EduMentis Journal of Learning and Mind Development DOI: https://doi. org/10. 61477/edumentis. Vol. Issue. June 2025. PP : 12-26 Received. 07 May 2025. Accepted. 05 June 2025. Published. 10 June 2025 MAKNA TRADISI MANGARU BAGI PEMUDA (Studi di Desa Mone Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tenga. Hazirun1. Akhiruddin2. Muh. Reski Salemuddin3 1,2,3Prodi Pendidikan Sosiologi. Universitas Megarezky. Makassar. Indonesia Correspondence* 1E-mail: hazirunafi@gmail. 2E-mail: akhiruddin114@unimerz. id , 3E-mail: muhrezkysalemuddin@unimerz. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Makna Tradisi Mangaru bagi pemuda, . Respon pemuda terhadap Tradisi Mangaru, dan . Upaya tokoh adat dalam melestarikan Tradisi Mangaru di Desa Mone Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan memilih informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan-petimbangan tertentu yang diperoleh melalui studi pustaka, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Terhadap data yang diperoleh selanjutnya diuji keabsahan datanya dengan cara triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . Makna tradisi mangaru yaitu sebagai simbol kepahlawanan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas keberkahan dan rezeki yang diberikan melalui hasil panen setiap tahunnya, memupuk persaudaraan dan silaturahmi antar sesama serta sebagai penghormatan kepada tamu . Respon pemuda terhadap tradisi mangaru memuculkan repon positif dan respon negatif. Respon positif yaitu keberadaan tradisi mangaru sangat penting untuk selalu dilaksanakan karena mangaru ini memiliki kearifan lokal tersendiri bagi masyarakat Mone sehingga perlu adanya pergelaran mangaru agar di generasi kedepannya dapat mengetahui bahwa Desa Mone itu memiliki kebudayaan sendiri. Respon negatif yaitu penggunaan benda tajam berdampak negatif bagi masyarakat karena memberikan contoh buruk kepada generasi muda bahkan bisa berakibat fatal terhadap para pemain dan penonton . Upaya tokoh adat dalam melestarian tradisi mangaru pada masyarakat Desa Mone yaitu: Sosialisasi dan Pelatihan. Sosialisasi dilakukan kepada seluruh masyarakat pada umumnya dan kepada keluarga pada Pelatihan berupa dibentuknya sanggar-sanggar seni untuk mengajarkan dan mempraktekan seni tari mangaru agar tetap eksis dan lestari. Kata kunci: Tradisi Mangaru. Pemuda Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 12 | Page PENDAHULUAN Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan ragam budaya, adat istiadat, dan tradisi yang beraneka ragam yang merupakan kebanggaan bangsa Indonesia dengan perbedaan bahasa, suku, ras, maupun agama yang berbedabeda. Tradisi berasal dari kata traditium pada dasarnya berarti segala sesuatu yang di warisi dari masa lalu. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek, material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi berikutnya seperti adat istiadat, kesenian, dan properti yang digunakan (Delvia, 2020, h: . Setiap masyarakat memiliki budaya serta adat istiadat. Bahkan setiap daerah atau pulau yang memiliki penghuni pasti memiliki cara tersendiri atau metode yang berbeda dalam memahami kehidupan sesuai dengan budaya atau kepercayaan yang dibawa oleh nenek moyangnya masing-masing, misalnya tradisi mangaru. Berbagai macam budaya atau kepercayaan tersebut dapat menimbulkan respon kepada masyarakat disekitarnya. Keberadaan manusia sebagai makhluk individu tidak terlepas dari kontrol sosial yang dilakukan oleh masyarakat sebagai makhluk sosial, dimana makhluk sosial tersebut manusia hidup tidak terlepas dari bantuan orang lain, penilaian positif maupun negatif dari orang lain maupun kelompok komunitas yang mendiami suatu wilayah. Desa Mone adalah salah satu desa tertua di wilayah kecamatan Lakudo yang dahulunya merupakan bagian dari Desa Lolibu dan pada saat itu dipimpin oleh La Ode Mane yang sekarang dikenal dengan sebutan Yarona Mone. Seiring dengan perkembangannya, desa Mone dikategorikan sebagai salah satu desa yang cukup maju perekonomiannya dan memiliki wilayah yang cukup luas. Luas wilayah Desa Mone A 25 kmA yang terdiri dari 40 % berupa pemukiman, 25 % berupa daratan yang digunakan untuk lahan pertanaian serta 35 % berupa lahan budidaya perikanan. Pada Tahun 2011 desa Mone dimekarkan menjadi dua desa yaitu desa Mone dan desa Teluk Lasongko. Desa Mone sendiri memiliki seni budaya tradisional yang cukup melekat yaitu tradisi Mangaru. Tradisi mangaru sendiri pada prinsipnya, dijadikan sebagai salah satu warisan leluhur dan sebagai salah satu kebudayaan tradisional yang cukup Baik dalam bentuk simbol pertunjukan dan kebanggaan pada pentaspentas seni budaya tradisional maupun dalam bentuk kesakralan bagi pihakpihak yang terlibat dan berpartisipasi dalam pertunjukan pada pentas-pentas seni budaya tradisonal . Tradisi mangaru adalah tarian yang ditampilkan oleh dua orang laki-laki atau lebih dengan gerakan berjingkrak-jingkrak memutari lawannya satu sama lain untuk adu uji nyali dan ilmu kebal badan dengan menggunakan senjata tajam berupa pisau keris, pisau badik, dan pisau belati disertai tabuh beduk bertaluhtaluh ditengah-tengah lingkaran kumpulan masyarakat penonton. Pisau keris dan pisau badik dalam bahasa lokal disebut leko. Tari Mangaru merupakan bagian dari tradisi CumpeAoa . esta kampun. yang diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas melimpahnya hasil panen yang dilaksanakan setiap tahun, di dalamnya terdapat Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 13 | Page berbagai ritual foniano te sangia . iarah kubur tokoh masyarakat yang disakralka. dan tarian . ari Mangar. yang secara turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat desa Mone, kecamatan Lakudo, kabupaten Buton Tengah. Provinsi Sulawesi Tenggara. Fenomena yang terjadi saat ini, kehidupan generasi muda sebagai generasi penerus kebudayaan semakin kurang tertarik dengan hal-hal yang berbau tradisi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya tradisi dianggap tidak ngetrend dan terkesan kuno sehingga trasdisi ini hanya milik generasi sebelumnya saja. Generasi muda saat ini lebih cenderung tertarik dengan tari-tarian moderen seperti dance. K-pop. R&B dan lain sebagainya. Hal ini berbanding terbalik dengan wisatawan asing yang menganggap bahwa hal tersebut unik. Banyak dari mereka yang ingin mempelajari lebih tentang seni dan budaya tradisional. Banyak hal yang menjadikan pemuda kurang tertarik terhadap tradisi, khususnya tradisi tari mangaru. Dari segi pelaksanaannya yang hanya ditampilkan satu kali satu tahun saat panen tiba serta kurangnya informasi dan pengetahuan para generasi muda terhadap tradisi tersebut. Hal ini menjadikan generasi muda di Desa Mone kurang antusias dan berminat terhadap tradisi tari mangaru tersebut. Padahal, tradisi mangaru ini sudah dikenal oleh masyarakat Desa Mone dan desa-desa sekitarnya yang tersebar di Kecamatan Lakudo. Para pemuda masih banyak yang tidak mengetahui makna dan tujuan yang terkandung di dalam tradisi mangaru tersebut. Pada dasarnya pemuda merupakan pewaris generasi yang seharusnya memilik nilai-nilai luhur, bertingkah laku baik, berjiwa membangun, cinta tanah air serta memiliki visi dan tujuan positif. Pemuda harus mempertahankan tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas bangsa terutama di daerahnya sendiri. Atas dasar kondisi tersebut, maka penulis merasa perlu untuk melakukan kajian mengenai keberadaan tradisi mangaru yang ada di masyarakat, melalui suatu penelitian dengan judul: AuMakna Tradisi Mangaru Bagi Pemuda (Studi Di Desa Mone Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tenga. Ay METODE Dalam Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiyono . Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang datanya berupa kata, tertulis, uraian yang diperoleh dari responden, dan perilaku subjek yang diamati. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menemukan pemecahan masalah yang ada berdasarkan data-data, juga menyajikan data, menganalisis dan (Rully Indrawan, 2014:. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Makna Tradisi Mangaru Bagi pemuda Salah satu komponen masyarakat yang mampu melakukan perubahan, pembaruan, serta gebrakan ke arah yang lebih baik di dalam masyarakat adalah Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 14 | Page pemuda. Dimana keberadaan pemuda ini sangat diharapkan memiliki energi dan sinergitas dengan berbagai komponen lainnya untuk melahirkan sebuah konsep pemikiran yang positif bagi pembangunan di masyarakat, sehingga tidak heran kalau diberbagai aktifitas keberadaan pemuda menjadi tumpuan dan harapan bagi masyarakat. Dengan ide yang masih cemerlang, energis, idealis, inovatif dan seluruh aspek yang melekat pada pemuda harus mampu memposisikan dirinya di dalam masyarakat termasuk perubahan-perubahan sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat (Magasi, 2. Keberadaan tradisi mangaru . ari peran. di Desa Mone, di mata pemuda sendiri merupakan tradisi yang sudah cukup lama dan sudah menjadi ciri tersendiri bagi masyarakat Desa Mone yang merupakan