesai jamuan makan. Rasulullah SAW bersiap-siap untuk memulai maksud yang akan disampaikan kepada para tamunya. Namun sebelum beliau sempat berdiri untuk maksud tersebut. Abu Lahab, memotong jalan mendahului berdiri terlebih dahulu, lalu berpidato dengan suara lantang penuh nafsu. "Mereka . ang hadi. ini adalah saudara-saudara dan anak-anak keturunan dari saudara-saudara bapakmu. Maka . berbicaralah! Dan hentikanlah penyelewenganmu . ari agamam. Jangan engkau menyerang agama kaummu. Jangan engkau serahkan mereka kepada kemarahan bangsa Arab, sebab sesungguhnya kaummu tidak akan sanggup melawan mereka bangsa Arab keseluruhannya. Mereka . tidak sanggup berperang dengan mereka (Shukri, 2. "Kaummu sudah tahu maksudmu, hendak merubah agama mereka. Tidak tersembunyi bagi mereka apa urusanmu . ang sebenarny. dan bahwa engkau mengajak mereka kepada penyelewengan, . engajak merek. supaya keluar dari tradisi nenek moyang . Awaslah, jagalah keselamatan dirimu dan keselamatan keturunan Ketahuilah bangsa Arab tidak akan membiarkanmu . egitu saj. Tidak sukar bagi mereka untuk menyerangmu dan membunuhmu" (Shukri, 2. "Kembalilah kepada agama bapak dan nenek moyangmu. Itulah lebih baik bagimu. Kalau tidak kami akan penjarakan engkau sampai engkau sehat kembali dari penyakitmu itu, sehingga engkau bebas dari penyakitmu. Keluargamu lebih wajar mendidikmu dan berhak untuk menangkapmu dan memenjarakanmu, bila engkau terus bertahan pada pendirianmu itu, dan itu lebih memudahkan bagimu dan bagi mereka, dari pada apabila kaum Quraisy menerkammu dengan bantuan bangsa Arab . Aku tidak pernah melihat seseorang yang mendatangkan malapetaka kepada keluarga bapaknya seperti engkau lakukan iniAy (Shukri, 2. Baru saja Rasulullah Saw memulai dakwah untuk keluarga terdekat, beliau sudah dihadang oleh anggota keluarga itu sendiri. Ini menunjukan setiap pendukung dakwah haruslah menyadari bahwa tantangan dakwah bisa muncul, bukan saja dari luar, tetapi juga dari dalam, yakni dari orang dekat bahkan dari kalangan keluarga sendiri. Betapa sistematisnya argumennya yang diajukan oleh Abu Lahab dalam mematahkan maksud yang akan disamapaikan oleh Rasulullah SAW belum lagi dakwah dimulai. Abu Lahab sudah menampik keinginan Rasulullah tersebut dengan alasan-alasan yang tersusun dengan rapi. Abu Lahab memulai dengan menggambarkan posisi Muhammad sebagai seorang pesakitan yang tertangkap basah. Muhammad disebutnya sebagai al-Shab-ah . dari agama nenek moyang. Dengan memberikan predikat sebagai penyeleweng itu Abu Lahab kemudian mendesak posisi Rasulullah tersebut kepada situasi yang sangat berbahaya, bukan saja bagi diri Rasulullah sendiri, tetapi juga bagi kaum kerabatnya, yaitu keluarga Bani Hasyim. Situasi yang berbahaya itu adalah kemarahan bangsa Arab. Dengan argumen seperti itu Abu Lahab memojokkan Nabi Muhammad sebagai orang yang telah menyeret kaum Quraisy Bani Hasyim untuk berhadapan diametral dengan bangsa Arab secara keseluruhan. Karena bukan hanya suku Quraisy tetapi juga seluruh bangsa Arab telah memeluk keyakinan terhadap berhala-hala yang ada disekeliling Ka'bah, berabad-abad yang lalu. Oleh sebab itu dengan gaya sebagai pendukung Muhammad. Abu Lahab memperingatkan agar Muhammad menghentikan maksud tersebut. Kalau tidak, dari pada seluruh bangsa Arab akan membunuh Muhammad, lebih baik kaum kerabatnya terlebih dahulu menangkapnya dan mengobati Muhammad dari penyakit yang diidap. Setelah berlalu beberapa hari dari undangan yang pertama. Rasulullah kemudian mengundang kaum kerabatnya yang kedua kali. Beberapa bibi beliau melarang untuk tidak mengundang Abu Lahab kembali. Namun Rasulullah tetap mengundangnya untuk Demikianlah sesudah selesai makan sebelum Abu Lahab kembali bicara, seperti pada undangan sebelumnya. Rasulullah segera berdiri memulai pembicaraan. "Segala puji bagi Allah, aku puji Dia, aku mohon pertolongan kepada-Nya, aku beriman kepada-Nya dan aku berserah diri kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah melainkan Dia satu-satunya. Dan tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian dari itu, sesungguhnya seorang al-Ra'id . tidak akan menipu keluarganya. Andai saja aku menipu semua manusia, aku tidak akan menipu keluargaku. Demi Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah kepadamu khususnya dan kepada umat manusia umumnya" (Shukri, 2. "Dan sesunguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku, supaya aku memanggil kamu kepada-Nya, dengan firman-Nya: "Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang " Aku panggil kamu kepada kalimat yang ringan di lidah, berat di timbangan, yakni penyaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa sesugguhnya aku adalah utusan Allah. Dan demi Allah kamu pasti mati, sebagaimna kamu tertidur, dan akan bangkit kembali sebagaimana kamu terbangun, dan pasti kamu akan dipinta tanggung jawabmu atas apa yang kamu perbuat, dan kamu akan diberi ganjaran yang baik atas amalmu yang baik, dan yang buruk atas perbuatanmu yang buruk, dan sesungguhnya . i san. ada surga yang kekal dan ada neraka yang kekal" (Shukri, 2. "Wahai keturunan Abd al-Muththallib. Demi Allah tidak pernah melihat seorang pemuda membawa sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari apa yang ku bawakan kepadamu . ekarang in. Sesungguhnya kubawakan kepadamu kebaikan dunia dan kebaikan Maka siapakah . i antara yang hadi. yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan . ini dan bersedia mendampingiku untuk menegakkannya" (Shukri. Nabi Muhammad SAW mengawali pidatonya dengan menyebut diri sebagai seorang Ra'id . , bukan sebagai seorang Shabi . , seperti yang dituduhkan oleh Abu Lahab dalam pertemuan sebelumnya. Seorang perintis ingin membawa kaumnya kepada keselamatan dan kesejahteraan, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat. Oleh sebab itu, dalam menemukan kesejahteraan dan kedamaian hidup itu, setiap orang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia ini. Siapa yang berbuat baik akan diberi ganjaran kebaikan, sebaliknya siapa yang bebuat jahat akan diberi ganjaran kejahatan pula. Di kehidupan nanti itu ada surga yang kekal, untuk orang-orang yang berbuat baik, dan ada neraka yang kekal untuk orangorang yang berbuat jahat. Itulah inti dari apa yang dibawa beliau untuk kaum kerabat pada khususnya dan untuk umat manusia pada umumnya. Mendengar ucapan Rasulullah SAW seperti itu, hadirinpun terdiam seketika. Apa yang dilontarkan oleh Abu Lahab dalam pertemuan sebelumnya mendapat informasi Terjadi suasana pro dan kontra. Setiap orang menimbang-nimbang dalam pikirannya masing-masing, apakah menerima tuduhan Abu Lahab sebagai penyeleweng, atau mendengarkan kandungan maksud yang disampaikan oleh Muhammad Saw. mereka kenal selama ini mempunyai sifat al-Amin . ang sangat dapat dipercay. Dalam suasana keheningan seperti itu, seorang pemuda belia putera pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, bangun dari duduknya dan dengan suara yang lantang "Aku ya Rasulullah!. Aku membelamu. Aku adalah musuh bagi siapa yang Suasana tersebut menjadi sangat menentukan. Terjadi situasi di mana setiap orang melihat ke arah Ali bin Abi Thalib dan ayahnya Abu Thalib. Pernyataan Ali sudah jelas, yakni akan membela agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan bahkan dengan sangat lantang pula di nyatakan bahwa dia siap menjadi musuh bagi siapa saja yang memusuhi Nabi Muhammad Saw. Dalam situasi mencekam ini Abu Thalib ibn 'Abd al-Muththallib pun berdiri pula dari duduknya dan mulai bicara. "Dan . , itu semua kaum kerabat keturunan ayahmu, yang sedang Dan aku hanyalah salah seorang dari mereka. Tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang kau kehendaki. Teruskanlah menjalankan tugasmu yang diperintahkan. Demi Allah aku akan tetap melindungimu dan membelamu. Hanya aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama 'Abd al-Muththallib" (Shukri, 2. Dari ungkapan sejarah di atas, jelas terlihat betapa dakwah Rasulullah SAW terhadap kaum kerabatnya memunculkan dua kasus penting bagi kegiatan dakwah. Abu Lahab menentang keras dakwah Rasulullah, dan tidak mau memeluk agama Islam. Demikian pula Abu Thalib, mendengarkan dengan seksama dakwah Rasulullah, namun tidak mau menerima agama Islam sebagai agama. Dua paman beliau ini sama-sama tidak mau memeluk Islam, tetapi dengan motivasi yang berbda. Abu Lahab muncul sebagai musuh Rasulullah, sebaliknya Abu Thalib muncul sebagai pembela beliau. Model Dakwah Komunitas Dari gambaran di atas dapatlah disimpulkan sementara, sekurang-kurangnya ada empat kategori yang dapat dideskripsikan bagi keluarga dekat Rasulullah, dalam penerimaan mereka terhadap dakwah beliau. Pertama, mereka yang langsung menerima Islam sebagai agama dan meninggalkan tradisi nenek moyang menyembah berhala. Kedua, mereka yang menolak Islam sebagai agama dan berupaya menghalang-halangi dakwah yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Ketiga, mereka yang juga menolak Islam sebagai agama, tetapi memberi dukungan terhadap kegiatan dakwah Rasulullah tersebut. Keempat, mereka pada awalnya tidak menerima Islam, tetapi dalam waktu agak lama kemudian baru memeluk agama Islam. Uraian berikut akan membicarakan satu persatu anggota keluarga dekat Rasulullah SAW yang menjadi objek dakwah beliau, yakni klasifikasikan kedalam empat kategori tersebut. Kelompok pertama, mereka yang langsung menerima Islam dan meninggalkan agama nenek moyang. Orang-orang yang termasuk kepada kelompok pertama ini diwakili oleh Khadijah bint Khuwailid serta Ali bin Abi Thalib. Siti Khadijah memeluk agama Islam pada tahun 636 M. Ia terpikat kepada kepribadian Muhammad yang di kalangan masyarakat Mekkah dijuluki dengan al-Amin. Khadijah dikenal sebagai seorang pedagang kaya di Mekkah. Garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah pada Qushayy. Ayahnya bernama Khuwalid, adalah cicit dari Qushay. Sebelum memeluk agama Islam dan menikah dengan Muhammad, ia sudah menjadi janda dua kali. Pertama ia menikah dengan Abu Halal al-Nabbasy ibn Zuhrah. Dari perkawinan ini ia dianugerahi seorang anak bernama Halal. Abu Halal kemudian meninggal dunia. Siti Khadijah kemudian menikah kedua kalinya dengan Atiq ibn Abid alMakhzumi. Suami kedua inipun meninggal dunia pula. Kembali Siti Khadijah menjadi Dalam keadaan menjadi janda kedua kali ini, beberapa lamaran dari pemuka Quraisy, dia tolak. Tidaklah secara kebetulan, bila Abu Thalib yang menjadi paman Muhammad itu, mempunyai hubungan dagang dengan Siti Khadijah. Sementara itu Muhammad sendiri tinggal di rumah pamannya itu. Untuk meringankan beban pamannya. Muhammad ikut membantu membawa dagangan ke Syam. Dengan demikian Muhammad dapat mengenal pasar dengan baik. Berkat kejujurannya, perdagangan Abu Thalib bertambah maju. Keadaan ini diketahui oleh Siti Khadijah. Untuk memastikan dan meyakinkan dirinya tentang kepribadian Muhammad dalam perdagangan tersebut. Siti Khadijah kemudian mengutus seorang suruhannya untuk mendampingi Muhammad dalam perdagangannya itu. Selanjutnya Muhammad dipercaya pula untuk membawa dagangannya ke Syam. Atas laporan Maisarah tentang kepribadian Muhammad inilah. Siti Khadijah kemudian memutuskan untuk meminta Muhammad sebagai suaminya. Permintaan itu ternyata mendapat sambutan. Dengan demikian berlangsunglah pernikahan antara Muhammad dan Siti Khadijah, yang ketika itu mereka masing-masing berusia 25 tahun dan 40 tahun. Dari perkawinan ini keduanya peroleh keturunan 4 puteri. Zainab. Ruqayyah. Ummu Kalsum, dan Fatimah, ketika itu ia membenarkan bahwa Muhammad mendapatkan wahyu dari Allah. Rasulullah pernah berucap ketika Siti Khadijah wafat. "Ketika aku miskin ia memberiku kekayaan dan ketika aku dianggap orang gila, ia tetap percaya kepadaku. Ali ibn Abi Thalib adalah orang kedua memeluk agama Islam setelah Siti Khadijah. Ia adalah sepupu Rasulullah dan kemudian menjadi menantu beliau. Ayahnya adalah 'Abd al-Muththalib ibn Hasyim ibn 'Abd Manaf. Dalam usia 6 tahun, ia sudah tinggal bersama Rasulullah, sebagaimana Rasulullah pernah tinggal bersama ayahnya. Ali berusia 8 tahun ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul. Pembelaanya terhadap Rasulullah ia nyatakan pada jamuan makan yang dilaksanakan Rasulullah untuk kaum kerabatnya, ketika dakwah terhadap kaum kerabat pertama sekali dilakukan. Tak pelak lagi, hubungan Rasulullah dengan Ali sangat dekat. Begitu dekatnya hubungan tersebut sehingga ia banyak menyaksikan Rasulullah SAW menerima wahyu. Disamping itu ia juga banyak menimba ilmu berkenaan dengan keagamaan, baik teori maupun praktik (Akhirudin, 2. Ali kemudian diambil menantu oleh Rasulullah untuk putri baliau. Fatimah. Dari Fatimah. Ali dikaruniai dua orang putra Hasan dan Husen. Kelompok kedua, mereka yang menolak dakwah Rasulullah SAW secara terus Adapun yang masuk pada kelompok kedua ini diwakili oleh paman Rasulullah juga, yakni Abu Lahab. Nama lengkapnya 'Abd al-Uzza ibn 'Abd al-Muththalib ibn Hasyim. Ia diberi nama Abu Lahab karena mukanya agak kemerah-merahan seperti api. Dengan nama itu dimaksudkan Abu Lahab adalah . rang bermuka bagaikan gejolak ap. Isterinya adalah saudara kandung Abu Sofyan ibn Fihr, yakni Ummu Jamil. Baik Abu Lahab dikenal dikalangan masyarakat Mekkah adalah orang yang kaya raya. Inilah yang menyebabkan dia menjadi takabbur dan tidak mau menerima dakwah Rasulullah SAW (As-Sallabi. Abu Lahab dan isterinya sama-sama menentang keras dakwah Rasulullah SAW Atas perbuatan kedua suami isteri ini. Allah menurunkan surat al-Lahab: a A aOI aNea a acIEaea E aA. eAa aae Ea aNA eAA U AOaAEaO IA a AA a AA a A aI aIaOA. ecace Oaa aaOe Ea aNe aO aA a aOe aO aNa aEe Ia Ie aIA. eAA a . eAA a AINea aIEaNea aO aI aEA Artinya: "Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab dan dia telah celaka. Tidaklah bermanfaat baginya, harta benda yang dia punyai dan juga apa-apa yang dia usahakan. Dia akan masuk kedalam neraka yang bernyala-nyala. Dan isterinya sendiri yang mengangkat kayu Di lehernya terikat tali dari sabut. Kelompok ketiga, mereka yang menolak dakwah Rasulullah, tetapi membela beliau dalam situasi apapun. Kelompok ini diwakili oleh Abu Thalib ibn Abd al-Muththalib ibn Hasyim. Peranannya dalam membela dakwah Rasulullah SAW sangat besar. Posisinya sebagai salah seorang pemuka Bani Hasyim. Abu Thalib sering mendapatkan kecaman dari orang-orang suku Quraisy lainnya. Ketika terjadi pemboikotan terhadap Rasulullah dan kaum Musliman, sebenarnya hal itu tertuju juga terhadap keluarga Bani Hasyim, karena perlindungan yang mereka berikan kepada Rasulullah. Karena posisi seperti itulah Rasulullah sangat mencintai Abu Thalib. Ketika ia dalam keadaan sakit keras dan Rasulullah mengajaknya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, ia tidak mau mengucapkannya dan tidak bersedia meninggalkan agama nenek moyang mereka. Riwayat ini diuraikan oleh al-Zuhri dari Sa'id ibn al-Musayyab yang menerimanya dari ayahnya al-Musayyab ibn Hazam al-Makhzumy, salah seorang sahabat Rasulullah dari kalangan Muhajirin. "Tatkala maut mendekati Abu Thalib, masuklah Nabi kedalam rumahnya dan segera ke pembaringannya. Beliau dapati Abu Jahal ibn Hasyim dan Abd Allah ibn Umayyah ibn Al-Mughirah telah duduk terlebih dahulu, lalu bersabda Nabi SAW "Wahai pamanku, ucapkanlah "La ilaha illa Allah, supaya paman dapat aku bela di hari kiamat di sisi Allah. " Sebelum Abu Thalib menjawabnya. Abu Jahal dan Abd Allah ibn Umayyah berujar: "Hai Abu Thalib, apakah engkau tinggalkan agama ayahmu 'Abd alMuththalib?" Tiap-tiap Rasulullah membujuk pamannya mengucapkan syahadat, setiap pula Abu Jahal dan Abd Allah ibn Umayyah mengganggu dengan menyebut agama Abd alMuththalib, sehingga Abu Thalib menyatakan sendiri: "Biarkan aku menurut agama 'Abd al-Muththalib saja". Dan dia enggan mengucapkan kalimat la ilala illa Allah (Ibn Katsi. Maka Allah menurunkan ayat Surat at-Taubah ayat 113 eAaI EaIae EaEIacaOe a aOEacaOIae aIIaO aIe Oa aA aaO EaE aI aEaOIae aOEaOEaIaO aOEO CaaO Ia Ie a ae aIaaOacIae Ea aNIe aIac aNIe aA aae E aa O aIA Artinya: "Tidak adalah bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memohonkan ampun bagi orangorang musyrikin, walaupun orang-orang itu keluarga terdekat sekalipun, setelah nyata bagi mereka bahwa mereka akan menjadi penghuni neraka jahim. Allah menurunkan untuk Abu Lahab, ayat al-Qur'an yang terdapat dalam surat alQashash ayat 56: eaAuaIacEae EaIe aNaOe aIIe ae aOEaE acaIe EEae OaNaO aIIe Oaa ae aON aaOe aEa aIe aE aINaaOIA Artinya: "Sesungguhnya engkau tidaklah akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada barang siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahu siapakah yang dapat diberi petunjuk itu. Kelompok keempat, mereka yang menerima dakwah Rasulullah, tetapi dalam waktu yang cukup lama. Kelompok ini diwakili oleh Hamzah ibn 'Abd Al-Muththalib. Hamzah ibn Abd Al-Muththalib adalah paman Rasulullah juga. Usianya tidak jauh terpaut dengan Rasulullah. Oleh sebab itu, sejak kecil mereka sudah teman sepermainan. Sebagai anggota suku Quraisy. Hamzah memang tidak serta merta menerima dakwah Rasulullah Saw. tetapi kecintaannya terhadap keponakannya ini tidak dapat diganggu. Tidak pernah sekalipun