Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain Volume 2 Nomor. 4 Juli 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 DOI: https://doi.org/10.62383/abstrak.v2i4.655 Available Online at: https://journal.asdkvi.or.id/index.php/Abstrak Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur 1-2 Zahra Salsabila1*, Onggal Sihite2 Universitas Negeri Medan, Indonesia Korespondensi penulis: zhsa.salsabila@gmail.com* Abstract. This photographic work showcases the everyday expriences of the punk youth community in Glugur Dara I Subdistrict, East Medan District, by employing a human interest documentation approach. The photography’s subject and main focus was the punk community, drawn from the author’s daily life in Medan City, where street musicians frequently perform at traffic intersections. The writer became interested in a set of entertainers whose looks and traits were remarkably unique—they belong to the Glugur punk community. These punk youths generally work as street performers and showcase their preferred lifestyle through punk clothing and adornments. The goal of this work is to artistically depict the symbols, attire, and identity of the punk community from a humanistic visual angle. The creative process consists of three main stages: pre-production, production, and post-production. The outcome of this project is a series of twelve photographic pieces under various titles, each capturing the punk community’s everyday life filled with freedom of expression, solidarity, and creative endeavors—highlighting their subcultural identity within an urban context. Keywords: Human Interest Photography, Punk Community, Visual Expression. Abstrak. Penciptaan karya fotografi ini mempresentasikan kehidupan sehari-hari komunitas anak punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur melalui dokumentasi dengan pendekatan Human Interest. Komunitas punk di pilih sebagai subjek sekaligus fokus utama fotografi berdasarkan latar keseharian penulis di Kota Medan, yang sering menyaksikan kehadiran para pengamen jalanan di perismpangan lampu merah. Perhatian penulis tertuju pada sekelompok pengamen yang tampil dengan atribut berbeda—mereka adalah komunitas punk Glugur. Anak punk Glugur umumnya menjalani profesi sebagai pengamen jalanan sambil mengenakan atribut dan berdandan dalam gaya punk sebagai bentuk gaya hidup yang mereka pilih secara sadar. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menampilkan potret artistik yang memuat simbol, atribut, dan gaya busana komunitas punk secara humanis. Metode penciptaan yang digunakan terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasil penciptaan ini berupa dua belas karya fotografi dengan berbagai judul yang menunjukkan kehidupan komunitas punk yang sarat akan kebebasan berekspresi, nilai solidaritas, serta aktivitas produktif keseharian yang mencerminkan identitas subkultur punk. Kata kunci: Fotografi Human Interest, Komunitas Punk, Ekspresi Visual. 1. LATAR BELAKANG Globalisasi memiliki pengaruh dalam kemudahan akses informasi, pertukaran budaya, dan ideologi dari berbagai belahan dunia ke kota-kota besar. Pengaruh dari globalisasi terhadap kehidupan urban adalah dengan terciptanya subkultur baru sebagai bentuk perlawanan atau alternatif terhadap budaya utama. Jenks, (2005:7-10). Salah satu contoh subkultur yang ada di kota adalah gerakan punk. Berdasarkan serial dokumenter BBC “Punk Britannia”, gerakan punk muncul di Inggris sebagai perlawanan terhadap mainstream dan konformitas sosial, pada akhir tahun 1970-an. Gerakan ini didorong oleh kekecewaan terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada masa itu. Arti kata punk itu sendiri berasal dari kata “Public United Not Kingdom” yang berarti kesatuan suatu masyarakat di luar kerajaan (Inggris). Gerakan punk di Inggris dimulai dengan munculnya musik underground serta band kontroversial seperti Sex Received: April 12, 2025; Received: Mei 16, 2025; Accepted: Juni 11, 2025; Online Available: Juni 13, 2025 Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Pistols yang menjadi ikon gerakan dengan merilis lagu-lagu seperti, “Anarchy In The UK” dan “God Save The Queen” yang mengkritik pemerintah dan monarki Inggris. Menurut Widya, (2017:117-118), terdapat tiga pengertian tentang punk. Pertama, punk didefinisikan sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk diartikan sebagai individu yang berani memberontak, memperjuangkan kebebasan, dan melakukan perubahan. Ketiga, punk dianggap sebagai bentuk perlawanan yang luar biasa karena mampu menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan budaya mereka sendiri. Menurut Kristianto, (2019:1-19) Gaya berpakaian atau fashion yang dikenakan oleh komunitas punk adalah salah satu bentuk komunikasi. Komunikasi melalui fashion, pakaian, dan aksesori yang digunakan juga merupakan interaksi simbolik sosial yang mencerminkan penafsiran. Menurut Karim, (2021:96-100) Komunitas anak punk di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan beragam. Mereka muncul pada awal 1990-an, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya. Kehadiran punk di Indonesia banyak dipengaruhi oleh liputan media, skena musik, serta fashion punk yang dibawa melalui film. Pengadopsian subkultur tanpa pengolahan atau secara mentah menyebabkan citra punk sering kali dipandang negatif, karena berujung perilaku yang berlebihan. Menurut Nando dalam Azmi, (2022:196-198), ia menyampaikan argumen tentang pandangan masyarakat terhadap komunitas punk. Menurutnya, masyarakat Indonesia umumnya mengidentifikasi anak punk melalui penampilan yang berbeda, seperti pakain kumal, jaket bertaji, celana ketat, sepatu boots, dan rambut mohawk. Stereotip ini melekat pada anak punk di masyarakat bahwa dengan penampilan seperti itu mereka selalu berandalan, merusak, dan sering kali membuat kekacauan, terutama bagi anak punk yang sering berkumpul di pinggir jalan. Di kelurahan Glugur, Kecamatan Medan Timur, komunitas anak punk telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka biasanya hidup berkelompok, berkumpul di persimpangan jalan atau tempat-tempat umum lainnya, untuk mengamen. Belum tahu siapa yang memulai gerakan tersebut, namun identitas mereka sangat berbeda dengan pengamen jalanan lainnya, baik dalam hal pakaian, gaya rambut, body piercing, maupun tato di tubuh mereka. Hal yang membuat mereka sama dengan pengamen jalanan lainnya adalah bahwa lagu dan musik yang mereka mainkan yaitu musik yang sedang popular dan cenderung melankolis, dengan berbekal alat musik seadanya seperti ukulele, berbeda dengan ideologi punk serta musik aliran punk di Inggris yang digarap sedemikian rupa menjadi band dengan tujuan produksi musik sebagai kebutuhan untuk kritik sosial, juga mata pencaharian dan gaya hidup. Meskipun kadangkadang mendapat penolakan dan stereotip negatif dari masyarakat sekitar, komunitas anak 2 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 punk di Glugur tetap bertahan dan berkembang. Mereka memiliki cara hidup dan kegiatan yang unik. Beberapa di antara mereka juga terlibat dalam gerakan sosial seperti berbagi makanan sesama komunitas punk di Medan, aksi kemanusiaan salah satunya yaitu menyuarakan kritik terhadap penindasan melalui acara musik, dan bisnis sablon sebagai bentuk kreatifitas mereka dan juga untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunitas punk di Glugur bekerja sebagai pengamen jalanan dan mengenakan atribut serta berdandan dalam gaya punk sebagai bentuk gaya hidup yang mereka pilih. Fotografi human interest adalah bagian dari fotografi dokumenter yang fokus pada pengambilan gambar tentang manusia dan kehidupan sehari-hari. Kehidupan komunitas punk di Glugur, Medan memiliki potensi artistik dan naratif yang kuat. Dalam aspek fotografi, subjek foto yaitu komunitas punk memiliki gaya berpakaian yang unik karena berbeda dengan orang pada umumnya, sehingga dapat menjadi sudut pandang yang kuat secara visual. Latar dari tempat tinggal serta aktivitas sehari-hari kehidupan mereka yang tinggal berkelompok di pinggir jalan juga memiliki peran penting dalam membentuk komposisi, kontras, dan kesan visual dari keseluruhan foto. Pemilihan latar belakang (background) yang tepat dapat memengaruhi cara foto dipahami dalam menyampaikan cerita (storytelling) bagaimana realita kehidupan sehari-hari komunitas punk dan hasilnya akan dapat mengarahkan perhatian penonton kepada subjek foto. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membuat fotografi kehidupan sehari-hari komunitas punk Glugur dengan segala kegiatan yang mereka lakukan, dan atribut-atribut yang dikenakan. Melalui pendekatan human interest, penulis dapat memberikan sudut pandang kehidupan sehari-hari mereka yang mungkin terabaikan oleh publik dan dapat menyoroti gaya berpakaian anak punk yang berbeda dengan orang pada umumnya. 2. KAJIAN TEORITIS Pengertian Fotografi Fotografi merujuk pada istilah yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “Photos” yang berarti cahaya atau sinar, dan “Graphos” yang berarti menghasilkan gambar dengan merekam cahaya. Dengan demikian, fotografi sebenarnya mengacu pada proses dan seni menciptakan gambar dengan menggunakan sinar atau Cahaya pada suatu permukaan yang direkam di bidang film atau media lainnya. Fotografi pada dasarnya merupakan proses merekam cahaya untuk menghasilkan citra visual yang terekam dalam satu momen tertentu. Menurut Laudenbach (2021:796-800), fotografi bekerja sebagai media yang menangkap sesuatu yang tidak bisa diulang, dengan Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur demikian erat kaitannya dengan pengalaman waktu serta kenangan. Artinya, hasil fotografi tidak sekedar salinan realitas, tetapi fragmen waktu yang dibekukan dan dikelola oleh pilihan visual fotografer melalui lensa, komposisi, dan eksposur. Jenis-jenis Fotografi Menurut Karyadi, (2017:18-20) dalam memahami sebuah karya fotografi, secara garis besar jenis-jenis fotografi dapat dikelompokan menjadi 10 bagian, yaitu fotografi;manusia, nature, arsitektur, still life, jurnalistik, aerial, bawah air, seni rupa, mikro, makro. Jenis fotografi yang berhubungan dengan penciptaan ini adalah fotografi manusia kategori human interest. Fotografi Manusia adalah semua foto yang menyoroti manusia sebagai unsur utamanya memiliki potensi untuk menawarakan nilai dan daya Tarik visual yang khas. Beberapa kategori dalam fotografi manusia meliputi, Portrait, Human interest, Stage Photography, Sport, Glamour photography, Wedding photography. Fotografi Human Interest Menurut Way, (2014:2-3) fotografi human interest adalah jenis fotografi yang menampilkan sisi kemanusiaan dari pengalaman personal fotografernya. Fotografi ini menyampaikan pesan emosi yang ada melalui kejujuran. Jenis fotografi ini berkaitan dengan pola tingkah laku manusia, interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya, bisa terhadap; benda, alam, binatang, ataupun manusia. Menurut Tjin & Mulyadi, (2014:82-84) Fotografi human interest menggambarkan masalah, kekhawatiran, atau pencapaian yang memicu empati bagi orang yang melihat. Dalam bukunya Way juga menjelaskan (Way, 2014:2) fotografi human interest menghadirkan tantangan dan daya tarik melalui cerita dan nilai emosional yang kuat. Aspek Visual dalam Fotografi Human Interest Dalam penciptaan karya fotografi human interest, aspek visual tidak hanya menjadi sarana estetik, tetapi juga berperan sebagai pembentuk narasi, emosi, serta relasi antara fotografer, subjek, dan penonton. Tiga aspek utama yang menjadi fondasi visual dalam pendekatan ini komposisi, pencahayaan dan pendekatan terhadap subjek. Pengertian Punk Berdasarkan serial dokumenter BBC “Punk Britannia”, gerakan punk muncul di Inggris sebagai perlawanan terhadap mainstream dan konformitas sosial, pada akhir tahun 1970-an. Gerakan ini didorong oleh kekecewaan terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada masa itu. Arti kata punk itu sendiri berasal dari kata “Public United Not Kingdom” yang berarti kesatuan suatu masyarakat di luar kerajaan (Inggris). Menurut Widya dalam Azmi, (2022:193), 4 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 terdapat tiga pengertian tentang punk. Pertama, punk didefinisikan sebagai tren remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk diartikan sebagai individu yang berani memberontak, memperjuangkan kebebasan, dan melakukan perubahan. Ketiga, punk dianggap sebagai bentuk perlawanan yang luar biasa karena mampu menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan budaya mereka sendiri. Gaya Hidup Anak Punk Menurut Azmi, (2022:195-196) dalam perkembangannya, punk dikenal lebih banyak melalui sisi fashion dan musiknya. Mereka mengadopsi gaya berpakaian yang kusut, berantakan, dan terlihat tidak teratur, yang mencerminkan protes mereka terhadap kondisi yang ada. Dalam bidang musik, mereka menciptakan lagu-lagu dengan tema sosial dan politik yang menjadi suara para kelompok masyarakat kecil yang menentang kemapanan. Selain itu, punk juga mengenal banyak aksesoris yang umumnya mereka kenakan seperti sepatu bot, celana robek, rantai-rantai, rambut mohawk. Komunitas Punk di Indonesia 1. Sejarah komunitas punk di Indonesia Menurut Setyanto, (2015:51-53) pada tahun 1990-an, Ketika media elektronik mengalami kemajuan pesat, komunitas punk mulai mendapatkan perhatian dari media dan menjadi sorotan di seluruh dunia. Hal ini membuat punk semakin popular dan menjadi subkultur yang tersebar secara global. Pada saat itu, punk juga mulai masuk ke wilayah Asia, termasuk Indonesia terutama di kota-kota besar. Pertama kali punk muncul di kota Bandung yang tekenal sebagai pusat fashion. 2. Stereotip komunitas punk di Indonesia Menurut Nando (2008) dalam Azmi (2022:196-198), ia menyampaikan argumen tentang pandangan masyarakat terhadap komunitas punk. Menurutnya, masyarakat Indonesia umumnya mengidentifikasi anak punk melalui penampilan unik yang berbeda, seperti pakain kumal, jaket bertaji, celana ketat, sepatu boots, dan rambut mohawk. 3. METODE PENCIPTAAN Penciptaan ini menggunakan metode yang mencakup dalam tiga tahap utama, yaitu praproduksi, produksi, dan pasca produksi. Ketiganya merupakan rangkaian yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, karena menjadi dasar dalam menghasilkan karya fotografi. 1) Pra-produksi Tahap pra-produksi merupakan fase awal yang penulis tempuh sebelum melaksanakan proses pemotretan. Menurut Morissan, (2007:39), tahap pra-produksi merupakan fase awal yang mencakup perencanaan dan persiapan sebelum proses produksi dimulai. Tahap ini Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur memiliki peranan penting, karena jika dilaksanakan secara detail dan terstruktur, sebagian besar pekerjaan produksi dapat terselesaikan sejak awal. Menurut Hadiiswa (2008:81), pemotretan human interest sebaiknya didahului dengan perencanaan, yang mencakup penentuan lokasi, jenis aktivitas, serta perizinan. Tujuan adalah untuk memperoleh ekspresi subjek yang alami tanpa intervensi. 2) Produksi Produksi merupakan tahap inti dalam proses penciptaan karya, yaitu pelaksanaan dari seluruh perencanaan dan persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah tahapan pra produksi, proses produksi berfokus pada aktivitas lapangan untuk merealisasikan gagasan menjadi karya visual. Pada fase ini, kegiatan pemotretan dilaksanakan berdasarkan pendekatan, konsep dan media yang telah ditentukan. 3) Pasca Produksi Pasca produksi merupakan tahapan akhir dalam proses penciptaan karya fotografi yang berfungsi untuk menyempurnakan dan menyajikan hasil dari keseluruhan proses produksi. Tahap ini meliputi pengolahan karya secara visual dan konseptual, serta perwujudan karya dalam bentuk presentasi final. Pasca produksi tidak hanya berfokus pada aspek teknis seperti pelaksanaan pameran, tetapi juga mencakup penyusunan laporan tertulis dan penyajian karya kepada public dalam bentuk pameran. Pada tahap ini, seluruh hasil dokumentasi yang diperoleh dari proses produksi dianalisis dan dikurasi untuk menentukan karya-karya yang layak ditampilkan. Proses pengolahan data visual dilakukan dengan pendekatan deskriptif, dimana setiap karya foto diberi penjelasan naratif guna memperkuat konteks dan pesan yang ingin disampaikan. Penyusunan laporan akhir juga menjadi bagain penting dari tahapan ini, sebagai bentuk pertanggung jawaban akademik terhadap proses kreatif yang telah dijalankan. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Teknik Berkarya Dalam pembuatan karya fotografi ini, penulis menggunakan teknik semi-candid. Teknik ini tidak sepenuhnya sama dengan candid, di mana candid biasanya dilakukan secara diam-diam dari jarak tertentu tanpa sepengetahuan subjek. Sedangkan dalam proses penciptaan karya ini, anggota komunitas anak punk Glugur mengetahui bahwa mereka sedang difoto, namun penulis tidak mengarahkan pose atau ekspresi mereka secara khusus. 6 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 Media Berkarya 1. Kamera : dalam penciptaan karya fotografi ini, digunakan 2 kamera dengan tujuan memudahkan penulis pada proses hunting foto agar lebih praktis dan cepat sesuai teknik yang digunakan yaitu semi candid Pengerjaan gambar digital bertema bangunan-bangunan tersebut memerlukan beberapa tahapan agar hasilnya detail dan realistis. Berikut tahapantahapannya: 2. Lensa : lensa yang digunakan dalam pembuatan penciptaan karya fotografi human interest ini menggunakan lensa standar bawaan kamera yaitu lensa kit yang berukuran jarak fokus pada kamera Nikon, dan lensa kit yang berukuran jarak focus 4.5-108mm pada kamera Lumix. 3. Lampu kilat atau flash : perangkat eksternal yang digunakan untuk meningkatkan pencahayaan pada subjek yang kurang terang. Lampu kilat berguna ketika cahaya alami, seperti sinar matahari, mulai hilang. Lampu kilat hanya akan digunakan pada penciptaan karya ini jika dibutuhkan saja. Lampu kilat yang digunakan ialah Godox 520TT. 4. Kartu memori : untuk menyimpan berkas foto pada proses penciptaan karya, media yang digunakan adalah kartu memori. Kapasitas penyimpanannya juga berbeda-beda tergantung pada ukuran dengan satuan gigabyte. Dalam penciptaan karya ini penulis menggunakan kartu SDHC merek SanDisk kapasitas 32gb. Pembahasan Karya Karya I “Lapak Kolektif” Judul Karya I : Lapak Kolektif Kamera : Lumix DMC-FZ47 Lensa : Kit (4.5-108mm) Diafragma : F:3.2 ISO : 800 Shutter Speed : 1/40 s Gambar 1. Lapak Kolektif (Sumber : Zahra Salsabila, Deskripsi Karya : Karya foto yang berjudul “Lapak Kolektif” ini mengabadikan beberapa anak punk di lantai sebuah ruangan, saat gigs punk di salah satu acara bulanan yang bertajuk ‘Anak Merdeka’, mereka tampak sedang berjongkok sambil berinteraksi. Foto ini merekam interaksi intens antara anggota komunitas punk saat menyusun dan menata mechandise buatan tangan. Aktivitas ini menunjukkan semangat kolektif dan kerja sama yang menjadi bagian esensial dari Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur kehidupan komunitas punk, khususnya dalam ruang-ruang yang bersifat mandiri dan nonkomersial. Terlihat dari potret, salah satu komunitas anak punk yang sedang memperjual belikan dagangan berupa baju sablon hasil karya tangan mereka. Penulis juga sempat mengamati proses tahapan berkarya sablon mereka, mulai dari menggambar sketsa di atas kertas, pemindahan sketsa di kerta ke dalam bentuk digital untuk di warnai. Kemudian gambar dicetak dan disalin ke screen sablon. Setelahnya proses sablon pada baju dimulai dan hasil akhirnya mereka jadikan merchandise yang dijual saat acara musik punk atau mereka sebut dengan gigs. Untuk pemotretan pada subjek foto ini menggunakan F:3.2 (diafragma) penggunaan pengaturan ini memberikan objek yang di foto menjadi jelas secara keseluruhan dan memperlihatkan secara jelas bagaimana bentuk aktivitas komunitas anak punk dalam kesehariannya, karena menggunakan teknik ruang tajam sempit, sedangkan objek belakang menjadi semi blur. Shutter speed 1/40 sec dan ISO 800 ini digunakan untuk memotret subjek yang berada di dalam ruangan dengan minim aktivitas, suasana saat melakukan pemotretan karya tersebut, dilakukan pada siang hari sehingga masih banyak sumber cahaya yang masuk, dikarenakan ruangan indoor yang full lampu, ditambah pintu dan jendela yang terbuka sehingga masih memungkinkan untuk memanfaatkan cahaya yang ada (available light). Tepat dibelakang subjek foto terdapat jendela besar dengan cahaya alami matahari. Pengambilan sudut pandang pada objek foto ini menggunakan sudut pandang eye level viewing (mata normal) dengan ruang pandang full shot (seluruh badan) dan format Horizontal. Komposisi dari foto masih sesuai dengan metode framing bagian tengah yang menempatkan subjek ditengah. Karya II “Jejak Rasa Bersama” Judul Karya II : Jejak Rasa Bersama Kamera : Lumix DMC-FZ47 Lensa : Kit (4.5-108mm) Diafragma : F:2.8 ISO : 800 Shutter Speed : 1/40 s Gambar 2. Jejak Rasa Bersama (Sumber : Zahra Salsabila, 2024) 8 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 Deskripsi Karya : Dalam karya foto berjudul “Jejak Rasa Bersama”, ditampilkan potret empat anggota komunitas punk Glugur yang tengah menata hasil karya tangan mereka berupa kaos dengan sablonan, patch (tambalan) berupa gambar desain hasil sablon pada kain yang dipotong kecil, aksesoris atribut punk. Aktivitas ini dilakukan sembari menunggu pembeli. Foto ini mempresentasikan bagaimana komunitas anak punk melakukan praktik ekonomi atau produksi mandiri, menampilkan solidaritas antar anggota komunitas dalam proses produksi hingga pemasaran barang, sekaligus menegaskan bahwa karya visual mereka menjadi sarana ekspresi identitas dan ideologi subkultur punk. Untuk pemotretan pada subjek foto ini menggunakan F:2.8 (diafragma) penggunaan pengaturan ini memberikan objek yang di foto menjadi jelas dengan fokus utama hasil karya baju beserta interaksi antar anggota komunitas punk, dengan menggunakan teknik ruang tajam sempit, objek belakang menjadi semi blur. Shutter speed 1/40 sec dan ISO 800 ini digunakan untuk memotret subjek yang berada di dalam ruangan dengan minim aktivitas, suasana saat melakukan pemotretan karya tersebut, dilakukan pada siang hari sehingga masih banyak sumber cahaya yang masuk, dikarenakan ruangan indoor yang full lampu, ditambah pintu dan jendela yang terbuka sehingga masih memungkinkan untuk memanfaatkan cahaya yang ada (available light). Tepat dibelakang subjek foto terdapat jendela besar dengan cahaya alami matahari. Pengambilan sudut pandang pada objek foto ini menggunakan sudut pandang high angle viewing (sudut pandang tinggi) dengan ruang pandang full shot (seluruh badan) dan format Horizontal. Jika dicermati lebih jelas komposisi dari foto menggunakan metode framing diagonal yang menempatkan subjek melintang, dengan mengikuti prinsip aturan komposisi, aturan segitiga emas (Golden Triangle Rule). Karya III “Perjalanan Menjemput Rezeki” Judul Karya III Kamera Lensa Diafragma ISO Shutter Speed Gambar 3. Perjalanan Menjemput Rezeki (Sumber : Zahra Salsabila, 2024) :Perjalanan Menjemput Rezeki : Fujifilm X-T100 : Kit (15-45mm) : F:4 : 3200 : 1/35 s Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Deskripsi Karya : Dalam karya foto berjudul “Perjalanan Menjemput Rezeki”, ditampilkan potret dua orang anggota komunitas punk Glugur yang duduk di dalam angkot menuju destinasi mereka dalam mencari rezeki, kedua anggota komunitas punk ini memiliki profesi tambahan sebagai juru parkir di salah satu rumah makan. Setiap sore nya mereka pergi menggunakan angkot menuju tempat kerja mereka, setiba nya di destinasi mereka menggunakan vest juru parkir dan membantu menjaga dan mengatur keluar dan masuknya kendaraan sekitar rumah makan tempat mereka kerja. Hal menarik dalam foto ini terletak pada penyesuaian penampilan dari dua anggota komunitas punk, yang berbeda dari keseharian mereka, tidak mengenakan atribut khas punk karena hendak menjalankan peran sebagai juru parkir. Meskipun demikian, identitas visual yang telah melekat secara permanen pada tubuh—seperti tato dan piercing—tetap tampak dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekspresi diri mereka. Dari foto tersebut dapat mempresentasikan sisi adaptif dan fleksibilitas identitas komunitas punk dalam kehidupan sehari-hari sebagai strategi bertahan hidup serta keseimbangan antara ekspresi dan tuntutan sosial-ekonomi, berbeda dengan stereotip masyarakat yang kerap memandang mereka sebagai kelompok yang memberontak dan menjalani kehidupan yang tidak tertata. Untuk pemotretan pada subjek foto ini menggunakan F:4 (diafragma) penggunaan pengaturan ini memberikan objek yang di foto menjadi jelas dengan fokus utama kedua anggota punk, dengan menggunakan teknik ruang tajam sempit, objek belakang menjadi semi blur. Shutter speed 1/35 sec dan ISO 3200 ini digunakan untuk memotret subjek yang berada di dalam angkot dengan minim cahaya, suasana saat melakukan pemotretan karya tersebut dilakukan pada siang hari namun cahaya yang masuk di dalam angkot sangatlah minim. Tepat dibelakang subjek foto terdapat jendela besar dengan cahaya alami matahari yang masih memungkinkan untuk menggunakan sumber cahaya alami. Pengambilan sudut pandang pada objek foto ini menggunakan sudut pandang eye level viewing (mata normal) dengan ruang pandang medium to full shot (setengah sampai seluruh badan) dan format Horizontal. Komposisi dari foto menggunakan metode framing diagonal yang menempatkan subjek melintang. 10 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 Karya IV “Seporsi Solidaritas” Judul Karya IV Kamera Lensa Diafragma ISO Shutter Speed : Seporsi Solidaritas : Fujifilm X-T100 : Kit (15-45mm) : F:4.4 : 2500 : 1/40 s Gambar 4. Seporsi Solidaritas (Sumber : Zahra Salsabila, 2024) Deskripsi Karya : Dalam karya foto berjudul “Seporsi Solidaritas”, menampilkan dua anggota komunitas punk Glugur yang tengah menyantap sebungkus nasi bersama sebelum memulai aktivitas mereka sebagai juru parkir di sebuah rumah makan. Ekspresi santai yang terekam mencerminkan kebiasaan kolektif dalam berbagi makanan, yang telah menjadi bagian dari rutinitas dan budaya keseharian komunitas ini. Di tengah latar lalu lintas jalan yang padat, momen tersebut menunjukkan bahwa Tindakan sederhana seperti makan Bersama memiliki makna simbolik sebagai bentuk solidaritas yang tumbuh di ruang-ruang pinggiran kota. Foto ini secara keseluruhan mempresentasikan nilai kebersaamaan, ketahanan hidup, dan solidaritas komunal yang melekat dalam praktik keseharian komunitas anak punk. Untuk pemotretan pada subjek foto ini menggunakan F:4.4 (diafragma) penggunaan pengaturan ini memberikan objek yang di foto menjadi jelas dengan fokus utama kedua anggota punk yang sedang menyantap makanan, dengan menggunakan teknik ruang tajam sempit, objek belakang yaitu kendaraan yang berlalu lalang menjadi semi blur. Shutter speed 1/40 sec dan ISO 2500 digunakan untuk memotret subjek yang berada di luar, suasana saat melakukan pemotretan karya tersebut dilakukan pada sore hari menuju maghrib walaupun dengan minim cahaya, tetap masih bisa dilakukan pemotretan dengan optimal dan natural. Foto ini disunting/edit dalam gaya hitam putih guna mengarahkan fokus visual pengamat secara lebih efektif terhadap subjek utama. Penghilangan warna bertujuan untuk meminimalisasi gangguan visual yang ditimbulkan oleh keramaian warna di sekitar lokasi pemotretan, seperti cahaya lampu sorot kendaraan yang berpotensi mengalihkan perhatian dari inti subjek foto yaitu dua anggota komunitas punk. Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Pengambilan sudut pandang pada objek foto ini menggunakan sudut pandang eye level viewing (mata normal) dengan ruang pandang medium to full shot (setengah sampai seluruh badan) dan format Horizontal. Komposisi dari foto menggunakan metode framing diagonal silang yang menghasilkan subjek di tengah. 5. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan proses penciptaan karya fotografi dengan pendekatan human interest, serta pengamatan langsung terhadap komunitas anak punk di Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, diperoleh beberapa poin penting yang menjadi kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan proses penciptaan dan hasil visual yang dihasilkan, kehidupan komunitas punk di kelurahan glugur darat I, kecamatan medan timur berhasil dipresentasikan melalui pendekatan fotografi human interest dengan menitik beratkan pada momen-momen keseharian yang autentik, penuh ekspresi, dan sarat makna sosial. Dengan memanfaatkan teknik semi candid dan pencahayaan yang tersedia, karya fotografi ini mampu merekam interaksi, aktivitas, serta simbol-simbol visual yang mencerminkan indentitas dan gaya hidup komunitas punk secara humanis. Presentasi ini tidak hanya menampilkan sisi estetika visual semata, tetapi juga menyampaikan narasi kehidupan mereka secara jujur melalui bingkai fotografi. Komunitas anak punk di wilayah Glugur menunjukkan potensi artistik yang kuat melalui berbagai bentuk ekspresi visual yang mempresentasikan identitas subkultur mereka. Kehidupan mereka sarat akan kebebasan berkespresi, solidaritas, dan