Mutiara Pendidikan dan Olahraga Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/mupeno. Available online at: https://ejournal. id/index. php/mupeno Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan Luthfi Ahmad Baihaqi1*. MuAoarifin2 Universitas Negeri Malang. Indonesia Alamat: Jl. Semarang No. 5 Malang. Jawa Timur. Indonesia Korespondensi penulis: luthfi. 1906116@students. Abstract. The purpose of this research is to understand and examine the level of understanding and problems faced by teachers towards the implementation of the independent curriculum in physical education learning. The population of this study is all PJOK subject teachers in Pasuruan Regency and use cluster random sampling. The instruments in this research used questionnaires, interviews and documentation. Data analysis techniques use quantitative and qualitative descriptive techniques. Quantitative analysis is obtained from the results of teachers filling out questionnaires and analyzed using percentage formulas. While qualitative analysis using data reduction, data presentation, and making conclusions. The results of filling out a questionnaire on the level of teacher understanding of the implementation of the independent curriculum in physical education learning in elementary schools in Pasuruan Regency were obtained 75,53% with the category of understanding most. At the planning stage, 76,40% were obtained, the learning implementation stage was 74,74%, the learning assessment was 74,99%, the processing and reporting stage of assessment results was 75,64%, and the reflection and followup stage was 75,26%. Furthermore, the problem that becomes difficult is when carrying out learning which leads to strengthening the Pancasila Student Profile. So it can be concluded that the level of teacher understanding of the implementation of the independent curriculum in PJOK learning in junior high schools in Pasuruan Regency results in understanding most of it. And the most difficult problem lies in Pancasila Student Profile. Keywords: Elementary School. Implementation. Independent Curriculum. Physical Education Learning. Survey. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengkaji terkait tingkat pemahaman dan masalah yang dihadapi oleh guru PJOK terhadap implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Populasi dari penelitian ini yaitu seluruh guru mata pelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan . dan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik menganalisis data menerapkan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis data kuantitatif didapatkan melalui hasil guru mengisi angket dan dianalisis menggunakan rumus persentase. Sedangkan analisis kualitatif dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan membuat kesimpulan. Hasil pengisian angket tingkat pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan diperoleh 75,53% dengan kategori memahami sebagian besar. Pada tahap perencanaan pembelajaran diperoleh 76,40%, tahap pelaksanaan pembelajaran 74,74%, tahap pelaksanaan asesmen 74,99%, tahap pengolahan dan pelaporan hasil asesmen 75,64%, dan tahap refleksi dan tindak lanjut 75,26%. Selanjutnya dalam permasalahan hal yang menjadi sulit yaitu pada saat melaksanakan pembelajaran yang mengarah pada Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan hasilnya sudah memahami sebagian besar. Dan permasalahan yang tersulit terdapat pada Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kata kunci: Sekolah Dasar. Implementasi. Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Pendidikan Jasmani. Survei. PENDAHULUAN Pendidikan menjadi hal penting yang terdapat di kehidupan manusia, yang mengartikan setiap manusia berhak mendapatkan dan diharapkan dapat berkembang di dalamnya (Alpian et , 2. Pendidikan merupakan pertumbuhan suatu individu yang dapat dicapai melalui pengalaman dengan kombinasi karakteristik unik dari karakteristik fisik, intelektual, sosial, dan Menurut pendapat (Djamaluddin, 2. pendidikan dapat diartikan sebagai usaha Received: Juli 12, 2025. Revised: Juli 25, 2025. Accepted: Agustus 17, 2025. Online Available: Agustus 20, 2025 Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan manusia untuk melatih kepribadiannya sesuai dengan nilai yang ada di masyarakat dan dalam Kemajuan teknologi di bidang pendidikan merupakan suatu potensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Salah satu caranya dengan melakukan perubahan kurikulum secara bertahap agar peningkatan kualitas belajar mengajar menjadi lebih baik. Kurikulum pada hakikatnya merupakan suatu komponen yang menjadi acuan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Menurut pendapat dari (Widiati, n. Kurikulum adalah sekumpulan bahan ajar yang disampaikan oleh guru atau dipelajari oleh peserta didik yang mencakup suatu rencana yang mencakup tujuan, bahan ajar, dan metodologi yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan. Sesuai dengan UURI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. menjelaskan bahwa kurikulum merupakan suatu unsur terpenting dalam penyelenggaraan suatu pendidikan. Maka dari itu guna mendapatkan kualitas pendidikan yang sempurna pemerintah melakukan pembaharuan kurikulum secara bertahap. Menurut pendapat dari (McCarthy et al. , 2. perubahan kurikulum, penilaian, dan teknologi merupakan suatu langkah untuk mencapai kesetaraan bagi semua dan kesejahteraan sosial dengan memandang adil dalam pendidikan tanpa memandang status sosial-ekonomi. Selain itu suatu orientasi pada kurikulum berpengaruh pada guru untuk mendapatkan wawasan tentang perubahan dan kegiatan dalam pembelajaran (Zweeris et al. Pandemi covid-19 memberikan dampak yang berarti bagi Indonesia tidak terlepas pada bidang pendidikan sehingga pemerintah mengambil suatu kebijakan supaya pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan baik. (Putrawangsa & Hasanah, 2. mengatakan sekitar 70% siswa Indonesia masuk kedalam kategori kemampuan literasi yang rendah dimana mereka tidak bisa mengidentifikasi ide pokok dari suatu kalimat atau dari bacaan yang sedikit lebih Sedangkan pada kemampuan matematika, ditemukan bahwa sekitar 72% siswa Indonesia memiliki kategori sebagai siswa dengan kemampuan matematika rendah, sebagian besar dari mereka tidak bisa sama sekali menyelesaikan permasalahan matematika yang sederhana dan melibatkan konteks yang masih umum dimana semua informasi yang dibutuhkan, disediakan, dan pertanyaannya disampaikan secara jelas. Sehingga untuk melakukan pemulihan ketertinggalan belajar pasca terjadinya pandemi covid-19 pemerintah mengadakan kurikulum merdeka yang diterapkan di berbagai tingkatan sekolah, mulai dari PAUD. SD. SMP. SMA/SMK. Pendidikan Khusus, dan Kesetaraan. Berdasarkan Permendikbud Ristek No. 56 Tahun 2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan, terdapat tiga opsi kurikulum yang bisa digunakan pada satuan pendidikan dalam Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. rangka pemulihan pembelajaran beserta struktur Kurikulum Merdeka, aturan terkait pembelajaran dan asesmen, serta beban kerja guru. Kurikulum merdeka adalah kurikulum yang menggunakan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dimana konten akan lebih optimal dengan tujuan agar peserta didik memiliki waktu luang untuk mendalami konsep dan lebih menguatkan kompetensinya (Barlian & Solekah, 2. Kurikulum ini dibuat untuk memperdalam potensi peserta didik, karena kurikulum ini diciptakan dengan simpel dan fleksibel yang mengarah pada peserta didik Dalam pengimplementasian kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK guru haruslah memahami apa saja yang harus disiapkan karena terdapat perubahan dari kurikulum K-13 menjadi kurikulum merdeka terutama untuk perencanaan pembelajaran yang akan Pendidikan jasmani kesehatan dan olahraga menjadi suatu bagian dari kurikulum di sekolah, apabila kebijakan kurikulum berganti maka pembelajaran dalam pendidikan jasmani akan mengalami perubahan juga. Pendidikan jasmani merupakan proses belajar mengajar melalui aktivitas fisik untuk mendapatkan perubahan secara holistik bagi individu dari aspek fisik, mental, serta emosional. Lewat pendidikan jasmani tersedia sebuah lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik untuk melaksanakan tugas gerak dan belajar melalui gerak itu sendiri. Tujuan pendidikan jasmani yaitu menumbuhkan karakter yang kuat dalam internalisasi nilai penjas, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, melatih sikap sportif, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, percaya diri, dan demokratis, serta mengembangkan kemampuan gerak dan keterampilan dalam bidang olahraga. Beberapa peneliti menyatakan bahwa dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK guru masih mengalami kesulitan. Dapat dilihat dari pendapat (Kurniati & Kusumawati, 2. mengatakan bahwa guru masih belum mengetahui arti dari setiap komponen (CP. TP. ATP). Selain itu kesulitan dialami pada saat menjabarkan TP dari CP dan menyusun ATP dari TP, hal itu terjadi karena guru belum memiliki pengalaman dalam kurikulum merdeka sehingga secara pengetahuan mereka sedikit tertinggal. Selain itu kendala yang dialami yaitu pada pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi adalah melakukan identifikasi kebutuhan siswa hingga membuat variasi media dan metode pembelajaran yang tepat bagi setiap kelompok peserta didik. Sedangkan masalah yang dialami pada pelaksanaan asesmen diagnostic yaitu pada saat membuat soal yang beragam dan menganalisis hasilnya secara cepat dan tepat. Selain itu hasil dari wawancara kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan menyatakan bahwa masih belum ada data terkait tingkat pemahaman dan masalah dalam implementasi kurikulum merdeka di Kabupaten Pasuruan dan wawancara kepada guru Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan PJOK mengatakan bahwa masih mengalami kebingungan dalam memahami implementasi kurikulum merdeka karena terjadi banyak perubahan dari kurikulum K-13. Perubahannya yaitu pembelajarannya di desain lebih simpel dan efektif, guru menjadi fasilitator dan ujung tombaknya adalah murid. Maka dari itu penting untuk mengetahui tingkat pemahaman dan masalah yang dihadapi pendidik di SD Kabupaten Pasuruan dalam implementasi kurikulum merdeka agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan baik. METODE Rancangan penelitian yang digunakan berupa deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode survei. Jenis data yang terdapat pada penelitian ini yaitu kuantitatif dan kualitatif untuk memperkuat data. Sumber data yang didapatkan dari penelitian ini yaitu guru mata pelajaran PJOK se Kabupaten Pasuruan dengan menggunakan teknik cluster random sampling yang dilakukan dengan cara mengambil sampel acak dari setiap wilayah dengan kategori guru sudah menerapkan kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Dari 24 kecamatan yang ada di Pasuruan . etiap kecamatan terdapat 11-13 Sekolah Dasa. , terdapat total 657 populasi guru PJOK yang sesuai kategori. Setelah angket (Google For. diberikan kepada 657 guru, terdapat 317 guru yang mengisi. Terdapat dua prosedur dalam penelitian ini yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Untuk data kuantitatif dilakukan dengan cara: . menyusun angket berupa google formulir, . melakukan validasi instrumen, . mengurus surat ijin penelitian, . melakukan penelitian dengan menemui informan untuk menyebarkan angket secara online, . melakukan analisis data, . Menyusun laporan. Untuk data kualitatif dilakukan dengan cara: . menyusun instrumen wawancara, . membuat jadwal wawancara kepada responden dengan jawaban yang unik, . melakukan wawancara melalui tatap muka, . melakukan analisis data, . menyusun laporan. Instrumen pada penelitian ini menggunakan angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data merupakan penyederhanaan dan penyajian data sebagai upaya dalam mencari dan menata secara sistematis (Rijali, 2. Dalam penelitian ini teknik menganalisis data menerapkan teknik deskriptif kuantitatif dan Analisis data kuantitatif didapatkan melalui hasil guru mengisi kuesioner dan dianalisis menggunakan rumus persentase dan diklasifikasikan ke dalam kriteria tertentu. Sedangkan teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan cara melakukan reduksi data, melakukan penyajian data, dan membuat kesimpulan. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Untuk tingkat pemahaman guru pengumpulan nilai-nilai dari tiap butir skor menggunakan skala ordinal dengan kriteria sebagai berikut. Skor 1 = Tidak memahami semuanya Skor 2 = Memahami sebagian kecil Skor 3 = Memahami setengahnya Skor 4 = memahami sebagian besar Skor 5 = Memahami semuanya Kemudian analisis data menggunakan rumus persentase untuk mengukur tingkat pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK seperti di bawah ini. P=f/N X 100% Keteranganya: P = Hasil angka persentase f = Total skor yang diperoleh dari menjawab angket N = Total nilai keseluruhan dari jawaban benar Setelah mengetahui persentase dari hasil data yang diperoleh maka peneliti mengklasifikasikan kriteria ke dalam lima kategori. Berikut tabel kriteria skor. Tabel 1 Kriteria Skor Persentase 81%-100% 61%-80% 41%-60% 21%-40% 0%-20% Predikat Memahami Semuanya Memahami Sebagian Besar Memahami Setengahnya Memahami Sebagian Kecil Tidak Memahami Semuanya (Fitron, 2. Kemudian untuk masalah yang dihadapi guru tidak menggunakan teknik analisis data seperti tingkat pemahaman, tetapi menggunakan analisis data secara kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil angket yang berjumlah 317 responden dengan total 30 pertanyaan, 15 pertanyaan untuk tingkat pemahaman guru dan 15 pertanyaan untuk masalah yang dihadapi oleh guru pada saat melakukan implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan yang sudah divalidasi oleh ahli. Selanjutnya peneliti menyajikan hasil penelitian survei implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK berupa Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan tabel, berikut tabel tingkat pemahaman dan masalah guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Tabel 2 Tingkat pemahaman guru pada saat melakukan implementasi kurikulum Merdeka Komponen Perencanaan Pembelajaran Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan Asesmen Pengolahan dan Pelaporan Hasil Asesmen Refleksi dan Tindak Lanjut Pembelajaran Skor Hasil Skor Maksimal Rerata Presentase Kategori 19,10 1,63 11,21 1,24 11,25 1,18 7,56 0,94 Memahami Memahami Memahami Memahami 7,53 1,02 Memahami Berdasarkan tabel 2. dapat diuraikan bahwa dalam melaksanakan kurikulum merdeka terdapat 5 komponen dengan jumlah kuesioner sebanyak 15. Komponen perencanaan Memahami Capaian Pembelajaran (CP), 2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), 3. Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), 4. Menyusun rencana pembelajaran dalam bentuk RPP, 5. Menyusun rencana pembelajaran dalam bentuk Modul ajar. Komponen pelaksanaan pembelajaran terdapat pada nomor kuesioner 6 sampai 8 yakni: 6. Melaksanakan pembelajaran diferensiasi berdasarkan hasil asesmen, 7. Melaksanakan pembelajaran yang mengarah pada Penguatan Profil Pelajar Pancasila, 8. Melaksanakan monitoring selama pembelajaran berlangsung. Komponen pelaksanaan asesmen terdapat pada nomor kuesioner 9 sampai 11 yakni: 9. Melaksanakan asesmen awal, 10. Melaksanakan asesmen formatif, 11. Melaksanakan asesmen sumatif. Komponen pengolahan dan pelaporan hasil asesmen terdapat nomor kuesioner 12 dan 13 yakni: 12. Mengolah data hasil asesmen, 13. Menyusun laporan hasil belajar siswa. Komponen refleksi dan tindak lanjut terdapat pada nomor kuesioner 14 dan 15 yakni: 14. Melakukan refleksi pembelajaran, 15. Menyusun rencana tindak lanjut berdasarkan hasil refleksi pembelajaran. Total skor didapatkan dari jumlah keseluruhan jawaban pada setiap komponen kemudian didapat rerata dengan membagi total skor dengan skor maksimal. Selanjutnya didapat persentase dengan hasil untuk komponen perencanaan pembelajaran adalah 96%, komponen pelaksanaan pembelajaran 93%, komponen pelaksanaan asesmen 94%, komponen pengolahan dan pelaporan hasil asesmen 95%, dan komponen refleksi dan tindak lanjut pembelajaran 94%. Sehingga didapatkan kesimpulan bahwa guru PJOK se Kabupaten Pasuruan telah memahami sebagian besar implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Tabel 3 Masalah yang dihadapi guru pada saat melakukan implementasi kurikulum Merdeka Komponen Memahami CP Merumuskan TP Menyusun ATP Membuat RPP Membuat Modul Ajar Pembelajaran berdiferensiasi Penguatan profil pelajar Pancasila Monitoring Pembelajaran Asesmen awal Asesmen formatif Asesmen sumatif Mengolah hasil asesmen Menyusun laporan Refleksi pembelajaran Rencana tindak lanjut Masalah yang Paling Banyak Dihadapi Melakukan analisis CP Memahami Taksonomi Bloom dalam proses merumuskan tujuan pembelajaran Mengembangkan alur tujuan pembelajaran sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata Pelajaran Mengembangkan RPP sesuai dengan contoh yang Mengembangkan modul ajar sesuai dengan contoh yang disediakan Keterbatasan ruangan Mendesain projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam pembelajaran Membagi waktu dalam melaksanakan monitoring Mengidentifikasi kompetensi atau hal apa yang harus ditingkatkan Merancang asesmen untuk tujuan pembelajaran Menganalisis kondisi peserta didik untuk keperluan sumatif penyusunan asesmen Menentukan indikator ketercapaian belajar peserta Memahami prosedur dalam mengukur hasil tes Mengembangkan pertanyaan dari pertanyaan yang Memahami refleksi pembelajaran Persentase 55,5% 66,9% 74,1% 72,9% 75,7% 55,5% 78,2% 70,7% 68,1% 67,5% 69,7% 67,5% 69,4% 74,4% 68,5% Tabel 3 didapat dari hasil angket mengenai masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum merdeka. Hasil lengkap mengenai hal tersebut terlampir pada bagian lampiran 6 data mentah masalah yang dihadapi guru. Pada tabel 3, masalah yang tertulis adalah masalah yang paling banyak dihadapi guru pada tiap komponen. Hasil yang diperoleh dari wawancara . adalah guru kurang bisa memahami kurikulum Merdeka dikarenakan kurang tanggap terhadap perubahan yang terjadi sedangkan guru yang sudah memahami sebagian besar kurikulum Merdeka lebih tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Pembahasan Tingkat Pemahaman Dalam melaksanakan implementasi kurikulum merdeka pada suatu pembelajaran tingkat pemahaman diperlukan oleh guru agar terwujudnya suatu pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khususnya dalam kurikulum merdeka. Karena dengan pemahaman yang baik maka dapat menumbuhkan suatu pembelajaran yang berkesan dan pembelajaran dapat disampaikan kepada peserta didik secara menyeluruh serta bermakna. Sesuai dengan pendapat (Beni et al. , 2. bahwa suatu implementasi dipengaruhi oleh pengalaman dan keyakinan guru, hal ini berarti keyakinan yang ada dalam diri guru termasuk pemahaman guru itu sendiri. Dalam penyelenggaraan pembelajaran PJOK profesionalitas guru dapat dilihat Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik dengan menggunakan paradigma baru yaitu pembelajaran yang utuh, menyenangkan, menyibukkan, dan modifikasi sehingga peserta didik dapat lebih termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran (Kurniawan et al. Hal tersebut sejalan dengan kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK yang mempunyai konsep pembelajaran yang berpusat pada siswa, pengembangan karakter melalui aktivitas jasmani, pengembangan keterampilan motorik, dan interaksi antar peserta didik yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pengembangan karakter siswa melalui aktivitas jasmani (Parwata, 2. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di Kabupaten Pasuruan peneliti membagikan angket yang akan diisi oleh guru di SD se Kabupaten Pasuruan. Dapat dilihat pada tabel 2 peneliti membagi tingkat pemahaman tersebut ke dalam 5 tahapan implementasi. Pada tiap tahapan ditemukan bahwa guru memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, karena dilihat dari persentase yang didapatkan merupakan kategori memahami sebagian besar. Bagian yang paling dipahami dari soal yang ada yaitu pada bagian memahami capaian pembelajaran (CP), karena pembaruan dari kompetensi inti dan kompetensi dasar yang dirancang untuk menguatkan fokus pembelajaran terhadap pengembangan kompetensi, dalam kurikulum 2013 dan kurikulum yang terdahulu ditujukan untuk kompetensi dan dilanjutkan pada kurikulum ini. Kemudian untuk yang masih belum memahami sepenuhnya yaitu pada bagian pelaksanaan monitoring selama pembelajaran berlangsung. Dengan hasil tersebut dapat dilihat bahwa guru sudah bisa beradaptasi dengan kurikulum merdeka mengingat kurikulum ini masih tergolong baru dan akan digunakan dalam beberapa tahun ke depan. Penelitian dari Eva Welas Febriati untuk mengetahui penerapan kurikulum merdeka belajar pada pembelajaran PJOK di SD Se-Kecamatan Gayamsari Kota Semarang. Jenis penelitian yang digunakan berupa deskriptif kuantitatif dengan menyebarkan angket/kuesioner. Hasil dari penelitian ini yaitu implementasi kurikulum merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di SD Se-Kecamatan Gayamsari Kota Semarang dilaksanakan dengan baik. Hal itu dianalisis dari setiap indikator pada penerapan kurikulum merdeka yaitu persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, proses belajar mengajar, asesmen kompetensi dan ketersediaan perangkat (Febriati, 2. Berdasarkan penelitian dari Eva Welas Febriati maka dapat dikaitkan dengan hasil analisis data yang telah dilakukan dalam implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dapat dikatakan mendukung penelitian Karena penelitian dari Eva Welas Febriati menghasilkan data dengan kategori baik Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. dalam implementasi kurikulum merdeka, sedangkan dalam penelitian ini menghasilkan guru memahami sebagian besar terkait implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK, sehingga kedua penelitian ini memiliki persentase yang tinggi dan dapat dikatakan saling Selain data persentase peneliti juga menggunakan wawancara kepada responden dengan jawaban yang tinggi dan rendah. Hal itu dilakukan karena peneliti ingin mengetahui kelebihan dan kelemahan responden dalam melaksanakan implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Hasil dari wawancara tersebut yaitu untuk responden dengan nilai tertinggi sudah mengikuti kurikulum merdeka setelah rumor bahwa akan ada pergantian kurikulum, selain itu beliau juga sudah mengakses website dari kemendikbud untuk mencari informasi terkait kurikulum merdeka. Selanjutnya beliau juga cepat tanggap terhadap teknologi sehingga sumber-sumber dari internet dapat diakses dengan mudah karena informasi yang didapatkan melalui internet. Sehingga untuk memahami kurikulum merdeka beliau sudah memahami dengan baik dan akan mengalami masalah yang sedikit dalam melaksanakan implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK. Masalah yang dihadapi guru Guru merupakan senjata dari diterapkannya kurikulum Merdeka belajar pada pembelajaran yang wajib bersedia dengan revolusi yang beragam dan akan menemukan Meskipun dalam tingkat pemahaman guru sudah memahami sebagian besar implementasi kurikulum merdeka, tetapi dalam suatu implementasi tentunya masih terdapat berbagai masalah yang terjadi karena masalah dapat muncul pada saat melaksanakan secara langsung di lapangan. Kesiapan guru merupakan hal yang utama dalam menerapkan pembelajaran dan didukung dengan kesiapan yang lain seperti infrastruktur yang memadahi (Rahman, 2. Maka dari itu perlunya mengetahui masalah yang terjadi pada saat melaksanakan kurikulum merdeka pada saat melakukan pembelajaran. Karena dalam Untuk mengetahui masalah apa saja yang dihadapi oleh guru di SD se Kabupaten Pasuruan, peneliti melakukan penyebaran kuesioner kepada guru. Hasil yang didapatkan terdapat pada tabel 3 dengan total 15 soal jawaban A-E yang memiliki jawaban berbeda-beda. Pada soal pertama masalah yang dihadapi yaitu melakukan analisis CP, dalam hal ini CP harus dapat dianalisis dengan tepat agar guru dapat mencakup kompetensi dan materi secara lengkap karena CP merupakan dasar dari fokus pembelajaran kurikulum merdeka. Dalam masalah ini dapat dilihat bahwa guru masih belum memahami cara melakukan analisis CP sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan analisisnya. Untuk masalah yang sedikit terjadi yaitu memahami kata-kata asing, hal ini menandakan bahwa guru telah menguasai bahasa dengan Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan Sehingga kata-kata asing yang terdapat pada kurikulum merdeka bukan menjadi penghalang bagi guru dalam pengembangan CP. Untuk soal kedua masalah yang sering terjadi pada proses penyusunan tujuan pembelajaran yaitu kesulitan memahami Taksonomi Bloom dalam proses merumuskan tujuan Taksonomi Bloom merupakan suatu struktur dalam mengidentifikasi skill dari tingkatan rendah hingga tinggi yang dibagi menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan Hal ini sama dengan pada saat melakukan penyusunan tujuan pembelajaran. disusun setelah analisis CP dilakukan dengan pembelajaran selama satu fase. TP masih belum terlihat urutan dari level rendah ke tinggi, tetapi guru harus sudah menerapkan tingkatan tersebut agar dapat dengan mudah memasukkan tujuan dari tingkatan rendah ke tinggi. Setelah TP dibuat langkah selanjutnya yaitu menyusun ATP. Penyusunan ATP dilakukan secara runtut mulai dari awal hingga akhir suatu fase. ATP masih berkaitan dengan TP, dalam hal ini tingkatan tujuan pembelajaran yang telah disusun diurutkan mulai dari rendah ke tinggi. Dalam proses mengurutkan ATP dengan prinsip berkesinambungan dan sederhana agar dapat dengan mudah dipahami. Masalah yang sering terjadi pada penyusunan ATP yaitu guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan ATP yang sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan dalam PJOK. Hal ini menandakan bahwa pada proses penyusunan ATP guru belum dapat menganalisis kebutuhan apa saja yang diperlukan peserta didik selama satu fase Penyusunan ATP bukan hanya mengurutkan saja tetapi mengacu pada kebutuhan peserta didik agar runtut dari awal hingga akhir. Kemudian pada soal 4 masalah yang dialami oleh guru yaitu kesulitan untuk mengembangkan RPP sesuai contoh yang telah disediakan. Hal ini terjadi karena RPP dalam kurikulum merdeka berbeda dengan kurikulum sebelumnya. RPP dalam kurikulum merdeka mempunyai isi yang lebih beragam daripada RPP yang ada pada kurikulum sebelumnya. Kemudian dalam menyusun RPP guru sudah dapat mencari sumber-sumber referensi dari berbagai sumber, hal ini bisa dilihat pada masalah yang dihadapi guru masalah tersebut masuk ke dalam persentase yang paling rendah. Kemudian untuk masalah dalam penyusunan modul ajar sama seperti penyusunan RPP yaitu kesulitan mengembangkan modul ajar sesuai dengan contoh yang telah disediakan. Modul ajar merupakan sesuatu yang baru dalam kurikulum merdeka, hal inilah yang membuat guru mengalami kesulitan dalam menyusunnya ditambah lagi isi dari modul ajar berbeda jauh dengan RPP. Modul ajar mempunyai isi yang singkat tetapi harus dapat mencakup keseluruhan dari CP hingga ATP, hal itulah yang juga menjadi penghambat dalam menyusun modul ajar. Namun hal itu bisa saja teratasi karena guru sudah Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. dapat mencari referensi dari berbagai sumber dapat dilihat pada tabel di atas bahwa persentase terkecil dalam masalah penyusunan modul ajar yaitu mencari referensi dari sumber lain. Selanjutnya pada saat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang paling sering terjadi yaitu terkait ruangan yang terbatas pada saat melakukan pembelajaran berdiferensiasi dikarenakan sarana dan prasarana yang kurang memadai sehingga guru kesulitan melakukan Selain pembelajaran berdiferensiasi dalam pelaksanaan pembelajaran harus menerapkan pembelajaran yang mengarah pada profil pelajar pancasila untuk pengembangan karakter peserta didik. Apabila dilihat pada nilai persentase masalah yang dihadapi yaitu guru mengalami kesulitan dalam mendesain projek penguatan profil pelajar pancasila dalam Hal itu disebabkan Profil Pelajar Pancasila mempunyai enam dimensi dan elemen di dalamnya, yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif (Susilawati et al. , 2. Maka dari itu untuk mendesain pembelajaran sesuai dengan profil pelajar pancasila guru harus menerapkan keenam dimensi tersebut. Selanjutnya dalam melakukan kegiatan monitoring masalah yang sering muncul yaitu guru kesulitan dalam membagi waktu dalam melakukan kegiatan monitoring. Dalam masalah ini skill yang baik dibutuhkan oleh guru karena merupakan masalah yang tergolong secara personal. Tetapi apabila dilihat pada tabel di atas guru sudah mengetahui tentang sistem monitoring, karena pada nilai persentase masalah tidak mengetahui tentang sistem monitoring rendah. Kemudian pada asesmen awal guru mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kompetensi atau hal apa yang harus ditingkatkan. Karena dalam asesmen awal dilakukan untuk mengetahui hal apa yang dibutuhkan oleh peserta didik agar dalam kegiatan pembelajaran peserta didik dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya yang masih kurang. Tetapi guru telah mampu mempelajari materi apa saja yang akan diajarkan kepada peserta didik karena dalam data persentase yang didapatkan rendah. Untuk asesmen formatif masalah yang sering muncul yaitu guru kesulitan merancang asesmen untuk tujuan pembelajaran. Hal ini dikarenakan pada tahapan asesmen awal guru juga mengalami mengidentifikasi kompetensi yang harus ditingkatkan untuk peserta didik. Tetapi terdapat responden dengan menjawab tidak memiliki masalah, hal ini dapat menjadi solusi untuk guru yang mengalami masalah agar dapat berdiskusi mengenai penyusunan asesmen formatif kepada guru yang tidak mengalami Untuk asesmen secara sumatif masalah yang terjadi masih sama yaitu menganalisis kondisi peserta didik. Hal ini menandakan bahwa dalam melakukan kegiatan asesmen harus saling berkaitan mulai dari asesmen awal hingga asesmen secara sumatif, karena dalam kegiatan asesmen kondisi peserta didik memang harus diperhatikan agar kompetensi yang Survei Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran PJOK di SD Se Kabupaten Pasuruan didapatkan oleh peserta didik dapat berkembang dan dapat dilakukan evaluasi. Karena dalam menyusun strategi dalam kegiatan asesmen dapat berpengaruh dalam kualitas pengajaran dan pembelajaran (Ny Chrynyn & Cosgrave, 2. Selanjutnya dalam pengolahan hasil asesmen masalah yang paling sering terjadi adalah guru mengalami kesulitan dalam menentukan indikator ketercapaian belajar peserta didik. Dalam kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran disarankan menggunakan deskripsi namun jika dibutuhkan bisa menggunakan rentang nila . -80, 81-. dengan memberikan keterangan tiap interval tersebut. Tidak disarankan menggunakan nilai mutlak . , 80, . Kemudian pada tahap menyusun laporan masalah yang sering muncul yaitu kesulitan memahami prosedur dalam mengukur hasil tes. Hal inilah yang menyebabkan guru terhambat pada saat melakukan pengolahan hasil asesmen dan pelaporan hasil asesmen. Karena pada tahap ini prosedur dalam mengukur hasil tes digunakan dan diterapkan untuk lebih mengetahui secara detail kompetensi apa yang telah dicapai oleh peserta didik selama pembelajaran. Dalam melakukan refleksi dan rencana tindak lanjut dilakukan guna untuk menilai bagaimana pembelajaran yang terbaik serta tingkat kepentingan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan projek secara berkelanjutan (Nafaridah et al. , 2. Masalah yang dihadapi dalam tahap ini yaitu guru mengalami kesulitan dalam memahami refleksi Sebagai fasilitator guru harus memberikan kegiatan refleksi kepada peserta didik, karena dalam hal ini guru akan dilihat profesionalitasnya. Refleksi yang dilakukan haruslah secara mendalam untuk mengurangi permasalahan yang ditemukan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan untuk menentukan pembelajaran yang akan dilakukan selanjutnya. Masalah lainnya yaitu pada saat refleksi sulit menentukan pertanyaan yang digunakan dan dalam rencana tindak lanjut belum menemukan pedoman tentang rencana tindak lanjut. Selanjutnya peneliti juga melakukan wawancara kepada salah satu guru terkait masalah yang dihadapinya. Hasil wawancara didapatkan bahwa masalah yang dihadapi paling banyak terdapat pada perencanaan pembelajaran. Karena dalam proses menyusun perencanaan pembelajaran guru harus dapat menyesuaikan perangkat ajar yang dibuat dengan kondisi siswa serta dalam proses perencanaan berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Untuk menyusun perencanaan dalam kurikulum merdeka guru harus menyiapkan mulai dari CP. TP. ATP, dan modul ajar sehingga hal tersebut menjadi penghambat beliau karena membutuhkan waktu untuk memahami hal tersebut. Dalam hal ini (Derri et al. , 2. mengatakan bahwa perencanaan pembelajaran merupakan faktor yang penting bagi guru dan berhubungan dengan keefektifan dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga perlunya untuk mengatasi masalah tersebut. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 5. September 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian serta hasil yang telah didapatkan dapat dikatakan bahwa tingkat pemahaman guru dalam implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran PJOK di SD se Kabupaten Pasuruan dalam kategori memahami sebagian besar dikarenakan hasil persentase yang diperoleh sebesar 75,53%. Kemudian untuk setiap tahapan didapatkan hasil pada tahap perencanaan pembelajaran 76,40%, tahap pelaksanaan pembelajaran 74,74%, tahap pelaksanaan asesmen 74,99%, tahap pengolahan dan pelaporan hasil asesmen 75,64%, tahap refleksi dan tindak lanjut 75,26%. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam 5 tahapan implementasi kurikulum merdeka guru telah memahami sebagian Meskipun memiliki tingkat pemahaman yang baik masih terdapat berbagai permasalahan yang terjadi, masalah yang paling sering terjadi yaitu pada saat pelaksanaan monitoring selama Pelajaran berlangsung. Untuk itu perlu adanya pelatihan atau sosialisasi bagi guru PJOK mengenai pelaksanaan monitoring siswa selama pembelajaran dalam kurikulum merdeka dan guru harus dapat meningkatkan skillnya agar dapat beradaptasi dengan cepat serta dapat bertukar pikiran dengan guru lain yang lebih memahami Kurikulum Merdeka. DAFTAR PUSTAKA