Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 7 No. Desember 2025, 259 - 268 PENGARUH PELATIHAN METODE RICE TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PENANGANAN DISLOKASI PADA PEMAIN BULUTANGKIS DESA DELANGGU THE EFFECT OF RICE METHOD TRAINING ON THE LEVEL OF KNOWLEDGE AND SKILLS IN HANDLING DISLOCATION IN BADMINTON PLAYERS IN DELANGGU VILLAGE David Rizal Fernando1A Setiyawan2A Sahuri Teguh Kurniawan3A 1A Mahasiswa Program Studi Keperawatan Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan 2A Dosen Program Studi Keperawatan Program Sarjana Universitas Kusuma Husada Surakarta 3A Dosen Program Studi Keperawatan Program Sarjana Universitas Kusuma Husada Surakarta *Korespondensi Penulis: d4vid. rizal16@gmail. ABSTRAK Dislokasi merupakan kondisi tulang lengan atas mengalami pergeseran atau terlepas keluar dari sendi bahu normalnya. Dislokasi terjadi akibat kerusakan pada sistem otot dan rangka tubuh yang diakibatkan oleh kegiatan olahraga seperti bulutangkis. Penanganan dislokasi dapat dilakukan dengan cara metode RICE (Rest,Ice Compression. Elevatio. yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengeruh pelatihan metode RICE terhadap tingkat pengertahuan dan keterampilan penangan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa Delanggu. Metode penelitan ini menggunakan pre-exsperimental design dengan rancangan pre and posttest without control. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu 30 responden. Instrumen penelitian yang digunakan menggunakan lembar kuesioner metode RICE dan lembar observasi metode RICE. Uji analisis data penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil Analisa univariat berdasarkan Tingkat pengetahuan sebelum diberikan pelatihan metode RICE dapat diketahui jumlah terbanyak responden berada pada tingkat pengetahuan sebanyak 19 responden . ,3%), sedangkan sesudah diberikan pelatihan metode RICE dapat diketahui jumlah terbanyak responden berada pada tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden . ,7%). Berdasarkan Tingkat keterampilan sebelum diberikan pelatihan metode RICE dapat diketahui jumlah terbanyak responden berada pada tingkat keterampilan sebanyak 18 responden . %), sedangkan sesudah diberikan pelatihan metode RICE dapat diketahui jumlah terbanyak responden berada pada tingkat keterampilan cukup sebanyak 23 responden . ,7%). Hasil analisis berdasarkan Uji Wilcoxon diperoleh nilai p value 0,000 dimana nilai p value tersebut < 0,05. Kesimpulan terdapat pengaruh yang signifikan dengan hasil p value 0,000 Kata Kunci : Pelatihan Metode RICE. Tingkat Pengetahuan. Keterampilan. Penanganan Dislokasi ABSTRACT Dislocation management can be effectively implemented through the RICE (Rest. Ice. Compression. Elevatio. method, which is accessible to individuals without specialized medical training. This research aimed to assess the impact of instructional training on the participants' knowledge and practical skills in applying the RICE method for dislocation treatment among badminton players in Delanggu Village. This investigation employed a pre-experimental research design, utilizing pre- and post-intervention assessments without a control group. Data analysis was conducted using the Wilcoxon signed-rank test. The findings from the univariate analysis, conducted before implementing the RICE method training, indicated that the majority of respondents, totaling 19 individuals . 3%), possessed a certain baseline level of knowledge. Following the administration of the RICE method training, the distribution shifted, with the highest number of respondents, 20 individuals . 