Dakwatul Islam Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 Jurnal Ilmiah Prodi PMI Institut Agama Islam Diniyah Pekanbaru Volume ( 9 ) Nomor ( 2 ). Juni 2025 https://ojs. id/index. php/DakwatulIslam P-ISSN: 2581-0987 E-ISSN: 2828-5484 TOLERANSI DALAM ISLAM: ANTARA IDEALITAS AJARAN DAN REALITAS SOSIAL Agus Anwar Pahutar. Mahyudin Ritonga. Ahmad Lahmi. Rosniati Hakim Sekolah Tinggi Agama Islam Tapanuli Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Email: agusanwarsipahutar@gmail. Abstrak Artikel ini membahas dinamika antara idealitas ajaran Islam mengenai toleransi dan realitas sosial umat Islam dewasa ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitik untuk mengkaji hubungan antara idealitas ajaran toleransi dalam Islam dan realitas sosial umat Islam. Melalui metode ini, penulis bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi, baik dalam konteks teologis maupun sosial, serta menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi penerapan ajaran Islam tentang toleransi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam mengandung prinsip-prinsip dasar yang mendukung kehidupan damai dan saling menghormati antar umat Nilai-nilai tersebut secara eksplisit tercermin dalam Al-QurAoan dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan, kebebasan beragama, dan perlakuan adil terhadap semua golongan. Namun demikian, dalam praktik sosial, umat Islam di berbagai belahan dunia masih dihadapkan pada tantangan intoleransi yang bersumber dari pemahaman keagamaan yang sempit, politisasi agama, serta lemahnya literasi keagamaan. Artikel ini menganalisis akar kesenjangan tersebut dan menawarkan pendekatan solutif melalui penguatan pendidikan Islam moderat, dakwah humanis, serta peran aktif lembaga keagamaan dalam membangun budaya toleransi. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis normatifsosiologis, tulisan ini menegaskan pentingnya reorientasi praksis keagamaan agar sesuai dengan semangat Islam sebagai agama yang inklusif dan universal. Kata kunci: Toleransi. Islam, idealitas, realitas sosial, moderasi, keberagaman Abstract This article explores the dynamics between the ideal teachings of Islam on tolerance and the current social realities faced by Muslim communities. The research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical design to examine the relationship between the ideal of tolerance in Islamic teachings and the lived experiences of Muslims. Through this method, the author seeks to describe the phenomenon from both theological and social perspectives, and to analyze the factors that influence the implementation of Islamic values of tolerance in everyday As a religion that brings mercy to all of creation. Islam upholds fundamental principles that support peaceful coexistence and mutual respect among human beings. These values are explicitly reflected in the QurAoan and the Sunnah of the Prophet Muhammad . eace be upon hi. , which advocate respect for diversity, freedom of religion, and fair treatment of all people. Nevertheless, in social practice. Muslim communities across various regions still face the challenge of intolerance, which stems from narrow religious interpretations, the politicization of religion, and weak religious literacy. This article analyzes the root causes of this gap and offers constructive approaches through the strengthening of moderate Islamic education, humanistic daAowah, and the active role of religious institutions in fostering a culture of tolerance. Using a Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial qualitative approach and normative-sociological analysis, the paper emphasizes the urgent need for a reorientation of religious praxis that aligns with the inclusive and universal spirit of Islam. Keywords: Tolerance. Islam, ideality, social reality, moderation, diversity Pendahuluan Toleransi merupakan sikap saling menghormati, saling menerima dan saling menghargai di tengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi dan karakter manusia. Salah satu prinsip utama agama Islam adalah toleransi, yang mendorong penghargaan terhadap perbedaan dan keberagaman dalam masyarakat. Konsep toleransi dalam Islam menekankan betapa pentingnya menghormati hak-hak setiap orang, mendukung keadilan, dan menciptakan harmoni di antara umat Muslim dan masyarakat umum. (Suryani, 2. Toleransi dalam Islam bukan hanya sebuah ajaran, tetapi juga sebuah nilai fundamental yang mencerminkan karakter dasar agama ini sebagai agama yang membawa rahmat . asih sayan. bagi seluruh umat manusia dan alam semesta. Sejak awal. Islam mengajarkan prinsip-prinsip universal yang mendukung keadilan sosial, kebebasan beragama, dan penghormatan terhadap sesama(Kamali, 2. Namun, dalam kenyataannya, meskipun ajaran Islam secara normatif mengedepankan nilai-nilai toleransi, realitas sosial umat Islam dalam berbagai konteks sering kali menunjukkan adanya praktik-praktik intoleransi, eksklusivisme, dan diskriminasi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam, tetapi juga dalam hubungan mereka dengan kelompok agama atau etnis lain. (Khaled Abou El Fadl, 2. Toleransi dalam Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Al-QurAoan dan Sunnah, meliputi berbagai dimensi, mulai dari toleransi terhadap perbedaan agama, pemahaman terhadap keragaman dalam ajaran Islam itu sendiri, hingga toleransi dalam konteks sosial dan politik. (Azyumardi Azra, 1999. Konsep rahmatan lil Aoalamin, yang berarti rahmat bagi seluruh alam semesta, mencerminkan betapa pentingnya nilai toleransi dalam Islam. Ajaran ini, yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, menekankan pentingnya hidup berdampingan dengan penuh kedamaian dan saling menghormati, tanpa memandang perbedaan keyakinan atau latar belakang. (Al-Qaradawi, 2. Namun, dalam praktik sosial, ajaran toleransi tersebut sering kali terdistorsi oleh faktor-faktor eksternal maupun internal, yang menyebabkan munculnya perbedaan antara idealitas ajaran dan realitas sosial umat Islam(MasAood et al. , 2. Beberapa faktor yang memengaruhi hal ini adalah pemahaman keagamaan yang sempit, pengaruh politik identitas, serta faktor sosial-ekonomi yang memperburuk polarisasi di kalangan Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 masyarakat Muslim. (Nashir, 2. Fenomena seperti kekerasan antaragama, diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama dan etnis, serta ketegangan antara mazhab dalam Islam, adalah contoh nyata dari kesenjangan antara ajaran Islam yang toleran dengan kenyataan yang ada di lapangan. (M. SyafiAoi Anwar, 2. Islam, sebagai agama yang memiliki berbagai tradisi intelektual dan tafsir yang kaya, memiliki potensi besar untuk menjadi sumber perdamaian dan kerukunan. Namun, ketidaksesuaian antara ajaran agama dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari menjadi masalah yang perlu diatasi. Dalam banyak kasus, ajaran Islam dipahami secara literal dan eksklusif, yang berujung pada interpretasi yang sempit dan intoleran terhadap (Haris et al. , n. Muhammad Khalid Masud, 2. Oleh karena itu, perlu adanya kajian mendalam mengenai bagaimana ajaran toleransi dalam Islam dipahami dan diterapkan dalam konteks sosial saat ini, serta apa yang menjadi penyebab terjadinya kesenjangan antara ajaran tersebut dan realitas sosial yang ada. Melalui kajian ini, penulis berusaha mengungkap akar penyebab kesenjangan antara idealitas ajaran toleransi dalam Islam dengan realitas sosial umat Islam. Penelitian ini juga bertujuan untuk mencari solusi agar ajaran Islam yang toleran dapat terwujud dalam praktik sosial, baik di dalam dunia Muslim itu sendiri maupun dalam interaksinya dengan dunia non-Muslim. Selain itu, kajian ini berupaya untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang menghambat tercapainya toleransi sosial yang sejati, serta memberikan rekomendasi bagi umat Islam dan lembaga-lembaga keagamaan dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, damai, dan menghargai keberagaman. (Muhammad Khalid Masud, 2. Islam adalah agama yang menyebar ke berbagai belahan dunia, dengan pengikut lebih dari 1,8 miliar jiwa yang tersebar di Asia. Afrika. Eropa, dan Amerika. Dengan jumlah umat yang begitu besar dan beragam. Islam tentu dihadapkan pada tantangan besar terkait bagaimana ajaran agama ini dapat diterima dan diterapkan dalam berbagai konteks sosial yang berbeda-beda. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana ajaran agama ini, yang secara eksplisit mendukung prinsip-prinsip toleransi dan perdamaian, dapat terwujud dalam praktik sosial yang nyata, di tengah-tengah kenyataan global yang semakin plural dan kompleks. (Muhammad Khalid Masud, 2. Di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, toleransi beragama telah menjadi topik yang sangat Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena intoleransi, baik di dalam masyarakat Muslim maupun dalam hubungan antara umat Islam dengan umat agama lain, semakin meningkat. Hal ini terlihat dalam banyaknya kasus kekerasan antaragama, penutupan rumah ibadah, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, baik dalam Islam sendiri . eperti antara Sunni dan Syiah, atau antara kelompok mayoritas dan minoritas seperti Ahmadiya. maupun terhadap agama lain. (Religious Tolerance in Indonesia, 2. Dalam konteks Indonesia, yang dikenal dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" . erbeda-beda tetapi tetap sat. , toleransi beragama menjadi suatu hal yang sangat pentingAA. Namun, meskipun Indonesia secara resmi mengakui keberagaman agama dan memberikan kebebasan beragama, praktik intoleransi dan kekerasan berbasis agama tetap Laporan-laporan dari organisasi-organisasi hak asasi manusia dan lembaga penelitian keagamaan menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama masih sering terjadi, baik di tingkat sosial maupun politik. (Human Rights Watch. Tantangan lain yang dihadapi umat Islam terkait toleransi adalah kurangnya pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam yang moderat dan inklusif. Banyak umat Islam yang masih terjebak dalam pemahaman yang sempit tentang agama, yang cenderung mengarah pada eksklusivisme dan pemisahan diri dari kelompok lain. (Abdul Aziz, 2. Faktor-faktor ini semakin diperburuk oleh pemahaman yang kaku dan tekstual terhadap teks-teks agama, yang tidak mempertimbangkan konteks sosial dan historis di balik wahyu tersebut. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (Haris, 2. dengan desain deskriptif-analitik(Sugiyono, 2. , yang bertujuan untuk memahami dan menjelaskan kesenjangan antara idealitas ajaran Islam tentang toleransi dan realitas sosial yang dihadapi umat Islam saat ini. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan . ibrary researc. (Moleong, 2. terhadap sumber-sumber primer seperti ayat-ayat Al-QurAoan, hadits Nabi SAW, serta dokumen-dokumen sejarah seperti Piagam Madinah. Sumber sekunder diperoleh dari Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 literatur ilmiah, laporan hak asasi manusia, serta hasil penelitian sosial-keagamaan Pendekatan normatif-sosiologis digunakan untuk menafsirkan teks-teks keagamaan dalam konteks dinamika sosial modern. Analisis dilakukan secara kualitatif, dengan tema-tema . hematic (Anslem Strauss dan Juliet Corbin, 2. yang berkaitan dengan prinsip-prinsip toleransi Islam dan faktor-faktor penghambat implementasinya dalam masyarakat Muslim. Dengan metode ini, penelitian tidak hanya menguraikan konstruksi ideal ajaran Islam yang menekankan nilai-nilai rahmat, keadilan, dan kebebasan beragama, tetapi juga mengkritisi realitas sosial umat yang kadang kontradiktif terhadap nilai-nilai tersebut. Hasil dari pendekatan ini diharapkan memberikan kontribusi pada upaya penyelarasan antara ajaran normatif Islam dan praksis sosial yang lebih inklusif dan berkeadaban. Hasil dan Pembahasan Toleransi Dalam Persfektif Normatif Islam Istilah toleransi berasal dari bahasa Inggris tolerance atau tolerantia dalam bahasa Latin. Dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata tasamuh atau tasahul yaitu. to tolerate, to overlook, excuse, to be indulgent, forbearing, lenient, tolerant. Perkataan tasamuh. bermakna hilm dan tasahul. diartikan sebagai indulgence, tolerance, toleration, forbearance, leniency, lenitt, clemency, mercy dan Sementara, kata "kerukunan" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diartikan sebagai Auhidup bersama dalam masyarakat melalui "kesatuan hati" dan "bersepakat" untuk tak menciptakan perselisihan dan pertengkaran". Kerukunan adalah kata yang dipenuhi oleh muatan makna "baik" dan "damai". Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan "kesatuan hati" dan "bersepakat" untuk tidak menciptakan perselisihan dan Bila pemaknaan ini dijadikan pegangan, maka AukerukunanAy adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. (Ghazali, 2. Di dalam Islam, istilah tasamuh pada dasarnya tidak semata-mata selaras makna dengan kata tolerance, karena tasamuh memberi arti memberi dan mengambil. Tasamuh berisi tindakan tuntutan dan penerimaan dalam batas-batas tertentu. Tasamuh berisi harapan pada satu pihak untuk memberi dan mengambil secara Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial Subjek yang melakukan tasamuh dalam Islam dinamakan mutasamihin, yang berarti Aupemaaf, penerima, menawarkan, pemurah sebagai tuan rumah kepada tamuAy. Dalam pelaksanaannya, orang yang melakukan tindakan tasamuh ini tidak sepatutnya menerima saja sehingga menekan batasan hak dan kewajibannya sendiri. Dengan kata lain, perilaku tasamuh dalam beragama memiliki pengertian untuk tidak saling melanggar batasan, terutama yang berkaitan dengan batasan keimanan . Meskipun tasamuh memiliki pengertian seperti di atas, dalam banyak konteks, ia seringkali diselaraskan arti dengan kata AutoleransiAy. Al-QurAoan tidak pernah menyebut-nyebut kata tasamuh/toleransi secara tersurat dalam ayat-ayatnya. Namun, secara eksplisit al-QurAoan menjelaskan konsep toleransi dengan segala batasan-batasannya. Oleh karena itu, dalam implementasinya ayat-ayat yang (Ghazali, 2. Toleransi dalam Islam bukan sekadar nilai tambahan, melainkan bagian esensial dari ajaran agama itu sendiri. Dalam dimensi normatif yakni ajaran yang bersumber dari Al-QurAoan dan Sunnah, toleransi tampil sebagai prinsip dasar yang menjiwai relasi antarindividu, antarumat, bahkan antaragama. Islam tidak hanya mengakui keberagaman sebagai fakta sosial, tetapi juga sebagai kehendak ilahi yang harus dihargai dan dijaga secara etis dan spiritual. (Abdullah Saeed, 2. Toleransi dalam Al-QurAoan Di dalam syariat Islam toleransi antar umat beragama cenderung bermakna horizontal dari segi pendekatannya, atau dilakukan antar manusia yang memiliki ikatan yang sangat kuat sebagai ciptaan tuhan. Sementara secara vertikal, menjelaskan akidah dan syariAoat yang berkaitan dengan konsep AuTauhid,Ay yang merupakan konsep ketuhanan dalam Islam, sehingga tidak bisa ditolerir dengan konsep ketuhanan agama lain. Sehingga bagi seorang muslim, sikap toleransi yang tepat adalah: . Tidak ada toleransi dalam konsep