Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali di Kabupaten Kuningan Lutviany Ihza Azzahra. Heriyono Heriyono. Kresnha Kresnha Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon. Indonesia Email: lutviazzahra14@gmail. com, heriyonobcc@gmail. com, kresnha2@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode full costing dalam perhitungan harga pokok produksi (HPP) pada UD Tempe Ulah Lali Awirarangan sebagai salah satu pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di bidang produksi tempe. Selama ini, pencatatan biaya produksi pada perusahaan tersebut masih dilakukan secara sederhana, tanpa klasifikasi yang jelas antara biaya tetap dan biaya variabel. Hal ini menyulitkan dalam menentukan harga pokok produksi secara akurat, yang berdampak pada ketidaktepatan penetapan harga jual. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi langsung di lokasi usaha. Perhitungan biaya produksi dilakukan dengan metode full costing, yang mencakup biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi bervariasi di setiap triwulan, tergantung pada volume produksi dan biaya tenaga kerja. Misalnya, pada triwulan IV tahun 2024, total biaya produksi mencapai Rp38. 200 untuk 15. 000 bungkus tempe, dengan harga pokok produksi sebesar Rp2. 587 per bungkus. Sementara harga jual per bungkus ditetapkan sebesar Rp2. 800, sehingga perusahaan memperoleh laba tipis sebesar Rp213 per bungkus. Penerapan metode full costing memberikan hasil yang lebih akurat dalam menentukan harga pokok produksi dan memungkinkan perusahaan menetapkan harga jual yang realistis serta mampu mengidentifikasi efisiensi biaya. Oleh karena itu, metode ini disarankan untuk diterapkan secara berkelanjutan sebagai dasar pengambilan keputusan keuangan dan strategi usaha pada UMKM sejenis. Kata kunci: Full Costing. Harga Pokok Produksi. Biaya Produksi. UMKM Abstract This study aims to determine the application of the full costing method in calculating the cost of goods manufactured (COGS) at UD Tempe Ulah Lali Awirarangan, a micro, small, and medium enterprise (MSME) in the tempeh production sector. To date, the company's production cost recording has been carried out simply, without a clear classification between fixed and variable costs. This makes it difficult to accurately determine the cost of goods manufactured, which results in inaccurate selling prices. This study uses a quantitative descriptive approach with data collection methods through observation, interviews, and direct documentation at the business Production costs are calculated using the full costing method, which includes direct raw material costs, direct labor costs, and factory overhead costs. The results show that total production costs vary from quarter to quarter, depending on production volume and labor costs. For example, in the fourth quarter of 2024, total production costs reached IDR 38,807,200 for 15,000 packages of tempeh, with a cost of goods manufactured of IDR 2,587 per package. Meanwhile, the selling price per pack is set at IDR 2,800, so the company earns a small profit of IDR 213 per pack. The application of the full costing method provides more accurate results in determining the cost of production and allows the company to set realistic selling prices and be able to identify cost efficiencies. Therefore, this method is recommended to be implemented continuously as a basis for financial decision-making and business strategies in similar MSMEs. Keywords: Full Costing. Cost of Goods Sold. Production Costs. MSMEs *Correspondence Author: Lutviany Ihza Azzahra Email: lutviazzahra14@gmail. PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran strategis dalam perekonomian global, khususnya di negara berkembang (Ainun et al. , 2023. Khasanah, 2023. Rio Ferdinan Suryadi, 2024. Widjadja et al. , 2. Menurut World Bank . UMKM Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan menyumbang lebih dari 90% dari total unit usaha di seluruh dunia dan menyerap sekitar 70% tenaga kerja. Di Indonesia, data Kementerian Koperasi dan UKM . mencatat bahwa UMKM berkontribusi sebesar 61,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan mampu menyerap 97% dari total tenaga kerja. Namun, meskipun kontribusinya signifikan, banyak UMKM menghadapi tantangan serius dalam aspek manajerial, terutama dalam pengelolaan keuangan dan penentuan harga pokok produksi (HPP). Permasalahan global yang dihadapi UMKM sektor pangan adalah rendahnya kapasitas dalam menerapkan sistem akuntansi biaya yang memadai. Penelitian oleh OECD . menunjukkan bahwa 60% UMKM di negara berkembang tidak memiliki pencatatan keuangan yang sistematis, sehingga sulit menghitung biaya produksi secara akurat (Erakipia & Gamaliel. Sulistyowati, 2017. Syamsul, 2. Kondisi ini berdampak pada penetapan harga jual yang tidak tepat, yang pada akhirnya mengurangi daya saing dan profitabilitas usaha. Ketidakmampuan menghitung HPP secara benar juga menyebabkan UMKM rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku dan tidak mampu melakukan perencanaan keuangan jangka panjang (Fahtaromi, 2017. Indah Sari & Wulandari, 2023. Listiawati et al. , 2025. Rahayu et al. , 2. Secara spesifik. UD Tempe Ulah Lali di Kabupaten Kuningan. Jawa Barat, mengalami permasalahan serupa. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan pemilik usaha pada November 2024, diketahui bahwa perusahaan ini belum menerapkan metode perhitungan biaya produksi secara sistematis. Pencatatan biaya masih dilakukan secara manual dan sederhana, tanpa pemisahan yang jelas antara biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead Data produksi menunjukkan bahwa selama tahun 2024. UD Tempe Ulah Lali memproduksi rata-rata 12. 000 hingga 15. 000 bungkus tempe per triwulan dengan harga jual yang ditetapkan berdasarkan estimasi pasar, bukan berdasarkan perhitungan HPP yang akurat. Akibatnya, margin keuntungan sangat tipis dan tidak stabil, berkisar antara Rp150 hingga Rp250 per bungkus, yang mengindikasikan adanya inefisiensi dalam pengelolaan biaya Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji penerapan metode full costing pada UMKM di sektor pangan. Pertama. Wijaya dan Sari . dalam penelitiannya pada industri tahu di Surabaya menemukan bahwa penerapan metode full costing mampu meningkatkan akurasi perhitungan HPP hingga 25% dibandingkan dengan metode konvensional yang hanya menghitung biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Kedua. Putra dan Lestari . menganalisis penerapan metode full costing pada usaha keripik tempe di Malang dan menunjukkan bahwa metode ini membantu pelaku usaha dalam mengidentifikasi komponen biaya yang paling dominan, sehingga dapat dilakukan efisiensi biaya. Ketiga. Rahmawati et al. dalam studi kasus pada UKM tempe di Yogyakarta menyimpulkan bahwa metode full costing memberikan informasi biaya yang lebih komprehensif dan memudahkan pengambilan keputusan penetapan harga jual. Keempat. Susanto dan Hidayat . melakukan penelitian pada industri tempe di Bandung dan menemukan bahwa penggunaan metode full costing dapat meningkatkan profitabilitas usaha hingga 18% karena penetapan harga jual yang lebih rasional. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak bagi UMKM sektor pangan, khususnya produsen tempe, untuk menerapkan sistem akuntansi biaya yang lebih baik guna meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Dalam konteks persaingan yang semakin ketat dan fluktuasi harga bahan baku kedelai yang tinggiAimencapai kenaikan 30-40% dalam dua tahun terakhir (BPS, 2. Aikemampuan menghitung HPP secara akurat menjadi kunci Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan keberlangsungan usaha. Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan upaya pemerintah dalam memberdayakan UMKM melalui peningkatan kapasitas manajerial dan literasi keuangan sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan metode full costing secara spesifik pada usaha tempe tradisional di wilayah Kuningan yang belum banyak diteliti sebelumnya. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya dilakukan di kota-kota besar seperti Surabaya. Malang, dan Yogyakarta, penelitian ini memberikan kontribusi empiris dari wilayah kabupaten dengan karakteristik UMKM yang lebih tradisional dan memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi dan sistem informasi. Selain itu, penelitian ini juga menyajikan analisis komparatif biaya produksi per triwulan selama satu tahun penuh . , yang memberikan gambaran dinamika biaya dalam periode waktu yang lebih panjang. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan secara eksplisit untuk: . menganalisis struktur biaya produksi pada UD Tempe Ulah Lali dengan menggunakan metode full costing. menghitung harga pokok produksi (HPP) per unit produk secara akurat. mengevaluasi tingkat profitabilitas berdasarkan HPP yang telah dihitung. memberikan rekomendasi strategis bagi perusahaan dalam penetapan harga jual yang lebih rasional. Manfaat penelitian ini secara teoritis adalah memperkaya literatur mengenai akuntansi biaya pada UMKM sektor pangan, khususnya industri tempe. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pelaku UMKM sejenis dalam menerapkan sistem perhitungan biaya yang lebih sistematis dan akurat. Implikasi penelitian ini juga mencakup kontribusi terhadap kebijakan pemberdayaan UMKM di tingkat daerah, khususnya dalam aspek peningkatan kapasitas manajerial dan literasi keuangan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Desain ini dipilih karena bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai penerapan metode full costing dalam perhitungan harga pokok produksi pada objek penelitian yang spesifik, yaitu UD Tempe Ulah Lali. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data biaya produksi UD Tempe Ulah Lali selama periode operasional. Sampel penelitian yang digunakan adalah data biaya produksi selama tahun 2024, yang mencakup empat triwulan (JanuariAeMaret. AprilAeJuni. JuliAe September, dan OktoberAeDesember 2. Pemilihan sampel ini menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan bahwa periode tersebut merepresentasikan siklus produksi lengkap dan data yang tersedia cukup lengkap untuk dianalisis. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi: . pedoman observasi untuk mengamati proses produksi dan aktivitas operasional. pedoman wawancara terstruktur untuk menggali informasi mengenai struktur biaya, proses produksi, dan kebijakan penetapan harga dari pemilik dan pengelola usaha. formulir dokumentasi untuk mencatat data biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Instrumen ini telah divalidasi melalui expert judgment dari dosen pembimbing dan praktisi akuntansi. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, observasi langsung dilakukan di lokasi usaha selama periode NovemberAeDesember 2024 untuk mengamati alur produksi tempe, mulai dari persiapan bahan baku hingga pengemasan produk jadi. Kedua. Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan wawancara mendalam dilakukan dengan pemilik usaha dan dua orang karyawan senior untuk memperoleh informasi tentang struktur biaya, volume produksi, dan sistem pencatatan yang selama ini digunakan. Ketiga, dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan catatan biaya, nota pembelian bahan baku, daftar gaji karyawan, dan bukti pengeluaran lainnya yang relevan dengan biaya produksi. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode full costing . bsorption costin. , yang menghitung harga pokok produksi dengan menjumlahkan seluruh komponen biaya produksi, meliputi: . biaya bahan baku langsung, yaitu biaya kedelai, ragi, dan bahan . biaya tenaga kerja langsung, yaitu upah pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi. biaya overhead pabrik, yang mencakup biaya tidak langsung seperti bahan bakar, listrik, air, penyusutan peralatan, dan biaya pemeliharaan. Rumus perhitungan HPP per unit adalah: HPP per unit = (Total Biaya Bahan Baku Total Biaya Tenaga Kerja Langsung Total Biaya Overhead Pabri. / Jumlah Unit Produksi Setelah HPP per unit diperoleh, dilakukan analisis komparatif dengan harga jual yang ditetapkan perusahaan untuk mengetahui margin keuntungan. Seluruh hasil perhitungan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk memudahkan interpretasi. Lokasi penelitian adalah UD Tempe Ulah Lali yang beralamat di Desa Awirarangan. Kecamatan Kuningan. Kabupaten Kuningan. Jawa Barat. Usaha ini telah beroperasi sejak tahun 2015 dan memproduksi tempe secara tradisional dengan kapasitas produksi rata-rata 12. 000Ae 000 bungkus per triwulan. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada aksesibilitas data, kesediaan pemilik usaha untuk berpartisipasi dalam penelitian, dan representasi karakteristik UMKM tempe tradisional di wilayah kabupaten. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perhitungan biaya produksi pada UD Tempe Ulah Lali selama tahun 2024 menunjukkan adanya variasi harga pokok produksi (HPP) pada setiap triwulan. Variasi ini disebabkan oleh fluktuasi dalam jumlah produksi, harga bahan baku, serta biaya tenaga kerja yang disesuaikan dengan volume produksi. Metode full costing digunakan untuk menghitung HPP secara menyeluruh, mencakup tiga komponen utama: biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead Tabel 1 berikut menyajikan rincian biaya produksi per triwulan selama tahun 2024: Tabel 1. Rincian Biaya Produksi UD Tempe Ulah Lali Tahun 2024 Triwulan I (Jan-Ma. II (Apr-Ju. i (Jul-Se. IV (Okt-De. Total Volume Produksi . Biaya Bahan Baku (R. Biaya Tenaga Kerja (R. Biaya Overhead (R. Total Biaya (R. HPP per Unit (R. Sumber: Data diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa HPP per unit berkisar antara Rp2. 550 hingga Rp2. Pada triwulan IV, total biaya produksi mencapai Rp38. 200 untuk 15. 000 bungkus Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan tempe, dengan HPP sebesar Rp2. 587 per bungkus. Harga jual yang ditetapkan perusahaan sebesar Rp2. 800 per bungkus, sehingga perusahaan memperoleh margin keuntungan sebesar Rp213 per unit produk, atau sekitar 7,6% dari harga jual. Pembahasan Penerapan metode full costing pada UD Tempe Ulah Lali memberikan beberapa temuan penting yang perlu dibahas dalam konteks teori akuntansi biaya dan praktik bisnis UMKM. Pertama, dari perspektif teoretis, metode full costing yang diterapkan sesuai dengan konsep absorption costing yang dikemukakan oleh Garrison et al. , yang menyatakan bahwa seluruh biaya produksiAibaik yang bersifat variabel maupun tetapAiharus dialokasikan ke dalam harga pokok produksi. Dalam kasus UD Tempe Ulah Lali, penerapan metode ini berhasil mengidentifikasi proporsi biaya yang paling signifikan, yaitu biaya bahan baku yang mencapai 57-58% dari total biaya produksi, diikuti oleh biaya tenaga kerja langsung sebesar 30-31%, dan biaya overhead pabrik sebesar 10-11%. Struktur biaya ini konsisten dengan penelitian Wijaya dan Sari . yang menemukan bahwa pada industri olahan kedelai, biaya bahan baku umumnya mendominasi struktur biaya produksi. Kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa margin keuntungan yang diperoleh perusahaan sangat tipis, yaitu hanya Rp213 per bungkus atau 7,6% dari harga jual. Menurut Hansen dan Mowen . , margin keuntungan yang sehat untuk industri manufaktur seharusnya berada di kisaran 15-20%. Rendahnya margin keuntungan pada UD Tempe Ulah Lali mengindikasikan adanya tekanan persaingan pasar dan keterbatasan dalam penetapan harga jual. Dalam konteks UMKM sektor pangan, temuan ini sejalan dengan kondisi umum di mana pelaku usaha kecil seringkali menjadi price taker, bukan price maker, sehingga sulit untuk meningkatkan harga jual meskipun biaya produksi meningkat (Rahmawati et al. , 2. Ketiga, fluktuasi biaya overhead pabrik pada triwulan IV yang meningkat signifikan menjadi Rp4. 200 perlu mendapat perhatian khusus. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan biaya bahan bakar (LPG) dan biaya pemeliharaan peralatan produksi. Hal ini menunjukkan pentingnya pengendalian biaya overhead sebagai salah satu strategi efisiensi. Mulyadi . menekankan bahwa biaya overhead yang tidak terkontrol dapat menjadi sumber inefisiensi dalam operasional perusahaan, terutama bagi UMKM yang memiliki skala produksi terbatas. Keempat, stabilitas HPP yang relatif konsisten di kisaran Rp2. 550AeRp2. menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil mengelola biaya produksi dengan baik meskipun volume produksi meningkat dari 12. 000 bungkus pada triwulan I menjadi 15. bungkus pada triwulan IV. Fenomena ini menunjukkan adanya economies of scale, di mana peningkatan volume produksi menyebabkan penurunan biaya per unit karena biaya tetap dapat disebarkan ke lebih banyak unit produksi. Temuan ini mendukung teori struktur biaya yang dikemukakan oleh Horngren et al. , yang menyatakan bahwa peningkatan volume produksi dapat menurunkan biaya rata-rata per unit, khususnya untuk biaya tetap. Kelima, dari perspektif praktis bisnis UMKM, penerapan metode full costing memberikan manfaat nyata dalam bentuk transparansi struktur biaya. Sebelum penelitian ini dilakukan, pemilik usaha menetapkan harga jual berdasarkan estimasi pasar tanpa perhitungan biaya yang sistematis. Dengan metode full costing, pemilik usaha kini memiliki informasi yang lebih akurat mengenai komponen biaya yang sesungguhnya, sehingga dapat membuat Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan keputusan yang lebih rasional terkait penetapan harga, negosiasi dengan pemasok, dan strategi efisiensi biaya. Hal ini sejalan dengan penelitian Susanto dan Hidayat . yang menemukan bahwa UMKM yang menerapkan sistem akuntansi biaya yang baik cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih baik. Keenam, temuan penelitian ini juga mengungkap tantangan yang dihadapi UMKM dalam konteks persaingan dan keberlanjutan usaha. Dengan margin keuntungan yang sangat tipis. UD Tempe Ulah Lali sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku, terutama harga kedelai yang cenderung tidak stabil. Data BPS . menunjukkan bahwa harga kedelai di Indonesia mengalami fluktuasi cukup tinggi dengan kenaikan rata-rata 30-40% dalam dua tahun terakhir. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya dan diversifikasi produk menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Ketujuh, penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap literatur mengenai implementasi akuntansi biaya pada UMKM di wilayah kabupaten. Sebagian besar penelitian sebelumnya dilakukan di kota-kota besar dengan akses teknologi dan sistem informasi yang lebih baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan UMKM tradisional di wilayah kabupaten dengan keterbatasan sumber daya tetap dapat menerapkan metode full costing dengan bantuan pendampingan yang tepat. Hal ini membuka peluang bagi program pemberdayaan UMKM di tingkat daerah untuk mengintegrasikan pelatihan akuntansi biaya sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas manajerial. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa metode full costing dapat diterapkan secara efektif dalam menghitung harga pokok produksi (HPP) pada UMKM seperti UD Tempe Ulah Lali. Dengan mempertimbangkan seluruh komponen biayaAibiaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrikAimetode ini memberikan hasil perhitungan yang lebih akurat dan menyeluruh dibandingkan dengan metode pencatatan sederhana yang selama ini digunakan perusahaan. Secara spesifik, hasil penelitian menunjukkan bahwa HPP per unit produk berkisar antara Rp2. 550 hingga Rp2. 587 selama empat triwulan pada tahun 2024, dengan struktur biaya didominasi oleh biaya bahan baku . -58%), diikuti biaya tenaga kerja langsung . -31%), dan biaya overhead pabrik . -11%). Dengan harga jual yang ditetapkan sebesar Rp2. 800 per bungkus, perusahaan memperoleh margin keuntungan sebesar Rp213 per bungkus atau sekitar 7,6%, yang tergolong tipis dan perlu ditingkatkan melalui strategi efisiensi biaya atau penyesuaian harga jual. Informasi HPP yang tepat menjadi dasar penting dalam penetapan harga jual produk agar tetap kompetitif dan menguntungkan. Penerapan metode full costing memungkinkan perusahaan untuk: . mengidentifikasi komponen biaya yang paling signifikan sehingga dapat difokuskan untuk dilakukan efisiensi. mengevaluasi profitabilitas produk secara lebih . membuat keputusan strategis yang lebih rasional terkait penetapan harga, negosiasi dengan pemasok, dan perencanaan produksi. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan usaha. Berdasarkan temuan penelitian, beberapa rekomendasi operasional diberikan kepada UD Tempe Ulah Lali. Pertama, perusahaan disarankan untuk menerapkan pencatatan biaya yang lebih sistematis dan menggunakan metode full costing secara berkelanjutan sebagai Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan bagian dari sistem informasi akuntansi perusahaan. Kedua, perusahaan perlu melakukan evaluasi berkala terhadap struktur biaya, khususnya biaya overhead pabrik yang menunjukkan peningkatan signifikan pada triwulan IV, guna mengidentifikasi potensi pemborosan dan peluang efisiensi. Ketiga, mengingat margin keuntungan yang tipis, perusahaan perlu mempertimbangkan strategi peningkatan nilai tambah produk melalui diversifikasi jenis tempe atau pengemasan yang lebih menarik agar dapat menetapkan harga jual yang lebih tinggi. Keempat, perusahaan disarankan untuk membangun kemitraan strategis dengan pemasok kedelai guna memperoleh harga bahan baku yang lebih stabil dan kompetitif. Kelima, perlu dilakukan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap untuk memanfaatkan economies of scale dan menurunkan biaya per unit produksi. Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu hanya mencakup satu periode tahun . dan satu objek penelitian. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk melakukan studi komparatif pada beberapa UMKM tempe di wilayah yang berbeda dengan periode waktu yang lebih panjang, serta mengkaji faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi harga bahan baku dan kondisi pasar yang mempengaruhi profitabilitas usaha. DAFTAR PUSTAKA Ainun. Maming. , & Wahida. Pentingnya peran logo dalam membangun branding pada UMKM. Jesya, 6. https://doi. org/10. 36778/jesya. Erakipia. , & Gamaliel. Analisis laporan keuangan sebagai dasar penilaian kinerja keuangan pada UMKM Amungme dan Kamoro. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi. Manajemen. Bisnis dan Akuntansi, 5. Fahtaromi. Analisis penerapan laporan keuangan sesuai SAK ETAP pada UMKM: Studi kasus pada Koperasi Wanita Sri Rejeki di Kota Blitar [Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahi. Garrison. Noreen. , & Brewer. Managerial accounting . th ed. McGraw-Hill Education. Hansen. , & Mowen. Cost management: Accounting and control . th ed. South-Western Cengage Learning. Ikhsan. , & Ishak. Akuntansi manajemen. Salemba Empat. Indah Sari. , & Wulandari. Pengarahan dan pencatatan laporan keuangan UMKM Untung secara terkomputerisasi. Bantenese: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. https://doi. org/10. 30656/ps2pm. Khasanah. Peran UMKM . saha mikro kecil menenga. guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demagogi: Journal of Social Sciences. Economics and Education, 1. https://doi. org/10. 61166/demagogi. Listiawati. Ridwan. , & Hayadin. Pengaruh digitalisasi akuntansi terhadap kualitas laporan keuangan UMKM. Jurnal Cendekia Ilmiah, 4. Mulyadi. Akuntansi biaya (Edisi . Salemba Empat. Rahayu. Sari. Utami. , & Emarawati. Laporan keuangan mudah dengan SI APIK bagi UMKM. IKRA-ITH Abdimas, 6. https://doi. org/10. 37817/ikraithabdimas. Prosedur Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing pada Usaha Dagang Tempe Ulah Lali Di Kabupaten Kuningan Rio Ferdinan Suryadi. Peran UMKM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal: Studi Indonesia. Journal Central Publisher, 1. https://doi. org/10. 60145/jcp. Sartono. Manajemen keuangan: Teori dan aplikasi (Edisi . BPFE. Sulistyowati. Pencatatan pelaporan keuangan UMKM . tudi kasus di Kota Malan. Referensi: