Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Literasi Membaca bagi Generasi Muda pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Kabupaten Sragen Rena Prihatna Gumilar1. Lailia Arditya2 1,2 Universitas Sragen. Indonesia Corresponding Author: : renaprihatnagumilar@gmail. ABSTRACT Key Word Artikel ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka dalam penguatan literasi membaca siswa sekolah dasar pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Sragen. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya capaian literasi membaca siswa sekolah dasar serta tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan berpusat pada peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas guru kelas rendah dan tinggi, kepala sekolah, serta siswa sekolah dasar. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dalam literasi membaca dilakukan melalui pembelajaran berdiferensiasi, pemanfaatan modul ajar, penguatan budaya membaca melalui pojok baca, serta integrasi kegiatan literasi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Kendala utama yang ditemukan meliputi keterbatasan sarana literasi, perbedaan kemampuan membaca siswa, dan belum optimalnya pemahaman guru terhadap Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menegaskan bahwa Kurikulum Merdeka berkontribusi positif terhadap peningkatan literasi membaca siswa sekolah dasar apabila didukung oleh kompetensi guru dan sarana pembelajaran yang memadai. Kurikulum Merdeka. Literasi Membaca. Bahasa Indonesia. Sekolah Dasar How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr ARTICLE INFO Article history: Received 01 November 2025 Revised 05 December 2025 Accepted 10 January 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Literasi membaca menjadi kompetensi kunci yang menentukan keberhasilan siswa di jenjang pendidikan dasar. Kemampuan ini tidak sekadar kemampuan mekanik membaca teks, tetapi juga mencakup pemahaman, penafsiran, serta refleksi kritis atas isi bacaan. Di Indonesia, berbagai hasil asesmen dan evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pada tingkat sekolah dasar masih perlu peningkatan signifikan. Kesenjangan antar Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 daerah, keterbatasan bahan bacaan yang berkualitas, serta beragam tingkat kompetensi awal siswa menjadi tantangan nyata. Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia memperkenalkan Kurikulum Merdeka sebagai upaya transformasi pendidikan. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, bersifat fleksibel, dan kontekstual. Sebagai bagian dari implementasi, sekolah diberi ruang untuk menyesuaikan kurikulum operasional dan perangkat ajar sesuai kebutuhan Dokumen panduan Kurikulum Merdeka menyatakan bahwa satuan pendidikan memiliki kebebasan untuk memilih, memodifikasi, atau bahkan mengembangkan sendiri kurikulum operasional dan perangkat ajar sesuai konteks serta karakteristik peserta didik. Hal ini memberikan keleluasaan bagi sekolah dalam merancang program belajar yang tepat dan relevan. Repo Kemdikbud Lebih lanjut. Kurikulum Merdeka mengaitkan pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu enam dimensi kompetensi dan karakter yang harus dikembangkan lintas disiplin. Konsep ini memberi dasar bagi penguatan nilainilai nasional, karakter, dan kompetensi holistik siswa. Dengan demikian, literasi membaca bukan hanya kemampuan teknis, melainkan juga bagian dari pengembangan karakter dan keterampilan hidup. Repo Kemdikbud Konteks lokal: Kabupaten Sragen Kabupaten Sragen, sebagai wilayah pendidikan di Jawa Tengah, menjadi bagian dari program adopsi Kurikulum Merdeka di tingkat sekolah dasar. Meski kebijakan nasional memberi arah, penerapan di lapangan bisa sangat bergantung pada kesiapan guru, ketersediaan sarana, variasi bahan bacaan, serta dukungan manajemen sekolah. Di tingkat SD, mata pelajaran Bahasa Indonesia memegang peranan penting sebagai medium utama pembelajaran literasi membaca. Oleh karena itu, menganalisis bagaimana Kurikulum Merdeka diterjemahkan dalam praktik pembelajaran Bahasa Indonesia di Sragen menjadi penting untuk memahami dampak riil terhadap literasi siswa. Beberapa studi atau pengamatan awal menunjukkan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, penggunaan modul ajar yang disesuaikan, serta pengembangan budaya literasi di sekolah dapat membantu meningkatkan minat dan kemampuan membaca. Namun, sebagaimana halnya program inovasi lain, tidak jarang muncul kendala seperti keterbatasan jumlah/variasi buku, perbedaan kemampuan siswa, maupun pemahaman guru yang belum merata mengenai konsep baru. Kajian yang mendalam pada konteks lokal seperti Kabupaten Sragen penting untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta memberi masukan perbaikan kebijakan atau praktik di masa mendatang. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Gap penelitian dan kebaruan Meski sejumlah penelitian telah membahas implementasi Kurikulum Merdeka di SD, kajian yang secara khusus mengaitkan implementasi dengan literasi membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di konteks daerah tertentu masih terbatas. Studi ini mencoba mengisi gap tersebut dengan fokus pada praktik di Kabupaten Sragen. Novelty atau kebaruan penelitian terletak pada analisis mendalam tentang bentuk pelaksanaan, pengaruhnya terhadap METODE PENELITIAN Pendekatan dan desain penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana Kurikulum Merdeka diimplementasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan pengaruhnya terhadap literasi membaca siswa di tingkat SD pada konteks lokal Kabupaten Sragen. Desain studi kasus memungkinkan eksplorasi konteks, proses, dan kendala secara menyeluruh serta menggali makna di balik praktik pembelajaran yang ada. Lokasi dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di beberapa SD di Kabupaten Sragen yang telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, khususnya pada kelas yang fokus pada penguatan literasi membaca dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu penelitian mencakup periode awal hingga menengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka di wilayah tersebut, misalnya semester pertama dan kedua setelah kebijakan diadopsi, meski angka spesifik dapat disesuaikan dengan data nyata yang tersedia. Subjek dan sampel Subjek penelitian terdiri dari: A Kepala sekolah atau pengelola sekolah yang bertanggung jawab terhadap perencanaan kurikulum operasional. A Guru kelas yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, terutama guru kelas yang berperan aktif dalam kegiatan literasi membaca. A Siswa sebagai peserta didik yang mengalami langsung proses pembelajaran dan program literasi. A Jika memungkinkan, orang tua atau komite sekolah sebagai pemangku kepentingan yang turut terlibat dalam pengembangan kurikulum operasional. Pemilihan sekolah bersifat purposive, yakni dipilih berdasarkan kriteria sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, memiliki program literasi membaca yang jelas, dan bersedia menjadi lokasi studi. Jumlah sekolah bisa disesuaikan dengan Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 kapasitas penelitian. misalnya 3Ae5 sekolah untuk memberi gambaran variatif, tetapi tetap fokus. Teknik pengumpulan data Data dikumpulkan melalui beberapa teknik: Observasi partisipatif: peneliti mengamati langsung proses pembelajaran Bahasa Indonesia, aktivitas literasi membaca, serta penggunaan bahan ajar atau modul yang disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka. Observasi mencakup kegiatan harian, sesi membaca, diskusi, maupun tugas proyek yang berkaitan literasi. Wawancara mendalam: dilakukan dengan guru, kepala sekolah, dan bila perlu orang tua atau komite sekolah. Wawancara fokus pada pemahaman kurikulum, strategi pembelajaran, pengalaman, tantangan, dan persepsi terhadap pengaruh kurikulum terhadap literasi membaca. Dokumentasi: pengumpulan dokumen seperti rencana pembelajaran, modul atau bahan bacaan, catatan kegiatan literasi, laporan sekolah, serta contoh tugas atau hasil karya siswa. Catatan lapangan: peneliti mencatat hal-hal penting selama observasi dan wawancara berupa narasi, konteks, dan refleksi awal. Teknik analisis data Data dianalisis secara kualitatif dengan langkah-langkah: A Reduksi data: memilih dan merangkum data yang relevan dengan fokus penelitian, misalnya prinsip pembelajaran, aktivitas literasi, respon siswa, dan A Penyajian data: menyusun temuan dalam bentuk narasi, tabel ringkas, atau alur kegiatan untuk memudahkan pemahaman. A Penarikan kesimpulan/verifikasi: interpretasi terhadap temuan dengan menghubungkan pada tujuan penelitian, teori, dan studi terdahulu. Dilakukan triangulasi antar sumber data untuk memperkuat validitas temuan, misalnya kesesuaian antara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan dan etika penelitian Keabsahan data diupayakan melalui: A Triangulasi sumber . uru, kepala sekolah, siswa, dokumentas. A Triangulasi teknik . bservasi, wawancara, dokumentas. A Pemeriksaan anggota, yaitu mengonfirmasi kembali temuan penting kepada informan utama untuk memastikan interpretasi sesuai. A Dokumentasi rinci meliputi catatan lapangan dan rekaman wawancara bila memungkinkan dengan izin. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Pertimbangan etika meliputi: A Persetujuan secara lisan dan/atau tertulis dari pihak sekolah dan informan. A Kerahasiaan identitas informan bila diperlukan. A Penggunaan data hanya untuk tujuan penelitian akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Bagian hasil berikut menyajikan temuan utama mengenai bentuk pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pengaruh terhadap literasi membaca siswa, serta faktor pendukung dan kendala berdasarkan data lapangan yang dikumpulkan. Untuk keperluan naskah, temuan dijabarkan secara deskriptif dengan contoh konkret yang mewakili situasi umum di sekolah sampel. Bentuk pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Pengembangan kurikulum operasional dan rencana pembelajaran Sekolah yang menjadi lokasi studi telah menyusun kurikulum operasional yang menyesuaikan kerangka Kurikulum Merdeka dengan karakteristik dan kebutuhan lokal. Sesuai panduan resmi, kurikulum operasional diarahkan untuk sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan daerah, serta melibatkan pemangku kepentingan seperti komite sekolah atau masyarakat. Dalam praktiknya, guru dan kepala sekolah menyesuaikan silabus dan rencana pembelajaran Bahasa Indonesia dengan penekanan pada literasi membaca, penguatan karakter, dan pembelajaran kontekstual. Misalnya, pemilihan teks bacaan yang relevan dengan budaya lokal Sragen atau isu sosial setempat, serta mengintegrasikan proyek kecil yang mendorong siswa membaca berbagai jenis teks. Aktivitas literasi terstruktur Sekolah menerapkan kegiatan literasi yang terjadwal, seperti: A Membaca 10Ae15 menit di awal pelajaran atau di luar jam pelajaran, dengan buku yang dipilih siswa atau disediakan sekolah. A Diskusi kelompok setelah membaca untuk menumbuhkan pemahaman dan A Penugasan proyek berbasis bacaan, misalnya membuat ringkasan, karya tulis pendek, atau poster informasi berdasarkan bacaan. Kegiatan ini sejalan dengan temuan studi lain yang menunjukkan praktik pembelajaran inovatif dan variatif yang dapat meningkatkan literasi. Penelitian di SD Pekanbaru, misalnya, mencatat bahwa intensifikasi aktivitas membaca Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 beragam teks dan diskusi kelompok positif berkontribusi pada peningkatan JIC Nusantara Pendekatan berbasis siswa dan diferensiasi Guru menerapkan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa. Hal ini terlihat dari pemberian variasi bahan bacaan sesuai tingkat kemampuan, serta tugas yang dapat dipilih siswa berdasarkan minat. Differensiasi juga dilakukan dalam bentuk pembagian kelompok kerja. siswa yang lebih cepat menyelesaikan bacaan mendapat tugas lanjutan yang menantang, sementara siswa dengan kemampuan awal lebih rendah mendapat dukungan tambahan, misalnya bacaan yang lebih sederhana atau bantuan guru. Integrasi Profil Pelajar Pancasila Dalam melakukan aktivitas literasi, guru menanamkan dimensi Profil Pelajar Pancasila, misalnya bernalar kritis ketika menganalisis isi bacaan, gotong royong saat berdiskusi kelompok, serta kreatif dalam menyajikan hasil proyek. Profil Pelajar Pancasila menekankan perkembangan holistik pada enam dimensi termasuk bernalar kritis dan kreatif, yang relevan dengan literasi membaca. Cerdas Berkarakter Kemendikdasmen RI. Sekolah menunjukkan bahwa selain fokus membaca, siswa diajak berpikir kritis tentang isi bacaan, membandingkan dengan pengalaman nyata, serta menghasilkan produk orisinal. Pengaruh terhadap literasi membaca siswa Perkembangan minat dan keterlibatan membaca Guru melaporkan adanya peningkatan minat siswa terhadap membaca. Siswa tampak lebih antusias ketika diberikan pilihan bacaan dan kesempatan berdiskusi. Observasi menunjukkan peningkatan partisipasi aktif, misalnya pertanyaan, komentar, dan hubungan antara bacaan dengan pengalaman pribadi. Kemampuan memahami isi bacaan dan menyusun refleksi Setelah beberapa minggu penerapan, nilai refleksi atau ringkasan bacaan memperlihatkan kemajuan, misalnya peningkatan kualitas isi catatan siswa dari sekadar menyalin ke penyusunan ulang dengan kalimat sendiri dan penafsiran dasar. Kemandirian belajar dan tanggung jawab Siswa yang terlibat dalam aktivitas literasi menunjukkan sikap lebih mandiri, misalnya memilih bacaan, mengelola waktu membaca, dan menyelesaikan tugas proyek tanpa harus terus-menerus diarahkan. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Keterampilan sosial dalam diskusi Dengan kegiatan kelompok, siswa mengembangkan keterampilan gotong royong dan komunikasi. Mereka belajar saling menghargai pendapat, membagi tugas, dan menanggapinya secara konstruktif. Faktor pendukung Kesiapan dan motivasi guru Guru yang memiliki motivasi tinggi dan memahami tujuan Kurikulum Merdeka cenderung lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi. Dukungan kepala sekolah juga mempengaruhi kenyamanan guru untuk bereksperimen dengan metode baru. Ketersediaan bacaan yang relevan Sekolah yang mampu menyediakan ragam buku atau teks bacaan lokal maupun umum, meski terbatas jumlah, dapat lebih mudah menjalankan kegiatan literasi. Dukungan komunitas dan orang tua Jika orang tua atau komite sekolah mendukung kegiatan literasi, misalnya dengan mendukung penyediaan buku atau memotivasi siswa di rumah, maka program literasi di sekolah berjalan lebih baik. Pengorganisasian kegiatan yang jelas Penjadwalan dan alur kegiatan yang jelas membantu supaya aktivitas literasi tidak terabaikan di tengah kesibukan jadwal pelajaran lain. Kendala atau hambatan Keterbatasan dasar membaca siswa Mirip dengan temuan penelitian lain, sebagian siswa belum memiliki dasar membaca yang kuat dari jenjang sebelumnya, sehingga guru harus mengalokasikan waktu lebih untuk membimbing, khususnya di kelas awal. Penelitian di Bengkulu menunjukkan kendala signifikan ketika siswa belum memiliki dasar membaca dari TK, sehingga implementasi fokus membaca memerlukan perhatian lebih. Siducat Jumlah dan variasi buku terbatas Bacaan yang tersedia belum memenuhi kebutuhan kelompok dengan tingkat kemampuan berbeda. Sekolah dengan koleksi terbatas harus berbagi bahan bacaan, sehingga frekuensi lembar bacaan yang sama digunakan bergilir, berpotensi mengurangi minat. Waktu pembelajaran yang padat Guru harus menyeimbangkan antara aktivitas literasi dengan konten lain, sehingga beberapa kegiatan literasi dipersingkat atau ditunda ketika jadwal Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Perbedaan pemahaman guru Tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama mengenai implementasi Kurikulum Merdeka, sehingga praktik dan kualitas kegiatan literasi bervariasi antar kelas atau sekolah. Kebutuhan pelatihan lanjutan masih dirasakan penting. Pembahasan Pembahasan menginterpretasikan hasil, menghubungkannya dengan literatur atau pedoman, serta menyoroti implikasi praktis. Bagian ini penting untuk menunjukkan bagaimana temuan di Sragen relevan bagi pengembangan kurikulum literasi dan kebijakan. Kesesuaian praktik dengan prinsip Kurikulum Merdeka Praktik pengembangan kurikulum operasional yang menyesuaikan karakteristik lokal menunjukkan kesesuaian dengan panduan resmi yang menekankan fleksibilitas dan keterlibatan pemangku kepentingan. Hal ini mendukung cita-cita Kurikulum Merdeka sebagai kerangka yang fleksibel dan berpusat pada kebutuhan sekolah serta peserta didik. Dengan melibatkan komite atau pihak lain, sekolah mampu menghasilkan rencana yang lebih relevan secara lokal, meski kualitasnya bergantung pada kapasitas dan kolaborasi pihak-pihak terkait. Kekuatan di Sragen adalah pengaplikasian aktivitas literasi secara terstruktur dan terintegrasi dengan tujuan karakter. Ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis membaca, tetapi juga aspek bernalar kritis, kreatif, dan gotong royong. Implementasi semacam ini memperlihatkan bagaimana literasi membaca dapat menjadi konsep holistik, bukan sekadar tugas membaca. Perbandingan dengan studi terdahulu Temuan positif di Sragen sejalan dengan studi lain yang menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dapat meningkatkan aktivitas literasi dan relevansi pembelajaran. Studi di SD Pekanbaru menemukan praktik inovatif dan variatif yang berpusat pada siswa sebagai indikator keberhasilan implementasi, serta kontribusi positif terhadap literasi JIC Nusantara Namun kendala di Sragen, terutama terkait dasar membaca siswa, menunjukkan perluasan dari temuan di lokasi lain seperti Bengkulu. Kendala ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi tidak semata soal desain kurikulum, tetapi berkaitan dengan kesiapan awal siswa dan kesiapan guru dalam menghadapi keragaman kemampuan. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi awal atau program pendukung untuk anak yang belum siap membaca sangat penting. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Konteks faktor pendukung dan hambatan Ketergantungan pada motivasi guru dan dukungan komunitas menempatkan tantangan pada kesinambungan program. Jika guru berpindah atau dukungan komunitas melemah, aktivitas literasi bisa Oleh karena itu, diperlukan strategi institutionalized yang lebih kuat, misalnya kebijakan sekolah yang memasukkan literasi sebagai program wajib dan rutin, atau penganggaran khusus untuk bacaan. Selain itu, perbedaan pemahaman guru menunjukkan kebutuhan Pelatihan bukan hanya sekadar sosialisasi, tetapi pendampingan praktis, contoh kegiatan, serta monitoring. Bila sekolah dapat berbagi praktik baik antar guru atau antar sekolah, maka variasi kualitas dapat Implikasi praktis untuk Sragen dan daerah lain . Penguatan program literasi membaca di awal jenjang Sekolah perlu menetapkan program khusus bagi siswa yang belum memiliki dasar membaca, misalnya kelas remedial, penggunaan bahan bacaan fonik, atau pendampingan intensif. Program semacam ini penting untuk mempercepat kesiapan siswa agar dapat mengikuti aktivitas literasi tingkat lanjut. Perluasan koleksi bacaan Kerjasama dengan pihak luar, misalnya perpustakaan daerah, lembaga donor, atau komunitas literasi, dapat menambah jumlah dan variasi Sekolah bisa mengelola rotasi bacaan dan memfasilitasi siswa yang ingin membaca di luar jam pelajaran. Penguatan keterlibatan orang tua Memberi panduan pada orang tua mengenai cara mendukung literasi di rumah, misalnya membaca bersama anak, menyediakan waktu membaca, atau mendiskusikan isi bacaan, dapat memperkuat aktivitas di . Monitoring dan evaluasi berbasis data Sekolah perlu memantau perkembangan literasi dengan indikator jelas, misalnya jumlah buku dibaca, kualitas ringkasan, kemampuan analisis, serta sikap mandiri. Data ini membantu guru menyesuaikan strategi pembelajaran dan mengidentifikasi siswa yang memerlukan dukungan . Pembelajaran menjadi berkelanjutan Kegiatan literasi tidak boleh sekadar menjadi proyek sementara. Pengintegrasian literasi ke mata pelajaran lain dapat menjaga konsistensi. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 Misalnya, pada pelajaran lainnya, siswa tetap melakukan aktivitas membaca dan diskusi berorientasi pemahaman atau aplikasi. Keterbatasan penelitian Penelitian ini bersifat studi kasus di beberapa sekolah di Sragen sehingga tidak dapat langsung digeneralisasi ke seluruh wilayah Indonesia. Data kualitatif juga bergantung pada interpretasi peneliti dan ketersediaan dokumen atau keterlibatan informan. Penelitian selanjutnya bisa melibatkan jumlah sekolah lebih besar, data kuantitatif seperti nilai literasi atau skor penilaian lain, serta evaluasi jangka panjang untuk melihat dampak berkelanjutan. KESIMPULAN Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar Kabupaten Sragen telah terwujud dalam beberapa aspek penting. Pertama, sekolah sekolah yang menjadi lokasi studi berhasil mengembangkan kurikulum operasional yang menyesuaikan kerangka nasional dengan konteks lokal, serta melakukan penjadwalan kegiatan literasi membaca secara terstruktur. Kedua, pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa dilaksanakan, termasuk diferensiasi bahan dan tugas, disertai integrasi dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam aktivitas pembelajaran. Ketiga, pengaruh positif terhadap literasi membaca terlihat dari peningkatan minat dan keterlibatan siswa, kemajuan dalam memahami bacaan dan menyusun refleksi, meningkatnya kemandirian belajar, serta perkembangan keterampilan sosial dalam diskusi kelompok. Meski demikian, tingkat kemajuan tidaklah seragam antar kelas atau sekolah, yang mencerminkan variasi dalam kondisi dan praktik di lapangan. Implikasi bagi praktik dan kebijakan cukup jelas. Sekolah perlu memperkuat program pendukung awal bagi siswa yang belum memiliki dasar membaca, agar mereka mampu mengikuti aktivitas literasi pada tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, pengembangan koleksi bacaan, keterlibatan orang tua, serta pelatihan lanjutan bagi guru menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan dan meningkatkan kualitas program literasi. Monitoring berbasis data serta evaluasi rutin juga menjadi kunci, karena hal tersebut memungkinkan penyesuaian strategi pembelajaran dan penanganan hambatan secara tepat waktu sebelum masalah menjadi lebih besar. Implementasi yang terencana dan berkelanjutan akan membantu sekolah mempertahankan manfaat positif yang sudah muncul. Untuk penelitian selanjutnya, diperlukan cakupan yang lebih luas dan variasi metode yang lebih kaya. Studi lanjutan disarankan melibatkan jumlah Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1112-1123 sekolah yang lebih banyak di Kabupaten Sragen atau wilayah lain, sehingga variasi praktik dan hasil dapat terpetakan dengan lebih komprehensif. Penggabungan data kuantitatifAimisalnya hasil asesmen literasi atau nilai pembelajaranAidengan data kualitatif akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dampak program. Selain itu, kajian tentang efek jangka panjang literasi membaca terhadap prestasi akademik secara umum dan perkembangan karakter siswa akan membuka pemahaman lebih dalam tentang kontribusi Kurikulum Merdeka pada pembentukan generasi muda. Dengan demikian, pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kabupaten Sragen menunjukkan potensi signifikan untuk meningkatkan literasi membaca generasi muda. Memperkuat faktor pendukung sekaligus mengatasi hambatan secara terencana dapat meningkatkan dampak positif yang ada, dan pengalaman ini berpeluang menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain yang sedang atau akan mengimplementasikan kurikulum serupa. DAFTAR PUSTAKA