Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari di Posyandu Lansia Desa Loa Raya Ni Luh Ayu Ekayanti. Octa Ida Manullang. Alya Indriani. Derajat. Alfina Dwi Anggraini. Desy Anugerah Rahmayanti. Siswanto Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia *Coresponding Author: niluhayuekayanti235@gmail. Dikirim: 11-08-2025. Direvisi: 22-08-2025. Diterima: 23-08-2025 Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan angka kematian tertinggi di dunia dan sering tidak terdeteksi pada tahap awal. Di Desa Loa Raya, prevalensi hipertensi pada pra-lansia dan lansia cukup tinggi, namun kesadaran untuk melakukan deteksi dini masih rendah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku pencegahan hipertensi melalui skrining Personal Prevention Check-Up (PPCU) dan edukasi program sehat 90 hari. Metode pelaksanaan menggunakan desain cross-sectional survey dengan teknik purposive sampling, melibatkan 50 peserta . melalui posyandu dan 17 melalui kunjungan ruma. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan lembar PPCU serta pemeriksaan fisik meliputi tekanan darah, gula darah, dan antropometri. Hasil menunjukkan 6 peserta . %) berisiko rendah, 12 peserta . %) berisiko sedang, dan 32 peserta . %) berisiko tinggi terhadap PTM, terutama hipertensi. program sehat 90 hari direkomendasikan untuk mendorong perubahan perilaku berkelanjutan melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, manajemen stres, dan penguatan mental-spiritual. Simpulan, integrasi skrining PPCU dengan edukasi berbasis komunitas efektif meningkatkan kesadaran dan memberikan rekomendasi personal untuk pencegahan hipertensi dan PTM lainnya. Kata Kunci: Hipertensi. Lansia. Edukasi. Deteksi Dini. PPCU Abstract: Hypertension is one of the leading causes of death among Non-Communicable Diseases (NCD. worldwide and is often undetected in its early stages. In Loa Raya Village, the prevalence of hypertension among pre-elderly and elderly populations is relatively high, yet awareness of early detection remains low. This community service activity aimed to improve knowledge, awareness, and preventive behavior regarding hypertension through Personal Prevention Check-Up (PPCU) screening and the 90-Day Health Program education. The method applied a cross-sectional survey design with purposive sampling, involving 50 participants . through the integrated health post and 17 through home visit. Data were collected via structured interviews using the PPCU form and physical examinations including blood pressure, blood glucose, and anthropometric measurements. The results showed that 6 participants . %) were at low risk, 12 participants . %) at moderate risk, and 32 participants . %) at high risk for NCDs, particularly hypertension. The 90-Day Health Program is recommended to encourage sustainable behavior changes through healthy eating, physical activity, stress management, and mental-spiritual strengthening. In conclusion, integrating PPCU screening with community-based education is effective in raising awareness and providing personal recommendations for the prevention of hypertension and other NCDs. Keywords: hypertension. early detection. PPCU PENDAHULUAN Kesehatan masyarakat merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas hidup dan produktivitas suatu bangsa. Tantangan kesehatan global saat ini tidak hanya @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. berasal dari penyakit menular, tetapi juga dari meningkatnya prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) yang berdampak besar pada beban morbiditas, mortalitas, dan pembiayaan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa PTM menjadi penyebab kematian terbesar di dunia, dan tren ini juga tercermin di Indonesia. Salah satu PTM yang memerlukan perhatian khusus adalah hipertensi. Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala klinis, namun dapat menimbulkan komplikasi berat seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner apabila tidak terdeteksi sejak dini (Zethira et al. , 2. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia dari 25,8% pada tahun 2013 menjadi 34,1% pada tahun 2018, dengan peningkatan signifikan pada kelompok usia di atas 18 tahun (Riskesdas, 2. Fakta ini menegaskan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang memerlukan upaya pencegahan dan pengendalian yang lebih terstruktur. Hipertensi sering terjadi pada lansia karena lansia mengalami kemunduran pada organ tubuh, oleh sebab itu lansia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah penderita hipertensi dan baru diketahui setelah pemeriksaan pada penyakit lain atau setelah terjadi kerusakan pada sistem organ (Novriani et al. , 2. Meskipun dampaknya besar, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko hipertensi masih rendah. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan kesehatan, kebiasaan hidup yang tidak sehat, serta belum optimalnya pelaksanaan skrining tekanan darah di tingkat rumah tangga (Mulasari et al. , 2. Beberapa faktor risiko yang dapat diubah, seperti kebiasaan merokok, konsumsi garam berlebih, obesitas, stres, dan kurang aktivitas fisik, masih banyak dijumpai pada komunitas perdesaan (Zethira et al. , 2. Pada kelompok lansia, tingginya konsumsi garam seringkali dipicu oleh penurunan sensitivitas indera perasa, sehingga mereka cenderung menambahkan garam atau penyedap untuk meningkatkan cita rasa makanan, yang berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah (Setyaningsih et , 2. Kondisi serupa ditemukan di Desa Loa Raya. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara. Berdasarkan hasil analisis situasi dalam kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL), diketahui bahwa angka hipertensi cukup tinggi pada kelompok pra-lansia dan lansia. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang mengetahui status tekanan darahnya. Kesenjangan antara tingginya risiko dan rendahnya kesadaran ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pencegahan hipertensi di desa tersebut. Menanggapi permasalahan tersebut, dikembangkan pendekatan promotif dan preventif berbasis komunitas melalui program Personal Prevention Check-Up (PPCU). Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2023, hipertensi masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah kasus Tercatat sebanyak 24. 080 kasus hipertensi dilaporkan dari fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kutai Kartanegara sepanjang tahun 2023. Angka ini menempatkan hipertensi sebagai salah satu beban utama pelayanan kesehatan, terutama pada kelompok usia dewasa dan lansia (Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, 2. Kondisi tersebut sejalan dengan data di tingkat provinsi. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, pada tahun 2021 terdapat 195. penderita hipertensi, sedangkan pada periode JanuariAeMei 2022 jumlahnya sudah mencapai lebih dari 63. 000 orang. Data Riskesdas 2018 juga mencatat bahwa @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. prevalensi hipertensi di Kalimantan Timur cukup tinggi, dengan Kabupaten Kutai Kartanegara menempati peringkat ketiga mencapai 45,22% pada usia Ou18 tahun. Bahkan, jumlah penderita hipertensi di Kutai Kartanegara tahun 2019 dilaporkan 692 orang (Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, 2023. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, 2021. Riskesdas, 2. Selain itu, beban hipertensi semakin berat karena tingginya angka kesakitan secara global. Di Indonesia. Riskesdas 2018 melaporkan bahwa prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, meningkat dari 25,8% pada tahun 2013, dengan jumlah penderita diperkirakan 65 juta jiwa. Hal ini menegaskan bahwa hipertensi telah menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas, bahkan menempati posisi ketiga penyebab kematian di Indonesia dengan kontribusi 6,8% dari seluruh kematian (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022. Riskesdas, 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Separi 3 Kutai Kartanegara, peneliti mengumpulkan data untuk mengetahui jumlah penderita hipertensi dari bulan Oktober hingga Desember tahun pengumpulan data 2021 dari tersebut hasil terdapat sebanyak 106 orang yang tercatat sebagai penderita Hipertensi. (Sholichin et al. , 2. Oleh karena itu, intervensi berbasis komunitas menjadi sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku, dan mengurangi faktor risiko. Program ini merupakan skrining awal berbasis partisipatif menggunakan instrumen sederhana namun sistematis untuk mendeteksi tekanan darah tinggi dan status gizi sejak dini. Tujuannya adalah mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola kesehatannya serta membentuk perilaku deteksi dini yang berkelanjutan (Mulasari et al. , 2024. Zethira et al. , 2. Selain itu. PPCU juga menjadi pintu masuk menuju intervensi lanjutan, seperti edukasi pola makan sehat, pengendalian faktor risiko hipertensi, dan pemantauan tekanan darah berkala melalui program sehat 90 hari. Studi terdahulu menunjukkan bahwa edukasi dan aktivitas fisik terstruktur di tingkat komunitas dapat meningkatkan pengetahuan dan menurunkan tekanan darah secara signifikan (Mulasari et al. , 2. Oleh karena itu, melalui kegiatan PBL 1 ini, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman terlibat secara langsung dalam upaya penyelesaian masalah hipertensi di Desa Loa Raya. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan sebagai sarana edukasi, tetapi juga untuk mendorong masyarakat agar lebih sadar akan kesehatannya dan berani melakukan deteksi dini. Dengan pendekatan yang sederhana dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata, khususnya dalam membentuk kebiasaan hidup sehat secara mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan agar dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku pencegahan hipertensi pada pra-lansia dan lansia di Desa Loa Raya melalui integrasi skrining Personal Prevention Check-Up (PPCU) dengan edukasi program sehat 90 Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengenali tingkat risiko penyakit tidak menular, khususnya hipertensi, mendapatkan rekomendasi personal berbasis hasil PPCU, serta terdorong untuk menerapkan pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres sebagai upaya deteksi dini dan pengendalian hipertensi yang berkelanjutan di tingkat komunitas. Pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana mahasiswa berperan tidak hanya sebagai pembelajar, tetapi juga sebagai @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. penggerak perubahan di masyarakat. PBL menjadi wadah strategis bagi kolaborasi antara mahasiswa, mitra desa, dan masyarakat untuk menciptakan solusi berbasis kebutuhan lokal. Melalui pendekatan kontekstual dan berbasis data, diharapkan kegiatan pengabdian ini dapat meningkatkan kesadaran, kapasitas, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola risiko hipertensi secara berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Tahap persiapan kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama kader posyandu lansia Desa Loa Raya sebagai mitra pelaksanaan program, persiapan juga dilakukan dengan pelatihan kepada mahasiswa terkait materi edukasi program sehat 90 hari agar informasi dapat disampaikan dengan tepat kepada peserta. Pemilihan responden menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu warga berdomisili di Desa Loa Raya, berusia Ou45 tahun, dan bersedia mengikuti rangkaian kegiatan screening PPCU. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Juli 2025, 30Ae11. 30 WITA di Posyandu Lansia Desa Loa Raya. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara, serta melalui kunjungan langsung . oor to doo. bagi warga yang tidak dapat hadir. Total peserta sebanyak 50 orang, terdiri atas 33 peserta yang hadir di posyandu dan 17 peserta melalui kunjungan Desain kegiatan berupa cross-sectional survey dengan pendekatan screening kesehatan berbasis wawancara dan pemeriksaan sederhana. Metode pemeriksaan PPCU mengacu pada prosedur terdahulu dengan modifikasi sesuai konteks lokal, meliputi wawancara tatap muka dan penambahan materi edukasi program sehat 90 Instrumen yang digunakan adalah lembar PPCU berisi 28 pertanyaan mencakup faktor risiko kesehatan seperti usia, riwayat penyakit keluarga, kepatuhan konsumsi obat, pola makan, pola hidup, dan status gizi (Siswanto, 2. Pengisian dilakukan dengan wawancara terstruktur, setiap jawaban AuYAAy diberi tanda silang, kemudian skor total dikategorikan menjadi risiko sangat ringan (<. , kondisi waspada (=4Ae. , dan risiko tinggi (>. Hasil PPCU mencantumkan indikator tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat sebagai dasar analisis. Berdasarkan hasil analisis, setiap peserta menerima lembar rekomendasi yang berisi saran perubahan perilaku sesuai tingkat risiko dan arahan pemanfaatan program sehat 90 hari. Selain itu, dilakukan penyuluhan mengenai pola hidup sehat meliputi konsumsi makanan bergizi seimbang dengan variasi lima warna buah dan sayur, minum air minimal 2 liter per hari, aktivitas fisik teratur, istirahat cukup, penguatan mental dan spiritual, serta pembangunan lingkungan sosial yang positif. Program ini ditujukan bagi individu sehat untuk mencegah penyakit, individu dengan penyakit untuk mencegah keparahan, dan individu yang sering sakit untuk mencegah Setelah kegiatan, peserta membawa pulang hasil screening dan rekomendasi perilaku sehat sebagai panduan pribadi, sementara kader posyandu memperoleh salinan data untuk tindak lanjut pemantauan kesehatan lansia. Peserta juga dianjurkan untuk menjalani program sehat 90 hari dengan monitoring berkala di posyandu, dengan dampak yang diharapkan berupa peningkatan kesadaran deteksi dini, perubahan perilaku menuju pola hidup sehat, serta penurunan risiko hipertensi dan penyakit tidak menular secara berkelanjutan. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. Gambar 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian Masyarakat @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat pada 11 Juli 2025 di Desa Loa Raya. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara dilaksanakan bersamaan dengan posyandu lansia. Dukungan kader kesehatan dan petugas Puskesmas Pembantu mempermudah proses pendaftaran, pemeriksaan, dan pencatatan Sebanyak 33 peserta hadir di lokasi dan dilakukan kunjungan rumah kepada 17 lansia yang tidak hadir, meningkatkan total peserta menjadi 50 orang. Pemeriksaan meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, dan kadar gula darah, yang dicatat dalam buku kesehatan lansia untuk pemantauan berkala. Wawancara untuk mendapatkan hasil skrining dilakukan menggunakan tiga lembar instrumen, yaitu lembar Personal Prevention Check-Up (PPCU), lembar kesimpulan hasil analisa PPCU dan lembar rekomendasi program sehat 90 hari. Strategi integrasi kegiatan dengan posyandu serta pendekatan jemput bola terbukti efektif menjangkau lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas. Tabel 1. Distribusi kehadiran peserta posyandu lansia Alamat RT 01 RT 02 RT 03 RT 04 RT 05 Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Kehadiran Tabel diatas menunjukkan adanya distribusi kehadiran peserta posyandu lansia berdasarkan alamat dan jenis kelamin. Total peserta yang hadir sebanyak 33 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 20 perempuan. Kehadiran terbanyak berasal dari RT. dengan jumlah 10 orang, diikuti oleh RT. 04 sebanyak 7 orang. Kehadiran paling sedikit dengan total 3 peserta yaitu dari RT. Data ini menunjukkan bahwa perempuan lebih berpartisipasi dalam posyandu lansia disetiap RT, kecuali RT. yang lebih banyak dihadiri oleh laki-laki Tabel 2. Distribusi kunjungan rumah lansia Alamat RT 03 RT 04 RT 05 Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Kehadiran Tabel diatas menunjukkan distribusi jumlah rumah lansia yang dikunjungi berdasarkan alamat dan jenis kelamin. Total kunjungan yang tercatat sebanyak 17 orang lansia, tersebar di RT 03. RT 04, dan RT 05. RT dengan jumlah kunjungan terbanyak adalah RT 04 dan RT 05, masing-masing sebanyak 6 kunjungan. Dari sisi jenis kelamin, kunjungan lebih banyak dilakukan kepada lansia laki-laki . dibandingkan perempuan . @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. Gambar 2. Lembar Personal Prevention Check-Up (PPCU) Gambar 2. Personal Prevention Check-Up (PPCU) merupakan media pertama yang digunakan sebagai alat skrining yang berisi 28 pertanyaan yang meliputi faktor risiko kesehatan seperti usia, riwayat penyakit keluarga, kepatuhan konsumsi obat, pola makan, pola hidup, dan status gizi. Proses pengisian dilakukan dengan metode wawancara terstruktur, di mana pewawancara menanyakan setiap pertanyaan kepada responden, lalu menandai jawaban AuYAAy dengan tanda silang. Lembar disusun secara vertikal untuk jawaban dari pertanyaan dan secara horizontal untuk pencatatan hasil, sehingga memudahkan dalam rekapitulasi. Setelah seluruh pertanyaan terisi, jumlah tanda silang dihitung dan dikategorikan ke dalam tiga tingkat risiko, yaitu skor <4 termasuk risiko sangat ringan, skor tepat 5 termasuk kondisi waspada, dan skor >6 termasuk risiko tinggi. Hasil perhitungan ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan dampak kesehatan yang akan muncul apabila perilaku berisiko dalam kesehatan terus dilakukan tanpa ada perbaikan, serta memberikan tindak lanjut pemantauan kesehatan peserta terhadap program sehat 90 hari. Berdasarkan hasil skrining menggunakan lembar Personal Prevention Check Up (PPCU), diperoleh hasil untuk tiga kategori tingkat risiko kesehatan peserta. Sebanyak 6 peserta dengan adanya skor <5 berada pada kondisi relatif aman, tanpa indikasi risiko tinggi penyakit tidak menular, namun tetap dianjurkan mempertahankan pola hidup Sebanyak 12 peserta dengan adanya skor tepat 5 berada pada ambang risiko, menunjukkan tanda awal potensi gangguan kesehatan sehingga memerlukan perhatian khusus pada pola makan, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Sementara itu yang menjadi kelompok mayoritas peserta, yaitu 32 orang dengan adanya skor >5, tergolong berisiko tinggi terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, gangguan metabolisme, dan masalah psikologis. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta membutuhkan intervensi terarah berupa perubahan perilaku dan penerapan pola hidup sehat. Rekomendasi utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. adalah mengikuti program sehat 90 hari untuk menurunkan risiko dan memperbaiki kondisi kesehatan secara menyeluruh. Gambar 3. Pelaksanaan Skrining dengan Lembar PPCU Gambar 4. Lembar Hasil Analisa PPCU @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. Gambar 4 Lembar hasil analisa PPCU merupakan media lanjutan setelah proses skrining dilakukan. Lembar ini memuat identitas dasar peserta . ama, umur, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam ura. serta rangkuman hasil analisis yang dikategorikan ke dalam tingkat risiko kesehatan. Bagian tengah tabel menampilkan daftar potensi dampak kesehatan apabila upaya pencegahan tidak dilakukan, mulai dari gangguan jantung, pembuluh darah, pencernaan, pernapasan, hingga gangguan Pada kolom kanan dicantumkan kategori risiko, mulai dari masih aman / risiko sangat ringan, waspada / risiko sedang, hingga risiko tinggi. Lembar ini juga dilengkapi dengan kolom anjuran yang berisi rekomendasi tindak lanjut sesuai tingkat risiko, misalnya edukasi program sehat 90 hari bagi peserta dengan risiko ringan hingga sedang, serta anjuran pemeriksaan dan pengelolaan lebih lanjut bagi peserta dengan risiko tinggi. Dengan demikian, lembar analisa PPCU tidak hanya memberikan gambaran risiko kesehatan individu, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan penyakit tidak menular secara lebih Hasil analisis 12 lembar PPCU dari seluruh peserta dengan skor tepat 5 menunjukkan bahwa risiko tertinggi berada pada gangguan hati/liver, diikuti gangguan pencernaan . aag dan masalah lambun. , gangguan jantung dan stroke, anemia, gangguan ginjal, gangguan pankreas, gangguan paru-paru, masalah gizi, gangguan kandung kemih, gangguan prostat, gangguan peredaran darah, gangguan tulang dan sendi, gangguan sistem reproduksi, gangguan psikologis . tres atau depres. , gangguan kulit, penurunan daya tahan tubuh, dan gangguan mata. Meskipun berada pada ambang batas, kecenderungan gangguan kesehatan pada kelompok ini cukup bervariasi dan melibatkan hampir seluruh sistem tubuh. Oleh karena itu, pencegahan tetap diperlukan melalui perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, manajemen stres, serta pemeliharaan fungsi organ, salah satunya melalui program sehat 90 hari. Pada 32 lembar PPCU dengan skor >5, risiko kesehatan lebih serius dan mendominasi pada gangguan kandung kemih, diikuti gangguan hati atau liver, gangguan jantung dan stroke, serta gangguan pencernaan. Risiko lainnya meliputi anemia, gangguan sistem reproduksi, gangguan tulang dan sendi, penurunan daya tahan tubuh, gangguan mata, gangguan ginjal, gangguan peredaran darah, masalah gizi, gangguan kulit, dan gangguan psikologis. Pola ini menunjukkan bahwa pada kelompok berisiko tinggi, potensi masalah kesehatan tidak hanya lebih beragam tetapi juga lebih berat, sehingga memerlukan intervensi segera. Program sehat 90 hari direkomendasikan sebagai langkah strategis untuk memulihkan fungsi organ, mengendalikan faktor risiko, dan membentuk kebiasaan hidup sehat guna mencegah perkembangan penyakit tidak menular di masa depan. Gambar 5. Penjelasan Hasil Analisa @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. Gambar 6. Lembar Rekomendasi Program Sehat 90 Hari Gambar 6 Lembar rekomendasi program sehat 90 hari adalah media ketiga yang diberikan kepada peserta setelah menerima hasil analisa PPCU. Lembar ini berisi panduan praktis terkait perubahan perilaku hidup sehat yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Program sehat 90 hari ditujukan sebagai langkah pencegahan maupun pengendalian penyakit tidak menular dengan menekankan aspek gaya hidup seimbang. Isi lembar rekomendasi meliputi beberapa komponen utama, yaitu pola makan bergizi seimbang . ariasi lima warna buah dan sayur, pembatasan makanan berisiko, serta konsumsi air putih minimal 2 liter per har. , aktivitas