Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM MEMILIH KEDAI KOPI DI KECAMATAN SELAPARANG KOTA MATARAM ANALYSIS OF CONSUMER BEHAVIOR IN CHOOSING COFFEE SHOPS IN SELAPARANG DISTRICT MATARAM CITY Aura Silcylia1. Amiruddin1*. Syarif Husni1 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram. Indonesia Email penulis korespondensi: amiruddin_12sept@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi karakteristik konsumen kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. menganalisis perilaku konsumen dalam memilih kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah konsumen yang datang dan membeli produk di kedai kopi Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Penentuan lokasi penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling pada empat kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram yang sebelumnya telah disurvei dengan beberapa kriteria yaitu kedai kopi lokal, memiliki bangunan permanen, mengolah biji kopi secara modern dengan mesin kopi. Kedai kopi yang dipilih yaitu: Nyaman Coffee. Acibara. Toko Kopi Manis, dan Kinta Coffe. Dari empat kedai kopi yang telah terpilih tersebut, peneliti menetapkan jumlah responden sebanyak 40 orang. Dengan mengambil 10 responden di setiap kedai kopi. Dalam penelitian ini, untuk menentukan responden menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan . Konsumen kedai kopi di Kecamatan Selaparang didominasi usia 16Ae25 tahun . %), sebagian besar laki-laki . %), berpendidikan terakhir SMA . %), berstatus mahasiswa . %), berpendapatan Rp2. 001AeRp4. %), serta mayoritas belum menikah . %). Perilaku pemilihan kedai kopi menunjukkan kecenderungan positif untuk kembali memilih kedai yang sama . ilai sikap 3,96 dan norma subjektif 3,. Keputusan konsumen dalam memilih kedai kopi didasari oleh diri sendiri, terutama dipengaruhi kualitas produk sebagai atribut terpenting. Kata kunci: Perilaku Konsumen. Kedai Kopi. Fishbein Abstract This study aims to: . identify the characteristics of coffee shop consumers in Selaparang District. Mataram City. analyze consumer behavior in choosing coffee shops in Selaparang District. Mataram City. The method employed in this research is a descriptive method. The unit of analysis in this study consists of consumers who visit and purchase products at coffee shops in Selaparang District. Mataram City. The research location was determined using a purposive sampling technique, involving four coffee shops in Selaparang District, which were previously surveyed based on several criteria, namely: local coffee shops, permanent buildings, and the use of modern coffee processing machines. The selected coffee shops are Nyaman Coffee. Acibara. Toko Kopi Manis, and Kinta Coffee. From these four selected coffee shops, a total of 40 respondents were determined, with 10 respondents from each coffee shop. The respondents were selected using the accidental sampling technique. The results of the study indicate that: . coffee shop consumers in Selaparang District are predominantly aged 16Ae25 years . %), mostly male . %), have a high school education . %), are university students . %), have an income of IDR 2,500,001Ae4,000,000 . %), and are mostly unmarried . %). Consumer behavior in choosing coffee shops shows a positive tendency to revisit the same shop . ttitude score 3. 96 and subjective norm score ConsumersAo decisions in choosing coffee shops are primarily self-determined, with product quality being the most influential attribute. Keywords: Consumer Behavior. Coffee Shop. Fishbein PENDAHULUAN Kopi . offea sp. ) adalah salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting menjadi sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting menjadi sumber devisa negara melainkan pula merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani kopi di Indonesia. Kopi termasuk komoditas terbesar kedua yang paling banyak Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 diperdagangkan di dunia setelah minyak bumi dan jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia sesudah air (Saputera, 2. Berdasarkan jenisnya, biji kopi di Indonesia dibagi menjadi tiga yaitu kopi arabika, robusta dan liberika. Tetapi saat ini hanya terdapat dua jenis kopi yang menjadi komoditas utama serta banyak diminati sebab jumlah dan kualitasnya yang selalu dikembangkan yaitu kopi arabika dan robusta. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA)), produksi kopi global mencapai 170 juta kantong per 60 kg kopi pada periode 2022/2023. Jumlah ini meningkat sebesar 2,8% dari periode sebelumnya . ear-on-year/yo. yang tercatat telah memproduksi kopi sebanyak 165,37 juta kantong pada 2021/2022. Indonesia tercatat sebagai negara penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia pada 2022/2023 yang telah memproduksi kopi sebanyak 11,85 juta kantong. Rinciannya. Indonesia memproduksi kopi arabika sebanyak 1,3 juta kantong dan kopi robusta sebanyak 10,5 juta kantong. Sementara produsen kopi terbesar global ditempati oleh Brasil, yang memproduksi kopi sebanyak 62,6 juta kantong kopi pada 2022/2023. Adapun Vietnam di peringkat kedua yang memproduksi 29,75 juta kantong kopi sepanjang 2022/2023 (Kadek Devasya Devi Urmili & I Gst. Ngurah Jaya Agung Widagda K, 2. Dalam lima tahun terakhir, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kedai kopi di kawasan perkotaan tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi kopi, tetapi juga oleh perubahan preferensi dan perilaku konsumen (Pangestu & Aribowo, 2. Penelitian oleh (Effendi, 2. menyatakan bahwa konsumen kedai kopi di perkotaan didominasi oleh kelompok usia produktif . Ae35 tahu. dengan karakteristik gaya hidup modern, yang menjadikan kedai kopi sebagai ruang sosial sekaligus tempat bekerja dan beraktivitas. Temuan serupa juga dilaporkan oleh (Maharani & Kurdaningsih, 2. yang menegaskan bahwa faktor gaya hidup dan kebutuhan akan ruang interaksi sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap frekuensi kunjungan konsumen ke kedai kopi. Sejumlah studi empiris menunjukkan bahwa perilaku konsumen dalam memilih kedai kopi dipengaruhi oleh kombinasi faktor produk dan non-produk. mengungkapkan bahwa kualitas rasa kopi, variasi menu, dan harga berpengaruh nyata terhadap keputusan pembelian, namun faktor suasana kedai dan kenyamanan tempat memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kepuasan konsumen. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Rahma et al. , 2. yang menyatakan bahwa store atmosphere dan desain interior kedai kopi berkontribusi signifikan terhadap minat beli ulang konsumen. Selain itu, perkembangan media sosial turut memperkuat pergeseran perilaku konsumen. Penelitian Pratama & Sarudin . menunjukkan bahwa konsumen cenderung memilih kedai kopi yang memiliki nilai estetika visual dan citra merek yang kuat untuk dibagikan melalui platform media sosial, sehingga pengalaman konsumsi kopi tidak hanya bersifat fungsional tetapi juga simbolik. Studi lain oleh Febriyana et al. , . menegaskan bahwa pengalaman pelanggan . ustomer experienc. memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen kedai kopi. Lebih lanjut, penelitian terbaru oleh Delafrisila & Hernosa . 5 ) mengungkapkan bahwa karakteristik demografis seperti tingkat pendapatan dan pekerjaan memengaruhi preferensi konsumen terhadap jenis kedai kopi, di mana konsumen dengan pendapatan menengah ke atas cenderung memilih kedai kopi dengan konsep tematik dan kualitas pelayanan yang lebih tinggi. Dengan demikian, pemahaman mendalam mengenai karakteristik dan perilaku konsumen menjadi faktor strategis dalam memenangkan persaingan usaha kedai kopi di tingkat lokal. Meningkatnya produksi kopi setiap tahun dikarenakan terjadi peningkatan jumlah konsumsi kopi di Indonesia salah satunya di Kota Mataram. Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama masyarakat perkotaan yang cenderung konsumtif dan menyukai produk instan mengakibatkan bertambahnya jumlah pengusaha yang menciptakan produk instan dan praktis Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 guna memenuhi permintaan pasar. Pada awalnya budaya konsumsi kopi dilakukan di warungwarung kopi. Namun seiring dengan perkembangan zaman istilah baru menyebut warung kopi dengan sebutan kedai kopi atau coffee shop. Kedai kopi dengan cepat berkembang bukan hanya sebagai tempat minum kopi tapi juga sebagai tempat melakukan berbagai aktifitas seperti bekerja, rapat, mengerjakan tugas, atau bersantai dengan kerabat atau keluarga. Minum kopi bukan sekedar tuntutan selera, melainkan sebagian dari masyarakat perkotaan sudah menjadi bagian dari gaya hidup (Delafrisila & Hernosa, 2. Peningkatan konsumsi kopi ini selaras dengan bertumbuhnya kedai kopi yang ada di Kota Mataram khususnya di Kecamatan Selaparang guna memenuhi permintaan konsumen. Bertambahnya jumlah kedai kopi di Kecamatan Selaparang. Kota Mataram, mengakibatkan tingkat persaingan antar kedai kopi semakin tinggi. Kondisi ini memberikan peluang bagi konsumen untuk memiliki beragam pilihan dalam menentukan kedai kopi yang dianggap paling sesuai dengan preferensi, kebutuhan, serta kriteria yang mereka nilai penting. Kedai kopi yang ada selalu berinovasi dari segi produk, tempat maupun harga. Dari karakteristik dan perilaku konsumen ini akan mempengaruhi konsumen dalam memilih kedai kopi di Kota Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk . Mengidentifikasi karakteristik konsumen kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram, dan . Menganalisis perilaku konsumen dalam memilih kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah konsumen yang datang dan membeli produk di kedai kopi Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Penentuan lokasi penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling pada empat kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram yang sebelumnya telah disurvei dengan beberapa kriteria yaitu kedai kopi lokal, memiliki bangunan permanen, mengolah biji kopi secara modern dengan mesin kopi. Kedai kopi yang dipilih yaitu: Nyaman Coffee. Acibara. Toko Kopi Manis, dan Kinta. Dari empat kedai kopi yang telah terpilih tersebut, peneliti menetapkan jumlah responden sebanyak 40 orang. Dengan mengambil 10 responden disetiap kedai kopi. Dalam penelitian ini, untuk menentukan responden menggunakan teknik accidental sampling. Dimana responden yang dipilih ialah konsumen yang peneliti temui di kedai kopi tersebut. Analisis Data Analisis Perilaku Konsumen Sikap Konsumen (A. Untuk mengetahui pengaruh Sikap Konsumen (A. terhadap atribut kedai kopi dalam menentukan perilaku konsumen untuk memilih, digunakan analisis model Fishbein (Rasmikayati et al. , 2. sebagai berikut: ya yaAyau = Oc yauya yaya ya=ya Dimana: Keterangan: Ocyaya = ya yaya ya. a ya ) Ocyaya = ya yaya ya. aya ) yauya = yayyaoya yaya = ya ya = sikap total individu terhadap atribut kedai kopi. = kekuatan keyakinan konsumen terhadap atribut kedai kopi (Skor = 1, 2, 3, 4, . Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Agroteksos, 35 . Desember 2025 f. i ) f. i ) EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 = evaluasi terhadap atribut kedai kopi (Skor = 1, 2, 3, 4, . = bobot skor ke Ae i (Skor = 1, 2, 3, 4, . = jumlah konsumen yang memiliki bobot skor ke = i untuk variable keyakinan . = jumlah konsumen yang memiliki bobot skor ke = i untuk variable evaluasi . Interpretasi skor Sikap (A. dapat ditentukan dengan menggunakan skala interval yang rumusnya adalah: aOey. Skala = yau Keterangan: = skor terendah yang mungkin per atribut. = skor tertinggi yang mungklin per atribut. = jumlah skala penilaian yang ingin dibentuk . umlah kela. Norma Subjektif (SN) Untuk mengetahui pengaruh Norma Subyektif (SN) yang timbul dari referen . eman dan keluarg. berdampak terhadap perilaku pemilihan kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram menggunakan rumus sebagai berikut (Pratiwi & Dwijayanti, 2. SN = Oc NBj MCj Dimana: NBj = Keterangan: NBj MCj f. j ) f. j ) Ocnj = 1 rj f. j ) dan MCj = Ocnj = 1 rj f. j ) = Norma Subyektif. = Keyakinan normatif individu (Skor 1, 2, 3, 4, . = Motivasi dari referen (Skor 1, 2, 3, 4, . = Bobot skor ke-j (Skor j = 1, 2, 3, 4, . = Jumlah konsumen yang memiliki bobot skor ke-j untuk variabel keyakinan normatif (NBj ). = Jumlah konsumen yang memiliki bobot skor ke-j untuk variabel motivasi (MCj ). Perilaku Konsumen Berdasarkan sikap konsumen dan norma subyektif konsumen, digunakan persamaan sebagai berikut (Astuti et al. , 2. B BI = W1 (A. W2 (SN) Dimana: Ab = Oc bi ei SN = Oc NBj MCj GMAb W1 = GMAb GMSN Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 GMSN W2 = GMSN GMAb Keterangan: GMAb = Perilaku konsumen = Maksud perilaku = Sikap total individu terhadap atribut kedai kopi = Norma subyektif = Hasil perhitungan dari jumlah keyakinan konsumen untuk semua atribut (Oc b. jumlah evaluasi konsumen untuk semua atribut (Oc e. dibagi jumlah atribut . GMSN = Hasil perhitungan dari jumlah keyakinan normatif konsumen untuk referen (Oc NBj ) jumlah variabel motivasi untuk semua referen (Oc MCj ) dibagi jumlah referen . = Bobot yang ditemukan secara empiris, menggambarkan pengaruh W1 W2 relatif komponen. Jika pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh konsumen sendiri, maka nilai W1 > W2 . Sebaliknya, jika pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan karena pengaruh pihak lain, maka W1 < W2 . Interpretasi skor perilaku konsumen dapat ditentukan dengan menggunakan skala interval yang rumusnya adalah: aOey. Skala = yau Dimana: = Skor terendah yang mungkin per atribut. = Skor tertinggi yang mungkin per atribut. = Jumlah skala penilaian yang ingin dibentuk . umlah kela. Apabila nilai B BI berada pada rentang . O BBI O . maka perilaku pemilihan konsumen terhadap kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram dikategorikan baik (Positif akan berkunjung kembal. Namun jika diperoleh nilai B BI berada pada rentang . O BBI O . , maka perilaku konsumen dapat dikategorikan tidak baik . idak akan berkunjung kembal. terhadap kedai kopi di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. HASIL DAN PEMBAHASAN Karaktersitik Konsumen Karakteristik Konsumen menurut Jenis Kelamin Karakteristik konsumen yang berkunjung ke kedai kopi di Kota Mataram menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 1 berikut Tabel 1 Karakteristik Konsumen Kedai Kopi menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Konsumen . Laki-laki Perempuan Total Sumber: Data Primer Diolah . Persentase (%) Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah konsumen kedai kopi berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibanding dengan perempuan yaitu sebesar 55%. Jumlah konsumen laki-laki dan perempuan tidak berselisih jauh karena meminum kopi merupakan hal yang disukai oleh Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 kalangan muda baik laki-laki ataupun perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum kopi di kedai kopi sudah menjadi gaya hidup dan bukan lagi sekedar kebutuhan yang ingin dipenuhi terutama pada kalangan anak muda. Karakteristik Konsumen Menurut Usia Karakteristik konsumen yang berkunjung ke kedai kopi di Kota Mataram menurut usia disajikan pada Tabel 2 berikut Tabel 2 Karakteristik Konsumen Kedai Kopi menurut Usia Usia Total Sumber: Data Primer Diolah . Jumlah Konsumen . Persentase (%) Tabel 2 menunjukkan kisaran usia konsumen kedai kopi di Kecamatan Selaparang berusia 17-40 tahun, dengan rata-rata usia konsumen 23 tahun, dan rentang usia mayoritas konsumen berusia 16-25 tahun sebagai kategori remaja akhir dengan persentase sebesar 80%. Kategori usia ini merupakan usia produktif yang masih menciptakan banyak ide-ide kreatif, serta aktif berkumpul dan bercengkrama dengan rekan-rekannya. Karakteristik Konsumen menurut Pendidikan Karakteristik konsumen yang berkunjung ke kedai kopi di Kota Mataram menurut tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3 Karakteristik Konsumen Kedai Kopi menurut Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah Konsumen . Persentase (%) 1 SMP 2 SMA 3 Diploma 4 Sarjana Total Sumber: Data Primer Diolah . Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen berada pada tingkat pendidikan terakhir SMA/SMK dengan persentase sebesar 48%. Konsumen pada tingkat pendidikan ini sudah memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik sehingga mampu memberikan analisis yang kompleks. Karakteristik Konsumen Menurut Pekerjaan Karakteristik konsumen yang berkunjung ke kedai kopi di Kota Mataram menurut jenis pekerjaan disajikan pada Tabel 4 berikut. Tabel 4 Karakteristik Konsumen Kedai Kopi menurut Pekerjaan Pekerjaan Jumlah Konsumen . Pelajar Mahasiswa Swasta Wiraswasta ASN Lain-lain Total Sumber: Data Primer Diolah . Silcylia. Amiruddin. , dan Husni. S Persentase (%) Agroteksos, 35 . Desember 2025 EISSN 2685-4368 P-ISSN 0852-8268 Tabel 4 menunjukkan bahwa konsumen yang berprofesi sebagai mahasiswa sebanyak 18 orang atau 45%. Mahasiswa seringkali menjadikan kedai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas. Karena kedai kopi memiliki akses internet, suasana yang santai dan Dengan demikian, kedai kopi dapat menjadi tempat yang ideal bagi mahasiswa untuk belajar, bersosialisasi, dan melepas penat. Seseorang yang pergi ke kedai kopi di masa kini bukan hanya sekadar untuk mencoba makanan atau minuman, tetapi juga untuk menjalankan kegiatan lain yang didukung oleh suasana dan fasilitas sekitarnya. Karakteristik Konsumen menurut Pendapatan Karakteristik konsumen yang berkunjung ke kedai kopi di Kota Mataram menurut pendapatan disajikan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5 Karakteristik Konsumen Kedai Kopi menurut Pendapatan Pendapatan