Vol. No. Tahun 2024, pp 487-493 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Secondary Prevention pada Pasien Hipertensi melalui Penyuluhan Pengendalian Tekanan Darah Berbasis Integrasi Teori Health Belief Model dan Model Adaptasi Secondary Prevention in Hypertension Patients through Blood Pressure Control Education Based on the Health Belief Model Theory and Adaptation Model Gratsia Victoria Fernandez1*. Nancy Sicilia Lampus2. Imelda Sirait3 Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi. Kota Manado. Indonesia Program Studi Spesialis 1 Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi. Kota Manado. Indonesia Abstract Blood pressure control in hypertension remained an important health problem and finding strategies to overcome it was a problem worldwide. This community service activity aimed to improve the secondary prevention behavior of hypertensive patients in controlling their blood pressure in a stable condition. The way to carry out this community service was in three stages, namely, carrying out an initial evaluation, providing counseling, and providing a final This community service activity was carried out at two Community Health Centers in Manado City. The method used was education with lectures, questions, and answers. As a result, during the activity, the participants seemed very enthusiastic and participated in the activity until the end. Participants' participation was also shown actively by asking questions regarding the counseling material provided. In conclusion, this activity could be carried out well and was beneficial for participants, especially hypertensive patients, in increasing knowledge and behavior in controlling blood pressure. Keywords: hypertension, secondary prevention, blood pressure Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 01 Juli 2024 Accepted 30 Desember 2024 Published 31 Desember 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Abstrak Pengendalian tekanan darah pada hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang penting dan menemukan strategi untuk mengatasinya menjadi masalah di seluruh dunia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk peningkatan perilaku pencegahan sekunder pasien hipertensi dalam melakukan pengendalian tekanan darahnya dalam kondisi yang stabil. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah dengan ceramah dan tanya jawab. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada dua Puskesmas di Kota Manado. Metode yang digunakan adalah edukasi dengan ceramah, tanya jawab. Hasilnya, selama kegiatan berlangsung, peserta tampak sangat antusias dan mengikuti kegiatan sampai akhir. Partisipasi peserta juga ditunjukkan dengan keaktifan dengan memberikan pertanyaanpertanyaan mengenai materi penyuluhan yang diberikan. Kesimpulannya kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi peserta khususnya pasien hipertensi dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku dalam melakukan pengendalian tekanan darah. Kata Kunci: hipertensi, pencegahan sekunder, tekanan darah *Penulis Korespondensi: Gratsia Victoria Fernandez, email: gratiavictoria@unsrat. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Penyakit hipertensi disebut sebagai AuThe Silent DiseasesAy karena tidak terdapat tanda-tanda atau gejala yang dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan masalah kesehatan. Pengendalian tekanan darah pada hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang penting dan menemukan strategi untuk mengatasinya menjadi masalah di seluruh dunia (AHA, 2. Beberapa penelitian dari beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan bahwa kesadaran penderita hipertensi mengenai pengendalian tekanan darah masih sangat rendah (Fernandez dan Widyawati, 2. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pengetahuan yang rendah mengenai cara mengendalikan tekanan darahnya, perilaku ketidakpatuhan baik dalam pengobatan maupun modifikasi gaya hidup, kurangnya dukungan sosial dan rendahnya Tingkat perubahan perilaku gaya hidup dalam secondary prevention atau pencegahan sekunder pada penyakit kardiovaskular masih rendah, dengan perkiraan enam bulan setelah kejadian menunjukkan sekitar setengah dari orang-orang tetap merokok, dan 60% tidak mematuhi pedoman aktivitas fisik (Lee dan Park, 2. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2020, yang mengungkapkan bahwa lebih dari 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, atau 1 dari 3 orang, jumlah lansia yang menderita tekanan darah tinggi terus bertambah setiap tahunnya. Indonesia sendiri prevalensi hipertensinya berdasakan pengukuran sebanyak 34,1% (Ou18 tahu. Sulawesi Utara sesuai dengan hasil pengkuran hipertensi dengan jumlah kasus 214. 102 tepat tahun 2018 (Riskesdas. Laporan penyakit tidak menular berasal Dinas Kesehatan Kota Manado tahun 2018 sebanyak 27. 686 kasus di tahun 2019 penderita hipertensi sebesar 1. 870 kasus, dengan jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Tuminting sebanyak 368 kasus dan Puskesmas Paniki dengan jumlah 370 kasus (Dinkes, 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pasien hipertensi pada kedua puskesmas tersebut masih belum dapat melakukan pengendalian tekanan darahnya Fernandez 1 et al. Vol. No. Desember 2024 (Mala et al. , 2. Kedua lokasi puskesmas yang dipilih berada di dua kecamatan yang berbeda dengan harapan kegiatan pengabdian masyarakat dapat menjangkau lebih banyak Masyarakat Kota Manado. Secondary prevention berupa perilaku perawatan diri yang efektif seperti kepatuhan pengobatan, pembatasan diet, berhenti merokok, olahraga, dan pemantauan tekanan darah secara teratur merupakan komponen penting dari manajemen penyakit untuk pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol (Hickman et al. , 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya, perilaku dalam mengendalikan tekanan darah pada pasien hipertensi dapat ditingkatkan berdasarkan integrasi teori Health Belief Model (HBM) dan teori model adaptasi dari Callista Roy (Fernandez dan Widyawati. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk peningkatan perilaku secondary prevention pasien hipertensi dalam melakukan pengendalian tekanan darahnya dalam kondisi yang stabil. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada dua Puskesmas di Kota Manado yaitu Puskesmas Tuminting pada Jumat, 14 Juni 2024 dan Puskesmas Paniki Bawah pada Jumat, 21 Juni 2024, dengan total peserta sebanyak 51 subjek. Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan mengenai pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi berbasis integrasi teori HBM dan teori model adaptasi. Berdasarkan integrasi kedua teori tersebut, secondary prevention pasien hipertensi dilakukan dengan peningkatan pengetahuan tentang hipertensi, melakukan manajemen stres, kesadaran mengenai peran petugas kesehatan, adanya dukungan keluarga, peningkatan keyakinan individu dan kognator pasien hipertensi. Sasaran kegiatan ini adalah anggota prolanis yang menderita penyakit hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tuminting dan Puskesmas Paniki Bawah. Sebelum kegiatan dilakukan tim akan mengurus perizinan dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Tuminting dan Puskesmas Paniki Bawah. Tim sebanyak 3 orang melakukan koordinasi dengan tim puskesmas selama kegiatan berlangsung. Strategi pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan beberapa tahapan yang dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tabel 1. Tahapan pelaksanaan pengabdian masyarakat Kegiatan pre-test untuk mengetahui pengetahuan peserta tentang pengendalian tekanan darah Penyuluhan mengenai pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi berbasis integrasi teori HBM dan teori model adaptasi. Mengevaluasi pemahaman peserta dengan kegiatan post-test Media bantu yang digunakan adalah proyektor untuk menampilkan materi dalam bentuk power point yang dibawakan oleh pemateri dan brosur/leaflet lengkap yang akan membantu peserta untuk bisa benar-benar memahami terkait perilaku secondary prevention pasien hipertensi dalam melakukan pengendalian tekanan darahnya. Selain itu, brosur/leaflet tersebut dapat dibaca lagi di rumah nantinya oleh para peserta Metode yang digunakan adalah edukasi dengan ceramah dan tanya jawab. Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan melibatkan 3 Dosen Fakultas Kedokteran dan 3 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kegiatan penyuluhan kesehatan berupa pemberian materi oleh narasumber, diskusi dan tanya jawab. Narasumber pada pelatihan ini adalah semua Anggota Tim Dosen. Kegiatan ini dilakukan di ruang tunggu masing-masing puskesmas. Adapun jumlah peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan dari Puskesmas Tuminting dan Puskesmas Paniki Bawah adalah 51 orang. Sebaran peserta dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Sebaran peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan Nama Puskesmas Jumlah Peserta Puskesmas Tuminting 25 orang Puskesmas Paniki Bawah 26 orang Total Peserta 51 orang Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan pemberian pre-test mengenai pengetahuan peserta tentang pengendalian tekanan darah. Hasilnya, sebagian peserta . %) pada kedua puskesmas belum memahami tentang manajemen pengendalian tekanan darah. Selanjutnya, dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai pengendalian tekanan darah berdasarkan integrasi teori HBM dan teori model adaptasi. Gambar 1. Kegiatan pegabdian masyarakat di Puskesmas Tuminting Teori HBM adalah teori pertama di bidang kesehatan yang berhubungan dengan perilaku kesehatan dan dapat menjelaskan perilaku pencegahan dan respon individu terhadap penyakit (Setiyaningsih et al. , 2. Teori HBM terdiri dari beberapa konsep utama yang dapat memprediksi mengapa orang akan mengambil tindakan untuk mencegah, menyaring, atau mengendalikan kondisi penyakit, termasuk kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan terhadap suatu perilaku, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri (Daniati et al. , 2. Secara umum diyakini bahwa seseorang akan mengambil tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengontrol kondisi gangguan kesehatan tergantung dari health belief yang dimilikinya (Yoshitake et al. , 2. Teori HBM merupakan teori perubahan perilaku kesehatan dan model psikologis yang digunakan untuk memprediksi perilaku kesehatan dengan berfokus pada persepsi dan kepercayaan individu terhadap suatu penyakit. Menurut teori ini perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi dan kepercayaan tersebut sesuai dengan realitas (Priyoto. Selain teori HBM, pendekatan perilaku dengan menggunakan model konsep Fernandez 1 et al. Vol. No. Desember 2024 adaptasi Roy. Teori adaptasi Roy memberikan suatu kerangka berfikir bahwa tujuan keperawatan adalah membantu pasien untuk beradaptasi dengan penyakit (Gonzalo. Perilaku manusia dipengaruhi oleh pola pikir atau kognisi manusia itu sendiri. Pentingnya sebuah kognisi pada manusia yaitu agar manusia tersebut dapat survive di dalam beberapa aspek kehidupan. Sehingga hubungan antara kognisi dengan perilaku manusia harus saling bersinergi (Masters, 2. Pada model konsep adaptasi Roy, proses kognitif terdapat pada sub sistem dari proses mekanisme koping yaitu sub sistem kognator yaitu proses koping utama yang melibatkan empat saluran kognitif yaitu proses persepsi, belajar, menilai dan emosi (Alligood dan Raile, 2. Dalam kehidupan sehari-hari, penderita hipertensi dihadapkan dengan perkembangan penyakitnya dan harus beradaptasi dengan perubahan tersebut dengan melakukan pengontrolan tekanan darah, pengobatan, serta mengubah gaya hidup dalam diet, olahraga dan pengaturan stress (Triyanto, 2. Berdasarkan integrasi kedua teori tersebut, secondary prevention pasien hipertensi dilakukan dengan peningkatan pengetahuan tentang hipertensi, melakukan manajemen stres, kesadaran mengenai peran petugas kesehatan, adanya dukungan keluarga, peningkatan keyakinan individu dan kognator pasien hipertensi. Integrasi dari kedua teori diatas diharapkan dapat membantu penderita hipertensi untuk dapat menjaga tekanan darahnya dalam kondisi yang stabil. Gambar 2. Kegiatan pegabdian masyarakat di Puskesmas Paniki Bawah Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak sangat antusias dan mengikuti kegiatan sampai akhir. Partisipasi peserta juga ditunjukkan dengan keaktifan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi penyuluhan yang diberikan. Setelah kegiatan penyuluhan dan tanya jawab selesai, diakhiri dengan pemberian posttest. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar . %) peserta pada kedua puskesmas telah memahami tentang manajemen pengendalian tekanan darah. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Puskesmas Tuminting dan Puskesmas Paniki Bawah dapat terlaksana dengan baik. Kegiatan ini dapat bermanfaat bagi peserta khususnya pasien hipertensi dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku dalam melakukan pengendalian tekanan darah yang ditunjukkan dengan hasil evaluasi bahwa sebagian besar . %) peserta pada kedua puskesmas telah memahami tentang manajemen pengendalian tekanan darah. Diharapkan bagi Petugas Puskesmas untuk terus membantu pasien hipertensi dalam melakukan pengendalian Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 tekanan darah, sehingga tekanan darah pasien hipertensi menjadi lebih terkontrol. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Rektor Universitas Sam Ratulangi. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) atas dana hibah yang sudah diberikan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Terima kasih juga kepada Dekan Fakultas Kedokteran. Koordinator Program Studi Ilmu Keperawatan. Kepala Puskesmas Tuminting dan Kepala Puskesmas Paniki Bawah, untuk dukungan dan arahannya dalam pelaksanaan kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA