CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 1 | Agustus . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Efektivitas Pelatihan Wordwall dalam Meningkatkan Kompetensi Digital Guru SD pada Pembelajaran IPAS Tiffany Shahnaz Rusli1. Kulyasin2. Ria Ristiani3. Abiut Jhon Smas4. Muhammad Akbar Mandala5. Suci Sugiana6 Kata Kunci: Wordwall. Kompetensi Digital Guru. Pembelajaran IPAS. Pelatihan. Sekolah Dasar. Keywords : Wordwall. Teacher Digital Competence. IPAS Learning. Training. Elementary School. Corespondensi Author Ilmu Pendidikan. Universitas Cenderawasih Email: tiffanyshahnaz@fkip. Article History Received: 10-05-2025. Reviewed: 22-06-2025. Accepted: 26-08-2025. Available Online: 25-08-2025. Published: 28-08-2025. Abstract. This community service program aimed to enhance the skills of elementary school teachers in utilizing interactive learning technology through training on the use of Wordwall at SDN Inpres Arso VI. Papua. The participants were purposively selected, consisting of teachers actively engaged in classroom teaching and directly involved in the learning process. The program was carried out through a participatory approach, beginning with program socialization, material delivery, hands-on practice with Wordwall, and concluding with joint evaluation. Data were collected through observation, pre- and post-test, as well as an analysis of the learning products created by the The results revealed that the training successfully improved teachers knowledge and skills in designing interactive media, strengthened their confidence in using technology, and enriched the variety of teaching methods applied in the classroom. Furthermore, teachers were able to integrate digital media into their lesson plans, making learning more engaging, interactive, and aligned with the demands of twenty-first century education. Thus, the Wordwall training has proven to make a positive contribution to the enhancement of teachers digital competence and the overall quality of elementary school learning. Abstrak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru sekolah dasar dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran interaktif melalui pelatihan penggunaan Wordwall di SDN Inpres Arso VI. Papua. Peserta kegiatan dipilih secara purposive, yaitu guru-guru yang aktif mengajar dan memiliki keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara partisipatif melalui beberapa tahapan, dimulai dari sosialisasi program, pemaparan materi, praktik penggunaan Wordwall, hingga evaluasi Data dikumpulkan melalui observasi, tes awal dan tes akhir, serta analisis terhadap produk Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 pembelajaran yang dihasilkan guru. Hasil kegiatan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam merancang media interaktif, menumbuhkan rasa percaya diri dalam penggunaan teknologi, serta memperkaya variasi metode pembelajaran. Selain itu, guru juga dapat mengintegrasikan media digital ke dalam modul ajar sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan abad Dengan demikian, pelatihan Wordwall terbukti memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kompetensi digital guru dan kualitas proses pembelajaran di sekolah dasar. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author langkah strategis untuk menjawab tantangan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dirancang untuk memberikan solusi nyata terhadap permasalahan rendahnya literasi digital guru di Papua. Rencana pemecahan masalah dilakukan melalui pelatihan intensif yang menggabungkan pemaparan konsep media pembelajaran interaktif, praktik langsung pembuatan media di Wordwall, serta simulasi pembelajaran di Dengan pendekatan ini, guru diharapkan tidak hanya memahami cara menggunakan Wordwall, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran IPAS secara efektif. Tujuan meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan relevan dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Hipotesis yang dikembangkan adalah bahwa pelatihan Wordwall akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan literasi digital dan kualitas pembelajaran IPAS di SDN Inpres Arso VI, yang pada akhirnya peningkatan hasil belajar siswa. Konteks sosial-budaya Papua menghadirkan tantangan nyata bagi dunia Banyak sekolah masih berada di wilayah dengan keterbatasan akses internet, pembelajaran menjadi hal yang relatif baru bagi para pendidik. Hasil penelitian terbaru infrastruktur digital di daerah 3T . erdepan, terluar, tertingga. merupakan faktor yang PENDAHULUAN Perkembangan era digital saat ini membawa perubahan signifikan pada dunia pendidikan, termasuk di tingkat sekolah Pendidik tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu mampu memanfaatkan teknologi secara efektif untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Banyak sekolah dasar di wilayah Papua, pemanfaatan teknologi pembelajaran masih relatif terbatas. Sebagian besar guru masih mengandalkan metode konvensional seperti ceramah dan penugasan tertulis yang seringkali membuat siswa kurang terlibat secara aktif. Rendahnya keterampilan literasi digital di kalangan guru menjadi salah satu hambatan utama, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) pendekatan interaktif agar konsep-konsep yang diajarkan lebih mudah dipahami siswa. Beberapa penelitian terdahulu, seperti yang disampaikan (Sugiarto et al. , 2. menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa secara Salah satu media yang relevan Wordwall, pembelajaran interaktif berbasis web yang permainan, dan aktivitas. Media ini memungkinkan guru menyusun bahan ajar yang menarik dengan waktu relatif singkat tanpa memerlukan keterampilan teknis yang Berdasarkan landasan teori tersebut, pelatihan penggunaan Wordwall menjadi Rusli, et al. Efektivitas Pelatihan Wordwall dalam Meningkatkan. mengambat transformasi pendidikan berbasis teknologi (Mohammad Destra Dwi Aranda. Namun demikian, perkembangan teknologi yang semakin merata membuka peluang untuk mengurangi kesenjangan tersebut melalui intervensi yang tepat sasaran. Pelatihan Wordwall dalam kegiatan PkM ini menjadi langkah solutif yang relevan, sebab penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa media pembelajaran interaktif dapat mendorong terciptanya suasana belajar yang lebih bermakna (Momdjian et al. , 2. Guru tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga diajak untuk mengubah pola pikir pembelajaran dari yang bersifat satu Hal ini penting, karena pendekatan kolaboratif terbukti mampu pemahaman konsep siswa (Dang et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar melatih guru mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memperkuat fondasi pedagogis untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, serta membantu mengaitkan materi IPAS dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dalam jangka panjang, inisiatif seperti ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Papua sekaligus mendukung pencapaian kompetensi abad 21, yang menekankan literasi digital, berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Integrasi teknologi dalam proses pembelajaran sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan pemanfaatan sumber belajar yang beragam. Penggunaan media pembelajaran interaktif seperti Wordwall dipilih karena kemudahan akses, ketersediaan template yang variatif, serta kemampuannya menyesuaikan dengan berbagai gaya belajar siswa. Menurut (Safitri et al. , 2. media interaktif berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan membantu guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih Wordwall media lain, memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan materi sesuai kebutuhan dan konteks lokal tanpa memerlukan keterampilan teknis yang Hal ini sejalan dengan pandangan (Ayu Wulandari & Wardhani, 2. yang menyebutkan bahwa pemilihan media yang tepat akan memperkuat pencapaian tujuan pembelajaran sekaligus mendorong kreativitas guru dalam mengemas materi. Diharapkan, setelah pelatihan ini guru tidak hanya menguasai aspek teknis penggunaan Wordwall tetapi juga mampu mengintegrasikannya dalam pembelajaran IPAS yang sesuai dengan karakteristik siswa di Papua. (Rosfaniarti et al. , 2. menegaskan bahwa keberhasilan penerapan media digital dalam pembelajaran sangat mengaitkan teknologi dengan pengalaman belajar siswa secara langsung. Oleh karena itu, kegiatan PkM ini diharapkan mampu menciptakan efek berkelanjutan, baik dalam peningkatan keterampilan guru maupun kualitas hasil belajar siswa. METODE Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pelatihan partisipatif pengalaman belajar langsung kepada peserta. Metode ini merujuk pada pendekatan keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahapan proses pelatihan (Liang et al. , 2. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam praktik langsung sehingga merefleksikan pengalaman belajar yang Dengan demikian, proses pelatihan menjadi lebih bermakna karena peserta keterampilan nyata yang dapat segera pembelajaran di kelas. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan guru terlibat secara aktif dalam setiap tahap pembelajaran, mulai pembuatan media pembelajaran secara Model pelatihan ini diyakini dapat meningkatkan keterampilan secara lebih efektif dibandingkan metode ceramah murni, penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik mampu Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 teknologi dalam dunia pendidikan (Yunika. Tahapan diawali dengan koordinasi bersama mitra, yaitu SDN Inpres Arso VI yang berlokasi di Kabpuaten Keerom. Papua. Koordinasi ini mencakup identifikasi kebutuhan pelatihan, penyusunan modul materi, dan penyiapan sarana pendukung seperti laptop, koneksi internet, serta LCD proyektor. Setelah persiapan selesai, kegiatan dibuka secara resmi oleh ketua tim, dilanjutkan dengan pembelajaran interaktif, konsep pembelajaran IPAS, dan urgensi literasi digital dalam pembelajaran abad 21. Proses pelatihan berlanjut dengan demonstrasi penggunaan platform Wordwall oleh fasilitator, mulai dari pembuatan akun Peserta masing-masing pendampingan penuh dari tim pelaksana. Selama praktik berlangsung, fasilitator melakukan intervensi bila diperlukan untuk memastikan setiap guru mampu menguasai langkah-langkah Wordwall secara mandiri. Peserta kegiatan terdiri dari 13 guru dari SDN Inpres Arso VI yang memiliki latar kemampuan literasi digital yang relatif Kondisi ini menjadi pertimbangan utama dalam merancang materi dan metode pelatihan agar dapat mengakomodasi perbedaan tingkat penguasaan teknologi di antara peserta. Evaluasi dilakukan secara kuantitatif melalui dua instrument utama. Pertama, pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil tes ini dianalisis menggunakan uji statistik sederhana untuk mengetahui adanya perbedaan signifikan secara ilmiah. Kedua, lembar observasi keterampilan yang digunakan untuk menilai sejauh mana peserta mampu membuat akun Wordwall, menghasilkan minimal satu media mengintegrasikannya ke dalam modul ajar. Target keberhasilan ditetapkan minimal 80% peserta mencapai seluruh indikator yang telah Melalui metode ini, kegiatan PkM diharapkan tidak hanya meningkatkan memanfaatkan media pembelajaran interaktif, tetapi juga mendorong perubahan paradigma mengajar yang lebih kreatif, kolaboratif, dan selaras dengan kebutuhan pembelajaran abad HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Wordwall yang dilaksanakan di SDN Inpres Arso VI. Kabupaten Keerom. Papua, berhasil mencapai tujuan yang telah direncanakan. Sebanyak 13 guru mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pretest, pemaparan materi, praktik langsung, hingga posttest. Pelatihan ini memfokuskan pada peningkatan keterampilan guru dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran IPAS, sekaligus memperkuat literasi Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan yang signifikan pada skor kemampuan peserta. Nilai rata-rata pretest sebesar 58,5 meningkat menjadi 79,0 pada posttest, menunjukkan kenaikan 20,5 poin atau sekitar 35%. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pemahaman konsep media pembelajaran interaktif dan keterampilan teknis dalam mengoperasikan Wordwall. Bahkan, beberapa guru yang awalnya belum pernah menggunakan platform ini mampu membuat minimal satu produk media pembelajaran siap pakai yang relevan dengan topik IPAS di kelas. Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik yang diterapkan memberikan dampak positif. Selama sesi praktik, peserta diberikan kesempatan untuk mengembangkan materi sesuai konteks lokal dan karakteristik siswa, misalnya membuat kuis interaktif tentang sumber daya alam Papua atau permainan pencocokan gambar untuk mengenalkan flora dan fauna khas daerah. Produk-produk yang dihasilkan memiliki spesifikasi berupa desain interaktif berbasis web, dapat diakses melalui perangkat laptop maupun gawai, serta dapat diintegrasikan dalam proses belajar mengajar secara daring maupun luring. Keunggulan Rusli, et al. Efektivitas Pelatihan Wordwall dalam Meningkatkan. Wordwall terletak pada fleksibilitas desain. Namun, kelemahannya adalah ketergantungan pada akses internet yang stabil, yang masih menjadi tantangan dibeberapa wilayah Papua. TIK Hal mengindikasikan bahwa model pelatihan berbasis praktik langsung, dikombinasikan dengan pendampingan intensif, merupakan strategi efektif untuk mengembangkan kompetensi digital pendidik di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi. Gambar 1: Suasana Pemaparan Materi Secara pelatihan dapat dilihat dari presentase ketercapaian indikator yang ditetapkan. Sebanyak 84,6% peserta . dari 13 gur. Wordwall, menghasilkan minimal satu media interaktif, dan mempresentasikan cara penggunaannya di kelas. Dua peserta lainnya belum sepenuhnya memenuhi indikator, terutama dalam hal integrasi media ke dalam modul ajar, yang kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan waktu latihan. Hasil ini sejalan dengan temuan (Hirzi & Malik Ibrahim, 2. yang menyatakan bahwa integrasi teknologi dalam keterlibatan dan hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian (NisaAo et al. , 2. menegaskan bahwa media pembelajaran yang interaktif mampu mendorong motivasi siswa karena memberikan pengalaman belajar yang lebih Dengan demikian, peningkatan keterampilan guru dalam memanfaatkan Wordwall melalui kegiatan ini tidak hanya memperkuat literasi digital, tetapi juga pembelajaran IPAS di SDN Inpres Arso VI. Jika dibandingkan dengan kegiatan PkM sejenis yang pernah dilakukan di daerah lain, misalnya pelatihan Canva untuk sekolah dasar di Kabupaten Sarmi (Larung et al. , pelatihan Wordwall ini menunjukkan hasil yang setara dalam hal peningkatan Grafik 1: Perbandingan Skor Pretest dan Posttest Peserta Pelatihan Wordwall Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kompetensi guru dalam menggunakan Wordwall. Rata-rata nilai posttest yang meningkat dibandingkan pretest menjadi bukti nyata bahwa pelatihan ini memberikan dampak positif pada pemahaman guru tentang literasi digital dan Temuan menguatkan pandangan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung jauh lebih efektif dibandingkan metode ceramah semata, karena memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen sekaligus mendapatkan umpan balik secara cepat (Sabon, 2. Selain peningkatan pengetahuan, luaran kegiatan berupa produk media pembelajaran interaktif yang dibuat guru juga menjadi pencapaian penting. Setiap guru minimal menghasilkan satu media berbasis Wordwall yang relevan dengan materi IPAS, seperti kuis tentang ekosistem Papua atau permainan interaktif mengenai sumber daya Produk ini menunjukkan bahwa Wordwall keterampilan guru, tetapi juga mampu memperkaya variasi pembelajaran di kelas. Menurut (Wulandari & Zuhroh, 2. keunggulan media interaktif berbasis web terletak pada fleksibilitas dan adaptabilitasnya Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 terhadap kebutuhan belajar siswa. Spesifikasi produk yang dihasilkan memiliki kelebihan berupa desain interaktif yang mudah diakses baik secara daring maupun luring. Guru dapat memanfaatkan perangkat gawai maupun laptop untuk menjalankan media ini, sehingga memperluas akses siswa terhadap pengalaman belajar yang Namun, kelemahan tetap ada, yaitu ketergantungan pada ketersediaan jaringan internet. Tantangan ini juga pernah diungkap oleh (Wahyudi et al. , 2. yang dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur Dari sisi ketercapaian target, sebanyak 84,6% peserta mampu memenuhi indikator Artinya, mayoritas guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengintegrasikannya dalam pembelajaran. Pencapaian ini konsisten dengan hasil penelitian (Murniarti et al. , 2. yang menekankan bahwa keberhasilan integrasi teknologi dalam pembelajaran berbanding lurus dengan dukungan pelatihan intensif. Menariknya, respon peserta menunjukkan perubahan mindset terhadap pembelajaran. Guru mulai melihat teknologi bukan sebagai beban tambahan, tetapi sebagai alat yang mendukung kreativitas dalam mengajar. Hal ini sejalan dengan pandangan (Zuhri et al. yang menyatakan bahwa literasi digital guru adalah kunci untuk menciptakan pembelajaran abad 21 yang kolaboratif dan berpusat pada siswa. Pelatihan ini tidak hanya memberikan peningkatan