JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 1009-1021 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah KONTRIBUSI KYAI KAMPUNG DALAM PENGUATAN RELIGIUSITAS REMAJA DI DESA BLUMBUNGAN Moh Rofik1. Imam Sadili2 1,2 Universitas Islam Negeri Madura. Indonesia Email: rofikgaul7@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Village Kyai Strengthening Religiosity Village Youth ABSTRAK Objective: Teenagers in Blumbungan village show a tendency towards deviant behavior such as illegal racing, promiscuity, and the adoption of a hedonistic lifestyle influenced by Western culture. Through cultural da'wah with intensive involvement of village kyai which is participatory and contextual, village kyai play an active role in building religious awareness of teenagers. This article aims to analyze the contribution of village kyai in strengthening the religiosity of teenagers in Blumbungan Village. Pamekasan. Madura. Method: This study uses an interpretive qualitative method with a case study approach. The determination of informants was carried out using a snowball sampling technique, where the researcher follows recommendations from one informant to another who are considered relevant and understand the research There are five informants in this study with details, three kyai and two from local teenagers. The theory of cultural da'wah as an analytical tool in this study which relies on the delivery of Islamic values by paying attention to the social context, customs, and local culture that live in the community. Results: The study shows that the contribution of village kyai is not limited to religious functions, but also serves as a social companion who guides adolescents through direct involvement in religious activities, such as tajhizul mayit . emembrance of the decease. , regular religious studies, and other collective religious activities. ABSTRAK Objektivitas: Remaja di desa Blumbungan menunjukkan kecenderungan perilaku menyimpang seperti balap liar, pergaulan bebas serta adopsi gaya hidup hedonistik yang dipengaruhi budaya Barat. Melalui dakwah kultural keterlibatan intensif kyai kampung yang bersifat partisipatif dan kontekstual, kyai kampung berperan aktif dalam membangun kesadaran keagamaan remaja. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi kyai kampung dalam penguatan religiusitas remaja di Desa Blumbungan. Pamekasan. Madura. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling, di mana peneliti mengikuti rekomendasi dari satu informan ke informan lainnya yang dianggap relevan dan memahami konteks penelitian. Terdapat lima informan dalam penelitian ini dengan rincian, tiga kyai serta dua dari remeja setempat. Teori dakwah kultural sebagai pisau analisis dalam penelitian ini yang bertumpu penyampaian nilai-nilai Islam dengan memperhatikan konteks sosial, adat dan budaya lokal yang hidup di masyarakat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi kyai kampung tidak hanya terbatas pada fungsi keagamaan, tetapi juga sebagai pendamping sosial yang membina remaja melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas religius, seperti tajhizul mayit, pengajian rutin, dan kegiatan keagamaan kolektif lainnya. Kata kunci: Kyai Kampung. Penguatan Religiusitas. Remaja Desa Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan PENDAHULUAN Masyarakat pedesaan yang secara kultural dikenal religius justru dihadapkan pada realitas sosial kehidupan remaja yang menunjukkan gejala penyimpangan yang patut mendapat perhatian serius. Fenomena perilaku menyimpang seperti balap liar, pergaulan bebas, kebiasaan nongkrong hingga larut malam, serta penggunaan media sosial secara berlebihan semakin sering dijumpai, termasuk di Desa Blumbungan. Kabupaten Pamekasan. Madura (Ronanda. Sari, & Tanjung, 2. Tidak sedikit pula remaja yang mulai mengadopsi gaya hidup konsumtif dan meniru budaya Barat tanpa proses penyaringan nilai. Kondisi ini mengindikasikan adanya pelemahan internalisasi nilai keagamaan dan kultural pada generasi muda, bahkan di wilayah pedesaan yang selama ini dipersepsikan sebagai basis keislaman yang kuat. Perubahan sosial tersebut tidak dapat dilepaskan dari arus modernisasi dan globalisasi yang menembus batas geografis desa. Kemudahan akses informasi, ekspansi budaya populer global, serta melemahnya kontrol sosial keluarga dan lingkungan menjadikan remaja berada pada posisi yang rentan terhadap krisis identitas dan dekadensi Secara nasional bahkan global, melemahnya religiusitas remaja telah menjadi isu strategis dalam pembangunan karakter bangsa (Samsudin, 2. Berbagai penelitian menunjukkan adanya penurunan partisipasi remaja dalam kegiatan keagamaan formal maupun nonformal, serta pergeseran orientasi nilai yang semakin pragmatis dan individualistik (Wijayanti & Abdurrahman, 2. Dalam konteks masyarakat Madura, kondisi tersebut menjadi perhatian serius para tokoh agama lokal, khususnya kyai kampung. Kyai kampung merupakan figur sentral yang tidak hanya memiliki otoritas keagamaan, tetapi juga legitimasi sosial dan kultural yang kuat di tengah masyarakat. Berbeda dengan kyai pesantren yang beroperasi dalam struktur institusional formal, kyai kampung hadir secara langsung dalam denyut kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia terlibat dalam berbagai peristiwa sosial, mulai dari ritual keagamaan, pernikahan, kematian, hingga penyelesaian konflik dan persoalan sosial Posisi ini menjadikan kyai kampung sebagai agen strategis dalam pembentukan nilai, sikap, dan perilaku keagamaan masyarakat, termasuk remaja. Namun, tantangan dakwah di era kontemporer menuntut kyai kampung untuk tidak hanya mengandalkan pola dakwah normatif dan verbalistik. Perubahan karakter remaja yang semakin dinamis meniscayakan pendekatan dakwah yang adaptif, kontekstual, dan Oleh karena itu, dakwah kultural menjadi alternatif penting dalam menjawab tantangan tersebut. Dakwah tidak lagi dipahami semata sebagai aktivitas ceramah di mimbar, melainkan sebagai proses sosial yang membangun relasi, pendampingan, dan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda (Masturi, 2025. Budiman. Alhasbi, & Widoyo, 2. Dakwah kultural menekankan penyampaian nilai-nilai Islam dengan memperhatikan konteks sosial, adat, dan budaya lokal yang hidup di masyarakat. Jalaluddin Rakhmat . menegaskan bahwa efektivitas dakwah sangat ditentukan oleh kemampuan komunikator dalam menyesuaikan pesan, bahasa, dan medium dakwah dengan kondisi sosiokultural Dalam praktiknya, kyai kampung di Desa Blumbungan memanfaatkan bahasa lokal, simbol budaya, serta pendekatan kekeluargaan dalam menyampaikan pesan Kegiatan sosial-keagamaan seperti pengajian rutin, tahlilan, dan tajhizul mayit dijadikan medium dakwah yang inklusif dan partisipatif, sehingga remaja merasa dirangkul, bukan dihakimi (Suhantoro et al. , 2. Lebih jauh, dakwah kultural tidak hanya berorientasi pada transmisi ajaran Islam, tetapi juga mengandung dimensi transformasi sosial. Dakwah berfungsi sebagai sarana Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan perubahan perilaku, pembentukan kesadaran kolektif, dan penguatan struktur sosial yang religius (Razi, 2011. Muhsinah, 2. Dalam kerangka ini, kyai kampung tampil sebagai figur transformasional yang mengintegrasikan keteladanan moral . swah hasana. dengan pendampingan sosial yang berkelanjutan. Kehadiran kyai tidak bersifat insidental, melainkan melekat dalam keseharian masyarakat dan menjadi rujukan utama dalam menghadapi persoalan hidup. Sejauh ini, penelitian tentang kyai lebih banyak berfokus pada peran kyai dalam institusi pesantren, relasi kuasa keagamaan, atau struktur dakwah formal sebagaimana dikaji oleh Rohani . dan Bahri . Sementara itu, kajian yang secara khusus menyoroti peran kyai kampung dalam konteks non-pesantren, terutama dalam pembinaan religiusitas remaja melalui dakwah kultural dan partisipatif, masih relatif terbatas. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan mengkaji secara mendalam proses transformasi religiusitas remaja desa yang sebelumnya terlibat dalam perilaku menyimpang, kemudian bertransformasi menjadi bagian aktif dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kontribusi kyai kampung dalam penguatan religiusitas remaja di Desa Blumbungan, serta menganalisis strategi dakwah kultural yang diterapkan dalam konteks sosial dan budaya lokal. Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi praktisi dakwah dan tokoh masyarakat dalam merumuskan pendekatan pembinaan remaja yang lebih kontekstual. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian dakwah dan komunikasi Islam, khususnya pengembangan teori dakwah kultural berbasis lokalitas METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan jenis studi kasus untuk memahami secara mendalam (Fitrah & Luthfiyah, 2. bagaimana peran dakwah kyai kampung dalam menciptakan religiusitas remaja di Desa Blumbungan. Kecamatan Larangan. Kabupaten Pamekasan. Madura. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menangkap makna, nilai, dan pengalaman subjektif yang hidup dalam masyarakat khususnya dalam konteks interaksi sosial antara kyai dan remaja. Sementara itu, studi kasus dipilih karena fokus penelitian ini terletak pada satu lokasi spesifik yang perlu dikaji secara Informan utama dalam penelitian ini terdiri dari para kyai kampung yang terlibat langsung dalam proses dakwah, remaja yang mengalami perubahan religiusitas, serta tokoh masyarakat dan pengurus masjid yang mengetahui dinamika keagamaan di desa Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling, di mana peneliti mengikuti rekomendasi dari satu informan ke informan lainnya yang dianggap relevan dan memahami konteks penelitian. Terdapat lima informan dalam penelitian ini dengan rincian, tiga kyai kampung atas nama. Ustadz Umar. Ustadz. Syakur dan Ustadz Faiz serta dua dari remeja setempat bernama Bahtiar dan Fahmi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi (Nasarudin. Rahayu, & Asyari, 2. Wawancara dilakukan untuk menggali strategi, pengalaman, dan persepsi para kyai serta remaja terhadap kegiatan dakwah yang dijalankan. Observasi dilakukan dengan cara ikut serta atau mengamati langsung kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin, pelatihan tajhizul mayit, dan kegiatan pemuda masjid. Sementara dokumentasi mencakup catatan kegiatan, foto-foto, dan arsip yang berkaitan dengan aktivitas dakwah dan partisipasi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kyai Kampung sebagai Agen Penguatan Religiusitas Remaja Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai kampung di Desa Blumbungan memiliki kontribusi sentral dalam penguatan religiusitas remaja. Kyai tidak hanya menjalankan fungsi tradisional sebagai pemimpin ritual keagamaan, tetapi juga berperan sebagai figur teladan . ole mode. dan pengarah moral dalam kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran kyai yang intens dalam ruang-ruang keseharian remaja membangun relasi emosional yang kuat, sehingga pesan-pesan keagamaan lebih mudah diterima dan diinternalisasi. Pendekatan dakwah yang digunakan bersifat persuasif dan dialogis, dengan menyesuaikan bahasa serta tema dakwah pada realitas keseharian remaja. Pola ini menjadikan dakwah tidak dipersepsi sebagai doktrin yang mengikat atau menekan, melainkan sebagai tuntunan hidup yang membumi dan relevan. Tabel 1. Kyai Kampung sebagai Agen Penguatan Religiusitas Aspek Bentuk Peran Kyai Kampung Dampak pada Remaja Teladan, pembimbing, dan Remaja merasa dekat dan Peran Kyai teman dialog Pendekatan Pesan agama mudah Persuasif dan dialogis Dakwah Dakwah Melalui tahlilan, selamatan, dan Remaja mengikuti tanpa Kultural tradisi desa merasa dipaksa Sederhana dan sesuai Bahasa Dakwah Remaja tidak merasa bosan kehidupan remaja Metode Non-formal . gobrol santai. Menghilangkan jarak dengan Dakwah tokoh agama Gotong royong dan kegiatan Agama dipahami sebagai Dakwah Sosial praktik hidup Remaja terdorong berubah Posisi Kyai Mitra, bukan otoritas kaku secara sukarela Kesadaran agama lebih Hasil Akhir Penguatan religiusitas remaja Dakwah kyai kampung di Desa Blumbungan tidak dilaksanakan melalui metode formal yang kaku, melainkan melalui pendekatan yang menyatu dengan kehidupan sosialbudaya masyarakat. Dakwah kultural dan sosial menjadi inti strategi kyai kampung dalam merangkul masyarakat sekaligus menjembatani jarak antara ajaran keagamaan dan pengalaman hidup sehari-hari (Muhtarom, 2. Kyai kampung memanfaatkan berbagai momen adat dan tradisi lokal seperti tahlilan rutin, selamatan panen, haul tokoh agama, serta perayaan hari besar Islam sebagai ruang dakwah yang efektif. Dalam momen-momen tersebut, nilai-nilai keislaman disisipkan secara halus tanpa menegasikan keberlangsungan budaya lokal. Sebagai contoh, dalam kegiatan tahlilan atau selamatan desa, kyai menyampaikan tausiyah singkat yang mengaitkan makna kematian dengan pentingnya persiapan spiritual, seperti menjaga shalat, memperbanyak doa, serta memperbaiki hubungan sosial. Karena kegiatan adat ini telah mengakar kuat dan diterima secara kolektif, remaja mengikuti kegiatan tersebut tanpa merasa dipaksa untuk Aumenghadiri ceramah. Ay Hal ini diakui oleh Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan salah satu kyai kampung setempat. Ustadz Umar, yang menyatakan: AuKami tidak memaksa remaja masuk masjid lewat ceramah berat. Saat tahlilan, saya sisipkan cerita tentang makna hidup dan kematian, bahwa setiap kita akan kembali kepada-Nya. Remaja yang awalnya datang untuk ikut ritual adat, mulai mendengarkan dan kemudian bertanya ke saya setelahnyaAy (Umar, 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah kultural terletak pada kemampuan kyai menghadirkan relevansi nilai agama dalam tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Dakwah tidak disampaikan secara top-down, melainkan tumbuh dari kesadaran remaja sendiri ketika mereka menemukan keterkaitan antara agama dan pengalaman hidupnya. Ciri khas lain dari dakwah kultural kyai kampung di Blumbungan adalah penggunaan bahasa yang sederhana, tidak terlalu teologis, serta gaya penyampaian yang Kyai tidak memosisikan diri sebagai otoritas tunggal di atas mimbar, tetapi duduk bersama remaja dalam suasana yang santai. Diskusi, tanya jawab, serta ruang curhat sosial menjadi bagian integral dari proses dakwah. Dalam suasana seperti ini, remaja merasa dihargai, tidak dihakimi, dan lebih terbuka menerima pesan-pesan keagamaan. Hal tersebut dipertegas oleh Ustadz Syakur: AuKalau saya ceramah dengan bahasa kitab kuning atau konsep abstrak, mereka bosan. Jadi saya mulai bercerita tentang kehidupan sehari-hari seperti gadget, media sosial, pacaran lalu saya kaitkan dengan perspektif Islam. Dengan pertanyaan reflektif, mereka mulai berpikir sendiri, bukan karena diinstruksikanAy (Syakur, 2. Temuan ini diperkuat oleh testimoni remaja bernama Fahmi . , yang sebelumnya enggan mengikuti pengajian formal karena dianggap membosankan dan tidak Ia menuturkan: AuDulu saya ogah ikut pengajian. Kalau diajak ceramah, rasanya kaku, penuh istilah. Tapi waktu Ustadz Faiz mengajak ngobrol di warung kopi kecil, bahas media sosial sampai dosa hati, itu bikin saya penasaran ikut kajian berikutnya. Kyai kampung tidak datang ke kami sebagai otoritas, tapi sebagai teman bicaraAy (Fahmi, 2. Pernyataan Fahmi menggarisbawahi pergeseran peran kyai dari figur otoritas menjadi mitra dialog remaja. Strategi ini terbukti efektif dalam mengikis hambatan psikologis antara remaja dan tokoh agama, sehingga dakwah dapat diterima secara sukarela. Dakwah kultural di Blumbungan juga tidak terbatas pada ceramah, melainkan merambah aktivitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kyai kampung mengintegrasikan kegiatan keagamaan dengan aksi sosial seperti gotong royong desa, bakti sosial, pengajian sambil memasak bersama, serta kegiatan kebersihan lingkungan. Ustadz Faiz menjelaskan: AuKami ajak remaja bersih-bersih masjid, menata taman, membersihkan jalan kampung. Sambil kerja, saya cerita tentang sabar, ikhlas, dan tanggung jawab sosial. Tanpa sadar mereka berdiskusi dan mulai mengaitkan agama dengan aktivitas mereka sendiriAy (Faiz, 2. Pendekatan ini membuat dakwah dipahami bukan sebagai aktivitas terpisah, melainkan sebagai bagian dari kesadaran kolektif tentang kebersamaan dan tanggung jawab Resistensi remaja terhadap agama yang kerap dipersepsi membosankan atau penuh larangan pun berkurang, karena dakwah disampaikan melalui relasi dialogis dan empatik. Fahmi kembali menegaskan: AuUstadz Umar tidak marah saat saya cerita soal begadang atau bolos. Beliau mendengarkan Dari situ saya mulai ikut pengajian bukan karena takut, tapi karena ingin berubahAy (Fahmi, 2. Selain itu, kyai kampung secara sadar menjaga keseimbangan antara nilai agama dan identitas budaya lokal. Dakwah tidak dimaksudkan untuk menghapus adat, melainkan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan menjadikannya sebagai medium penyampaian nilai Islam. Dalam acara haul atau peringatan kematian, unsur budaya lokal seperti rebana, syair Madura, dan bahasa daerah tetap Kyai hanya menyisipkan nasihat singkat yang bersifat reflektif. Ustadz Umar AuKita tidak perlu meninggalkan budaya. Justru budaya kita jadikan media dakwah. Setiap suara rebana itu doa. Remaja menikmati budayanya, tapi juga merasakan bahwa agama hadir di dalamnyaAy (Umar, 2. Dengan demikian, kyai kampung di Desa Blumbungan tampil sebagai agen penguatan religiusitas remaja yang mampu memadukan dakwah, budaya, dan realitas sosial secara harmonis. Kontribusi ini tidak hanya memperkuat aspek ritual keagamaan remaja, tetapi juga membangun kesadaran moral, sosial, dan identitas keislaman yang kontekstual. Dakwah Kultural dan Partisipatif Dakwah yang dilakukan kyai kampung di Desa Blumbungan menekankan pendekatan kultural dan partisipatif, di mana remaja tidak ditempatkan sebagai objek dakwah semata, melainkan sebagai subjek yang terlibat aktif dalam proses internalisasi nilainilai keagamaan. Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial-keagamaan seperti tajhizul mayit, pengajian rutin, tahlilan, peringatan hari besar Islam, hingga kegiatan sosial desa dijadikan sebagai medium dakwah yang hidup dan kontekstual. Melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas tersebut, remaja mempelajari praktik keagamaan secara empiris dan reflektif, bukan sekadar memahami ajaran secara normatif. Pendekatan ini memperkuat rasa memiliki . ense of belongin. terhadap komunitas religius desa serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Aspek Pendekatan Dakwah Media Dakwah Relasi KyaiAeRemaja Peran Kyai Metode Interaksi Keteladanan Pendampingan Hasil Perubahan Tantangan Tabel 2. Dakwah Kultural Bentuk Dakwah Kyai Dampak pada Remaja Kampung Remaja terlibat aktif. Kultural dan partisipatif bukan objek dakwah Kegiatan keagamaan dan Agama dipelajari melalui sosial desa praktik langsung Hubungan personal dan Remaja merasa didengar dan dihargai Meningkatkan Pembimbing, kepercayaan dan pendamping, dan teladan Dialog, curhat, diskusi Remaja lebih terbuka terhadap nilai agama Praktik nyata dalam Nilai agama dipahami kehidupan sosial secara konkret Perubahan religiusitas Mentoring berkelanjutan berlangsung bertahap Kesadaran moral dan Remaja lebih aktif dan sosial meningkat bertanggung jawab Konsistensi remaja dan Dibangun jejaring keterbatasan kyai Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan Temuan penelitian menunjukkan bahwa peran kyai kampung bersifat transformasional, tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi agen perubahan yang memberikan dampak holistik pada kehidupan remaja. Kyai mampu menjalin hubungan personal dan kedekatan emosional lintas usia dan latar belakang sosial, sebagaimana ditegaskan oleh Khofi dan Furqon . , bahwa relasi personal merupakan kunci efektivitas kepemimpinan keagamaan di tingkat akar rumput. Hubungan yang terbangun tidak bersifat formal guruAemurid, melainkan menyerupai relasi kekeluargaan yang dilandasi rasa saling menghormati dan kepercayaan. Kyai tidak hanya hadir di mimbar, tetapi terlibat dalam keseharian remaja dengan mendengarkan keluh kesah mereka, menjadi tempat curhat, serta memberikan arahan berbasis pengalaman nyata. Hal ini diakui oleh Bahtiar, salah satu remaja Desa Blumbungan, yang menyatakan: AuKalau saya mau curhat tentang tekanan dari teman sekolah, saya kadang pergi ke rumah Pak Ustadz Umar. Beliau mendengarkan tanpa menghakimi. Setelah bicara, saya merasa lebih tenang dan berpikir ulang agar tidak mengambil keputusan buruk. Itu tidak terjadi kalau saya hanya didikte dari atasAy (Bahtiar, 2. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa relasi emosional memainkan peran penting dalam keberhasilan dakwah. Ketika remaja merasa didengarkan, dihargai, dan dipercaya, mereka cenderung lebih terbuka terhadap nilai-nilai keagamaan yang disampaikan. Dalam konteks ini, kyai tidak tampil sebagai otoritas kaku, melainkan sebagai sahabat rohani yang menemani proses pencarian jati diri remaja. Ustadz Umar menegaskan pendekatan ini: AuSaya sengaja duduk bersama mereka, bukan dari atas mimbar. Kalau ada remaja datang malam, saya ajak ngopi sederhana sambil bicara soal beban hidup, sekolah, atau masalah Dengan begitu mereka merasa dekat, bukan berhadapan dengan figur yang jauhAy (Umar, 2. Keterbukaan ini menciptakan suasana aman dan penuh kepercayaan, di mana remaja dapat mengekspresikan kegelisahan tanpa takut langsung dicap menyimpang atau berdosa. Selain membangun relasi dialogis, kyai kampung juga menghadirkan keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kyai tidak sekadar menyampaikan nilai-nilai keislaman secara verbal, tetapi mempraktikkannya melalui tindakan konkret seperti shalat tepat waktu, membantu warga sakit, terlibat dalam gotong royong, serta mendampingi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. Konsistensi antara ucapan dan tindakan ini memperkuat legitimasi moral kyai di mata remaja. Ustadz Syakur menjelaskan: AuSaya berusaha menjadi contoh. Mereka melihat saya ikut bersih-bersih kampung, membantu warga, dan hadir di tengah masyarakat. Saya ingin mereka melihat bahwa dakwah itu hidup, bukan hanya kata-kata di mimbarAy (Syakur, 2. Keteladanan ini menjadi salah satu mekanisme utama transformasi religiusitas. Remaja tidak hanya diyakinkan melalui argumen normatif, tetapi terinspirasi oleh aksi Hal ini tercermin dari pernyataan Bahtiar: AuWaktu saya melihat Pak Ustadz Faiz membantu anak yatim dan mendampingi teman saya yang bermasalah keluarga, saya berpikir bahwa agama itu nyata. Saya ingin ikut seperti itu, bukan demi pujian, tapi supaya hidup saya lebih bermaknaAy (Bahtiar, 2. Transformasi religiusitas yang terjadi tidak bersifat instan, melainkan melalui proses pendampingan jangka panjang. Kyai kampung memfasilitasi mentoring berkelanjutan, evaluasi personal, serta tindak lanjut pasca-pengajian. Pendampingan ini memungkinkan remaja melewati fase keraguan, krisis identitas, hingga proses internalisasi nilai dalam tindakan nyata. Ustadz Faiz menuturkan: AuSetelah pengajian, saya tidak berhenti. Saya tanya bagaimana praktiknya, apa kesulitannya. Kalau mereka masih bergumul dengan kebiasaan lama, kami bicara lagi. Prosesnya pelan, saya Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan tidak memaksa. Yang penting mereka merasa dibimbingAy (Faiz, 2. Selain itu, kyai kampung membuka ruang diskusi tematik yang membahas isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti media sosial, pergaulan bebas, tekanan teman sebaya, dan kecemasan masa depan. Dalam forum ini, kyai berperan sebagai fasilitator refleksi, bukan penghakim moral. Fahmi mengungkapkan: AuDi kajian malam Ahad. Ustadz Syakur bilang kami boleh bertanya apa saja. Saya cerita soal pacaran dan tekanan teman. Beliau menjelaskan konsekuensi agama dan solusi praktis. Itu membuat agama terasa relevan dengan masalah sayaAy (Fahmi, 2. Dari hasil observasi dan wawancara, ditemukan perubahan signifikan pada remaja, baik secara psikologis, moral, maupun sosial. Remaja menunjukkan peningkatan kesadaran diri dalam memilih pergaulan, mengutamakan kegiatan keagamaan, menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial, serta terlibat aktif sebagai penggerak pemuda masjid. Bahtiar AuDulu saya sering nongkrong tak jelas dan balapan. Sekarang saya lebih memilih ikut pengajian dan kegiatan masjid. Saya ingin hidup lebih tenang dan bermaknaAy (Bahtiar, 2. Meski demikian, penelitian ini juga menemukan tantangan, seperti kecenderungan sebagian remaja kembali pada kebiasaan lama ketika pendampingan melemah, serta keterbatasan waktu dan energi kyai. Untuk mengatasi hal tersebut, kyai membangun jejaring pendampingan dengan melibatkan remaja senior dan pembina muda, sehingga proses transformasi dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih luas. Dengan demikian, dakwah kultural dan partisipatif yang dijalankan kyai kampung di Desa Blumbungan terbukti menjadi strategi efektif dalam penguatan religiusitas remaja. Pendekatan ini tidak hanya menginternalisasikan nilai agama, tetapi juga membentuk kesadaran moral, identitas sosial, dan komitmen keberagamaan yang kontekstual dan berkelanjutan. Perubahan Perilaku Keagamaan Remaja Dampak kontribusi kyai kampung di Desa Blumbungan tampak jelas pada perubahan perilaku keagamaan remaja. Remaja yang sebelumnya cenderung terlibat dalam berbagai aktivitas negatif mulai menunjukkan peningkatan partisipasi dalam kegiatan keagamaan, kedisiplinan ibadah, serta sikap sosial yang lebih santun. Religiusitas yang tumbuh tidak hanya tercermin pada aspek ritual semata, tetapi juga pada dimensi sosial, seperti kepedulian, tanggung jawab, empati, dan solidaritas sosial. Perubahan ini berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan, seiring dengan intensitas pendampingan kyai serta konsistensi kegiatan keagamaan yang dijalankan di tingkat desa. Tabel 3. Perubahan Perilaku Keagamaan Remaja Aspek Perubahan Perilaku Sosial Partisipasi Keagamaan Kedisiplinan Ibadah Kesadaran Spiritual Sikap Moral Peran Sosial Remaja Kondisi Sebelum Dakwah Terlibat balap liar, bolos sekolah, pergaulan bebas Minim keterlibatan kegiatan Ibadah tidak rutin dan bersifat formal Agama dipersepsi sebagai Kurang empati dan kontrol Cenderung pasif atau Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kondisi Setelah Dakwah Kyai Kampung Lebih santun, bertanggung jawab, dan peduli sosial Aktif dalam pengajian, tahlilan, dan kegiatan masjid Shalat lebih disiplin dan Agama dihayati sebagai kebutuhan hidup Meningkatnya empati, kesabaran, dan kejujuran Menjadi penggerak dan teladan Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan Identitas Keagamaan Keberlanjutan Perubahan Terpengaruh budaya luar/hedonistik Rentan kembali ke kebiasaan Identitas religius berbasis budaya lokal Bertahan melalui pendampingan dan komunitas Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi religiusitas remaja di Blumbungan merupakan hasil dari proses dakwah kyai kampung yang intensif, kontekstual, dan Sebelum adanya dakwah yang terstruktur, sebagian remaja dikenal terlibat dalam perilaku menyimpang seperti balap liar, pergaulan bebas, bolos sekolah, serta adopsi gaya hidup hedonistik dan budaya Barat yang cenderung mengabaikan nilai-nilai Namun, melalui keterlibatan aktif dalam pengajian, kegiatan masjid, dan pendampingan personal oleh kyai kampung, remaja mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam perilaku sehari-hari. Hal ini diungkapkan oleh Bahtiar: AuDulu saya sering ikut balap liar dan bolos sekolah. Tapi setelah ikut pengajian dan kegiatan masjid yang dibimbing Ustadz Umar dan teman-teman, saya mulai meninggalkan kebiasaan Sekarang saya lebih memilih menghabiskan waktu di masjid dan ikut kegiatan sosialAy (Bahtiar, 2. Perubahan tersebut tidak semata-mata dipicu oleh tekanan eksternal, melainkan lahir dari kesadaran internal remaja yang tumbuh melalui proses dakwah yang melibatkan mereka secara langsung dan personal. Ustadz Syakur menegaskan bahwa perubahan ini dapat diamati secara nyata dalam keseharian remaja: AuPerubahan ini terlihat dari meningkatnya kehadiran remaja di masjid, kesadaran shalat berjamaah, dan berkurangnya aktivitas negatif. Ini bukti bahwa dakwah yang kontekstual dan partisipatif benar-benar berdampakAy (Syakur, 2. Selain perubahan sikap dan kebiasaan, dakwah kyai kampung juga meningkatkan partisipasi aktif remaja dalam berbagai aktivitas keagamaan. Kegiatan pengajian rutin, tahlilan, tajhizul mayit, serta kepanitiaan acara keagamaan menjadi bagian integral dari kehidupan remaja. Ustadz Faiz menjelaskan: AuKami melibatkan remaja dalam proses tajhizul mayit agar mereka belajar tanggung jawab sosial dan nilai kemanusiaan dalam Islam. Mereka juga menjadi panitia kegiatan masjid, sehingga tumbuh rasa memiliki terhadap komunitas keagamaanAy (Faiz, 2. Keterlibatan langsung ini memberikan pengalaman reflektif yang mendalam bagi Bahtiar menuturkan bahwa partisipasinya dalam kegiatan tajhizul mayit memberikan pemahaman baru tentang makna kehidupan: AuIkut tahlilan dan memandikan jenazah membuka mata saya tentang arti hidup dan kematian. Saya jadi lebih menghargai waktu dan berusaha hidup lebih bertanggung jawabAy (Bahtiar. Dakwah kyai kampung juga berkontribusi pada peningkatan kesadaran spiritual dan moral remaja. Ibadah tidak lagi dijalankan sebagai kewajiban formal, tetapi dihayati sebagai kebutuhan spiritual yang mempengaruhi sikap dan perilaku sehari-hari. Ustadz Umar AuKami tanamkan bahwa religiusitas bukan hanya shalat atau pengajian, tetapi bagaimana nilai Islam membimbing kejujuran, empati, kesabaran, dan tanggung jawab sosialAy (Umar, 2. Kesadaran ini dirasakan langsung oleh para remaja, sebagaimana diungkapkan Fahmi: AuSekarang saya shalat bukan karena takut, tapi karena ingin dekat dengan Allah. Saya juga belajar lebih sabar menghadapi masalah keluarga dan pertemananAy (Fahmi, 2. Perubahan religiusitas tersebut turut memengaruhi dinamika sosial remaja. Dari yang sebelumnya kerap memicu konflik sosial, kini sebagian remaja justru menjadi agen Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan perubahan di lingkungannya. Mereka mulai mengajak teman sebaya untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan dan saling mengingatkan agar menjauhi perilaku negatif. Ustadz Syakur mengungkapkan: AuRemaja yang sudah berubah mulai menjadi role model bagi temannya. Mereka mengajak yang lain kembali ke kegiatan masjid dan memperkuat komunitas pemudaAy (Syakur, 2. Bahtiar juga menyampaikan pengalaman serupa: AuSaya senang bisa mengajak teman-teman yang dulu suka balap liar untuk ikut pengajian. Kami saling mengingatkan agar tidak kembali ke kebiasaan lamaAy (Bahtiar, 2. Salah satu dampak penting dari dakwah kyai kampung adalah penguatan identitas religius remaja yang berpijak pada budaya lokal. Pendekatan dakwah yang mengakomodasi tradisi Madura membuat remaja memahami bahwa agama dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Ustadz Faiz menyatakan: AuKami mengajak remaja mencintai budaya Madura bahasa, rebana, dan tradisi lokal sambil memahami nilai Islam di dalamnya. Ini menumbuhkan kebanggaan identitas dan menjauhkan mereka dari pengaruh negatif budaya asingAy (Faiz, 2. Pandangan ini diamini oleh Fahmi: AuDulu saya ikut tren luar yang kadang bertentangan dengan agama. Setelah ikut kegiatan adat Islam, saya sadar agama dan budaya kita bisa berjalan bersamaAy (Fahmi, 2. Meski demikian, para kyai kampung mengakui bahwa mempertahankan perubahan religiusitas remaja bukan tanpa tantangan. Faktor ekonomi, pengaruh media sosial, dan tekanan teman sebaya masih menjadi hambatan yang harus dihadapi secara berkelanjutan. Ustadz Umar menegaskan: AuPengaruh negatif selalu ada, terutama dari media sosial. Karena itu, dakwah harus terus berlanjut dan melibatkan keluarga serta sekolah agar perubahan ini bertahanAy (Umar, 2. Bahtiar juga mengakui adanya godaan untuk kembali pada kebiasaan lama, namun dukungan kyai dan komunitas menjadi penguat: AuKadang tergoda kembali ke kebiasaan lama, tapi saya ingat nasihat kyai dan teman-teman yang sudah berubah. Itu yang membuat saya bertahanAy (Bahtiar, 2. Dengan demikian, perubahan perilaku keagamaan remaja di Desa Blumbungan mencerminkan keberhasilan dakwah kyai kampung yang tidak hanya berorientasi pada ritual, tetapi juga pada pembentukan kesadaran moral, identitas sosial, dan komitmen keberagamaan yang kontekstual dan berkelanjutan. Pembahasan Temuan penelitian ini menegaskan bahwa kontribusi kyai kampung dalam penguatan religiusitas remaja di Desa Blumbungan tidak dapat dipahami sekadar sebagai aktivitas dakwah normatif, melainkan sebagai proses transformasi sosial-keagamaan yang berlangsung secara kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan. Kyai kampung hadir sebagai aktor kunci yang mampu menjembatani jarak antara ajaran Islam dan realitas hidup remaja pedesaan yang tengah berhadapan dengan tekanan modernitas, globalisasi budaya, serta krisis identitas generasi muda. Pendekatan dakwah kultural yang diterapkan kyai kampung terbukti efektif karena berangkat dari pengakuan terhadap budaya lokal sebagai medium dakwah, bukan sebagai Dengan menjadikan tradisi seperti tahlilan, selamatan, haul, dan kegiatan sosial desa sebagai ruang internalisasi nilai keislaman, dakwah tidak memunculkan resistensi psikologis di kalangan remaja. Sebaliknya, agama dipersepsi sebagai bagian integral dari kehidupan sosial mereka. Temuan ini menguatkan pandangan bahwa dakwah yang kontekstual memiliki daya jangkau lebih luas dibandingkan pendekatan doktrinal yang terpisah dari pengalaman keseharian masyarakat. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan Partisipasi aktif remaja dalam berbagai aktivitas keagamaan menunjukkan bahwa religiusitas tidak tumbuh melalui ceramah satu arah, melainkan melalui pengalaman praksis yang memberi makna. Keterlibatan dalam tajhizul mayit, kepanitiaan kegiatan masjid, dan aksi sosial keagamaan memungkinkan remaja mengalami langsung nilai tanggung jawab, empati, dan kesadaran akan kefanaan hidup. Pengalaman tersebut berfungsi sebagai mekanisme reflektif yang mendorong lahirnya kesadaran religius dari dalam diri, bukan karena tekanan eksternal. Hal ini menjelaskan mengapa perubahan perilaku yang terjadi bersifat relatif stabil dan tidak sekadar temporer. Peran kyai kampung sebagai figur transformasional menjadi aspek sentral dalam proses ini. Kyai tidak hanya berfungsi sebagai komunikator agama, tetapi juga sebagai pendamping spiritual dan sosial. Relasi yang dibangun bersifat personal, dialogis, dan egaliter, sehingga mengikis jarak simbolik antara otoritas agama dan remaja. Ketika kyai hadir sebagai pendengar dan teman diskusi, remaja merasa diakui sebagai subjek moral yang memiliki pengalaman dan kegelisahan yang sah untuk dibicarakan. Pola relasi ini menciptakan ruang aman bagi remaja untuk merefleksikan kehidupannya tanpa rasa takut Keteladanan kyai dalam kehidupan sehari-hari memperkuat legitimasi dakwah yang Konsistensi antara ujaran dan tindakan menjadikan nilai-nilai Islam tidak berhenti sebagai wacana moral, melainkan terwujud dalam praktik sosial. Remaja tidak hanya mendengar ajaran tentang kepedulian dan tanggung jawab, tetapi menyaksikan langsung bagaimana nilai tersebut dijalankan. Proses imitasi sosial inilah yang mempercepat internalisasi nilai dan membentuk orientasi moral remaja secara lebih mendalam. Perubahan religiusitas yang teridentifikasi dalam penelitian ini juga memperlihatkan pergeseran dari religiusitas simbolik menuju religiusitas reflektif. Remaja tidak lagi menjalankan ibadah semata karena kewajiban formal, tetapi mulai mengaitkan praktik ibadah dengan pengendalian diri, manajemen emosi, dan etika sosial. Religiusitas menjadi kerangka nilai yang memandu pilihan hidup, seperti selektivitas dalam pergaulan, pengelolaan waktu, dan sikap terhadap tekanan sosial. Pergeseran ini menunjukkan keberhasilan dakwah dalam membentuk kesadaran religius yang fungsional dan relevan dengan problem kehidupan nyata. Dampak sosial dari perubahan ini terlihat pada terbentuknya komunitas remaja religius yang saling menguatkan. Remaja yang telah mengalami transformasi tidak berhenti pada perubahan personal, tetapi berkembang menjadi agen pengaruh bagi teman sebaya. Pola ini menciptakan efek domino yang memperluas jangkauan dakwah tanpa bergantung sepenuhnya pada kyai. Keberadaan kelompok pemuda masjid dan mentor sebaya menjadi bukti bahwa religiusitas telah bertransformasi menjadi kesadaran kolektif, bukan sekadar pengalaman individual. Penguatan identitas religius yang berpijak pada budaya lokal juga memiliki implikasi penting dalam konteks globalisasi. Dengan memahami bahwa Islam dapat berjalan seiring dengan tradisi Madura, remaja tidak mengalami konflik identitas antara agama dan budaya. Hal ini mengurangi kecenderungan adopsi budaya luar secara tidak kritis dan membentuk kebanggaan terhadap identitas lokal. Religiusitas yang demikian bersifat inklusif, adaptif, dan tidak terjebak pada puritanisme yang memutus akar sosial-budaya masyarakat. Meskipun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan religiusitas bukan proses yang linier dan bebas tantangan. Tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, serta dinamika pergaulan tetap menjadi faktor yang berpotensi melemahkan konsistensi Namun, keberadaan sistem pendampingan berkelanjutan dan jaringan mentor sebaya berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang menjaga keberlanjutan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Kontribusi Kyai Kampung Dalam Penguatan Religiusitas Remaja Di Desa Blumbungan Hal ini menegaskan bahwa dakwah yang efektif memerlukan desain jangka panjang dan tidak dapat bergantung pada intervensi sesaat. KESIMPULAN Berdasarkan sajian tersebut di atas maka penelitian ini dapat disimpulkan ke dalam tiga poin. Pertama, peran kyai kampung sebagai agen penguatan religius rama di Desa Blumbungan terpraktikkan seccara dialogis. Kyai kampung bagi remaja setempat tidak diposisikan sebagai pemegang otoritas keagamaan semata karena kedetan emosional. Oleh sebab itu, pesan keagamaan yang diberikan kyai kampung diterima secara sukarela tanpa terkesan memaksa. Kedua, dakwah kyai kampung terimplementasi melalui kulturalpartisipatif. Sebab, remaja terlibat aktif dalam aktivitas sosial keagamaan yang menciptakan religiusitasnya terinternalisasi lewat pengalaman pribadi secara langsung. Ketiga, kontribusi kyai kampung terhadap religius remaja bisa dilihat dari sisi keaktifan beribadah. Di mana, remaja Blumbungan melalui dakwah kyai kampung lebih berjarak terhadap kegiatan negative sehingga melahirkan prilaku sosial yang lebih etis. Peneliti menyadari penelitian ini terdapat kekurangan sehingga perlu dilakukan penelitian Guna mengukur keberrhasilan, penelitian lanjutan bisa menggunakan pendekatan mixed method. REFERENSI