bentuk perubahan sosial yang perlu di cermati perkembangannya. Dalam hal ini keberadaan tradisi mangaru . ari peran. tersebut sangat penting untuk selalu dilaksanakan karena mangaru ini memiliki kearifan lokal tersendiri bagi masyarakat Mone sehingga perlu adanya pergelaran mangaru agar di generasi kedepannya dapat mengetahui bahwa Desa Mone itu memiliki kebudayaan sendiri. Keberadaan tradisi mangaru . arian peran. memberikan respon makna yang beragam diantara pemuda yang ada di Desa Mone. Sebagai pemuda yang mampu melakukan perubahan, pembaruan, serta gebrakan kearah yang lebih baik di dalam masyarakat. Dengan adanya keberadaan tradisi mangaru . arian peran. , sebagian pemuda menafsirkan makna tradisi mangaru dari berbagai sudut pandang sebagaimana dengan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan pemuda di Desa Mone yakni La Anto . yang mengatakan bahwa : AuKalau menurut saya pribadi tradisi tari mangaru itu adalah sebuah tari yang bermakna menunjukkan keberanian, rasa syukur dan saling menghargai. Kenapa seperti itu? seperti kita ketahui dari gerak yang dilakukan dalam tari mangaru itu menunjukkan bahwa semangat yang dilakukan pada saat Seiring perubahan zaman semangat keberanian itu sekarang bertambah lagi dengan adanya rasa syukur. Kenapa ada rasa syukur? tari mangaru ini dilakukan pada saat misalnya kegiatan panen raya, jadi kebahagiaan itu, rasa syukur itu, bagaimana caranya untuk meluapkan rasa syukur itu dengan mengadakan tari mangaru. Jadi maknanya sangat luar biasa bahkan sampai saat ini pun tidak hanya sampai dilakukan untuk kegiatan panen tapi bergeser pada kegitan penyambutan tamu dan hal-hal yang bersifat positif. Ay . awancara 1 Agustus 2. Menurut pernyataan La Anto, salah satu informan dalam penelitian ini, melihat makna tari mangaru sebagai sebuah keberanian, rasa syukur dan saling Sebuah keberanian karena dalam tari mangaru menampilkan sikap kesatria uji nyali dan uji ilmu kebal yang tidak semua orang memiliki kemauan dan kemampuan untuk berlaga saat prosesi tari mangaru di laksanakan. Dalam tari mangaru menggunakan alat-alat benda tajam asli berupa keris, badik atau Selain itu setiap peserta harus ahli dan memiliki kemampuan dalam ilmu bela diri. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 15 | Page Makna saling menghargai dari tari mangaru terlihat juga saat berlaga di Saat masuk ke arena, peserta tari mangaru memberikan penghormatan kepada seluruh penonton. Selain itu, saat lawan main tidak memiliki alat, maka lawan main akan memberikan alat atau sama-sama berlaga tanpa menggunakan menggunakan alat. Makna saling menghargai juga terlihat saat berlaga, jika lawan main terjatuh atau terluka maka lawan main akan berhenti sejenak dan langsung menolong. Makna serupa diungkapkan oleh informan Tamrin 30 tahun yang mengatakan bahwa : AuTari mangaru pada prinsipnya adalah tari tentang peperangan. Dimana ini bisa berarti tentang kepahlawanan, bisa juga berarti tentang ilmu kebatinan dimiliki oleh orang-orang terdahulu. Banyak aspek didalamnya sebenarnya menurut saya. Tapi setelah di gerus oleh pergerakan waktu maka hari ini ternyata tari mangaru ini sudah digunakan untuk misalnya pada saat-saat pesta panen. Bahkan sudah diadakan untuk penyambutan tamu-tamu penting. Demikian untuk pemikiran saya terhadap tari Ay . awancara 1 Agustus 2. Berdasarkan wawancara di atas dapat menunjukan bahwa makna tari Selain makna tari mangaru sebagai sebuah keberanian, rasa syukur, saling menghargai, kepahlawanan dan ilmu kebatinan. Tari mangaru juga bermakna untuk membela diri. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh ramlah 26 tahun sebagai berikut AuMakna tradisi mangaru menurut saya adalah untuk membela diri. Para penari itu memperlihatkan gaya mereka seakan-akan berperang tetapi dalam gaya seni. Jadi dengan seni tersebut maka orang-orang bisa melihat atau menyaksikan tidak merasa takut karena perang tersebut. Tetapi mereka melihat dengan gaya etnis tariannya itu yang cukup bagus dengan gaya-gaya yang begitu patah-patah, sehingga kesannya itu tidak menakutkan karena ini merupakan sebuah seni. Ay . awancara 2 Agustus Berdasarkan wawancara di atas, menunjukan makna tradisi adalah sebagai usaha untuk membela diri. Karena pada dasarnya, saat tari mangaru ini di mainkan, selain memiliki kemampuan untuk mengalahkan lawan main, pemain juga harus berusaha untuk membela diri dalam duetnya. Jika ditilik dari sudut kepemimpinan di masyarakat, seorang pemimpin selain bisa menjaga keluarga dan masyarakat yang dipimpinannya dari ancaman dari luar, pemimpin juga harus bisa menjaga sikap dan tingkah lakunya dari hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Selain itu, tujuan dari tari mangaru sesungguhnya adalah ritual untuk mencari cikal bakal seorang pemimpin yang dilaksanakan saat panen raya setiap Namun sekarang tradisi mangaru beralih tujuan yakni sebagai seni pertunjukan untuk memperlihatkan bagaimana prosesi pemilihan pemimpin pada masa itu. Sekalipun tradisi mangaru sudah berubah dari tujuan sesungguhnya. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 16 | Page namun kesakralan dari tradisi tari mangaru itu sendiri masih sangat kental dan terasa bagi yang menyaksikan dan berperan dalam tradisi mangaru tersebut. Ikram 22 tahun menjelaskan makna tari mangaru adalah ajang untuk mencari laki-laki sejati untuk dijadikan sebagai pemimpin pada masyarakat Desa Mone pada saat itu. Informan mengatakan : Ausebenarnya kalau menurut saya, itu maknanya lebih ke mencari laki-laki sejati ya. Jadi di mana mangaru ini tujuan awalnya kan untuk mencari pelindung, pelindung dari suatu kampung yang dituakan sebagai laki-laki. Jadi, maknanya itu menurut saya mencari laki-laki sejati sebagai yang bisa dituakan di suatu kampung. Ay . awancara 4 Agustus 2. Hal ini senada yang di ungkapkan oleh Dian 22 tahun, informan melihat makna tari mangaru sebagai ajang untuk mencari laki-laki kesatria untuk dijadikan sebagai pemimpin di sebuah kelompok dan terkhusus pemimpin dalam keluarga. Seperti yang disampaikan : AuMakna tari mangaru adalah untuk mencari laki-laki kesatria yang berilmu kebal yang telah diuji kejantanannya yang dipilih sebagai pemimpin. Misalnya, kepala keluarga seperti itu. Ay . awancara 5 Agustus 2. Hal serupa disampaikan oleh informan Karim 29 tahun, seperti AuMakna tari mangaru itu adalah simbol kelaki-lakian. Keberanian keberanian seorang lelaki atau penduduk yang bisa mempertahankan tatanan kehidupan di desa atau di distriknya pada zaman dahulu itu. Jadi siapa pun yang bisa atau berani dalam menghadapi serangan dari lawan saat itu, itulah yang disebut dengan orang-orang tangguh yang bisa menjaga kelangsungan hidup mereka. Karena pada dasarnya manusia ingin hidup itu sudah menjadi kodrat. Setiap manusia atau setiap manusia memiliki keinginan untuk hidup. Setiap manusia punya insting untuk hidup. Jadi sekarang ini kan sudah dijadikan sebuah seni tari tapi tujuannya adalah untuk mengingat atau mempertahankan supaya tidak hilang tradisi Ay . awancara 7 Agustus 2. Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa makna tari mangaru disimbolkan dengan kelaki-lakian. Laki-laki di sini menyimbolkan keberanian dan keperkasaan. Karena tujuan tari mangaru sesungguhnya adalah sebagai ajang untuk mencari pemimpin atau ketua di sebuah distrik pada masa Dalam tari mangaru dibutuhkan seseorang laki-laki yang kuat, tangguh dan berani untuk menghadapi serangan lawan. Selain makna dari tari mangaru itu untuk mencari sosok pemimpin. Habiba, 22 tahun melihat makna tari mangaru untuk meningkatkan persaudaraan. Hal ini tergambar dari wawancara berikut : Aumaknanya untuk meningkatkan persaudaraan karena tradisi itu diadakan sekali setahun dan setiap yang merantau pulang kampung hanya untuk menonton tari tradisi itu. Ay . awancara 8 Agustus 2. Informan melihat makna tari mangaru untuk meningkatkan persaudaraan. Tradisi tari mangaru ini hanya diadakan sekali setahun yakni pada saat musim Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 17 | Page panen. Tari mangaru menjadi ajang berkumpulnya keluarga dan mempererat tali silaturrahim antar keluarga dan handai taulan. Dengan diadakannya ritual tradisi tari mangaru ini, maka para perantau akan kembali ke kampung halamannya (Desa Mon. Tujuan utamanya, selain menyaksikan tradisi ini, tidak kalah penting mereka akan berjumpa dengan teman, sahabat, dan keluarga. Dengan demikian ikatan kekelurgaan semakin dekat dan tali silaturrahim tetap terjaga. Lain halnya yang di ungkapkan oleh Informan Madame 27 tahun. melihat makna tari mangaru sebagai tarian Kesultanan Buton yang berfungsi sebagai tari penyambut tamu-tamu kehormatan pada masa Kesultanan Buton. Informan mengungkapkan : Aukalau makna tari mangaru, sepengetahuan saya ketika waktu di zaman Kesultanan bila ada para tamu dari luar misalnya para sultan itu selalu dijemput dengan tari mangaru. Yang kedua ketika mungkin itu Sultan pergi atau berkunjung ke daerah-daerah atau kadie-kadie itu selalu dijemput atau disambut dengan tari mangaru. awancara 10 Agustus 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas, menjelaskan bahwa makna tari mangaru adalah sebagai tari penyambutan tamu-tamu kesultanan Buton. Setiap tamu yang hadir atau setiap kegiatan adat kesultanan Buton pada saat itu, selalu di sambut dengan tarian mangaru ini. Sehingga tidak mengherankan, hampir semua kebudayaan yang ada di Desa Mone dan daerah-daerah wilayah kekuasaan kesultanan Buton, banyak diadopsi dari sana. Termasuk tari Mangaru, menurut Sebagian tokoh sejarah menuturkan bahwa tari mangaru merupakan tarian Kesultanan Buton. Respon Pemuda Terhadap Tradisi Mangaru Respon secara pemahaman luas dapat diartikan pula Ketika seseorang memberikan reaksinya melalui pemikiran, sikap, dan perilaku. Sikap yang ada pada diri seseorang akan memberikan warna pada perilaku atau perbuatan Berdasarkan penjelasan di atas, maka hasil penelitian berkaitan dengan respon masyarakat terhadap tradisi mangaru . arian peran. , menghasilkan dua respon yaitu respon positif dan respon negatif. Respon Positif Salah satu komponen masyarakat yang mampu melakukan perubahan, pembaruan, serta gebrakan kearah yang lebih baik di dalam masyarakat adalah Dimana keberadaan pemuda ini sangat diharapkan memiliki energi dan sinergitas dengan berbagai komponen lainnya untuk melahirkan sebuah konsep pemikiran yang positif bagi pembangunan di masyarakat, sehingga tidak heran kalau diberbagai aktifitas keberadaan pemuda menjadi tumpuan dan harapan bagi masyarakat. Dengan ide yang masih cemerlang, energis, idealis, inovatif dan seluruh aspek yang melekat pada pemuda harus mampu memposisikan dirinya di dalam masyarakat termasuk perubahan-perubahan sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat (Magasi, 2. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 18 | Page Keberadaan tradisi mangaru . ari peran. memberikan respon yang beragam diantara pemuda yang ada di Desa Mone. Sebagai pemuda yang mampu melakukan perubahan, pembaruan, serta gebrakan kearah yang lebih baik di dalam masyarakat. Dengan adanya keberadaan tradisi mangaru . ari peran. , tidak semua memberikan tanggapan negatif tetapi ada juga yang memberikan tanggapan positif hal ini sebagaimana dengan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan pemuda di Desa Mone yakni bernama Tamrin 30 tahun yang mengatakan bahwa: AuRespon saya tentang tradisi tari mangaru itu adalah tari yang patut kita Karena kandungan yang ada dalam tari mangaru itu atau inti dari tari mangaru itu harus ditanamkan di jiwa-jiwa generasi muda hari ini. Tari mangaru yang menggambarkan tentang kepahlawanan tadi harus ditanamkan di generasi muda saat ini karena biar bagaimana mereka harus tahu semangat kepahlawanan yang ada di pendahulu-pendahulu kita dulu itu, seperti itu. Ay . awancara 1 Agustus 2. Menurut pernyataan Tamrin, salah satu pemuda di Desa Mone mengatakan bahwa respon yang diberikan cenderung ke arah yang positif, dimana dapat di lihat dari pernyataannya yang merespon tentang pelestarian tari mangaru. Cara melestarikan tari mangaru adalah dengan mengetahui makna tari mangaru itu sendiri dengan memperkenalkan ke generasi muda saat Berdasarkan hasil wawancara di atas, informan sangat setuju dan cenderung memberikan tanggapan positif tentang pelestarian tari mangaru. Pelesatrian tari mangaru ini tidak terlepas dari uniknya tradisi ini dan sangat disayangkan jika suatu saat akan hilang dan tidak ditahu lagi generasi yang akan Kareana tradisi tari mangaru ini hanya di miliki oleh masyarakat Buton pada umumnya dan masyarakat Desa Mone pada khususnya. Respon Negatif Selain respon positif dari pemuda di Desa Mone, juga terdapat respon Hal ini diungkapkan oleh La Anto 24 tahun melihat dari sudut pandang tentang dampak atau efek dari kemajuan globalisasi tentang menurunya eksisitensi tari mangaru terhadap pemuda. Informan mengatakan bahwa: AuSaat ini eksistensinya sudah mulai menurun ya, entah faktor pengaruh globalisasi mungkin? bisa jadi pengaruh globalisasi karena ke sini lagi eksistensinya semakin menurun. Minat dari pemuda-pemuda pun sudah terlihat kurang respon terhadap tradisi ini. Mereka lebih cenderung bermain game yang untuk hal-hal yang lebih lebih membuang waktu ketimbang dia melestarikan apa yang harus dilestarikan sendiri khususnya budaya tari mangaru tersebut. Ay . awancara 1 Agustus 2. Berdasarkan hasil wawancara di atas informan justru melihat bahwa eksistensi tari mangaru semakin hari semakin menurun. Hal ini terlihat dari kurang antusiasnya sebagian pemuda saat prosesi tradisi ini di laksanakan. Para pemuda kurang mengambil bagian, bahkan tidak terlibat langsung dalam kegiatan. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 19 | Page Mereka cenderung menghabiskan waktu untuk main game ketimbang menonton atau menyaksikan bahkan kurang respon terhadap tradisi tari mangaru saat di laksanakan. Hal ini tidak terlepas dari efek kemajuan globalisasi yang hampir memasuki semua lini dalam kehidupan. Sebagian pemuda menilai bahwa menyaksikan tradisi tari mangaru hanya menghabiskan waktu dan pekerjaan yang sia-sia. Bahkan sebagian menilai bahwa tari mangaru sudah kuno dan ketinggalan zaman. Selain itu tanggapan negatif juga muncul dari hasil wawancara bersama pemuda atas nama Ikram 22 tahun. Informan mengungkapkan hal yang serupa tentang kurang antusisnya pemuda terhadap tradisi tari mangaru akibat dari perkembangan globalisasi. Pemuda cenderung cuek dan acuh tak acuh, bahkan malas untuk menonton serta menyaksikan atau terlibat langsung dalam prosesi pelaksanaan tradisi tari mangaru tersebut. Seperti hasil wawancara berikut : AuKalau respon sendiri ya namanya respon ada dua ya ada positif dan Kalau sisi negatifnya mungkin menurut saya adalah ketika ini sudah dilakukan . adisi tari mangar. tapi kadang sudah tidak berminat lagi dari masyarakat untuk ikut, baik untuk menonton, baik itu untuk melihat, yang sekarang itu karena anak-anak sekarang kan sudah jarang mau ikut lihat-lihat yang seperti ini. Ay . awancara 4 Agustus 2. Selain itu Wa Nasria 25 tahun, menilai tradisi tari mangaru dari sudut pandang penggunaan barang-barang tajam dalam pelaksanaanya. Informan cenderung melihat hal negatif seperti ungkapannya: AuKalau tidak setujunya itu tadi, kalau masih menggunakan benda-benda tajam saya rasa untuk sekarang ini sudah tidak pantas karena sudah memberi contoh yang tidak baik untuk masyarakat. Ay . awancara 12 Agustus 2. Berdasakan hasil wawancara di atas, dapat dikatakan bahwa pemuda tersebut memberikan respon negatif terkait penggunaan benda-benda tajam dalam pelaksanaan tradisi tari mangaru. Penggunaan barangbarang tajam seperti pisau, keris atau badik bisa berefek buruk bagi masyarakat, khusunya para pemain dan masyarakat penonton. Penggunaan barang tajam dalam permainan tari ini, sudah tidak pantas untuk zaman sekarang, karena sama saja memberikan contoh tidak baik di Apalagi yang menyaksikan tradisi ini, mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua serta tidak di batasi usia. Berdasarkan hasil wawancara tentang respon sebagian pemuda Desa Mone Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah tentang tradisi tari mangaru dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa Sebagian besar pemuda merespon baik dan positif tentang tari mangaru. Dalam tanggapannya sebagian besar menekankan pada pelestarian tradisi tari mangaru agar tidak hilang dan tetap dilaksanakan setiap tahunnya agar anak cucu tetap mengetahui tradisi peninggalan nenek moyangnya. Selain tanggapan positif, tanggapan negatif juga muncul tanggapan dari beberapa pemuda Desa Mone yang menekankan pada penggunaan alat-alat tajam dalam pelaksanaanya. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 20 | Page Upaya Tokoh Adat Dalam Melestarikan Tradisi Mangaru (Tarian Peran. Tradisi merupakan pewarisan norma-norma, kaidah-kaidah, serta kebiasaankebiasaan. Tradisi tersebut bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah. Tradisi justru dapat dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Karena manusia yang membuat tradisi maka manusia juga yang dapat menerimanya, menolaknya dan mengubahnya. Bentuk pengembangan ataupun pelestarian tradisi mangaru . arian peran. yang diupayakan oleh tokoh adat tersebut, diantarannya: Sosialisasi Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak La Asa Baru 78 tahun menyatakan AuTradisi tari mangaru tidak akan pernah punah dan hilang, karena apa? Anaknya mereka sendiri yang dia bina secara turun temurun. Anaknya sendiri dan memang kebanyakan yang begitu dia ambil turunannya. Makanya mereka itu pada saat umur-umur yang remaja itu dia sudah di didik, dia didik full bagaimana menggunakan parang, bagaimana menggunakan keris, begitu. Jadi, sehingga turun temurun itu tidak pernah Ay . awancara 15 Agustus 2. Dari kutipan wawancara di atas dapat di tarik kesimpulan bahwasanya upaya yang dilakukan oleh tokoh adat Desa Mone untuk melestarikan tradisi tari mangaru ini adalah dengan cara memperkenalkan dan mengajarkan ritual tradisi tari mangaru dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga di sini adalah turunan dari pelaku tradisi tari mangaru itu sendiri. Pelatihan Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menggambarkan suatu proses dalam mengembangkan individu, masyarakat, lembaga dan organisasi. Pendidikan dengan pelatihan merupakan dua bagian yang tak dapat dipisahkan dalam sistem pengembangan sumber daya manusia, pengembangan tenaga manusia. Dalam proses pengembangannya diupayakan agar sumber daya manusia dapat diberdayakan secara optimal, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam memenuhi kebutuhan individu, masyarakat, lembaga dan organisasi tersebut dapat dipenuhi. temukan beberapa upaya tokoh masyarakat Mone dalam melestarikan tradisi tari mangaru sehingga tertap terjaga kelestariannya yakni dengan cara : Sosialisai dan pembinaan tardisi tari mangaru lewat jalur keluarga, yakni turunan dari pelaku tradisi tari mangaru itu sendiri. Memasukan tradisi tari mangaru dalam program kerja pemerintah daerah lewat visi misi pelestarian budaya daerah Pengenalan dan pembinaan lewat kurikulum sekolah, yaitu memasukan tradisi tari mangaru melalui pelajaran muatan lokal Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 21 | Page Dibentuknya sanggar seni bagi pemuda Desa Mone untuk mempelajari tradisi tari mangaru Pembahasan Tradisi mangaru merupakan salah satu warisan leluhur dan sebagai salah satu unsur kebudayaan tradisional yang cukup melekat. Baik dalam bentuk simbol pertunjukan atau kebanggaan pada pentas-pentas seni budaya tradisional maupun dalam bentuk kesakralan bagi pihak-pihak yang terlibat dan berpartisipasi dalam pertunjukan pada pentas-pentas seni budaya tradisional (Mangar. di Desa Mone tersebut. Isitilah mangaru berasal dari bahasa Pancana dialek Lakudo (Zaadi, 2. kedua komunitas tersebut memiliki rumpun bahasa yang sama. Mangaru secara arti bahasa artinya AuamukAy atau AumarahAy. Dengan demikian mangaru sebagai budaya dan tradisi diartikan suatu arena pertunjukan dalam bentuk tari yang dimainkan oleh dua orang lelaki kesatria secara bergantian dengan gerakan berjingkrak-jingkrak memutari lawannya satu sama lain untuk adu uji nyali dan ilmu kebal badan dengan menggunakan senjata tajam berupa pisau keris, pisau badik, dan pisau belati disertai dengan tabuh beduk bertalu-talu ditengahtengah lingkaran kumpulan masyarakat penonton. Tradisi mangaru ini dilaksanakan secara rutin dilakukan sekali setahun yakni pada setiap musim panen tiba selama tiga hari berturut-turut. Selain ditampilkan untuk menyambut pada acara-acara adat juga ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan. Tari mangaru adalah tarian khas desa Mone yang kini masih tetap lestari. Dalam pelaksanaan tradisi mangaru ini ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pelasanaan tradisi tersebut. Pelaksanaan tradisi mangaru ini sebelumnya didahului dengan pertemuan antara orang-orang yang dituakan di desa itu baik itu tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan seluruh perangkat desa . emerintah des. Pertemuan ini dilakukan untuk membahas tentang bagaimana persiapannya, yaitu mulai dari peralatan musik yang digunakan, pakaian yang akan digunakan pemain, serta proses pelakasanaan tradisi mangaru tersebut. Peralatan musik yang di gunakan Peralatan yang digunakan ketika pelaksanaan tradisi mangaru berlangsung diringi oleh alat musik yang sederhana berupa gendang. Biasanya gendang yang digunakan pada saat pementasan berlangsung terdiri 1 buah. Musik yang dimainkan bertempo cepat dan membangun suasana suka cita. Ini membuat penari dan penonton lebih semangat saat menyaksikan penampilan tari Gendang ini merupakan alat penyemangat penari, sehingga apabila gendang tidak ada maka tarian tersebut tidak hidup. Pakaian pemain Dari segi pakaian yang dikenakan oleh pemain dalam pertunjukan budaya tradisi mangaru pada saat tampil adalah pakaian adat Buton. Namun yang dikenakan penari adalah pakaian adat kepahalawanan yang telah ditentukan Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 22 | Page dan disepakati oleh adat. Pakaian ini sangat terlihat dari ciri khasnya berupa jubah kain tenun yang cantik . ubah laula. Mereka juga menggunakan sarung dan ikat kepala. Pakaian ini dimasa lampau, merupakan pakaian kehormatan yang dipakai oleh bangsawan atau orang dilingkungan kerajaan. Pakaian yang dikenakan pemain dalam pertunjukan mangaru sudah mengenakan sarung dan songko atau peci dikepala dengan tetap menjaga unsur-unsur kesopanan dan sesuai dengan sara atau adat. Perlengkapan yang paling penting bagi penari mangaru adalah senjata tajam berupa pisau keris . , pisau badik . , dan pisau belati . yang dipakai saat kegiatan berlangsung. Para pemain menggunakan senjata tajam dengan cara saling menghujamkan ke badan teman mainnya. Kini berubah, senjata tajam . mereka tidak lagi digunakan untuk saling menghujami langsung ke badan teman main, melainkan hanya dalam bentuk gerakan simbolisasi sebagai seni gerak berperang yang diaktualisasikan dalam tarian yakni tari managru tetapi mereka masih menggunakan senjata tajam yang asli dalam Sebelum melaksanakan tradisi mangaru mereka melakukan persiapan yang disebut mokanu yang luar biasa oleh tokoh adat yang telah dipercayakan mengarahkan jalannya kegiatan, persiapan lahir batin yang memerlukan ritual semedi meminta berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar dilindungi. Karena dalam pertunjukan budaya tradisi mangaru ini menggunakan senjata tajam . eris, badik dan belati asl. yang dipakai untuk saling berhadapan secara langsung, disini pula tokoh adat yang telah dipercayakan sebagai protokeler kegiatan melakukan perenungan sebagai persiapan untuk menuju pada tahap dimulainya tari mangaru. Pada tahap ini seseorang masuk ke dalam arena tanpa lawan main dengan berjingkrak-jingkrak di iringi tabuhan gendang dengan di awali penghormatan kepada seluruh penonton sambil memutari arena. Setelah putaran kedua baru lawan ataupun kawan main baru bisa masuk. Begitu pun saat prosesi tradisi ini di tutup. Tari mangaru merupkan tradisi atau adat istiadat yang telah mandarah daging pada masyarakat Mone. Dalam hal ini teori yang digunakan yaitu tindakan tradisional. Tindakan ini biasanya dilakukan atas dasar tradisi atau adat istiadat secara turun-temurun. Tindakan ini pun sukar dipahami karena kurang rasional bahkan tidak rasional. Tindakan tipe ini diarahkan melalui kebiasaan yang sudah berjalan dalam jangka waktu yang sudah lama. Dimana seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Tindakan seseorang yang dilakukan ini ditentukan oleh kebiasaan yang sudah mengakar secara turun KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tari mangaru melambangkan sikap kepahlawanan dan kelakilakian pemuda Desa Mone yang siap mempertahankan dan membela diri, keluarga dan masyarakat dari serangan musuh baik dari dalam maupun dari luar. Copyright . Author . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License 23 | Page Keberanian dan ketangguhan itu terlihat ketika berlaga saat prosesi tari mangaru Penggunaa n alat-alat tajam dalam berlaga membutuhkan mental dan fisik serta strategi yang mumpuni untuk menjatuhkan lawan. Selain sebagai ajang pencarian pemimpin pada zaman dahulu, tari mangaru juga bermakna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas keberkahan dan rezeki yang diberikan melalui hasil panen setiap tahunnya. Dengan pagelaran tari mangaru membuat masyarakat ikut bergotong royong mensukseskan kegitan tersebut sehingga rasa persaudaraan serta kekeluargaan dan silaturahmi di antara kelompok masyarakat akan tetap terjalin dengan baik. Melalui pagelaran prosesi tradisi tari mangaru memunculkan tanggapan positif maupun negatif dari beberapa pemuda desa Mone. Sebagian besar pemuda merespon baik dan positif. Dalam tanggapannya Sebagian besar menekankan pada pelestarian tradisi tari mangaru agar tidak hilang dan tetap dilaksanakan setiap tahunnya agar anak cucu tetap mengetahui tradisi peninggalan nenek Selain tanggapan positif, tanggapan negatif juga diutarakan dari beberapa pemuda desa Mone yang menekankan pada penggunaan alat-alat tajam dalam pelaksanaanya. Informan menuturkan agar benda-benda tajam berupa pisau, keris dan badik di ganti dengan pisau, keris dan badik tiruan dari Untuk melestarikan tradisi tari mangaru agar tetap terjaga dan lestari, dibutuhkan upaya dari tokoh masyarakat baik itu tokoh adat, tokoh pemerintah dan tokoh pendidikan. Upaya itu tergambar lewat sosialisai dan pembinaan tardisi tari mangaru lewat jalur keluarga, yakni turunan dari pelaku tradisi tari mangaru itu sendiri. Selain itu, pengenalan dan pembinaan lewat kurikulum sekolah, yaitu memasukan tradisi tari mangaru melalui pelajaran muatan lokal. Memasukan tradisi tari mangaru dalam program kerja pemerintah daerah lewat visi misi pelestarian budaya daerah sangat penting serta dibentuknya sanggar seni bagi pemuda Desa Mone untuk mempelajari tradisi tari mangaru. Melalui pengenalan makna, mengetahui respon pemuda serta upaya tokoh masyarakat desa mone tentang tradisi mangaru, maka di harapkan tradisi tari mangaru tetap ada dan tetap dikenal sepanjang zaman. REFERENSI