fisik, . lahraga teratur, istirahat cuku. , serta perilaku sehat dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, psikologis dan mental . erpikir positif, manajemen stres, menjaga motivasi, serta evaluasi dir. , sosial . embangun interaksi positif dengan keluarga maupun lingkunga. , dan spiritual . enguatkan aspek keagamaan, berdoa, serta menjaga @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. keseimbangan mental dan spiritua. Dengan adanya lembar ini, peserta memiliki panduan tertulis yang dapat dijadikan acuan sehari-hari selama menjalani program sehat 90 hari. Tujuannya agar peserta mampu menerapkan pola hidup sehat secara konsisten, mencegah munculnya risiko penyakit, serta meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Program sehat 90 hari direkomendasikan sebagai terapi pencegahan berbasis perubahan perilaku yang berkesinambungan. Dengan mengikuti panduan dan saran, peserta tidak hanya memperbaiki kebiasaan makan, misalnya menghindari makanan atau minuman olahan dan berpengawet, tetapi juga meningkatkan aktivitas fisik dan mental yang konstruktif serta memperkuat aspek spiritual dan sosial, sehingga risiko penyakit dapat ditekan secara signifikan dan kualitas hidup meningkat. program sehat 90 hari bukan hanya ditujukan untuk lansia yang hipertensi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mencegah berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, gangguan pencernaan, dan stres melalui pola makan sehat khususnya buah dan sayur 5 warna, konsumsi air minum minimal 2 liter per hari, olahraga teratur, istirahat cukup, penguatan mental dan spiritual, serta lingkungan sosial positif. Program ini dirancang untuk tiga kelompok sasaran, yaitu bagi mereka yang sehat sebagai upaya pencegahan agar tidak muncul penyakit, bagi mereka yang sedang sakit untuk mencegah keparahan dan komplikasi serta bagi mereka yang sering sakit, untuk mencegah kekambuhan dan mempercepat pemulihan. Gambar 7. Pemberian Rekomendasi Program Sehat 90 Hari Setelah seluruh lembar program sehat 90 hari digunakan untuk wawancara, penyampaian informasi, dan pemberian rekomendasi kepada peserta posyandu, dilaksanakan kegiatan tambahan berupa penyuluhan yang berlangsung di Balai Pertemuan Umum Desa Loa Raya terkait penerapan pola makan sehat berbasis 5 warna alami buah dan sayur, yang terbukti membantu memperbaiki fungsi tubuh secara Konsumsi sayur atau buah berwarna hijau mendukung kesehatan sel dan hati, ungu atau biru memperkuat otak dan jantung, merah melindungi DNA dan prostat, putih menjaga tulang dan pembuluh darah, sedangkan kuning atau oranye meningkatkan imunitas, pertumbuhan, dan kesehatan mata. Dengan mengintegrasikan deteksi risiko dari PPCU, analisis pencegahan penyakit, dan pola makan beragam warna buah dan sayur, program sehat 90 hari menawarkan pendekatan yang menyeluruh dan praktis untuk mencegah penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Penyuluhan disampaikan oleh dosen pembimbing kegiatan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. pengabdian masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman. Usai pemaparan materi, peserta mengikuti sesi tanya jawab, berbagi pengalaman, serta konsultasi ringan bersama pemateri. Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman peserta tentang prinsip program sehat 90 Hari dan mendorong penerapan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Gambar 8. Media Penyuluhan 5 Jenis Warna Sayur dan Buah Gambar 9. Penyuluhan dan Sosialisasi Program Sehat 90 Hari Berdasarkan hasil skrining menggunakan lembar PPCU terhadap 50 orang peserta yang telah diwawancarai, diperoleh gambaran bahwa informasi terkait pelaksanaan kegiatan posyandu lansia yang dipadukan dengan kegiatan pengabdian masyarakat tersampaikan dengan baik. Peserta yang hadir berasal dari berbagai RT di Desa Loa Raya. Namun, data menunjukkan bahwa belum seluruh warga pra-lansia dan lansia dari masing-masing RT hadir pada kegiatan ini. Beberapa alasan ketidakhadiran antara lain kesibukan pekerjaan atau mengurus kebun, ketiadaan pendamping untuk mengantar ke posyandu, serta anggapan bahwa kader kesehatan posyandu lansia akan melakukan kunjungan rumah sehingga kehadiran ke posyandu dianggap tidak perlu. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya peningkatan kesadaran dan motivasi masyarakat untuk hadir secara langsung di posyandu, mengingat kegiatan ini bukan hanya sekadar pemeriksaan kesehatan rutin, tetapi juga menjadi sarana penerapan program sehat 90 hari. Program ini mengintegrasikan hasil deteksi risiko kesehatan dari PPCU dengan edukasi pencegahan penyakit dan penerapan pola makan sehat berbasis lima warna buah dan sayur. Dengan kehadiran langsung, peserta dapat memperoleh pemeriksaan fisik, informasi personal terkait hasil skrining, rekomendasi perbaikan pola hidup, serta bimbingan langsung mengenai penerapan pola makan sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. Partisipasi masyarakat telah lama diakui sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan program kesehatan, termasuk dalam pelaksanaan posyandu lansia. Menurut Cohen & Uphoff dalam kajian teori partisipasi, masyarakat berperan tidak hanya sebagai penerima manfaat tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam setiap tahapan program, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi. Partisipasi ini erat kaitannya dengan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap anggota keluarga lansia di lingkungan sekitar (Utania, 2. Motivasi dan dukungan keluarga sangat berperan penting dalam meningkatkan frekuensi kehadiran lansia pada kegiatan Lansia yang mendapatkan dorongan dan pendampingan dari keluarga cenderung lebih aktif mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin dan kegiatan edukasi yang diselenggarakan di posyandu, sehingga melibatkan keluarga dalam program menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kehadiran (Mufidah, 2. Selain itu, kualitas pelayanan posyandu juga menjadi variabel penting yang mempengaruhi partisipasi masyarakat. Kualitas pelayanan yang meliputi keramahan petugas, ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan, dan tersedianya fasilitas pendukung yang memadai dapat meningkatkan jumlah lansia yang hadir dan berkontribusi aktif dalam kegiatan posyandu (Fatimah et al. , 2. Efektivitas program posyandu lansia tidak hanya diukur dari tingkat kehadiran, tapi juga dari dampak nyata yang dirasakan lansia terkait kesehatan fisik dan psikologis. Pendekatan terpadu yang menggabungkan edukasi pola makan sehat dan promosi aktivitas fisik mampu menurunkan prevalensi penyakit degeneratif dan meningkatkan kualitas hidup lansia secara signifikan (Amalia et al. , 2. Selanjutnya, intervensi edukasi pola makan yang rutin melalui posyandu lansia, terutama dalam bentuk pendidikan mengenai konsumsi buah dan sayur, terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku makan lansia. Hal ini berkontribusi pada penurunan risiko penyakit seperti hipertensi dan diabetes, serta peningkatan status kesehatan secara keseluruhan (Sukri et al. , 2. KESIMPULAN Kegiatan skrining Personal Prevention Check-Up (PPCU) yang terintegrasi dengan program sehat 90 hari di Desa Loa Raya berhasil mengidentifikasi tingkat risiko kesehatan pada pra-lansia dan lansia, dengan mayoritas peserta berada pada kategori risiko tinggi terhadap hipertensi dan penyakit tidak menular. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi berkelanjutan untuk mendorong perubahan perilaku hidup sehat, termasuk perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan pengelolaan stres. Pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan partisipatif, pengintegrasian pada layanan posyandu, serta upaya jemput bola terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran deteksi dini dan memperluas jangkauan sasaran. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa model edukasi berbasis komunitas yang dipadukan dengan pemeriksaan kesehatan sederhana dapat menjadi strategi yang efisien, terjangkau, dan mudah diterapkan dalam upaya pencegahan hipertensi dan penyakit tidak menular di wilayah pedesaan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Loa Raya. Kader Posyandu Lansia, serta Petugas Puskesmas Pembantu Desa Loa Raya atas dukungan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Ekayanti dkk. Edukasi Deteksi Dini Hipertensi melalui PPCU Program Sehat 90 Hari. penuh selama pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dan apresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Loa Raya yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan. Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada dosen pembimbing kelompok 6 Pengalaman Belajar Lapangan 1 (PBL . , dan dosen panitia PBL 1 serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman yang telah memfasilitasi dan memberikan dana untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA