Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin EVALUASI DAN PENGEMBANGAN RANAH AFEKTIF DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Riansyah, 2Risnawati, 3Miftahir Rizqa, 4Nur Azizah email: riansyah12ww@gmail. com, risnawati@uin-suska. id, rizqaMiftahir@uin-suska. nurazizahlubis100214@gmail. (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Al-Fansuri Baru. Abstrak Tujuan Penelitian ini untuk membahas dan mengkaji bagaimana mengetahui evaluasi Dan Pengembangan Ranah Afektif Dalam Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan penelitian kepustakaan (Library researc. , yakni dengan membaca, menelaah dan mengkaji buku-buku dan sumber tulisan yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas. Adapun hasil pembahasan yaitu evaluasi pada hakikatnya adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas daripada sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti. Evaluasi meliputi semua aspek pembelajaran, baik kemampuan intelektual . , kemampuan rasa dan sikap/perilaku . serta kemampuan keterampilan . Dalam konteks pembelajaran PAI, maka pengembangan evaluasi belajar diarahkan pada pengembangan moral Islam . dalam kerangka pengembangan fitrah penciptaan manusia. Dalam hal ini pembelajaran PAI harus menempatkan ajaran Islam sebagai suatu obyek kajian yang melihat Islam sebagai sebuah sistem nilai dan sistem moral yang tidak hanya diketahui dan dipahami, tapi juga dirasakan serta dijadikan sebuah aksi dalam kehidupan anak didik Kata Kunci: Evaluasi. Afektif. Pendidikan Agama Islam Pendahuluan Evaluasi adalah suatu tahapan akhir dari suatu proses pembelajaran, yang kemudian dapat diketahui berhasilnya suatu proses pembelajaran dengan tujuan yang telah di harapakan. Untuk itu, evaluasi berperan penting dalam proses pembelajaran peserta didik. Evaluasi mencakup segala aspek dalam pembelajaran seperti aspek kognititf . , afektif . ikap/perilak. , dan psikomotor . Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu proses pendidikan dimana pendidik akan memberi bekal kepada peserta didik berupa didalamnya pengetahuan, pemahaman, serta penghayatan pengamalan ajaran Islam. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus menjadi objek kajian yang menjadikan Islam sebagai sebuah sistem nilai dan system moral yang tidak hanya diketahui peserta didik tetapi juga dapat diamalakan melalui sebuah tindakan dalam kehidupan. Untuk mencapai hal tersebut Islam sebagai sebuah pengetahuan dan atau pemahaman, tapi lebih dari itu yaitu mengevaluasi dengan memandang Islam sebagai sebuah aksi moral. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan penelitian kepustakaan (Library researc. , yakni dengan membaca, menelaah dan mengkaji buku-buku dan sumber tulisan yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas. Dalam hal ini penulis mengumpulkan beberapa sumber diantaranya: buku-buku yang relevan dengan topik penelitian, jurnal dan artikel ilmiah. Hasil dan Pembahasan Pengertian dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang mengadung kata dasar value AunilaiAy. Kata value atau nilai dalam istilah evaluasi berkaitan dengan keyakinan bahwwa sesuatu hal itu baik atau buruk, benar atau salah, kuat atau lemah, cukup atau belum cukup, dan sebagainya (Ajat, 2018: . Dalam bahsa Arab al-Taqdir, dalam bahasa Indonesia berarti: penilaian. Akar katanya adalah aal ue, dalam bahas Arab: al-Qimah. bahasa Indonesia berartt: nilai. Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan . ducational evaluatio. = al-Taqdir al-Tarbawi. dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan (Gito. 2011: . Pengertian evaluasi secara luas adalah suatu proses dalam merencanakan, memperolah, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat berbagai alternative keputusan (Rina, 2019: . Evaluasi pada hakikatnya adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan (Rusydi, 2017: . Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas daripada sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti (Asrul dkk, 2022: . Evaluasi atau penilaian harus dilaksanakan secara tepat, cermat dan akuntabel. Sebab evaluasi yang demikian akan dapat menggambarkan kemajuan belajar siswa secara obyektif, sehingga tidak akan merugikan baik diri siswa itu sendiri maupun stakeholder yang lainnya, termasuk masyarakat dan negara. Jika evaluasi berjalan sebagaimana tersebut di atas, maka evaluasi akan terhindar dari kekeliruan penilaian. Oleh karena itu, agar evaluasi dapat dilaksanakan sebagaimana yang direncanakan, maka para penilai . harus mengikuti prinsip-prinsip evaluasi yang telah ditentukan, yaitu: Prinsip Keterpaduan Kegiatan penilaian berkaitan erat dengan kegiatan-kegiatan pengajaran lainnya. Oleh karena itu, kegiatan penilaian tidak boleh lepas dari kegiatan pengajaran. Jika prinsip ini tidak terpenuhi, maka penilaian tidak akan memberikan makna apa-apa. Dengan 86 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin demikian, dalam kegiatan penilaian harus memperhatikan tujuantujuan instruksional serta bahan ajar yang diajarkan pada siswa, sehingga setiap butir soal yang dibuat tidak boleh keluar dan menyimpang dari aspekaspek bahan ajar tersebut. Prinsip Kelengkapan Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan tujuan penilaian dan ruang lingkup bahan ajar yang ingin diung-kap, sehingga dapat memberikan informasi yang memadai. Selain itu teknik dan instrumen yang digunakan juga harus sesuai. Dari aspek perilaku yang diungkap, evaluasi harus mencakup keseluruhan bahan ajar dan kedalaman tingkah laku yang se-mestinya diungkap. Hal ini tidak berarti bahwa semua bahan ajar harus diteskan, tetapi aspek-aspek yang akan dievaluasi merupakan representasi dari seluruh bahan ajar yang akan diungkap. Dengan demikian, teknik dan instrumen yang dipilih dan akan digunakan bisa saja hanya satu teknik dan instrumen, yang penting hal tersebut mampu mengungkap data atau informasi secara leng-kap sebagaimana yang diharapkan. Prinsip Kesinambungan Prinsip kesinambungan ini mengandung pengertian bahwa agar dapat memperoleh pemahaman yang memadai tentang anak didik, maka diperlukan program evaluasi yang berkelanjutan, yang dilakukan seiring dengan rangkaian kegiatan belajar mengajar. Prinsip ini harus dilakukan secara berkelanjutan, karena anak didik merupakan pribadi yang secara terus menerus mengalami peruba-han, sehingga prestasi belajar anak didik juga selalu mengalami pe-rubahan. Dalam konsep Islam, dikenal istilah istiqamah, yaitu suatu aktivitas yang dikerjakan secara rutin atau berperiodik . Prinsip Obyektifitas Evaluasi yang dilakukan guru harus dilakukan secara tepat berdasarkan data obyektif kemajuan belajar siswa, bukan berdasar-kan pengamatan dan pertimbangan subyektif guru. Dengan demikian, evaluasi harus menggambarkan kemampuan obyektif siswa yang sebenarnya, bukan berdasarkan suka dan tidak suka guru kepada para Obyektivitas juga mengarah kepada perlakuan yang sama dan adil kepada semua murid yang dievaluasi dengan memberikan penilain yang fair. Prinsip Relevansi Dengan hasil evaluasi, pengambilan keputusan penilaian harus didasarkan pada data yang relevan dengan tujuan penilaian. Dengan demikian, perlu adanya kesesuaian antara tujuan evaluasi, data yang dijadikan dasar pengambilan keputusan dan instrumen Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin yang digunakan. Prinsip Keteraturan Dalam melakukan evaluasi, kita harus mengetahui dan memperhatikan prosedur dan langkah-langkah evaluasi yang seharusnya diilakukan. Kita tidak boleh mengambil keputusan evaluasi sebelum adanya data yang dapat dipercaya. Juga kita tidak dapat memperoleh data yang memadai kalau tidak menggunakan instrumen pengumpul data yang memenuhi syarat. Dengan demikian, sebelum melakukan evaluasi, harus mengi-kuti beberapa aturan dan urutan yang telah ditentukan agar hasil evaluasi akuntabel. Dalam konteks ajaran Islam ditegaskan bahwa setiap sesuatu terdapat aturan main dan ketetapan yang harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan dan kadar masing-masing (Zamsiswaya, 2020: . Pembahasan Pengembangan Evaluasi Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam Dalam perspektif Islam, evaluasi memiliki beberapa implikasi paedagogis, yaitu: Untuk menguji daya kemampuan manusia yang beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami. Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya, seperti evaluasi yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman kepada burung hud hud. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keimanan dan ke-Islaman seseorang, seperti evaluasi yang dilakukan Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia tentang pelajaran yang telah diberikan Allah kepada mereka, seperti evaluasi yang dilakukan Allah terhadap Nabi Adam yang telah diajarkan nama-nama sesuatu dan diperintahkannya kepada para malaikat. Memberikan kabar gembira . bagi yng berkelakuan baik dan memberikan ancaman . bagi manusia yang berperilaku buruk. Sedangkan sasaran evaluasi PAI pada ranah afektif secara garis besar meliputi empat kemampuan anak didik, yaitu: Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat. Sikap kehidupannya dengan alam Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Sikap dan pandangannya terhadap diri sendiri selaku hamba Allah dan selaku anggota masyarakt serta selaku khalifah Allah SWT. Dalam konteks pembelajaran PAI, maka pengembangan evaluasi belajar diarahkan pada pengembangan moral Islam . dalam kerangka pengembangan fitrah penciptaan manusia. Fitrah penciptaan manusia ditekankan kepada fitrah manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai Aoabid, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan sebagai khalifah,yaitu memakmurkan dan membangun kehidupan manusia di muka Dalam kaitan ini. Allah meniupkan roh . -Nya kepada diri manusia, maka pada saat itulah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang terdapat dalam al-asmaAo al-husna. Hanya saja, kalau Allah bersifat Maha, maka manusia itu hanya mempunyai sifat sebagian darinya. Misalnya Allah bersifat Maha Mendengar. Allah bersifat Maha Mengetahui, maka manusia bersifat mengetahui. Allah bersifat Maha Melihat, manusia bersifat melihat, dan seterusnya. Sementara itu Muhaimin memberikan pengertian yang sangat luas terhadap konsep fitrah. Fitrah meliputi fitrah beragama, fitrah berakal budi, fitrah kebersihan dan kesucian, fitrah bermoral dan berakhlaq, fitrah kebenaran, fitrah kemerdekaan, fitrah keadilan, fitrah persamaan, fitrah fitrah sosial, fitrah seksual, fitrah ekonomi, politik, dan fitrah seni. Berdasarkan fitrah yang pengembangan evaluasi pembelajaran Pendididikan Agama Islam dilakukan. Dalam kaitan pembelajaran, maka pengembangan evaluasi pembelajaran PAI mengarah kepada pengembangan aspek perilaku . melalui penekanan bagaimana mengevaluasi perilaku . khlak/ moral Isla. Tentu saja evaluasi terhadap aspek perilaku membutuhkan suatu proses pembelajaran PAI yang juga menitikberatkan pada ranah afektif ini, dengan tidak meninggalkan aspek kognitif dan psikomotorik. Hal evaluasi pendidikan adalah bagaimana mengevaluasi pembelajaran PAI dengan bertolak pada aspek perilaku dan moral anak didik. Moral selain dapat didekati dari aspek kognitif . enalaran mora. , dapat juga dikaji dari aspek afektif . erasaan mora. , yang secara integratif aspek-aspek tersebut dapat mendorong terjadinya tindakan atau perilaku moral. Hubungan di antara aspek-aspek tersebut dapat dijadikan acuan studitentang Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin moral dan dapat digunakan oleh guru atau perancang pembelajaran sebagai pedoman mengembangkan komponen-komponen merumuskan tujuan pembelajaran yang diinginkan, strategi pembelajaran moral, dan menyusun alat evaluasi hasil belajar. Pembelajaran sebagai unsur pemahaman moral atau penalaran moral, yaitu jenis kemampuan kognitif yang untuk mempertimbangkan, menilai dan memutuskan suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip moral seperti baik atau buruk, etis atau tidak etis, benar atau salah. Pembelajaran moral untuk mengembangkan aspek afektif sebagai unsur perasaan moral, terwujud dalam suatu kemampuan untuk meng-ambil sudut pandang orang lain untuk menempatkan dirinya ke dalam posisi orang lain, merupakan sumber kesadaran akan hak-hak orang lain dan kewajiban diri sendiri dalam hubungannya dengan alam sekitarnya. Pembelajaran untuk mengembangkan aspek perilaku sebagai tin-dakan moral, merupakan kemampuan untuk melakukan interaksi dalam mengambil peran sosial serta menyelesaikan pertentangan peran yang berkaitan dengan nilai-nilai moral seperti keadilan, persamaan, keseimbangan dan lain-lain. Penekanan aspek moral ini bukan hanya terbatas pada pengetahuan tentang moral . engetahuan bahwa sifat dan perilaku itu baik atau tida. , tapi lebih pada perasaan bermoral, yaitu menjadikan moral sebagai pribadi seseorang dan selanjutnya harus diarahkan kepada aksi moral, yaitu moral dijadikan sebagai sebuah aksi . erilaku nyat. dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran nilai dikenal dengan beberapa strategi yang terdiri dari empat strategi yaitu: . pembelajaran nilai dengan menggunakan strategi tradisional, yaitu dengan memberi-kan nasihat atau indoktrinasi. pembelajaran nilai dengan mengguna-kan strategi bebas, sebagai kebalikan dari strategi tradisional, yaitu memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih moral yang baik dan tidak baik. pembelajaran nilai dengan menggunakan strategi reflektif, menggabungkan antara pendekatan teoritik dan empirik atau deduktif ke induktif. pembelajaran nilai dengan menggunakan strategi transinternal, yaitu cara pembelajaran dengan mengunakan transformasi nilai , transaksi, transinternalisasi. Beberapa strategi di atas dapat dijabarkan dalam berbagai pendekatan, yaitu sebagai berikut: . pendekatan pengalaman, yaitu dengan memberikan pengalaman moral/keagamaan dalam penanaman nilai-nilai keagamaan. pendekatan pembiasaan, 90 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin yaitu memberikan kesempatan kepada anak didik untuk dapat mengamalkan ajaran Islam dan akhlak yang mulia. pendekatan emosional, yaitu menggugah perasaan Islam sehingga anak termotivasi secara suka rela untuk melaksanakan ajaran Islam. pendekatan rasional, yaitu memberikan pengertian rasional dalam memahami ajaran Islam. pendekatatan fungsional, yaitu mem-berikan manfaat ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan al QurAoan yang mene-gaskan bahwa agama Islam diturunkan dengan misi untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. pendekatan keteladanan, yaitu mem-berikan contoh dan teladan yang baik kepada anak didik. Keteladanan inilah yang dipraktikkanoleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam kehidupan sehari-sehari terutama dalam melaksanakan dakwah Islam. (Muchlis, 2007: . Kesimpulan Berdasarkan penjelasan sebelumnya, pengembangan pengembangan evaluasi belajar diarahkan pada pengembangan moral Islam . dalam kerangka pengembangan fitrah penciptaan manusia. Fitrah penciptaan manusia ditekankan kepada fitrah manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai Aoabid, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan sebagai khalifah,yaitu memakmurkan dan membangun kehidupan manusia di muka bumi. Dalam konteks pembelajaran Agama Islam, evaluasi pembelajaran dalam perkembangannya lebih menekankan aspek afketif . ikap/perilak. diamana evaluasi mengarah pada sejauh mana penghayatan serta pengamalan yang dilakukan dalam kehidupan peserta didik seperti yang Allah perintahkan dan Rasulullah SAW contohkan. Hal ini dapat menjadi sebuah motivasi kepada peserta didik untuk tidak hanya mempelajari Islam sebagai suatu pengetahuan dan pemahaman, namun lebih dari itu Islam dijadikan sebagai pola bertindak, pola hidup dan pola berperilaku. Dengan pola penilaian tersebut, guru dapat melakukan penilaian terhadap kemajuan-kemajuan pengamalan moral Islam yang dilakukan anak didik, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah dan masyarakatnya. Penilaian di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan mengamati siswa bagaimana berperilaku terhadap para gurunya, teman-temannya, baik yang lebih muda ataupun yang lebih tua. Sedangkan penilaian dalam lingkungan rumah dan masyarakat sekitarnya dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya dengan menggunakan teknik pengamatan langsung. Dengan teknik penilaian di atas, dapat memberikan sebuah gambaran 91 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin tentang bagaimana perilaku dan moral yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga dapat melihat dan melakukan pemberian nilai sejauh mana Pembelajaran Agama Islam di amalkan oleh peserta didik. Daftar Pustaka