ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan Mochamad Aris Firmansyah1. Deny Ary Septian Lazuardi2 Program Studi hukum tata negara. Univeristas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Program Studi Teknik Informatika. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang e-mail: 1 mocharis595@gmail. com 2 denyaryseptianl@gmail. Abstract The collaborative program of KKM Arthaswara 52 UIN Malang with the residents of Krajan Hamlet. Slamparejo Village. Jabung District. Malang Regency, integrated environmentalbased community education to increase resilience to landslides. The main activities included disaster mitigation socialization at Slamparejo 01 Elementary School, attended by 75 elementary school children, with materials on slope evacuation simulations, landslide sign recognition, and the role of vegetation through interactive games. At the village level, mitigation was carried out through planting 60 fruit trees such as mango and rambutan on erosion-prone land to strengthen soil structure and support food security. Meanwhile, in the community environment, planting 70 TOGA . urcuma, ginger, turmeri. seedlings in home yards aimed to raise public awareness of natural health remedies, reduce dependence on chemical drugs, and improve health amidst disaster risks. The results showed an 80% increase in awareness among children and residents, strengthening the university-community collaboration model for disaster-prone villages in East Java. Keywords : KKM Arthaswara 52, environmental education, disaster mitigation, fruit tree planting. TOGA Abstrak Program kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dengan warga Dusun Krajan. Desa Slamparejo. Kecamatan Jabung. Kabupaten Malang, mengintegrasikan pendidikan masyarakat berbasis lingkungan guna meningkatkan ketahanan terhadap bencana longsor. Kegiatan utama mencakup sosialisasi mitigasi bencana di SD Slamparejo 01 yang diikuti 75 anak SD, dengan materi simulasi evakuasi lereng, pengenalan tanda longsor, dan peran vegetasi melalui permainan interaktif. Di tingkat desa, penanggulangan dilakukan melalui penanaman 60 pohon buah seperti mangga dan rambutan di lahan rawan erosi untuk memperkuat struktur tanah dan mendukung ketahanan pangan. Sementara itu, di lingkungan masyarakat, penanaman 70 bibit TOGA . emulawak, jahe, kunyi. di pekarangan rumah bertujuan menyadarkan masyarakat akan obat kesehatan alami, mengurangi ketergantungan obat kimia, dan meningkatkan kesehatan di tengah risiko bencana. Hasil menunjukkan peningkatan kesadaran 80% di kalangan anak dan warga, memperkuat model kolaborasi perguruan tinggi-masyarakat untuk desa rawan bencana di Jawa Timur. Kata kunci: KKM Arthaswara 52, pendidikan lingkungan, mitigasi bencana, penanaman pohon TOGA PENDAHULUAN Daerah pedesaan yang memiliki kontur wilayah berbukit serta intensitas curah hujan yang tinggi cenderung menghadapi risiko bencana tanah longsor yang cukup besar. Desa Slamparejo yang berada di Kecamatan Jabung. Kabupaten Malang, khususnya Dusun Krajan, termasuk wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tersebut akibat kondisi lereng. Potensi longsor yang terjadi tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berdampak serius terhadap keselamatan masyarakat, stabilitas kehidupan sosial, keberlangsungan aktivitas pendidikan, serta kondisi ekonomi dan kesehatan warga desa. Diperlukan langkah-langkah Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 mitigasi yang bersifat pencegahan dan berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi aktif Upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan secara efektif melalui penerapan pendidikan masyarakat yang berorientasi pada lingkungan. Pendekatan ini berperan penting dalam membangun pengetahuan, membentuk sikap, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih siap dalam menghadapi ancaman bencana. Peningkatan kapasitas masyarakat tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan memerlukan proses edukasi yang berkesinambungan, dimulai sejak usia dini dan diperkuat melalui penerapan langsung di lingkungan sekitar. Dalam konteks wilayah rawan longsor, integrasi antara pendidikan mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan menjadi strategi yang relevan untuk mewujudkan ketahanan masyarakat secara menyeluruh. Berdasarkan latar belakang tersebut, program kolaboratif Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arthaswara 52 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dilaksanakan bersama masyarakat Dusun Krajan. Desa Slamparejo sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan aspek edukasi, lingkungan, dan kesehatan. Program ini difokuskan pada peningkatan kesadaran serta keterlibatan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana longsor melalui sinergi antara perguruan tinggi, institusi pendidikan, dan masyarakat Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu berperan sebagai penggerak perubahan sekaligus penyambung informasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif. Pada level pendidikan dasar, kegiatan sosialisasi mitigasi bencana dilaksanakan di SD Slamparejo 01 dengan melibatkan 75 siswa sebagai peserta. Anak-anak dipilih sebagai sasaran utama karena memiliki posisi strategis sebagai generasi penerus dan berpotensi menjadi penyampai informasi di lingkungan keluarga masing-masing. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan ciri-ciri awal terjadinya longsor, simulasi evakuasi di wilayah lereng, serta pemahaman tentang peran vegetasi dalam menjaga kestabilan tanah. Metode penyampaian dilakukan melalui permainan edukatif dan simulasi sederhana agar materi mudah dipahami serta mampu menumbuhkan sikap siaga terhadap bencana sejak dini. Selain pendekatan edukatif, program ini juga melaksanakan upaya mitigasi berbasis lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon pada area yang rentan terhadap erosi. Sebanyak 60 pohon buah, seperti mangga dan rambutan, ditanam dengan tujuan memperkuat struktur tanah, menekan potensi longsor, sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. Pemilihan jenis tanaman buah mempertimbangkan aspek ekologis dan sosial, sehingga kegiatan mitigasi tidak hanya berorientasi pada aspek kebencanaan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan warga desa. Pada tingkat rumah tangga, penguatan ketahanan masyarakat diwujudkan melalui penanaman 70 bibit Tanaman Obat Keluarga (TOGA), antara lain temulawak, jahe, dan kunyit, di pekarangan rumah warga. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan alami, khususnya dalam kondisi darurat bencana ketika akses terhadap layanan kesehatan dan obatobatan modern terbatas. Selain itu, keberadaan TOGA di lingkungan rumah diharapkan mampu berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan sekaligus mendorong kemandirian Secara umum, pelaksanaan program kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang menunjukkan peningkatan tingkat kesadaran hingga 80% di kalangan siswa sekolah dasar dan masyarakat Dusun Krajan terhadap pentingnya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pengintegrasian pendidikan masyarakat berbasis lingkungan dengan kegiatan nyata di lapangan dapat menjadi model pengabdian yang efektif bagi desa rawan bencana. Dengan demikian, program ini berpotensi menjadi contoh sinergi Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana, khususnya di wilayah Jawa Timur. METODE PENELITIAN Metode Sebagai bagian dari inisiatif kelompok Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) 52 arthaswara Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, sebuah proyek yang bertujuan untuk integrasi pendidikan dilingkungan yang sedang berjalan di Dusun Krajan. Desa Slamparejo. Kecamatan Jabung. Kabupaten Malang. Bagan berikut akan menggambarkan tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya. Metode yang diterapkan dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat melalui Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) Observasi Mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) melaksanakan observasi secara langsung di lokasi pengabdian sebagai langkah awal untuk memperoleh data dan informasi mengenai potensi yang dimiliki Kegiatan observasi ini dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan guna mencermati secara mendalam berbagai kondisi dan aspek yang ada di desa. Data serta informasi yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar dalam penyusunan dan pelaksanaan program pengabdian agar selaras dengan kebutuhan masyarakat setempat. Melalui penerapan metode observasi tersebut, mahasiswa KKM diharapkan mampu memahami kondisi desa secara menyeluruh, sehingga kontribusi yang diberikan dalam upaya pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran. Wawancara Mahasiswa yang mengikuti program Kuliah Kerja Masyarakat (KKM) melaksanakan kegiatan pengamatan langsung di lokasi pengabdian sebagai upaya untuk menghimpun data serta informasi mengenai potensi yang dimiliki oleh desa. Pengamatan ini dilakukan dengan keterlibatan langsung di lapangan guna menelaah secara rinci berbagai kondisi dan aspek yang ada di wilayah desa. Informasi yang diperoleh selanjutnya dijadikan sebagai landasan dalam merancang dan melaksanakan program pengabdian yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Dengan menggunakan metode observasi tersebut, mahasiswa KKM diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai kondisi desa, sehingga peran dan kontribusi yang diberikan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat berlangsung secara optimal dan tepat guna. Pemanfaatan lahan Pemanfaatan lahan digunakan sebagai salah satu metode dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengoptimalkan lahan kosong dan area rawan erosi di lingkungan desa. Metode ini dilakukan melalui pengelolaan lahan secara produktif dengan menanam pohon buah dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang disesuaikan dengan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi ekologis lahan, memperkuat struktur tanah, serta memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan bagi Melalui metode pemanfaatan lahan ini, mahasiswa KKM bersama masyarakat secara aktif terlibat dalam upaya mitigasi bencana berbasis lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan lahan tidak hanya berorientasi Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 pada pengurangan risiko longsor, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sebagai bagian dari ketahanan desa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program kolaborasi Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arthaswara 52 UIN Malang di Dusun Krajan. Desa Slamparejo, menunjukkan bahwa integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan merupakan pendekatan yang relevan dalam konteks wilayah rawan bencana longsor. Hasil kegiatan memperlihatkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana serta pentingnya pengelolaan lingkungan secara Temuan ini sejalan dengan penelitian Sutarman et al. yang menyatakan bahwa pendidikan mitigasi bencana berbasis komunitas mampu memperkuat ketahanan masyarakat desa. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh materi edukasi, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan. Kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan lembaga pendidikan dasar menjadi faktor pendukung utama dalam keberlangsungan program. Dengan demikian, kegiatan KKM berperan sebagai katalisator dalam proses pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa sebelum program dilaksanakan, sebagian besar masyarakat Dusun Krajan belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai tanda-tanda awal tanah longsor dan langkah mitigasi sederhana. Kondisi ini serupa dengan temuan Sudirman et al. yang mengungkapkan rendahnya literasi kebencanaan di wilayah pedesaan rawan bencana. Melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi Proses edukasi tidak dilakukan secara satu arah, melainkan melalui dialog dan diskusi yang melibatkan pengalaman lokal warga. Pendekatan ini membuat materi lebih kontekstual dan mudah diterima oleh masyarakat. Dengan demikian, pendidikan masyarakat berbasis lingkungan terbukti efektif ketika disesuaikan dengan kondisi sosial dan geografis Selama masa KKM, mahasiswa akan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan. Fokus utama kegiatan ini meliputi beberapa aspek penting, yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan masyarakat Dusun krajan. Partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat setempat dan juga menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa. Adapun selama pelaksanaannya mahasiswa KKM yang berfokus pada beberapa aspek sebagai Sosialisasi mitigasi bencana di SDN 01 SLAMPAREJO Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 Pada tingkat pendidikan dasar, kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di SD Slamparejo 01 memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan Sebanyak 75 siswa yang terlibat menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti simulasi dan permainan edukatif yang disiapkan mahasiswa KKM. Anak-anak diposisikan sebagai agen perubahan yang mampu menyebarkan informasi mitigasi bencana kepada keluarga mereka. Hal ini sejalan dengan temuan Yunitasari et al. yang menekankan pentingnya edukasi kebencanaan sejak usia dini. Pendidikan mitigasi pada anak terbukti mampu membentuk sikap siaga dan peduli lingkungan secara jangka panjang. Oleh karena itu, integrasi pendidikan kebencanaan di sekolah dasar menjadi strategi yang efektif dalam membangun ketahanan masyarakat. Penanaman pohon buah Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 Selain aspek edukatif, hasil program menunjukkan bahwa pendekatan mitigasi berbasis lingkungan melalui penanaman pohon memiliki kontribusi nyata terhadap upaya pengurangan risiko longsor. Penanaman 60 pohon buah di area rawan erosi tidak hanya bertujuan memperkuat struktur tanah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan konsep mitigasi berbasis ekologi yang dikemukakan oleh Saputra et al. , di mana pelestarian lingkungan menjadi bagian integral dari manajemen bencana. Keterlibatan masyarakat dalam proses penanaman meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan program. Selain itu, pemilihan tanaman buah dinilai strategis karena memiliki nilai ekologis dan sosial. Dengan demikian, mitigasi bencana dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan Penanaman TOGA Hasil kegiatan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di tingkat rumah tangga menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan berbasis lingkungan. Sebanyak 70 bibit TOGA ditanam di pekarangan warga sebagai bentuk penguatan ketahanan kesehatan keluarga. Inisiatif ini relevan dengan temuan Eraku et al. yang menyatakan bahwa penguatan kearifan lokal dan pemanfaatan sumber daya alam dapat meningkatkan resiliensi masyarakat. TOGA tidak hanya berfungsi sebagai alternatif pengobatan alami, tetapi juga sebagai media edukasi kesehatan keluarga. Dalam konteks bencana, keberadaan TOGA menjadi solusi adaptif ketika akses layanan kesehatan Oleh karena itu, integrasi aspek kesehatan dalam pendidikan lingkungan memperkuat ketahanan masyarakat secara holistik. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, diperoleh informasi bahwa pendekatan partisipatif menjadi faktor kunci keberhasilan program KKM. Masyarakat merasa dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, sehingga muncul rasa kepemilikan terhadap program. Temuan ini mendukung penelitian Saputra et al. yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan risiko Partisipasi aktif juga mendorong keberlanjutan program setelah mahasiswa KKM Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 selesai melaksanakan pengabdian. Dengan demikian, peran mahasiswa tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan dampak yang Dari sisi perubahan perilaku, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kesadaran hingga 80% di kalangan siswa dan masyarakat terkait pentingnya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. Peningkatan ini terlihat dari perubahan sikap masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi aktivitas yang berpotensi memperparah Temuan ini sejalan dengan Sutarman et al. yang melaporkan peningkatan signifikan dalam kesiapsiagaan masyarakat pasca-edukasi mitigasi bencana. Perubahan perilaku menjadi indikator penting keberhasilan pendidikan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang dikombinasikan dengan praktik langsung lebih efektif dibandingkan penyampaian teori semata. Oleh karena itu, pendekatan learning by doing perlu terus dikembangkan dalam program pengabdian masyarakat. Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan dalam program KKM juga berkontribusi terhadap penguatan solidaritas sosial di Dusun Krajan. Kegiatan bersama seperti penanaman pohon dan TOGA memperkuat interaksi sosial antarwarga. Kondisi ini mendukung temuan Eraku et al. yang menyatakan bahwa kegiatan berbasis komunitas mampu memperkuat kohesi sosial. Solidaritas sosial menjadi modal penting dalam menghadapi bencana, terutama dalam proses evakuasi dan pemulihan pascabencana. Dengan adanya rasa kebersamaan, masyarakat lebih siap untuk saling membantu dalam situasi darurat. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga pada aspek sosial. Dalam konteks peran perguruan tinggi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKM mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik lapangan yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini sejalan dengan Sudirman et al. yang menekankan peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat berbasis edukasi. Mahasiswa tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga belajar dari kearifan lokal masyarakat. Proses ini menciptakan pertukaran pengetahuan yang bersifat dua arah. Dengan demikian, kegiatan KKM menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dan masyarakat. Hasil pembahasan juga menunjukkan bahwa integrasi antara pendidikan, lingkungan, dan kesehatan memberikan dampak yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan sektoral. Program yang menggabungkan edukasi mitigasi, penanaman pohon, dan TOGA mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat secara simultan. Pendekatan ini sejalan dengan Yunitasari et al. yang menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam mitigasi bencana. Dengan mengintegrasikan berbagai aspek, program KKM mampu meningkatkan ketahanan masyarakat secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat perlu dirancang secara holistik. Oleh karena itu, integrasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program serupa di masa mendatang. Dari aspek keberlanjutan, masyarakat Dusun Krajan menunjukkan komitmen untuk melanjutkan kegiatan yang telah dirintis mahasiswa KKM. Hal ini terlihat dari kesediaan warga untuk merawat tanaman yang telah ditanam dan melanjutkan edukasi kebencanaan secara mandiri. Temuan ini mendukung hasil penelitian Saputra et al. yang menyatakan bahwa keberlanjutan program bergantung pada keterlibatan dan komitmen Keberhasilan program KKM tidak hanya diukur dari output jangka pendek, tetapi juga dari dampak jangka panjang. Oleh karena itu, pendampingan awal yang intensif menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kemandirian masyarakat. Dengan demikian, program KKM dapat menjadi model pengabdian yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dengan masyarakat Dusun Krajan berhasil mengintegrasikan pendidikan masyarakat berbasis lingkungan secara efektif. Program ini mampu meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perubahan perilaku Kolaborasi KKM Arthaswara 52 UIN Malang dan masyarakat dusun Krajan Desa Slamparejo dalam Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan (Mochamad Aris Firmansyah dk. ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat ISSN: 2745 - 8938 Vol. No. April 2026 masyarakat dalam menghadapi risiko bencana longsor. Temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya pendidikan dan partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana (Sutarman et al. , 2025. Sudirman et al. , 2. Dengan pendekatan partisipatif dan kontekstual, program KKM memberikan dampak yang nyata dan Model kolaborasi ini layak untuk direplikasi di wilayah rawan bencana Integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan terbukti menjadi strategi efektif dalam membangun desa tangguh bencana. KESIMPULAN Program KKM Arthaswara 52 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Dusun Krajan. Desa Slamparejo, integrasi pendidikan masyarakat berbasis lingkungan merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan ketahanan desa rawan bencana longsor. Dari aspek pendidikan, kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan secara partisipatif, khususnya di tingkat sekolah dasar, terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapsiagaan siswa serta masyarakat terhadap risiko bencana. Pendidikan kebencanaan sejak dini berperan penting dalam membentuk sikap siaga dan menumbuhkan budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. Dari aspek lingkungan, upaya mitigasi melalui penanaman pohon buah dan pengelolaan lahan rawan erosi memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat struktur tanah dan mengurangi potensi longsor. Pendekatan mitigasi berbasis ekologi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat tidak hanya berdampak pada pengurangan risiko bencana, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Sementara itu, dari aspek kesehatan, pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di tingkat rumah tangga memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat bencana. Keberadaan TOGA meningkatkan kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan serta mengoptimalkan potensi sumber daya lokal. Secara keseluruhan, sinergi antara pendidikan, lingkungan, dan kesehatan dalam program KKM ini mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat secara holistik, meningkatkan solidaritas sosial, serta menjadi model pengabdian masyarakat yang berkelanjutan bagi desa rawan bencana. UCAPAN TERIMAKASIH