At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation Vol. No. : 145-164 Available online at https://jurnal. id/index. php/tafasir Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. Muhamad Khabib Imdad1 1Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia arrafaqy@gmail. ARTICLE INFO ABSTRACT Article History: Received: Agustus 8, 2025 Revised: September 3, 2025 Accepted: November 6, 2025 The language of the QurAoan possesses a distinctive aesthetic through the lexical filtration of each fragment, wherein specific meanings and purposes are embedded and must be explored comprehensively. This study positions itself within that tradition by examining one of the frequently recurring terms in the QurAoan, khasyyah. This word is often interpreted as "fear," yet it carries various characteristics and nuanced connotations. The present article seeks to provide an essential exposition on the semantic depth of khasyyah in the QurAoan, including its categorization when directed toward Allah, thereby offering a broader discourse on the conceptual richness of the Methodologically, this study adopts a qualitative paradigm by applying the principles of library research. The secondary sources are drawn primarily from the anatomy of the QurAoan, focusing solely on the analysis of khasyyah and its derivations. This data is further supported by relevant references such as classical Arabic dictionaries. QurAoanic exegesis, scholarly books, and academic articles. For the analytical framework, the study employs the encyclopedic semantic method, which aims to trace the semantic trajectory of khasyyah within the QurAoanic discourse. The findings reveal that this term appears in multiple derivative forms throughout the QurAoan, producing a range of meanings. These include the classification of khasyyah as both a stimulative and resultant emotional response toward Allah, as well as other correlational meanings such as hardship . , compulsion, anxiety, calamity, despair, and Keywords: QurAoanic Semantics. Khasyyah. Encyclopedic Semantics. How to Cite: Muhamad Khabib Imdad. AuAnalisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. Ay At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Vol. No. : 145. https://doi. org/__________/___________ A 2022. The author. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 INTRODUCTION Kajian terhadap Al-QurAoan dapat dilakukan dalam dua ranah besar sebagaimana tegas oleh Amin Al-Khulli, yakni dirAsah mA uaula Al-QurAoan atau kajian-kajian seputar Al-QurAoan dan dirAsah mA f Al-QurAoan atau kajian yang berkaitan dengan entitas- anatomik Al-QurAoan. 1 Kajian pada ranah pertama terklasifikasi dalam dua kajian, yakni kajian khusus seperti kodifikasi-unifikasi mushaf, modus penurunan, dan materi-materi lain dalam Aoulumul qurAoan, dan umum semisal aspek sosio-historis Al-QurAoan, situasi intelektual-kulturalnya, hingga menyentuh bahasan seputar masyarakat Arab ketika ia Sementara pada ranah kedua, satu yang sering disajikan dalam meja diskusi ialah berkaitan dengan aspek bahasanya yang akan selalu melahirkan perbincangan bahkan perdebatan yang impresif di kalangan pengkajinya. Hal ini akan sangat kontras di kalangan mufassir dengan tsaqafah linguistiknya seperti Az-Zamakhsyari. Al-FarraAo, dan Al-Alusi. Mereka akan berlama-lama dalam menggeluti penafsiran terhadap Al-QurAoan dengan meninjau dan mengeksplorasi sisi bahasanya, atau yang belakangan dikenal dengan corak lughawi. Dalam hal ini, pengkaji memanfaatkan berbagai pendekatan linguistik dalam rangka menggali kedalaman makna Al-QurAoan. Pengkajian eksploratif-atomistik dalam hal ini misalnya dilakukan dengan menelaah suatu kata dalam Al-QurAoan yang mana maklum bahwa filtrasi kata dalam AlQurAoan mengandung potensi makna yang begitu luas dan dalam. Dalam hal ini, penulis mendatangkan kata khasyyah sebagai bahan penelaahan. Secara pendekatan bahasa, kata tersebut lazim dimaknai dengan rasa takut, ia sering dijumpai dalam Al-QurAoan dan sebagian besarnya disandingkan dengan lafadz Allah swt yang seakan mengindikasikan bahwa rasa takut yang dikandungnya adalah tidak biasa. Dalam khazanah bahasa Arab. Amin Al-Khuli. Manahij Tajdid fi Al-Nahw wa Al-Balaghah wa Al-Tafsir wa Al-Adab (Kairo: Dar al-MaAorifah, 1. , 308. Pendekatan linguistik yakni Authe scientific study of language . ajian ilmiah terhadap bahas. Kajian tersebut meliputi bahasa secara internal, yakni morfologi, sintaksis, fonologi, semantik, pragmatik, diskursus, sosiolinguistik, psikolinguistik, neurolinguistik, dan korpus linguistik. Baca Hujaefa Hi. Muhammad, dkk. Pengantar Linguistik: Teori. Konsep. Dan Penerapan (Padang: CV. Gita Lentera, 2. , 2Ae4. Sementara dari sisi eksternalnya, kajian-kajian meliputi aspek yang berada di luar ruang anatomi bahasa, seperti pengguna bahasa, masyarakat bahasa, kontak bahasa, variasi dan status sosial bahasa, bahasabudaya, dan seterusnya. Lebih lanjut dalam Abdullah MuAoafa. AuPendekatan Linguistik Dalam Penafsiran Al-QurAoan: Upaya AoMenjernihkanAo Konsep Linguistik Sebagai Teori Dan Metode,Ay JIE: Journal Islamic Review 1, no. : 224. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. khasyyah bukan sekadar bentuk dari rasa takut, tetapi merupakan konsep teologis yang kompleks dan khas. Ia berbeda dari kata lain yang juga bermakna AutakutAy seperti khawf, rahbah, atau wajl. Perbedaan ini tidak hanya bersifat sinonim leksikal, tetapi menunjukkan dimensi psikologis dan spiritual yang khas dalam khasyyah, yakni rasa takut yang berakar dari pengetahuan, pengagungan, dan kesadaran eksistensial terhadap keagungan Tuhan. Beberapa peneliti telah berbicara banyak perihal kata tersebut. Ibn Malluh misalnya, hasil telaahnya terhadap kata khasyyah menghasilkan kesimpulan bahwa kata khasyyah mengandung makna takut yang diiringi pengagungan atas superioritas sesuatu yang ditakutinya. SyafiAoi MaAoarif juga serupa dalam memaknai kata khasyyah, menurutnya kata tersebut bermakna rasa takut tidak biasa yang disertai pengagungan dan kesadaran spiritual yang dalam terhadap Allah swt. 5 Telaah seperti ini yang coba dilakukan pula oleh para ahli lainnya, beberapa yang penulis temui seperti Ibn Faris, 6 Ibn Mandzur, 7 hingga AoAisyah AoAbdurrahman atau lebih dikenal dengan Bintusy SyathiAo. Sedikit berpaling dari para ahli bahasa, penulis juga menjumpai penggunaan kata khasyyah dalam al-BurhAn f AoUlm Al-QurAoAn milik Az-Zarkasyi dengan adanya ungkapan AuA Ay iAyakni sebuah pohon yang telah hilang manfaatnya karena lapuk. Makna ini yang kemudian coba direlungi bahwa intensitas rasa takut dalam khasyyah ternyata sampai menjadikan seseorang luluh bersimpuh seakan tidak berarti apapun di hadapan entitas yang ditakutinya. Geliat-geliat semacam ini sudah barang tentu melibatkan aspek linguistik dan Abu Al-Husain Ahmad ibn Faris Zakariya. MuAojam MaqAys Al-Lughah. Jilid. (Beirut: DAr al-Fikr, 1. , 245. Aliu ibn AoAbdillAh ibn umaid dan AoAbd al-RaumAn ibn Muuammad ibn AoAbd ibn Mallu Al- RahmAn. MausAoah Nasrah Al-NaAom F MakArim AkhlAq Al-Rasl Al-Karm allallAhu alaihi Wa Sallam. Jilid. V, n. , 1838. Ahmad SyafiAoi MaAoarif. Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan Dan Kemanusiaan (Bandung: Mizan, 2. , 56. Abu usain Aumad Ibn FAris Ibn Zakariya. MuAojam MaqAyis Al-Lughah (Beirut: Dar al-Jael, 1. , 184. Ibn Mandzur. LisAn Al-AoArAb (Kairo: Dar al-MaAoarif, n. ), 1169. AoAisyah AoAbdurrahman. Tafsir Bintusy-SyathiAo Terj. Madzkur (Bandung: Mizan, 1. , 240. Muuammad ibn AoAbdullah Az-Zarkashy. Al-BurhAn F AoUlm Al-QurAoAn (Kairo: DAr al-adth, 2. , 78. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 susastra bahasa Arab dengan benar sebagaimana telah diuraikan. Sebagai salah satu dari Masadir Al-Asilah fi at-Tafsir . umber utama dan autentik dalam tatanan interpretasi Al-QurAoa. , ia berperan dalam memperkokoh analisis melalui beragam pendekatan aspek bahasanya 10 dan menghasilkan konstruksi makna yang dinamis dari suatu kata dalam Al- QurAoan. Sehingga dengannya para penikmat Al-QurAoan dapat terfasilitasi atas hasil pemaknaan yang lebih simplikatif tersebut yang mendekati kepada pesannya. Tulisan ini mencoba untuk berada dalam ruang kajian tersebut, yakni dengan mengkaji kata khasyyah yang melibatkan aspek linguisitas berupa semantik. Teori-teori semantik ini sejatinya telah banyak digagas oleh para ahli, sementara pengaplikasian semantik ke dalam Al-QurAoan pertama kali dilakukan oleh Toshihiko Izutsu dengan gagasannya yang masyhur. Weltanschauung . orld vie. Namun analisa pada kajian ini tidak membelenggu diri pada semantiknya Izutsu, melainkan mencoba menerapkan gagasan yang berangkat dari elaborasi dan kritis atasnya, yakni semantik ensiklopedik. Dengan desain analisis semantik yang coba ditawarkannya, diharapkan dapat menjadi pijar dalam aktifitas telaah atas kata khasyyah sehingga dapat melahirkan makna kata yang dinamis sekaligus melengkapi ruang kosong dalam kajian-kajian terhadap kata khasyyah yang telah dilakukan sebelumnya. Berkenaan dengan hal tersebut, tulisan ini disusun menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan . ibrary researc. , dengan titik tekan pada analisis linguistik atas teks Al-QurAoan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah semantik ensiklopedik, yakni suatu pendekatan analisis makna yang tidak hanya menelaah aspek leksikal, tetapi juga memperhitungkan dimensi konseptual, relasional, kontekstual, serta keterkaitannya dengan jejaring makna lainnya dalam keseluruhan sistem semantik Al-QurAoan, ulasan lebih lanjut akan disajikan pada bagian berikutnya. Adapun objek kajian utama dalam penelitian ini adalah kata khasyyah, yang ditelusuri pemakaiannya dalam ayat-ayat Al-QurAoan secara komprehensif. Data dikumpulkan melalui penelusuran berbagai kitab tafsir lughawiy, kamus-kamus bahasa Arab klasik, serta kitab ulumul QurAoan yang memuat pembahasan tentang makna kata dan struktur makna Al-QurAoan. Kajian linguistik bahasa Arab mencakup beberapa diskursus, yakni Fonetik . unyi bahas. Fonologi . dentifikasi fonem bahasa. Morfologi . isebut juga dengan tasri. Sintaksis . isebut juga nahw. , dan Semantik . elasi makna kat. yang mencakup bahasan Aebahasan seperti sinonim . , polisemi . , homonym, antonym, dan hiponim. Diskusi lebih lanjut baca buku Sahkholid Nasution. Pengantar Linguistik Bahasa Arab, ed. Moh. Kholison (Sidoarjo: CV. Lisan Arabi, 2. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. seperti karya-karya Ibn Faris. Ibn Mandzur. Al-Zarkasyi. Bintusy SyathiAo, hingga pendapat mutakhir dalam studi semantik Al-QurAoan. Analisis dilakukan dengan membaca keterhubungan makna khasyyah dalam konteks internal . ntra-linguisti. maupun eksternal . ksperiensial dan teologi. , sehingga makna kata yang dihasilkan tidak hanya menggambarkan aspek linguistiknya, tetapi juga merepresentasikan pandangan dunia QurAoani (Weltanschauun. yang terbangun dari kata tersebut dalam jalinan struktur makna wahyu. Desain Semantik Ensiklopedik Semantik merupakan bagian dari kajian linguistik yang berfokus kepada aktivitas analisis makna. 11 Ia merupakan saudara dari semiotika atau semiologi dalam kajian ilmu makna yang merujuk pada penelusuran makna dari suatu lambang atau benda. Namun ia lebih sering dipakai sebab memiliki ruang yang lebih spesifik karena hanya menggali arti dari bahasa sebagai objek komunikasi verbal. 12 Dalam kerangka makna bahasa, terma semantik merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yang berakar dari bahasa Yunani, yakni sema, bermakna tanda atau lambang dalam bentuk nomina, dan semaino dalam bentuk verba yang bermakna mendandai atau melambangkan. Para ahli bahasa memakai istilah tersebut dalam bidang linguistik sebagai disiplin yang berfokus pada penggalian makna secara eksploratif. 13 Maka dipahami bahwa maksud tanda atau lambang dalam pengertian etimologis di atas adalah tanda-tanda linguistiknya. Dalam hal ini. Ferdinand de Saussure 14 menjelaskan perihal tanda linguistik tersebut ialah terdiri dari beberapa Dalam linguistik Arab, teori ini disebut dengan dirasah al-dilaliyyah atau ilmu dalalah. Baca Muhamad Jaeni Muhandis az-Zuhri. Musoffa Basyir. Semantik Bahasa Arab Dan Al-QurAoan (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2. , 16. Abdul Chaer. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , 2Ae3. Makna dalam perspektif bahasa berasal dari kata Aoana (A)UA, bermakna AumelahirkanAy. Kesimpulannya adalah bahwa makna merupakan aspek yang dilahirkan dari suatu penuturan. Lihat Nisaul Zahra et al. AuSemantik Dalam Bahasa Indonesia,Ay Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Bahasa. Sastra dan Budaya 2, no. : 158. Ferdinand de Saussure dikenal sebagai bapak linguistik pada masa modern. Ia bersaa beberapa tokoh lainnya yang concern dalam bidang ini, seperti Leonard Bloomfield. Jhon Rupert Firth. Noam Chomsky, dan lainnya. Sementara dalam Islam, beberapa tokoh klasik yang banyak menaruh perhatiannya pada bidang ini seperti Abu al-Aswad al-Duali . 688 M). Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi . M). Imam Sibawaih . 796 M). Ibn Jinni . 1002 M). Ibn Faris . 1004 M). Ibn Mandzur . At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 elemen, yakni yang mensubtitusi, berwujud bahasa, dan elemen yang digali artinya atau makna dari elemen pertama. Adapun semantik ensiklopedik merupakan tawaran elaboratif yang berangkat dari kritik terhadap metode semantik Al-QurAoan yang mulanya ditawarkan oleh Toshihiko Izutsu pada kisaran tahun 1950-an melalui bukunya yang bertajuk The Structureof the Ethnical Term in the QurAoan. Latar belakang tawaran ini sejatinya merupakan langkah semangat Izutsu dalam memenuhi kebutuhan subjektifnya yang mencoba menelisik inti dari Al-QurAoan. Buku pertama ini mulanya kurang terekspos secara luas kemudian disempurnakan dengan lahirnya buku, yakni Ethico-Religious Concept in the QurAoan dan God and Man in the QurAoan: Semantics of the QurAoanic Weltanschaung. Lahirnya kedua magnum opus ini yang kemudian semakin menjadikan hasil penelitian Izutsu sebagai seorang outsider semakin populer dalam ranah kesarjanaan Islam di dunia dengan melewati beberapa tahap percetakan. Model semantik Izutsu ini kemudian dikritisi oleh Dadang Darmawan dan beberapa koleganya dalam sebuah jurnal ilmiah terbitan Al-Quds pada tahun 2020. Dalam penelitiannya, ia mencoba melakukan kritik atas hasil pemikiran Izutsu dalam menawarkan pendekatan semantik Al-QurAoan. Hal yang melandasi dilakukan kritik ini atas dasar adanya ruang hampa yang tidak ditemukan dalam tawaran Izutsu, yakni kaitannya dengan sifat, legitimasi, referensi, dan kemanfaatannya. Para sarjana juga mengomentari tawaran semantik Izutsu yang dirasa terlalu mensimplikasi kajian isi Al- QurAoan. Selain itu, ia terlalu fokus kepada rangka penelitian strukturalis ala Barat sehingga memalingkan diri dari prosedural penelitian Islam yang berlandaskan kepada referensi dari hadits dan kitab-kitab tafsir bil maAotsur, bahkan kerangka penelitian semantik Izutsu dirasa kurang berhasil dalam misinya menyingkap maksud Allah swt dalam Al-QurAoan. Salah satu misi semantik ensiklopedik adalah mencoba men-display kembali M), dan beberapa lainnya. Baca Ahmad Sabeni. AuPendekatan Linguistik Dalam Kajian Pendidikan Islam (Analisa Studi Pustak. ,Ay TAMADDUN: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan 26, no. , 5. Frank Robert Palmer. Semantics. Second edition. (Cambridge: Cambridge University Press. Dadang Darmawan. Irma Riyani. Yusep Mahmud Husaini. AuDesain Analisis Semantik Alquran Model Ensiklopedik: Kritik Atas Model Semantik Toshihiko Izutsu,Ay Al Quds: Jurnal Studi Alquran Dan Hadis 4, no. : 186. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. referensi-referensi ilmiah berupa kitab klasik . urats al-Islam. sebagai rujukan primer dalam analisis semantik modern, seperti kitab-kitab tafsir, hadits, dan muAojam yang kredibel, usaha itu tidak dilakukan oleh Izutsu. Hal lain yang akan dihasilkan dengan semantik ini adalah pertama: menggali lebih dalam konsepsi particular dalam Al-QurAoan, kedua: mengalihfungsikan model penelitian strukturalisme hanya didapati dalam melakukan penelitian maudhuAoi yang telah lahir jauh sebelumnya, ketiga: menggiring kepada arah penelitian yang mencoba menjawab pertanyaan episteme dalam Al-QurAoan, yakni apa, mengapa, dan bagaimana. Secara aplikatif, cara kerja penelitian semantik ensiklopedik adalah sebagai Pertama: choosing, yakni memilih kata sebagai tema analisis dan profiling, yakni mendeskripsikan alasan pemilihan kata tersebut Kedua: kolektifikasi ayat-ayat yang berbicara atau menghimpun kata tersebut, baik berbentuk afiksasi maupun derifasinya. Ketiga: aktivitas riset dengan mengumpulkan dan menelaah data-data penelitian dalam rangka menentukan makna dasar dan makna relasional kata yang akan dikaji. Adapun penghimpunan data dilakukan dalam empat tahap, yakni dirAsah mA f al- maAoAjim . ajian kamu. , dirAsah mA qabla al-qurAoan . ajian syiAoir Jahil. , dirAsah mA f al- qurAoan . ajian ayat-ayat al-QurAoa. , dan dirAsah mA uaula al-qurAoan . itab-kitab tafsi. Keempat: menentukan makna dasar dan makna relasional Kelima: membuat medan makna untuk mengambarkan temuan pada tahap sebelumnya, 18 yakni makna dasar dan makna relasional kata, berupa ungkapan-ungkapan pada masa pra Islam dan makna relasionalnya pada masa Al-QurAoan. Keenam: deskripsi konsep dari kata yang sedang ditelitinya, yakni menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana. Dadang Darmawan. Irma Riyani. Yusep Mahmud Husaini, 187Ae88. Medan makna dalam kajian bahasa merujuk pada suatu ruang lingkup yang dihimpun oleh sejumlah kata dengan makna yang saling berkaitan namun juga tetap saling beroposisi. Atau dalam definisi yang lain, medan makna meruakan sekelompok Serangkaian unsur Telokal yang memiliki keterkaitan makna karena merefleksikan dimensi budaya atau realitas dalam suatu kosmos tertentu. Baca Nurul Fauziyah. AuAnalisis Medan Makna Dan Komponensial Pada Nama Flora Unik,Ay Nuansa Indonesia 25, no. : 245. Dadang Darmawan. Irma Riyani. Yusep Mahmud Husaini, 192. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 Melalui pendekatan semantik ensiklopedik ini, proses analisis terhadap kata khasyyah dalam Al-QurAoan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Berawal dari pemilihan kata dan profiling-nya, lalu dilanjutkan dengan kolektifikasi ayat-ayat yang memuat kata tersebut beserta afiksasi dan derivatifnya. Kajian kemudian diarahkan pada empat dimensi telaah data, yakni analisis kamus klasik . irAsah mA f al-maAoAji. , syair Jahiliyah . irAsah mA qabla al-QurAoA. , ayat-ayat Al-QurAoan itu sendiri . irAsah mA f al- QurAoA. , serta tafsir dan literatur ulumul QurAoan sebagai bagian dari dirAsah mA uaulah. Pendekatan ini memberikan ruang analisis yang tidak hanya bersifat leksikal, tetapi juga konseptual dan historis, sehingga makna yang dihasilkan bersifat relasional dan dinamis, tidak semata bergantung pada satu dimensi kebahasaan. Di tahap akhir, makna dasar dan makna relasional disintesiskan ke dalam medan makna, yang memungkinkan terbentuknya deskripsi konseptual yang utuh atas kata yang dikaji. Dalam konteks ini, analisis terhadap kata khasyyah tidak hanya menggambarkan nuansa takut yang khas terhadap Allah, melainkan juga merefleksikan worldview QurAoani yang menyatukan dimensi rasa takut, kesadaran spiritual, pengagungan, dan kerendahan eksistensial Dengan demikian, pendekatan semantik ensiklopedik menjadi relevan dan signifikan dalam menyingkap intensitas makna Al-QurAoan yang tersirat di balik konstruksi kebahasaannya, serta menjadi alternatif metodologis yang kuat dalam pengkajian makna kata secara lebih integral dan kontekstual. Kata Khasyyah dalam Al-QurAoan Kata khasyyah beserta derivasinya disebutkan 48 kali dengan 22 bentuk dalam Al- QurAoan. Kata ini tersebar di 40 ayat dan dalam 24 surat. 20 Akumulasi ayat yang diturunkan di Mekkah yakni sejumlah 22 ayat, yaitu: QS. YAsn . QS. QAf. : 33. QS. AhA . : 3, 94, 77, 44. QS. Al-Kahfi . : 80. QS. An-NAziAoAt . : 19, 26, 45. QS. FAir . : 18, 28. QS. AoAbasa . : 9. QS. Al-AAolA . : 10. QS. Al-AnbiyAAo . : 49, 28. QS. Az-Zumar . : 23. QS. Al-Mulk . : 12. QS. LuqmAn . : 33. QS. Al-IsrAAo . : 31, 100, dan QS. Al-MuAominn . : 57. Sedangkan dua ayat lagi diturunkan di Madinah 18 yakni: QS. An-NisAAo . : 9, 25, 77. QS. Al-Bayyinah . : 8. QS. Al-AuzAb . : 37, 39. QS. Al-MAidah . : 3, 44, 52. QS. At-Taubah . : 13, 18, 24. QS. Al-Baqarah . Muhammad Abdul Baqi. MuAojam Mufahras Li Alfaz Al-QurAoan Al-Karim (Kairo: Dar al-Hadits, 2. , 348Ae349. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. 74, 150. QS. An-Nr . : 52. QS. Ar-RaAodu . : 21. QS. Ali ImrAn . : 173. QS. Alasyr . : 21. Sebaran ayat-ayat tentang khasyyah beserta derivasinya dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Lafadz a a a 4 kali QS. : 25. QS. QS. : 33. QS. : 8 a aeA Aa a ea A a eaA 1 kali 1 kali 3 kali QS. : 94 QS. : 80 QS. : 77. QS. : 37. QS. : 19 aA a eaaNA eA eaaOA aA ea eaOIA A a e eaOa a eIA aA ea eaONA A ea eaOa eIA A ea a Aa eA Aa eaA 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 2 kali 1 kali 3 kali 6 kali Aa ea a e eaOIA 1 kali 7 kali a e eaOaA eAaOA e AaOA e AaOA A eaO aIA e AaOA e aA eaOA e aAeA Aa eaOa eIA Aa e aiA 1 kali 1 kali 2 kali 1 kali 1 kali 7 kali Aa eaa aA 1 kali QS. : 37 QS. : 44 QS. : 24 QS. : 13 QS. : 13 QS. :150. QS. : 3 QS. : 52 QS. : 9. QS. : 18. QS. : 52 QS. : 3. QS. :44. QS. : 28. QS. : 26. QS. : 9. QS. : 10 QS. : 45 QS. : 77. QS. : 21. QS. : 49. QS. : 39. QS. :18. QS. : 23. QS. QS. : 39 QS. : 33 QS. : 3, 44 QS. : 150 QS. : 173 QS. : 74. QS. :77. QS. :77. QS. :31, QS. : 57. QS. : 21 QS. : 28 Frekwensi Al-QurAoan Meninjau dari melimpahnya kata khasyyah sebagaimana disajikan di atas, mengindikasikan bahwa Al-QurAoan sangat intens dalam membicarakan kata tersebut dalam berbagai derivasinya. Ketika Al-QurAoan begitu massif membahas suatu hal, maka hal tersebut menegaskan akan pentingnya kasus tersebut untuk diperhatikan oleh manusia, khususnya dalam hal ini adalah umat muslim dan mukmin. 21 Kata khasyyah Khoiruddin Abdullah Jarman Arroisi. Abdul Rohman. Harits MuAotasyim and Adrian Syahidu. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 sendiri, sebagaimana disinggung di muka, erat kaitannya dengan makna takut, sementara rasa takut sendiri merupakan hal yang fitrah yang terdapat pada setiap individu manusia. Maka pada bagian berikutnya akan disajikan diskusi berkaitan dengan bangunan dasar makna kata tersebut dengan meninjau dari sisi etimologis yang kemudian akan melahirkan sebuah konklusi terminologisnya. Konstruksi Makna Dasar Kata Khasyyah Kata khasyyah merupakan gabungan dari huruf khaAo (A)A, syin (A )Adan yaAo (A)OA. Dalam kajian etimologis, khasyyah bermakna ketakutan dan kepanikan. 23 Hal ini senada dengan pemaknaan Ibn Manzur yang mengartikan khasyyah dengan rasa takut. Memang sebagian besar sarjana muslim ketika memaknai kata khasyyah ini diterjemahkan dengan kata khauf atau makna-makna semisalnya yang secara leksikal memiliki arti yang sama. Namun dalam makna yang lebih jauh, keduanya memiliki konotasi dan orientasi yang berbeda. Hasan Habal misalnya, membedakan kedua kata Jelasnya dalam Mujam Al-IsytiqAqy miliknya, bahwa khauf berkonotasi terhadap suasana kekosongan batin yang dekat kepada rasa takut dan cemas. Sementara khasyyah melibatkan perasaan jiwa atas suatu intensitas yang datang darinya yang tidak dapat dihindari serta tidak ada jalan keluar. Muhammad Muhammad DAud dalam Mujam Al-Furq DilAliyyah f AlqurAn al- Karm menambahkan bahwa kata khasyyah ini bermakna: aAU aaI ca aa a ea a eA U A eaOA: A e a eai ea aa aiA a AU eIA a a aOc aUea e UI aO a euu a a aa aua eO aI aEA AuMakna Khashyah Dalam Al-QurAoan: Analisis Kritis Atas Emosi Dasar Dalam Psikologi Islam,Ay Al-Quds: Jurnal Studi Alquran dan Hadis 6, no. : 3. Darwis Hude. Emosi: Penjelajahan Religio-Psikologis Tentang Emosi Manusia Di Dalam Al-QurAoan (Jakarta: Erlangga, 2. , 192. Abu Al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya. MuAojam Maqayis Al-Lughah (Kairo: Dar al-Fikr, 1. , 184. Ibn Mandzur. LisAn Al-AoArAb, 1169. Muhammad Hasan Hasan Habal. Mujam Al-Isytiqaqy Li Alfadz Al-QurAoan Al-Karim (Kairo: Maktabah Al-Adab, 2. , 560. 26 Al-Raghib Al-Asfahany. Al-Mufradat Fi Gharib Al-QurAoan (Maktabah Nizar Musthafa Al-Baz. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. Aual-khasyyah secara bahasa: ketakutan akut yang pada umumnya timbul dari sesuatu yang sudah diketahuinya. Ay Sementara khauf ialah mengantisipasi sesuatu yang buruk dari adanya indikasi atau prasangkaan. Makna ini yang kemudian disadur oleh Muhammad DAud dalam Mujam Al-Furq DilAliyyah f AlqurAn al-Karm. Berdasarkan penjelasan para ulama tersebut, maka kemudian dapat ditarik suatu temuan bahwa makna dasar kata khasyyah adalah AOA UI I OA OA. Seperti dalam ungkapan AuA a eOeUaA a aAO A a A( Ay aa e a auaI a eAtempat ini lebih menakutka. e a A a eI a aEa A Berikut ini skema makna dasar kata khasyyah: AOA Oc UIA AiA Aa i oO aA AiA AUO iO u OA UIA Bagan 1: Skema dasar makna kata khasyyah Sementara itu. Bintusy SyathiAo sedikit memalingkan diri dari hasil pemaknaan tersebut, lebih dalam ia berasumsi kuat bahwa khasyyah bermakna ketakutan yang diselimuti rasa segan dan hormat. 29 Beberapa pemaknaan para ahli tersebut menggiring penulis pada suatu pemahaman bahwa khasyyah merupakan rasa takut pada diri seseorang yang sudah mencapai level paling tinggi terhadap sesuatu yang dianggapnya memiliki orotitas dan superioritas secara penuh dan absolute. Makna dasar kata khasyyah ini ), 198. Muhammad Muhammad DAud. Mujam Al-Furuq DilAliyyah f AlqurAn al-Karm, (Kairo DAr al-Gharb, 2. , 237. Ibn Mandzur. LisAn Al-AoArAb, 1169. AoAAoisyah AoAbdurrahman. Tafsir Bintusy-SyathiAo Terj. Mudzakir (Bandung: Mizan, 1. , 240. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 kemudian akan menjadi konstruksi dalam melakukan analisis semantik dari kata tersebut dalam Al-QurAoan pada bagian-bagian berikutnya. Makna Kata Khasyyah dalam SyiAoir Jahiliy (Pra Al-QurAoa. Dalam bahasan ini, pengamatan terhadap syaAoir-syaAoir Jahiliy menjadi salah satu referensi dalam menggali makna khasyyah dan derivasinya. Hal ini menjadi penting sebab Al-QurAoan disampaikan dengan mediator bahasa Arab untuk menyentuh aspek budaya masyarakat paling awal yang menerimanya. Maka Al-QurAoan akan dipahami secara pasti dengan pendekatan bahasa tersebut, utamanya adalah bahasa Arab murni yang belum terkontaminasi dengan bahasa Aoajam . on AoAra. selepas Islam terekspansi keberbagai daerah lain. Sebabnya. AoUmar bin al-Khattab pernah berpesan kepada umat muslim, ia menyebutkan bahwa: A aa a aaua eI eaOa I ea e a a ei a ae au aacaua eIA Aa a a A a Aa aa A30 e aAI a eU aua eI eA a A aaOA e aAuaOe eA Wahai manusia, berpegangteguhlah pada kumpulan syair kalian di masa Jahiliyah, karena di dalamnya terdapat penafsiran terhadap kitab (Al-Qur'a. SyiAoir Pertama: a AU e sO aO eA a AA a aA a aUaA# AaOa e ua ea a ea a eI a a eOa aOa eI aoa eIA a A eaOs aA Dan sungguh, aku takut mati sebelum keluarga Amr mengadakan seruan dalam ratapan yang memilukan. Secara keseluruhan, syiAoir dari Diwan AoAntarah bin Syadad bin Qirad ini menggambarkan kondisi cemas dan sedih di tengah-tengah pertempuran. Ketakutan akan kematian serta adanya secercah harapan kemenangan. Dalam syiAoir tersebut, penyair menggunakan berbagai gambaran alam dan perumpamaan untuk menyatakan kesulitan dan ketegangan dalam menghadapi perang dan penderitaan. SyiAoir kedua kiranya akan lebih menampakkan bagaimana kata tersebut digunakan dalam konteks tertentu pada zaman Arab klasik. SyiAoir Kedua: AUa acEaI aE I UaA a A aO aEA# AaO eaOeaa acaO c aaI a e aA Fahd bin AoAbd al-Rahman bin Sulaiman al-Rumi. Ushul Al-Tafsir Wa Manahijuhu (RiyAs: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyah, 2. , 116. Diwan Antarah bin Syadad, 11. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. Acu Ou aOA A aa OI uIA: aA aO aA32 U aA oacA a # AA a AUA Dan kamu membuatku takut oleh Bani Dzabyan Dan apakah aku haru takut kepadamu karena kehinaan? Aku berkata: Wahai kaumku! sesungguhnya singa itu memegang cakar-cakarnya ketika melompat menyerang musuhnya. SyiAoir tersebut merupakan puisi yang menggambarkan perasaan keberanian, tantangan, dan rasa malu. Penyair pada syiAoir tersebut mengungkapkan rasa takut kepada Suku Dzabyan yang mungkin menjadi ancaman atau lawan yang menakutkan. Namun, ia juga menegaskan bahwa rasa takutnya tersebut bukan dari arah serangan fisik, melainkan rasa malu atau hina atas hilangnya harga diri jika tidak berani melawannya. Makna Relasional kata Khasyyah Dalam Qur`an Maksud dari ungkapan makna relasional disini adalah makna yang lahir ketika suatu kata diletakkan dalam susunan kalimat tertentu yang bersamaan kata-kata lainnya, atau bisa juga dalam suatu konteks pembicaraan atau kondisi tertentu. 33 Penyebutan kata khasyyah dalam Al-QurAoan terulang dalam jumlah yang tidak sedikit, hal ini yang kemudian melahirkan korelasi makna yang unik dan beragam. Berikut uraiannya: Pertama, kata khasyyah yang disandingkan dengan kata Allah swt maupun beberapa sifat-Nya. Maka dalam bahasan ini, konsep ketakutan kepada Allah swt terbagi ke dalam dua hal, yakni sebab dan akibat. Maksud sebab disini ialah faktor-faktor yang dapat mendorong seseorang memiliki rasa khasyyah kepada Allah swt. Sedangkan akibat bermaksud hal-hal yang akan dihasilkan atau didapatkan oleh seseorang manakala ia sudah berhasil membangun khasyyah yang kokoh terhadap-Nya. Faktor-faktor pendorong rasa khasyyah . kepada Allah swt Iman kepada Allah swt yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Dalam hal ini kata khasyyah bertemu dengan kalimat AuyaAolamu mA baina aidhim wa mA Ay Hal terdapat ini dalam QS. Al-AnbiyAAo . : 28 berikut: aA aOa eI a eI a eaa a a e aioaOIA e Aa eUa aI aa caeIa a ea a eI aO aa a eia a eI aO a a eiaUaOIa ua a a aIA a a AA Diwan Nabighah al-Dzibyani, 6. Dadang D. Irma R & Yusep M. Desain Analisis Semantik Al-QurAoan Model Ensiklopedik: Kritik atas Model Semantik Toshihiko Izutsu. Jurnal Al-Quds Vol. No. 2, 2020. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 AuDia (Alla. mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka . dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaAoat melainkan kepada orang yang diridhai, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Merenungi Keagungan keseganan Allah swt melalui fenomena. Kesipulan ini yang sejalan dengan uraian Bintusy SyathiAo. Dalam bahasan ini, kata khasyyah bersandingan dengan penjelasan gunung yang akan AukhAsyiAoanAy . dan AumutaadiAoanAy . erpecah bela. Hal ini terdapat dalam QS. Al-Hasyr . 21 berikut: Uo a A a cUUa a eI a ea ai A a aA a ea eaa aa eoa eIA a a AUa aca sE a a a eaa aa aUUa aA AuKalau sekiranya Kami turunkan Al-QurAoan ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada AllahAAy Atau uraian dalam QS. Al-Baqarah . : 74: e A aaOcaua eIA e AA a a a a a eO A a a a aa aaia a a ea e a e aA a aAu a I A a A a aeO U oU aOua I aIa ea aA a A uaa ea aA a AaI ca eU a aaEa ea aA e aAona eaa e a a a ea e aa a oU aO au I a e aa a aa a e acA AoU aO au I a e aa a aa a A a AaI a ea ai A U AuKemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungaisungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada AllahAAy Bersilaturrahmi atau membangun hubungan baik terhadap sesama makhluk. Kata khasyyah dikaitkan dengan kalimat yang mengindikasikan akan hal AA AaOIa aa a a a A a a a aOaIa A a aA aE aOa e eaOIa ac a eI aOaeaOIa aO a eA a Aa ca a a eI aOA AuDan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Ay QS. Ar-RaAod . : 21. Mendirikan ibadah shalat. Dalam hal ini, kata khasyyah terhadap Allah swt bertemu dengan kata AuaqAm a-alAhAy, dalam QS. Fathir . : 18: A Uo a A aA A aOa aO A a Aua aa a e aa aIa a e eaOIa ac a eI caa eaa eA Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. AuSesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya . tidak melihatnya dan yang mengerjakan Ay Takut . akan adanya hari kiamat. Kata khasya terhadap Allah swt bertemu dengan kalimat Aumin al-saAoah musyfiqnAy dalam QS. Al-AnbiyaAo . : 49 berikut: aAU ai a e aioaOIA a AaIa a e eaOIa ac a eI aca eaa eA a A aOa eI aIa aA Au(Yait. orang-orang yang takut . Tuhannya sekalipun mereka tidak melihatnya dan mereka merasa takut akan . hari kiamat. Ay Memakmurkan masjid. Kata khasyyah terhadap Allah dalam hal ini beruntutan dengan faktor-faktor lainnya seperti zakat, shalat, dan beriman. Sebagaimana dalam QS. At-Taubah . : 18: A a a aO a A A A AaI A Aa a eI aIa ac A Aa a A a AA a A nU ea aUA a Aau aa a eU a a aA a Auaa a aOa eI a eA a A au A a a aO e a eO aI eAa a aOaA aO aUaEa a eI auaOaO a Ia a eaaIA AuHanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut . epada siapapu. kecuali kepada Allah. Ay Akibat atau balasan bagi orang yang khasyyah ilA Allah Akan disegerakan mendapat kebaikan-kebaikan. Kata khasyyah dalam hal ini terdapat pada QS. Al-MuAominun ayat 57 dan memang tidak langsung berdampingan pada kata tersebut dalam satu ayat. Namun konklusi tersebut didapatkan dari pemahaman konteks ayat tersebut dengan sesudahnya yang memiliki koherensi sangat kuat. Pada rentetan ayat tersebut, berbicara tentang orang-orang yang akan disegerakan mendapatkan kebaikan dan bermuara pada QS. : 61. Mendapat kebahagiaan berupa ampunan dan ganjaran yang mulia. QS. Yaasin : 11 c aA nU eacA A eaNa ca a eai aas aOa se u aa sIA Aa A a A e aIa caa eaa eA a Aua aa a e aa a aI ca aO ac eu a aO aA AuSesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan, yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Ay At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 Hati yang bertaubat. QS. Qaf . : 33 AuYaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan . dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Ay Menjadikan seseorang menuju ketaatan, ketakwaan, dan termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung . , dalam QS. An-Nur . : 52. a aOa eo a eaEaO aUaEa a aI eiaaU aaOIA A A AaO a eI aa aO A a Aa aO aaOaa aOa eA AuDan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. Ay Mendapat ridha Allah swt. QS. Al-Bayyinah . : 8 a acA a AU e a eI aO aaOA a a a aA A a AU ea oU aaEa a a eI aA a AA AuAAllah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridah kepada-Nya. Itu adalah . bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Ay Akibat terhadap segi fisik, yakni kulit orang akan gemetar. Dalam QS. AzZumar ayat 23 Uo a a A a eoA AU a a ea aaO a aIa a e eaOIa ac a eI u a I a aIa aaO aa eI aOaaOca a eI uaa a eu a A Oleh karenanya, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika menginat AllahAAy Disempurnakan berbagai kenikmatannya. Sebagaimana dalam QS. AlBaqarah . : 150: e Aea a a e eaOa eI aOA aAUa eua eI aOaUaua eI a eaaOIA a A eaOa aO a I a eU a AuMaka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk. Diberi rasa tidak akan takut kepada selain Allah. Maksudnya, orang yang a tidak akan memiliki rasa khasyyah ila Allah, maka ia tidak Aua AAya e eaOIa a aU ua A takut kecuali kepada Dia. a AA U a a a Aa aOa e eaOaa aO a a e eaOIa a aU ua A A A a AaIa aca acaaOIa aA Au(Yait. orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorangpun selain kepada AllahAAy Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. Dalam tingkatan ini pula, seseorang tidak akan mudah merasa tersakiti dengan atensi negatif dari orang lain, seperti hinaan dan kritikan yang menjatuhkan. Justru mereka tidak akan menghiraukan segala yang dirasa tidak esensial bagi dirinya, sebab hal itu sia-sia. Cukuplah dia disibukkan dengan hal-hal yang berorientasikan ibadah kepada Allah swt. Sebabnya, ia tidak akan merasa takut kepada semua makhluk, melainkan hanya Allah swt semata. Kedua, khasyyah dalam Al-QurAoan juga berkoheresi dengan kata AukhaufAy dan AiA A UAAyang berarti . eturunan yang lema. , 35 seperti terungkap dalam QS. An-Nisa . a A aUaeUa aaeaOA a UA aIa a eO aauaO a eI a e ai a eI a a ciA a AAO e a eA a AUa e a eI ea e aoaO A AuHendaklah takut orang-orang yang andaikan meninggalkan keturunan yang lemah di belakang . mereka maka mereka mengkhawatirkannya, maka hendaklah mereka juga takut kepada AllahA. Ay Perlu digaris bawahi juga pada konteks ayat tersebut kata A aauaO a eI a e ai a eIAyang ditafsirkan oleh para ulama, seperti Ath-Thabari. Fakhruddin Ar-Razi, dan Quraish Shihab, memaknainya dengan meninggal dunia. Kalimat tersebut bertemu dengan kata khasyyah yang secara mandiri, kalimat tersebut juga dapat dimaknai dengan makna ketertinggalan dan keterbelakangan sebagai sebuah ketakutan. Ketiga: Kata khasyyah juga berkaitan dengan kata A UaAsebagaimana ditemukan dalam QS. Fathir . : 28: U AU aA AOA a AA U aiA a a A a eI aU aca a aN e aUa aa a U au I A a Aau aa a ea A AuASesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha pengampun. Ay Ali Ash-Shabuni menguraikan bahwa ulama adalah orang yang rasa takutnya kepada Allah sangat mendalam. Sayyid Quthub memahami ulama sebagai orang yang Nasaruddin Umar, 40 Seni Hidup Bahagia. Berdasarkan Tuntunan Al-QurAoan. As-Sunnah Dan Salafush-Shaalih (Semarang: Pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia, 2. , 236Ae237. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan. Kesan. Dan Keserasian Al-QurAoan. Jilid 2. (Jakarta: Lentera Hati, 2. , 254Ae55. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 senantiasa berpikir kritis tentang Al-QurAoan. Sementara Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulama adalah mereka yang sungguh-sungguh mengenal Allah sehingga takut kepadaNya. 36 Maka benar bahwa orang yang lebih sungguh merasa takut kepada Allah swt ialah hanya ulama. Keempat, kata khasyyah dalam Al-QurAoan juga berrelasi dengan kata A UAyang berarti kesulitan, 37 As-Suyuthi memaknai kata Aoanat sebagai masyaqqah atau kepayahan. Kata tersebut terungkap dalam QS an-Nisa . : 25 berikut ini: AO aa UIA a e a Aa e aUaa a eua eI oU aO a eI A U aiA a A ac aO a Ue aua eI U aO A a aEa a a eI aA Kebolehan menikahi budak perempuan itu bagi orang yang takut. Kelima, kata khasyyah juga berkaitan dengan kata A( aEAberperan. ,39 seperti terdapat dalam QS an-Nisa . : 77 : U AUa e a aI e ao aa aE aua ea aA Uo UA a e aiA a a Aa a eO A Aa au a e a ai A a a a Aeaa a uaA a An a e a eI a e eaOIa A Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka . takut kepada manusia . seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Keenam, kata khasyyah berkaitan dengan kata AuyaAoisaAy yang bermakna rasa Auputus asaAy. 40 Seperti terungkap dalam QS. Al-Maidah . : 3 berikut: e Aa aIa aui aaO a eI aaua eI ea a ea eaOa eI aOA Uo A eaO aIA a A e a eO aI aUA Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa untuk . agama kamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka, takutlah kepada-Ku. Ketujuh, kata khasyyah dalam Al-QurAoan juga berelasi dengan kata "A"ca UA . akut mendapat bencan. , 41 dalam QS. Al-Maidah . : 52. Allah Swt. Badruddin Hsukby. Dilema Ulama Dalam Perubahan Zaman (Jakarta: Gema Insani Press, 1. , 45Ae46. Abu JaAofar Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari Terj. (Putaka Azzam, n. ), 769. Jalaluddin As-Suyuthi. Tafsir Al-Jalalin pada Hasyiyyah al-Shawi (Beirut: Dar al-Fikr, 2. Abu JaAofar Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Al-abar. JAmiAo Al-BayAn Aoan Ta`wl Ay Al-Qur`An Jilid. 5 (Beirut: Muassasah a-RisAlah, 1. , 572. Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan. Kesan. Dan Keserasian Al-QurAoan, 14. Al-Alsi. Rh Al-Ma`An Jilid. 19 (Beirut: DAr IuyA al-TurAtats al-`Arab, n. ), 22. Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. Uo U Aca aU a U Aea aaO aIa ea aaOca a eI a aA a a AaUaOIa ea a eI aoaOaOIa a e a a eI A a aA A a AA Maka engkau melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya bersegera mendekati mereka seraya berkata: AuKami takut mendapat bencanaAy. Kedelapan: Kata khasyyah berelasi dengan kata AuA AynAyang bermakna memaksa. Sebagaimana dalam QS. Al-Kahfi ayat . : ayat 80: AaO a a eaa a aI ea auaIa aca aONa ae a a aeI ea a a eI ea aoa a aa a eaUa aOua ei UA AuAdapun anak itu . ang aku bunu. , kedua orang tuanya mukmin dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk durhaka dan kufur. Ay Berkaca dari hasil penelusuran makna relasional dari kata khasyyah dalam Al- QurAoan tersebut, maka ditemukan beberapa makna yang diungkap dalam medan Makna tersebut secara detail dapat dilihat pada tabel berikut ini: Kesulitan . Memaksa AiA Khawatir Mendatangkan Bencana Putus Asa Bagan II: Medan semantik kata khasyyah dalam Al-QurAoan. Hasil penelusuran medan semantik tersebut menunjukkan bahwa konsep maknanya tidak berdiri secara tunggal pada dimensi rasa takut semata, melainkan berkembang menjadi sejumlah relasi makna yang lebih luas dan kompleks. Kata ini secara relasional berkaitan erat dengan kondisi-kondisi psikologis maupun situasional yang bersifat menekan, seperti kepayahan . , paksaan, kekhawatiran, potensi datangnya bencana, hingga keadaan putus asa. Ragam makna tersebut merefleksikan intensitas rasa takut yang tidak hanya emosional, tetapi juga mengandung aspek kognitif. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 eksistensial, bahkan konsekuensi sosial. Dengan demikian, khasyyah tampil sebagai istilah yang memadukan dimensi ketakutan yang mendalam terhadap superioritas ilahiah sekaligus pengakuan akan kelemahan manusia di hadapannya. Kompleksitas relasional inilah yang menjadi fondasi bagi pembahasan lebih jauh mengenai konsep makna khasyyah dalam Al-QurAoan, yang meniscayakan pemahaman multi-lapis terhadap karakteristik spiritual dan moral manusia, khususnya umat muslim. Konstruksi Makna Khasyyah dalam Al-QurAoan Sesuai dengan makna dasarnya, kata khasyyah dalam Al-QurAoan diungkapkan dalam beragam konteks, seperti himbauan, pelarangan, proteksi, word affirmation berupa penguatan agar berani menghadapi musuh, peringanan hukum, dan lainnya. Kesemuanya berbicara rasa takut oleh manusia secara mayor. Selain itu, pemakaian kata ini yang merujuk kepada sesuatu yang positif juga dapat syiAoir Jahiliyyah. Kata khasyyah memiliki makna yang bernada afirmasi positif, seperti halnya dalam syiAoir di atas dimana penggunaan kata khasyyah menunjukkan kata takut akan kehilangan harga diri, bukan makna takut terhadap musuh. Kata khasyyah dalam Al-QurAoan berbicara tentang banyak hal dan dalam berbagai tashawur . Mayoritas ayat yang menyertakan kata tersebut berbicara masalah konteks takut dan tunduk kepada Allah yang berorientasi kepada pengajaran tentang keagungan, kekuasaan, tanda-tanda Allah, serta kemurahan Allah. Selain itu, kata khasyyah dalam Al-QurAoan juga berisi tentang ketakutan yang disertai ketundukan dan penghormatan serta kesadaran yang amat mendalam terhadap kebesaran Allah yang biasanya dirasakan oleh orang-orang beriman dan berilmu . Rasa takut disini tidak hanya berhubungan dengan rasa AU a a ea aaO aA a A( a eoAgemeta. , namun rasa patuh yang mendalam terhadap kuasa dan keadilan Allah, serta kesadaran akan konsekuensi dari tindakan di dunia. Dari kajian kata khasyyah dalam Al-QurAoan, dapat diketahui pentingnya taat dan taqwa kepada Allah swt dalam meningkatkan rasa takut dan tunduk kepada-Nya. Kepatuhan yang sungguh kepada-Nya akan melahirkan berbagai benefit sebagaimana diuraikan dalam diskusi ini, yakni mendapatkan kebaikan-kebaikan, mendatangkan hati yang tenang dan bertaubat, balasan yang mulia, serta yang paling hebat adalah ketika seseorang sudah pandai untuk takut dan patuh kepada Allah swt, maka ia tidak akan Analisis Konstruksi Makna Kata Khasyyah Perspektif Al-QurAoan (Sebuah Tinjauan Semantik Ensiklopedi. (Muhamad Khabib Imda. merasa takut kepada apapun dan siapapun kecuali kepada-Nya. Dengan cara merenungi Keagungan-Nya, menunaikan segala perintahnya . eperti shalat dan zaka. , mengimani dengan yakin bahwa Allah Maha Melihat dan segala Sifat Agung lainnya, dan menjalin hubungan baik dengan sesama, yakni dengan silaturrahmi. Maka mengkaji kata khasyyah ini menjadi penting dalam meningkatkan aspek keimanan kita sebagai hamba Allah swt yang senantiasa ingin taat dan patuh terhadap-Nya. Conclusion Diskusi ini menelurkan beberapa butir temuan bahwa makna dasar khasyyah adalah rasa takut yang paling tinggi serta disertai adanya rasa segan dan takjub atas apa yang ditakutinya. Kata khasyyah dalam Al-QurAoan diungkapkan dalam beragam konteks, seperti himbauan, pelarangan, pro, word affirmation berupa penguatan agar berani menghadapi musuh, peringnanan hukum, dan lainnya. Beragam pemaknaan kata khasyyah pada esensinya adalah membawa misi kepatuhan manusia kepada Allah swt disertai dengan rasa kagum atas kekuasaan dan keagunganNya. Sementara analisis kata khasyyah dalam Al-QurAoan dengan metodologi semantik ensiklopedik memunculkan beberapa rantai makna yang lebih panjang. Yakni pertama: kata khasyyah yang berkaitan dengan dzat Allah swt, meliputi . aspek pendorong rasa takut kepada-Nya, yakni iman kepada Allah swt dan hari akhir, merenungi keagungan- Nya, menjaga konsistensi ibadah, menjaga hubungan baik dengan makhluk lain, dan bertalian dengan masjid, . akibat dari adanya rasa khasyyah pada diri seseorang, yakni disegerakan mendapat kebaikan, ampunan, dan ganjaran yang mulia, hati yang lembut dan sering bertaubat, taat, takwa, dan termasuk dalam orang-orang yang beruntung . , mendapat ridha Allah swt, dan diberikan rasa tidak takut kecuali terhadap Allah swt. kedua: bermakna khauf . , ketiga: mendatangkan bencana, keempat: kesulitan, kelima: putus asa, dan keenam: memaksa. Bibliography AoAisyah AoAbdurrahman. Tafsir Bintusy-SyathiAo. Bandung: Mizan, 1996. Abdul Chaer. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 1990. Abdullah MuAoafa. AuPendekatan Linguistik Dalam Penafsiran Al-QurAoan: Upaya AoMenjernihkanAo Konsep Linguistik Sebagai Teori Dan Metode. Ay JIE: Journal Islamic Review 1, no. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Interpretation. Volume 2. Number 2. Desember 2025 Abu Al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya. MuAojam Maqayis Al-Lughah. Kairo: Dar al-Fikr. Ahmad Sabeni. AuPendekatan Linguistik Dalam Kajian Pendidikan Islam (Analisa Studi Pustak.