Efektivitas Penggunaan Herbisida Paraquat Dan Atrazin Terhadap Gulma Pada Jarak Tanam Jagung (Zea mays L. ) Yang Berbeda Nuzul Akram. Baidhawi. Rosnina Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh. Jl. Cot Teungku Nie. Aceh Utara. Aceh. Indonesia E-mail : nuzulakram. sp@gmail. ABSTRAK This study aims to compare the active compound of Paraquat and Atrazine herbicides applied for weed controlling between plant spacing of corn. The research was conducted in Paya Beunyot Village. Banda Baro Regency North Aceh from July to September 2019, and continued with Samples analysis at the Agroecotechnology Laboratory. Faculty of Agriculture. Universitas Malikussaleh. The experimental design used was a factorial randomized block design. type of paraquat with a concentration of 1. 38 kg/ha, atrazine concentration 1. kg/ha and the second factor were plant spacing (P): P1= plant spacing of 50x30 cm. P2= plant spacing of 60x25 cm. P3= plant spacing of 75x20 cm. The results showed that herbicide applied had a very significant effect on weed wet weight, dry weight, percentage of weeds under control and phytotoxicity of weeds. The results showed the interspace of the plant gave a very significant increase in seeds weight either per plant and per plot. The result of variance analysis showed there was no interaction between herbicides utilize and planting distance in all observed Keywords. Corn (Zea mays L. ), herbicide, plant spacing PENDAHULUAN Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh dan berkembang pada tempat dan waktu yang tidak dikehendaki pada kegiatan budidaya Sebagian besar gulma berkembangbiak dan melalui biji sehingga biji gulma mudah tercampur dengan komoditas pertanian seperti padi, gandum, kedelai, jagung, sorghum, kacangkacangan, benih sayuran, benih sayuran buah dan lain sebagainya. Selain itu biji gulma dapat pula terbawa oleh media pembawa lain antara lain alat angkut, alat pertanian, alat-alat berat dan lain-lain yang Berdasarkan termasuk organisme pengganggu tumbuhan yang perlu dicegah pemasukan dan penyebarannya. Hal ini dikarenakan sebagian besar gulma menempati habitat yang sama dengan . dalam komoditas pertanian menjadi sangat besar (BKPKP. Menurut Mustajab et al. , herbisida atrazin dengan dosis 1,2 Ae 2,4 kg/ha mampu mengendalikan gulma total hingga 6 minggu setelah aplikasi (MSA) lalu 1,2Ae2,4 kg/ha mengendalikan gulma golongan daun lebar dan gulma golongan rumput hingga 6 Minggu Setelah Aplikasi. Sedangkan herbisida atrazin dosis 1,2Ae2,4 kg/ha tidak meracuni tanaman jagung. Menurut Adnan et al. , . bahwa pada pengamatan 14 Hari Setelah Aplikasi perlakuan herbisida paraquat pada dosis 0,75, 1,50 dan 2,25 kg/ha mampu mengendalikan gulma sebesar 100 %. Hasil penelitian Rahajeng et , . menunjukkan bahwa dengan jarak tanam 75x20 cm mampu menurunkan populasi gulma jika dibandingkan dengan perlakuan Penggunaan jarak tanam 60x25 cm lebih efektif dalam meningkatkan hasil biji ton/ha jika dibandingkan dengan penggunaan jarak tanam 50x30 cm dan jarak tanam 75x20 cm. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan 2 tahap, tahap pertama dilaksanakan di Desa Paya Beunyot Kecamatan Banda Baro Kabupaten Aceh Utara dan tahap kedua dilaksanakan di Laboratorium Agroekoteknologi. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh. Pelaksanaan Penelitian dimulai dari bulan Juli sampai September 2018. Bahan yang digunakan adalah benih jagung varietas hibrida nasional BISI 228, pupuk dasar yang digunakan Urea . % N). SP-18 . % P2O. KCl ( 50 % K2O), herbisida identifikasi gulma, amplop, kantong plastik dan alat tulis menulis. Sedangkan alat yang digunakan berupa petak kuadrat ukuran 0,5x0,5 m, cangkul, parang, penyemprot punggung, timbangan analitik dan Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, dengan dua faktor yang diteliti yaitu herbisida (H) yang terdiri dari dua taraf dan jarak tanam (J) yang terdiri dari tiga taraf. Adapun faktor percobaan yang diteliti adalah sebagai berikut: 1. Faktor Jenis Herbisida (H). H1 = Herbisida konsentrasi 1,38 kg/ha . ,8 g/plo. H2 = Herbisida atrazin dengan konsentrasi 1,2 kg/ha . 72 g/plo. Faktor jarak tanam (J). J1= 50x30 cm. J2= 60x25 cm. J3= 75x20 cm. Dengan demikian terdapat kombinasi perlakuan dengan masingmasing perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan sehingga secara keseluruahannya terdapat 18 unit Petak berukuran 3x2 m dengan luasan efektif seluruh satuan percobaan 90 HASIL DAN PEMBAHASAN Summed Dominance Ratio (SDR) Gulma Awal Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada areal budidaya tanaman jagung jumlah nilai summed dominance ratio gulma awal tertera pada Tabel 1. Tabel 1. Summed Dominance Ratio Gulma Awal Nama Gulma Daun Lebar Amranthus spinosus Chromolaena odorata Cloeme rutidospermae Euphorbia hirta Rumput Andropogon aciculata Total Berdasarkan data Tabel 2 diketahui bahwa gulma dominan percontohan saat aplikasi adalah gulma Andropogon aciculata yang merupakan gulma golongan rumput, kemudian diikuti Euphorbia hirta. Amranthus Cloeme rutidospermae dan Chromolaena odorata yang merupakan gulma golongan daun lebar. Nilai didapatkan pada areal budidaya tanaman jagung adalah gulma jenis Andropogon aciculata . 25%). Pada areal ini gulma yang dominan dari famili Poaceae, famili Poaceae ini banyak ditemukan diseluruh areal budidaya tanaman jagung karena mempunyai kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi pada jenis tanaman berkembangbiak dengan biji dan Andropogon aciculata dapat tumbuh dalam kondisi yang ekstrim karena termasuk gulma ganas. Akibat gulma tersebut menguasai ruang tempat tumbuh dan unggul dalam bersaing dengan tanaman pokok. Hal ini sesuai dengan Holm et al. , . yang menyatakan bahwa famili ini termasuk gulma yang mempunyai daya adaptasi tinggi dan akar rimpang yang kuat, serta dapat SDR (%) Urutan Dominasi berkembangbiak dengan biji dan Banyak mempengaruhi jenis dan keragaman gulma suatu lahan diantaranya jenis tanah, kultur teknis, dan ketinggian Sembodo . menyatakan bahwa kerapatan gulma yang tumbuh pada lahan pertanian bervariasi menurut musim, pada saat musim hujan persediaan air cukup sehingga populasi gulma meningkat. Gulma berinteraksi dengan faktor tumbuh yang terbatas seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan bergantung pada curah hujan, kondisi tanah, kerapatan gulma, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman budidaya saat gulma mulai bersaing (Jatmiko et al. , 2. Karakteristik Gulma Bobot Basah Gulma Hasil uji F gulma Adropogon aciculata menunjukkan perlakuan masing-masing berpengaruh nyata terhadap bobot basah gulma. Bobot basah terendah gulma Adropogon aciculata pada aplikasi herbisida 2 minggu setelah aplikasi (MSA) terdapat pada penggunaan paraquat dengan bobot 02 g. Sedangkan pada jarak tanam pada masa yang sama terhadap Adropogon memperlihatkan hasil yang tidak berbeda nyata. Hal yang sama dikemukakan Adnan et al. , . bahwa herbisida parakuat diklorida dengan dosis 1. g/ha mampu menekan bobot basah gulma total pada 2, 4, dan 8 minggu setelah aplikasi. Aplikasi herbisida dengan dosis dan konsentrasi yang lebih tinggi dapat memberikan pengaruh pertumbuhan gulma, konsentrasi dan dosis herbisida yang terlalu rendah mengendalikan gulma (King dan Oliver, 2. Bobot Kering Gulma Hasil uji F pada bobot basah Adropogon masing-masing berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering. Rata-rata bobot basah gulma Adropogon aciculata tertera Tabel Tabel 2. Bobot Kering Gulma Adropogon aciculata Bobot Kering . Perlakuan 2 MSA Jenis Herbisida H1 . H2 . Jarak Tanam J1 . x 30 c. J2 . x 25 c. J3 . x 20 c. Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT (LSD) pada taraf 5 %. Pada Tabel 2 pengamatan 2 MSA terlihat bahwa bobot kering terendah gulma Adropogon aciculata akibat perlakuan herbisida terdapat pada perlakuan H1 . dengan bobot kering 2. 16 g. Pada pengamatan 2 MSA, perlakuan jarak tanam terhadap bobot kering gulma Adropogon aciculata terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Hasanuddin menyatakan bahwa kematian gulma secara langsung dapat mempengaruhi penurunan bobot kering gulma. Dari hasil tersebut diketahui bahwa perlakuan H1 . paling efektif dalam mengendalikan gulma. Hal ini sesuai dengan Loux et al. bahwa herbisida Paraquat lebih efektif pada gulma rumput dan ketika dikombinasikan dengan jenis herbisida penghambat fotosintesis seperti atrazin dan metribuzin. Fadhly & Tabri . juga menjelaskan bahwa pengendalian secara kimia memiliki hasil yang pertumbuhan gulma dibandingkan manual atau secara mekanis. Persentase Gulma Terkendali Aplikasi Pengaruh rata-rata persentase gulma terkendali disajikan Tabel Tabel 3. Persentase Gulma Terkendali pada Jenis Herbisida dan Jarak Tanaman Berbeda Persentase Gulma Terkendali (%) Perlakuan 2 MSA 4 MSA Jenis Herbisida H1 . H2 . Jarak Tanam J1 . x 30 c. J2 . x 25 c. J3 . x 20 c. Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT (LSD) pada taraf 5 %. Data pada Tabel 3 memperlihatkan persentase gulma terkendali terbaik pada semua perlakuan herbisida pada 2 dan 4 MSA dengan nilai tertinggi . 44 dan 100 %. Pada 2 dan 4 MSA semua perlakuan herbisida mampu menekan atau mengendalikan pertumbuhan gulma ditranslokasikannya herbisida ke jaringan tumbuhan. Pada pengamatan 2 MSA dan 4 MSA perlakuan jarak tanam terhadap persentase gulma terkendali terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Hasanuddin . , menyatakan bahwa efisiensi dalam pengendalian gulma adalah menggunakan dosis yang paling rendah tetapi dapat mengendalikan gulma sebanyak mungkin. Toksisitas Gulma Adropogon Aplikasi berpengaruh sangat nyata terhadap Adropogon aciculata yang diaplikasikan pada areal budidaya tanaman jagung, seperti yang tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Toksisitas Gulma Adropogon aciculata Toksisitas Gulma Adropogon aciculata Perlakuan 2 MSA 4 MSA Jenis Herbisida H1 . H2 . Jarak Tanam J1 . x 30 c. J2 . x 25 c. J3 . x 20 c. Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT (LSD) pada taraf 5 %. Pada pengamatan 2 MSA menjelaskan bahwa toksisitas tertinggi gulma Adropogon aciculata akibat perlakuan herbisida terdapat pada perlakuan H1 . dengan nilai 4. Pada pengamatan 2 MSA perlakuan jarak tanam terhadap toksisitas gulma Adropogon aciculata terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Pada pengamatan 4 MSA perlakuan herbisida dan jarak tanam terhadap toksisitas gulma Adropogon aciculata terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Penggunaan herbisida paraquat dan atrazin mampu mematikan gulma Adropogon aciculata secara langsung pada areal budidaya tanaman jagung pada pengamatan 2 dan 4 MSA. Hal ini sesusai dengan hasil penelitian Suredi et al. pada pengamatan fitotoksisitas gulma, aplikasi herbisida Paraquat tunggal pada dosis 38 g/ha dihasilkan nilai toksisitas = 4 . eracunan sangat bera. baik pada pengamatan 1, 2 dan 3 MSA. Hal ini disebabkan karena herbisida Paraquat merupakan herbisida kontak non-selektif yang merusak semua jaringan hijau yang terkena herbisida sehingga herbisida paraquat mampu mengendalikan gulma golongan rumput. Keracunan pada perlakuan H1 . disebabkan karena herbisida paraquat yang bersifat kontak yang dapat menyebabkan kematian pada organ tumbuhan yang terkena herbisida. Hal ini sesuai dengan Hastuti et al. yang menyatakan bahwa paraquat merupakan herbisida kontak yang menyebabkan kematian pada bagian atas gulma dan tanaman dengan cepat tanpa merusak bagian sistem perakaran, stolon atau batang dalam tanah. Muktamar et al. menjelaskan bahwa gejala keracunan akibat herbisida paraquat terlihat pada umur satu minggu dan dua minggu, juga dapat menyebabkan kelayuan dan kekeringan daun yang dimulai dari gangguan pada membran sehingga terjadi nekrosis dan kematian Adnan . , juga menyatakan bahwa herbisida paraquat mempunyai daya kerja yang cepat dan menyebabkan terhambatnya proses fotosintesis dan rusaknya membran sel dan seluruh organ sehingga gulma mengalami klorosis dan kelihatan terbakar yang akhirnya gulma mengalami kematian. Kadar keracunan akibat herbisida tergantung pada cara aplikasi, tinggi rendah tanaman, serta kondisi lingkungan pada saat aplikasi. Tanaman herbisida lebih tinggi. Selain itu, kondisi lingkungan seperti udara juga dapat menjadi vektor herbisida sampai pada tanaman bukan sasaran. Meilin herbisida sistemik mematikan gulma seperti herbisida berbahan aktif atrazin . Toksisitas Gulma Euphorbia hirta Aplikasi herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap toksisitas gulma Euphorbia hirta yang diaplikasikan pada Pengaruh herbisida terhadap rata-rata toksisitas gulma Euphorbia hirta pada Tabel 5. Tabel 5. Toksisitas Gulma Euphorbia hirta Toksisitas Gulma Euphorbia hirta Perlakuan 2 MSA 4 MSA Jenis Herbisida H1 . H2 . Jarak Tanam J1 . x 30 c. J2 . x 25 c. J3 . x 20 c. Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT (LSD) pada taraf 5 %. Pada pengamatan 2 MSA menjelaskan bahwa toksisitas tertinggi gulma Euphorbia hirta akibat perlakuan herbisida terdapat pada perlakuan H1 . dengan nilai 4. Pada pengamatan 2 MSA perlakuan jarak tanam terhadap toksisitas gulma Euphorbia hirta terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Pada pengamatan 4 MSA perlakuan herbisida dan jarak tanam terhadap toksisitas gulma Euphorbia hirta terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata. Penggunaan herbisida paraquat dan atrazin mampu mematikan gulma Euphorbia hirta secara langsung pada areal budidaya tanaman jagung pada pengamatan 2 dan 4 MSA. Hal ini menunjukan bahwa herbisida paraquat dan atrazin mampu mengendalikan gulma golongan daun Sembodo . menyatakan bahwa gulma dari spesies yang samapun kadangkala memberikan respon yang berbeda terhadap herbisida tertentu. Apalagi antarjenis gulma walaupun dalam satu golongan tertentu, respon yang ditunjukkan sering berbeda. Menurut Fadhly dan Tabri . setiap golongan gulma memiliki respon yang berbeda atas penerimaan herbisida. Herbisida memiliki efektivitas yang beragam, berdasarkan cara kerjanya. Komponen dan Hasil Tanaman Berat Biji Per Tanaman Berat biji jagung terbanyak terdapat pada aplikasi herbisida paraquat 62 g/tanaman. Hal ini diduga bahwa karena paraquat mempunyai sifat kontak yang lebih cepat dalam membasmi gulma pada saat pengisian pipil sehingga persaingan tanaman jagung dan gulma dapat terhindar. Lebih lanjut Muktamar . , mengemukakan paraquat merupakan herbisida kontak dan bila molekul herbisida ini terkena sinar matahari setelah berpenetrasi ke dalam daun atau bagian lain yang hijau maka molekul ini akan bereaksi menghasilkan molekul Pada pengamatan berat biji per tanaman perlakuan herbisida terhadap berat biji per tanaman terlihat bahwa hasilnya tidak berbeda nyata antara herbisida paraquat dan Atrazin. Penggunaan jarak tanam J3 . x20 c. merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan berat biji per tanaman dengan berat biji adalah 100. g/tanaman. Hal ini karena pada tanaman yang diaplikasikan dengan herbisida mampu menekan pertumbuhan gulma disekitar pertanaman. Pertumbuhan gulma yang tertekan memberikan kesempatan kepada tanaman jagung memanfaatkan sumber daya atau faktor Jarak tanam yang lebih luas memungkinkan tanaman jagung untuk dapat memperoleh unsur hara lebih besar yang berguna untuk proses fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis akan dimanfaatkan untuk pengisian biji Berat Biji Per Petak Hasil uji F pada berat biji per petak menunjukkan penggunaan jarak masing-masing sangat nyata terhadap peubah berat biji per petak tanaman jagung. Berat biji per tanaman yang tertinggi yaitu 832. g/tanaman jagung akibat aplikasi herbisida paraquat. Berat biji akibat perlakuan herbisida paraquat dan atrazin tidak menunjukkan perbedaan yang Akan tetapi dari 2 jenis herbisida yang diaplikasi, herbisida paraquat lebih mengendalikan gulma pada tanaman Senada dengan hal tersebut Rodenburg Demont mengemukakan keuntungan penggunaan herbisida yaitu dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga kerja. Sementara jarak tanam 60x25 cm merupakan jarak tanam ideal dalam meningkatkan berat biji per petak dengan berat biji g/tanaman. Maddonni . berpendapat bahwa jarak tanam yang relative sempit dapat meningkatkan produksi yang lebih besar, pada dasarnya aplikasi jarak tanam yang rapat bertujuan untuk meningkatkan hasil, dengan syarat faktor pembatas dapat dihindari sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman satu sama lain. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan Herbisida paraquat dan atrazin efektif mengendalikan gulma dan menekan bobot basah dan kering gulma golongan rumput dan daun lebar 2 Minggu Setelah Aplikasi (MSA), bobot kering gulma dominan Adropogon aciculata dan Euphorbia hirta, dan menyebabkan keracunan gulma 2 hingga 4 MSA. Jarak tanam 50 x 30 cm, 60 x 25 cm dan 75 x 20 cm efektif mengendalikan gulma dan menekan bobot basah dan kering gulma golongan rumput dan daun lebar 2 Minggu Setelah Aplikasi (MSA), bobot kering gulma dominan Adropogon aciculata dan Euphorbia hirta, dan menyebabkan keracunan gulma 2 hingga 4 MSA dengan hasil berbeda tidak nyata. Tidak terdapat interaksi antara penggunaan herbisida berbahan aktif paraquat dan atrazin dengan jarak tanam tertentu dalam mengendalikan gulma pada tanaman jagung. Saran Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan herbisida paraquat dan atrazin dengan dosis yang lebih rendah supaya lebih pengendalian gulma secara kimiawi. DAFTAR PUSTAKA