akidah, seperti saling mengimani akidah satu sama lain. Toleransi dalam kacamata sosial harus tetap dilaksanakan, untuk menjalin tali persaudaraan antar umat manusia, selama tidak bersinggungan dalam hal akidah. Toleransi harus didasarkan kepada semboyan AuBhineka Tunggal IkaAy dan konsep tasamuh, agar setiap orang bisa menghargai kepercayaan satu sama lain. Senantiasa Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 melaksanakan konsep AuTawazun,Ay yaitu usaha meyeimbangkan segala aspek dalam kehidupannya. (Hair, 2. Islam menyadari dan mengakui kenyataan pluralisme agama sebagai kodrat yang diciptakan oleh Allah pada diri setiap manusia, bahwa setiap orang secara naluriah memang memiliki kecenderungan berbeda, termasuk dalam menentukan dan memilih agama yang dijadikan panutan. Allah Yang Maha Kuasa tidak menciptakan dan atau memaksa manusia harus seragam dan bersatu dalam satu agama, melainkan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan yang saling berbeda(Suryan, 2. , seperti dinyatakan oleh aA a U acOaE aOa Ea eOIa aI ea aE aAO oaeIA a A a acIU acOA a caOEa eO a a aacEa Ea a a aE EIA AuJika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang Namun, mereka senantiasa berselisih . alam urusan agam. ,Ay Al-QurAoan juga banyak memuat ayat yang menunjukkan pengakuan terhadap perbedaan sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan rujukan adalah: AuWahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Ay (QS. Al-Hujurat . : . Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman adalah suatu keniscayaan yang memiliki tujuan moral dan sosial: taAoaruf . aling mengena. , bukan tanaffur . aling membenc. (Fazlur Rahman, 2. Dalam konteks beragama. Al-QurAoan juga memuat prinsip kebebasan beragama secara eksplisit: AuTidak ada paksaan dalam . Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari yang sesat. Ay (QS. Al-Baqarah . : . Ayat ini bukan hanya menunjukkan penghargaan Islam terhadap kebebasan memilih keyakinan, tetapi juga menjadi dasar bagi prinsip nonkompulsif dalam dakwah Islam. (Khaled Abou El Fadl, 2. Prinsip ini diperkuat lagi dengan ayat-ayat lain seperti QS. Al-Kafirun dan QS. Yunus . : 99, yang menekankan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah, bukan hasil pemaksaan Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial Toleransi dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga mencontohkan bagaimana prinsip-prinsip Islam diterapkan dalam kehidupan Dalam interaksinya dengan komunitas Yahudi. Nasrani, dan bahkan penyembah berhala. Rasulullah menampilkan sikap yang penuh etika, kesantunan, dan keadilan. Misalnya. Piagam Madinah (Mitsaq al-Madina. menjadi bukti konkret bagaimana Rasulullah membangun tatanan masyarakat (Ramadan, 2. Nabi juga memberi perlindungan kepada kaum minoritas, bahkan setelah mereka berbeda pandangan secara teologis. Dalam satu riwayat. Rasulullah berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di hadapannya. Ketika ditanya, beliau menjawab, "Bukankah dia juga manusia?" (HR. Bukhari dan Musli. Sikap ini menunjukkan fondasi humanistik dalam ajaran Islam yang menekankan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa memandang latar belakang agama. Prinsip-Prinsip Universal dalam Toleransi Islam Ajaran Islam mengenai toleransi tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan prinsip-prinsip lain seperti: AoAdalah . : Memberi hak kepada siapa pun tanpa diskriminasi. Ihsan . : Bersikap lebih dari sekadar adil. mengedepankan welas Hurriyah . : Mengakui hak individu untuk memilih, berpikir, dan Musawah . : Menolak superioritas berbasis agama, etnis, atau kelas Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim perlu mengimplementasikan konsep tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga terwujudlah toleransi antar sesama. Terwujudnya toleransi beragama tidak mungkin tiba-tiba turun dari Seluruh pihak termasuk tokoh agama, pemerintah dan masyarakat memiliki andil dalam mewujudkan situasi yang aman dan damai. Para tokoh agama perlu menyampaikan pemahaman keagamaan yang moderat, inklusif yang siap menerima Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 perbedaan dan keragaman dalam kehidupan ini. Masyarakat perlu membekali diri dengan kemampuan literasi informasi, sehingga tidak mudah diprofokasi. Pemerintah juga harus memainkan peran sosial dalam mewujudkan kehidupan yang toleran dengan menjamin terwujudnya kebebasan beragama dan menindak tegas para pelaku anarkis dan teroris. (Rosyidi, 2. Islam memiliki prinsip dan ketentuan tersendiri, yang harus dipegang teguh oleh muslimin di dalam bertoleransi. Pertama, toleransi Islam tersebut terbatas dan fokus pada masalah hubungan sosial kemasyarakatan yang dibangun atas dasar kasih sayang dan persaudaraan kemanusiaan, sejauh tidak bertentangan dan atau tidak melanggar ketentuan teologis Islami. Kedua, toleransi Islam di wilayah agama hanya sebatas membiarkan dan memberikan suasana kondusif bagi umat lain untuk beribadah menjalankan ajaran agamanya. Bukan akhlak Islam menghalangi umat lain agama untuk beribadah menurut keyakinan dan tata cara agamanya, apatah lagi memaksa umat lain berkonversi kepada Islam. Ketiga, di dalam bertoleransi kemurnian akidah dan syariah wajib dipelihara. Maka Islam sangat melarang toleransi yang kebablasan, yakni perilaku toleransi yang bersifat kompromistis yang bernuansa sinkretis. (Suryan. Dengan demikian, secara normatif. Islam menawarkan paradigma toleransi yang kokoh, rasional, dan aplikatif. Masalah muncul bukan pada ajarannya, melainkan pada pemahaman dan implementasinya dalam konteks sosial tertentu. (Syafiq A. Mughni, 2. Realitas Sosial Toleransi Umat Islam Komarudin Hidayat menyebutkan ada lima tipologi sikap keberagamaan, yakni Aueksklu-sivisme, inklusivisme, pluralisme, eklekti-visme, dan universalismeAy. Masing-masing dari kelima tipologi ini tidak berarti saling terlepas dan terputus satu sama lainnya dan tidak pula permanen, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai sebuah kecenderungan menonjol, mengingat setiap agama maupun sikap keberagamaan senantiasa memiliki potensi untuk melahirkan kelima sikap di atas. (Casram, 2. Meskipun ajaran Islam secara normatif menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, realitas sosial umat Islam saat ini tidak selalu mencerminkan idealitas tersebut. Dalam banyak konteks, baik di negara-negara mayoritas Muslim maupun dalam komunitas diaspora, praktik intoleransi masih sering terjadi dalam berbagai bentuk(MasAood et Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial , 2. Hal ini menunjukkan adanya jurang yang cukup lebar antara ajaran agama dan implementasinya dalam kehidupan sosial. Fenomena Intoleransi dalam Masyarakat Muslim Berbagai studi dan laporan menunjukkan bahwa umat Islam di sejumlah negara menghadapi tantangan serius dalam mengelola perbedaan internal maupun Intoleransi terhadap kelompok minoritas agama, mazhab, atau etnis kerap terjadi dan bahkan terkadang mendapat justifikasi keagamaan. (Human Rights Watch, 2. Misalnya, diskriminasi terhadap kelompok Syiah di beberapa wilayah, tindakan kekerasan terhadap Ahmadiyah, atau pelabelan AusesatAy terhadap kelompok keagamaan tertentu. (Azyumardi Azra, 2. Laporan dari organisasi HAM internasional maupun lembaga penelitian lokal sering mencatat bahwa intoleransi di lingkungan Muslim bukan hanya berbasis pada perbedaan agama, tetapi juga pada perbedaan interpretasi terhadap ajaran Islam itu sendiri. (Setara Institute, 2. Fenomena ini diperparah dengan minimnya literasi keagamaan yang inklusif dan masih dominannya pendekatan tekstualliteral dalam memahami dalil. (Ulil Abshar Abdalla, 2. Peran Institusi dan Media Sosial dalam Dinamika Toleransi Lembaga keagamaan dan tokoh agama memiliki peran strategis dalam membentuk pandangan masyarakat tentang toleransi. Sayangnya, dalam beberapa kasus, institusi keagamaan justru terjebak dalam politik identitas dan memperkuat narasi eksklusivisme. Alih-alih menjadi jembatan perdamaian, sebagian lembaga ini berperan dalam membangun batas-batas identitas yang sempit dan berpotensi menimbulkan konflik sosial. (Robert W. Hefner, 2. Media sosial turut berperan dalam memperkuat polarisasi identitas Algoritma platform digital sering kali memperkuat echo chamber yang membuat pengguna hanya terpapar pada pandangan sejenis dan memicu penghakiman terhadap kelompok berbeda. (Zeynep Tufekci, 2. Dalam banyak kasus, informasi hoaks atau ujaran kebencian yang dikemas dalam simbol keagamaan dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik yang (Wahid Foundation, 2. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia menawarkan gambaran kompleks tentang toleransi Islam dalam praktik sosial. Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 satu sisi, nilai-nilai Pancasila dan keragaman budaya menjadi dasar bagi kehidupan yang toleran dan demokratis. (Ahmad Syafii Maarif, 2. Namun di sisi lain, sejumlah peristiwa intoleransi keagamaan menunjukkan adanya fragilitas dalam semangat kebinekaan tersebut. (Yudian Wahyudi, 2. Kasus pembubaran rumah ibadah minoritas, penolakan terhadap perayaan keagamaan tertentu, serta ujaran kebencian berbasis agama menjadi tantangan nyata bagi umat Islam Indonesia untuk merefleksikan kembali ajaran Islam yang rahmatan lil Aoalamin. (Komnas HAM, 2. Dalam konteks ini, munculnya gerakan Islam moderat dan dialog antaragama menjadi langkah positif yang perlu diperkuat secara struktural dan kultural. Kesenjangan antara Idealitas dan Realitas Kesenjangan antara idealitas ajaran Islam tentang toleransi dan realitas sosial umatnya merupakan persoalan kompleks yang melibatkan berbagai faktor-teologis, sosiologis, politik, dan historis. Ajaran normatif Islam secara jelas menekankan prinsip rahmah, kebebasan, dan keadilan dalam hubungan antarumat manusia, namun implementasinya di mencerminkan eksklusivisme, diskriminasi, dan bahkan kekerasan. (John L. Esposito dan Dalia Mogahed, 2. Faktor-Faktor Penyebab Kesenjangan Salah satu faktor utama adalah pendekatan tekstual-literal terhadap nash . eks agam. , yang cenderung mengabaikan konteks historis dan maqAid . ujuan-tujuan hukum Isla. Penafsiran yang sempit terhadap ayat-ayat al-QurAoan atau hadits seringkali digunakan untuk membenarkan perilaku intoleran, padahal ajaran Islam bersifat kontekstual dan mengandung nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, dan kebebasan beragama. (Khaled Abou El Fadl, 2. Faktor kedua adalah politisasi agama. Dalam banyak kasus, isu-isu keagamaan dimobilisasi untuk kepentingan politik identitas, baik oleh elit agama maupun kekuatan politikA. Hal ini menjadikan agama sebagai alat pemecah, bukan sebagai perekat sosial. Kampanye politik yang mengandalkan dikotomi AukamiAy versus AumerekaAy sering memperkuat sikap eksklusif dalam komunitas Muslim. (M. SyafiAoi Anwar, 2. Selain itu, rendahnya literasi keagamaan masyarakat juga memperparah kondisi Banyak umat Islam yang menerima informasi agama dari sumber-sumber yang Toleransi Dalam Islam: Antara Idealitas Ajaran Dan Realitas Sosial tidak kredibel atau tidak moderat, seperti media sosial dan kanal dakwah instanA. Hal ini mengurangi kemampuan umat untuk memahami ajaran Islam secara utuh dan kontekstual, serta memperbesar potensi radikalisasi. (Ahmad Suaedy, 2. Peran Pendidikan dan Dakwah dalam Menjembatani Kesenjangan Pendidikan Islam yang berbasis pada prinsip moderasi . merupakan kunci penting dalam menutup celah antara ideal dan realitas. Kurikulum keagamaan yang inklusif dan dialogis dapat menumbuhkan kesadaran bahwa toleransi bukanlah bentuk kompromi aqidah, tetapi ekspresi dari kemuliaan akhlak dan penghormatan terhadap sesama manusia. (Azyumardi Azra, 1999. Lembaga pendidikan, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi Islam, memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman keagamaan yang terbuka dan Begitu juga dengan lembaga dakwah yang harus mulai bergerak dari dakwah konfrontatif menuju dakwah persuasif yang menekankan sisi etika dan humanisme Islam. (Haedar Nashir, 2. Program-program seperti dialog antaragama, forum lintas iman, dan pelatihan literasi digital keagamaan dapat menjadi solusi praktis untuk membentuk masyarakat yang lebih toleran. Hal ini tidak hanya bertujuan menyelaraskan kembali praktik sosial dengan ajaran Islam, tetapi juga menegaskan bahwa Islam sebagai agama rahmat dapat hidup berdampingan dengan pluralitas. Simpulan Toleransi merupakan nilai fundamental dalam ajaran Islam yang bersumber dari wahyu ilahi, baik melalui Al-QurAoan maupun Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ajaranajaran tersebut tidak hanya menegaskan pentingnya hidup berdampingan secara damai, tetapi juga memberikan kerangka normatif yang mendukung prinsip-prinsip universal seperti kebebasan beragama, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keadilan Namun, dalam realitas sosial umat Islam dewasa ini, masih terdapat kesenjangan yang nyata antara nilai-nilai ideal ajaran Islam dan praktik kehidupan keagamaan seharihari. Berbagai bentuk intoleransi yang terjadi-baik antarumat beragama maupun intraumat Islam menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada teks keagamaannya, melainkan pada pemahaman, penafsiran, dan implementasinya di tengah Jurnal Dakwatul Islam Vol. 9 No. 2 Juni 2025 E-ISSN: 2828-5484 Faktor-faktor seperti literasi keagamaan yang rendah, politisasi agama, dan dominasi tafsir literalistik turut memperparah kesenjangan ini. Meski demikian, masih terbuka ruang yang luas untuk membangun kembali praktik keagamaan yang lebih inklusif dan toleran, melalui pendekatan pendidikan, dakwah yang humanis, serta penguatan institusi keagamaan yang moderat. Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara idealitas dan realitas toleransi dalam Islam dapat dengan Revitalisasi pendidikan Islam yang moderat, baik di lingkungan formal seperti sekolah dan pesantren, maupun informal melalui majelis taklim, dengan kurikulum yang menekankan nilai-nilai keislaman universal: rahmah, adil, dan toleran. Peningkatan kapasitas dakwah digital dengan menyiapkan dai dan konten keagamaan yang berbasis pada literasi digital dan narasi inklusif. Hal ini penting untuk mengimbangi arus informasi keagamaan yang ekstrem dan tidak berdasar. Penguatan lembaga keagamaan sebagai agen moderasi, dengan memperluas kerja sama lintas iman, serta pelatihan khusus bagi pemimpin agama agar memiliki sensitivitas terhadap isu-isu keberagaman dan hak asasi manusia. Penegakan hukum terhadap tindakan intoleran harus berjalan secara konsisten dan adil, guna memberikan efek jera serta menciptakan ruang publik yang aman bagi semua kelompok agama dan keyakinan. Mendorong riset dan publikasi ilmiah mengenai toleransi dalam Islam, baik secara historis maupun kontemporer, agar diskursus publik tidak didominasi oleh suara-suara ekstrem. Dengan langkah-langkah tersebut, harapannya umat Islam dapat mengembalikan posisi Islam sebagai agama rahmatan lil Aoalamin yang benar-benar membawa kedamaian dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Referensi