Hamzah memperlihatkan ketidak sukaan terhadap Rasulullah, bahkan dia dengan segala kemampuannya melindungi Rasulullah dari gangguan siapa saja. Semakin agung nama Muhammad SAW semakin besar kedengkian musyrikin Mekkah. Maka semakin ketat pula penjagaan Banu Muththalib terutama Hamzah terhadap Rasulullah SAW (Akhirudin, 2. Abu Sufyan juga kerabat dekat Rasulullah yang pada awal dakwah Rasulullah melakukan permusuhan terhadap beliau. Posisinya sebagai saudagar Quraisy membuat ia membenci dakwah Nabi dan melancarkan permusuhan. Ia menyuruh para penggubah sya'ir untuk menyusun sya'ir berisi penghinaan kepada nabi Muhammad Saw. Abu Sufyan pernah secara sembunyi-sembunyi mendengarkan bacaan alQur'an dari nabi Muhammad yang sedang shalat malam dan mengakui daya tarik dan pesona dari al-Qur'an (As-Sallabi, 2. Tetapi lama-kelamaan, setelah fathu Mekkah ia kemudian memeluk agama Islam. Betapa sangat menyentuhnya dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap Abu Sufyan ini. Di tengah situasi mencekam yang menyelimuti masyarakat Mekkah, khawatir Muhammad balas dendam. Rasulullah mengeluarkan tiga butir pengumuman penting sebagai berikut: Barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka dia aman. Barang siapa yang menutup pintu rumahnya maka dia aman. Dan barang siapa yang masuk masjid maka dia aman (As-Sallabi, 2. Pengumuman inilah yang membuat Abu Sufyan merasa mendapat penghormatan yang sangat tinggi. Ia ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat. Harga dirinya sebagai pembesar Quraisy dia peroleh. Inilah sisi emosional dari dakwah Rasulullah SAW. Kesimpulan Dari uraian tentang kegiatan dakwah Rasulullah SAW yang dibentangkan di atas, dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikiut: Dakwah Rasulullah SAW terhadap keluarga dekatnya, tidaklah berlangsung mulus tetapi dihadapkan pada berbagai problematika. Pada waktu ajakan untuk menerima Islam dilakukan oleh Rasulullah, tidak serta merta mereka menerimanya, tetapi mereka terpecah ke dalam empat kelompok. Mereka yang menerima dakwah Rasulullah SAW dan kemudian memeluk Islam dengan meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka, yakni menyembah berhala. Kategori ini diwakili oleh Siti Khadijah binti Khuwailid serta Ali ibn Abu Thalib. Mereka yang menerima dakwah Rasulullah, tetapi penerimaan tersebut mengalami proses yang sangat lama. Setelah melalui peristiwa yang berliku-liku akhirnya mereka juga meninggalkan keyakinan nenek moyang menyembah berhala. Kelompok ini diwakili oleh Abu Sufyan. Mereka yang menolak dakwah Rasulullah SAW dan tetap pada keyakinan nenek moyang menyembah berhala. Di samping itu, kategori ini juga memusuhi Rasulullah dan dengan berbagai cara bermaksud mencelakakan Rasulullah Saw. kategori ini diwakili oleh Abu Lahab. Mereka yang juga menolak dakwah Rasulullah SAW dan tetap pada keyakinan nenek moyang menyembah berhala. Namun kategori ini tidak memusuhi Rasulullah, sebaliknya membela dakwah Rasulullah Saw. kategori ini diwakili oleh Abu Thalib ibn Abd Al-Muththalib serta Hamzah Ibn Abd al-Muththalib. Strategi dakwah Rasulullah yang berbasis keluarga terdekat merupakan strategi dakwah yang efektif, kerena dari dukungan keluarga terdekat inilah, beliau mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Dengan strategi ini pula dakwah beliau membuahkan kesatuan umat: masyarakat madani yang berkeadilan, berkeadaban dan peradaban. Daftar Pustaka