JTKM 5. 2026 25-31. Jurnal Teknologi Kimia Mineral Journal homepage: journal. id/index. php/jtkm Pembuatan Koagulan Alami dengan Proses Maserasi untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu Robiah1,*. Akbar Ismi Aziz Pramito1. Robert Junaidi1 1Program Studi Teknologi Kimia Industri. Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Kota Palembang, 30128. Indonesia Informasi Artikel Kata kunci: Biji alpukat Koagulan alami Tanin Limbah cair tahu Abstrak Limbah cair industri tahu mengandung bahan organik tinggi yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak diolah dengan baik. Proses koagulasiAeflokulasi merupakan salah satu metode yang umum digunakan dalam pengolahan limbah cair, namun penggunaan koagulan kimia berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Oleh karena itu, biji alpukat yang mengandung senyawa tanin diteliti sebagai alternatif koagulan alami yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh waktu maserasi terhadap kandungan tanin biji alpukat serta mengkaji pengaruh jumlah koagulan alami terhadap perubahan pH, kekeruhan. Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solids (TSS) pada limbah cair industri tahu. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% selama 60, 72, dan 84 jam, kemudian diaplikasikan sebagai koagulan dengan variasi volume 3Ae6 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin tertinggi diperoleh pada waktu maserasi 84 jam sebesar 6,373 mg/L. Penambahan koagulan alami berpengaruh terhadap penurunan nilai COD dan TSS, dengan kondisi optimum diperoleh pada penambahan koagulan 6 mL yang mampu menurunkan COD dan TSS masingmasing menjadi 221 mg/L dan 166 mg/L. Penurunan kekeruhan paling efektif diperoleh pada penambahan koagulan 3 mL dengan nilai kekeruhan sebesar 17,2 NTU, yang menunjukkan efektivitas koagulan alami biji alpukat dalam menurunkan kekeruhan limbah cair tahu dibandingkan kondisi awal. Nilai pH limbah mengalami peningkatan setelah proses koagulasi, namun belum memenuhi rentang baku mutu yang ditetapkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biji alpukat berpotensi digunakan sebagai koagulan alami dalam pengolahan limbah cair industri tahu. Article Information Keywords: Avocado seed Natural coagulant Tanin Maceration Tofu waste water Abstract The wastewater from tofu industries contains a high amount of organic substances that can potentially pollute the environment if not properly treated. The coagulationAeflocculation process is commonly used in wastewater treatment. however, chemical coagulants may cause environmental impacts. Therefore, avocado seeds containing tannins were investigated as an eco-friendly natural coagulant alternative. This study aimed to evaluate the effect of maceration time on the tannin content of avocado seeds and to examine the influence of natural coagulant dosage on pH, turbidity. Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Suspended Solids (TSS) in tofu industry wastewater. The extraction was conducted via maceration using 70% ethanol for 60, 72, and 84 hours, followed by application as a coagulant with volumes ranging from 3 to 6 mL. The results showed that the highest tannin content was obtained at 84 hours of maceration, reaching 6. 373 mg/L. The addition of the natural coagulant effectively reduced COD and TSS, with the optimum condition achieved at 6 mL coagulant, lowering COD and TSS to 221 mg/L and 166 mg/L, respectively. Turbidity reduction was most effective at 3 mL coagulant, resulting in 2 NTU, demonstrating the efficacy of avocado seed extract in decreasing wastewater turbidity compared to the initial The pH of the wastewater increased after the coagulationAeflocculation process, but it did not reach the standard regulatory range. Overall, avocado seed extract shows potential as an eco-friendly natural coagulant for treating tofu industry Pendahuluan produksinya, industri ini menggunakan air dalam jumlah besar, yaitu sekitar 75-150 liter/kilogram kedelai yang diolah (Dewi et Industri tahu merupakan salah satu sektor industri pangan , 2. Sebagian besar air yang digunakan akan dibuang yang berkembang pesat di Indonesia. Dalam proses sebagai limbah cair yang mengandung kandungan organik *Afiliasi penulis korespondensi: Program Studi Teknologi Kimia Industri. Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Kota Palembang, 30128. Indonesia Email: rrobiahtun@gmail. com (Robia. https://doi. org/10. 61844/jtkm. Submisi 28 November 2025. Revisi 22 Desember 2025. Diterima 5 Januari 2026 Publish online 10 Januari 2026 Penulis 2025, di bawah persyaratan lisensi CC BY-NC-SA 4. Robiah et al. JTKM 5. tinggi, seperti protein, lemak, dan karbohidrat yang tidak larut (Ariefianti et al. , 2. Jika tidak diolah dengan baik, limbah tersebut dapat mencemari lingkungan, terutama sumber air di sekitar lokasi produksi. Limbah cair dari industri tahu umumnya memiliki kadar Chemical Oxygen Demand (COD). Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Total Suspended Solids (TSS) yang cukup tinggi, sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dalam air dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah, nilai ambang batas maksimum untuk parameter COD adalah 300 mg/L. BOD sebesar 150 mg/L, dan TSS sebesar 200 mg/L, serta pH pada rentang 6-9 (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016, 2. Untuk parameter kekeruhan dan TDS, penurunan tertinggi masing-masing sebesar 93,62% dan 89,24% diperoleh pada kecepatan pengadukan 160 rpm. Sementara itu, penurunan COD tertinggi sebesar 7,62% dicapai pada kecepatan 190 rpm (Risnawati, 2. Ekstraksi tanin dari suatu senyawa dapat dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi, salah satunya adalah metode maserasi. Metode maserasi merupakan teknik ekstraksi yang dilakukan dengan merendam bahan baku dalam pelarut yang sesuai, dengan tujuan melarutkan senyawa aktif tanpa atau dengan pemanasan minimal (Sulaiman et al. , 2. Pelarut yang digunakan adalah etanol 70%, karena pelarut ini bersifat semi-polar dan mampu melarutkan senyawa fenolik dan tanin secara efektif (Makkar, 2. Berdasarkan uraian tersebut, limbah cair industri tahu dengan kandungan bahan organik tinggi memerlukan teknologi pengolahan yang efektif dan ramah lingkungan. Meskipun proses koagulasiAeflokulasi telah banyak diterapkan, penggunaan koagulan kimia masih menimbulkan potensi dampak Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji pemanfaatan koagulan alami dari bahan nabati, namun kajian mengenai pengaruh waktu maserasi terhadap kandungan tanin biji alpukat serta hubungannya dengan efektivitas penurunan parameter pencemar limbah cair tahu masih terbatas. Selain itu, kandungan bahan organik dalam limbah tersebut berpotensi mengalami fermentasi, yang dapat menghasilkan bau tidak sedap dan mencemari udara di sekitarnya (Romli & Suprihatin, 2. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah cair industri tahu dapat mencemari air tanah, menurunkan kualitas lingkungan, serta berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat akibat perubahan warna dan bau air yang tercemar (Khalista, 2. Salah satu metode yang umum digunakan dalam pengolahan limbah cair adalah koagulasi-flokulasi. Metode ini bekerja dengan cara menambahkan bahan koagulan ke dalam air limbah, sehingga partikel-partikel yang tersuspensi dapat menggumpal dan mengendap, sehingga lebih mudah dipisahkan dari air (Rizqullah et al. , 2. Selama ini, proses koagulasiflokulasi umumnya menggunakan bahan koagulan berbasis konvensional, seperti aluminium sulfat (AlCC(SOCE)CE) dan feri klorida (FeClCE), karena efektivitasnya dalam menurunkan kekeruhan serta kandungan polutan dalam limbah cair (Hutabarat et al. , 2. Namun, penggunaan koagulan berbasis bahan kimia dapat menghasilkan residu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia serta mencemari lingkungan dalam jangka panjang (KrupiEska, 2. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif koagulan alami yang lebih aman, ramah lingkungan, dan mudah diperoleh. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada pembuatan koagulan alami dari biji alpukat melalui proses maserasi untuk pengolahan limbah cair industri tahu. Permasalahan penelitian dirumuskan untuk menganalisis jumlah kandungan tanin yang dihasilkan pada berbagai waktu maserasi serta mengetahui pengaruh variasi jumlah koagulan terhadap parameter Chemical Oxygen Demand (COD). Total Suspended Solids (TSS), pH, dan kekeruhan limbah cair tahu. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam upaya peningkatan kualitas limbah cair industri tahu agar memenuhi baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah. Biji alpukat mengandung senyawa aktif berupa tanin, yaitu sekitar 11,2 Ae 41,33 mg/kg. Penelitian serupa juga menunjukkan bahwa kandungan tanin dalam biji alpukat yaitu 11,29 gram/100 gram (Malangngi et al. , 2. Koagulan yang berasal dari tumbuhan atau hewan mengandung senyawa aktif berupa tanin, polisakarida, dan protein. Ketiga senyawa tersebut memiliki fungsi -OH, -COOH, -NH2 yang berperan dalam mekanisme destabilisasi koloid pada proses koagulasi. Tanin dapat berinteraksi dengan protein dan memiliki tiga jenis ikatan diantaranya, ikatan ion, ikatan hidrogen, dan ikatan kovalen (Koul et al. , 2. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi gelas kimia, erlenmeyer, spatula, batang pengaduk, pH meter, bola karet, hot plate, magnetik stirrer, pipet, oven, ayakan 100 mesh, neraca analitik, kertas saring, blender, baskom, botol sampel, turbidimeter, serta seperangkat alat destilasi sederhana. Metode Alat Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas biji alpukat sebanyak 1 kg, limbah cair industri tahu sebanyak 3 liter, akuades sebanyak 5 liter, dan etanol 70% sebanyak 2 liter. Biji alpukat terlebih dahulu dibersihkan dari sisa daging buah, dicuci menggunakan oven hingga kadar air berkurang. Setelah proses pengeringan, biji alpukat digiling dan diayak menggunakan ayakan 100 mesh untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam sebelum digunakan dalam proses maserasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat sebagai koagulan mampu menurunkan kadar TSS hingga 82,52% pada kecepatan pengadukan koagulasi sebesar 100 rpm, yang menjadi kondisi optimum untuk parameter Robiah et al. JTKM 5. absorbansi larutan ekstrak pada panjang gelombang Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan variabel bebas berupa waktu maserasi biji alpukat selama 60, 72, dan 84 jam serta jumlah koagulan alami yang ditambahkan ke dalam limbah cair tahu sebesar 3, 4, 5, dan 6 mL. Variabel tetap dalam penelitian ini meliputi jenis pelarut etanol 70%, volume sampel limbah cair tahu sebesar 250 mL, serta waktu dan kecepatan pengadukan pada proses koagulasi, yaitu 5 menit pada 150 rpm. Proses koagulasi dilakukan dengan menambahkan ekstrak biji alpukat ke dalam 250 mL limbah cair industri tahu dengan variasi volume koagulan sebesar 3, 4, 5, dan 6 mL. Campuran kemudian diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 150 rpm selama 5 menit untuk proses koagulasi, kemudian didiamkan selama 60 menit untuk proses pengendapan flok. Setelah proses pengendapan, campuran disaring untuk memisahkan flok yang terbentuk dari filtrat. Prosedur Kerja Preparasi Limbah Cair Industri Tahu Limbah cair industri tahu diambil langsung dari saluran pembuangan proses produksi sebanyak 3 liter dan disimpan dalam wadah tertutup. Limbah cair tersebut terlebih dahulu disaring menggunakan kain saring untuk menghilangkan kotoran kasar dan partikel berukuran besar. Selanjutnya, limbah cair dianalisis karakteristik awalnya meliputi parameter pH, kekeruhan. Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solids (TSS) sebagai data awal sebelum perlakuan. Oe pH, diukur menggunakan pH meter. Oe Kekeruhan, diukur menggunakan turbidimeter. Oe Chemical Oxygen Demand (COD), dianalisis menggunakan metode standar. Oe Total Suspended Solids (TSS), dianalisis menggunakan metode Hasil analisis setelah perlakuan kemudian dibandingkan dengan karakteristik awal limbah cair serta baku mutu air limbah industri tahu berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016. Preparasi Bijih Alpukat Hasil dan Pembahasan Hasil Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data hasil pengamatan tersebut disajikan pada Tabel 1, 2, dan 3 berikut. Proses Ekstraksi Tanin Bijih Alpukat Sebanyak 100 gram serbuk biji alpukat dimasukkan ke dalam wadah tertutup, kemudian ditambahkan 400 mL pelarut etanol 70%. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi tanpa pemanasan pada suhu ruang dengan variasi waktu maserasi selama 60, 72, dan 84 jam. Selama proses maserasi, campuran diaduk secara berkala untuk meningkatkan kontak antara pelarut dan bahan. Tabel 1. Hasil pengukuran kandungan tanin menggunakan spektrofotometri UV-Vis Pemeriksaan Hasil . g/L) Sampel Biji Alpukat 60 Jam 4,996 Sampel Biji Alpukat 72 Jam 5,589 Sampel Biji Alpukat 84 Jam 6,373 Tabel 2. Hasil pengukuran awal limbah tahu Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Kekeruhan 296,000 NTU 5,02 TSS 300,000 mg/L COD 2061,282 mg/L Setelah waktu maserasi tercapai, campuran disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtrat dan Filtrat hasil maserasi kemudian didistilasi untuk menghilangkan pelarut etanol sehingga diperoleh ekstrak biji alpukat yang mengandung senyawa tanin. Teknik Analisis Parameter Limbah Filtrat hasil penyaringan dianalisis kembali untuk mengetahui efektivitas koagulan alami dari biji alpukat terhadap kualitas limbah cair industri tahu. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi sebagai berikut. Biji alpukat segar sebanyak 1 kg dipisahkan dari daging buah, kemudian dicuci menggunakan air mengalir hingga bersih untuk menghilangkan sisa daging buah dan kotoran yang Biji alpukat kemudian dipotong menjadi ukuran lebih kecil untuk mempercepat proses pengeringan. Selanjutnya, biji alpukat dikeringkan menggunakan oven pada suhu A80 AC hingga kadar air berkurang dan diperoleh biji alpukat kering. Biji alpukat kering kemudian digiling menggunakan blender hingga menjadi serbuk dan diayak menggunakan ayakan 100 mesh untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam. Proses Koagulasi-Flokulasi Analisis Kandungan Tanin Analisis kandungan tanin dilakukan dalam dua tahap, yaitu sebagai berikut. Oe Analisis kualitatif, menggunakan uji fitokimia untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa tanin dalam ekstrak biji alpukat. Oe Analisis kuantitatif, menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis untuk menentukan kadar tanin berdasarkan Robiah et al. JTKM 5. Tabel 3. Hasil Nilai TSS. Kekeruhan, dan pH Waktu Jumlah TSS Kekeruhan COD Maserasi Koagulan . g/L) (NTU) (. g/L) (Ja. L) 4,46 346 4,55 335 5,17 227 5,08 303 5,12 279 5,26 250 4,81 285 4,99 249 5,44 221 Kadar Tanin . g/L) y = 0. RA = 0. Waktu Maserasi (Ja. Gambar 2. Diagram Kadar Tanin Terhadap Waktu Maserasi Pembahasan Hubungan antara waktu maserasi dan kadar tanin menunjukkan korelasi yang sangat kuat, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi R2 = 0,9948 dianalisis menggunakan regresi linier, dengan persamaan y = 0,6885x 4,2787. Hal ini selaras dengan teori difusi senyawa aktif dalam proses ekstraksi, yaitu semakin lama waktu maserasi maka semakin besar peluang senyawa fenolik, termasuk tanin, untuk berdifusi keluar dari sel tumbuhan ke dalam pelarut (Cai et al. , 2. Kandungan tanin Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat mengandung senyawa tanin, yang ditandai dengan terbentuknya warna hitam kehijauan setelah penambahan larutan FeCl3 1%. Perubahan warna tersebut terjadi akibat pembentukan kompleks antara ion FeAA dan gugus fenolik pada senyawa tanin, sehingga mengindikasikan keberadaan tanin dalam ekstrak biji alpukat (Muliyani et al. , 2. Hasil Analisis Chemical Oxygen Demand Gambar 3 menunjukkan kecenderungan penurunan nilai Chemical Oxygen Demand (COD), seiring dengan peningkatan jumlah koagulan pada seluruh variasi waktu maserasi. Pada waktu maserasi 60 jam, nilai COD menurun dari 350 mg/L penambahan koagulan 3 mL menjadi 227 mg/L pada 6 mL. Penurunan ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah koagulan meningkatkan kemampuan pengikatan senyawa organik terlarut melalui mekanisme destabilisasi koloid dan pembentukan flok (Rizqullah et al. , 2. Hasil pengukuran maserasi 60 jam Hasil pengukuran maserasi 72 jam Hasil pengukuran maserasi 84 jam Standar baku mutu . g/L) Gambar 1. Hasil uji fitokimia terhadap senyawa tanin Gambar 1 yang menunjukkan perubahan warna ekstrak dalam tabung reaksi setelah diberi pereaksi FeClCE. Warna ini terbentuk sebagai hasil dari reaksi kompleksasi antara senyawa tanin dan ion ferri (FeAA), secara umum dapat direpresentasikan sesuai dengan Persamaan . Hasil COD . g/L) ycNycaycuycnycu . aCIyaCIycCy. yayceAA Ie . aCIyaCIycC)C. AA . Perubahan warna menjadi gelap tersebut juga dapat dijadikan indikator visual dalam mendeteksi kandungan tanin dalam bahan alam (Harborne, 1. Sebagai kelanjutan dari identifikasi kualitatif tersebut, dilakukan analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar tanin menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil pengukuran kadar tanin menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya waktu maserasi, sebagaimana digambarkan pada Gambar 2. Jumlah Koagulan . L) Gambar 3. Pengaruh Jumlah koagulan terhadap hasil COD Pada maserasi 72 jam, nilai COD menurun hingga 279 mg/L penambahan koagulan 5 mL, kemudian sedikit meningkat menjadi 250 mg/L pada 6 mL. Kondisi ini Robiah et al. JTKM 5. mengindikasikan terjadinya kelebihan koagulan yang menyebabkan penurunan kestabilan flok dan berkurangnya efisiensi pengendapan. Pada waktu maserasi 84 jam, nilai COD mengalami penurunan secara konsisten hingga mencapai 221 mg/L. Nilai ini telah memenuhi baku mutu COD berdasarkan Peraturan Menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016, yang menetapkan batas maksimum COD sebesar 300 mg/L. Standar baku mutu (NTU) Waktu Maserasi 60 Jam Waktu maserasi 72 Jam Hasil Analisis Total Suspended Solids Tubidity (NTU) Nomor 68 Tahun 2016, parameter kekeruhan tidak ditetapkan sebagai baku mutu air limbah. Oleh karena itu, evaluasi kekeruhan dilakukan dengan membandingkan nilai sebelum dan sesudah perlakuan koagulasiAeflokulasi. Gambar 4 menunjukkan pengaruh jumlah koagulan alami dari biji alpukat terhadap nilai TSS pada limbah cair tahu dengan variasi waktu maserasi 60, 72, dan 84 jam. Secara umum, nilai TSS mengalami penurunan seiring dengan peningkatan jumlah koagulan yang ditambahkan, meskipun tidak seluruh perlakuan menunjukkan penurunan yang konsisten. Waktu Maserasi 84 Jam TSS . g/L) Standar baku maksimum . g/L) Waktu Maserasi 60 jam waktu Maserasi 72 jam Waktu Maserasi 84 jam Gambar 5. Pengaruh Jumlah koagulan terhadap nilai Kekeruhan Nilai kekeruhan awal limbah sebesar 296 NTU mengalami penurunan pada seluruh perlakuan, yang menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat efektif dalam mendestabilisasi partikel koloid dan membentuk flok yang mudah mengendap. Waktu maserasi 84 jam menghasilkan nilai kekeruhan terendah, yang mengindikasikan kandungan senyawa aktif, khususnya tanin, berada pada kondisi yang lebih optimal. Jumlah Koagulan . L) Penambahan koagulan sebesar 3Ae5 mL menunjukkan penurunan kekeruhan yang lebih efektif dibandingkan penambahan 6 mL. Peningkatan nilai kekeruhan pada dosis 6 mL menunjukkan terjadinya overdosis koagulan yang menyebabkan reflokulasi, yaitu pecahnya flok yang telah terbentuk sehingga partikel tersuspensi kembali terdispersi dalam larutan (Anifah et al. , 2. Gambar 4. Pengaruh Jumlah koagulan terhadap hasil TSS Pada maserasi 60 jam, nilai TSS mengalami penurunan dari 237 mg/L pada penambahan 3 mL menjadi 194 mg/L pada 6 Namun, hanya perlakuan dengan jumlah koagulan 6 mL yang mampu memenuhi baku mutu TSS sebesar 200 mg/L sesuai dengan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016 . Pada maserasi 72 jam, nilai TSS mengalami kenaikan dari 210 mg/L menjadi 217 mg/L pada penambahan koagulan 4 mL, kemudian kembali menurun hingga 180 mg/L pada penambahan 6 mL. Kenaikan sementara tersebut kemungkinan terjadi karena jumlah koagulan belum mencapai kondisi optimum, sehingga flok yang terbentuk belum stabil dan sebagian partikel tersuspensi terdispersi kembali (Chung et al. , 2. Pada maserasi 84 jam, nilai TSS turun konsisten dari 198 mg/L penambahan koagulan 3 mL menjadi 166 mg/L pada 6 mL, dan seluruh perlakuan pada waktu maserasi ini telah memenuhi baku Jumlah Koagulan . L) Secara keseluruhan, meskipun tidak terdapat baku mutu kekeruhan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2016, penurunan nilai kekeruhan dibandingkan kondisi awal menunjukkan bahwa koagulan alami biji alpukat efektif dalam memperbaiki kualitas fisik limbah cair industri tahu. Hasil Analisis pH Gambar 6 menunjukkan perubahan nilai pH limbah cair tahu setelah penambahan koagulan alami dari biji alpukat dengan variasi waktu maserasi. Nilai pH awal limbah sebesar 5,2 mengalami perubahan setelah proses koagulasi. Pada waktu maserasi 60 jam, nilai pH mengalami penurunan paling signifikan dengan rata-rata mencapai 4,69. Hasil Analisis Kekeruhan Gambar 5 menunjukkan pengaruh jumlah koagulan alami biji alpukat terhadap nilai kekeruhan limbah cair industri tahu pada waktu maserasi 60, 72, dan 84 jam. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Robiah et al. JTKM 5. yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dan dipublikasikan dengan baik. Konflik Kepentingan Hasil pH Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini. Kontribusi Penulis Robiah: Perencanaan penelitian. Pengambilan data. Penulisan draf asli. Akbar Ismi Aziz Pramito: Konseptualisasi penelitian, supervisi, penelaahan, penyuntingan naskah. Robert Junaidi: : Konseptualisasi penelitian, supervisi, penelaahan dan penyuntingan naskah. Waktu Maserasi 60 Jam Waktu Maserasi 72 Jam Waktu Maserasi 84 Jam Standar Baku Mutu Maksimum Jumlah Koagulan . L) Daftar Pustaka Gambar 6. Pengaruh jumlah Koagulan terhadap nilai pH Angenot. Plant polyphenols: Vegetable tannins Biochemical Systematics and Ecology, 18. , https://doi. org/10. 1016/0305-1978. Penurunan nilai pH ini menunjukkan bahwa senyawa tanin dalam ekstrak masih bersifat aktif. Tanin merupakan senyawa polifenol dengan gugus hidroksil aromatik yang memiliki kecenderungan melepaskan ion HA dalam larutan, sehingga menyebabkan penurunan pH secara langsung (Angenot, 1. Sebaliknya, pada waktu maserasi 72 dan 84 jam, nilai pH mengalami peningkatan rata-rata menjadi 5,09 dan 5,03. Peningkatan ini diduga disebabkan oleh terjadinya oksidasi dan perubahan struktur kimia tanin selama proses maserasi yang lebih lama, sehingga menurunkan aktivasi ioniknya. Selain itu, kemungkinan terekstraknya senyawa lain seperti flavonoid atau alkaloid yang bersifat netral hingga sedikit basa juga dapat memenuhi keseimbangan pH larutan (Chen et al. , 2. Meskipun terjadi fluktuasi, nilai pH hasil limbah cair tahu mengalami peningkatan setelah perlakuan koagulasi, namun masih berada di bawah batas minimum baku mutu pH . sehingga diperlukan perlakuan lanjutan untuk penyesuaian pH. Anifah. Sholikah. Ariani. Yorika. , & Raharti, . Coagulation-Flocculation of Tofu Wastewater using Natural Coagulant of Chempedak (Artocarpus intege. Seed. Jurnal Teknologi Lingkungan, 25. , 281Ae288. Ariefianti. Rexita. , & Budiono. Studi Literatur Pengaruh Berbagai Koagulan Terhadap Pengolahan Limbah Cair Tahu. DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi, 10. , 889Ae901. https://doi. org/10. 33795/distilat. Cai. Luo. Sun. , & Corke. Antioxidant activity and phenolic compounds of 112 traditional Chinese medicinal plants associated with anticancer. Life Sciences, 74. , 2157Ae2184. https://doi. org/10. 1016/j. Kesimpulan Berdasarkan kondisi penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa maserasi biji alpukat menghasilkan senyawa tanin, dengan kadar tertinggi diperoleh pada waktu maserasi 84 jam sebesar 6,373 mg/L. Penambahan koagulan alami dari ekstrak biji alpukat berpengaruh terhadap penurunan nilai COD. TSS, dan kekeruhan limbah cair tahu, dengan penurunan COD dan TSS terbaik pada koagulan 6 mL (COD 221 mg/L. TSS 166 mg/L) dan penurunan kekeruhan paling efektif pada koagulan 3 mL . ,2 NTU). Nilai pH meningkat setelah koagulasi, namun belum memenuhi batas minimum baku mutu. Hasil ini menunjukkan ekstrak biji alpukat berpotensi sebagai koagulan alami untuk pengolahan limbah cair tahu. Keterbatasan penelitian meliputi pH yang belum memenuhi baku mutu dan terbatasnya parameter yang dianalisis, sehingga penelitian selanjutnya disarankan mengombinasikan metode lain dan menambah parameter analisis. Chen. -Z. Jiang. -X. Ye. -X. Cheng. -W. Zhang. , & Chen. -M. Comparative investigation on a hexane-degrading strain with different cell surface hydrophobicities mediated by starch and chitosan. Applied Microbiology and Biotechnology, 101. , 3829Ae https://doi. org/10. 1007/s00253-017-8100-4 Chung. Selvarajoo. Sethu. Koyande. Arputhan. , & Lim. Treatment of palm oil mill effluent (POME) by coagulation flocculation process using peanutAeokra and wheat germAeokra. Clean Technologies and Environmental Policy, 20. , 1951Ae https://doi. org/10. 1007/s10098-018-1619-y Dewi. Wulandari. , & Setyobudiarso. Pemanfaatan Biji Pepaya Sebagai Koagulan Alami Untuk Menurunkan Kadar Pencemar Pada Limbah Cair Batik. Jurnal Mahasiswa" ENVIRO", 4. , 7. Ucapan Terima Kasih