aktivitas produktif yang membentuk kekhasan visual tersendiri. Melalui pendekatan human interest, penulis berhasil menangkap dan mengemas secara artistik momen autentik seperti kegiatan mengamen, makan Bersama, serta merancang tampilan diri dengan atribut khas punk mulai dari rambut, aksesoris, hingga fashionyang konsisten mereka gunakan. Kegiatan kreatif seperti mencetak sablon, menjual hasil produksi secara mandiri, hingga keterlibatan mereka dalam aksi solidaritas juga memperlihatkan nilai simbolik dan kekuatan identitas kolektif. Potensi visual tersebut mendukung dan sesuai dengan pendekatan fotografi yang penulis pakai yaitu human interest, yang mana fokus utama terletak pada aspek sisi kemanusiaan, narasi emosional, serta potret cerita manusia dengan minatnya. Saran dalam penciptaan ini ditujukan sebagai hasil reflektif dari proses penciptaan, mencakup kemungkinan eksplorasi lanjutan secara teknis dan konseptual, khususnya dalam pendekatan human interest di ranah seni rupa. Adapun beberapa saran yang dibagikan penulis sebagai berikut: Eksplorasi simbol visual dan elemen atribut, penciptaan lanjutan dapat diarahkan pada eksplorasi lebih dalam terhadap simbol-simbol visual komunitas punk—seperti logo, teks pada jaket, warna rambut, tato, dan patch—yang sejatinya memuat narasi identitas 12 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670; p-ISSN: 3032-2456, Hal 01-14 dan perlawanan. Pendekatan ini akan memperkuat makna representasi dan menjembatani visual dengan konteks sosial yang lebih luas. Pendalaman tematik dan pendekatan naratif, strategi pemotretan dapat ditingkatkan dengan membangun narasi visual berbasis tema, seperti relasi emosional antarkomunitas, praktik solidaritas, atau ruang hidup kolektif. Hal ini akan memperkuat kesinambungan antarfoto dalam satu seri serta memberi ruang pemaknaan atau tafsir yang lebih luas bagi penonton atau khalayak. Pemanfaatan pasca-produksi untuk penguatan ekspresi visual, teknik pasca produksi sejauh masih dalam batas etis dokumentasi, dapat digunakan untuk mempertegas kesan emosional dan membentuk suasana tertentu. Penggunaan tone, kontras, maupun tekstur visual yang disesuaikan dapat memperkuat pesan humanistik dan empati dari fotografi human interest komunitas punk. REFERENSI Buku Berger, J. (2013). Understanding a photograph (G. Dyer, Ed.). London: Penguin Books. (Karya asli diterbitkan 1972) G, W. (2017). Punk: Ideologi yang disalahpahami. Yogyakarta: Garasi House of Book. Hadiiswa. (2008). Fotografi digital: Membuat foto indah dengan kamera saku. Jakarta: Mediakita. Hebdige, D. (1979). Subculture: The meaning of style. London: Routledge. Jenks, C. (2005). Subculture: The fragmentation of the social. London, CA, New Delhi: Sage Publications. Karyadi, B. (2017). Fotografi (Belajar fotografi). Bogor: NahlMedia. Laudenbach, M. (2021). The language of visual storytelling: An introduction to narrative photography. London: Routledge. Liantoni, F. (2022). Fotografi. Jawa Tengah: Eureka Media Aksara. Sontag, S. (1977). On photography. New York: Farrar, Straus and Giroux. Tjin, E., & Mulyadi, E. (2014). Kamus fotografi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Way, W. (2014). Human interest photography. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Wibowo, F. (2007). Teknik produksi program televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Yunianto, I. (2021). Teknik fotografi: Belajar dari basic hingga profesional. Semarang: Yayasan Prima Agus Teknik. Fotografi Human Interest Kehidupan Komunitas Anak Punk di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Artikel Jurnal Arofah, D. N., & Sari, M. P. (2022). Membangun kesan dramatis dengan pencahayaan buatan pada karya seni fotografi. Specta, 6(1), 49–56. Azmi, W. (2022). Pengaruh komunitas anak punk terhadap komentar publik. Prophetic: Professional, Empathy, Islamic Counseling Journal, 5(2), 191–202. Başak, R. (2022). Golden ratio and Fibonacci sequence: Universal footprints of the golden flow. The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication, 12(4), 1092– 1107. 14 ABSTRAK – VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025