CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 Implementasi Public Speaking dalam Program Spirit Pagi: Studi Kasus di SMA St. Familia Wae Nakeng NTT Laura Gresensi Anjeli Winda1. Veki Edizon Tuhana2. Herman Elfridus Seran3 Universitas Nusa Cendana Email: windalaura@gmail. com 1, veki. tuhana@staf. seran@staf. ABSTRAK: Kemampuan Public Speaking merupakan keterampilan penting di era global, namun belum seluruh siswa memiliki keberanian dan keterampilan tersebut. Program Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng. Manggarai. NTT yang telah dilaksanakan sejak tahun 2002 menjadi sarana latihan rutin berbicara di depan umum dalam dua bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program Spirit Pagi dalam meningkatkan keterampilan Public Speaking siswa serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi siswa dalam prosesnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan paradigma interpretif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 13 informan, meliputi siswa kelas XI dan XII, guru penginisiasi, serta guru piket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah terstruktur dan memberi dampak positif terhadap peningkatan kepercayaan diri, berpikir kritis, dan kemampuan retorika siswa. Kendala seperti gugup, hambatan bahasa, dan kurangnya persiapan masih ditemukan, namun dapat diatasi melalui bimbingan guru dan lingkungan yang mendukung. Kata Kunci: Aristoteles retorika, komunikasi publik, public speaking. Spirit Pagi, pendidikan menengah atas ABSTRACT: Public Speaking is an essential skill in the global era, yet not all students possess the confidence or competence to speak effectively in public. The Spirit Pagi program at SMAS St. Familia Wae Nakeng. Manggarai. NTT implemented since 2002, serves as a routine platform for students to practice speaking in public using both Indonesian and English. This study aims to explore the implementation of the Spirit Pagi program in enhancing students' Public Speaking skills and to identify the challenges faced by students in this process. The research adopts a qualitative approach with a case study method and an interpretive paradigm. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving 13 informants, including students from grades XI and XII, the program initiator, and daily supervising teachers. The findings show that the program is systematically implemented and significantly contributes to studentsAo self-confidence, critical thinking, and rhetorical skills. Challenges such as anxiety, language barriers, and lack of preparation remain, but can be addressed through teacher support and a conducive school environment. Keywords: AristotleAos rhetoric, public Speaking. Spirit Pagi, public communication, secondary education CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 PENDAHULUAN Kemampuan berbicara di depan umum (Public Speakin. merupakan keterampilan esensial dalam dunia pendidikan dan kehidupan profesional, terutama dalam konteks pendidikan abad ke-21. Siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas, logis, dan meyakinkan di hadapan publik (Nasution, 2. Salah satu pendekatan efektif untuk mengembangkan keterampilan ini adalah dengan menyediakan ruang latihan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Dalam praktiknya. Public Speaking juga beradaptasi dengan audiens yang beragam (Dunar, 2. SMAS St. Familia Wae Nakeng, yang berlokasi di Kabupaten Manggarai Barat. Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah menerapkan program Spirit Pagi sejak tahun 2002 sebagai sarana pelatihan Public Speaking siswa. Program ini dilaksanakan setiap pagi sebelum proses belajar mengajar, di mana siswa tampil bergiliran untuk menyampaikan presentasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Materi yang disampaikan mencakup isu-isu aktual di bidang sosial, pendidikan, budaya, dan kehidupan remaja (Bersemi, 2. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk melatih kemampuan berbicara, tetapi juga membentuk karakter siswa yang percaya diri, berpikir kritis, dan bertanggung jawab. Namun dalam pelaksanaannya, masih terdapat tantangan. Beberapa siswa mengalami hambatan psikologis seperti rasa gugup, takut salah, atau kecemasan saat tampil di depan umum. Hambatan bahasa, khususnya penggunaan Bahasa Inggris, kondisi lingkungan yang belum selalu mendukung, serta keterbatasan teknis, turut memengaruhi efektivitas kegiatan (SMAS St. Familia, 2. Meskipun sebagian besar siswa menunjukkan perkembangan setelah mendapat pembiasaan, bimbingan guru, dan dukungan dari teman sebaya, hambatan tersebut tetap perlu dikaji agar program ini dapat berjalan lebih optimal. Hal ini sejalan dengan teori retorika Aristoteles yang menekankan tiga elemen penting dalam komunikasi publik: logos . ogika atau isi pesa. , pathos . redibilitas pembicar. (Arisoteles, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Public Speaking dalam program Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng, tantangan-tantangan mengembangkan keterampilan tersebut. Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang melibatkan siswa kelas XI dan XII sebagai informan kunci karena keterlibatan mereka yang lebih intens mewawancarai guru penginisiasi Bapak Rofinus Ndulu sebagai informan ahli dan juga mewawancarai dua orang guru piket sebagai narasumber tambahan. Dengan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data, diharapkan penelitian ini dapat tentang pelaksanaan program, sekaligus menjadi kontribusi bagi pengembangan metode pelatihan Public Speaking di tingkat pendidikan menengah. TINJAUAN PUSTAKA Kajian Empirik Peneliti menggunakan beberapa kajian terdahulu sebagai rujukan dan referensi yang relevan dengan topik penelitian. Adapun literatur tersebut adalah sebagai berikut: Jurnal tahun 2024 yang berjudul CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 Proyek Penguatan Profil Siswa Berwawasan Pancasila: Implementasi. Peran Guru dan Karakter Siswa yang ditulis oleh Waruwu et al. Jurnal ini membahas implementasi penguatan karakter siswa melalui peran guru dalam menciptakan kegiatan yang menunjang Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini relevan karena dalam program Spirit Pagi, siswa dilatih untuk menjadi komunikator yang percaya diri dan berkarakter, sejalan dengan semangat penguatan profil pelajar Pancasila. Selanjutnya. Punuh dan Sirine . menunjukkan bahwa organisasi keagamaan GMIM Bethel Seretan mampu menjalankan fungsi pemberdayaan sosial melalui model kewirausahaan sosial. Studi kualitatif ini menyoroti keberhasilan kesejahteraan masyarakat meskipun dihadapkan pada kendala partisipasi dan dukungan eksternal yang terbatas (Punuh & Sirine, 2. keterampilan komunikasi. Mustamir . melakukan meta-sintesis terhadap studistudi mengenai kecemasan berbicara dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Sintesis kecemasan siswa umumnya bersumber dari ketakutan terhadap evaluasi negatif, rendahnya kepercayaan diri, dan tekanan budaya, yang dapat diatasi melalui penciptaan lingkungan belajar yang suportif, pemanfaatan media digital, dan pendekatan manajemen stres (Mustamir. Dalam konteks pembelajaran aktif, (Budi, 2. membuktikan efektivitas meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa di MAN 1 Kulon Progo. Penelitian tindakan kelas ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan baik dalam partisipasi maupun prestasi akademik setelah penerapan strategi pembelajaran berbasis penemuan. Adapun Sholihin mengkaji program Public Speaking di Pondok Pesantren AlIman Putra Ponorogo, yang melalui program Imamah dan Dakwah berhasil meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan komunikasi santri secara Keseluruhan studi tersebut memperkuat asumsi bahwa pembelajaran yang berbasis nilai, praktik sosial, dan latihan berbicara publik secara terstruktur, sebagaimana yang diadopsi dalam program Spirit Pagi, memiliki potensi strategis dalam membentuk karakter dan kompetensi komunikasi peserta didik (Sholihin, 2. Kajian Konseptual Kajian konseptual ini menguraikan landasan komunikasi publik dan Public Speaking dalam konteks program Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng. Komunikasi publik merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada khalayak luas yang bertujuan memengaruhi opini atau perilaku melalui pesan yang jelas dan kredibel (Naqiah & Deli. , 2. Public Speaking keterampilan berbicara di depan umum yang mencakup unsur verbal, vokal, dan visual secara terpadu (Mehrabian, 1. Kegiatan ini membutuhkan penguasaan materi, keberanian, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan audiens. Public Speaking memotivasi, dan menghibur (Zainal, 2. Dalam Spirit Pagi, membawakan materi aktual dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga mampu melatih kepercayaan diri, berpikir kritis, serta kemampuan menyusun dan menyampaikan argumen secara logis. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan komunikasi, tetapi juga CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 membentuk karakter dan tanggung jawab siswa dalam menyampaikan gagasan di ruang publik. Kajian Teoritis Penelitian ini didasari oleh Teori Retorika Aristoteles, yang menekankan tiga unsur utama dalam komunikasi persuasif, yaitu logos, pathos, dan ethos (West. Richard. Turner, 2. Logos mengacu pada logika atau alasan dalam menyusun argumen. Pathos berhubungan dengan emosi yang dibangun dalam penyampaian pesan. Ethos pembicara, baik dari sikap, etika, maupun penguasaan materi. Dalam konteks Spirit Pagi, teori ini menjadi acuan untuk menganalisis sejauh mana siswa mampu menerapkan ketiga unsur tersebut saat tampil di depan publik. Teori ini juga berguna dalam menilai efektivitas siswa dalam menyampaikan ide dan membangun interaksi komunikatif yang meyakinkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mendalam implementasi program Public Speaking melalui kegiatan Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng (Rijali, 2. Dengan interpretif, peneliti berusaha memahami makna yang dibentuk oleh siswa dan guru dalam konteks pelaksanaan program ini secara alami, tanpa manipulasi variabel. Lokasi penelitian berada di SMAS St. Familia Wae Nakeng. Kabupaten Manggarai Barat. Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan selama bulan Mei 2025, yang mencakup tahap observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis Subjek penelitian ini terdiri atas siswa kelas XI dan XII yang aktif mengikuti kegiatan Spirit Pagi sebagai informan kunci, guru yang menginisiasi program Spirit Pagi Bapak Rofinus Ndulu sebagai informan ahli, serta guru piket ibu Meliana Ena dan Ibu Melita Encik sebagai informan tambahan. Penentuan subjek dilakukan secara purposif, yaitu dengan memilih informan yang dianggap memiliki pemahaman dan pengalaman yang relevan dengan kegiatan yang diteliti. Teknik dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan dengan cara peneliti hadir secara langsung dalam pelaksanaan Spirit Pagi untuk mengamati Wawancara mendalam dilakukan terhadap siswa, guru penginisiasi program spirit pagi, dan guru piket guna menggali pengalaman, pandangan, serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan Sementara itu, dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen pendukung seperti foto, video, dan catatan kegiatan yang berkaitan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman . yang terdiri atas tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan untuk menyaring dan memfokuskan data mentah agar menjadi data yang relevan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif dan kutipan wawancara untuk dianalisis secara tematik. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan yang bertujuan menemukan pola dan makna yang sesuai dengan fokus penelitian. Seluruh proses analisis dilakukan secara terus-menerus dan simultan, hingga data mencapai saturasi atau tidak ditemukan informasi baru yang signifikan. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil dari berbagai teknik pengumpulan data . awancara, observasi, dan dokumentas. serta memverifikasi informasi dari berbagai sumber, baik dari siswa maupun Dengan demikian, data yang dihasilkan memiliki validitas dan reliabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. HASIL PENELITIAN Implementasi Public Speaking Dalam Program "Spirit Pagi" di SMAS St. Familia Wae Nakeng SMAS St. Familia Wae Nakeng menerapkan program "Spirit Pagi" untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum (Public Speakin. Program ini dilaksanakan setiap pagi sebelum pelajaran Yang sudah diadakan semenjak Menurut Bapak Rofinus Ndulu, program ini diinisiasi karena siswa menyampaikan pendapat secara lisan. "Spirit Pagi" bertujuan untuk melatih siswa berani berbicara, menyampaikan ide secara sistematis, dan bertanggung jawab atas materi yang disampaikan. Siswa juga dilatih berdiskusi melalui sesi tanya jawab. (Gambar . Gambar 1 : Situasi Spirit pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng (Sumber: Peneliti. Program ini dilaksanakan oleh OSIS seksi akademik dengan bimbingan Setiap kelas mendapat jadwal tampil pada hari Senin hingga Kamis. Presentasi menggunakan Bahasa Indonesia (Senin dan Rab. serta Bahasa Inggris (Selasa dan Kami. Materi presentasi mencakup isuisu sosial dan lingkungan. Selain melatih Public Speaking, program ini juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyimak siswa melalui diskusi dan sesi tanya jawab, seperti yang disampaikan oleh Ibu Melita Encik. Guru BK. Ibu Meliana Ena, menambahkan bahwa program ini membina keberanian siswa untuk tampil dan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. "Spirit Pagi" bersifat wajib bagi seluruh siswa, yang berperan tidak hanya sebagai pembicara, tetapi juga sebagai penanya, pemberi tanggapan, dan moderator. Hal ini mendorong keterlibatan aktif dan komunikasi dua arah di antara siswa. Pelaksanaan Spirit Pagi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan Public Speaking siswa dalam beberapa aspek. Peningkatan Kepercayaan Diri Salah satu manfaat utama adalah peningkatan keberanian dan rasa percaya diri siswa dalam berbicara di depan umum. Hal ini dicapai melalui praktik berulang dan suasana yang mendukung (Gambar . Gambar 2. Seorang Siswi Memberikan Pertanyaan Terkait Materi yang Dipresentasikan Di Program Spirit Pagi. (Sumber : Peneliti, 2. "Dulu saya merasa grogi sekali kalau harus berbicara di depan kelas atau Tapi CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 beberapa minggu mengikuti Spirit Pagi, saya mulai merasa percaya "(Arni. XI IPA . "Pelan-pelan saya belajar cara ngontrol rasa gugup itu. Sekarang, meskipun masih deg-degan, tapi sudah jauh lebih percaya diri. "(Bela. XI IPS . Kemampuan Berpikir Kritis dan Berbicara Terstruktur Spirit Pagi memfasilitasi siswa dalam membangun argumen, memilih diksi, dan mengembangkan gagasan secara runtut dan logis. "Dengan adanya Spirit Pagi, saya lebih banyak membaca. Karena mau tampil, otomatis kita harus tahu apa yang kita omongin. " (Partilio. XII Bahasa . "Kalau ditanya audiens, kita harus bisa jawab dengan logis. Itu melatih saya berpikir cepat tapi tetap jelas. (Rikardus Enggi. XII IPA . Pembentukan Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Kegiatan ini juga menanamkan disiplin dan tanggung jawab, baik dalam hal kehadiran tepat waktu, persiapan materi, maupun keterlibatan aktif selama sesi berlangsung (Gambar . sekolah, rasanya sudah biasa. (Maria Yosalinda. XII IPS . "Di Spirit Pagi, semua orang punya Kita juga belajar saling mendukung dan berani menanggapi pendapat teman secara sopan. (Rikardus Icandri Enggi. XII IPA . Pembekalan untuk Tampil di Forum Umum Spirit Pagi tidak hanya relevan di lingkungan sekolah, tetapi juga melatih kesiapan siswa untuk tampil di forum publik lainnya seperti kegiatan warga atau acara keagamaan (Gambar . Gambar 4. Pemateri dan Moderator kegiatan Spirit Pagi (Sumber : Peneliti, 2. "Di luar sekolah saya sering dipercayakan untuk menjadi lektris saat misa atau pembacaan doa. Menurut saya, itu semua karena Spirit Pagi. " (Vanty. XI IPA . "Saya pengalaman Spirit Pagi dengan maju dan bertanya dengan percaya diri. (Kaila. XI IPA . Tantangan Dihadapi Pengembangan Public Speaking Meskipun program ini memberi dampak positif, penelitian juga menemukan Gambar 3: Masukan Dan Motivasi dari Guru setelah pelaksanaan Program Spirit berbagai tantangan internal dan eksternal Pagi (Sumber : Peneliti, 2. keterampilan siswa. "Karena sudah sering tampil, jadi kalau ada tugas presentasi di kelas Rasa Takut dan Gugup atau diminta jadi MC di acara Gugup saat tampil di depan umum masih CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 menjadi hambatan utama, khususnya pada tahap awal. "Awalnya itu saya kalau maju langsung keringat dingin, tangan " (Viki. XII Bahasa . "Kalau suasananya ribut atau banyak gangguan dari luar, saya yang mendengarkan saja bisa ikut "(Tirsa. XI Bahasa . Kurang Kepercayaan Diri Sebagian siswa merasa belum siap dan takut melakukan kesalahan, terutama saat berbicara dalam Bahasa Inggris. "Saya awalnya minder, apalagi kalau pakai Bahasa Inggris. Tapi karena sering latihan, pelan-pelan saya mulai percaya diri. " (Linda. XII IPS . "Kalau dulu saya suka gugup dan takut salah, sekarang rasa gugup itu sudah jauh berkurang. " (Arni. XI IPA Kendala Bahasa Penggunaan Bahasa Inggris dalam presentasi masih menjadi kendala "Kalau Bahasa Indonesia saya masih bisa kontrol, tapi kalau Bahasa Inggris kadang sudah hilang semangat dari awal. " (Karcelius. XII IPA . "Kalau materi disampaikan dalam Bahasa Inggris, kadang ada temanteman yang kurang paham. " (Tirsa. XI Bahasa . Lingkungan Fisik dan Teknis Pelaksanaan di lapangan terbuka rentan terhadap gangguan suara, cuaca, serta keterbatasan alat teknis seperti mikrofon. "Kadang kalau pas tampil tiba-tiba ada suara kendaraan lewat, atau orang-orang di belakang ribut sendiri, itu bikin saya kehilangan "(Bela. XI IPS . "Kadang Itu bikin kita makin " (Jesika. XII Bahasa . HASIL DAN PEMBAHASAN Program Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng efektivitas sebagai sarana pengembangan keterampilan Public Speaking siswa. Kegiatan ini dirancang secara terstruktur, melibatkan seluruh siswa secara bergiliran dalam penyampaian materi dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggri. , serta didukung oleh guru dan lingkungan sekolah yang kondusif. Dokumentasi video dan hasil wawancara menunjukkan bahwa Spirit Pagi mendorong siswa tampil percaya diri, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara terstruktur di hadapan audiens (SMAS St. Familia. Dari sudut pandang retorika Aristoteles. Spirit Pagi menumbuhkan ketiga elemen utama dalam Public Speaking: ethos . , logos . , dan pathos . Siswa seperti Arni dan Bela menunjukkan logos melalui argumen logis dan sistematis. Vanty menampilkan pathos dalam penyampaian menyentuh emosi. sedangkan ethos dibangun oleh siswa seperti Karcelius yang tampil rapi dan menguasai materi. Pendekatan praktik langsung yang dilakukan secara rutin memungkinkan siswa mengalami proses belajar retoris secara natural. Dukungan guru sangat penting dalam membimbing siswa mempersiapkan menciptakan suasana aman. Guru seperti Bapak Rofinus dan Ibu Melita berperan aktif dalam membangun keberanian dan keterampilan berpikir siswa. Selain itu, lingkungan sekolah yang mendukung termasuk audiens yang aktif dan apresiatif membantu meningkatkan rasa percaya diri CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 Secara umum, hasil penelitian mengidentifikasi empat kontribusi utama dari implementasi program ini: . kemampuan berpikir kritis dan berbicara terstruktur, . pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab, serta . kesiapan tampil di forum umum. Temuan ini menunjukkan bahwa Spirit Pagi bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga menjadi media strategis dalam membentuk keterampilan komunikasi publik yang holistik dan berkelanjutan. Meski Spirit Pagi menghadapi beberapa tantangan. Secara umum, tantangan tersebut terbagi dalam faktor internal dan eksternal. Rasa takut dan gugup masih menjadi hambatan utama bagi siswa. Siswa seperti Viki dan Kaila menggambarkan kecemasan yang tinggi saat tampil, terutama pada awal keterlibatan. Temuan ini selaras dengan penelitian (Mustamir, kecemasan berbicara di depan umum dipengaruhi oleh rasa takut terhadap evaluasi negatif, tekanan sosial, dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Namun, dukungan teman dan pengalaman berulang membantu mereka mengelola rasa takut tersebut. Kurang kepercayaan diri berkaitan erat dengan kurangnya pengalaman dan kekhawatiran terhadap penilaian negatif. Linda dan Arni mengungkapkan bahwa dukungan guru dan latihan rutin membantu membangun rasa percaya diri secara bertahap. Temuan ini selaras dengan penelitian (Waruwu et al. , 2. yang mengkaji pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa, termasuk kepercayaan diri dan tanggung jawab, sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing. Guru yang aktif memberikan dorongan moral dan umpan balik yang membangun dapat membantu siswa membentuk ethos dan citra diri yang positif. Hal ini berkaitan dengan pembentukan ethos dalam Kendala penggunaan Bahasa Inggris, membuat beberapa siswa merasa canggung dan kurang yakin. Tirsa dan Karcelius Temuan ini semakin menguatkan rekomendasi yang juga disampaikan oleh Beverly Rambu dalam pelatihan Public Speaking di SMA Rehobot (Rambu, n. ), yang menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum termasuk dalam bahasa asing bisa dilatih melalui aktivitas harian dan dukungan Pendampingan bahasa yang lebih intensif diperlukan untuk membantu siswa mengembangkan kepercayaan diri dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Faktor lingkungan fisik dan teknis, seperti kebisingan, cuaca, serta perangkat sound system yang tidak memadai, menjadi tantangan yang mengganggu konsentrasi siswa saat tampil. Dalam konteks ini. Penelitian (Punuh & Sirine, 2. tentang praktik kewirausahaan sosial oleh organisasi keagamaan GMIM Bethel Seretan menyatakan bahwa tantangan dalam keberhasilan program sosial bukan hanya soal partisipasi, tetapi juga kesiapan infrastruktur dan dukungan teknis. Selain itu, sistem penjadwalan yang belum merata menyebabkan ketimpangan dalam peluang tampil. Secara keseluruhan, tantangantantangan pengembangan ketiga elemen retoris ethos, pathos, dan logos yang penting Untuk meningkatkan efektivitas Spirit Pagi, perlu CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7 Nomor 2. September 2025 CALATHU: Jurnal Ilmu Komunikasi Volume 7. Nomor 2. September 2025: 81-90 adanya pembenahan teknis, pembekalan rutin, serta pembinaan psikologis dan linguistik yang lebih adaptif. Dengan demikian. Spirit Pagi merupakan praktik pendidikan komunikatif yang tidak hanya melatih kemampuan menumbuhkan nilai tanggung jawab, keberanian, dan keterlibatan sosial. Program ini memiliki potensi besar untuk direplikasi di sekolah lain sebagai model penguatan keterampilan abad ke-21. KESIMPULAN Program Spirit Pagi di SMAS St. Familia Wae Nakeng terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan Public Speaking siswa. Dengan pelaksanaan yang terstruktur dan rutin mencakup presentasi dua bahasa, diskusi aktif, dan sesi tanya jawab, program ini berhasil meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan siswa dalam berpikir logis, kritis, dan menyusun ide secara teratur. Selain itu, program ini juga menanamkan nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab, karena siswa dituntut untuk mempersiapkan materi secara mandiri dan hadir tepat waktu. Spirit Pagi tidak hanya menjadi ajang latihan berbicara di lingkungan sekolah, tetapi juga membekali siswa untuk tampil percaya diri di berbagai forum umum di luar sekolah. Meski demikian, program ini masih menghadapi sejumlah Beberapa siswa mengalami rasa takut dan gugup saat tampil, terutama yang belum terbiasa berbicara di depan Rasa takut ini muncul sebagai respons emosional dan fisik sesaat sebelum tampil, seperti perasaan cemas, tangan gemetar, atau detak jantung Pada sisi lain, ada juga siswa yang menunjukkan kurang percaya diri, yaitu kemampuan diri mereka sendiri untuk berbicara dengan baik di depan orang lain. Kurang percaya diri ini bersifat lebih mendalam dan berkelanjutan, sehingga pembinaan jangka panjang. Kendala bahasa, khususnya dalam penggunaan bahasa Inggris, serta lingkungan fisik yang terbuka dan gangguan teknis, juga memengaruhi kenyamanan siswa saat Analisis dengan teori retorika Aristoteles menunjukkan bahwa program ini secara nyata menginternalisasi tiga elemen penting retorika: logos, pathos, dan ethos. Ketiga unsur ini tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi juga dipraktikkan langsung dan diperkuat melalui evaluasi dan umpan balik dari guru maupun teman sebaya. DAFTAR PUSTAKA