7%), attaining sufficient knowledge. Before undergoing training in the RICE method, respondents' most prevalent skill level was 18, comprising 60% of the sample population. Following the training, the predominant skill level shifted to a sufficient level, with 23 respondents . Submitted Accepted Website : 7 Agustus 2024 : 22 September 2025 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. exhibiting this competency. Statistical analysis utilizing the Wilcoxon signed-rank test yielded a pvalue of 0. 000<0. Consequently, the RICE method training has a statistically significant impact on the respondents' skill levels. Keywords: RICE Method Training. Knowledge Level. Skills. Dislocation Management Pendahuluan Dislokasi merupakan kondisi tulang lengan atas mengalami pergeseran atau terlepas keluar dari sendi bahu normalnya (Salim & Saputra, 2. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO, 2. , mengatakan risiko atlet yang cidera akibat bermain bulutangkis diperkirakan sebanyak 108 kasus atau sebanyak 10,84% dari 1. Menurut Badminton World Federation (BWF), bulutangkis adalah suatu olahraga menggunakan raket dan shuttlecock, yang dapat dimainkan oleh anak-anak, remaja, dewasa ataupun orang tua. Bulutangkis memiliki gerakan cepat atau terus-menerus sehingga pemain bulutangkis memiliki risiko cedera yang tinggi (Jefri, 2. Berdasarkan data informasi America Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOC, 2. , hampir empat juta orang di USA membutuhkan rehabilitasi pemulihan setiap tahun untuk kasus dislokasi, strain, dan Hasil Survei Kesehatan Indonesia pravelensi data cedera pada tahun 2018 sebesar 9,2% angka ini meningkat 1% dari tahun 2013 8,2% terganggunya kegiatan sehari-hari (Kemenkes. Di Jawa Tengah angka kesakitan cedera dapat mengganggu kegiatan sehari-hari 9,3% (Kemenkes, 2. Di Kabupaten Klaten tercatat data pravelensi cedera sebesar 30. (Kemenkes RI, 2. Pada olahraga badminton bagian tubuh yang terkena cedera adalah ekstremitas atas 49,7% ekstremistas bawah 42,3% dan sisanya cedera kepala dan mata (Phomsoupha & Laffaye, 2. Dislokasi terjadi dikarenakan akibat tarikan otot yang berlebihan. Akibat dari aktivitas yang berlebihan ini, maka terjadilah peradangan kantung cairan yang seharusnya melumasi sekaligus melapisi area pada sendi yang mengakibatkan ketegangan otot dan bahu yang kaku, yang menyebabkan terbatasnya ruang gerak pada bahu (Khairuzzaman, 2. Pada bulutangkis merupakan olahraga non kontak karena tidak melibatkan sentuhan antar Namun, perpindahan yang cepat seperti melompat, menangkis dan tempat terbatas yang dibatasi net serta pergerakan tangan yang cepat dengan berbagai postur tubuh yang berubah meningkat resiko cedera (Phomsoupha & Laffaye, 2. Pada terjadinya cedera bahu akan mengalami kemerahan, panas, bengkak, serta mengalami nyeri, dan hilangnya fungsi. Dampak dari dislokasi sendiri akan mengakibatkan kerusakan jaringan, ketidakstabilan bahu dan cedera berulang. Secara teori fisiologis respon tubuh biasa di sebut dengan proses peradangan dan pembengkaan (Lin et al. , 2. Penanganan dislokasi terdapat cara pengobatan atau penatalaksanaan. Penatalaksanaan dislokasi terdapat dua yaitu penatalaksanaan medis dan non medis. Penatalaksanaan medis terdapat penanganan dengan pembedahan dan pemberian analgesik. Penatalaksanaan non medis tidak melibatkan obat-obatan atau prosedur medis langsung tetapi dengan cara pemberian (Range of Motio. ROM dan pemberian metode RICE (Rest. Ice. Compression. Elevatio. (Susilawati et al. , 2. Pertolongan pertama yang diberikan bisa menggunakan metode RICE. Metode RICE merupakan metode sederhana yang dapat dipraktekkan secara RICE adalah singkatan dari Rest yaitu memberikan istirahat pada tubuh yang cedera. Ice yaitu menerapkan gaya tekan es pada area yang mengalami cedera. Compression yaitu pengaruh gaya tekan pada bagian yang cedera, misalnya dengan blebet, decker atau kinesiotaping, sedangkan Elevation yaitu mengangkat bagian yang cedera untuk memulihkan darah dari area yang cedera ke Metode ini sering digunakan untuk cedera akut, terutama cedera jaringan lunak seperti strain . serta memar. Metode RICE dilakukan sesegera setelah terjadi cedera, yaitu 48-72 jam segera setelah terjadi cedera (Oktavian & Roepajadi, 2. Penanganan cedera menggunakan metode RICE merupakan tindakan yang mudah dilakukan oleh siapa saja dengan menggunakan peralatan sederhana atau menggunakan pecahan es yang dibungkus dengan kain (Ita et al. , 2. Untuk melakukan pertolongan pertama dengan Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. metode RICE dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan yang baik serta diterapkan dengan keterampilan yang baik Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara pada pemain bulutangkis yang ada di PB Desa Delanggu didapatkan bahwa 11 orang belum mengetahui tentang metode RICE pada dislokasi, 3 orang sudah mengetahui metode RICE, dan terdapat 1 orang yang mengetahui metode RICE tetapi terdapat kesalahan. Dari 15 pemain bulu tangkis di PB Desa Delanggu 8 diantaranya pernah mengalami dislokasi pada saat permainan berlangsung. Pemain bulu tangkis yang mengalami dislokasi hanya melakukan istirahat, mengoleskan krim penghangat, mengurutkan cedera bahunya, meninggikan daerah cedera diatas jantung dan ada yang tidak dilakukan pertolongan. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan serta tim medis pada saat pelatihan bulu tangkis, tenaga kesehatan sendiri biasanya datang hanya beberapa kali pada saat latihan dan kerap tidak terdapat tim kesehatan pada saat latihan berlangsung kecuali sedang ada perlombaan bulutangkis didatangkan timkes. Sehingga pemain bulu tangkis Desa Delanggu ini belum mendapatkan pertolongan dengan metode RICE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan metode RICE keterampilan penanganan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa Delanggu. Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pre experiment dengan desain penelitian pre and post test without control group. Sebelum pengambilan data peneliti melakukan Ethical Clearence (EC) di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Populasi pada penelitian ini yaitu 30 pemain bulutangkis di GOR Desa Delanggu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengambilan total sampling. Dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria inklusi berikut : Semua anggota aktif pemain bulutangkis member GOR Desa Delanggu. Anggota yang bersedia menjadi responden dengan mengisi informed consent. Dan Kriteria Eksklusi sebagai berikut : Responden yang tidak dapat mengikuti kegiatan secara Penelitian ini dilaksanakan di GOR Desa Delanggu pada bulan Maret 2025, alat dan bahan yang diperlukan pada penelitian ini menggunakan Panduan pelatihan metode RICE. Kuesioner. Lembar Observasi Metode RICE. Intrument penelitian ini telah dilakukan uji validitas dengan hasil sebagai berikut dalam penelitian Ariyani . , kuesioner pengetahuan pertolongan pertama dengan metode RICE didapatkan hasil dari 20 item pertanyaan dengan nilai r hitung antara 0,397 - 0,759, dan untuk SOP keterampilan didapatkan dari 15 item dengan r hitung antara 0,400 -0,570. Nilai signifikan yang digunakan dengan menggunakan r table 0,361 sehingga dinyatakan valid karena r hitung > r table. Dan berdasarkan hadil uji reliabilitas dalam penelitian Ariyani . , uji reliabilitas menggunakan teknik Cronbach Alpha didapatkan dengan hasil dari kuesioner pengetahuan 20 item pertanyaan dinyatakan reliabel dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,883 dan untuk SOP keterampilan 15 item dinyatakan reliabel dengan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,833. Menggunakan 2 analisa penelitian yaitu Analisa Univariat dan Analisa Bivariat. Analisa Univariat menggunaka diskriptif disajikan dalam bentuk table distribusi. Sedangkan Analisa Bivariat untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pelatihan metode RICE terhadap pengetahuan dan keterampilan penanganan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa Delanggu dengan menggunakan statistic non parametric maka menggunakan uji Wilcoxon karena merupakan data berpasangan dan merupakan data non-parametrik. Hasil Analisa data menggunakankan Analisa Univariat dengan distribusi frekuensi dan Analisa Bivariat dengan menggunakan Uji Wilcoxon. Peneliti melakukan penelitian kepada 30 responden pemain bulutangkis di GOR Desa Delanggu. Analisa Univariat Karakteritik Responden Berdasarkan Usia Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. Tabel Distribusi responden berdasarkan usia . Usia Frekuensi Persentase (%) 17-25 th 26-35 th 26,7% 36-45 th 23,3% 46-55 th 6,7% 56-65 th 3,3% Total Sumber Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui karakteristik responden mayoritas usia 17-25 tahun sebanyak 12 orang . %). Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2. Distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin . Jenis Frekuensi Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Sumber Data Primer 2025 Persentase (%) 76,7% 23,3% Berdasarkan tabel 2 diketahui penelitian ini mayoritas jenis kelamin laki-laki sebanyak 23 orang . ,7%). Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 3 Distribusi karakteristik responden berdasarkan pendidikan . Pendidikan Frekuensi SMP SMA Total Sumber Data Primer 2025 Persentase (%) Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa karakteristik responden dengan pendidikan mayoritas jenjang SMA sebanyak 24 orang . %). Tingkat Pengetahuan Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pelatihan Metode RICE Tabel 4. Tingkat pengetahuan pemain bulutangkis Desa Delanggu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan metode RICE . Pretest Posttest Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Total (%) 6,7% Baik Cukup Total 33,3% 66,7% Sumber Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa pretest tingkat kategori kurang terdapat 19 orang . ,3%). Sedangkan diberikan pelatihan metode RICE mayoritas masuk kategori cukup terdapat 20 orang . ,7%). Keterampilan Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pelatihan Metode RICE Tabel 5 Keterampilan pemain bulutangkis Desa Delanggu sebelum dan sesudah diberikan pelatihan metode RICE . Pretest Posttest Keterampilan Terampil Cukup Kurang Total (%) 3,3% 36,7% Terampil Cukup Total 23,3% 76,7% Sumber Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa pretest keterampilan mayoritas masuk kategori kurang terampil terdapat 18 orang . %). Sedangkan pelatihan metode RICE mayoritas masuk kategori cukup terampil terdapat 23 orang . ,7%). Analisa Bivariat Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Tingkat Pengetahuan Penanganan Dislokasi Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Tabel 6 Uji Wilcoxon Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Tingkat Pengetahuan Penanganan Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. Dislokasi Pemain Bulutangkis Desa Delanggu P value Post Test Pengetahuan Ae Pre Test Pengetahuan Sumber Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 8 bahwa hasil Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa pengetahuan dengan nilai p-value 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga ada pengaruh pelatihan metode RICE terhadap tingkat pengetahuan penanganan dislokasi pemain bulutangkis Desa Delanggu. Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Keterampilan Penanganan Dislokasi Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Tabel 7 Uji Wilcoxon Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Keterampilan Penanganan Dislokasi Pemain Bulutangkis Desa Delanggu P Value Post Test Keterampilan Ae Pre Test Keterampilan Sumber Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 9 bahwa hasil Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa pretest dan posttest keterampilan dengan nilai p-value 0,000 < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga ada pengaruh pelatihan metode RICE terhadap keterampilan bulutangkis Desa Delanggu. Pembahasan Usia Berdasarkan karakteristik usia diketahui mayoritas responden berusia 17-25 tahun berjumlah 12 orang . %). Menurut klasifikasi usia menurut Kementrian Kesehatan dalam Hakim . usia 17-25 tahun termasuk dalam kategori remaja akhir. Usia merupakan umur seseorang sejak lahir sampai beberapa tahun. Semakin tua usia seseorang, maka semakin matang seseorang dalam berpikir serta bekerja. Hal ini pula mempengaruhi kemampuan Usia memengaruhi pemahaman dan pola pikir. Seiring pemahaman dan daya pikir juga sehingga ilmu yang diperolehnya terus berjalan dengan baik sehingga informasi yang didapat dapat pengetahuan dalam berlatih atau praktek (Nisa et al. , 2. Menurut Lado et al . , remaja pada tahap ini berusia 17-23 tahun. Masa perkembangan periode transisi antara masa anak dan masa dewasa yang meliputi suatu perkembangan transisi perubahan biologis, kognitif, sosio-emosional. Perubahan biologis meliputi perkembangan fisik, termasuk perkembangan otak, perubahan kognitif meliputi perubahan berfikir dan kecerdasan remaja, sedangkan perubahan sosio- emosional meliputi interaksi remaja dengan orang lain termasuk emosi, kepribadian dan peran konteks sosialnya (Triyani & Ramdani, 2. Jenis Kelamin Berdasarkan karakteristik jenis kelamin diketahui mayoritas laki - laki sebanyak 23 orang . ,7%). Jenis kelamin merupakan bentuk, sifat, dan fungsi biologis antara perempuan dan laki-laki yang menentukan perbedaan peran (Ekawati, 2. Menurut Oktavia & Susanti . , jenis kelamin laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang sama karena akses untuk menerima ilmu pengetahuan atau pendidikan tidak hanya prioritas pada lakilaki melainkan memiliki prioritas yang sama baik perempuan maupun laki-laki dengan demikian apabila informasi dan pengetahuan yang didapatkan baik maka tingkat pengetahuan perempuan maupun laki-laki akan relatife sama dimana pengetahuan dan keterampilan mempunyai hubungan yang saling keterikatan satu sama lain, ketika pengetahuan seseorang kurang maka hal itu akan mempengaruhi dalam keterampilan seseorang dalam melakukan sesutau begitu pula jika pengetahuan seseorang itu baik maka akan berpengaruh pada keterampilan yang baik Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. perempuan dan laki-laki keduanya memiliki konsep diri dalam kemampuan pengetahuan individu mereka (Darsini et , 2. Pendidikan Berdasarkan mayoritas jenjang pendidikan SMA sebanyak 24 orang . %). Pendidikan mempunyai peranan penting di dalam mereka yang pengetahuan yang lebih luas dan tingkat Pendidikan kemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan (Ningsih & Novira, 2. Tingkat mempengaruhi proses pemahaman serta penerimaan informasi yang diberikan dan tidak hanya oleh media massa, namun dapat diperoleh dari pendidikan formal maupun informal. Tingkat pendidikan akan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh maka akan berdampak pula pada menerapkannya dalam kehidupan seharihari (Adawiyah & Wijayanti, 2. Menurut (Dewani & Dinni, 2. latar pemenuhan kebutuhan sesuai dengan tingkat bagaimana kebutuhan itu terpenuhi meskipun dengan cara yang berbeda beda, mempengaruhi ada perubahan pada seseorang dalam bekerja. Pendidikan merupakan hal penting karena pendidikan ini salah satu faktor yang dapat membuat keterampilan (Dewi, 2. Seseorang individu dalam proses belajar ditandai dengan perubahan dalam dirinya, dari yang belum memahami menjadi paham terhadap suatu hal. Pembelajaran itu penuh makna karena pada proses belajar mengajar itu banyak hal termasuk memberi dan menyerap informasi namun juga harus melibatkan berbagai komponen dan kegiatan sehingga tujuan pembelajaran tercapai atau berkomunikasi (Putri, 2. Tingkat Pengetahuan Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Pelatihan Metode RICE Berdasarkan penelitian didapatkan hasil penelitian tingkat pengetahuan pemain bulutangkis Desa Delanggu sebelum dilakukan pelatihan metode RICE dari 30 responden mayoritas masuk dalam kategori kurang terdapat 19 orang . ,3%) sedangkan sesudah diberikan pelatihan metode RICE mayoritas masuk kategori cukup terdapat 20 orang . ,7%). Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya Seseorang yang memiliki pengetahuan baik maka akan mempunyai pemahaman yang baik pula mengenai RICE penanganan dislokasi sehingga mendorong perilaku seseorang dalam penanganan dislokasi, berbeda dengan seseorang yang memiliki pengetahuan kurang maka akan memiliki perilaku yang kurang baik dalam pemahaman yang kurang (Rahayu et al. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari tingkat pendidikan formal saja. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan penyuluhan mengenai yang dilakukan tenaga kesehatan dan dari berbagai media seperti internet, poster, buku saku dan leaflet (Zaqiatunnufus & Syaripah, 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Koten . yang mengungkapkan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku Pengetahuan dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang diketahui, kecerdasan serta seluruh suatu yang dikenal berkanaan dengan sesuatu hal. Pengetahuan ialah hasil mengingat sesuatu, meliputi peristiwa yang telah dialami, direncanakan atau tidak direncanakan, dan yang terjadi setelah seseorang bersentuhan atau mengamati suatu objek tertentu (Ofri. Kurangnya pengetahuan responden tentang penanganan dislokasi dengan Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. menggunakan metode RICE disebabkan karena kurangnya sumber internal misalnya pendidikan merupakan salah satu institusi yang mana seseorang dididik, dilatih, dan dibekali berbagai ilmu yang Faktor lain yang dapat menyebabkan rendahnya pengetahuan adalah pendidikan dan pengalaman (Ofri. Keterampilan Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Pelatihan Metode RICE Berdasarkan penelitian didapatkan hasil penelitian keterampilan pemain bulutangkis Desa Delanggu sebelum dilakukan pelatihan metode RICE dari 30 responden mayoritas masuk dalam kategori kurang terampil terdapat 18 orang . %) sedangkan setelah diberikan pelatihan metode RICE mayoritas masuk kategori cukup terampil terdapat 23 orang . ,7%). Keterampilan dapat dibentuk melalui berbagai media, semakin banyak media yang digunakan maka keahlian dan retensi pengetahuan akan lebih berkualitas (Hadikusuma. Keterampilan mengerjakan ataupun melakukan suatu dengan baik. Salah satu aspek yang mempengaruhi keterampilan seseorang dalam melakukan suatu tindakan adalah bahwa pengetahuan mencakup semua yang diketahui tentang objek tertentu dan disimpan dalam memori (Darsini et al. Hasil sebelum pelatihan RICE berada pada kategori kurang terampil. Menurut (Athoillah et al. , 2. Kurangnya atau belum didapatkan informasi mengenai penanganan cedera strain pada atlet pencak silat dan berdasarkan Hasil observasi yang didapatkan oleh peneliti bahwa kurangnya keterampilan dikarenakan ketidaktahuan dari responden mengenai penanganan dislokasi, dimana sebelumnya belum menangani dislokasi. Faktor lain yang mendukung adanya pengaruh atau lingkungan yang nyaman dan memadai, peralatan yang digunakan cukup lengkap seperti es batu, ice bag, elastic bandage, dan semangat anggota Bomoro gowes untuk bisa melakukan pertolongan pertama dengan metode RICE. Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Tingkat Pengetahuan Penanganan Dislokasi Pada Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Berdasarkan analisis uji Wilcoxon pre and posttest pengaruh pelatihan metode RICE terhadap perubahan tingkat pengetahuan penanganan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa Delanggu menunjukkan nilai p value = 0,000 . value < 0,. , sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada pengaruh pelatihan metode RICE terhadap tingkat pengetahuan penanganan dislokasi pada pemain bulutangis Desa Delanggu. Peningkatan pengetahuan tidak lepas dari pengadaan pelatihan. Pelatihan diberikan dengan metode tindakan, ceramah serta tanya jawab. (Astuti, 2. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek Penginderaan terjadi melalui penginderaan manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Budiadi et al. , 2. Peningkatan responden terjadi karena adanya proses belajar dari responden sebagai respon penerimaan indera penglihatan dan pendengaran dari pemberian pelatihan dan edukasi yang dilakukan (Oktavianisya & Aliftitah, 2. Pemberian informasi kesehatan melalui metode apapun pengetahuan pada kelompok yang diberikan informasi kesehatan tersebut. Jika pengetahuan responden meningkat maka responden akan lebih percaya diri dan termotivasi untuk menangani cedera (Saleha, 2. Tingkat kesiapan menolong juga dipengaruhi oleh pengetahuan, artinya dengan pengetahuan yang baik maka tingkat kesiapan menolong juga baik (Jesyifa & Fitriyani, 2. Pengetahuan dan tingkat motivasi memiliki hubungan yang erat, yang terjadi karena adanya Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. proses belajar. Proses belajar tersebut dapat memberikan pengetahuan bagi seseorang sehingga semakin banyak seseorang mempelajari atau mengetahui sesuatu hal maka orang tersebut akan lebih termotivasi untuk bertingkah laku sesuai dengan yang pernah dipelajarinya (Budiadi et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Maghfiroh . , menjelaskan berdasarkan Uji Friedman dilanjutkan Post Hoc Wilcoxon menunjukkan bahwa nilai p pada pretest vs posttest pengetahuan dengan nilai p value = 0,000, pretest vs posttest 2 minggu pengetahuan dengan nilai p value = 0,000, posttest vs posttest 2 minggu pengetahuan dengan nilai p value = 0,003 . value<0. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Saputri et 2. yang menemukan bahwa adanya peningkatan pengetahuan RICE dengan penerapan penanganan cedera ankle pada pemain sepak bola di Kecamatan Kutawaluya dengan nilai p value = 0,000 . value < 0,. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Khairunnisa & Fitriana, 2. yang menemukan bahwa adanya peningkatan pertolongan pertama pada kecelakan P3K terhadap keterampilan dan pengetahuan responden mengenai cedera ankle strain dengan metode simulasi dengan hasil p value = 0,000 ( p value < 0,. Pengaruh Pelatihan Metode RICE Terhadap Keterampilan Penanganan Dislokasi Pada Pemain Bulutangkis Desa Delanggu Berdasarkan analisa uji Wilcoxon pre and posttest pengaruh pelatihan metode RICE terhadap perubahan keterampilan penanganan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa Delanggu menunjukkan nilai p value = 0,000 . value < 0,. , sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada pengaruh pelatihan metode RICE terhadap tingkat pengetahuan penanganan dislokasi pada pemain bulutangis Desa Delanggu. Keterampilan dapat dibentuk melalui berbagai media, semakin banyak media yang digunakan maka keahlian dan retensi pengetahuan akan lebih berkualitas (Hadikusuma, 2. Terdapat beberapa metode lain dalam meningkatkan keterampilan selain edukasi melalui pelatihan (Nurbaya et al. , 2. Keterampilan merupakan kemampuan untuk mengerjakan ataupun melakukan suatu dengan baik. Salah satu aspek yang mempengaruhi keterampilan seseorang dalam melakukan suatu tindakan adalah bahwa pengetahuan mencakup semua yang diketahui tentang objek tertentu dan disimpan dalam memori (Darsini et al. Hasil analisis penelitian yang sebelum pelatihan RICE berada pada kategori kurang terampil. Menurut (Athoillah et al. , 2. Kurangnya atau belum didapatkan informasi mengenai penanganan cedera strain pada atlet pencak silat dan berdasarkan Hasil observasi yang didapatkan oleh peneliti bahwa kurangnya keterampilan dikarenakan ketidaktahuan dari responden mengenai penanganan dislokasi, dimana sebelumnya belum menangani dislokasi. Faktor lain yang mendukung adanya pengaruh atau peningkatan keterampilan seperti lingkungan yang nyaman dan memadai, peralatan yang digunakan cukup lengkap seperti es batu, ice bag, elastic bandage, dan semangat anggota Pemain Bulutangkis Desa Delanggu untuk bisa RICE (Maghfiroh, 2. Menurut Damayanti . , yang menyatakan bahwa adanya peningkatan keterampilan dan pengetahuan setelah diberikan pelatihan penanganan dilokasi. Pelatihan RICE begitu efektif digunakan dalam penyampaian materi terhadap responden karena dengan penyampaian materi dan praktek secara langsung dalam bentuk objek nyawa atau realita dapat digunakan dalam mengoptimalkan proses Hal ini sejalan dengan Saputri . , yang mengemukakan dalam sebuah pengalaman . one of experienc. yang menyatakan bahwa pengalaman belajar dapat melalui proses perbuatan atau Pengaruh Pelatihan Metode Rice Terhadap Tingkat Pengetahuan. (David Rizal Fernand. mengalami sendiri tentang apa yang dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media maupun secara langsung, sebagai contoh melalui praktik secara langsung, maka semakin seseorang banyak praktik semakin banyak pengalaman yang diperoleh. Sehingga menggunakan objek nyawa seperti pratek meningkatkan skill dan pengetahuan. Pelatihan dengan metode RICE adalah tindakan yang diberikan sebelum tenaga medis tiba dengan peralatan yang minim (Maghfiroh, 2. Pelatihan dengan metode RICE yang tepat dapat meningkatkan keterampilan pada anggota pemain bulu tangkis Desa Delanggu sehingga berguna dalam mempersiapkan individu untuk bereaksi atau menolong terhadap situasi serta memberikan pengelolaan yang tepat dan cepat dalam pertolongan pertama terjadinya cedera. Berdasarkan analisa data dan sumber yang didapat peneliti menyimpulkan pelatihan sangat berpengaruh terhadap pembentukan keterampilan dan pengetahuan yang lebih Anggota komunitas mengikuti kegiatan pelatihan kemudian masingmasing anggota mempraktekkan langsung pertolongan pertama dengan metode RICE. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh El-Hay et al dalam (Syamsuddin et al. , 2. riset yang telah dilakukannya pada sekolah kejuruan tentang pengaruh pelatihan pertolongan pertama untuk menilai perubahan variabel pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap variabel pengetahuan dan keterampilan setelah dilakukan pelatihan dengan nilai p value = 0,001. Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang Aupengaruh pelatihan metode RICE terhapat tingkat pengetahuan dan keterampilan penanganan dislokasi pada pemain bulutangkis Desa DelangguAy maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut : Pada penelitian ini paling banyak berusia 17 Ae 25 Tahun, jenis kelamin paling banyak laki Ae laki, tingkat Pendidikan paling banyak SMA, berdasarkan tingkat pengetahuan sebelum diberikan pelatihan metode Rice berada pada kategori cukup 9 responden, dan sesudah diberikan pelatihan Rice mayoritas berada pada kategori cukup 20 Berdasarkan responden sebelum diberikan pelatihan Metode Rice berada pada kategori kurang terampil 18 responden dan sesudah diberikan pelatihan metode Rice berada pada kategori cukup terampil 23 responden. Berdasarkan hasil Analisa didapatkan hasil ada pengaruh pelatihan metode RICE terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan penanganan dislokasi pemain bulutangkis Desa Delanggu. Daftar Pustaka