Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 Pembuatan Biodiesel dari Virgin Red Palm Oil (VRPO) melalui Proses Transesterifikasi dan Penambahan Zat Aditif Minyak Sereh Wangi untuk Meningkatkan Cetane Number Siti Iffat Tabriza*. Harunsyah. Fachraniah Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Lhokseumawe. Jl. Banda Aceh-Medan Km. Buketrata. Punteut. Blang Mangat. Kota Lhokseumawe. Aceh 24301. Indonesia *E-mail: sitiiffattabriza@gmail. Abstract Article history: Received: 27-03-2026 Accepted: 18-03-2026 Published: 29-04-2026 Keywords: cetane number. citronella oil. VRPO. This study aims to analyze the effect of reaction temperature and the addition of citronella oil as an additive on the characteristics of biodiesel produced from Virgin Red Palm Oil (VRPO) through a transesterification process. The reaction temperatures were varied at 50AC, 55AC, 60AC, and 65AC, while the volume of citronella oil ranged from 0 to 10 mL. The evaluated parameters included yield, viscosity, density, flash point, and cetane number. The results showed that increasing the temperature up to 60AC improved the biodiesel yield to 57%, while no significant increase was observed at 65AC due to methanol evaporation. The addition of citronella oil at 2Ae4 mL effectively increased the cetane number up to 9 and improved the physical properties of biodiesel, particularly viscosity and flash point. However, excessive additive concentration (Ou6 mL) led to a decline in biodiesel quality due to increased viscosity and reduced mixture homogeneity. GC-MS analysis indicated that the biodiesel was dominated by fatty acid methyl esters such as methyl oleate and methyl palmitate, which contribute to combustion performance and oxidative stability. The optimum condition was achieved at 60AC with the addition of 4 mL citronella oil, producing biodiesel with the best characteristics and potential to meet fuel quality standards. Pendahuluan Ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil hingga saat ini masih sangat tinggi, terutama pada sektor transportasi dan industri. Kondisi ini menimbulkan dua permasalahan utama, yaitu keterbatasan cadangan minyak bumi serta dampak lingkungan berupa peningkatan emisi gas rumah kaca seperti COCC yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia yang tidak stabil turut memengaruhi ketahanan energi nasional, khususnya bagi negara berkembang dengan konsumsi energi yang terus meningkat. Oleh karena itu, pengembangan sumber energi alternatif yang berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak di tingkat global. Salah satu alternatif yang paling potensial adalah biodiesel, yaitu bahan bakar berbasis minyak nabati atau lemak hewani yang dihasilkan melalui proses transesterifikasi dengan alkohol menggunakan katalis. Biodiesel memiliki karakteristik yang mirip dengan solar konvensional, sehingga dapat digunakan langsung pada mesin diesel tanpa modifikasi Selain itu, biodiesel memiliki keunggulan berupa sifat biodegradable, emisi yang lebih rendah, serta berasal dari sumber terbarukan. Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia memiliki potensi besar dalam pengembangan biodiesel berbasis minyak sawit. Selama ini, bahan baku utama biodiesel adalah crude palm oil (CPO), namun penelitian terkini mulai mengarah pada pemanfaatan produk turunan bernilai tambah seperti Virgin Red Palm Oil (VRPO). VRPO merupakan minyak sawit merah yang dihasilkan melalui proses minimal sehingga kandungan senyawa bioaktif seperti karotenoid dan vitamin E tetap tinggi. Kandungan trigliserida yang tinggi dalam VRPO menjadikannya bahan baku yang sangat berkualitas. Beberapa menunjukkan bahwa parameter proses seperti temperatur, rasio molar alkohol, dan jenis katalis sangat berpengaruh terhadap yield biodiesel. Selain itu, peningkatan kualitas biodiesel juga dapat dilakukan melalui penambahan zat aditif. Salah satu aditif yang mulai dikaji adalah minyak atsiri, seperti minyak sereh wangi (Cymbopogon nardu. , yang diketahui mengandung senyawa Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 oksigenat yang dapat meningkatkan angka pembakaran bahan bakar. Penelitian oleh penambahan bio-aditif berbasis minyak atsiri mampu meningkatkan efisiensi pembakaran dan menurunkan emisi gas buang. Meskipun penelitian mengenai biodiesel berbasis minyak sawit telah banyak dilakukan, sebagian besar berfokus pada penggunaan CPO atau minyak jelantah sebagai bahan baku. Studi yang secara khusus mengeksplorasi pemanfaatan VRPO sebagai bahan baku biodiesel masih relatif terbatas, terutama dalam kaitannya dengan karakteristik bahan bakar yang dihasilkan. Selain itu, penelitian mengenai penggunaan zat aditif alami meningkatkan angka setana biodiesel juga masih belum banyak dikaji secara komprehensif, khususnya dalam kombinasi dengan bahan baku VRPO. Dengan penelitian . esearch ga. pada integrasi antara penggunaan VRPO sebagai bahan baku biodiesel dan pemanfaatan minyak sereh wangi sebagai bio-aditif untuk meningkatkan kualitas bahan Novelty dari penelitian ini terletak pada pendekatan kombinatif antara optimasi proses transesterifikasi VRPO dan penambahan aditif meningkatkan angka setana biodiesel, yang diharapkan menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berkinerja tinggi. Penelitian menganalisis pengaruh kondisi operasi, khususnya temperatur reaksi, terhadap yield biodiesel yang dihasilkan dari Virgin Red Palm Oil (VRPO) melalui proses transesterifikasi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan zat aditif minyak sereh wangi terhadap peningkatan angka setana biodiesel. Secara keseluruhan, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan biodiesel berbasis VRPO dengan kualitas yang memenuhi standar serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal di Indonesia. Metode Penelitian ini dirancang sebagai studi eksperimental untuk menganalisis pengaruh kondisi operasi dan penambahan zat aditif terhadap karakteristik biodiesel yang dihasilkan dari Virgin Red Palm Oil (VRPO). Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Virgin Red Palm Oil (VRPO) sebagai sumber trigliserida, metanol sebagai alkohol pereaksi, dan natrium hidroksida (NaOH) sebagai katalis basa dalam proses Selain itu, digunakan minyak sereh wangi sebagai zat aditif untuk meningkatkan kualitas biodiesel, khususnya angka setana. Bahan pendukung lainnya meliputi akuades untuk proses pencucian dan indikator fenolftalein untuk keperluan analisis. Peralatan yang digunakan meliputi reaktor labu leher tiga yang dilengkapi dengan sistem pemanas dan pengaduk mekanik, kondensor, corong pisah, oven, neraca analitik, piknometer, serta alat uji sifat bahan bakar seperti flash point tester dan alat ukur angka Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan variabel tetap berupa volume VRPO sebesar 350 mL, kecepatan pengadukan 80 rpm, waktu reaksi 60 menit, jumlah katalis NaOH sebesar 3 gram, serta rasio molar minyak terhadap metanol sebesar 1:6. Variabel bebas yang diteliti meliputi temperatur reaksi . AC, 55AC, 60AC, dan 65AC) serta volume penambahan minyak sereh wangi . dan 10 mL). Sementara itu, variabel terikat yang diamati meliputi rendemen biodiesel, densitas, viskositas, titik nyala . lash poin. , dan angka Prosedur Penelitian Proses pembuatan biodiesel diawali dengan pembuatan larutan metoksida melalui pelarutan NaOH ke dalam metanol sesuai rasio yang ditentukan hingga homogen. Selanjutnya. VRPO dimasukkan ke dalam reaktor dan dipanaskan hingga mencapai temperatur operasi sambil diaduk secara konstan. Setelah suhu tercapai, larutan metoksida ditambahkan ke dalam reaktor untuk memulai reaksi Reaksi berlangsung selama 60 menit dengan pengadukan konstan pada temperatur yang dijaga stabil. Produk hasil reaksi kemudian dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan selama A1 jam hingga terbentuk dua lapisan, yaitu biodiesel pada bagian atas dan gliserol pada bagian bawah. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi temperatur reaksi dan penambahan minyak sereh wangi sebagai zat aditif memberikan pengaruh signifikan terhadap karakteristik biodiesel yang dihasilkan dari Virgin Red Palm Oil (VRPO). Secara umum, peningkatan temperatur dari 50AC hingga 60AC menghasilkan peningkatan volume biodiesel dan yield dari 46% menjadi 57%. Namun, pada temperatur 65AC tidak terjadi peningkatan yield yang signifikan. Selain itu, variasi volume minyak sereh wangi mempengaruhi sifat fisik biodiesel seperti viskositas, densitas, flash point, dan angka setana. Pada kondisi tertentu, khususnya pada temperatur 60AC dan penambahan aditif 2Ae4 mL, diperoleh karakteristik biodiesel yang paling optimal. 2 Pembahasan 1 Pengaruh Temperatur terhadap Yield Biodiesel Pengaruh temperatur terhadap yield biodiesel ditunjukkan pada Gambar 1, yang menunjukkan bahwa peningkatan temperatur reaksi terbukti meningkatkan yield biodiesel hingga mencapai kondisi optimum pada 60AC. Yield meningkat dari 46% pada 50AC menjadi 57% pada 60AC, yang menunjukkan bahwa kenaikan temperatur mempercepat laju reaksi Hal ini sejalan dengan prinsip kinetika reaksi berdasarkan hukum Arrhenius, di mana peningkatan temperatur meningkatkan energi kinetik molekul sehingga frekuensi tumbukan efektif antar reaktan meningkat. Namun, pada temperatur 65AC, yield tidak mengalami peningkatan lebih lanjut. Hal ini disebabkan oleh mendekatnya temperatur terhadap titik didih metanol . ,7AC), sehingga sebagian metanol menguap dan mengurangi efektivitas reaksi. Fenomena ini juga dilaporkan dalam penelitian sebelumnya bahwa temperatur optimum transesterifikasi minyak nabati umumnya berada pada rentang 55Ae 65AC. Gambar 1. Pengaruh variasi suhu terhadap yield Yield (%) Lapisan biodiesel dipisahkan dan selanjutnya dilakukan proses pencucian menggunakan menghilangkan sisa katalis dan pengotor. Biodiesel yang telah dicuci kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 100AC selama 1 jam untuk menghilangkan sisa air. Setelah proses produksi selesai, biodiesel yang diperoleh ditambahkan minyak sereh wangi sesuai variasi volume yang telah ditentukan, kemudian dihomogenkan sebelum dilakukan pengujian karakteristik bahan bakar. Rendemen biodiesel dihitung berdasarkan perbandingan massa biodiesel yang dihasilkan terhadap massa bahan baku awal. Densitas diukur menggunakan piknometer berdasarkan perbandingan massa dan volume sampel. Pengujian titik nyala dilakukan menggunakan flash point tester dengan metode pemanasan bertahap hingga uap bahan bakar menyala. Sementara menggunakan alat uji cetane melalui prosedur kalibrasi dan pengukuran sampel secara berulang untuk memperoleh hasil yang akurat. Seluruh pengujian dilakukan secara duplo untuk meningkatkan keandalan data. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan membandingkan pengaruh variasi temperatur dan penambahan minyak sereh wangi terhadap karakteristik biodiesel yang dihasilkan. Hasil analisis kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk memudahkan interpretasi serta penarikan kesimpulan. Temperatur . C) 2 Pengaruh Minyak Sereh Wangi terhadap Viskositas Biodiesel Penambahan minyak sereh wangi sebagai bio-aditif signifikan terhadap viskositas biodiesel. Pengaruh penambahan minyak sereh wangi terhadap viskositas biodisel diperlihatkan pada Gambar 2. Dari Gambar 2 terlihat bahwa pada penambahan 2Ae4 mL, viskositas cenderung menurun, khususnya pada suhu 60AC . ingga sekitar 5,59Ae5,70 cS. Hal ini menunjukkan bahwa minyak sereh wangi berperan sebagai agen pengencer . yang mampu Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 Volume minyak sereh . L) Gambar 2. Pengaruh volume minyak sereh wangi terhadap viskostias Cetane number 3 Pengaruh Minyak Sereh Wangi terhadap Cetane Number Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak sereh wangi mampu meningkatkan angka setana biodiesel pada konsentrasi tertentu seperti diperlihatkan pada Gambar 3. memperbaiki kualitas pembakaran bahan bakar . , . Namun, pada penambahan lebih tinggi (Ou6 mL), nilai cetane number mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa kelebihan aditif dapat menurunkan homogenitas bahan bakar dan mengganggu proses pembakaran. , . Dengan demikian, terdapat konsentrasi optimum aditif, yaitu sekitar 4 mL pada suhu 60AC, yang menghasilkan angka setana tertinggi. 4 Pengaruh Minyak Sereh Wangi terhadap Flash Point Flash point biodiesel meningkat dengan penambahan minyak sereh wangi hingga konsentrasi 4 mL, dengan nilai mencapai sekitar 170Ae173AC pada suhu 60AC seperti diperlihatkan pada Gambar 4. Peningkatan ini menunjukkan bahwa biodiesel menjadi lebih aman dalam volatilitasnya menurun. , . Namun, pada penambahan aditif yang lebih tinggi, flash point cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan meningkatnya kandungan senyawa volatil dari minyak sereh wangi yang mempengaruhi kestabilan bahan bakar. , . Secara keseluruhan, seluruh nilai flash point yang diperoleh telah memenuhi standar SNI (>100AC). Flash point (AC) Viskositas . menurunkan gaya intermolekuler dalam biodiesel. Namun, pada penambahan lebih tinggi (Ou6 mL), viskositas kembali meningkat secara signifikan hingga mencapai >10 cSt pada suhu 65AC. Peningkatan ini disebabkan oleh kemungkinan terbentuknya interaksi kompleks antar komponen minyak atsiri dan biodiesel. Jika dibandingkan dengan standar SNI 7182:2015 . ,3Ae6,0 cS. , maka kondisi optimum berada pada penambahan 2Ae4 mL pada suhu 60AC. Volume minyak sereh . L) Gambar 4. Pengaruh volume minyak sereh wangi terhadap flash point Volume minyak sereh . L) Gambar 3. Pengaruh volume minyak sereh wangi terhadap cetane number Dari Gambar 3 terlihat bahwa pada suhu 60AC, nilai cetane number meningkat dari 55 . anpa aditi. menjadi sekitar 55,6Ae55,9 pada penambahan 2Ae4 mL. Peningkatan ini disebabkan oleh kandungan senyawa oksigenat dalam minyak sereh wangi yang dapat 5 Pengaruh Temperatur Viskositas Biodiesel Pengaruh temperatur terhadap viskositas biodiesel diperlihatkan pada Gambar 5. Viskositas biodiesel tanpa aditif menunjukkan tren menurun dari 6,19 cSt pada 50AC menjadi 6,03 cSt pada 60AC. Hal ini sesuai dengan teori bahwa viskositas fluida berbanding terbalik dengan temperatur, di mana peningkatan suhu akan menurunkan gaya kohesi antar molekul. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 Temperatur . C) Gambar 5. Pengaruh temperatur terhadap Cetane Number 6 Pengaruh Temperatur terhadap Cetane Number Nilai cetane number relatif konstan pada suhu 50Ae55AC, kemudian meningkat pada suhu 60AC seperti diperlihatkan pada Gambar 6. Hal ini menunjukkan bahwa pada suhu rendah, konversi trigliserida menjadi metil ester (FAME) belum optimal, sehingga kualitas pembakaran belum meningkat secara signifikan. Temperatur (AC) Gambar 6. Pengaruh temperatur terhadap cetane number Pada suhu 60AC, peningkatan cetane number menunjukkan bahwa konversi FAME telah mencapai kondisi optimum. Namun, pada suhu 65AC terjadi sedikit penurunan yang kemungkinan disebabkan oleh degradasi termal atau kehilangan komponen penting akibat penguapan. 7 Pengaruh Temperatur terhadap Flash Point Pengaruh temperatur terhadap flash point ditunjukkan pada Gambar 7. Flash point temperatur reaksi hingga mencapai 167AC pada 60AC. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan metanol sisa dalam biodiesel semakin rendah akibat proses pemurnian yang lebih efektif. Namun, pada temperatur 65AC terjadi kontaminasi senyawa volatil akibat reaksi yang kurang stabil. Secara umum, seluruh nilai flash point telah memenuhi standar kualitas biodiesel, yang menunjukkan keamanan bahan bakar yang Flash point (AC) Viskositas . Namun, pada suhu 65AC terjadi peningkatan viskositas yang signifikan hingga 10,79 cSt. Hal ini diduga akibat adanya reaksi ketidaksempurnaan pemisahan gliserol dan sabun yang mempengaruhi sifat aliran biodiesel. Temperatur (AC) Gambar 7. Pengaruh temperatur terhadap flash 8 Analisis Komposisi Metil Ester Hasil analisis GC-MS menunjukkan bahwa biodiesel yang dihasilkan didominasi oleh senyawa metil ester (FAME), terutama methyl oleate . ,77%) dan methyl palmitate . ,63%) seperti diperlihatkan pada Gambar Methyl oleate sebagai asam lemak tak jenuh meningkatkan kualitas pembakaran dan angka setana, sedangkan methyl palmitate sebagai asam lemak jenuh memberikan kontribusi terhadap stabilitas oksidasi. Dominasi menunjukkan bahwa biodiesel memiliki keseimbangan antara stabilitas dan performa Kandungan FAME yang tinggi mengindikasikan bahwa proses transesterifikasi berlangsung dengan baik dan biodiesel yang dihasilkan berpotensi memenuhi standar kualitas bahan bakar biodiesel. Jurnal Teknologi. Vol. No. April 2026, 98-104 Gambar 8. Pengujian GCMS produk biodiesel Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa temperatur reaksi dan penambahan minyak sereh wangi sebagai zat aditif memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan dari Virgin Red Palm Oil (VRPO). Penambahan minyak sereh wangi pada konsentrasi tertentu, khususnya 2Ae4 mL, terbukti dapat meningkatkan angka setana serta memperbaiki sifat fisik biodiesel seperti viskositas dan flash point. Namun, penambahan aditif dalam jumlah berlebih (Ou6 mL) justru peningkatan viskositas dan menurunnya homogenitas campuran. Kondisi operasi optimum pada penelitian ini diperoleh pada temperatur 60AC dengan penambahan minyak sereh wangi sebesar 4 mL, yang menghasilkan biodiesel dengan rendemen tinggi, angka setana optimal, serta karakteristik fisik yang mendekati standar kualitas bahan Hasil analisis komposisi menunjukkan bahwa biodiesel didominasi oleh senyawa metil ester yang mendukung performa pembakaran dan stabilitas bahan bakar. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada Laboratorium Teknik Kimia atas penggunaan peralatan untuk pengujian biodiesel. Daftar Pustaka