Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Resistensi Masyarakat Desa Gajah Terhadap Pembongkaran Punden Desa Gajah Dela Ratnasari1*. Arief Sudrajat2 Progam Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISH-Unesa Dela. 17040564043@mhs. Abstract Society in Indonesia has many traditions. The Javanese are a tribe whose society has many traditions. The tradition is the belief in the spirits of ancestors. Javanese tradition believes that every village in Java is guarded by ancestral They call it Danyang. Danyang resides in Punden. Gajah Village is a village where the community adheres to this belief. they call Punden with the name Punden Serut. Punden Serut is a sacred place in Gajah Village. 2018 Punden Serut was dismantled due to changes in land management. This demolition made the people of Gajah Village unhappy, resulting in resistance. The purpose of the study was to identify the causes and forms of resistance of the villagers to the demolition of Punden Gajah Village. This study uses a qualitative research method using the perspective of the Social Resistance theory of James C. Scott. The results of the study explain that resistance is caused by two factors. Cultural factors that are still firmly held. The internalization of deep-rooted culture provides an overview of the consequences that arise from violating the rules. Demolition is a violation of the rules of tradition. People who don't want to suffer the consequences then refuse to demolish it. The historical factor of the terrible experience when the first demolition of Punden was shaved. Resistance occurs in two forms, namely open resistance and closed resistance. Open resistance occurs before disassembly. This resistance is in the form of Closed resistance occurs after disassembly. This resistance is in the form of the implementation of Selamatan at the former location of Punden Serut and the dissemination of issues in the village community. The conclusion of this study is that resistance is caused by two factors, namely cultural and historical factors. These forms of resistance are open resistance and closed resistance. Open resistance in the form of deliberation. Closed resistance in the form of implementation of Selamatan and dissemination of issues. Masyarakat di Indonesia memiliki banyak tradisi. Suku Jawa merupakan suku yang masyarakatnya memiliki banyak tradisi. Tradisi tersebut adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Tradisi Jawa mempercayai bahwa setiap desa di Jawa dijaga oleh roh nenek moyang. Mereka menyebutnya dengan Danyang. Danyang bersemayam di Punden. Desa Gajah merupakan Desa yang masyarakatnya menganut kepercayaan tersebut. mereka menyebut Punden dengan nama Punden Serut. Punden Serut adalah tempat sakral di Desa Gajah. Tahun 2018 Punden Serut dibongkar karena perubahan mengelolaan lahan. Pembongkaran ini membuat masyarakat Desa Gajah tidak senang sehingga terjadi resistensi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi penyebab dan bentuk resistensi masyarakat desa terhadap pembongkaran Punden Desa Gajah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan perspektif teori Resistensi Sosial James C. Scott. Hasil penelitian menjelaskan resistensi disebabkan dua faktor. faktor budaya yang masih di pegang kuat. Internalisasi budaya yang sudah mengakar memberikan gambaran konsekuensi yang timbul dari pelanggaran aturan. Pembongkaran adalah pelanggaran aturan Masyarakat yang tidak mau mendapatkan konsekuensi tersebut kemudian menolak Faktor sejarah berupa pengalaman mengerikan ketika pembongkaran pertama Punden serut. Resistensi terjadi dalam dua bentuk yaitu resistensi terbuka dan resistensi tertutup. Resistensi terbuka terjadi sebelum pembongkaran. Resistensi ini berupa musyawarah. Resistensi tertutup terjadi setelah pembongkaran. Resistensi ini berupa pelaksanaan Selamatan di lokasi bekas Punden Serut dan penyebaran Isu di masyarakat desa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah resistensi disebabkan dua faktor yaitu faktor budaya dan sejarah. Bentuk resistensi ini adalah resistensi terbuka dan resistensi tertutup. Resistensi terbuka berupa musyawarah. Resistensi tertutup berupa pelaksanaan Selamatan dan penyebaran Isu. Keywords: Village community. Social resistance. Tradition. Punden. Demolition. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Pendahuluan Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik dan aksi saling mempengaruhi antara satu individu dengan individu lainnya atau kelompok dengan kelompok lainnya. Interaksi sosial membuat individu ataupun kelompok dapat berkerjasama atau berkonflik secara formal maupun informal . Masyarakat merupakan hasil interaksi sosial yang memiliki susunan struktur sosial dan fungsi Ae fungsi individu di kehidupan sosial mereka . Masyarakat memiliki banyak jenis salah satunya adalah masyarakat desa. Masyarakat desa adalah masyarakat yang bertempat tinggal di pedesaan. Karakter masyarakat desa adalah sederhana, kekeluargaan, serta menghargai nilai dan norma. Masyarakat desa dikenal sangat menghargai nilai kebudayaan dan tradisi yang mereka anut. Koentjaraningrat mendefinisikan Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia melalui pembelajaran . Kebudayaan memiliki fungsi antara lain: kebudayaan sebagai penilaian perilaku manusia, kebudayaan sebagai pedoman pengambil keputusan, kebudayaan sebagai nilai dan norma . Kebudayaan menghasilkan tradisi di masyarakat . Tradisi merupakan perilaku manusia berwujud suatu benda atau tingkah laku serta dituangkan melalui pikiran dan imajinasi secara turun temurun berupa norma, nilai, harapan, dan cita Ae cita . Tradisi memiliki beberapa fungsi. Fungsi tersebut antara lain tradisi sebagai wadah ekspresi keagaamaan, tradisi sebagai pengikat kelompok, tradisi sebagai pertahanan kelompok, tradisi sebagai penyeimbang lahir dan batin manusia. Tradisi memiliki beberapa bentuk yaitu imajinasi, pikiran, adat- istiadat, atau benda. Suku Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia. Suku Jawa dikenal memiliki banyak tradisi. Tradisi masyarakat Jawa salah satunya adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Mereka memiliki acara khusus untuk menghormati roh nenek moyang. roh nenek moyang memiliki sebutan Danyang. Danyang memiliki tugas melindungi masyarakat Jawa dari malapetaka . Cliffort Greertz menggambarkan Danyang sebagai tokoh pendiri desa. Danyang berwujud makhluk halus. Danyang berarti sosok makhluk halus pelindung desa di Pulau Jawa. Desa Gajah adalah desa di wilayah Provinsi Jawa Timur. Mayarakat Desa Gajah masih menganut tradisi Jawa. Masyarakat Desa Gajah mempercayai adanya Danyang. Danyang Desa Gajah bersemayam di Punden Serut . Punden Serut merupakan lahan yang dikelilingi pagar setinggi satu meter dan terdapat pohon beringin besar di tengahnya. Pohon beringin dipercaya sebagai tempat tinggal Danyang. Menurut masyarakat desa Danyang adalah orang pertama yang membersihkan hutan untuk dijadikan Desa Gajah. masyarakat Desa Gajah percaya Danyang melindungi desa mereka dari malapetaka. Punden Serut menjadi tempat sakral di Desa Gajah. Masyarakat desa melarang untuk mengusik Punden Serut. Pada tahun 2018 Lahan tempat Punden Serut berada dijual kepada Developer perumahan. Developer berkeinginan menjadikan lahan tersebut sebagai perumahan. Pembangunan perumahan membuat Punden Serut dibongkar yang mendapat penolakan dari masyarakat desa. Masyarakat desa melakukan perlawanan sebelum dan sesudah pembongkaran. Perlawanan sebelum pembongkaran tidak membuahkan hasil. Kekuasaan Developer menjadi penyebabnya. Kekuasaan menurut Max weber adalah kesempatan yang dimiliki individu atau kelompok untuk mencapai tujuannya . Kekuasaan Developer didapatkan melalui proses jual beli lahan. Lahan tersebut menjadi milik Developer. Kepemilikan lahan memberikan kebebasan untuk mengelola lahan. Kebebasan tersebut membuat Developer melakukan pembongkaran Punden Serut. Punden Serut merupakan tempat sakral untuk masyarakat Desa Gajah. Pembongkaran Punden Serut melanggar nilai dan norma, sehingga terdapat konsekuensi karena pelanggaran tersebut. Konsekuensi pelanggaran dapat berupa datangnya malapetaka. Konsekuensi tersebut yang mendorong masyrakat desa untuk melakukan perlawanan. Penelitian ini bermaksud untuk mengidentifikasi perlawanan yang dilakukan masyarakat Desa Gajah terhadap pembongkaran Punden Serut. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Kajian Pustaka 1 Resistensi menurut James C. Scott James C. Scott mengartikan Resistensi sebagai tindakan yang dilakukan oleh kelompok lemah terkait klaim atau penguasaan yang dilakukan oleh kaum penguasa. Resistensi memiliki beberapa sifat antara lain: sistemastis, organik, kooperatif, tidak untuk kepentingan pribadi, memiliki konsekuen revolusioner, mencakup gagasan menghilangankan kekuasaan utama. Resistensi memiliki fokus pada bentuk perlawanan yang terjadi di masyarakat. Ada dua jenis resistensi menurut Scott yaitu: Resistensi terbuka Resistensi terbuka adalah resistensi secara langsung dan terorganisir. resistensi ini mempertemukan pihak untuk melakukan komunikasi secara langsung. Menurut Scott terdapat empat karakteristik Resistensi terbuka. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: Perlawanan memiliki wujud sistem, terorganisir dan berbeagai pihak melakukan kerjasama. Perlawanan memiliki dampak perubahan atau revolusioner. Perlawanan bersifat rasional dan bertujuan untuk kepentingan banyak orang. Perlawanan memiliki tujuan menghilangkan penindasan dari kaum penguasa. Resistensi Resistensi tertutup adalah resistensi Secara tidak langsung dan tidak terorganisir. Scott dalam bukunya Weapons Of The Weak: Everyday Forms Of Peasant Resistence menggambarkan bentuk perlawanan yang digunakan dapat berupa julukan dan juga gosip. Scott menggambarkan resistensi ini adalah bentuk perlawanan secara perlahan . Perlawanan tertutup memiliki empat karakteristik. diantaranya adalah sebagai berikut: Perlawanan ini terjadi secara tidak sistematis. Tidak ada organisir dalam perlawanan,Perlawanan ini bersifat individual yang bertujuan untuk kepentingan individu. Perlawanan ini tidak memiliki konsekuen perubahan atau revolusioner. 2 Penelitian Terdahulu Penelitian pertama, penelitian yang dilakukan oleh Satriani Juhaepa dan Ambo Upe. Penelitian tersebut membahas resistensi yang dilakukan suku Bajo terhadap Kebijakan Resettlement. penelitian menjelaskan penolakan terjadi karena beberapa faktor yaitu kultur, ekonomi, struktur, dan Resistensi yang dilakukan suku Bajo terjadi dengan dua cara yaitu melalui demonstrasi dan juga perlawanan temporar . Penelitian kedua, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Andi Finaldi Nurtantyo. Penelitian tersebut membahas kepercayaan masyarakat Desa Klepek yang menganggap Punden sebagai pusat kehidupan. hasil penelitian menjelaskan masyarakat Desa Klepek menggunakan Punden sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya. Kepercayaan tersebut sudah turun Ae temurun. Kehidupan sosial dan budaya saling berhubungan melalui kegiatan di Punden. Masyarakat desa percaya terdapat hubungan timbal balik yang baik dari kehidupan sosial budaya tersebut . Penelitian ketiga. Penelitian yang dilakukan oleh Leny G. Ocasiones. Penelitian tersebut membahas penguasaan tanah yang dilakukan oleh perusahaan asing dan pemilik modal di Filipina. Hasil penelitian ini menjelaskan penguasaan ini merugikan petani. Petani kehilangan akses terhadap lahan pertanian mereka. Lahan pertanian sangat penting karena menjadi tempat mencari mata Pemerintah dan lembaga pelayanan sosial kurang memberi dukungan pada petani. Kondisi tersebut menyebabkan petani semakin kesulitan mendapatkan haknya. Perempuan dipaksa mengelola sumber daya yang terbatas untuk bertahan hidup . Penelitian keempat, penelitian yang dilakukan oleh Anshuman Behera. Penelitian tersebut membahas upaya perlawanan suku Bodo di Assam. Suku Bodo adalah suku minoritas di Assam. Hasil penelitian menjelaskan pemberontakan suku Bodo terjadi karena mereka ingin menjadi Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 kelompok suku mayoritas. Kelompok mayoritas dianggap memiliki hak istimewa di Assam. Hak istimewa memberikan mereka kemudahkan dalam hidup. Kemudahan ini berupa kemudahan dalam mencari pekerjaan, partisipasi politik, dsb. Kemudahan ini membuat suku Bodo ingin menjadi salah satu kelompok mayoritas di Assam melalui upaya perlawanan mereka . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Etnografi Spardley. Penelitian ini menggunakan prespektif teori Resistensi Sosial James Scott. Penggunaan prespektif teori untuk mendeskripsikan resistensi sosial yang terjadi di Desa Gajah. Deskripsi dimulai dari penyebab hingga bentuk resistensi sosial yang dilakukan masyarakat Desa Gajah. Teori resistensi Sosial James C. scott relevan untuk mendeskripsikan resistensi yang terjadi di Desa Gajah. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Gajah. Kecamatan Ngoro. Kabupaten Jombang. Berdasarkan observasi awal peneliti menemukan fenomena terjadi tindakan resistensi di Desa Gajah. Resistensi terjadi disebabkan oleh tindakan pembongkaran Punden Serut. Punden Serut merupakan tempat yang sakral bagi masyarakat Desa Gajah. Pembongkaran dilakukan oleh Developer Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Gajah yang melakukan tindakan resistensi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan oleh peneliti sebelum memulai penulisan artikel dan saat penulisan artikel. Observasi awal peneliti mendatangi lokasi penelitian utnuk mendapatkan gambaran fenomena. Peneliti ingin melihat gambaran fenomena agar dapat memahami fenomena tersebut. Observasi selanjutnya adalah ketika penulisan artikel. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data yang Wawancara digunakan untuk mendapatkan data mendalam mengenai fenomena. Wawancara dilakukan dengan mengjukan beberapa pertanyaan kepada subjek penelitian. Wawancara dilakukan dengan mewawancarai enam subjek. Dokumentasi dilakukan ketika peneliti melakukan wawancara dan observasi. Dokumentasi dilakukan peneliti untuk memudahkan mengingat hasil observasi dan Dokumentasi berisi kegiatan upacara adat yang dilakukan masyarakat desa di Punden Serut. Dokumentasi memuat juga kondisi Punden Serut pasca pembongkaran. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis model Etnografi yaitu analisis domain, analisis taksonomi dan analisis tema budaya. Hasil dan Pembahasan 1 Kronologi pembongkaran Punden Tahun 2018 Bapak SU menjual lahan kepada Developer perumahan. Transaksi jual beli tersebut mengakibatkan perpindahan kepemilikan lahan. Perpindahan kepemilikan lahan tersebut mengakibatkan adanya perpindahan kekuasaan untuk mengeloaan lahan. Developer memiliki keinginan yang berbeda dengan pemilik lahan sebelumnya. Alih Ae alih menjadikannya sebagai lahan petanian Developer justru berkeinginan menjadikannya sebagai area perumahan. Pepindahan fungsi lahan tersebut mengharuskan Developer untuk meratakan area tersebut. tujuan proses perataan untuk memudahkan pendirian bangunan dan pengukuran luas wilayah untuk pendirian bangunan. Perataan lahan menimbulkan masalah baru. Perataan lahan membuat Punden serut harus dibongkar. Pembongkaran punden tidak bisa langsung dilakukan. Developer harus izin terlebih dahulu kepada masyarakat desa. Developer kemudian meminta bantuan kepada pemerintah desa. Menanggapi hal tersebut pemerintah desa akhirnya membuat pertemuan dibalai desa. Pertemuan ini dihadiri oleh masyarakat desa dan Developer. Pertemuan tersebut membahas terkait pembongkaran Punden Serut. Developer menyampaikan niatnya untuk membongkar Punden Serut. Pembongkaran ini dilakukan untuk kepentingan Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 pembangunan kavling perumahan. Developer menawarkan untuk mengunakan lokasi bekas Punden Serut sebagai bangunan masjid perumahan. Masyarakat desa menolak pembongkaran tersebut. masyarakat beranggapan pembongkaran akan mendatangkan malapetaka. Pertemuan tersebut tak kunjung menemui titik temu akhirnya diputuskan untuk melakukan pemungutan suara. Pemungutan suara mendapatkan hasil mayoritas menolak pembongkaran Punden Serut. Keputusan tersebut membuat Developer tidak boleh melakukan pembongkaran. Beberapa waktu setelah musyawarah. Developer tetap membongkar Punden Serut sehingga menimbulkan kemarahan dari masyarakat Desa Gajah. 2 Punden Menurut Pandangan Masyarakat Desa Gajah Masyarakat Desa Gajah mayoritas berasal dari suku Jawa. Suku Jawa adalah suku yang dikenal memiliki banyak sekali tradisi. Salah satu tradisi yang melekat pada suku Jawa adalah kepercayaan mereka terhadap makhluk halus atau roh. Suku Jawa membagi makluk halus menjadi beberapa jenis. Makhluk halus tersebut adalah memedi, lelembut, tuyul, demit, dan danyang. Setiap makhluk halus memiliki ciri dan karakteristiknya masing Ae masing. Memedi merupakan makhluk halus yang menakut nakuti. Memedi dapat berwujud arwah penasaran atau menyerupai sosok yang telah Lelembut atau makhluk halus yang dapat merasuki manusia. lelembut dapat membuat manusia menjadi gila karena mereka dapat merasuki tubuh. Tuyul atau makhluk halus anak Ae anak. Tuyul seringkali dihubungkan dengan kekayaan. Manusia yang ingin mendapatkan kekayaan lebih cepat dapat menggunakan tuyul. Manusia menggunakannya dengan cara memelihara Tuyul. Tuyul dapat mencuri uang tanpa terlihat sehingga pemiliknya mendapatkan uang dari tindakan tersebut. Demit adalah makhluk halus yang mendiami suatu tempat. Demit ini biasanya berada di bangunan atau pohon pohon besar dan menjadi penunggu tempat tersebut. Demit tidak mengganggu manusia apabila tidak di ganggu tempat tinggalnya. Danyang adalah makhluk halus pelindung. Danyang tidak memiliki sifat mengganggu. Danyang memiliki tugas untuk melindungi suatu wilayah. menurut Kepercayaan suku Jawa Danyang berasal dari tokoh Ae tokoh masa lalu yang telah meninggal. Danyang dianggap dahulu merupakan orang yang membersihkan hutan untuk dijadikan suatu wilayah yang dapat ditinggali manusia. Tokoh ini kemudian meninggal dan dikuburkan disuatu tempat di wilayah yang telah di babatnya. Meskipun telah meninggal arwah Danyang dipercaya masih berada di wilayah tersebut untuk melindunginya. Tempat bersemayam Danyang disebut dengan Punden. Kepercayaan terhadap Danyang umumnya di temukan di banyak desa di Pulau Jawa. Sebagai masyarakat yang berasal dari suku Jawa masyarakat Desa Gajah juga mempercayai tradisi tersebut. kepercayaan yang didapatakan melalui proses internalisasi secara turunn Ae temurun oleh generas sebelumnya. Internalisasi menyebabkan kebudayaan tersebut tetap terjaga hingga kini. Masuknya agama Islam dalam Kehidupan masyarakat desa tidak membuat kebudayaan ini hilang. Kebudayaan tersebut salah satunya adalah kepercayaan terhadap Danyang. Masyarakat desa percaya Danyang sebagai sosok pelindung desa. Danyang berasal dari tokoh pendiri Desa Gajah. Masyarakat desa percaya Danyang akan melindungi desa dari malapetaka. Kepercayaan tersebut menciptakan tradisi di masyarakat Desa Gajah seperti Ujar. Selamatan, dll. Tradisi tersebut bertujuan untuk menghormati Danyang. Tempat bersemayam Danyang disebut Punden Serut. Punden Serut merupakan tempat sakral bagi masyarakat Desa Gajah. Masyarakat desa membuat larangan untuk membuat kekacauan di Punden Serut. menurut beberapa informan kepercayaan mereka terkait adanya Punden serut berasal dari orang tua mereka. seperti ibu SI dan WA yang mengetahui terkait Punden Serut karena di beritahu oleh orang tua mereka. Mas HI juga mengetahui terkait hal Punden Serut setelah Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 diajak orang tua terlibat dalam Selamatan. Terdapat tradisi lainnya yang juga menjadi penumbuh kepercayaan mereka terhadap punden yaitu tradisi Ujar. Ujar adalah salah satu tradisi yang berkembang dilingkungan masyarakat desa. Ujar adalah tradisi meminta bantuan kepada Danyang. Tradisi tersebut dilakukan dengan cara menyampaikan keinginan dengan imbalan Selamatan di Punden Serut. Selamatan dilakukan ketika permintaan tersebut terkabul. UJar seringkali dilakukan oleh masyarakat Desa Gajah. Cerita keberhasilan melakukan Ujar yang membuat kepercayaan terhadap Danyang semakin kuat. Ibu DA adalah salah satu masyarakat desa yang berhasil melakukan Ujar. Ujar dilakukan Ibu DA saat suaminya sakit kencing darah. Penyakit tersebut cukup parah sehingga Ibu DA mencoba melakukan Ujar dan berhasil. Ibu DA kemudian melakukan Selamatan di Punden Serut. Cerita tersebut merupakan salah satu cerita berhasilnya tradisi Ujar. Cerita Ae cerita semacam itu sudah sering terjadi di masyarakat desa. Cerita keberhasilan tersebut membuat semakin kuatnya kepercayaan masyarakat desa terhadap kesakralan Punden Serut. Selamatan dilakukan tidak hanya setelah melakukan Ujar. Masyarakat Desa Gajah juga melakukan Selamatan ketika akan hajatan besar. Selamatan bertujuan agar diberikan kelancaran selama proses hajatan. Selamatan juga dilakukan untuk peringatan malam satu suro. Proses internalisasi yang kuat memberikan pandangan yang cukup kuat terhadap kepercayaan Punden Serut. 3 Peristiwa pembongkaran yang pertama Punden Serut pernah mengalami pembongkaran sebelumnya. Pembongkaran yang dilakukan oleh Developer merupakan pembongkaran kedua. Pembongkaran pertama terjadi pada tahun 1960-an. Pembongkaran tersebut terjadi karena adanya konflik internal dari masyarakat Desa Gajah. Konflik ini dipicu perbedaan pendapat antara Wong Santri dan masyarakat desa dengan ajaran Islam Kejawen tentang Punden Serut. Wong Santri adalah sebutan untuk masyarakat desa yang sangat mengedepankan Syariat Islam. Masyarakat dengan ajaran Islam Kejawen adalah masyarakat yang beragama Islam yang masih menggunakan tradisi Jawa Kuno. Wong Santri menganggap kegiatan yang dilakukan di Punden Serut tidak sesuai dengan Syariat Islam. Menanggapi hal tersebut Punden Serut kemudian dibongkar. Pembongkaran tersebut mengakibatkan Punden Serut dipindahkan ke lokasi lain. Lokasi ini berada di lahan pertanian milik salah satu masayarakat desa. Menurut cerita salah satu informan beberapa waktu setelah pembongkaran muncul kejadian yang cukup mengerikan. Kejadian tersebut adalah meninggalnya beberapa masyarakat desa secara tiba Ae tiba setelah mendengar suara ketukan di malam hari. Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah pembongkaran. Masyarakat desa beranggapan hal tersebut terjadi karena pembongkaran Punden Serut. Penebang pohon beringin di Punden Serut yang meninggal tidak lama setelah menebang pohon beringin juga dianggap berhubungan dengan pembongkaran Punden Serut. Pohon beringin yang ditanam dilokasi baru juga tidak kunjung tumbuh besar. Melihat rentetan peristiwa tersebut masyarakat desa akhirnya mengembalikan Punden Serut ke lokasi semula. Masyarakat desa juga memperbaiki lokasi tersebut dengan membangun dinding setinggi satu meter. Dinding ini untuk memisahkan area Punden Serut dengan area lahan pertanian. 4 Perlawanan Masyarakat Desa Pembongkaran Punden Serut mendapat penolakan dari masyarakat Desa Gajah. Penolakan mengakibatkan adanya Upaya perlawanan. Upaya tersebut dimulai ketika pembongkaran Punden Serut masih berupa rencana. Upaya yang dilakukan masyarakat desa dapat terlihat ketika musyawarah di Balai desa. Masyarakat mayoritas menolak adanya pembongkaran Punden Serut. Setelah musyawarah berakhir pembicaraan terkait pembongkaran mulai tesebar. Masyarakat banyak yang menyebarakan hasil tersebut dari mulut ke mulut sehingga berita tersebut tersebar ke seluruh masyarakat desa. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Hasil dari musyawarah menunjukkan mayoritas menolak pembongkaran. Menurut hasil musyawarah tersebut Punden Serut tidak boleh dibongkar. Akan tetapi. Developer tetap membongkar Punden Serut tidak lama setelah musyawarah. Masyarakat desa tidak senang dengan pembongkaran tersebut. Masyarakat desa melakukan Selamatan di Punden Serut setelah pembongkaran. Isu berkonotasi negatif terkait pembongkaran mulai tersebar. Isu tersebut terkait dampak yang diterima oleh orang Ae orang yang terlibat dalam pembongkaran Punden Serut. Masyarakat desa banyak yang melakukan Selamatan setelah pembongkaran. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari malapetaka yang bisa saja terjadi. Bertahun - tahun setelah pembongkaran Punden Serut di area perumahan tersebut belum ada pembangunan. Belum adanya pembangunan di area perumahan tersebut dimanfaatkan masyarakat desa untuk melakukan kegiatan adat di lokasi bekas Punden Serut. Menurut salah satu informan karena belum ada pembangunan lahan tersebut masih menjadi milik bersama dan dapat digunakan untuk kegiatan masyarakat desa. Isu terkait orang Ae orang yang terlibat dalam pembongkaran punden menyebar di masyarakat desa. Isu yang paling sering dibicarakan adalah isu terkait meninggalnya dua penebang kayu pohon beringin. Masyarakat desa beranggapan meninggalnya penebang kayu tersebut disebabkan tindakan mereka yang menebang kayu pohon beringin. 5 Penyebab Resistensi Masyarakat Desa Gajah Terhadap Pembongkaran Punden Desa Gajah Individu atau kelompok melakukan resistensi dapat disebabkan beberapa alasan. Ketimpangan sosial dan perbedaan kepentingan adalah penyebab yang umum terjadi. Perbedaan kepentingan antara penguasa dengan yang dikuasai seringkali menimbulkan resistensi. Perbedaan kepentingan semacam ini terkadang dibarengi dengan pemaksaan. Penguasa melakukan pemaksaan karena mereka memiliki kesempatan dan sumber daya untuk melakukannya. Sedangkan, kelompok yang dikuasi tidak memiliki hal tersebut. Individu atau kelompok yang tidak ingin tunduk akan melakukan Perlawanan ini yang kita sebut dengan resistensi sosial. Resistensi terhadap penguasaan lahan seringkali terjadi. Resistensi semacam ini biasanya terjadi karena perbedaan kepentingan dan ketimpangan pembagian ganti rugi saat penguasaan tersebut terjadi. Resistensi terjadi karena masyarakat merasa kesejahteraan mereka terganggu karena penguasaan lahan tersebut. Kesejahteraan merupakan hal yang penting bagi manusia. kesejahteraan menyangkut dengan rasa aman, tentram dan damai. Tiga hal tersebut menyakut kepuasan dalam diri manusia. Manusia akan melakukan berbagai cara untuk mencapai kepuasan tersebut. Resistensi tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan kepuasan pribadi dan emosional. Ketika kepuasan tersebut tidak bisa tercapai disitu akan muncul resistensi. Resistensi yang dilakukan oleh Masyarakat desa Gajah karena kesejahteraan mereka terganggu. Punden Serut adalah tempat yang penting bagi masyarakat desa. Punden Serut tidak hanya sebagai tempat masyarakat desa melakukan kegiatan adat. Punden Serut sudah terikat secara budaya dengan masyarakat desa. Internalisasi budaya yang memberikan gambaran proses kepercayaan terhadap Danyang dan Punden Serut. Kepercayaan tersebut menciptakan aturan dan konsekuensi dari kepercayaan tersebut. konsekuensi yang jelas digambarkan oleh masyarakat desa melalui datangnya Malapetakai identik dengan hal yang mengerikan bagi masyarakat desa. Pembongkaran merupakan salah satu tindakan pelanggaran terhadap aturan kepercayaan. Kebudayaan Menggambarkan Punden adalah tempat yang sakral. Sebagai tempat sakral membongkar Punden adalah tindakan yang dilarang. Konsekuensi dari tindakan ini adalah datangnya malapetaka. Masyarakat menolak pembongkaran Punden Serut karena alasan tersebut. Masyarakat desa tidak ingin Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 desa mereka mendapatkan malapetaka. Ketakutan Masyarakat desa berasal dari kepercayaan mereka terhadap tradisi terlebih lagi dengan gambaran pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya. pengalaman terkait pembongkaran Punden Serut yang sebelumnya pernah terjadi. Pengalaman yang menjadi sejarah tidak tertulis di Masyarakat desa. Pengalaman yang diceritakan oleh generasi pengalaman yang dalam penilaian masyarakat desa mengerikan. Pengalaman tersebut terjadi ketika pembongkaran Punden Serut yang pertama. Pengalaman tersebut memberikan gambaran konsekuensi yang didapatkan jika membongkar Punden Serut. Sehingga tindakan yang dianggap menyamai hal tersebut dilarang untuk dilakukan agar konsekuensi tidak terjadi kembali. Melalui penjelasan ini dapat disimpulkan penyebab resistensi karena adanya dua faktor. Faktor tersebut adalah faktor budaya dan Faktor sejarah. Faktor budaya disebabkan karena internalisasi budaya yang mengambarkan terkait tradisi kepercayaan masyarakat terhadap sosok Danyang dan Punden Serut. tradisi tersebut juga menyertakan aturan Ae aturan dan konsekuensi. Malapetaka adalah konsekuensi yang akan didpatakan jika melanggar aturan tradisi. Faktor sejarah berdasarkan cerita dari generasi sebelumnya terkait pembongkaran Punden yang pertama. Cerita tersebut berdasarkan pengelaman Pengalaman terhadap konsekuensi yang didapatkan setelah melakukan pembongkaran dalam hal ini adalah kejadian yang mereka anggap malapetaka. Terdapat dua faktor adalah alasan yang menimbulkan rasa takut di masyarakat desa. Rasa takut inilah yang membuat masyarakat desa menolak pembongkaran Punden Serut. 6 Bentuk Resistensi Masyarakat Desa Terhadap Pembongkaran Punden Resistensi yang dilakukan masyarakat desa Gajah merupakan upaya menghindari konsekuensi. Masyarakat takut desa mereka mendapat malapetaka akibat tindakan Developer. Ketakutan ini mengakibatkan hilangkan rasa aman, tentram dan damai di Masyarakat desa. Upaya penolakan yang dilakukan sebelum dan sesudah pembongkaran merupakan upaya untuk menjaga diri mereka dari Adapun Resitensi yang dilakukan oleh Masyarakat desa Gajah memiliki dua bentuk. Bentuk resistensi tersebut adalah terbuka dan tertutup. Resistensi terbuka memiliki karakteristik terorgansir, memiliki wujud, berdasar kepentingan banyak orang. Resistensi yang dilakukan masyarakat desa sebelum pembongkaran merupakan resistensi terbuka. Resistensi yang dilakukan terorganisir melalui musyawarah. Resistensi ini memiliki kepentingan untuk mayoritas masyarakat desa yang menolak pembongkaran. Musyawarah tersebut menghadirkan Developer dan masyarakat Musyawarah memberikan kesempatan untuk kedua pihak menyampaikan pendapatnya. Pemungutan suara bertujuan untuk menghasilkan keputusan bersama. Pemungutan suara tersebut menghasilkan putusan bahwa mayoritas menolak pembongkaran. Hasil ini menunjukkan bahwa Punden Serut seharusnya tidak boleh dibongkar. Akan tetapi. Punden Serut tetap dibongkar tidak lama setelah musyawarah. Masyarakat desa tidak senang dengan keputusan Developer untuk tetap membongkar Punden Serut. Masyarakat yang tidak senang melakukan upaya lain sebagai penolakan. Upaya lain ini yang di maksud dengan resistensi tertutup. Resistensi ini memiliki karakter tidak terorganisir,berdasarkan kepentingan individu, tidak sistematis, wujud tindakannya tidak bisa dipastikan. Resistensi tertutup yang dilakukan oleh masyarakat desa berupa tindakan. Tindakan tersebut adalah tetap melakukan kegiatan Selamatan di bekas Punden Serut dan menyebar isu berkonotasi negatif. Selamatan dilakukan tepat setelah pembongkaran. Selamatan dilakukan hingga sekarang karena di lahan tersebut belum ada Selanjutnya adalah penyebaran isu penyebaran terjadi setelah pembongkaran. Isu yang tersebar salah satunya tentang akar pohon beringin yang tidak bisa dibakar. Menurut masyarakat desa tidak terbakarnya akar pohon itu karena sosok Danyang yang marah karena Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Isu lainnya adalah terkait meninggalnya dua penebang kayu pohon beringin. Masyarakat beranggapan meninggalnya dua penebang tersebut ada hubungannya dengan pembongkaran Punden Serut. Masyarakat desa melakukan resistensi tertutup dengan proses yang Perbedaan ini terlihat dari perbedaan tindakan yang dilakukan pria dan wanita. Proses tersebut dapat dilihat melalui tabel berikut. Resistensi tertutup masyarakat desa dengan jenis kelamin pria dan wanita memiliki perbedaan. Masyarakat desa berjenis kelamin wanita menggunakan Selamatan dan penyebaran Isu sebagai upaya Upaya yang dilakukan oleh wanita karena menganggap tindakan tersebut lebih mudah Para wanita ini akan mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan yang lebih ekstrim seperti melakukan tindakan represif. Upaya ini selain lebih mudah juga minim akan resiko. Selamatan merupakan kegiatan adat yang dilakukan. Sejauh ini belum mendapatkan larangan untuk melakukan Selamatan di bekas Punden Serut. Sehingga upaya ini masih bisa digunakan. Penyebaran Isu ini sudah lama dilakukan. Penyebaran Isu ini paling sering terdengar berasal dari para wanita di Desa Gajah. Penyebaran Isu tidak diketahui darimana asalnya. Penyebaran Isu ini terdengar setelah pembongkaran terjadi. Resistensi Masyarakat Desa berjenis kelamin pria. Para pria dilibatkan dalam proses musyawarah. Hasil dari musyawarah yang gagal dilakukan menyebabkan terjadinya Resistensi tertutup. Resistensi tertutup yang dilakukan oleh masyarakat desa berjenis kelamin pria adalah terlibat dalam proses Selamatan. Beberapa pria juga terkadang membicarakan isu yang berkembang tentang pembongkaran Punden Serut. Resistensi para pria ini lebih terlihat melalu keterlibatan mereka dalam Selamatan. Selamatan di Punden Serut biasanya dilakukan oleh pria. Sedangkan, para wanita memasak makanan untuk Selamatan. Keterlibatan mereka merupakan bentuk dukungan atas klaim penggunaan lahan untuk kegiatan upacara adat. Melalui penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa resistensi yang terjadi di Desa Gajah dilakukan dalam dua bentuk. Reisistensi tersebut adalah terbuka dan tertutup. Kesimpulan Resistensi yang dilakukan masyarakat Desa Gajah melibatkan dua pihak yaitu Developer dan masyarakat desa. Developer sebagai pihak yang ingin membongkar Punden Serut . Masyarakat desa adalah pihak yang menolak pembongkaran Punden Serut. Punden Serut merupakan tempat sakral bagi masyarakat desa. Terdapat konsekuensi jika membongkar tempat sakral. Konsekuensi dalam kasus ini digambarkan sebagai malapetaka. Alasan yang membuat masyarakat desa menolak pembongkaran Punden Serut. Upaya penolakan dilakukan oleh masyarakat desa melalui proses muyawarah tetapi tidak Pembongkaran Punden Serut tetap dilakukan. Pembongkaran Punden Serut menimbulkan Resistensi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gajah disebabkan dua faktor. Dua faktor tersebut adalah faktor budaya dan faktor sejarah. Faktor budaya disebabkan proses internalisasi lintas Proses internalisasi tersebut membuat kepercayaan terhadap Danyang dan Punden Serut menjadi sangat kuat. Melalui proses internalisasi masyarakat mengetahui aturan dan konsekuensi jika melanggar aturan dalam tradisi mereka. Konsekuensi digambarkan oleh masyarakat sebagai Pembongkaran punden merupakan salah satu tindakan melanggar aturan tersebut. konsekuensi inilah yang membuat masyarakat takut jika desa mereka tetimpa malapetaka. Selanjutnya adalah faktor sejarah. Sejarah berperan penting dalam resistensi. Sejarah tersebut berupa cerita dari generasi sebelumnya. Cerita berisi peristiwa pada pembongkaran Punden Serut yang Cerita itu berisi pengalaman masyarakat desa yang mengalami peristiwa mengerikan setelah membongkar Punden Serut. Pengalaman tersebut membuat masyarakat desa menolak pembongkaran. Masyarakat takut mengalami peristiwa tersebut kembali. Resistensi ini dilakukan dalam dua bentuk. Paradigma. Volume 12. Number 3, 2023 Resistensi tersebut adalah resistensi tertutup dan resistensi terbuka. Resistensi terbuka terjadi sebelum pembongkaran. Resistensi ini melalui musyawarah dibalai desa. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa Punden Serut tidak boleh dibongkar. Hasil musyawarah tidak berhasil menghentikan pembongkaran sehingga pembongkaran Punden Serut tetap terjadi. tersebut membuat masyarakat tidak senang. Pembongkaran tersebut menimbukan resistensi tertutup. Resistensi tertutup terjadi setelah pembongkaran. Resistensi tertutup berupa tindakan. Tindakan tersebut dapat terlihat melalui kegiatan Selamatan yang tetap dilakukan di lokasi bekas Punden Serut dan penyebaran Isu terkait orang yang terlibat dalam proses pembongkaran punden Daftar Pustaka