REMPUG TARUNG ADU TOMAT SEBAGAI IDENTITAS MASYARAKAT AGRIKULTUR KAMPUNG CIKAREUMBI Winda Ayu Ghaniyah Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jalan Buah Batu No. 212 Bandung 40265 agwinda@yahoo. ABSTRAK Suatu kegiatan budaya tentu memiliki tujuan dan karakteristik. Untuk mencapai tujuannya tersebut, para pelakunya memerlukan inovasi, kreatifitas, dan improvisasi yang terencana dengan baik dan Dalam penelitian ini, peneliti mengambil objek Perang Tomat, dengan kata lain Rempug Tarung Adu Tomat. Dengan modal inovasi dalam menanggulangi masalah, kegiatan budaya ini diakui masyarakat serta memiliki ciri khas tersendiri. Dalam hal ini, peneliti mengangkat tentang Rempug Tarung Adu Tomat Masyarakat Argrikultur Desa Cikareumbi. Bandung Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masyarakat dengan kebudayaannya terhadap lingkungannya, dalam hal ini sebuah ekosistem sebagai unit analisis. Dalam kajian ini konsep adaptasi menjadi konsep sentral antara manusia dengan kebudayaannya dengan lingkungan alam fisik dimana manusia itu hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dalam hal ini teknik pengumpulan data tersebut dilakukan dengan wawancara mendalam, pengamatan dan studi dokumentasi. Teori yang cocok digunakan dalam penelitian ini adalah teori Ekologi Budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan perilaku orang dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan. Relevansi semacam ini bagi studi mengenai lingkungan dan budaya terletak dalam pendapat bahwa pandangan orang . eopleAos cognitio. mengenai lingkungan merupakan bagian dari mekanisme yang menghasilkan perilaku fisik yang nyata serta identitas, lewat mana orang secara langsung menciptakan perubahan dalam lingkungan fisik mereka. Kata Kunci: Budaya. Identitas. Masyarakat Agrikultur. Perang Tomat. PENDAHULUAN Manusia dalam hidup kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna Manusia kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan Dengan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadangkala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan. Hubungan yang erat antara manusia . erutama Melville Herkovits Bronislaw Malinowski, yang mengemukakan bahwa cultural determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat masyarakat itu (Selo Soemardjan,1964: . Lebih jauh dapat dilihat dari defenisi yang dikemukakan oleh (E. Tylor, 1. dalam bukunya Primitive Culture: kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan kebiasaan-kebiasaan didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan lain didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normative. Oleh karena itu manusia yang mempelajari kebudayaan dari masyarakat, bisa membangun kebudayaan . dan bisa juga merusaknya . Setiap masyarakat memiliki budaya dan setiap budaya pasti ada masyarakat yang memilikinya. Masing-masing masyarakat seringkali memiliki budaya yang bersifat khas, yaitu hanya dimiliki oleh masyarakat tersebut, misalnya dalam bidang seni, angklung dan seruling sebagai ciri khas budaya sunda, tari Saman sebagai khas tarian Aceh, tari Barong ciri khas tarian Bali, dan Ciri khas perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan latar belakang masyarakat yang bersangkutan. Faktor-faktor penyebab perbedaan itu antara lain, faktor alam atau lingkungan geografis ialah faktor letak tata bumi, iklim, dan faktor alam Faktor alam ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan budaya. Misalnya musik angklung, calung dan suling pertama kali berasal dari Jawa Barat karena alam Jawa Barat menyediakan banyak bambu, sehingga dari bambu terinspirasi menjadi alat musik. Orang yang hidup di daerah dingin kecendrungan akan membuat dan mengenakan baju yang tebal, kain wool berasal dari Australia karena disana ditemukan banyak domba, dan sebagainya. Dengan demikian alam dapat mempengaruhi budaya suatu masyarakat. Kedua, faktor Kebiasaan. Kebiasaan yang ada di suatu masyarakat berbeda satu dengan yang lainnya, kadangkala apa yang boleh dalam masyarakat tertentu dilarang oleh masyarakat Misalnya di Jepang mengeluarkan bunyi desis dari mulut dianggap sebagai tanda penghargaan terhadap orang yang mempunyai derajat sosial yang lebih tinggi, sebaliknya di Inggris mengeluarkan bunyi desis dari mulut dianggap penghinaan. Ketiga. Faktor kedaerahan melahirkan budaya-budaya khusus . ub kultu. pada masyarakat yang tinggal di daerah berlainan satu sama lain. Misalnya kebiasaan yang berlaku pada masyarakat sunda akan berbeda dengan kebiasaan yang berlaku pada Minahasa. Padang. Keempat. Pelapisan Sosial. Pelapisan sosial atau strata sosial dapat mempengaruhi perbedaan kebudayaan golongan masyarakat, misalnya dulu golongan ningrat akan berbeda dalam bertutur kata, berpakaian dengan golongan rakyat biasa, masa sekarang juga antara kelas menengah ke atas akan berbeda cara bersikap, bergaul, berpakaian dengan orang kebanyakan. Namun disamping itu, kebudayaan akan terus hidup manakala masyarakat mau mempertahankannya, sebaliknya Dalam mempelajari kebudayaan selalu harus diperhatikan hubungan antara unsur-unsur yang mempengaruhi budaya itu cenderung bertahan atau berubah dan situasi serta kondisi yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan. Empat unsur kecenderungan bertahannya budaya adalah adanya unsur ideologi, unsur kepercayaan, unsur seni dan unsur bahasa. Sedangkan beberapa faktor, yaitu: rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada. sadar akan adanya kekurangan-kekurangan. usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. meningkatnya kebutuhan. adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup. sikap terbuka terhadap hal-hal baru . Bercermin pada fenomena seni tradisi dan budaya yang ada di masyarakat, tradisi perang tomat berawal dari kegelisahan seniman dengan melihat kondisi lingkungan sekitarnya. Perang tomat ini sebagai ritual buang sial untuk segala macam bentuk hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik maupun buruk bagi diungkapakan dengan melempar tomat atau membuang tomat yang sudah busuk. Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat pengembangan dari ritual yang sudah ada sejak lama. Sama halnya dengan beberapa faktor kecenderungan perubahan Yang mana dari beberapa faktor tersebut, menegaskan bahwa rasa tidak puas dengan situasi dan kondisi sekitar serta adanya kekurangan, beberapa pelaku budayanya harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan situasi dan kondisi yang ada. Dengan demikian akan tercipta suatu inovasi baru untuk keberlangsungan hidup. METODOLOGI Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan etnoekologi. Pendekatan etnoekologi pada dasarnya bertujuan melukiskan lingkungan sebagaimana lingkungan tersebut dilihat oleh masyarakat yang Asumsinya adalah bahwa Aulingkungan efektifAy . ffective environmen. yakni lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku manusia, bersifat kultural. Artinya, lingkungan tersebut merupakan lingkungan fisik yang telah diinterpretasi, ditafsirkan, lewat perangkat pengetahuan dan sistem nilai tertentu. Karena itu, lingkungan efektif sama dapat AudilihatAy dan AudipahamiAy kebudayaan yang berbeda. Lingkungan yang telah ditafsirkan ini. AuenvironmentAy Aucognized environment,Ay merupakan bagian dari suatu sistem budaya Environment dikodifikasi di dalam bahasa, sehingga untuk memahaminya kita harus memberikan pada bahasa seharihari dari masyarakat yang diteliti. Sistem pengetahuan suatu masyarakat mengenai lingkungan tersebut terwujud di dalam bentuk berbagai klasifikasi, kategorisasi dan taksonomi unsurunsur lingkungan. Karena itu berbagai konsep dan istilah yang menunjukkan klasifikasi mengenai lingkungan, pada dasarnya merupakan pintu terbaik guna mencapai sistem pengetahuan mengenai lingkungan tersebut (Ahimsa, 1997:. Sedangkan untuk penggunaan teorinya, memakai teori ekologi budaya dari Julian H. Steward. Dikarenakan penelitian ini mengambil subjek bidang Antropologi Ekologi, lebih jelasnya tujuan umum dari teori ini adalah untuk menjelaskan asal-usul ciri-ciri dan pola-pola tertentu yang tampak di berbagai daerah yang berlainan berusaha untuk menjelaskan apakah penyesuaian bentuk-bentuk memberikan ruang dan kemungkinan pada berbagai pola perilaku lain yang mungkin diwujudkan. Ada tiga langkah dasar yang perlu diikuti dalam studi ekologi budaya ini, yakni . melakukan analisis atas hubungan antara lingkungan dan teknologi pemanfaatan dan produksi. melakukan analisis atas Aupola-pola perilaku dalam eksploitasi suatu kawasan tertentu yang menggunakan teknologi tertentuAy dan . melakukan analisis pada Autingkat pengaruh dari pola-pola perilaku dalam aspek-aspek kebudayaan (Ahimsa, 1994: . PEMBAHASAN Perang Tomat atau Rempug Tarung Adu Tomat merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang ada pada acara ngaruat bumi di Kampung Cikareumbi. Desa Cikidang. Kabupaten Bandung Barat. kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas diberikan tanah yang subur dan air yang melimpah. Begitu banyak cara untuk mensyukuri hasil kekayaan alam bumi, salah satunya adalah upacara ngaruat bumi. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat RW 03. Kampung Cikareumbi. Desa Cikidang. Kecamatan Lembang. Kabupaten Bandung Barat. Upacara ngaruat bumi adalah sebuah tradisi warga setempat yang dilakukan setiap bulan Muharam tepatnya 14 Muharam. Upacara Ngaruat Bumi maupun Hajat Buruan oleh petani Cikareumbi yang tergabung dalam kelompok tani Kegiatan merupakan bentuk rasa syukur atas diberikan kelimpahan air untuk kesuburan tanah, sehingga tanaman pertanian sayursayuran Para serangkaian aktivitas dalam upacara melalui tahapan persiapan berupa ngamunikeun lembur, bakti solokan, kemudian kegiatan inti upacara Ngaruat Bumi. Ijab Kabul, serta tahap terakhir yaitu Hajat Buruan. Helaran dan Rempug Tarung Adu Tomat. Dalam Ngaruat Bumi terpisahkan dengan orientasi ekologi, sekalipun indikasi ekonomi turut mewarnai kegiatan tersebut. Orientasi ekologi yang dimaksud adalah upacara Ngaruat Bumi. Serangkaian kegiatan pemeliharaan sumber daya air yang berkualitas. Upacara yang berlangsung di sumber mata air dan sepanjang solokan, yaitu tahap persiapan sampai tahap inti, mencerminkan suatu tindakan pemeliharaan sumber daya air yang berkualitas. Kegiatan yang masyarakat untuk mengontrol dan memelihara keberadaan sumber daya air secara kolektif. Upacara Ngaruat Bumi maupun Hajat Buruan perkembangan zaman, dimana para pelaku menjalani hidup di zaman modernisasi. Selain itu, seremoni tradisi Ngaruat Bumi dapat menciptakan suatu identitas bagi daerahnya. Dalam acara ruatan terdapat sebuah acara unik namun memiliki makna tersendiri yaitu rempug tarung adu tomat atau biasa disebut perang tomat. Perang tomat merupakan upacara perayaan sebagai ungkapan membuang sial segala macam bentuk hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik maupun buruk bagi diungkapkan dengan melempar tomat atau membuang tomat yang sudah busuk. Dilihat dari akibat gagal panen, tomat yang dibiarkan begitu saja dan terinjak-injak menjadi sebuah inspirasi perayaan Perang Tomat ini berasal. Seperti yang di katakan oleh Seniman dan budayawan Nanu Munadjat (Abah Nan. AuPerang tomat sebagai pengembangan dari ritual yang sudah ada selama puluhan tahun. Akibat gagal panen, tomat membusuk dan terinjak-injakAy. Beliau mengusulkan perang tomat sebagai ritual buang sial atau membuang hal-hal buruk dengan melempar tomat. Maksud dan tujuan Rempug Tarung Adu Tomat adalah sebagai ungkapan membuang sial segala macam hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk/penyakit pada Dalam pribahasa adat setempat yaitu Aumiceun geugeuleuh keukeumeuhAy yang artinya mensucikan diri. Perang tomat sendiri diselenggarakan pertama kali pada tahun 2012 yang mempunyai beberapa rangkaian acara sebelum acara perang tomat, dari ngaruat bumi, hajat buruan dan perang Pelaku perang tomat adalah masyarakat Cikareumbi yang berprofesi sebagai petani. Dengan bergotong-royong saling bahu membahu mereka mempersiapkan ritual perang tomat dari dimulainya proses membersihkan desa, menghias desa hingga membuat perlengkapan perang tomat. Rempug Tarung Adu Tomat dilakukan setelah melalui upacara Nimang Topeng . lat perangkat peran. seperti topeng, tameng dan tomat busuk yang akan digunakan sebagai senjata saat Rempug Tarung Adu Tomat. Selain pelaku dan penari semua penonton yang hadir dapat berpartisipasi ikut dalam kegiatan itu. Dengan Kampung Cikareumbi agrikultur yang menghasilkan beberapa tanaman sayur-sayuran, salah satunya tomat. Meskipun di kampung-kampung sekitarnya terdapat petani-petani tomat, kampung Cikareumbi mampu memanfaatkan sumber daya alam yang di garapnya menjadi suatu daya tarik masyarakat dengan membangkitkan kesadaran, bahwa sayuran tomat tidak hanya sebagai komoditas belaka saja. Didukung dengan adanya beberapa faktor hambatan yang dapat merusak pertanian tomat, masyarakat atau petani sampai seniman yang sadar akan kesempatan yang ada dilingkungan sekitar memanfaatkan hal lain untuk membangkitkan kembali suatu hal yang pernah ada sebelumnya. Juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, dengan bentuk mensucikan diri sebagaimana maksud dan tujuan dari perang tomat tersebut. Dengan adanya adaptasi kultural terhadap lingkungan, hal itu dipandang sebagai suatu bentuk hubungan dialektik interplay. Satu hal hanya dapat dimengerti dalam konteks hubungan saling ketergantungan dengan yang lain. Lingkungan memainkan peranan yang kreatif dalam perilaku kebudayaan manusia. Lingkungan dan budaya bukanlah dua ranah yang berbeda. lingkungan dan budaya tidaklah bisa dilihat terpisah tetapi merupakan hasil campuran . ixed produc. yang berproses lewat Dengan kalimat lain, proses-proses ekologi memiliki hukum timbal balik. Budaya dan lingkungan bukanlah entitas yang masing-masing berdiri sendiri atau bukanlah barang jadi Namun Elemen-elemen kebudayaan yang paling erat terkait dengan lingkungan disebut Steward dengan Auculture coreAy, yaitu elemen-elemen yang berhubungan dengan kegiatan subsistens dan hubungan-hubungan ekonomi. Sedangkan elemen-elemen lain dipandang sebagai produk dari proses historis. Culture core atau inti kebudayaan yang dikemukakan oleh Steward adalah pranata sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi dan teknologi, dua unsur kebudayaan yang paling penting dan bagaimana adaptasi manusia dengan lingkungan dimana manusia itu hidup. Pada pola-pola Kampung Cikareumbi, masyarakatnya tergolong pada masyarakat adaptasi pedesaan yang mana mereka memiliki tradisi yang kuat dan mereka menjunjung kebersamaan. Hidup bahu-membahu dan bekerja sama mulai dari menanam, mengolah hingga memanen. Masyarakat bertani dulu memiliki pola pemukiman menetap tidak berpindah-pindah. Masyarakat bertani, beradaptasi dengan lingkungannya dengan cara melihat kesediaan sumber daya alam seperti tanah subur, iklim dingin dan ketersediaan sumber daya manusia seperti misalnya pada kasus penelitian ini menanam tomat, mengolah tomat, dan memanen tomat dapat dikerjakan secara bersama-sama. Terlihat ketika hasil panen berlimpah ruah, tentunya para petani akan merasa terbayar dengan hasil panennya tersebut. Namun jika hasil panen yang didapat mengalami kegagalan, tanaman terserang hama dsb, para petani akan merasakan kerugian yang sangat amat besar. Maka dari itu masyarakat agrikultur di Kampung Cikareumbi ini, sudah sadar betul kemungkinan-kemungkinan dikemudian harinya. Mereka sadar dengan mengusung hidup bahu-membahu, bergotong-royong. Bukan hanya para petani tomat saja, para petani di sektor sayuran lainnya juga sudah sadar dengan prinsip hidup saling bahu-membahu dalam segala hal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, maksud dan tujuan perang tomat itu, untuk membuang sial. Tomat-tomat yang gagal panen dimanfaatkan dengan kreatif oleh pelaku budayanya, untuk menghindari tumbuhnya hama dan penyakit yang dapat menyerang tumbuhan dan lingkungan sekitarnya. Jika kita melek dengan keadaan lingkungan sekitar. Kampung Cikareumbi merupakan daerah yang cukup subur untuk ditanami berbagai macam tumbuhan dan sayuran. Jika beberapa tanaman dan tumbuhan yang mempunyai skala besar dalam panen serta mengalami gagal panen, tentunya akan menimbulkan suatu hal yang tidak diinginkan para petaninya. Dengan bermodalkan lingkungan sekitar, kesadaran serta inovasi yang ada di masyarakat, mereka memanfaatkan pola-pola perilaku kehidupan . Pola masyarakat agrikultur Kampung Cikareumbi tentunya sebagai masyarakat pedesaan yang melakukan bercocok tanam di sektor Pemanfaatan lingkungan yang terjadi di Kampung tersebut, tidak hanya terfokus pada masalah sayuran saja. Tetapi mereka sudah melirik ranah wisata agrikultur untuk menarik para wisatawan, masyarakat sekitar, dan para bandar sayuran. Dengan adanya perkembangan ritual yang sudah dilakukan sejak dulu, perang tomat di bangkitkan kembali dengan inovasi baru. Di kawasan Bandung Barat, sangat banyak wisata agrikultur yang menyajikan beberapa ke khasan dari Kampung/Desa Tidak jarang wisatawan yang datang ke lokasi wisata agrikultur hanya untuk menikmati pengolahan tanaman dan tumbuhan-tumbuhan saja. Disisi lain tak jarang juga para wisatawan berprofesi sebagai bos atau pemilik suatu usaha retail sayuran dari luar kota yang mencari bibit unggul serta hasil tanaman dan tumbuhan ke daerah Bandung Barat. Dengan adanya perang tomat ini, dapat menarik perhatian para wisatawan untuk mengunjungi Kampung ataupun wilayah mereka, sehingga para wisatawan dapat mengetahui sektor tanaman dan tumbuhan apa saja yang ada di wilaya Desa Cikidang. Bukan hanya wisatawan saja, dengan adanya perang tomat ini menjadikan identitas Kampung Cikareumbi. Hal tersebut sering sekali banyak media lokal, mau itu media cetak ataupun media harian online, meliput kegiatan rangkaian acara Ngaruat Bumi di Kampung Cikareumbi. Dengan diselenggarakan Dikarenakan memanfaatkan lingkungan . yang ada disekitarnya menjadi suatu hal yang dapat mendatangkan perubahan para aspek-aspek selain kebudayaan dan bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman. KESIMPULAN Penelitian kebudayaannya terhadap lingkungan, dalam hal ini sebuah ekosistem sebagai unit analisis. Objek penelitian ini merupakan suatu kegiatan dari rangkaian acara Ngaruat Bumi yaitu Rempug Tarung adu Tomat. Yang mana dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari pemanfaatan lingkungan . disekitar masyarakatnya tinggal. Beberapa aspek pendukungnya mulai dari tekhnologi, eksploitasi, dan pemanfaatan lingkungan kawasan sekitar menjadikan inovasi masyarakat untuk melestarikan aspek budaya sebagai saran melestarikan kebudayaannya dan sarana mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Hal tersebut dapat diartikan bahwa manusia dan lingkungan . tidak bisa Dalam kajian ini konsep adaptasi menjadi konsep sentral antara manusia dengan kebudayaannya dengan lingkungan alam fisik dimana manusia itu hidup. Hubungan manusia dan lingkungan dipengaruhi oleh pola-pola kebudayaan yang dimiliki oleh manusia yang dijadikan pedoman baginya untuk bertingkah laku dan bertindak. Dengan kebudayaan ini manusia beradaptasi dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya. Dengan menggunakan kebudayaan inilah manusia beradaptasi dengan lingkungannya. Hal kebudayaan tersebut menjadi suatu identitas bagi suatu kelompok DAFTAR PUSTAKA