skor semata, melainkan juga mengubah cara pandang guru terhadap penggunaan teknologi dalam kelas. Pada awalnya, sebagian besar guru merasa ragu karena menganggap penggunaan Wordwall akan rumit dan menyita waktu. Namun, setelah melalui pendampingan yang bersifat praktis dan interaktif, justru merasakan kemudahan serta manfaat nyata dari platform Suasana kelas yang tercipta selama pelatihan pun penuh semangat, guru saling berbagi ide, berdiskusi tentang kemungkinan menghubungkan materi IPAS dengan konteks lokal Papua, seperti hutan, sungai, dan kekayaan sumber daya alam di sekitar. Gambar 2. Tim PkM Mendampingi Guru SDN Inpres Arso VI dalam Praktik Langsung Penggunaan Aplikasi Wordwall Kesan selama melakukan pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri guru. Hal ini tampak dari produk yang dihasilkan. Sebagian besar sudah mampu membuat kuis berbasis Wordwall yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu guru, misalnya, membuat permainan tentang AuJenis-jenis Tumbuhan PapuaAy kemudian direncanakan untuk digunakan dalam pembelajaran minggu berikutnya. Cerita kecil seperti ini menjadi bukti bahwa pelatihan tidak berhenti pada ruang kelas semata, melainkan berlanjut pada praktik rill yang berdampak langsung bagi siswa. Jika ditinjau lebih mendalam, keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana seperti Wordwall bisa menjadi pemantik perubahan dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian terbaru bahwa media berbasis permainan . motivasi siswa sekaligus mempermudah guru dalam menyampaikan materi yang abstrak (Ristiani et al. , 2. Dengan kata lain, penggunaan teknologi bukanlah tujuan akhir, pembelajaran yang lebih menyenangkan dan Selain itu, keterlibatan guru dalam proses pelatihan mencerminkan pentingnya Guru tidak hanya belajar dari instruktur, tetapi juga dari pengalaman rekan Proses saling mengajari ini membuat menciptakan rasa kebersamaan. Inilah yang kemudian memperkuat keyakinan bahwa pengembangan kompetensi guru bukan hanya persoalan individu, tetapi juga bagian dari kerja kolektif yang akan memperkuat mutu Rusli, et al. Efektivitas Pelatihan Wordwall dalam Meningkatkan. pendidikan di sekolah. Seperti yang diungkap (Rusli et al. , 2. kolaborasi antar guru merupakan salah satu modal sosial terpenting dalam menghadirkan pembelajaran inovatif di daerah 3T. Dari sisi saintifik, peningkatan skor posttest yang rata-rata mencapai 79,0 memperlihatkan tren positif yang signifikan dibandingkan skor pretest sebesar 58,05. Lonjakan ini tidak hanya menandakan adanya peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi indikator adanya perubahan pola pikir. Menurut (Sujendra Diputra et al. , 2. perubahan pola pikir adalah faktor krusial yang memastikan keberlanjutan pemanfaatan teknologi dalam jangka panjang. Tanpa adanya perubahan mindset, peningkatan keterampilan hanya akan bersifat sementara. Dengan demikian, hasil kegiatan ini menegaskan bahwa pelatihan Wordwall berhasil mencapai tujuan, baik dalam meningkatkan keterampilan teknis guru, membangun kepercayaan diri, maupun mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa Papua. Temuan ini menguatkan argumen bahwa pemberdayaan guru melalui pelatihan berbasis praktik langsung adalah salah satu strategi paling efektif untuk menjembatani kesenjangan mutu pendidikan di Indonesia bagian timur. dalam mengembangkan media pembelajaran interaktif, khususnya pada mata pelajaran IPAS. Hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan digital guru, yang tercermin permainan, serta aktivitas pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Antusiasme peserta selama pelatihan juga menunjukkan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 di sekolah dasar. Sebagai tindak lanjut, disarankan agar kegiatan serupa dapat diperluas dengan pendampingan berkelanjutan, sehingga guru tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga mampu mengintegrasikan Wordwall ke dalam modul ajar dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Selain itu, pelatihan sebaiknya melibatkan lebih banyak sekolah dasar di wilayah Papua agar dampak positifnya semakin meluas. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pendidikan juga penting untuk memastikan keberlanjutan program dan pemerataan akses literasi digital di sekolahsekolah. UCAPAN TERIMA KASIH