Jurnal Teknologika 15. Issue 2 . 847-856 Jurnal Teknologika Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/teknologika/index ISSN: 2715-4645 E-ISSN: 1693-2978 Analisis Beban Kerja Karyawan di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar Menggunakan Metode NASA-TLX Analysis of Employee Workload at Ayam Geprek Sambel Cenghar Restaurant Using the NASA-TLX Method Nurul Dwi Astuti1,*. Daisy Ade Riany Diem1 . Imas Widowati1 Program Studi Manajemen Industri. Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana. Purwakarta. Indonesia Abstrak: Beban kerja merupakan faktor penting yang memengaruhi kinerja dan kesejahteraan karyawan, terutama di lingkungan kerja dengan ritme cepat seperti restoran cepat saji. Keluhan dari karyawan serta perbedaan persepsi mengenai bagian kerja yang paling berat menunjukkan adanya potensi ketidakseimbangan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat beban kerja karyawan, mengidentifikasi dimensi NASA-TLX yang paling berpengaruh, dan menggali faktor-faktor yang menyebabkan tingginya beban kerja di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar. Metode penelitian menggunakan NASA Ae TLX (Task Load Inde. , yang mengukur beban kerja berdasarkan enam dimensi: kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha dan tingkat frustrasi. Data diperoleh dari 21 responden yang berasal dari empat bagian operasional, yaitu kasir, dapur, pramusaji dan pengulekan sambal . Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48% karyawan berada pada kategori beban kerja sedang, 38% pada kategori tinggi, dan sisanya pada kategori rendah. Dimensi dengan skor tertinggi yang paling berkontribusi terhadap beban kerja keseluruhan adalah kebutuhan fisik dan usaha, masing-masing berkontribusi sebesar 18%. Berdasarkan tanggapan responden, ditemukan bahwa durasi kerja yang panjang . menjadi faktor utama yang meningkatkan beban kerja. Dengan demikian, disarankan adanya evaluasi terhadap durasi kerja, termasuk penerapan sistem kerja bergilir . untuk mengurangi kelelahan dan meningkatkan efisiensi operasional. Keywords: manajemen. beban kerja. NASA-TLX. Abstract: Workload is a critical factor influencing employee performance and well-being, particularly in fast-paced work environments such as fast-food restaurants. Employee complaints and differing perceptions regarding the most demanding aspects of the job indicate a potential workload imbalance. This study aims to analyze employee workload levels, identify the most influential NASA-TLX dimensions, and explore factors contributing to high workload at Ayam Geprek Sambel Cenghar Restaurant. The research method used the NASA-TLX (Task Load Inde. , which measures workload based on six dimensions: mental demands, physical demands, temporal demands, performance, effort, and frustration levels. Data were obtained from 21 respondents from four operational departments: cashiers, kitchen staff, waitstaff, and chili sauce mashers . The results showed that 48% of employees were in the medium workload category, 38% in the high category, and the remainder in the low The dimensions with the highest scores and contributing the most to the overall workload were physical demands and effort, each contributing 18%. Based on respondents' responses, it was found that long work hours . were the main factor increasing workload. Therefore, an evaluation of work hours, including the implementation of a rotating work system . , was recommended to reduce fatigue and improve operational efficiency. Keywords: management. NASA-TLX. Pendahuluan Industri makanan dan minuman di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2023 terdapat 4,85 juta usaha penyedia makanan dan minuman, meningkat 21,13% dibandingkan tahun 2016. Pada triwulan II tahun 2024, sektor ini bahkan tumbuh sebesar 5,53% . Corresponding author : dwiastutinurul@gmail. https://doi. org/10. 51132/teknologika. Received : 26-08-2025 Accepted : 04-10-2025 Available online : 30-11-2025 Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . 847-856 Seiring dengan pertumbuhan tersebut, manajemen operasional restoran masih menghadapi tantangan, salah satunya terkait distribusi beban kerja karyawan. Secara ideal, beban kerja harus terdistribusi secara seimbang agar efisiensi operasional dan kinerja karyawan tetap terjaga. Namun kenyataannya, ketidakseimbangan beban kerja sering muncul akibat fluktuasi volume pesanan, sistem penjadwalan yang kurang efektif, serta pembagian tugas yang tidak merata. Dalam konteks ini, manajemen operasional berperan penting sebagai upaya untuk mengelola secara maksimal seluruh faktor produksi, termasuk tenaga kerja, mesin, peralatan, bahan baku, dan aspek lain yang berhubungan dengan proses produksi . Penelitian di Restoran Wingstop . menunjukkan bahwa beban kerja yang tinggi dapat menurunkan efisiensi kerja dan berdampak pada kualitas pelayanan terhadap pelanggan. Studi lain menyebutkan bahwa ketidakseimbangan beban kerja dapat menyebabkan kelelahan dan peningkatan stres di kalangan karyawan . Tidak hanya di sektor restoran, penelitian lainnya juga menujukkan bahwa beban kerja berlebih dalam dunia akademik berdampak pada produktivitas tenaga pengajar selama pandemi . Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan beban kerja merupakan faktor krusial dalam berbagai sektor industri. Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar sebagai objek penelitian juga mengalami permasalahan yang serupa. Berdasarkan observasi awal, ditemukan adanya perbedaan persepsi antarbagian mengenai bagian pekerjaan yang paling berat. Sebagian karyawan menilai dapur memiliki beban kerja tinggi karena kompleksitas tugas, sementara yang lain menilai kasir lebih berat karena selain melayani transaksi, juga bertanggung jawab terhadap pengepakan serta sering bekerja lebih lama saat proses penutupan (Closin. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya sistem backup antara outlet pusat dan cabang, sehingga karyawan pusat sering menggantikan posisi di cabang ketika ada kekosongan akibat izin atau sakit. Selain itu, keberadaan karyawan baru yang masih beradaptasi juga membuat efisiensi kerja belum optimal. Lebih jauh, karyawan secara langsung mengeluhkan tingginya beban kerja yang dialami, terutama terkait durasi kerja yang panjang . jam per har. yang meningkatkan kelelahan fisik dan mental Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menimbulkan dampak negatif seperti kelelahan, stres, meningkatnya izin sakit, hingga penurunan kualitas pelayanan kepada pelanggan . Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat beban kerja karyawan, mengidentifikasi dimensi NASA-TLX yang paling berpengaruh, serta mengetahui faktorfaktor penyebab tingginya beban kerja di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar dengan menggunakan metode NASA-TLX. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi manajemen dalam mengatur distribusi beban kerja yang lebih seimbang, sehingga dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kesejahteraan karyawan. Metodologi Beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan/unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu . Untuk menilai persepsi karyawan terhadap beban kerja, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menganalisis tingkat beban kerja karyawan dengan metode NASA-TLX (Task Load Inde. NASA-TLX merupakan intrumen pengukuran subjektif yang dikembangkan oleh Hart dan Staveland . , yang menilai beban kerja berdasarkan enam dimensi, yaitu kebutuhan mental (KM), kebutuhan fisik (KF), kebutuhan waktu (KW), performansi kerja (PK), usaha (U), dan tingkat frustasi (TF). Metode ini merupakan pengukuran subjektif, yaitu pengukuran yang didasarkan pada penilaian dan pelaporan oleh pekerja terhadap beban kerja yang dirasakannya dalam menyelesaikan suatu tugas. Pengukuran jenis ini umumnya menggunakan skala penilaian . ating scal. Penelitian ini dilakukan di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar dengan objek penelitian karyawan pada bagian kasir, dapur, ulek dan pramusaji. Bagian-bagian tersebut dipilih karena memiliki intensitas kerja tinggi dan berpotensi menimbulkan kelelahan fisik maupun mental. Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . 847-856 Responden berjumlah 21 orang, yang dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria telah bekeja minimal satu bulan dan terlibat langsung dalam aktivitas operasional pada bagian yang 1 Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner NASA-TLX kepada responden yang bekerja pada bagian operasional . asir, dapur, ulek dan pramusaji. Kuesioner ini terdiri dari dua tahap utama, yaitu: Rating skala Responden diminta memberikan penilaian terhadap enam dimensi NASA-TLX menggunakan skala 0-10 . angat rendah Ae sangat tingg. Deskripsi enam dimensi ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Dimensi NASA-TLX KETERANGAN Menurut Anda seberapa usaha mental . erpikir, mengingat, berkonsentras. yang dibutuhkan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini menuntut konsentrasi tinggi, banyak perhitungan, atau keputusan kompleks? Menurut Anda seberapa besar usaha fisik yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini? Apakah Anda sering berdiri lama, mengangkat barang, atau melakukan banyak gerakan fisik? Menurut Anda seberapa besar tekanan yang Anda rasakan berkaitan dengan waktu untuk melakukan pekerjaan ini? Apakah Anda sering dikejar-kejar waktu atau harus bekerja dengan cepat? Menurut Anda seberapa besar tingkat keberhasilan Anda dalam melakukan pekerjaan ini? Apakan Anda merasa hasil kerja Anda memuaskan, efektif, dan sesuai harapan? SKALA Kebutuhan Mental (KM) LOW HIGH Kebutuhan Fisik (KF) LOW HIGH Kebutuhan Waktu (KW) LOW HIGH Performansi Kerja (PK) LOW HIGH Tingkat Frustrasi (TF) Menurut Anda seberapa besar kecemasan, perasaan tertekan, dan stres yang Anda rasakan dalam melakukan pekerjaan ini? Menurut Anda seberapa besar usaha yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini terasa berat atau menguras tenaga dan LOW HIGH Usaha (U) LOW HIGH Sumber : diadopsi dari Saputra dan Herwanto . Pembobotan (Paired Compariso. Responden kemudian membandingkan masing-masing dimensi secara berpasangan sebanyak 15 Dari hasil ini akan dketahui bobot atau prioritas subjektif dari tiap dimensi. 2 Teknik Analisis Data Metode NASA-TLX menggunakan skala subjektif dengan rentang 0-10 untuk setiap dimensi. Skor akhir dihitung berdasarkan bobot masing-masing dimensi yang diberikan oleh responden melalui perbandingan berpasangan. Langkah-langkah dalam menentukan skor beban kerja mental adalah sebagai berikut: Menghitung Nilai Produk Nilai produk didapat dengan cara mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing Produk = Rating x Bobot Faktor Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . 847-856 Menghitung Weighted Workload (WWL) Weighted Workload (WWL) didapat dengan cara menjumlahkan keenam nilai produk. WWL = Oc Produk Menghitung rata-rata WWL Rata-rata WWL didapat dengan cara membagi WWL dengan jumlah bobot total . Oc. cyeCyeiyeOyeayeO yeo yeEyeayeEyeaye. Skor rata-rata WWL = OcyeEyeayeEyeayei . Kategorisasi Beban Kerja Berikut klasifikasi NASA-TLX : Tabel 2. Klasifikasi NASA-TLX Kategori Beban Kerja Rendah Sedang Tinggi Nilai Interval 5Ae8 Hasil dan Pembahasan 1 Pengumpulan dan Pengolahan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara kepada karyawan di bagian kasir, dapur, ulek dan pramusaji. Tahap awal berupa pembobotan . aired Compariso. , di mana responden diminta memilih salah satu dimensi beban kerja yang dianggap lebih dominan dibanding yang lainnya. Tahap selanjutnya adalah pemberian skala terhadap enam dimensi beban kerja deng skala 0-10. Setelah data terkumpul, dilakukan rekapitulasi dan pengolahan data dengan menghitung nilai produk kemudian digunakan untuk menghitung Weighted Workload (WWL) masing-masing responden. Hasil pengolahan disajikan dalam tabel dan dianalisis untuk mengetahui dimensi dominan serta tingkat beban kerja secara keseluruhan. Tabel 3. Rekapitulasi skor NASA-TLX responden Responden Crew K1 Crew K2 Crew K3 Crew K4 Crew K5 Aspek Bobot dan Rating Bobot Rating Nilai Produk WWL Skor Kategori 9,20 Tinggi 5,80 Sedang 6,60 Sedang 10,00 Tinggi 5,20 Sedang Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . Responden Crew K6 Crew K7 Crew D1 Crew D2 Crew D3 Crew D4 Crew U1 Crew U2 Crew U3 Aspek Bobot dan Rating Bobot Rating Nilai Produk WWL Skor Kategori 6,73 Sedang 8,33 Tinggi 7,00 Sedang 7,53 Sedang 2,80 Rendah 7,47 Sedang 5,00 Sedang 5,67 Sedang 9,20 Tinggi Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . Responden Crew U4 Crew U5 Crew U6 Crew U7 Crew P1 Crew P2 Crew P3 Aspek Bobot dan Rating Bobot Rating Nilai Produk WWL Skor Kategori 9,07 Tinggi 2,47 Rendah 9,33 Tinggi 5,67 Sedang 4,73 Rendah 8,73 Tinggi 8,80 Tinggi Contoh cara perhitungan beban kerja salah satu responden yaitu Crew U4 adalah sebagai berikut: Nilai Produk Nilai Produk = Bobot x rating KM = 4 X 10 = 40 KF = 2 X 10 = 20 KW = 2 X 9 = 18 PK = 2 X 5 = 10 = 3 X 10 = 30 TF = 2 X 9 = 18 WWL WWL = Oc Produk Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . = KM KF KW PK U TF = 40 20 18 10 30 18 = 136 Skor Skor ycOycOya = 15 = 9,07. Berdasarkan hasil diatas, total skor NASA-LX untuk responden dengan kode Crew U4 adalah 9. 2 Kategori Beban Kerja Responden Untuk memberikan gambaran mengenai sebaran tingkat beban kerja yang dirasakan setiap responden, berikut ini ditampilkan diagram lingkaran untuk menunjukkan proporsi kategori beban kerja rendah, sedang dan tinggi. Visualisasi data pada gambar 1, menggambarkan bahwa dari 21 responden, sebanyak 14% atau tiga orang berada dalam kategori rendah . , 48% atau sebanyak 10 responden termasuk kategori sedang, dan 38% atau delapan responden dalam kategori tinggi. Distribusi ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasakan beban kerja pada tingkat sedang dengan skor <80, disusul dengan beban kerja tingkat tinggi dan rendah di posisi paling sedikit. Rendah Tinggi . Sedang . Gambar 1. sebaran kategori beban kerja karyawan Tabel 4 berikut merinci jumlah responden dalam tiap kategori beban kerja untuk masing-masing bagian kerja. Distribusi beban kerja tiap bagian menunjukkan variasi yang berbeda. Kasir mayoritas berada pada kategori sedang, sedangkan beberapa lainnya mengalami beban kerja yang tinggi. Dapur sebagian besar berada pada kategori sedang dengan sedikit beban rendah. Bagian ulek memiliki sebaran yang lebih merata di semua kategori, menandakan variasi beban sedang hingga tinggi, sementara pramusaji didominasi beban kerja yang tinggi. Tabel 4. Perbandingan beban kerja tiap bagian Tingkat beban kerja Kasir Dapur Ulek Pramusaji Rendah Sedang Tinggi Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . 847-856 3 Perbandingan Dimensi NASA-TLX Untuk mengetahui dimensi beban kerja mana yang paling dominan dirasakan oleh karyawan, dilakukan analisis terhadap rata-rata nilai rating pada masing-masing dimensi NASA-TLX. Nilai dari perbandingan tiap dimensi diperoleh dari penjumlahan nilai rating yang diisi oleh responden, langkah perhitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh nilai rating pada masing-masing dimensi kemudian membaginya dengan nilai total dan dikali 100%. Berdasarkan gambar 2, terlihat bahwa kebutuhan fisik (KF) dan usaha (U) merupakan dua dimensi dengan persentase rata-rata tertinggi, yaitu masing-masing sebesar 18% dari total beban kerja. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum, karyawan paling banyak merasakan tuntutan fisik serta kebutuhan untuk mengerahkan usaha ekstra . isik dan menta. dalam menjalankan tugasnya. Persentase Gambar 2. Perbandingan dimensi NASA-TLX 4 Perbandingan dimensi antar bagian kerja Analisis pada bagian ini membandingkan rata-rata nilai setiap dimensi beban kerja NASA-TLX untuk masing-masing bagian kerja, yaitu : kasir, ulek, dapur dan pramusaji. Dilihat dari Gambar 3, pada bagian kasir, dimensi beban kerja tertinggi adalah kebutuhan mental dan usaha, masing-masing sebesar 18%. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan kasir menuntut konsentrasi tinggi dan usaha yang konsisten dalam memberikan layanan kepada pelnggan. Sementara itu, pada Gambar 4, bagian pramusaji memiliki dimensi dominan pada tingkat frustrasi sebesar 20%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pramusaji mengalami tekanan emosional yang cukup tinggi, disebabkan oleh intensitas interaksi langsung dengan pelanggan, multitasking, dan dinamika situasi Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kasir lebih terbebani secara mental dan kognitif, sedangkan pramusaji lebih terbebani secara emosional. Kasir Pramusaji Gambar 3. Dimensi NASA-TLX bagian kasir Gambar 4. Dimensi NASA-TLX bagian pramusaji Dilihat dari Gambar 5, pada bagian dapur, dimensi beban kerja yang paling dominan adalah kebutuhan fisik sebesar 21%, diikuti oleh kebutuhan mental dan usaha yang sama-sama bernilai 19%. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan di dapur menuntut aktivitas fisik yang tinggi, terutama karena Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . 847-856 proses memasak berlangsung lama dan dalam kondisi lingkungan yang panas. Selain itu, aspek mental dan usaha juga penting karena karyawan harus menyelesaikan pesanan dengan cepat dan tepat. Sementara itu, pada Gambar 6, bagian ulek memperlihatkan dimensi usaha sebagai beban utama dengan nilai 19%, disusul oleh kebutuhan fisik sebesar 18%. Meskipun terlihat sederhana, pekerjaan di bagian ini membutuhkan tenaga fisik dan usaha berulang, terutama saat mengulek sambal dalam jumlah besar dan memenuhi pesanan dalam waktu terbatas. Oleh karena itu, aspek usaha menjadi tekanan utama bagi karyawan di bagian ulek. Dapur Ulek Gambar 5. Dimensi NASA-TLX bagian dapur Gambar 6. Dimensi NASA-TLX bagian ulek 5 Perspektif responden mengenai beban kerja. Berdasarkan hasil analisis NASA-TLX dan wawancara, durasi kerja yang panjang . menjadi keluhan utama karyawan karena menyebabkan kelelahan fisik dan ketidakstabilan mental. Hal ini tercermin dari skor tertinggi pada dimensi kebutuan fisik dan usaha. Selain itu, penjadwalan yang kurang efektif, kondisi kerja yang terkadang kurang nyaman dan ketidakcocokan dengan rekan kerja juga turut memperburuk persepsi karyawan terhadap beban kerja. Dalam operasional restoran yang melayani pelanggan secara langsung, fluktuasi jumlah pelanggan meningkatkan tekanan kerja, terutama terkait kebutuhan waktu. Saat volume pelanggan tiba-tiba naik, karyawan harus menyelesaikan pesanan lebih cepat, yang sering memicu keluhan pelanggan akibat pelayanan yang kurang optimal. Kondisi ini menimbulkan stres dan tekanan emosional pada karyawan, tercermin dari skor tinggi pada dimensi tingkat frustrasi. Rekomendasi yang dapat diberikan antara lain: Penerapan sistem shift kerja Evaluasi dan penjadwalan kerja yang lebih baik Rotasi dan penyesuaian partner kerja Peningkatan fasilitas dan kondisi kerja Pelatihan Manajemen dan pendampingan Kesimpulan Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 21 responden di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar diketahui bahwa tingkat beban kerja karyawan tergolong sedang Ae tinggi dengan persentase 48%. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dijalankan memerlukan konsentrasi, tenaga, dan keterlibatan yang cukup besar, baik secara fisik maupun mental. Dalam pengukuran enam dimensi beban kerja, ditemukan bahwa dimensi kebutuhan fisik dan usaha merupakan dua faktor utama yag paling berkontribusi sebesar 18% terhadap beban kerja karyawan. Artinya, sebagian besar responden merasakan bahwa pekerjaan mereka menuntut aktivitas fisik yang tingi serta memerlukan upaya yang besar dalam menyelesaikan tugas secara efisien. Temuan ini menunjukkan bahwa beban kerja yang cukup berat terutama bersumber dari aspek fisik dan intensitas usaha yang harus dikeluarkan selama bekerja. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama dalam penataan sistem kerja, jadwal istirahat, dan pembagian tugas, agar kelelahan dapat diminimalkan dan kinerja tetap optimal. Jurnal Teknologika Volume 15. Issue 2 . Daftar Pustaka